Memilih Bidadari – #Part_09/11

Arfan terdiam sesaat menatap bola hitam di mata Rumi. Dirapikannya anak rambut yang menutupi dahi istrinya lalu diselipkan ke belakang telinga. Arfan menelan ludah..

Arfan terdiam sesaat menatap bola hitam di mata Rumi. Dirapikannya anak rambut yang menutupi dahi istrinya lalu diselipkan ke belakang telinga.

“Aku mau jujur asal kamu janji siap dan tak kenapa-napa saat mendengarnya.” ujar Arfan.
“Apakah pahit?”
“Tidak, tapi mungkin menyakitkan bagi istri yang lagi cemburu.”

Sama saja!

Rumi memaksakan senyum. Diakui ia memang cemburu melihat Arfan ngobrol dengan barbie cantik itu. Tapi ia tak mau menjadi manusia kalap. Pengalaman hidup mengajarkan agar kita harus mewaraskan otak saat panik. Dan itu perlu latihan apalagi kalau bukan berdamai dengan rasa sakit hati maupun rasa tak enak.

“Aku sudah biasa disakiti.” sindir Rumi.

Arfan menelan ludah lagi. Benar, dia sudah pernah menyakiti apalagi di awal pernikahan mereka dulu. Meski kemudian mereka bisa melewati tahun-tahun berikutnya dengan manis.

Sejujurnya ia tak ingin jujur. Bukan hanya tak tega, tapi ia malu juga mengakuinya.

“Tapi aku suka sih kalau kamu cemburu, Rum.” Arfan mencoba menetralisir suasana hatinya.
“Kok?”
“Kamu kalau lagi cemburu mengasyikkan jadi bergairah kayak tadi.” Wajah Rumi benar-benar menghangat tersengat.

Kali ini Arfan tersenyum berasa menang. Puas melihat roman Rumi yang berubah.

“Kalau begitu itu yang pertama dan terakhir Mas….”
“Yee … jangan!” Arfan protes seraya mencubit pipi Rumi.
“Aku tak mau otakku diracuni cemburu. Perempuan jika cemburu ibarat berkurang akal sehatnya 25 persen tapi dendamnya bisa melebihi 300 persen!”
“Parah sekali!” desis Arfan seraya melirik Rumi.
“Jangan mengalihkan tema Mas, plis!”
“Okelah jika kamu memaksa, Rumi. Aku akan jujur. Aku…aku…”

Arfan mengambil nafas. Terdiam nyari kata pas untuk memulai dari mana.

“Dulu aku pernah menyukai Arini, sebelum Bang Qosim menyodorkan biodata kamu aku hendak melamarnya tapi ternyata kedahuluan Iqbal. Aku marah, kesal dan kecewa. Seolah apa yang aku usahakan semua sia-sia. Begitu singkatnya. Puas?”

“Apa kalian pacaran?”
Tanya Rumi.

“Kamu bisa lihat penampakan dia. Apa mungkin kami pacaran…?”
“Berarti kalian pacaran batin?”

Mata Arfan menyipit. Pacaran batin?
“Aku tak yakin laki-laki kalau jatuh cinta tak membayangkannya di pikiran.” kata Rumi.
“Bahkan sampai sekarang aku tak tahu perasaannya kepadaku.”
“Begitukah? Jadi maksudnya seperti kisah Siti Nurbaya yang dikarang Marah Rusli, pujangga Balai Pustaka?”
“Maksudmu?” Arfan tak suka baca novel.
“Kasih tak sampai.”

Uhuk!
Arfan tersindir benar tapi ia geli seolah mentertawakan nasibnya.

“Mungkin …”
“Mas Arfan masih mencintainya?”

Arfan menggeleng ragu.

“Enggak….”
“Enggak salah. Buktinya mataku melihat sendiri engkau terlihat menikmati makan bersama dia.”
“Please Harumi…. kami makan bertiga. Ada Pak Hadi di sana.”
“Dia cuma wasit di luar garis.” tukas Rumi
“Kami lagi ada kerjasama dengam butiknya. Perusahaan memesan seragam batik dari butik Arini untuk ulang tahun 2 bulan mendatang.”
“Apa itu juga bagian dari tugas supevisor?”

Arfan mulai kelabakan. Ya kenyataaannya dia memang cuma nemenin Pak Hadi yang bisa dilakukan oleh siapa pun, nggak harus dia.

“Terus maksudmu aku harus bagaimana?”
“Semua ada di tangan Mas Arfan. Aku paham seberapa dalam perasaan Mas ke dia sampai-sampai dulu engkau mengacuhkanku selama sebulan….”
“Rumi, jangan diungkit yang dulu-dulu. Aku sudah minta maaf.”

Rumi mengangguk.

“Mas, jangan juga main-main masalah hati. Arini masih istri sahabat kamu. Bagaimana perasaan dia melihat istrinya makan sambil tertawa-tawa bersama pria yang juga menyukainya?”

Arfan menghela nafas lagi. Ia kemudian bercerita tentang kondisi Iqbal sekarang. Ia berdalih mengunjungi butik Arini untuk menguatkannya agar sabar.

“Ya Allah… apalagi Iqbal tengah menjalani hukuman. Harusnya Mas Arfan lebih menjaga perasaannya sebagai seorang sahabat yang sedang kena musibah terlepas itu kesalahannya sendiri.”

“Oke Rumi, aku janji tak akan menemui dia lagi kalau itu maumu….” jawab Arfan terkesan pasrah.
“Jangan berjanji sama aku Mas, janjilah sama Allah yang menyaksikan engkau saat membaca akad pernikahan. Dan … jagalah perasaan Kanaya. Anakmu.”
“Apa maksudnya bawa-bawa Kanaya, jangan lebay, Rumi.”

“Mas Arfan sayang, aku kebetulan saja memergokimu saat di depan butik atau kamu makan dalam keramaian. Tapi jika….na’udzubillah maaf, engkau sampai bermain di belakang, percayalah yang akan mengetahui pertama kali anak kita, Kanaya.”

“Itu berdasar hasil penelitian psikolog. Kenapa? karena kalian punya DNA yang sama…! Perasaan anak lebih peka atas apa yang terjadi pada ayahnya.”

Kalimat Rumi sangat pedas serasa menakut-nakuti membuat kuping Arfan tegak merinding.

Rumi lalu bangkit dan pergi menuju kamar mandi. Tinggallah Arfan yang terbengong-bengong sendiri.

*****

Rumi melangkahkan kakinya ke butik Arini siang itu sekitar jam 11 sesuai janjinya.

Lalu sosok itu pun muncul dari dalam dengan senyum mengembang berbalut gamis balotelli warna hijau toska dan pasmina panjang bercorak daun-daun mapel warna senada.

Arini memang menawan, decak Rumi mengakuinya. Pantas saja Arfan tertawan. Tapi… sudahlah, toh yang jadi istri Arfan itu kamu Rumi, bukan Arini! gumamnya.

“Ini Mbak Harumi ya, Assalamualaikum perkenalkan saya Arini.” sapanya begitu ramah dan bersahabat.

Dugaannya benar, Arini tak mengingatnya sama sekali. Syukur deh. Jadi ia bisa leluasa bercengkerama.

Mereka bersalaman dan cipika cipiki.
Lalu keduanya terlibat obrolan seru berkaitan dengan pemesanan gamis batik.

Sebelumnya Rumi sudah mengontak dia via inbox FB. Butik Arini memiliki website yang cukup menarik dan profesional. Lumayan berkelas.
Rumi memang dimintai tolong Bu Tika untuk mencarikan gamis batik buat karyawatinya yang akan jadi among tamu di pernikahan putri sulung bu Tika.

“Silakan dilihat-lihat corak dan bahan kain batiknya Mbak Harumi, dijamin tidak mengecewakan.”

Rumi membolak-balik album koleksi busana batik itu, lalu minta ditunjukkin kain yang tertera. Anak buah Arini ke dalam untuk mengambil contoh.

“Saya akan tunjukkan dulu contohnya mbak. Bolehkan memfotonya?”
“Oh silakan mbak Harumi”
“Panggil saja saya Rumi. sepertinya usia kita tak jauh beda ya kan?”

Arini tertawa mengiyakan. Giginya putih sangat rapi kala tertawa membuat Rumi terkesima.

“Ya Allah, aku saja yang perempuan sampai terkesima bagaimana kalau laki-laki di depannya?” bisiknya dalam hati

Saat kembali mengingat kejujuran Arfan hati Rumi sedikit gundah.
Tapi tidak! ia tak ingin memenuhi kepalanya dengan prasangka. Ia sendiri yang minta Arfan jujur.

“Wah sudah ada jawaban dari teman saya, Arini. Dia bersedia dengan model ini dan sekaligus mengirimkan daftar ukuran-ukuran baju yang dibutuhkan.”
“Oh baiklah Mbak…eh Rumi, nanti akan segera kami buat polanya dan dikerjakan sesuai waktu yang dijanjikan.”

Rumi melirik jam tangannya. Tak terasa sudah mendekati jam makan siang.

“Sebagai tanda perkenalan, boleh saya ajak Arini makan siang? Kebetulan saya tahu tempat soto surabaya punya teman yang enak di mall sini juga. Bagaimana?” Rumi menawarkan traktiran.

“Wah Rumi, jadi nggak enak. Harusnya Rumi yang saya traktir sebagai calon customer!”
“Nggak papa kebetulan hari ini saya sedang bahagia. Hari ini anniversary saya dan suami yang keempat.”
Rumi keceplosan berbohong, padahal ultah mereka masih bulan depan. Ia sedikit menyesali tapi terlanjur.

“Ohya….selamat kalau begitu. Baarakallah semoga senatiasa langgeng, sakinah, mawaddah wa rahmah.” ujar Arini terlihat tulus.
“Terima kasih.”

Mereka pun keluar butik dan menuju sebuah foodcourt di lantai paling atas mall. Rumi memesan soto surabaya dan dua gelas jus.
Sambil nunggu pesanan, mereka bercerita keluarga masing-masing.

“Saya pernah keguguran setahun lalu. Sampai sekarang belum dikasih anak lagi. Mungkin belum rejeki.” papar Arini tenang dan pasrah terdengar.
“Maaf jadi ngingetin yang sedih-sedih.”
“Nggak papa. Mungkin itu yang terbaik. Akan lebih berat jika dalam kondisi sekarang ada anak di tengah kami.”
“Mmm… apa suami Arini juga menggeluti bisnis?” pancing Rumi.

Pesanan datang, mereka pun kemudian melanjutkan ngobrol sembari menyantap Soto Surabaya itu.

Tanpa diminta dan segan Arini bercerita tentang suaminya. Rumi terkejut, ia tak mengira Arini mau curhat kepadanya, orang yang baru beberapa saat ia kenal.
Ia tipe pencurhat. Bagaimana kalau dia curhatnya ke Mas Arfan? Rumi mengatur debar nggak enak.

“Ibu saya menyuruh untuk meminta cerai. Dia malu punya menantu sedang dipenjara. Katanya mencoreng nama baik keluarga. Saya masih mempertimbangkannya.”
“Mempertimbangkan? Jadi ada kemungkinan Arini akan minta cerai ke suami? Sayang sekali….” kata Rumi tanpa sadar berucap.

Rumi lalu bergumam sendiri. Sisi perempuannya mulai ketakutan bagaimana kalau Arini cerai beneran dan Arfan menikahinya? Oh tidak…. tidak…. ia tidak siap untuk dipoligami.

“Nggak juga. Bagaimanapun aku menghormatinya. Apapun yang sedang terjadi. Memang berat setiap melihat pandangan orang ke saya 6 bulan ini.”
“Mereka nyinyir mengatakan saya sebagai istri koruptor, banyak makan uang haram, bahkan melecehkan busana yang kupakai.”
“Berjilbab tapi menyuruh suaminya korupsi. Itu sangat…sangat berat mendengarkan dan menerimanya.”

Terlihat mata Arini berkaca-kaca.
Rumi jadi trenyuh dan istighfar. Seandainya ia pada posisi Arini pasti memang berat. Beban psikologis karena embel-embel itu pasti akan terus melekat.

“Dua bulan ini saya mencoba bangkit. Saya gunakan sisa warisan Papa yang ada untuk buka butik. Jadi butik ini bukan sekedar untuk cari nafkah tapi juga membantu menyibukanku diri dari pikiran-pikiran negatif.” Arini mengusap air di sudut matanya.

“Kapan terakhir Arini mengunjungi suami?”
“Sebulan lalu aku menengoknya.”
“Percayalah Arini semua akan baik-baik saja. Kamu harus kuat, support suami Arini agar lebih kuat pula. Penjara justru akan membersihkannya kembali.”
“Tak usah hiraukan pandangan orang. Menikah itu bukan mendampingi pasangan di kala enak saja, tapi juga saat dia diberi cobaan seperti sekarang.”
“Suami Arini pasti akan tegar kalau kamu selalu mendukung dan menghiburnya.”

Rumi mencoba menyemangatinya. Sungguh kali ini bukan karena ketakutan Arfan akan merebut Arini dari Iqbal tapi menghibur sebagai sesama perempuan.
Arini terdiam.

*****

Hari Minggu Arfan mengajak Rumi kondangan ke luar kota, di sebuah gedung pertemuan di Kota Tangerang. Teman Arfan satu divisi menikah di sana.
Selesai acara Rumi gantian pegang stir mobil. Ia memang baru belajar nyetir tiga bulan ini. Sekalian melancarkan.

Rumi mengatur google mapnya. Ia akan mengajak Arfan ke suatu tempat mumpung lagi di sana.
Mobil pun berjalan santai melewati suasana panas kota di sebelah selatan Jakarta itu.

“Kita mau ke mana?” tanya Arfan.
“Ada deh.” Mata Rumi masih konsentrasi ke depan.

Setelah sekitar 20 menit jalan mereka sampai lah ke sebuah gedung bertuliskan ‘Lembaga Pemasyarakatan Tangerang’. Ia menghentikan mobilnya di tempat parkir.

“Mas Arfan, jenguklah Iqbal. Kini sudah saatnya engkau sebagai sahabat meski sudah lama tak bertemu untuk mensupportnya. Dia pasti butuh teman-teman yang bisa menghiburnya di kala susah. Katamu dia dulu teman sekamar di tempat kost. Dia pasti sangat senang kamu mau menjenguknya.” ujar Rumi.

Arfan kaget, ia tak mengira sama sekali Rumi punya rencana mengajaknya menengok Iqbal, suami Arini.
Meski ragu Arfan pun mengangguk berjalan menuju gedung. Rumi mengikuti dari belakang.
Setelah berkomunikasi dengan petugas mereka di bawa masuk ke ruang khusus tamu bertemu napi.

Kurang lebih sepuluh menit seorang petugas datang bersama pria bercambang di pipinya. Dia terlihat kaget melihat dua orang tamu yang dibilang ingin menemuinya. Ia pikir Arini dan adiknya.

“Arfan?”

Arfan ternyuh melihat Iqbal sekarang yang nampak kurus jauh sekali berbeda dengan penampakkannya waktu ketemu di mall empat tahun silam.
Ia memeluknya.

“Terima kasih sudah mau nengok. Baru kamu teman lama yang mau datang ke sini. Ke tempat pesakitan ini.” guraunya.

Rumi ikutan terharu melihat mereka. Ia duduk termenung di bangku pojokan.

Arfan dan Iqbal masih terlibat pembicaraan entah apa Rumi tak terlalu mendengarkan. Ia mendadak teringat Arini. Kasihan memang perempuan itu. Pasti sangat shock. Terbiasa hidup terhormat dan kecukupan sekarang menyadari suaminya tinggal di penjara sederhana dan ia harus pula mengurus mamanya yang sakit-sakitan beserta adiknya.

Namanya kehidupan bagai roda berjalan kadang di atas kadang di bawah. Kadang melintas kadang terlindas aspal keras.

“Mbak Rumi, boleh saya minta tolong?” pinta Iqbal memanggilnya. Rumi mendongakkan wajah.
“Saya tahu mungkin Mbak Rumi tak terlalu mengenal istri saya. Dia baru buka butik di Jakarta mungkin Mbak Rumi bisa mendekatinya untuk bicara. Saya takut sekali kehilangan dia. Saya tak mau dia menuntut cerai…. saya sangat mencintainya.” Iqbal menangis sesenggukan.

Ya ampun Rumi sampai terperangah apalagi Arfan. Melihat Iqbal sesedih itu ia pasti sangat berat berpisah dengan Arini. Arfan tertunduk.
Ia baru tersadarkan bahwa Iqbal memang lebih pantas mendampingi Arini ketimbang dirinya. Dari saat dia bercerita bahwa untuk mendapatkan Arini ia harus berjuang merebut dan menundukkan hati papa dan keluarganya dulu berbulan-bulan menunjukkan ia lebih gentlemen dan sungguh-sungguh tak seperti dirinya yang hanya sibuk mengumpulkan bekal dalam diam kesendirian.

Padahal itu tak cukup. Menikahi anak gadis orang berarti ia harus siap pula menerima seperangkat keluarganya. Arfan tak pernah memperhitungkan itu. Ia hanya fokus pada Arini. Sangat egois.

*****

Arfan tengah bermain dengan Kanaya di halaman samping. Anak itu tertawa ceria.
Rumi mendekati mereka hendak mengajaknya sarapan.

“Makan di sini saja Bunda.” teriak Kanaya.
“Maksudnya gelar tikar kayak minggu lalu?” tanya Rumi.
“Di atas gazebo saja bagaimana?” usul Arfan.
“Boleh ayah… aku suka juga.”

Tiba-tiba handphone Arfan berbunyi sebentar. Ada notifikasi pesan masuk.

Dari Arini!!

“Assalamualaikum Kak Arfan, saya mohon maaf terpaksa menghubungi. Saya sangat bingung harus bagaimana lagi dan kepada siapa minta tolong. Ibu saya masuk rumah sakit dan harus segera menjalani operasi jantung. Bisakah saya meminjam uang 25 juta untuk tambahan keperluan tersebut? Insya Allah akan segera saya ganti kalau mobil saya terjual dalam waktu dekat ini. Terima kasih.”

Arfan terperanjat.

“Pesan dari siapa Mas?” tanya Rumi demi melihat perubahan mimik wajah pada suaminya.

Arfan kaget. Apakah ia harus memberitahu Rumi? Bagaimana kalau istrinya itu salah sangka bahwa ia masih berhubungan dengan Arini di belakang sampai-sampai perempuan itu berani pinjam uang kepadanya?

“Mas?”


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

WhatsApp Image 2021-02-12 at 14.57.39

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo Sudah Negatif Covid-19

JAKARTA (titiktemu, 12/2)– Setelah hampir tiga pekan (20 hari) menjalani isolasi mandiri, Ketua Satgas …

Logo-Muhammadiyah-OK

PP Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 13 April 2021

Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1442H jatuh pada hari Selasa Wage, 13 April …

WhatsApp Image 2021-02-10 at 08.34.30

KRL Yogya-Solo Beroperasi Mulai Hari Ini

SOLO (titiktemu, 10/2) – Hari ini menjadi tak biasa bagi masyarakat pelajo Solo-Yogya. Para …