Merancang Wisata Kopi di Lereng Gunung Lawu Wonogiri

Baru dua tahun terakhir petani kopi di Wonogiri menggeliat. Selain Bulukerto, sejumlah kecamatan seperti Girimarto, Jatiroto, dan Tirtomoyo, mulai menggarap kebun kopi mereka. Sular merupakan perintis sekaligus pendorong para petani di desanya untuk mengolah tanaman kopinya secara benar.

Di sejumlah desa di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, tanaman kopi bukanlah tanaman baru. Pada masa kolonial Belanda, misalnya, di Desa Ngasihan, Kecamatan Ngadirojo, pernah berdiri pabrik pengolahan kopi. Biji-biji kopi arabika dan robusta diangkut dari Kecamatan Bulukerto dan Kecamatan Girimarto, dua wilayah yang berada di dataran tinggi lereng Gunung Lawu.

Pada 1860, Kadipaten Mangkunegaran semasa Mangkunegara IV bahkan memilih kawasan Gondosini, Bulukerto, menjadi pusat pembibitan dan budidaya perkebunan kopi. Jejak kejayaan perkebunan kopi Wonogiri juga bisa dilihat dari bangunan bercerobong bekas pabrik pengolahan kopi yang hingga kini masih berdiri tegak.  Kopi Wonogiri menghilang seiring berakhirnya masa kolonial.

“Sampai sekarang pun hampir semua warga di sini punya tanaman kopi, tapi tidak dirawat. Kalau berbuah  dibiarkan jatuh, tidak dipetik,” kata Sular,  52, seorang petani kopi di Dusun Sumber, Desa, Conto, Kecamatan Bulukerto.

Sular, 52, petani kopi di Dusun Sumber, Desa Conto, Bulukerto, Wonogiri, Jawa Tengah, memeriksa tanaman kopi di lahan miliknya. Dalam dua tahun terakhir petani  mulai giat menanam kopi di wilayah tersebut. JP/Ganug Nugroho Adi

Baru dua tahun terakhir petani kopi di Wonogiri menggeliat. Selain Bulukerto, sejumlah kecamatan seperti Girimarto, Jatiroto, dan Tirtomoyo, mulai menggarap kebun kopi mereka. Sular merupakan perintis sekaligus pendorong para petani di desanya untuk mengolah tanaman kopinya secara benar.

“Dua tahun lalu, harga biji kopi kering (green bean) di bawah Rp 20 ribu per kilogram. Sekarang harganya Rp 70 ribu per kilogram. Tapi belum semua petani mau mengolah dengan benar karena memang njelimet (ribet),” ujar Sular.

Sebelum bertemu dengan Haryanto, 30, Sular dan para petani kopi Bulukerto memang tidak tahu cara memperlakukan tanaman kopinya dengan benar.  Sular mencontohkan petani memanen buah kopi dengan cara melorotkan semua buah dari tangkainya sehingga buah yang mentah ikut rontok.

“Saya menjadi petani kopi sejak 1990, tapi tidak tahu cara panen dengan pola petik merah atau memetik hanya buah yang masak (cerry). Pokoknya begitu dipanen langsung dijual ke tengkulak yang harganya tidak sampai Rp 15 ribu per kilogram,” ujar Sular.

Kini, dengan pengolah pasca panen secara benar, harga kopi naik hampir empat kali lipat. Adalah Haryanto alias Anto dari Komunitas Kopi Wonogiri, dan Yosef Bagus Adi Santoso dari Wonogirich, yang mengajak petani untuk mulai memperbaiki kualitas hasil panen.  Mereka mengedukasi tentang cara memanen biji kopi dari pohonnya hingga mengolah kopi menjadi green bean.

“Kami tantang petani dengan membeli tinggi. Syaratnya, kopi harus dipanen dan diolah dengan benar. Tahun pertama kami beli Rp 50 ribu per kilogram, sekarang harganya Rp 70 ribu per kilogram. Ini sekaligus memotong tengkulak yang membeli murah dari petani,” ujar Anto.

Tak hanya melakukan edukasi, Komunitas Kopi Wonogiri dan Wonogirich pun membantu pemasaran dengan sistem branding kedaerahan. Sayangnya, volume produksi kopi Wonogiri masih rendah. Untuk jenis robusta, dari Girimarto, Jatiroto, dan Slogohimo hanya menghasilkan kurang dari 10 ton setiap masa panen. Sementara untuk jenis arabika, Bulukerto dan Girimarto hanya mampu memproduksi tak lebih dari 2 ton.

“Lahan kopi di Wonogiri sebenarnya cukup luas, tapi  belum banyak petani yang menggarapnya. Saat ini baru sekitar 200-an petani, masih banyak lahan  kopi yang belum digarap,” ujar Bagus.

Menurut Bagus, branding daerah asal kopi penting karena daerah tanam kopi sangat memengaruhi cita rasa kopi itu sendiri. Hasil dari branding itu adalah munculnya beberapa varian, seperti Arabica Conto, Robusta Brenggolo, dan Robusta Semagar. Varian kopi Wonogiri itu laris di banyak kedai kopi di Wonogiri, Surakarta dan Yogyakarta.

Harga kopi Wonogiri dalam bentuk green bean mencapai Rp 70 ribu per kilogram. Harga tersebut naik empat kali lipat dibanding penjualan kopi dalam bentuk cerry atau buah merah kopi yang hanya 15 ribu-Rp 20 ribu per kilogram. JP/Ganug Nhugroho Adi

Untuk mendorong petani, Wonogirich bersama Yayasan Kayon Gunungan Boyolali membantu 1.500 bibit bibit kopi arabica ke petani di Desa Bubakan, Girimarto, dan 1.000 bibit kopi liberika ke petani Tirtomoyo.

Komunitas Kopi Wonogiri dan Wonogirich juga menggelar sejumlah event untuk mengenalkan kopi Wonogiri, antara lain gerakan Wonogiri Nduwe Kopi (Wonogiri Punya Kopi), Wonogiri Nandur Kopi (Wonogiri Menanam Kopi), dan sejumlah festival kopi.

“Kami akan dorong komunitas-komunitas kopi untuk menciptakan pasar, salah satunya dengan merancang desa wisata kopi. Ada tiga kawasan yang kita siapkan, yaitu di Girimarto, Jatisrono, dan Bulukerto,” kata Bupati Wonogiri, Joko “Jekek” Sutopo.

Jekek menyampaikan rancangan desa wisata kopi akan neggabungkan ekowisata, yaitu  mengajak wisatawan proses pengolahan kopi dari perkebunan hingga proses menjadi minuman yang siap disajikan.

“Tahun depan semuanya sudah siap. Ini wisata yang menggabungkan antara alam, usaha menengah kecil menengah, dan kenikmatan minum kopi,” ujar Jekek. (Ganug Nugroho Adi)

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Gendhis Ayu – #Part_10/18

Bu Harjo menghambur ke pelukan Nawang, didekapnya Nawang dengan erat seolah dirinya telah lama tak bersua dengan gadis cantik ini. Sejenak suasana haru dan bahagia menyelimuti warga yang ada dipendopo itu…

Gendhis Ayu – #Part_09/18

Dari jauh terlihat seorang wanita tua tengah duduk dikursi rotan yang telah menghitam di teras sebuah rumah kecil.. Bibirnya mengepulkan asap, mata sipitnya yang cekung termakan usia memandangi Galih dan Ajeng bergantian..

Memilih Bidadari – #Part_11/11 (TAMAT)

Rumi membantu menyiapkan baju yang akan dibawa Arfan ke luar kota selama seminggu. Sebenarnya sudah biasa ia akan ditinggal selama itu. Namun karena tiga hari ini wajahnya mendung gegara kejadian terima kunci mobil dari Arini kemarin, Rumi agak tak enak melepasnya…