Sutan Sjahrir

Cita-cita Indonesia merdeka terus mewarnai sepak terjangnya saat melanjutkan sekolah di Belanda, hingga kembali lagi ke Indonesia. Polisi Belanda menganggapnya jauh lebih radikal ketimbang Soekarno. Ia pun beberapa kali ditangkap dan diasingkan.

Pelajaran sejarah di sekolah mengenalkan tokoh ini kepada kita sebagai Perdana Menteri pertama di Indonesia (1946). Saat itu usianya baru 36 tahun. Ia juga dikenalkan sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan negeri ini.

Mungkin belum banyak yang tau, aktivitas gerakannya itu sudah ia rintis sejak usia belasan tahun, atau di awal umur 20. Yakni saat ia bersekolah di AMS, Bandung, pada1926 (ia lahir pada 1909 di Padang Panjang).

Di AMS dia aktif di dunia kesenian. Tak hanya itu dia pun berkecimpung dalam aksi pendidikan melek huruf secara gratis bagi anak-anak dari keluarga tak mampu. Lalu pada 1927, bersama 10 pemuda lain, dia  mendirikan himpunan pemuda nasionalis, Jong Indonesië, saat para pemuda lain masih sibuk di berbagai jong kedaerahan.

Cita-cita Indonesia merdeka terus mewarnai sepak terjangnya saat melanjutkan sekolah di Belanda, hingga kembali lagi ke Indonesia. Polisi Belanda menganggapnya jauh lebih radikal ketimbang Soekarno. Ia pun beberapa kali ditangkap dan diasingkan.

Lalu negeri ini merdeka dan Sjahrir sempat memimpin sebagai Perdana Menteri. Dia wafat di usia 56 tahun, jasadnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Dari para pendahulu, kita selalu bisa belajar dan mengambil inspirasi.

Merdeka!

story by muchlis wijanarko

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…