Memilih Bidadari – #Part_10/11

Mulut Arfan hendak menjawab akan tetapi suara dering handphone membungkamnya seketika. Arfan melirik istrinya dan menyerahkan..

Mulut Arfan hendak menjawab akan tetapi suara dering handphone membungkamnya seketika. Ia melihat nama ‘Bunda’ tertera.

[Ya Bun, assalamualaikum.]
…..

[Bunda mau ngomong sama Rumi]

Arfan melirik istrinya dan menyerahkan.

“Dari Bunda. Oya … kamu baca saja pesan WA yang tadi masuk.”
“Naya, ayah ke kamar mandi dulu. Sakit perut!” teriaknya kepada Kanaya yang masih bermain di atas gazebo. Ia pun beranjak ke dalam rumah.

Setelah ngobrol dengan ibu mertuanya segala macam, suara di seberang menutupnya.
Rumi membuka jendela WA yang masih terbuka. Tertulis “Arini” (online).
Ia membaca isi pesan.

Arini memberanikan diri pinjam uang ke Arfan? Rumi sangat kaget. Meski baru sekali ngobrol sambil makan dengannya, ia yakin Arini bukan tipe perempuan penggoda, Rumi sangat mencerna segala kalimat yang diucapkan oleh Arini saat itu. Ia berkesimpulan dia wanita kuat yang menjaga diri dan kehormatan keluarganya.

Rumi menyingkir sebentar meninggalkan Kanaya. Dengan handphone sendiri ia menelepon Arini.

“Apa kabar Arini, saya Rumi mau nanya pesanan kemarin.”
“Maaf Mbak Rumi, saya lagi di rumah sakit mengurus ibu saya. Besok siang ada rencana mau operasi jantung. Nanti saya kirim nomor staf saya untuk menghubungi Rumi. Maaf … dokter sudah datang.”

Suara Arini nampak terburu-buru.

Di WA suaminya itu Rumi pun membalasnya.

[Maaf Mbak Arini, Mas Arfan suami saya ke kamar mandi. Pesannya tadi catatkan saja nomor rekening agar uang bisa ditransfer segera. Semoga ibu cepat sembuh]. Send.

Masih membayangkan Arini yang tengah sibuk mengurus ibunya, Rumi meminta tolong Mak Sani membawa sarapan ke gazebo.

Arfan baru keluar dari kamar mandi.

“Kamu sudah baca?”

Rumi mengangguk.

“Kenapa Mas Arfan mau bilang dari Arini saja salah tingkah begitu?” sindir Rumi.
“Aku khawatir kamu salah sangka. Sungguh Rum, aku nggak ketemu lagi sama dia sejak malam itu kita bicara. Kalau kamu tak percaya cek juga hp ku apa ada catatan aku menelpon atau mengirim pesan ke dia.”

Rumi tersenyum.

“Nggak Mas, aku nggak selebay dan separno itu. Aku percaya sama Mas Arfan pasti sudah janji di depan Allah.” jawabnya sambil mengambil piring dari rak.
“Nih hp nya. Coba dilihat apa Arini sudah membalas untuk mengirim nomor rekeningnya.”

Arfan tertegun membukanya. Ada notifikasi baru muncul.

[Oh maaf Bu Arfan jadi mengganggu. Saya terpaksa sangat menghubungi Pak Arfan karena suami saya Mas Iqbal bilang kalau ada apa-apa minta tolong ke beliau. Terima kasih sudah menengok Mas Iqbal hari Minggu kemarin]

Arfan membaca pesan di atasnya yang pasti ditulis Rumi. Ia cuma tersenyum geli.

Rumi…. Rumi.

*****

Esoknya Rumi ijin ke Arfan mau ke salon. Kalau ijin ke sini pasti tak perlu panjang kalam bakal disetujui.
Tanpa sepengetahuannya ia mampir juga ke rumah sakit swasta terkenal yang sudah ditunjukkan Arini.

“Ya Allah terima kasih Mbak Rumi sampai mau nengok ibu saya segala. Jarang ada pembeli seperti Rumi yang care begini. Harusnya sebaliknya, penjualnya yang perhatian ke pembeli.”

“Nggak papa Arini, sekalian mampir. Saya suka menengok orang sakit biar didoakan oleh 70 ribu malaikat, kata Rasulullah demikian.”

Arini mengangguk seraya tersenyum dengan pandangan takjub.

“Apa ibu biasa berobat di sini?”
“Iya. Ini rumah sakit langganan Mama. Dokternya juga dokter khusus, yang dulu jadi dokter pribadi Mama. Ya beliau maunya begitu. Saya memang agak kewalahan tapi ya sudah… saya ingin terbaik buat Mama.” Mata Arini berkaca-kaca.

“Iya Arini, selagi masih ada orang tua kita upayakan yang terbaik untuk mereka.”

Rumi sudah membayangkan pasti butuh biaya besar untuk pengobatan di rumah sakit mewah ini. Tak tahulah apa pakai BPJS atau tidak. Masak harus ia tanya-tanya. Nggak etis banget.

“Oh ya Rumi, kalau ada teman nyari mobil siapa tahu tertarik. Saya mau jual mobil peninggalan Papa yang kami pakai sehari-hari. Masih bagus, belum 5 tahun. Harga nego, karena saya butuh cepat.”

Rumi mengangguk mengiyakan.

*****

Kira-kira lima hari kemudian Rumi mengunjungi butik Arini bersama stafnya Bu Tika bagian keuangan. Mereka akan mengambil pesanan gamis batik sekaligus melunasi pembayaran.

“Waah… cantik sekali hasilnya. Rapi sangat Arini. Kamu sepertinya berbakat di bidang fashion.” puji Rumi tanpa pikir panjang karena sudah kebiasaan.

Sebagai trainer wirausaha Rumi memang selalu membiasakan diri memuji kelebihan orang sekecil apa pun. Itu bagian dari menghormati klien. Bagaimanapun tabiat orang itu senang dipuji.

“Alhamdulillah, kebetulan tiga anak buah saya tenaga-tenaga handal, Rumi. Saya hanya mendesain dan membuat pola saja sambil mengecek pekerjaan mereka. Tapi yang penting harus cocok dan enak dipakai. Oh ya mbak kalau nanti ada yang kurang misal kebesaran atau apa, jangan lupa segera telepon. Kami memberikan pelayanan paripurna.” seru Arini kepada staf Bu Tika.

“Wah bagus itu Arini, jadi pelanggan merasa dilayani dengan baik. Saya juga sering menghimbau meski jualan online kita juga jangan sebatas melayani sampai barang sudah terkirim saja. Kalau bisa dipantau juga perasaan pembeli saat mengkonsumsi atau menggunakannya.” sambung Rumi.

“Iya, minta review begitu ya?”
“Memang dulu Arini jurusan apa? Tata Busana?” Basa-basi. Padahal Rumi tahu, ia adik kelas Mas Arfan di Fakultas Teknik.
“Saya dari teknik sebenarnya. Ambil jurusan Desain Arsitektur.” jawab Arini.
“Oh pantas saja.”

Arini mengajak Rumi duduk di sofa sambil menyilakan minum jus jeruk yang dibuat anak buahnya.

“Pasti suami Arini bangga banget ya punya istri selain cantik, pintar, rapi dan kreatif lagi. Benar lho… asli ini desain interior butiknya keren banget. Dulu kenalan sama suami di kampus juga?”

Rumi sudah mulai beraksi dengan bakat terpendamnya. Mancing-mancing.

“Ah bisa saja Rumi ini. Suami saya dulu sekampus tapi beda fakultas. Kami dijodohkan. Tapi sebelumnya dia memang dekat dengan Papa. Dia pintar mengambil hati Papa saya. Orangnya ekstrovert. Banyak gaul dan bercanda. Padahal saya kurang suka tipe seperti dia.” Arini tertawa lirih.

“Oh boleh kutebak, Arini sukanya yang pendiam berwibawa, cool, ngomongnya nggak banyak, sekali ngomong pedas ya kayak cabe kriting?”

Ha… ha… mereka tertawa.

“Begitulah, dulu saya suka sama teman Mas Iqbal, suami saya. Orangnya persis yang Rumi bilang. Ditungguin tak datang-datang, mungkin saking pendiamnya. Ketemu-ketemu eh dia sudah bawa istri. Tapi saya lupa wajah dan namanya sudah 4 tahun yang lalu. Yah namanya juga nggak jodoh. Lagi pula saya juga tak tahu perasaan dia bagaimana. Saya cuma kegeeran saja.”

Rumi yang mendengarkan paparan itu campur aduk rasanya. Ada senang, prihatin tapi… ngilu juga.

Ternyata dulu Arini juga menyukai Arfan suaminya. Noted.

Kisah mereka benar-benar seperti cerita Siti Nurbaya. “Kasih Tak Sampai”.

Rumi kemudian mengatakan ke Arini kalau ia tertarik membeli mobilnya jika belum terjual. Ia perlu untuk wara-wiri ngajar dan ngantar anaknya ke sekolah. Selama ini kalau nggak naik mobil online kemana-mana bawa motor.

“Wah kebetulan, kemarin sore ada yang datang cuman harganya belum cocok. Bagaimanapun itu mobil peninggalan Papa. Nggak tega saya dihargai segitu.”
“Berapa sebenarnya mau dilepas?”
“Saya lepas 100 juta.”
“Berapa dia tawar?”
“70 juta”
“Mmm … kalau saya nego 85 juta apa boleh?”

Arini tersenyum cerah. Deal kalau begitu.
Mereka bersalaman.

“Nanti soal lain-lainnya terkait mesin biar dilihat suami saya dulu ya sekalian pembayaran cash. Oh iya sampai lupa ngobrol panjang lebar, bagaimana kabar Mamanya Arini sudah sehatkah?”

“Alhamdulillah sekarang lagi pemulihan. Sudah pulang ke rumah kemarin. Makanya saya baru hari ini ngantor di butik kembali, selama seminggu tidur di rumah sakit njagain Mama.”

Rumi tersenyum seraya mengacungkan jempol.

*****

“Beli mobil?” tanya Arfan saat menanggapi niat Rumi.

“Iya, sebenarnya sudah lama punya keinginan itu. Sekarang kan aku sudah bisa tuh nyetir walau belum jauh-jauh. Sekalian melancarkan. Aku perlu buat ngantar Kanaya atau ke kampus. Ohya Bu Tika juga minta tolong, aku di kasih plot untuk ngisi seminggu sekali di kelas diamond, itu member yang gradenya paling tinggi. Ada teman jual mobil. Dia lagi butuh uang banget. Makanya sekalian nolong.”

“Kawanmu minta berapa?” tanya Arfan heran.
“Pokoknya dari 100 nego 85 juta. Aku sudah lihat sih kondisinya masih mulus. Kilometernya juga masih pendek untuk ukuran mobil usia 5 tahun. Dia sepertinya apik pakai mobilnya.”

“Kenapa nggak bilang aku dulu, kamu mau beli mobil kaya mau beli kacang goreng. Jangan merasa pakai uang sendiri lantas begitu….” ujar Arfan dengan wajah agak kesal.

“Yee … siapa bilang pakai uang sendiri justru aku mau minta subsidi ke Mas Arfan!”
“Nah itu apalagi. Subsidi apaan?”
“Ya fifty fifty. Atau gini deh… aku ada tabungan 50 juta, yang 35 dari Mas Arfan!”
“Wah besar kali!”
“Ah Mas Arfan ini… pakai itung-itungan sama bini, apa aku juga mesti pinjam kayak itu tuh…. mantan doi pinjam 25 juta?” goda Rumi.

Dalam hatinya dongkol, coba aja dia tahu kalau mobil yang ia beli mobilnya Arini pasti langsung acc.

“Mantan doi apaan sih!” Arfan tertawa lirih sambil mengacak-acak kepala Rumi.
“Yah aku serius nih!”
“Iya. Oke…. oke… trus kapan diambilnya tuh mobil? Aku mesti lihat dulu. Kalau nggak memuaskan sebaiknya cancel. Memang kamu sudah pernah nyobain?”
“Sudah kemarin. Enak pokoknya. Suaranya alus nggak berisik.” tukas Rumi.

*****

Rumi janjian dengan Arini di sebuah parkiran minimarket yang cukup luas pas jam istirahat kantor.

Rencananya siang itu Arfan akan melihat mobil yang dimaksud sekaligus membayar sisa DPnya. Ia maksa pengen lihat dulu, padahal Rumi berusaha melarangnya. Akhirnya Rumi ngalah daripada Arfan curiga.

Sebenarnya Rumi tak ingin Arini tahu kalau mobilnya dibeli oleh mereka dan ia tentu saja tak ingin Arfan bertemu dengan Arini. Bukan lantaran cemburu, tapi ia tak mau Arini berburuk sangka kepadanya. Misalnya merasa dijebak olehnya pura-pura nggak kenal. Padahal sejujurnya Rumi ingin berkawan baik dengan Arini.

Sambil menunggu Arfan datang, Rumi mengajak Arini minum soft drink di gerai makanan depan minimarket.

“Baqgaimana kabar suamimu?” tanya Rumi.

“Alhamdulillah, baik. Dia bercerita setelah ditahan justru kesempatan baca Al Quran dan menghafalkannya lebih banyak. Di sana suka ada pengajian seminggu sekali.” jelas Arini.

“Iya, kalau aku selalu berpikir orang-orang yang dipenjara justru memiliki kesempatan untuk menebus dosa di dunia. Jika ia sudah menjalani hukuman di dunia, maka terbebas sudah hukuman di akhirat. Sedangkan orang-orang yang merasa bersih karena tak pernah mencicipi dinginnya sel sebetulnya harus banyak introspeksi.”

“Kita dilihat baik sebenarnya belum tentu baik, tapi karena aib kita ditutupi sama Allah sehingga orang lain tak mengetahuinya.” papar Rumi.
“Kalimatmu dalam sekali. Sungguh meski baru kenalan, saya banyak belajar darimu” kata Arini tersenyum menatap Rumi.
“Biasa saja Arini. Kalimat itu aku tujukan buat diri sendiri. Ohya aku sangat berharap kamu tidak akan bercerai dengan suamimu. Mungkin kondisi sekarang nggak enak, tapi yakinlah habis ini Tuhan pasti akan menggandakan kebahagiaan kalian.” ujarnya lagi.

“Aamiin. Iya, insya Allah saya akan berusaha belajar menerima kondisi Mas Iqbal. Aku akan belajar mencintainya sebisaku.”

Rumi minta ijin ke toilet dekat mushola sebentar karena mendadak ingin buang air kecil.
Saat baru beranjak itulah, mobil Arfan memasuki halaman mini market. Ia keluar dari pintu mobil dan membuka kacamatanya.
Celingak celinguk sebentar. Saat itulah matanya mendadak bersirobok dengan pandanga mata Arini yang tengah duduk di sebuah bangku depan gerai makanan.

Arfan agak salah tingkah dan bertanya dalam hati mengapa ia malah ketemu Arini di sini? jangan-jangan Rumi ngasih tahu alamat yang salah.
Mau tak mau Arfan mendekatinya. Setelah mengucap salam ia menyapanya.

“Arini? lagi ngapain?” Arini yang disapa juga terkaget. Kok bisa ia bertemu Arfan di sini? Ia teringat pinjamannya kemarin.

“Saya ada janji sama teman. Sudah datang tapi lagi di toilet. Kak Arfan?”
“Oh… eh itu saya janjian sama istri saya. Bilangnya di depan minimarket. Apa kamu lihat perempuan berjilbab pakai kacamata?”

Wajah Arini yang putih memucat kaget. Rumi pakai kacamata tadi. Jangan-jangan … tapi apa mungkin Rumi itu istrinya Arfan?
Astaghfirullah. Dada Arini bergemuruh. Seingatnya dulu istri Arfan tak berkacamata.

“Siapa nama istri Kak Arfan, saya lupa.”
“Harumi. Panggilannya Rumi.” jawab Arfan membuat Arini benar-benar terperangah.

Masya Allah.

“Kak Arfan, maaf ini kunci mobilnya. Mobil yang dibeli Rumi. Silakan diperiksa. Saya pulang dulu. Ohya … terima kasih sudah meminjamkan uang. Nanti tinggal dikurangi saja dari sisa pembayaran.”

Arini meninggalkan kunci mobil dan STNK-nya di atas meja di depannya. Ia lalu bangkit dan segera permisi dari hadapan Arfan.
Lelaki itu terdiam mematung. Ampun, apa maksud Rumi sampai dia nekad membeli mobil Arini?

“Mas …. Mas Arfan!” suara itu memanggilnya.

Arfan menatap Rumi sambil berkacak pinggang.

“Mana temanku? Tadi dia duduk di sini?” tanya Rumi pura-pura biasa.
“Pulang. Tuh kuncinya!”
“Kamu apakan Arini sampai buru-buru pulang?” Rumi menyunggingkan senyum. Arfan melotot. Sepertinya Rumi mengerjainnya.
“Emang menurutmu kuapakan? Dia mendadak pergi setelah aku menyebut nama kamu!” Wajahnya nampak kesal.

Rumi terdiam. Semoga Arini nggak papa.

*****

Rumi memarkirkan mobil itu ke depan Butik Arini. Ia mau membayar sisa pembelian mobil. Namun sampai di dalam hanya karyawatinya yang menyambut.

“Bu Arini pulang membawa ibunya ke Solo dengan pesawat pagi.” ujarnya.

Rumi termangu. Tiba-tiba sebuah pesan masuk. Dari Arini.

“Rumi maafkan saya, nggak sempat pamit. Saya mengantar ibu ke kampung halaman beliau di Solo. Ia ingin tinggal di rumah peninggalan nenek. Saya kemungkinan akan tinggal di Solo pula menemani beliau. Terima kasih banyak atas pertemanan ini walau tak lama.”

“Saya menyadari kamu bidadari yang sangat cocok untuk Arfan. Kamu cerdas dan baik hati. Tak salah Arfan memilihmu. Mohon doakan saya dan suami. Wassalam.”

Rumi menarik nafas. Lega membaca pesan dari Arini. Tadinya ia berpikir Arini akan marah.
Sikapnya malah berbeda dengan Arfan. Sejak siang kemarin suaminya malah nampak dongkol.

“Apa maksud kamu memata-matai dia? Itu sama saja kamu tak mempercayaiku. Kamu berpikir aku masih menyukainya bukan? Lalu hendak menanyakan langsung ke Arini hanya karena melihat kami makan bertiga di sebuah resto?” ungkapnya semalam.

“Jangan berlebihan Mas, aku ke sana mau pesan gamis batik buat Bu Tika. Aku melihat baju yang kamu beli buatku dulu lumayan bagus modelnya. Terus apa aku salah mengajak dia berkawan? Kan Mas tahu sendiri aku suka banyak teman.”

“Terus kenapa kamu nggak cerita?”

“Apa harus? Itu kan cuma urusan perempuan memilih model batik.” jawabnya.

Arfan menatapnya kesal..


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.