Menelaah Diskursus CORONAVIRUS di Media Sosial

Saat beban kecemasan berkurang, maka seseorang akan lebih menggunakan logikanya dibandingkan perasaannya. Saat logika lebih diberdayakan, maka komunikasi pemerintah terhadap rakyatnya lebih mudah untuk diterima dan trust terhadap Pemerintah akan meningkat.

Di tengah hiruk pikuk isu dan opini yang merebak di jagad media sosial di tengah pandemi sekarang ini, sangat menarik untuk melakukan analisis narasi terkait dengan coronavirus ini. Melalui analisis ini kita bisa memetakan narasi yang berkembang berdasarkan perspektif sosial, kultur Dan  ideologis yang melatarbelakanginya. Kalau dianalisis, ada beberapa kategori narasi yg menjadi diskursus di media Kita terutama media digital (medsos) terkait dgn konteks coronavirus ini :

1) Narasi oposisi : memframing secara negatif semua kebijakan Pemerintah untuk tujuan pencitraan diri untuk membangun panggung politik pilgub DKI, pilkada ataupun pemilu 2024. Jumlahnya sedikit tapi vokal dan punya pasukan buzzer untuk meng-amplifiyer ketidakpercayaan kepada Pemerintah.

2) Narasi panic attack : ini jumlahnya sangat banyak, mendominasi medsos. Sama seperti narasi  oposisi yang melihat semuanya serba negatif tapi tidak atas dasar motif politik, melainkan karena kecemasan psikologis akibat determinisme coronavirus yg mematikan sementara belum ada obatnya. Cirinya, tidak mampu mengolah informasi dengan baik, mencerna informasi secara common sense dan instant, membangun wacana serba negatif tanpa argumen. Repotnya dengan cara awam ini, kelompok ini tanpa sadar menjadi ‘pasukan sukarela’ kelompok oposisi. Kelompok oposisi men-supplay ‘narasi negatif’ sebagai amunisi katarsis kelompok panic attack ini. Dua dua nya sering bersekutu dengan motif yang berbeda. Kelompok Satu memanfaatkan kelemahan psikologis kelompok kedua. Amplifier narasi negatif semakin besar.

3) Narasi akal sehat : narasi ini mencerna situasi secara logis. Bisa negatif (mengkritik) bisa positif (mendukung) berdasarkan argumennya masing masing. Kelompok ini jumlahnya sedikit Dan tidak berpihak secara politik. Bisa memposisikan diri sebagai pengamat di luar arena, yang kadang seperti menara gading yang tidak berbuat sesuatu secara praksis untuk yang lain, bisa pula masuk dalam praksis dan bertindak dalam lingkup profesionalismenya. 

4) Narasi citizen empowerment : narasi yang muncul dari kelompok ini adalah narasi positif yang mementingkan altruisme untuk membantu negara Dan melayani warga yg lain dengan semangat solidaritas. Membangun wacana kebersamaan krn melihat masalah sebagai persoalan bersama. Menghargai usaha Pemerintah dan menyumbang untuk menutup kelemahan yg Ada. Kekurangan dari Pemerintah tidak dilihat sebagai negatif, tapi justru harus disupport agar menjadi lebih baik. 

5) Narasi birokrasi : ini adalah narasi yg dibangun oleh Pemerintah dalam rangka penanganan seluruh permasalahan terkait pandemi coronavirus. Seluruh produk perundang undangan Dan produk komunikasi kelembagaan oleh Pemerintah, ada dalam wacana ini. Semangatnya adalah melindungi dan melayani dalam jalur konstitusi dan batas batas kemampuan negara (anggaran dll) baik jangka pendek maupun jangka panjang. Pesan komunikasi dari wacana birokrasi ini kadang tidak sampai karena  sebagian besar kelompok yang merespon fokus pada penanganan jangka pendek, sementara negara harus mengalokasikan sumber sumbernya untuk keberlanjutan jangka menengah dan panjang. Yang paling susah menerima narasi birokrasi adalah kelompok panic attack (sudah pasti kelompok oposisi juga) yagg mencerna informasi dengan kecemasan / insecure diri.

6) Narasi survival :

Narasi ini tidak terpengaruh oleh kondisi pandemi coronavirus. Narasi ini memperjuangkan agar mereka tetap bisa bekerja seperti biasa karena hidup dari upah harian. Mereka adalah tukang ojek, pedagang kaki Lima dan sektor informal lainnya. Kelompok ini tidak terpengaruh oleh narasi kelompok lain, bahkan oleh narasi birokrasi Pemerintah. Motif mereka adalah survivalitas agar dapur tetap bisa ngebul. Komunikasi pemerintah (narasi birokrasi) saat ini terlalu fokus pada mitigasi medis, tapi sangat kurang menjelaskan tentang upaya mitigasi lapangan kerja dan dunia kerja. Padahal ketika mulai membahas ‘new normal’ , mau nggak mau harus meyakinkan upaya mitigasi lapangan kerja dan dunia usaha secara nyata sehingga tumbuh trust terhadap kondisi baru ‘new normal’ itu. 

Kedua, harus secara nyata ditunjukkan usaha melindungi anak-anak dari resiko penularan coronavirus lewat teknis mitigasi lingkungan sekolah secara riil, bukan sekedar membahas jadwal agenda tahun ajaran baru. Jika perlu memang tetap belajar di rumah. Ini nyata akan mengurangi kecemasan orang tua dan seluruh anggota keluarga.

Kalkulasi menangani narasi panic attack :

Kelompok ini sangat besar dan dominan, meliputi seluruh kelas sosial. Kelompok yang membangun wacana negatif karena panic attack ini bisa diredam dengan cara mengurangi sumber kecemasannya. 

Secara umum mereka tentu cemas terhadap penularan virus itu sendiri. Tapi juga bisa cemas karena takut kehilangan pekerjaan, sumber pendapatan atau juga kebangkrutan usaha. 

Jika pemerintah bisa mengkomunikasikan dengan baik program mitigasi mereka untuk menpertahankan lapangan kerja atau menciptakan lapangan kerja baru, serta upaya penanggulangan dunia usaha secara nyata, maka ini akan mengurangi sebagian kecemasan mereka.

Sedangkan kecemasan terhadap penularan penyakit virus covid 19 itu sendiri bisa kita pilah menjadi dua kategori : cemas terhadap diri sendiri (orang tua) sebagai penopang keluarga, dan cemas terhadap anggota keluarga (anak anak) mereka. Jika semua anggota keluarga harus berjibaku keluar rumah, di mana orang tua kerja dan anak anak pergi ke sekolah, maka agregate kecemasan yang menjadi beban keluarga menjadi sangat tinggi. Semua anggota keluarga beresiko tertular virus covid 19. Tapi jika hanya orang tua yang keluar rumah untuk bekerja sedangkan anak anak melanjutkan untuk belajar dari rumah seperti sekarang ini, maka beban kecemasan keluarga akan berkurang.  

Sepertinya sederhana tapi ini sangat penting.

Saat beban kecemasan berkurang, maka seseorang akan lebih menggunakan logikanya dibandingkan perasaannya. Saat logika lebih diberdayakan, maka komunikasi pemerintah terhadap rakyatnya lebih mudah untuk diterima dan trust terhadap Pemerintah akan meningkat.

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…