Memilih Bidadari – #Part_08/11

Matanya hanya melihat satu-satunya kursi yang ada di tengah.. Ia hanya bisa memendam cinta, begitu lama, sejak kuliah tingkat tiga..

Arini menyesal mengapa tanpa berpikir lagi dan lihat-lihat orang ia langsung minta ijin duduk di depannya. Perutnya sangat lapar karena seharian ini habis keliling dari satu tempat ke tempat lain.

Ia tak ingin asam lambungnya kambuh dan berefek panjang. Jika maag nya menyerang ia bisa pingsan tak sadarkan diri karena menahan sakit yang menjalar ke seluruh tubuh.

Dan matanya hanya melihat satu-satunya kursi yang ada di tengah itu. Ia juga tak terlalu memperhatikan lelaki yang ada di depannya. Seandainya tahu dan menyadari kalau dia adalah Arfan sudah otomatis ia akan menyingkir. Langsung minta dibungkus dan makan di mobil.
Tapi sudah terlanjur. Ia sudah berdiri di depannya.

Dia. Lelaki itu yang 4 tahun lalu ia harap dan tunggu kedatangannya ke rumah untuk menjemput hatinya tapi tak pernah tiba.

Ia hanya bisa memendam cinta, begitu lama, sejak kuliah tingkat 3 bayangkan. Ia pun hanya menduga, Arfan juga menyukainya. Meski mereka tak pernah mengenal pacaran tapi setidaknya ia bisa meraba dari tindak tanduk Arfan, kakak kelasnya satu tingkat itu.

Sampai kemudian Iqbal yang sudah lama mengenal Papa memintanya dengan gigih dan terang-terangan.
Ia ingat kata-katanya saat melamar,

“Saya tak ingin kedahuluan oleh siapapun, Dik. Karena aku tahu banyak pemuda yang mengincarmu.”
Kata Iqbal yang waktu itu baru lulus dan baru kerja sebagai tenaga honorer bidang IT di sebuah lembaga pemerintah.

Arini tahu Iqbal adalah teman dekat Arfan apakah Arfan juga mengincarnya?.

Yang jelas Papa suka kepadanya yang supel dan ramah apalagi ketika tahu Iqbal akhirnya diterima jadi PNS di sebuah dinas pemerintah. Ia semakin merestui karena beliau juga pensiunan PNS. Ya papa Arini adalah mantan pejabat eselon 2 di sebuah dinas pemerintah provinsi.

Sebelum ayahnya pensiun hidup Arini sebagai anak tertua dari 4 bersaudara ini terbilang mapan dan kecukupan dengan gaya hidup anak pejabat tentunya.

Kebetulan mamanya juga masih ada keturunan darah biru dari silsilah keraton Solo. Kecantikan Arini diturunkan dari ibunya. Sebagai istri pejabat saat itu, ibu Arini bisa terbilang perempuan sosialita dengan selera hidup tinggi. Termasuk dalam membesarkan keempat anaknya.

Tapi setelah Papa pensiun semuanya berubah. Papa Arini sakit-sakitan dan bolak balik ke rumah sakit hingga menguras keuangan keluarga.

Kira-kira sebulan setelah menikahkan Arini dengan Iqbal ia meninggal. Mama shock apalagi ia tak terbiasa hidup menderita.
Iqbal dan Arini lah yang harus jadi tulang punggung keluarga. Ketiga adik Arini masih kuliah dan sekolah.

Iqbal berusaha jadi pahlawan bagi mereka. Kariernya meski baru diangkat jadi PNS lumayan cemerlang karena kinerjanya bagus. Sayangnya kemudia ia terjebak dalam permainan anggaran bersama pengusaha rekanan yang ia kenal.

Ya begitulah tergiur uang besar karena tuntutan kebutuhan yang besar di keluarganya membuat ia lupa dan terseret tindakan yang dilarang bagi pejabat maupun pegawai negeri.

Kondisi ini membuat Arini labil. Mama menyuruhnya agar ia segera minta cerai. Tapi ia ragu. Meski tak terlalu mencintai Iqbal tapi dia menghormatinya dan akan berusaha setia semampunya.

Bagaimanapun Iqbal sudah berkorban untuk keluarga. Bukankah ia dipenjara juga karena kesalahan yang melibatkan mereka?.

Ya Iqbal orangnya royal, meski sebetulnya bukan dari keluarga berada tapi ia selalu ingin membuat senang keluarga terutama adik-adiknya bagaimanapun caranya. Ia kerap membelikan mereka hadiah-hadiah.

“Apa kabar?”
Suara Arfan terdengar parau menyapanya. Burger yang baru separo di makannya terasa hambar. Ada yang membuat pikirannya lebih tersita.

Arfan sangat kaget ia bisa bertemu kembali dengan Arini, sendirian pula. Terakhir kalinya ya saat ia bersama Iqbal di foodcourt kalau tak salah 4 tahun silam.

Arini masih seperti yang dulu. Putih, cantik serasi jika berbusana. Meski rapi tertutup ia selalu nampak elegan. Tak semua perempuan cantik itu yang berpakaian terbuka. Yang tertutup tapi anggun pun tetap bisa membelai mata pria. Karena setiap pria bisa menilai kecantikan lawan jenisnya dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Inilah yang kadang tak disadari.

Tapi Arfan menangkap mata Arini yang terlihat sayu.

“Baik. Alhamdulillah. Kak Arfan sendiri dan keluarga bagaimana?”
Arini sesekali merunduk.

Ia memang tak pernah berani menatap langsung wajah Arfan jika bercengkerama. Ia takut terpesona dan jatuh pada harapan kosong seperti dulu apalagi kondisinya sekarang ia sedang tak nyaman.

Berpisah dengan suami bukan perkara mudah. Apalagi terpisah karena suami tersandung kasus. Kondisi yang membuat jiwanya remuk redam.

Dan ternyata rasa grogi itu belum hilang juga dari dada Arini. Apa itu berarti ia masih menyukainya?. Oh tidak. Sungguh memalukan, Arfan sudah beristri dan mungkin saja sekarang punya anak. Jelas kalau lelaki itu tak menaruh perhatian kepadanya sama sekali.

Meski sudah lupa wajah dan nama istri Arfan yang dulu diperkenalkan tapi saat itu sempat membuatnya cemburu, ia minta Iqbal segera beranjak dan sengaja memamerkan kemesraan dengan menggandeng tangan Iqbal erat. Ia ingin menciptakan kesan bahwa mereka pasangan bahagia.

Ditanya seperti itu Arfan lalu bercerita tentang Rumi dan Kanaya. Cerita mereka sekilas terutama anaknya yang hari itu baru akan masuk sekolah. Sedikit demi sedikit kegugupannya karena kaget bertemu kembali menjadi cair.

“Anakmu berapa Arini? Dan bagaimana kabar Iqbal, Sekarang di instansi mana?”
Syukurlah hati Arfan terasa tenang saat menyebut nama Iqbal teman dekatnya dulu. Paling tidak kecemburuan itu sudah mulai menipis.

Arini menggeleng lalu tersenyum seperti dipaksakan.

“Saya… belum punya anak, sempat keguguran. Tapi mungkin itu yang terbaik. Mas Iqbal insya Allah baik.”
“Ooh maaf.”
“Nggak papa. Oya saya buru-buru, barusan dapat pesan dari Mama untuk segera pulang. Salam untuk istri Kak Arfan.” Arfan mengangguk.

Arini segera bangkit. Ia meminta burgernya dibungkus sebentar lalu keluar. Lebih baik ia berbohong daripada hatinya berkecamuk.

Ya … Arfan sudah bahagia dengan keluarganya. Apakah masih ada celah buatnya juga untuk bahagia seperti mereka?

*****

Arfan teringat kembali pertemuan tak terduga dengan Arini tadi sore. Matanya melototi TV tapi pikirannya mengembara.
‘Kenapa matanya terlihat sayu?’

Sudahlah Arfan kenapa pula harus memikirkannya? Dia istri orang, kamu tak ada hak sedikitpun untuk membayangkannya, ungkap hatinya.

Bukankah sudah ada bidadari di rumah yang lebih berhak engkau pikirkan? Rumi adalah bidadari yang sudah kau pilih. Bukan hanya pengganti setelah kau tak mendapatkan Arini tapi juga pilihan dari biodata-biodata yag dulu ada di tangan kamu?

“Eh Mas, kupikir sudah tiduran di kamar. Biasanya jam segini sudah tepar.”
Rumi muncul dari kamar Kanaya. Ia menina bobokan gadis kecilnya dulu sebelum istirahat seperti biasa.

Ia berjalan mendekati Arfan yang tengah meringkuk di sofa.

“Tadi jadi ke lembaga pendidikan itu?”
tanya Arfan hendak mengalihkan pikirannya.

“Jadi Mas, insya Allah mulai lusa aku udah dapat jadwal ngajar. Tadi sudah dikasih silabusnya. Ya masih ada waktu sehari buat persiapan.” jawab Rumi tersenyum gembira.

“Jangan capek-capek, nanti Kanaya nggak keurus.”
“Aku cuma ngajar seminggu 3 kali kok Mas. Itu pun kalau sudah selesai bisa langsung pulang karena dosen lepas.”

Dengan blouse bunga lengan pendek malam itu Rumi terlihat segar.
Sepertinya berita tadi membuatnya bertambah bahagia sampai-sampai itu terpancar dari wajahnya.

Rumi duduk di sebelah Arfan lalu memijit kaki suaminya itu.
Sentuhan tangan Rumi membuatnya terlecut. Ia pun bangkit lalu gantian merebahkan kepalanya ke pangkuan Rumi.
Rumi mengelus-elus rambut tebal Arfan dan memijit kepalanya. Rasa enak menelusup pori-pori kepalanya.

Arfan lalu teringat salam dari Arini untuknya. Ya namanya salam kan wajib disampaikan.

“Ada salam dari Arini istrinya Iqbal untuk kamu, tadi nggak sengaja ketemu di swalayan.” ujarnya.
“Arini?” Rumi mencoba mengingat.
“Yang dulu… dulu banget waktu kita baru menikah terus kamu kuajak makan malam ketemu dengan Iqbal.”
“Oh … ia ingat Arini yang mirip barbie itu?”

Tadinya Rumi mau bilang ‘cantik’ tapi kata nasihat yang ia dengar seorang istri dilarang menyebut-nyebut perempuan lain cantik di depan suaminya, khawatir suami tersebut ikut membayangkan dan dilarang pula menyebut lelaki lain cakep atau ganteng di depannya khawatir suaminya cemburu.

“Kayak barbie?” Arfan terkekeh.
“Berkulit putih maksudnya kayak boneka. Kalau aku kan ya… tau sendiri deh.”
“Sawo kematengan?” tebak Arfan tertawa lagi.
“Sawo manis” tukas Rumi pede.
“Enggak. Kulit kamu makin lama juga makin cerah. Apalagi kalau tertawa begini.” Arfan menyentuh pipi Rumi.

Ya, Rumi memang tak seputih Arini, tapi 4 tahun ini dia sudah memberikan segalanya. Cinta, perhatian, kebaikan dan juga Kanaya untuknya. Apalagi?

“Makin cerah karena selalu disuruh kamu ke salon? Sama saja, kamu sukanya sama yang putih-putih.” rajuk Rumi.
“Nggak lah. Nggak. Putih-putih tapi kalau nggak bisa disentuh ya mana enak. Gak bisa ngerasain….” guraunya.
“Izz…ngomongnya.” Rumi mencubit lengan Arfan.

Arfan bangkit, lalu beranjak sambil menggamit tangan Rumi.

“Kanaya sudah tidur kan?”
Rumi mengangguk.

Arfan membawa Rumi masuk ke kamar mereka. Bukankah Rasul mengingatkan jika kamu melihat wanita cantik, segeralah datangi istrimu. Toh mereka sama saja.

“Biar kamu nggak putih, yang penting bisa diraih. Semua-muanya…” bisik Arfan tersenyum sambil memeluk Rumi.
“Kesanya terpaksa gitu?” rajuk Rumi.
“Nggak ding. Selalu ada cinta untuk Rumi.”
“Wes, pujangga keluar deh.”

*****

Arfan tengah menuju ruangan divisi rumah tangga. Ia hendak menanyakan sesuatu terkait kebutuhan anak buahnya.

Tapi di ruangan Pak Hadi sepertinya ada tamu. Sayangnya Arfan sudah kadung masuk. Dan mata Arfan terbelalak ketika mengetahui siapa tamu Pak Hadi.

Ternyata Arini.

Dia lagi? Baru dua hari yang lalu ia bertemu tak sengaja.

Ya Allah kenapa ia mesti bertemu lagi dengannya. Suatu kesempatan yang baginya sekarang seperti ‘godaan’ saja. Ya karena setiap melihat Arini ia selalu ingat masa lalunya.

Mungkin benar kata-kata Bang Napi, kejahatan itu bukan saja karena niat tapi adanya kesempatan. Waspadalah…waspadalah.

Arini lebih terkaget.

“Oh Kak Arfan bekerja di sini? Maaf saya nggak tahu.” ujarnya.
“Mas Arfan kenal?” tanya Pak Hadi.
“Iya pak, Arini dulu satu kampus sama saya.” Arini tampak berdiri hendak pamit.
“Kalau begitu saya pamit dulu Pak Hadi. Nanti segera dikabari saja. Saya sesuai dengan kesepakatan saja. Nanti kalau oke, saya minta karyawan saya mengukur baju.” terangnya.

Arfan tak terlalu ngeh apa yang dibicarakan. Tapi mungkin ada hubungannya dengan seragam.
Setelah Arini keluar Arfan pun duduk kembali.

“Pesan seragam ya Pak?”
“Iya buat ulang tahun perusahaan dua bulan mendatang. Arini itu tetangga saya. Jadi saya coba tawarkan kerjasama, hitung-hitung membantu usaha dia di bidang pemesanan baju seragam kantor dan batik. Kebetulan kan dia juga baru buka butik.” Arfan mengangguk.

“Iqbal suaminya kebetulan teman dekat saya.” kata Arfan.
“Iya. Kasihan ya… makanya saya bermaksud membantu usaha istrinya.”
“Kasihan kenapa?” tanya Arfan.
“Kamu nggak tahu?”
“Sudah lama kami tak bertemu.”
“Iqbal suaminya sedang dipenjara. Sedang menjalani hukuman tipikor.” kata Pak Hadi membuat Arfan kaget sangat.
“Bersama bosnya, Iqbal dinyatakan bersalah karena melakukan tindakan korupsi berupa suap dan penerimaan gratifikasi.”
“Baru 6 bulan lalu Iqbal masuk ke Lapas Tangerang dengan tuntutan hukuman 2 tahun penjara karena statusnya dipandang sebagai PNS yang membantu tindakan melanggar hukum itu.”

“Masya Allah” gumam Arfan.

Kali ini ia benar-benar prihatin. Mengapa Iqbal yang ia tahu agama sampai berbuat senekad itu?

*****

Entah kenapa Arfan mau saja saat diajak Pak Hadi mengunjungi butik Arini di sebuah mal terkenal yang tak jauh dari kantornya.

Lay out butiknya lumayan bagus. Ia tahu Arini memang paling jago menata ruang.
Dulu ruang sekretariat di kampus ditatanya dengan rapi dan keren. Dan itu salah satu yang membuat dia terpikat.

Sementara Pak Hadi ngobrol dengannya terkait pemesanan batik seragam, ia pun melihat-lihat koleksi butiknya yang terpajang. Tidak hanya busana perempuan tapi juga ada stelan baju laki-laki termasuk baju koko dan hem.

Ia mengambil sebuah blouse warna pastel yang sepertinya cocok ukurannya untuk Rumi. Mungkin dia suka.

“Arini, saya turut prihatin atas kejadian yang menimpa Iqbal. Mudah-mudahan kamu sabar.” kata Arfan saat mereka keluar dan Arini mengantarnya.
“Terima kasih Kak Arfan. Oya mudah-mudahan istrinya suka dengan model blousenya.” Arfan mengangguk.
“Kamu tinggal dengan Ibu dan adik-adikmu?”
“Ya sekarang, karena rumah kami disita. Saya harus menemani Mama dan menjaga adik-adik.”
“Masih kuliah?”
“Yang kuliah satu, cowok. Dua adik perempuan saya masih SMA dan SMP.”

Pak Hadi segera mengajaknya pamit.

Dari sebuah sudut gerai mal tampak sepasang mata melihatnya. Ya Rumi memergokinya. Dia menyaksikan Arfan dan Arini berbincang di depan butik dengan banner besar di atasnya. Butik Arini.

Dari cara ngobrol dan Arfan memandang Arini, Rumi yakin sosok perempuan cantik itu pasti punya kedudukan spesial di mata Arfan suaminya.

“Siapa sebenarnya Arini?”

Dan ketika dua hari kemudian mata Rumi memergoki kembali Arfan tengah makan siang bareng seorang bapak dan Arini di sebuah resto seberang butik, Rumi pun tambah penasaran. Ia ingin Arfan jujur.

Malam itu setelah Rumi berhasil menggoda Arfan habis-habisan untuk melewati malam dengan ibadah spesial seperti biasa, ia pun mengajak bicara saat masih dalam dekapan Arfan.

“Mas Arfan,…boleh aku jujur?”
“Mmm… kenapa tidak, Rum. Ada apa?”
“Aku sudah dua kali melihat Mas Arfan bareng Arini. Ada kerjasama apa? Dan siapa sebenarnya Arini istri Iqbal itu?”

Deg!
Rumi melihatnya bareng Arini? Kapan? Di mana?
Seingatnya ia keluar menemui Arini bareng Pak Hadi.

“Kapan kamu melihatnya?” tanya Arfan berusaha tenang.
“Itu nggak penting. Mas aku ingin dengar tentang Arini dari mulutmu sendiri….”
“Maksudmu?”
“Kalau Mas nggak mau jujur tentang siapa Arini, besok aku akan coba tanyakan ke Bang Qosim dan Kak Hanum. Pilih mana?” bisik Rumi sambil mencium pipi Arfan.

Arfan terpojok. Jelas ia tak bisa marah dan tersinggung kepada Rumi. Istrinya sudah membuatnya bahagia malam ini.

“Rumi….”
Kamu memang cerdik.

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

WhatsApp Image 2021-02-12 at 14.57.39

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo Sudah Negatif Covid-19

JAKARTA (titiktemu, 12/2)– Setelah hampir tiga pekan (20 hari) menjalani isolasi mandiri, Ketua Satgas …

Logo-Muhammadiyah-OK

PP Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 13 April 2021

Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1442H jatuh pada hari Selasa Wage, 13 April …

WhatsApp Image 2021-02-10 at 08.34.30

KRL Yogya-Solo Beroperasi Mulai Hari Ini

SOLO (titiktemu, 10/2) – Hari ini menjadi tak biasa bagi masyarakat pelajo Solo-Yogya. Para …