Memilih Bidadari – #Part_07/11

Rumi langsung ditangani oleh beberapa perawat dan petugas medis di UGD setelah diletakkan di kasur dorong. Arfan ikutan panik. Apakah Rumi tengah hamil? Ia sangat terkaget-kaget.

Rumi langsung ditangani oleh beberapa perawat dan petugas medis di UGD setelah diletakkan di kasur dorong.

Terdengar bisik-bisik di kalangan mereka.

“Paling juga keguguran.”
“Kuret kayaknya, seperti kasus kemarin”
“Hamil anggur….”
“Blighted Ovum….”
“Kasihan … !”

Arfan ikutan panik. Keguguran? Apakah Rumi tengah hamil?
Ia sangat terkaget-kaget.

Apalagi Rumi di tengah rasa lemahnya karena darah keluar, ia masih sadar. Masih mendengar semuanya.

“Mungkinkah aku hamil?” Ia menyesali keteledorannya mengingat masa haid, apalagi jadwalnya yang sering loncat-loncat.

Kadang maju kadang mundur. Ia malah lupa kapan terakhir haid?
Seingatnya seminggu sesudah menikah, tapi itu pun sangat sedikit dan cuma 4 hari.

Ia dibawa ke ruang dokter kandungan.

“Untung ada dokter kandungan yang jaga Mas, kebetulan lagi piket. Biasanya kalau hari Sabtu begini cuma ada dokter umum.” ujar salah seorang perawat.

Arfan cuma mengangguk. Ia memegang jemari Rumi seolah berusaha menguatkannya.

Bunda ia minta duduk di ruang tunggu takut jantungnya kambuh karena shock.

“Ada apa, kenapa istrinya Mas?”
Seorang wanita memakai baju putih dengan jilbab dimasukkan ke blazernya itu menatap ramah ke Arfan lalu wajah Rumi yang memucat ketika sudah sampai ke ruangannya.

“Istri saya tiba-tiba pendarahan Dok.”
“Apa lagi hamil?”
“Justru kami nggak tahu, Dok.”
” Lho kok nggak tahu piye,…. sampeyan baru nikah ya?”
Suara medok dokter kandungan itu membuatnya gugup.
“Baru Dok. Baru tiga bulan.”

Arfan berdiri sambil menghitung hari. Rencana ke Raja Ampatnya kan mundur lagi 2 minggu karena ada keperluan mendadak. Tiba-tiba bos menyuruhnya supervisi ke Surabaya selama 3 hari.

Rumi cuma terdiam. Pikirannya masih berkecamuk.

“Paling keguguran Dok.” Suara perawat terdengar usil.

Kata-kata itu sungguh menikam jantung Rumi. Apa nggak ada kalimat yang lebih halus? Ia takut sekali mendengar kata kuret. Ya dikuret.

“Nggak semua pendarahan langsung berakibat keguguran. Lha kalau ternyata nggak hamil apanya yang gugur? Coba kita periksa USG dulu ya. Mbak nya apa masih terasa keluar darahnya…?”

Rumi menggeleng. Tadi ia sudah dipakaikan pembalut.
Dokter Dena biasa ia dipanggil lalu menyiapkan peralatan USGnya. Satu suster membantu membuka baju blouse Rumi hingga terlihat perutnya.

Arfan hanya berdiri terpaku. Tak tahu harus berbuat apa. Ia sangat cemas, takut Rumi kenapa-napa.
Dokter meletakkan alat pendeteksi itu di bawah perut Rumi dan menggerak-gerakkannya. Matanya serius mengamati layar.

“Lhoo … gimana tho mbak, masak lagi hamil nggak tahu? Nih si Masnya juga mentang-mentang pengantin baru tahunya cuma bikinnya doang ya….” ujar dokter tersenyum dengan suara medok lagi. Entah dia tengah bercanda atau nyindirin Arfan.

Yang jelas Arfan sungguh sangat terpojok dibilang begitu. Ya gimana, lha wong dia juga baru belajar mengenal istrinya. Baru mulai menerima dan mencintainya. Kalau ada keinginan terus untuk menggauli istrinya bukannya hal wajar bagi pengantin baru?

“Subhanallah…. Mbak… untung janinnya sangat kuat, padahal pendarahan. Nak… baik-baik ya kamu di sana.”
“Coba Mas, lihat nggak yang gerak-gerak ini. Ini umurnya sudah 6 minggu lebih?”

Arfan terkaget dan takjub. Jadi Rumi hamil? Ya Allah. Ia mengamati titik yang begerak-gerak itu.

“Tapi Dok, saya baru pertama menggauli istri saya pada minggu ketiga atau hampir sebulan setelah nikah. Apa bisa secepat itu?”

Arfan jujur banget. Ia ingat hari minggu siang itu sewaktu esoknya Rumi mau ke Kuala Lumpur. Itulah pertama kali mereka mengikrarkan diri sebagai suami istri seutuhnya.

Dokter Dena tertawa. Untung ia tak usil nanya-nanya kenapa?

“Ya buktinya istri Mas hamil? Berarti sampeyan sudah nanam saham tho?”
“Ya coba nanti dipikir sama istrinya kapan terakhir haid, kan bisa diperkirakan kapan masa suburnya. Saya hanya memperkirakan usia janin berdasar data USG saja….”

“Iya Dok.”
Arfan tersenyum tipis meski gamang. Apa baru pertama mencampuri Rumi langsung bisa hamil?. Tapi memang sesudahnya kan mereka berhubungan secara teratur?

Ya sudahlah … yang penting Arfan bahagia menyadari kalau Rumi hamil.

“Jantungnya alhamdulillah masih berdenyut. Ia masih bisa bertahan. Cuman letak janinnya ini dekat sekali dengan mulut rahim. Plasentanya. Tapi biasanya usia muda seperti ini masih bisa bergerak pindah. Masih terlalu dini saya mengatakan plasenta previa.”

“Apa itu Dok?” tanya Rumi pelan.
“Kondisi dimana letak ari-ari atau plasenta di bawah rahim. Menutupi semua atau sebagian mulut rahim. Tapi yang sering terjadi dan berbahaya itu saat memasuki trimester kedua dan ketiga.”

“Jadi pendarahannya karena apa Dok?” cecar Arfan to the point. Ia awam dengan istilah-istilah itu. Njlimet.
“Pendarahan saat hamil muda itu banyak faktor, bisa hormon, karena dekat mulut rahim, mulut rahimnya lemah. Bisa juga tanda-tanda mau keguguran. Seringnya demikian. Mbak terasa sakit di perut?”

“Saya hanya lemas Dok. Apa bisa karena kelelahan? Kami baru pulang dari perjalanan jauh.”
Rumi sedikit menduga, ia lelah karena baru pulang dari Raja Ampat. Seandainya ia tahu lagi hamil muda ia pasti tak akan senekad itu. Tapi nasi sudah jadi bubur.

“Itu salah satu faktor saja. Nggak mutlak. Tidur di rumah sakit dulu ya selama 3 hari biar besok bisa dikontrol lagi.”
“Apa Dok, dirawat?” Arfan terlongo.
“Masnya pengen janinnya tetap bertahan nggak, pengen punya anak nggak?”
“Iya Dok … tentu.”
“Istri sampeyan dirawat dulu supaya jangan banyak gerak. Nggak boleh berdiri apalagi jalan.”
“Bedrest?”
“Betul Mbak, istirahat total. Untuk sementara saya kasih penguat kandungan dan vitamin.”

“Begini Mas, Mbak. Sebetulnya rahim itu ya sudah diciptakan Allah sekuat mungkin untuk menjadi rumah bayi. Bahkan dengan 3 lapisan.”
“Kalian muslim, pasti pernah baca dan tahu kalau dalam Al Quran dinyatakan ada 3 kegelapan dalam rahim. Jadi sistem perlindungan terhadap bayi itu berlapis. Lapisan dalam plasenta ada amnion cairan ketuban yang membungkus bayi, kedua lapisan dinding rahim sendiri dan ketiga lapisan dinding perut.”

“Jadi kalau kasus keguguran tidak melulu karena rahimnya yang lemah, atau lelah fisik kecapean. Rahim itu sejatinya kuat, kokoh. Tuhan sendiri yang membunyikan kalimat itu di Al Quran. Kalau keguguran lebih sering karena kondisi janinnya yang tak bagus. Dia secara sunatullah akan dikeluarkan atau digugurkan dari rahim.”

“Nah kasusnya mbak ini, alhamdulillah kondisi janin masih bagus denyutnya normal. Tinggal dijaga saja rahim yang menopangnya dengan beristirahat banyak.”

Paparan Dokter Dena lengkap dan menyejukkan hati Rumi. Jadi dia sekarang hamil? Ada benih Arfan di rahimnya? Alhamdulillah ia tak menduga begitu cepat diberi amanah itu.

“Iya Dok.” kata Arfan mengangguk mulai mengerti.
“Oya, Masnya juga nanti mesti puasa dulu ya?”
“Maksudnya?” Arfan bertanya.
“Iya, jangan berhubungan sama istri dulu sampai kurang lebih kondisi stabil tidak ada pendarahan, saya saranin sampai lewat usia janin 12 minggu atau 3 bulan.”

Arfan menelan ludahnya karena mendadak kering.

“Sanggup kan, meski pengantin baru? Ya namanya hidup Mas kadang-kadang kita mesti berkorban.” tutur dokter.
“Iya Dok, nggak masalah.” Suara Arfan pelan serasa tercekat.

Rumi melirik pias wajah suaminya. Arfan tersenyum manis ke Rumi dan menggengam jemarinya erat.

****

Bu Rahmi menggelengkan kepalanya saat bertemu anaknya yang disibukkan dengan bagian administrasi untuk memesan kamar perawatan bagi Rumi.

“Jadi Rumi itu ternyata sedang hamil? Alhamdulillah. Arfan… Arfan istri lagi hamil begitu sampai diajak jalan-jalan jauh ke Papua. Untung nggak apa-apa lagi di sana. Bagaimana coba kalau pendarahannya di pulau yang jauh ke mana-mana itu?”

Kalimat ibunya seakan menakut-nakuti Arfan. Ya ia memang tak akan bisa membayangkan sejauh itu.

“Sudahlah Bun… ini memang kesalahan kami. Ya namanya juga nggak tahu. Rumi juga nggak ngerasa dirinya hamil. Lha wong nggak merasa mual-mual atau pengen muntah. Ditambah jadwal haidnya memang tak teratur.”

Setelah mendapatkan tipe kamar yang cocok, Arfan segera kembali menuju ruang pemeriksaan.
Bersama suster ia kemudian membawa dan memindahkan Rumi ke sana.

“Kamar VIP nya habis sayang, jadi di kamar biasa tapi lumayan masih sekamar sendiri.”
“Nggak papa Mas. Ehm…Mas Arfan maafkan Rumi ya. Jadi ngrepotin.” Mata Rumi berkaca-kaca seperti mau menangis.

Arfan yang tengah mendorong di kursi roda seolah tak menemukan sosok Rumi di sana. Istrinya selama ini jarang sekali menangis.

“Ssst…nggak usah bilang begitu. Aku yang salah. Lagian kejadian ini kan di luar kemampuan kita. Mungkin Allah menginginkan kamu istirahat dulu dari segala aktivitas yang melelahkan. Sebulan terakhir kan kamu banyak ngisi training.”

“Iya Mas, saya sudah memikirkan untuk resign dulu dari pekerjaan di Bu Tika.”

Arfan mengelus kepala Rumi yang berbalut jilbab coklat.

Rumi dirawat di rumah sakit hingga tiga hari dan syukurlah pendarahannya mulai surut. Di hari ketiga menjelang pulang Dokter Dena mengontrol kembali dengan ultrasonografi.

“Kondisi janin baik. Tolong dijaga terus ya Mbak Rumi dan Mas Arfan. Tetap lanjutkan bedrest di rumah. Dua minggu lagi kontrol ulang untuk mengecek.”
“Kalau mual muntah selama hamil muda hal yang wajar. Yang penting Mbak Rumi jangan stress. Legowo saja. Tenang. Hamil itu bukan lagi kondisi sakit.”
“Jangan berpikir sedang sakit, tapi kita tengah berupaya atau ikhtiar. Semoga calon bayinya sehat ya. Jangan lupa makan yang bergizi. Meski nggak selera dipaksa ya. Hindari makan yang pedas-pedas” paparnya lagi.

Sampai rumah mereka disambut Mak Sani yang nggak tahu kenapa sudah berurai air mata.

“Ya Allah Bu Rumi, saya sedih dan takut sekali. Bu Rumi keguguran ya?”
“Nggak Mak…. alhamdulillah janinnya baik. Cuman ibu disuruh istirahat total, nggak boleh capek-capek.” Arfan menjelaskan.
“Iya Bapak. Memang Bu Rumi kan orangnya nggak bisa diam. Mudah-mudahan bayinya sehat ya Bu Rumi.”
“Mak Sani sudah masak?” tanya Bu Rahmi.
“Sudah Bunda. Saya sudah masak sop ayam.” Mak Sani ikutan juga memanggil ‘Bunda’.

Sampai di tangga Arfan lalu menggendong Rumi untuk naik ke atas. Untung saja tangganya tak terlalu banyak dan ukurannya lebar.
Setelah membaringkan Rumi di kasur, Arfan duduk di sampingnya. Ia mengelus jemari Rumi sesaat.

“Kamu mau jadi ibu” senyumnya.
“Mas Arfan juga jadi ayah. Sungguh cepat sekali. Aku tak memperkirakan secepat ini. Kita…. kita… baru saling kenal untuk dekat.” Mata Rumi memandang lekat.
“Nggak papa… itu artinya Allah melihat kita mampu diberi amanah ini. Aku sudah kenal kamu kok… sudah kenal dekat malah. Begitu dekat. Saking dekatnya, baru ketemu langsung jadi.” Arfan tersenyum jenaka.
“Tokcer sekali ya kata orang-orang?” goda Rumi pelan. .

Arfan pun tertawa lirih. Indah nian wajahnya di mata Rumi jika tertawa. Pangerannya itu selalu membuatnya jatuh hati. Waktu jutek saja ia suka dan tak ada alasan untuk membenci apalagi setelah dia baik begini.

Semoga Arfan benar-benar jodohku dunia dan akhirat ya Allah, doa Rumi dalam hati.

Karena agak capek 3 hari jagain Rumi di rumah sakit, Arfan membaringkan diri di samping Rumi. Ia masih menggenggam tangannya hangat.

“Mas nggak papa puasa?” Tiba-tiba Rumi bertanya sesuatu yang membuat perempuan itu agak cemas. Takut membuat Arfan kecewa.
“Nggak papa Rumi sayang. Percaya lah, meski nanti pasti kangen tapi aku nggak mau liat anakku kenapa-napa. Tenang saja. Jangan cemas.”
“Makasih ya Mas.”

Ada kalanya Allah menghentikan kesenangan manusia beberapa saat bukan untuk mencabut nikmat dan rahmatNya tapi untuk menggandakan kenikmatan yang lebih besar sesudahnya agar manusia tahu rasa bersyukur.

*****

Memang selalu ada hikmah dari segala peristiwa. Meski bedrest dan lebih banyak beraktivitas di tempat tidur, Rumi justru jadi punya banyak waktu untuk menulis.

Pengalaman-pengalaman mengasah jiwa entrepreneurnya sejak SD, SMP, SMA, kuliah sampai menjadi trainer di bisnis centernya Bu Tika hingga jadi pendamping ibu-ibu pegiat UMKM di beberapa kelurahan di Jakarta ia tuangkan menjadi naskah yang akan dibukukan. Buku itu rencananya akan diberi judul “Bisnis Bermodal Silaturahim”.

Selama hampir seminggu ibu mertua Rumi tinggal di Jakarta untuk ikut menjaga dan ternyata membuat Rumi benar-benar merasa punya ibu sendiri.
Bu Rahmi baru pulang setelah dijemput oleh kakak kedua Arfan yang kerja di Pemda Provinsi Jawa Tengah di Semarang.

“Nah…lihat mbak Rumi sekarang adek bayinya sudah lebih jelas bentuk-bentuknya karena sudah 5 bulan.” kata Dokter Dena saat Rumi melakukan kontrol kehamilan bulanan.

“Apa sudah terlihat jenis kelaminnya, Dok?” tanya Arfan yang mendampingi Rumi. Semalam ibunya mewanti-wanti dari Semarang agar menanyakan ke Dokter Dena.
“Bisa Mas Arfan,…sudah bisa. Bentar ya kita lihat posisinya dulu.”

Dokter Dena menggerak-gerakkan alat USG ke perut Rumi kembali. Matanya mengerjap di balik kacamata dengan lis hitam itu seraya melototi monitor.

“Waaaah…..ini dia!” ujarnya terdengar sumringah.
“Bagaimana Dok?”
“A girl. Cah wedok, Mas Arfan dan Mbak Rumi. Baik-baik di sana ya Nduk…?”
“Alhamdulillah” kata Rumi sambil tersenyum menatap Arfan. Suaminya teringat harapan ibunya.
“Harapan Bunda terkabul.” bisiknya.
Rumi mengiyakan.

Tak sabar rasanya ingin memberitahu Bunda.

“Sudah nggak ada pendarahan atau mungkin flek lagi kan Mbak Rumi?” tanya Dokter Dena setelah mencuci tangannya.

Ia lalu menulis resep di aebuah kertas.

“Enggak, Dok. Saya benar-benar bedrest. Nggak kemana-mana sejak kejadian pendarahan itu.”
“Ini sudah masuk trimester kedua. Well, kalau Masnya sesekali pengen nengok-nengok Mbak Rumi sudah boleh.”
“Maksudnya Dok?” Arfan sok pura-pura lugu sambil tersenyum. Tiga bulan berinteraksi dengan Dokter Dena membuat mereka lebih akrab.
“Ya berhubungan. Tapi jangan terlalu semangat ya Pak Arfan?” godanya seraya melirik Arfan.

Rumi dan Arfan saling pandang sesaat.

“Terlalu semangat yang kayak gimana sih Rum?” Arfan berbisik ke istrinya.
“Ga tahu Mas, mungkin sambil mengibarkan bendera…” jawabnya lebih berbisik lagi.

*****

Bundanya Arfan sudah datang semalam. Tanggal 17 Agustus ini mereka berkumpul
Bukan untuk melaksanakan detik-detik proklamasi tapi mereka akan berangkat mengantar Rumi yang tengah hamil besar ke rumah sakit.

Rencananya Rumi akan menjalani operasi caesar untuk melahirkan yang ditangani langsung oleh Dokter Dena Daniar selaku dokter yang merawatnya.

Operasi caesar ini terpaksa dilakukan karena bayi Rumi masih melintang. Kata dokter karena pinggulnya Rumi agak sempit sementara bayinya panjang dan ditambah tali plasenta yang melilit leher bayinya, kalau ini kemungkinan karena bayinya terlalu lincah bergerak.

Mengapa tanggal 17 Agustus, sebenarnya bukan ngepasin tapi karena perkiraan kelahiran si bayi antara tangal 11-18 Agustus. Tapi pas tanggal 11-15 Agustusnya Dokter ada acara seminar di luar negeri jadi yang lebih keluasa seauai kesepakatan ya tanggal 17 Agustus.

Sampai di rumah sakit Rumi pun dibantu suster mempersiapkan diri. Setelah itu mereka masuk ke ruang operasi. Di sana sudah ada dokter bedah yang ikut membantu Dokter Dena selaku obgyn.

Tepat jam 10.00 suara bayi perempuan menangis memenuhi ruangan operasi beriringan dengan terdengarnya lagu Indonesia Raya di lapangan rumah sakit yang luas.

Sungguh terasa heroik detik-detik kelahiran Kanaya Alifa Hamasah, putri pertama Arfan dan Rumi itu.

“Apa arti nama cucuku ini, Arfan?” Bu Rahmi yang pertama menggendong Kanaya sebelum diserahkan ke Arfan untuk diazankan.
“Kanaya itu merdeka, Alifa pertama, sedangkan hamasah dari bahasa arab juga artinya gelora atau semangat.”
“Kata Rumi kalau digabung artinya anak perempuan pertama yang punya jiwa merdeka dan selalu bersemangat.”
“Wah cantik sekali nama kamu, Naya” ujar Bu Rahmi sambil menciumi cucunya. Sepertinya happy banget nih neneknya dapat cucu perempuan.

Rumi bersyukur bisa melahirkan dengan selamat. Meskipun ia belum bisa melahirkan normal seperti yang ia cita-citakan tapi ia pasrah dan tak ingin menyalahkan diri sendiri.

Bagaimanapun pasti semua sudah diatur oleh yang maha kuasa. Ya yang penting Kanaya lahir dengan selamat tak kurang apa pun. Lahir normal atau caesar hanya lah cara. Toh lahir caesar pun bukan berarti membuat hilang rasa keibuannya terhadap sang anak.


Tiga_tahun kemudian….

“Ayaaaah!”

Arfan yang hendak masuk mobil untuk berangkat bekerja langsung menengok dan beranjak kembali mendekati teras rumahnya. Nampak Kanaya anaknya berdiri di depan pintu.

“Apa Naya sayang? Ayah kan mau kerja?”
“Naya belum cium. Naya mau sekolah!”.
“Oh iya Ayah sampai lupa kalau hari ini Naya pertama masuk sekolah. Salam untuk Bu guru ya?”

Arfan mengangkat tubuh mungil anaknya memutar dua kali lalu menciuminya.

Kehadiran Kanaya sungguh membuatnya terasa sempurna. Apalagi anak itu senang sekali berceloteh. Sehari saja tak mendengar suaranya membuat harinya ada yang kurang.

Rumi keluar dari dalam.

“Mas nanti kalau jadi mampir ke swalayan, nitip susu untuk Naya sudah habis. Dua box sekalian yang 500 gram.”
“Iya insya Allah. Aku pamit dulu ya.”

Rumi mencium tangan Arfan dan suaminya membalas dengan ciuman hangat di kepala Rumi.

“Dah Naya… doain ayah ya.”

Anak lincah itu tertawa melambai-lambaikan tangannya.

“Hari ini aku mau antar Naya ke playgroup, biar dia punya banyak teman. Di sini temannya sedikit sudah pada gede-gede.” ujar Rumi.

Arfan tersenyum mengangguk lalu melambaikan tangan langsung masuk mobil.

Hari ini setelah mengantar Kanaya ke sekolah rencananya Rumi akan pergi ke sebuah lembaga pendidikan bisnis yang hanya berjarak 5 lima kilometer dari rumah.

Lamarannya untuk mengajar mata kuliah wirausaha dan ekonomi bisnis diterima oleh pihak lembaga dan jam 10 ia diminta datang untuk wawancara.

Sejak melahirkan sampai kemarin Rumi memang konsentrasi mengurus Kanaya. Ia tidak bekerja di luar rumah, namun bisnis onlinenya di bidang produk kesehatan tetap bisa dijalankan dari rumah.

Selain mulai menekuni dunia menulis di bidang bisnis tentu saja. Buku pertamanya yang ia launching sebulan sebelum melahirkan Kanaya dulu lumayan bagus perkembangannya di pasaran online.

Banyak yang ingin berkenalan dan membuka relasi kerjasama. Namun Arfan selalu mewanti-wanti agar dia tak terlalu sibuk hingga sampai menelantarkan Kanaya. Akhirnya Rumi membatasinya.

Kini Kanaya mulai sekolah ia bisa meluangkan sedikit waktu untuk kembali berkecimpung di dunia pendidikan dan pelatihan. Seminggu lalu Arfan sudah menyetujuinya.

*****

Arfan memarkir mobilnya di depan sebuah minimarket. Ia berencana membeli bola lampu untuk mengganti lampu di kamar mandi yang mati dan tentu saja ia pun ingat pesan Rumi untuk membelikan susu buat Kanaya.

Saat keluar mobil, tiba-tiba perutnya melilit. Arfan tersadar kalau tadi siang ia melewatkan makan siang karena pekerjaan yang begitu banyak harus diselesaikan hari ini.

Langkahnya melipir sebentar ke kedai di sebelah minimarket. Mungkin sepotong burger bisa mengganjal rasa laparnya barang sebentar.

Ia pun memesan burger dan segelas lemon tea kesukaannya.
Setelah membayar ke kasir ia membawa pesanannya keluar. Matanya mencari-cari tempat duduk. Semua hampir penuh padahal kedai buger ini lumayan luas.

Akhirnya ia menemukan sebuah meja dengan dua kursi kosong berhadapan di tengah-tengah.

Sebenarnya ia lebih suka di pojokan atau pinggir biar nyaman tapi semua bangku sudah diduduki. Apa boleh buat.

Sambil menyantap burger seperti biasa jari Arfan sembari membuka handphone untuk melihat apakah ada pesan masuk. Siapa tahu ada tambahan titipan pesan dari Rumi.

Saat matanya masih sibuk melihat itu lah seperti ada sosok menghampiri dan bertanya.

“Pak maaf, apa boleh saya duduk di sini? Soalnya semua penuh.” Suara perempuan.
“Oh silakan…”
Mata Arfan menoleh ke sosok tinggi berjilbab warna krem senada dengan gamisnya yang berbunga-bunga cerah. Hingga kemudian kedua pasang mata mereka pun bertemu.

Arfan terkaget bukan kepalang, tenggorokannya mendadak kering padahal lemon teanya sudah bersisa seperempat gelas.

Dan perempuan itu juga agak terperangah walau sudut bibirnya kemudian tersenyum tanpa sengaja.

Senyum itu bagi Arfan seolah menguak kisah lama. Empat tahun yang lalu.

“A…. Arini?”
“Kak Arfan?”


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

WhatsApp Image 2021-02-12 at 14.57.39

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo Sudah Negatif Covid-19

JAKARTA (titiktemu, 12/2)– Setelah hampir tiga pekan (20 hari) menjalani isolasi mandiri, Ketua Satgas …

Logo-Muhammadiyah-OK

PP Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 13 April 2021

Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1442H jatuh pada hari Selasa Wage, 13 April …

WhatsApp Image 2021-02-10 at 08.34.30

KRL Yogya-Solo Beroperasi Mulai Hari Ini

SOLO (titiktemu, 10/2) – Hari ini menjadi tak biasa bagi masyarakat pelajo Solo-Yogya. Para …