Wikana, Saling Ancam dengan Soekarno

Wikana, pemuda asal Sumedang ini, ikut dalam gebalau perintisan kemerdekaan Indonesia karena perjalanan aktivisme sejak remaja. Dia pernah terlibat dalam berbagai organisasi kepemudaan, seperti Angkatan Baru Indonesia dan Gerakan Rakyat Baru.

“Kalau Bung tidak proklamirkan kemerdekaan sekarang juga atau sekurang-kurangnya besok pagi, pemuda dan rakyat akan berontak, besok akan terjadi pertumpahan darah,” teriak Wikana kepada Soekarno.

Bung Karno tersinggung oleh teriakan pemuda kurus berambut klimis tersebut. Dia pun menggertak balik. “Ini leherku, seretlah aku ke pojok sana, dan sudahilah nyawaku malam ini juga, jangan menunggu sampai besok!”

Hari itu, 15 Agustus, Wikana bersama banyak tokoh sednag berkumpul di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan, Jakarta. Pertemuan itu berlangsung dadakan. Para pemuda, antara lain Wikana, Chaerul Saleh, DN Aidit, dna lain-lain mendatangi Bung Karno di rumahnya dan mendesak agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Soekarno tak mau bicara sendiri menghadapi anak-anak muda itu. Dia pun memanggil Mohammad Hatta dan Achmad Soebardjo (paman BM Diah). BM Diah datang bersama Soebadjo yang baru keluar dari penjara. Pertemuan malam itu tak menghasilkan kesimpulan apa-apa.

Kelak, percikan peristiwa itu kian menegaskan sosok Wikana sebagai pemuda revolusioner.

Wikana, pemuda asal Sumedang ini, ikut dalam gebalau perintisan kemerdekaan Indonesia karena perjalanan aktivisme sejak remaja. Dia pernah terlibat dalam berbagai organisasi kepemudaan, seperti Angkatan Baru Indonesia dan Gerakan Rakyat Baru.

Dia juga bergiat di  Angkatan Pemuda Indonesia (API) sampai Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo).

Pada masa kekuasaan kolonial Wikana sempat dipenjara karena dituduh melakukan subversif kepada kolonal. Ia dipenjara bersama Adam Malik dan Pandu Kartawiguna.

Saat itu dia menyebarkan pamflet Menara Merah yang ada kaitannya dengan PKI bawah tanah. Organisasi ini memang dilarang pemerintah Belanda pascapemberontakan 1926.

Menurut Trikoyo Ramidjo, rekan Wikana di PKI, Wikana jadi anggota partai sejak tahun 1930-an, “Cita-citanya jelas sekali untuk kemerdekaan Indonesia,” ujar dia seperti ditulis dalam Historia.id.

Sejarah juga mencatat namanya ikut terlibat dalam penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Ia bersama kaum muda lainnya waktu itu mendesak agar kedua tokoh segera memproklamasikan kemerdekaan.

Paska penculikan Wikana-lah yang membuka jalan agar para tokoh bangsa berunding di kediaman Laksamana Maeda. Ini bisa dilakukan karena koneksinya dengan Angkatan Laut Jepang. Di rumah ini mereka bisa berembug mempersiapkan Proklamasi dengan aman.

Selain itu Wikana juga mengatur semua keperluan Pembacaan Proklamasi di rumah Bung Karno di Pegangsaan 56, Jakarta. Wikana juga membujuk kalangan militer Jepang untuk tidak mengganggu jalannya upacara pembacaan teks proklamasi.

Di era Indonesia merdeka, Wikana sempat menjabat sebagai Menteri. Tapi hidupnya berakhir tragis saat pecah huru-hara politik 1965. Kurang dari setahun setelah peristiwa itu, sekelompok tentara tak dikenal mengambil dia dari rumahnya di Matraman, dan setelah itu nasibnya tak diketahui.

Sampai sekarang… #percikSejarah

Story by Muchlis Wijanarko

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…