Memilih Bidadari – #Part_11/11 (TAMAT)

Rumi membantu menyiapkan baju yang akan dibawa Arfan ke luar kota selama seminggu. Sebenarnya sudah biasa ia akan ditinggal selama itu. Namun karena tiga hari ini wajahnya mendung gegara kejadian terima kunci mobil dari Arini kemarin, Rumi agak tak enak melepasnya...

Rumi membantu menyiapkan baju yang akan dibawa Arfan ke luar kota selama seminggu. Sebenarnya sudah biasa ia akan ditinggal selama itu. Hampir dua bulan sekali Arfan melakukan tugas supervisi ke perusahaan-perusahaan cabang di luar Jawa.

Namun karena tiga hari ini wajahnya mendung gegara kejadian terima kunci mobil dari Arini kemarin, Rumi agak tak enak melepasnya.

“Pulangnya kapan Mas?” tanya Rumi.
“Hitung saja sendiri kalau berangkatnya hari ini.” jawabnya.
“Oh… menghitung hari ya judulnya.”

Arfan melirik sekilas. Tersenyum tipis lalu lanjut lagi memakai kaos kakinya.

“Nanti menginapnya di mana di Makassar nya?” tanya Rumi lagi.
“Kenapa memang, mau nyusul?”
“Siapa tahu tukang sayur nanya.” ujar Rumi iseng balas melirik.
“Ntar saja kalau sudah sampai.”

Wajah Arfan masih beku.

“Oh ya Mas, hari Jumat kalau jadi aku diajak membantu Bu Tika isi training di Semarang. Boleh kan?”
“Mmm…”
“Mmm apa?”
“Iya.”

Arfan selesai lalu menarik kopernya.
Rumi mendekat hendak mengambil tangannya untuk mencium.

“Mas, ini sudah 3 hari. Nggak baik sesama muslim marahan, apalagi suami istri kan hukumnya haram kata Pak Ustadz.”
“Iya tahu. Kan kamu yang mulai bikin marah.” kata Arfan tajam sembari mengelus pipi Rumi sebentar.

Tanpa cium pipi maupun kening seperti biasa kalau pergi jauh. Dia langsung beranjak.
Saat kakinya turun tangga, Rumi berteriak kembali.

“Mas Arfan, aku minta maaf. Ini sudah yang ketiga aku minta maaf.”
“Kumaafkan…” Arfan hanya mengibaskan tangannya ke atas.

Rumi sebenarnya tahu watak Arfan kalau sudah marah. Tapi sudahlah yang penting ia sudah minta maaf. Seberapa pun besar caranya agar Arfan reda akan lama jika kesadaran dari dirinya tak muncul.

“Ya Allah, lindungilah suamiku.”

*****

Di pesawat Arfan membisu memandangi gumpalan awan laksana kapas yang melintas. Ia tak tahu kenapa baginya sulit merelakan apa yang dilakukan Rumi akhir-akhir ini. Apalagi terkait hubungannya dengan Arini hingga jual beli mobil yang mereka lakukan. Ia merasa menjadi sosok yang tak dihargai oleh istrinya sendiri.

Ia terngiang kembali kata-kata Rumi.

“Mas aku melakukan ini karena kasihan sama Iqbal sahabat kamu. Tak ingatkah saat dia menangis di penjara, memohon agar aku membantu membujuk Arini agar tak minta cerai?”

“Kamu melakukannya bukan karena Iqbal, tapi ketakutan dan kecemburuan yang bersarang di hati kamu.” jawab Arfan.
“Kalau memang ya apa itu juga keliru? Aku cuma perempuan biasa. Sama seperti lainnya, ingin rumah tangganya utuh.”
“Apa yang kamu takutkan dan sangkakan sebenarnya? Kamu takut Arini minta cerai lalu kamu berpikir aku akan menggantikan posisi Iqbal? Begitukan? Perempuan selalu bersumbu pendek!” seru Arfan.

“Mungkin benar, kalau lelakinya juga egonya pendek.” jawab Rumi kalem.
“Apa yang akan kau lakukan jika… jika seandainya itu kulakukan. Menikahi Arini?” tantang Arfan.

Ia hanya bermaksud mengetes Rumi. Sejujurnya sejak mengunjungi Iqbal ia sudah mengikhlaskan semuanya termasuk masa lalunya.

“Jika Mas Arfan berpoligami, aku minta kau menceraikanku saja. Bukan tak mau dan tak setuju poligami. Aku sudah pernah merasakan penderitaan lebih dari itu.”

“Aku tak takut menderita. Aku justru memikirkan penderitaan yang akan kau rasakan kelak di hari pertanggungjawaban. Ya engkau, lelaki yang aku cintai dan ayah dari anakku.”

“Karena jika poligami kau lakukan sudah pasti engkau lebih cenderung kepada Arini, cinta pertama kamu dan cita-cita hidupmu sebelum kita menikah. Aku hanya perempuan biasa. Meski aku jarang menangis aku tak menjamin akan terbebas dari perasaan dizhalimi.”

“Sekali saja aku merasa terzhalimi meski hanya merintih sedetik maka engkau telah menanggung satu dosa. Bagaimana jika aku tak sengaja merasa dizhalimi berminggu-minggu atau berbulan-bulan?”

Arfan terperangah mendengar pandangan Rumi. Begitukah, Rumi lebih memikirkan nasib dirinya?

“Percayalah Mas, aku mendekati Arini karena ingin berteman dengannya dan menguatkannya. Dia butuh teman bicara. Tapi bukan kau, kalau kau yang melakukannya akan ada setan yang tertawa senang. Karenanya aku berinisiatif mewakilimu. Demi 2 keluarga yang harus dijaga. Rumah tangga kita dan rumah tangga mereka.”

Arfan menarik nafas lalu menghempaskannya menatap ke bawah. Sudah ribuan kaki ia terbang hingga tak terlihat apa-apa.

Bukankah jodoh itu misteri Arfan? Seandainya kau yang dipilih Allah untuk menikahi Arini apa kau sanggup menghadapi ibunya, keluarganya? Bisa saja nasibmu seperti Iqbal. Allah menghindarkan itu darimu.

Itulah misteri. Kadang Allah Sang Khalik mengatur sesuatu dan menghindarkan sesuatu dari makhlukNya yang hanya diketahui setelah terbuka tabir di kelak kemudian hari.

*****

Arfan sampai di Jakarta Jumat pagi sekitar jam 8. Perasaannya lebih lapang sekarang. Sejak turun dari pesawat di bandara ia sudah membayangkan akan bermain dengan Kanaya atau makan siang bersama. Ia malah berencana mengajak mereka jalan-jalan usai shalat Jumat.

Ya … seminggu berpisah ia merenung dalam-dalam dan justru membuatnya sadar kalau ia betul-betul merindukan Rumi dan Kanaya.

Tapi rumah nampak sepi.

“Bu Rumi dan Kanaya ke Semarang berangkat tadi pagi.” kata Mak Sani.

Innalillahi. Arfan benar-benar lupa. Itulah memang kalau pergi dalam kondisi marah. Apapun tak terlalu ia perhatikan.

“Kanaya ikut?”

Mak Sani mengangguk.

Arfan membuka gawainya. Ya Allah ternyata sudah dari semalam Rumi kasih kabar. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya.

[Mas Arfan, besok pagi aku jadi ke Semarang bareng Bu Tika. Beliau masih takut naik pesawat karena berita pesawat jatuh, maka diputuskan jam 7 pagi berangkat naik kereta dari Gambir. Oya Kanaya aku ajak biar sekalian nengok eyangnya dan sepupu di Semarang. Wassalam. Salam rindu dari kami]

Arfan merebahkan badannya di ranjang. Rumah sepi sekali tanpa mereka.

Setelah mandi dan sarapan ia duduk di depan TV lalu iseng membuka facebook yang jarang disentuhnya.

Ada postingan yang ngetag nama Rumi sehingga mampir di timeline nya. Pengirimnya bernama Artika. Oh mungkin itu yang bernama Bu Tika.
Dia mengupload beberapa foto di dalam kereta.

[Otw to Semarang. Bareng my asisten, Denis Akbar yang lagi ultah dan trainer andalan saya yang manis dan enerjik Harumi serta si kecil yang cantik dan imut, Kanaya. Selamat buat Rumi yang katanya lagi anniversary ke-4]

Arfan terkaget, ia lupa sama sekali kalau hari ini ultah pernikahannya.

Foto-foto postingan itu begitu ceria. Malah ada yang cuma bertiga. Rumi, Kanaya dan lelaki itu. Meski sudah berumur namun pria bernama Denis itu masih kelihatan segar bugar dan tampan tentu saja. Jiwa Arfan terusik. Siapa dia?

Arfan melototi satu-satu. Kenapa sekilas mereka jadi nampak satu keluarga. Apalagi komentar-komentar di bawah gambar Kanaya tengah dipangku lelaki itu.

[Selamat ultah Om, kompak banget. Semoga samawa]
[Lho…Om Denis, istri baru ya? Selamat. kapan nikahnya?]
[Wah Kanaya cantik mirip siapa nih, ayah apa bundanya?]
[Pasangan serasi]
[Happy anniversary Kak Rumi, sekilas mirip. Pasti kalian jodoh]
….

Huaah!
Darah Arfan yang tadinya hangat suam-suam kuku langsung mendidih. Apa-apaan mereka?

Ia langsung menelepon Rumi, tapi tak nyambung. Akhirnya ia kirim whatsapp:

[Rumi, suruh Bu Tika hapus foto-foto kamu dengan pria itu di facebook!]

Tak bergeming. Apa Rumi balas marah sampai ia tak menghiraukannya?
Batin Arfan berkecamuk.

Setelah lihat jam, Arfan menelepon agen travel langganannya siapa tahu masih ada penerbangan sore hari itu juga ke Semarang dari Bandara Halim.

****

Rumi membuka handphonenya sesampai di hotel bintang empat terkenal di Semarang itu. Konon katanya ini hotel tertinggi di Semarang dengan ketinggian 30 lantai. Di rooftopnya ada kolam renang, dengan konsep skypool yang mengadopsi hotel terkenal di kawasan Marina Bays Sands Singapura. Sangat artistik.

Acara bersama Bu Tika sendiri akan dimulai jam 7 malam nanti di ballroom-nya karena mengundang 400 orang undangan.

Jam 5 sore Kanaya dijemput oleh Eyang, Pak Dhe serta dua sepupu laki-lakinya. Ia akan diajak keliling kota Semarang lebih dulu.

Sesaat ia menemukan WA dari Arfan. Rumi membacanya pelan.

[Rumi, suruh Bu Tika hapus foto-foto kamu dengan pria itu di facebook!]

Apa maksud Arfan mengirim pesan itu? Siapa pria yang dimaksud?

Rumi langsung membuka facebook, ia pun sudah lama tak pernah otak-atik FB. Melihat foto-foto yang diupload oleh Bu Tika dan menuai banyak komen ia pun kaget bukan kepalang.

“Pantas saja Mas Arfan seakan kebakaran jenggot.” gumam Rumi.

Terlihat panggilan nomor Arfan beruntun.
Ia segera telepon balik tapi tak nyambung.

“Apa dia masih di Makassar. Apa dia juga masih marah?”

*****

Acara grand meeting para pemilik bisnis center se-Indonesia itu berlangsung sangat meriah karena mengundang bintang tamu dari ibukota juga. Jam 22 Rumi dan Bu Tika baru masuk kamar.

Baru mau ganti baju terdengar suara telepon kamar.

“Dengan Bu Harumi?”
“Betul”
“Ibu ditunggu tamu penting di rooftop lantai 30 sekarang bu.”
“Siapa?”
“Saya kurang tahu. Bilangnya sih tamu dari Jakarta.”
“Oke baik.” Ia minta ijin Bu Tika untuk keluar sebentar.

Karena tak berani ke lantai paling atas ia minta ditemani oleh seorang petugas perempuan untuk menemaninya.
Nampak sesosok memakai jaket hitam membelakanginya. Pandangannya ke depan menikmati hamparan Kota Semarang yang bermandikan kerlap-kerlip lampu.
Di depan mereka skypool terbentang. Sepi.

“Assalamualaikum.”

Dia menoleh.

“Mas Arfan?!”
“Rumi….!”

Ia bangkit dari duduk mendekatinya. Rumi mencium tangan Arfan hangat.

“Kapan datang?”

Arfan tak menjawab. Ia langsung memeluk tubuh Rumi dan membenamkan ke dadanya lalu mencium pipi istrinya. Seolah tak ketemu tujuh purnama saja.

“Aku merindukanmu Rum, maafkan atas sikapku….” Rumi cuma bisa mengangguk meski masih kaget. Matanya berair haru.

“Mas Arfan kapan datang, bukankah harusnya masih di Makassar?”
“Iya aku percepat. Nyampe Semarang jam 4 tadi lalu nengok Bunda dulu. Ternyata mereka baru datang habis jemput Kanaya.”
“Kau pasti capek baru pulang pergi lagi. Kenapa nggak besok pagi saja ke sininya?”
“Aku nggak bakal bisa tidur, Rumi.”
“Kenapa?”
“Mikirin kamu pergi naik kereta sama lelaki di foto Bu Tika itu.” ujar Arfan.
“Ya Allah…Pak Denis? dia kan asisten dan keponakan Bu Tika. Jelas nggak ada apa-apa.”
“Tetap saja dia laki-laki. Sudah kau minta Bu Tika menghapusnya?”

Rumi mengangguk.

“Iya bu Tika minta maaf. Dia nggak kepikiran sampai ke sana. Jadi Mas Arfan nyusul ke Semarang karena cemburu?” goda Rumi.
“Ya iyalah! Enak saja pada komentar dia ayahnya Kanaya. Apa lagi ini ulang tahun pernikahan kita.” Arfan masih mendekapnya.

Rumi senang tapi ia seperti melihat beberapa pasang mata melihatnya.

“Mas lepasin. Ada yang lihat.” Arfan mengiyakan karena pelayan datang.

“Apa mau sekarang Pak?”
“Boleh.”
“Apaan?” tanya Rumi heran.
“Candle light dengan menu spesial.” jawab Arfan tersenyum.

Senyum mahalnya meyakinkan Rumi kalau lelakinya sudah bebas dari amarah. Indah sekali.

“Ya Allah bisa romantis juga pakai candle light segala.” puji Rumi.

Pelayan itu berjalan menuju tepi skypool. Dibukanya kain yang menutupi meja dan kursi yang sudah disiapkan lalu menyalakan lilin.

Arfan menggandeng tangan Rumi berjalan ke sana. Mereka lalu duduk berhadapan dengan temaram nyala lilin. Diseberang mereka nampak pemandangan Kota Semarang terbentang indah dengan kelap-kelip lampu. Syahdu banget.

“Yuk kita makan.”
“Aku sudah kenyang Mas.”
“Ayolah nggak papa ini menu barbeque spesial. Kupesan khusus untuk menikmati ultah kita.”

Rumi tersenyum manis menyentuh jemari Arfan.

“Okelah”
“Nah gitu dong.”
“Terima kasih ya. Apa malam ini Mas pulang ke rumah Bunda?” tanya Rumi.
“Ya enggaklah aku sudah pesan kamar suite untuk kita menikmati malam anniversary.”

Rumi tertawa.

“Kok ketawa?”
“Romantis sekali. Kayak pengantin baru.” goda Rumi.
“Buat menyambut bidadari setelah seminggu lebih dianggurin. Aku kangen ….” bisik Arfan.
“Tapi kan aku sekamar sama Bu Tika, Mas Arfan?”
“Bilang saja suaminya nyusul.”
“Bu Tika parno kalau tidur sendiri.”
“Suruh setel sinetron di TV saja kenceng-kenceng.” jawab Arfan lagi.

Rumi mendelik, angkat bahu.
Arfan lalu mengajak ke bawah di pinggiran kolam renang. Sambil duduk mesra bersisian ia merangkul pundak Rumi. Rumi meneduhkan kepalanya di bahu Arfan.
Dua hati menikmati kelap kelip lampu seantero mata memandang. Sesaat kemudian mereka diam menghitung bintang.


Dua tahun kemudian

“Bapak ibu sekalian. Acara hari ini setelah mengunjungi Raudhah, kita punya waktu bebas untuk jalan masing-masing sampai jam 13 kumpul kembali hotel.”
“Berikutnya mandi untuk persiapan berangkat ke Mekkah nanti sore. Kita akan niat umrah dengan miqat di Bir Ali sekitar jam 4 sore setelah sholat ashar.”
“Perjalanan menuju Masjidil Haram kurang lebih 6 jam. Nanti kita istirahat dulu sebentar baru melaksanakan thawaf dan sa’i.”
“Mudah-mudahan kita bisa leluasa berdoa di multazam dan mencium Hajar Aswad.”
Papar pembimbing umroh saat mereka berkumpul bersama di dekat Gate 15 area Masjid Nabawi di Madinah.

Mereka tengah mendapatkan tausiyah lebih dahulu. Betapa damai dan sejuk hati mereka dipayungi payung-payung raksasa yang bermekaran indah di pelataran Masjid peninggalan Rasulullah tersebut.

Di Raudhah Arfan berdoa khusyu setelah sholawat dan salam tercurahkan untuk Baginda Nabi Muhammad SAW, panutan sepanjang zaman, ia berdoa agar diberi kebaikan memimpin dan membimbing keluarganya.

Rumi di bagian khusus perempuan juga berdoa memanjatkan harapan agar keluarganya diberi keberkahan juga tak lupa agar bisa mendapatkan momongan kembali agar Kanaya punya teman bermain di rumah.

“Kita mau kemana lagi?” tanya Arfan setelah jalan mengelilingi Masjid Nabawi dari gate ke gate.
“Ke pasar kurma, Mas. Kita cari kurma muda yang segar. Tapi sekarang aku lapar… Kita makan bakso aja dulu yuk, gimana?”

Arfan cuma mengangguk. Perempuan nggak di mana nggak di mana kalau urusan makanan pasti carinya bakso.

Mereka menuju Gate 22. Keluar dari sana sudah nampak Hotel Al Andalus seperti yang ditunjukkan. Katanya di sana ada bakso Indonesia yang terkenal.

Pengunjung cukup ramai. Selain bakso di sana juga jual makanan rumahan khas Indonesia dengan aneka macam lauk pauk.

Arfan lebih memilih makan nasi, sedangkan Rumi ngantri ambil bakso. Saat antri itulah pundaknya seperti ada yang menepuk dari belakang.

Rumi menoleh. Ia terkaget-kaget dibuatnya.

“A… Arini?”

Sosok bergamis hitam dengan kerudung hitam lebar tersenyum kepadanya.

“Rumi apa kabarnya? Lagi umrah juga?” Mereka berpelukan.

Rumi menoleh. Di pojokan terlihat Arfan tengah berbincang dengan seseorang. Iqbal!

“Suami Arini? Sudah bebas? Alhamdulillah.”
“Mas Iqbal bebas lebih cepat beberapa bulan karena dapat remisi.”

Mereka kemudian mencari tempat untuk menyantap bakso berdua.

“Masih di Solo?” tanya Rumi.

Arini menggeleng.

“Kira-kira dua bulan setelah Mas Iqbal bebas Mama meninggal. Mama minta maaf.”
“Inna lillahi…..”
“Lalu kami pindah ke Papua Barat. Kami tinggal di Sorong. Alhamdulillah Mas Iqbal tidak dipecat. Statusnya hanya diberhentikan sementara. Kebetulan ada surat lolos butuh tenaga IT di instansi sana.”

“Papua Barat? Jauh sekali.” Rumi jadi teringat Raja Ampat dulu.
“Enggak, cuma 4 jam dari Jakarta. Mampir ke sana kalau kalian ke Raja Ampat.”

Rumi mengangguk-angguk.
Tapi ia senang karena mereka, Iqbal dan Arini tampak sangat bahagia.

Ada kalanya kesedihan memang menguras air mata tapi efek yang tak dirasa adalah mendewasakan langkah hidupnya.

*****

Suara tangis melengking memenuhi ruang bersalin. Rumi berasa lega sekali. Ia seperti habis memuntahkan beban berat. Syukurlah apa yang diharap di depan multazam dan raudhah akhirnya diijabah Allah.

“Alhamdulillah, bayinya laki-laki Bu Rumi.” ujar seorang bidan yang membantu proses kelahiran normalnya.

Arfan menyambut sang buah hati dengan luapan bahagia. Akhirnya memang setelah menunggu lama 6 tahun mereka bisa memberikan adik untuk Kanaya. Kado spesial dengan kesabaran dalam penantian.

Arfan mencium lembut darah dagingnya itu. Matanya berkaca-kaca.

Kebahagiaan seorang pria sejatinya bukan hanya sekedar prestasi dalam berkarya tapi ketika ia dipanggil ‘ayah’ oleh anak-anaknya.

Itulah mengapa dalam pengasuhan keluarga kisah ayah dan anak dalam Al Quran justru lebih banyak tertuang dibanding ibu dan anak.
Taruhlah Kisah Lukmanul Hakim, Kisah Nabi Yakub dan anaknya Yusuf, Kisah Ibrahim dan ayahnya, Kisah Nabi Daud dan putranya Sulaiman, Kisah Nabi Syuaib dan kedua putrinya.

“Mas Arfan…” Rumi memanggil.

Arfan mendekat masih dengan mata membasah.

“Kok nangis?” ujar istrinya lagi.
“Aku menangis bahagia” jawab Arfan.
“Alhamdulillah.”
“Terima kasih sayang, kamu sudah berjuang hebat dan memberiku kado yang indah. Jagoan kecil ini.”

Rumi tersenyum dengan bibir pias tapi tak kalah bahagia. Lengkap sudah kehidupan mereka. Sepasang anak yang akan menjadi penyejuk mata.

“Ohya hari ini aku juga dapat kabar dari Iqbal di Papua. Arini semalam melahirkan anak kembar perempuan.” kata Arfan.
“Oh ya? Alhamdulillah… Subhanallah. Dua sekaligus. Sungguh nikmat yang digandakan oleh-Nya.” Rumi mengucap syukur dalam hati.

Arfan menunduk ia mencium kening Rumi hangat.

“Tetaplah jadi pendamping dan menjagaku selalu bidadariku.” bisiknya.

Rumi melambung, seakan hilang rasa sakit di sekujur tubuh habis melahirkan.

Setiap istri yang baik adalah bidadari di rumahnya bagaimanapun ia. Jangan lihat warna kulitnya, jangan lihat bentuknya, jangan lihat wajahnya yang pasti tak akan pernah sempurna. Tapi lihatlah, kesabarannya mendampingi pasangannya tanpa keluh dan kesah, ketabahannya dalam menjaga keluarga dalam suka maupun duka.

Aku (Ummu Salamah) bertanya, “Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari bermata jeli?” Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat.

Aku bertanya, “Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari?” Beliau menjawab, “Karena salat, puasa, dan ibadah mereka kepada Allah….”
(HR. Imam Thabrani)

TAMAT

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.