Memilih Bidadari – #Part_06/11

Rumi menemani sarapan Arfan dengan wajah cerah berseri. Kepulangannya dari Kuala Lumpur ternyata melecutkan kerinduan tersendiri bagi keduanya. Perempuan itu berseri karena mendapatkan fakta suaminya sudah mulai menerima dia apa adanya. Istri mana sih yang tak bahagia kalau merasa dicintai?

Rumi menemani sarapan Arfan dengan wajah cerah berseri. Kepulangannya dari Kuala Lumpur ternyata melecutkan kerinduan tersendiri bagi keduanya.

Perempuan itu berseri karena mendapatkan fakta suaminya sudah mulai menerima dia apa adanya. Istri mana sih yang tak bahagia kalau merasa dicintai?
Arfan ceria karena rindu 5 harinya terobati semalam seakan-akan peredaran darahnya lebih lancar. Senin besok sepertinya ia bekerja dengan produktivitas tinggi.
Mungkin ada korelasi memang antara keharmonisan keluarga dengan produktivitas kerja. Coba saja diteliti kalau mau.

Sedikit beda memang rindu antara perempuan dan laki-laki. Tapi demikian lah dua manusia ditakdirkan. Perempuan senang diperhatikan, laki-laki suka dilayani.

“Nelepon siapa?” tanya Rumi.
“Nanya ke teman apa tawaran paket wisata dulu masih berlaku?”
“Paket wisata? memang mau ke mana?”
“Ke Raja Ampat. Mau kan? Aku pengen ambil cuti bulan depan buat kita jalan-jalan.”
“Jauh sekali, tapi … boleh lah aku belum pernah ke sana,” ujar Rumi.

Ia kemudian mengambil kalender melihat tanggalan bulan depannya. Tapi tak cocok karena di tanggal yang Arfan ajukan itu ada kegiatan. Akhirnya mundur dua minggu ke belakang.

“Sama siapa perginya, cuma berdua?”

Rumi sekedar nebak apa ini dalam rangka bulan madu atau kah rekreasi bareng teman kantornya.

“Ya berdua lah namanya honeymoon kecuali kalau kamu suka direcokin Mak Sani,” gurau Arfan.
“Jangan salah, Mak Sani juga bisa snorkeling lho…., waktu itu dia berhasil bawa sekeranjang lele.”
“Ha…ha…mana ada snorkeling di empang!” seru Arfan sambil mengacak-acak rambut Rumi.
“Yang penting nyebur ke air …. tak harus nyelam ke Raja Ampat!” balas Rumi. Arfan mencium pucuk kepala Rumi sesaat seraya tertawa lirih.
“Semalam aku juga sudah menyelam … enak ternyata menyelam itu,” bisik Arfan dengan mata berkedip. Rumi mendelik. Malu.
“Menyelam di laut dangkal apa laut lepas?” tanya Rumi iseng.
“Laut yang dalam,” jawabnya. Rumi tertawa kecil.
“Aku lebih senang menyelam di hatimu!” ungkap Rumi.
“Alay… hanya gara-gara ketemu pangeran dan tabrakan di aula?”

Rumi melotot. Arfan ingat?

“Nggak. Jangan pikir aku keingatan… sampai sekarang aku nggak ingat apa-apa. Tapi nggak penting juga. Toh pangerannya sudah ada di sini.” Arfan seperti tahu yang dipikirkan Rumi.

Rumi tertawa malu. Ah seandainya sebuah peristiwa bisa ditarik ulur secara slow motion.

“Yuk kita berangkat sekarang!” ajak Arfan.
“Ke mana?”
“Jalan-jalan keliling kampung cari lele!”
“Latihan snorkeling?!”

Rumi lalu mengangguk dengan wajah berseri membayangkan Arfan tak malu lagi berjalan sambil menggandeng tangannya, tak malu lagi memperkenalkan, “ini istriku, sodara-sodara, namanya Rumi.”

*****

Mereka sampai di Bandara Domine Eduard Osok atau suka disingkat Bandara DEO, Sorong Papua Barat jam 06.45 setelah penerbangan dengan Garuda dari Soetta malam hari lalu transit di Bandara Hasanuddin, Makassar. Kota Sorong kalau di peta terletak di puncak kepala burung Pulau Irian.

Tak lama seorang yang mengaku dari agen tour travel menjemputnya dan membawa mereka ke pelabuhan Sorong untuk naik kapal motor.

Sesampai di sana sudah siap 4 calon penumpang lain dengan tujuan sama. Mereka akan melewati perjalanan kurang lebih 2 jam menuju Waisai ibukota kepulauan Raja Ampat yang terletak di Pulau Waigeo.

Perjalanan pun dimulai dengan menyusuri lautan lepas yang jauh dari sana sini hanya terdengar suara deru mesin kapal.

Arfan memilih kursi di pojok belakang. Ada beberapa baris kursi tapi karena penumpang hanya 6 orang dengan 2 orang pemandu dan 1 pengemudi membuat ruang kapal terasa lengang.

“Mas Arfan, paket tour ini beneran free dari teman kamu?”
“Iya, dia kan teman dekat waktu kuliah. Trus setahun lalu bikin tour travel di Jakarta, dia ngajak aku investasi begitu. Sebenarnya aku tak terlalu suka bisnis karena nggak bakat, tapi karena teman dekat ya mau saja, itung-itung membantu.”
“Memang kenapa tak suka bisnis? Dan siapa bilang bisnis itu bakat-bakatan?” Rumi terlihat serius.

Arfan agak tersengal menjawabnya.

“Apa ya?… Mungkin karena keluargaku tak membiasakan. Almarhum Ayahku dosen, Ibuku mantan guru dan kepala sekolah TK, kedua kakakku dokter dan pegawai Pemda. Nggak ada yang bergerak di bisnis. Ya begitulah,” ungkapnya.
“Trus sudah dapat hasil investasinya?”
“Ya ada setiap bulan masuk rekening. Kan dapat pembagian 40%.”

Kepala Rumi langsung mengkalkulasi. Sense of dagangnya otomatis bekerja. Ya, lumayan juga.

“Di travelnya dia ada apa saja selain paket wisata?”
“Seingatku melayani tiket pesawat dan kereta juga meski katanya marginnya kecil. Tapi perputarannya lebih tinggi. Sekarang orang pada seneng travelling. Gara gara sosmed.”

Rumi hanya mengangguk-angguk.

“Kenapa? tertarik bisnis ginian?” tanya Arfan menatap Rumi.
“Belum. Nanti lah dipelajari dulu. Kalo aku pengen bikin paket wisata syariah.”
“Kayak mana tuh?”
“Ya pokoknya mulai dari tujuan wisata dan hotel tempat menginap kalo bisa sesuai dengan aturan agama. Misal nggak boleh ada alkohol di dalamnya, makanan harus halal, nggak boleh bawa pasangan yang tidak jelas alias harus sah. Eh Mas… ini temanmu kasih all out. Seluruhnya termasuk tiket pesawat?”
“Enggak, cuma paket tournya saja. Transportasi dan akomodasi wisata. Kalau tiket pesawat beli sendiri.”
“Wah mahal dong, Mas. Tiket berangkatnya saja hampir 4 juta. PP berarti 16 juta?”

Arfan tertawa kecil. Entah kenapa bayangannya langsung berkelabat akan rencananya dulu. Seandainya jadi sama Arini, maka habis nikahan esok atau lusanya langsung honeymoon ke Raja Ampat sesuai hadiah dari temannya itu. Tapi karena tak sesuai rencana ia langsung meng-cancel semua dan tak memikirkannya lagi.

“Yah nggak papa… namanya juga buat bulan madu nyenengin istri?” jawabnya malu-malu menahan senyum.
“Bulan madu nggak harus jauh-jauh Mas.”
“Nggak. Kebetulan aku juga belum pernah ke sini. Jadi nambah semangat.”

Mereka kemudian ngobrol lagi masih melanjutkan soal bisnisnya Rumi sejak kuliah hingga mundur ke belakang memceritakan masa kecil masing-masing.

“Waktu SD aku sudah belajar jualan es keliling dan gorengan bareng adikku. Itu cara ibuku melatih mental wirausahaku.” kata Rumi mantap.

Arfan lalu menggamit lengan Rumi

“Kita nengok laut lewat jendela itu!” Telunjuknya mengarah ke samping kanan.

Mereka pun beranjak. Ada semacam tangga kecil untuk naik dan menjulurkan sebagian badan melihat laut yang terbentang. Mereka mengintip sambil berhimpitan karena jendelanya ngepas. Cipratan air laut mengenai wajah mereka. Indahnya laut biru menuju Raja Ampat!

Rumi melirik wajah Arfan yang begitu dekat menempel di kepalanya.

“Kenapa?” bisiknya.
“Enggak. Nggak papa.” Rumi tersenyum. Bahagia.
“Ganteng ya?”
“Sekarang iya.” jawab Rumi asal.

Arfan tertawa.

“Jangan ingatkan yang dulu-dulu!”

Tiba-tiba Arfan mengeluarkan ponselnya.

“Sekali-kali selfie sama kamu ah. Senyum ya…”

*****

“Itu hotelnya.” Pemandu itu hendak mengantar mereka berenam ke sebuah hotel dengan privasi tinggi di Pulau Mansuar, salah satu pulau dari gugusan pulau di Raja Ampat.

Jadi dari darmaga kecil tempat kapal berlabuh menuju gerbang penginapan terhubungkan oleh jembatan kayu memanjang.

Di bawah jembatan itu mata Rumi dan Arfan dimanjakan oleh pemandangan yang begitu indah karena airnya yang bening. Di bawah sana terlihat koral dan ikan dengan aneka macam warna.

Penginapan itu tak nampak dari darmaga karena pulau Mansuar dikelilingi oleh hutan pinus.

“Silakan saudara-saudara istirahat dulu, lunch dan sebagainya. Acara hari ini bebas. Oya saudara juga bisa lihat sunset, pantainya yang berpasir putih atau kalau ingin menyelam juga bisa di sekitar hotel. Besok pagi kami akan menjemput jam 7. Jadi kami harap semua sudah breakfast sebelum itu. Perjalanan besok kita akan ke Pianemo melihat pulau-pulau karst yang ada di iklan-iklan itu, terus ke Desa Arborek, jam 11 kita kembali ke sini ke pulau Mansuar unruk melihat Pasir Timbul.”

Mereka pun menuju penginapan. Penampakan hotel yang katanya pemiliknya orang luar negeri ini sangat cantik dengan konsep interior gaya Bali. Hampir semua materialnya terbuat dari kayu. Ketika masuk ke kamarnya, kasur terbentang rapi dengan kelambu yang terpancang di atasnya.

“Jadi nanti kita tidur di kelilingi kelambu?” Rumi tertawa.
“Iya, romantis lagi!” seru Arfan. Rumi menyikut malu.
“Kayak bayi aja dikelambuin….”
“Ya nanti kan mau bikin bayi,” goda Arfan lagi. Semakin pintar saja si Arfan ini nggodain Rumi.
“Mas Arfan!”
“Lah kita lagi berbulan madu Rumi, … itu salah satu agenda spesial selain tempat-tempat yang disebutkan pemandu dari travel tadi.”

Rumi mencubit pinggang Arfan, gantian suaminya memeluk mesra.

“Malu tahu!”
“Ngapain malu sih, toh aku juga sudah tahu semua dan merasakan,” bisik Arfan pelan. Mata Rumi melotot tajam.

*****

Mereka sampai di sebuah tempat yang mirip perbukitan.

“Untuk melihat hamparan pulau-pulau karst di bawah sana, kita harus trekking, jalan kaki naik ke atas. Ada 320 anak tangga yang harus dilalui untuk mencapai puncak. Tapi percayalah jika sudah bisa melihat pemandangan Pianemo rasa lelah itu akan sirna dengan seketika.”

Suara pemandu itu bak membius telinga mereka membuat bibir-bibir pada tersenyum.

“Kamu kuat? Ada 320 tangga lho,” tukas Arfan.
“Kalau nggak kuat kan nanti bisa gendong.”
“Gendong siapa?”
“Pemandunya, “ jawab Rumi sekenanya. Arfan tertawa. Pemandunya kali ini cewek. Dia sangat lincah gerak sana sini seolah badannya seringan kapas. Baru setengah perjalanan, Arfan pun berhenti.

“Yuk kugendong. Nafasmu terengah-engah,” tawar Arfan.
“Nggak usah nanti kamu malah ambruk.”
“Nggak papa, kuat deh. Yuk nyoba. Di luar negeri ada lomba suami gendong istri lho … siapa tahu nanti aku bisa ikutan.”

Rumi tertawa dan langsung meletakkan badannya di punggung Arfan. Lelaki itu pun melangkah sambil menggendong badan Rumi.

“Badanmu berat juga,” ujarnya.
“Iya tadi kan sarapan ikan banyak di hotel. Nambah dua kilo ada,” kata Rumi berseloroh padahal hatinya bemekaran . Arfan so sweet banget ternyata kalau jadi orang baik. Ha…ha.

Aksi tak gendong ke mana-mana itu ternyata hanya bertahan dua puluh langkah karena selanjutnya Arfan berasa akan tumbang.

“Makanya jangan sok kuat,” sindir Rumi.
“Yah sejujurnya aku cuma pengen dipeluk kamu saja dari belakang.”
“Ah bohong!”
“Nggak ding yang benar ini sebagai tanda cinta dan hadiah dari sang pangeran,”
“Hadiah apa?”
“Hadiah sudah membuat pangeranmu klepek-klepek tadi malam.”
“Ih mas Arfan ini pikirannya ke situ terus!”

Arfan tertawa renyah.

“Nggak papa lah ngomong begituan sama istri sendiri asal jangan sama bos di kantor. Lagi pula kita kan sedang liburan, enjoy sajalah. Ngobrolin bisnis sudah kenyang kemarin sama kamu kayak kuliah satu semester.” Mereka tertawa.

Obrolan ringan itu tanpa terasa membuat langkah mereka segera berakhir.

Hanya kurang lebih lima belas menit mereka sampai di puncak ketinggian. Sebuah tempat berpagar kayu digunakan untuk berfoto-foto.

Indahnya Pianemo!. Sejauh mata memandang hamparan pulau-pulau hijau tersebar. Pulau karst atau batu karang.

Dari Pianemo mereka juga bisa menyaksikan laguna-laguna berwarna hijau toska. Salah satu yang terkenal adalah telaga atau laguna bintang karena bentuknya sepintas mirip bintang segi lima.

Setelah puas menyaksikan, perjalanan mereka berlanjut ke Desa Arborek. Di sana rombongan melakukan diving dan snorkeling. Akuarium alami di desa Arborek benar-benar menakjubkan. Ikan beraneka warna dan bentuk bisa dilihat dengan mata telanjang sambil duduk di jembatan dermaganya. Salah satu ikan yang disukai Rumi adalah si Nemo, alias ikan badut banyak juga di sana.

Siangnya mereka balik ke Mansuar untuk menonton Pantai Pasir Timbul. Pasir warna putih di ujung pulau yang menakjubkan. Jadi sebenarnya Pasir Timbul ini semacam hamparan pasir di tengah lautan. Kenapa disebut Pasir Timbul karena keberadaannya nggak mesti ada sepanjang waktu. Pantai ini hanya ada kalau laut lagi surut. Saat pasang maka akan tertutup air. Maka harus didatangi setelah jam 12 siang menjelang sore. Pasirnya putih bersih. Sangat bagus untuk diabadikan.

“Masih ada beberapa tempat yang akan dituju sore dan besok. Kami harap bapak ibu semua enjoy menikmati wisata ini. Terutama bagi pasangan yang tengah berbulan madu.” Mata sang pemandu mengintip malu ke arah Arfan dan Rumi.

Wah ketahuan juga padahal tak ada pengumuman.

“Mungkin dia memergoki saat kamu kugendong,” bisik Arfan.
“Ya jelas bukan, tapi karena 4 orang lainnya cowok semua,” balas Rumi.

*****

Saat naik taksi pulang dari Terminal 3 Bandara Soetta, Arfan menerima telepon.

“Bunda? Lagi di mana?”
“Apa? sampai rumah? Oh ya udah tungguin kami sedang perjalanan pulang. Di rumah ada Mak Sani.”

Rumi melirik.

“Bunda ke Jakarta?” tanyanya.

Arfan mengangguk.

“Tahu tuh. Kok datang nggak kasih kabar duluan. Tahu gitu kan minta nunggu kita di bandara biar pulang bareng.”

Sampai rumah keduanya disambut ibunya Arfan dengan antusias.

“Syukurlah kalian habis bulan madu, Bunda senang mendengarnya. Semoga kalian segera kasih bunda cucu perempuan.” Ia berseloroh.

Arfan dan Rumi berpandangan.

“Iya Rum, kedua kakak Arfan kan anaknya laki-laki semua. Boleh kan Bunda berharap cucu Bunda perempuan dari kalian?”

Arfan berdehem.

“Boleh lah Bun. Bunda mau berapa lusin?” gurau Arfan. Wanita itu terkekeh.
“Bunda sengaja dari Semarang ke sini?” tanya Rumi yang akhirnya ngikuti panggil ‘bunda’ kayak Arfan.

Wanita usia 60 tahun itu mengangguk.

Begitulah Rumi dan bundanya Arfan kalau sudah ketemu malah lebih seperti ibu dan anak dibandingkan Arfan sendiri. Sepanjang malam ngobrol berdua ditambah pula kegiatan pijit segala.

Esoknya ketika selesai sarapan mereka bertiga berencana akan keluar.

Bunda minta diantar ke Senayan City. Namun baru saja bangkit dari duduk perut Rumi agak berdesir. Lalu seperti ada yang keluar dari kemaluannya. Cukup mengagetkannya. Dan tiba-tiba deras. Ya…darah mengalir deras keluar!

“Mas!….Mas Arfan aku kenapa?!” Mata Rumi nanar melihat darah membasahi kakinya.
“Kenapa!?” Arfan ikutan histeris.

Bunda melihat darah itu. Ia menutup mulutnya.

“Rumi,… kamu … kamu pendarahan?!”

Arfan terkesiap kaget. Ia lalu membopong Rumi dan membawa segera ke mobil yang sudah disiapkannya. Berubah haluan. Ke rumah sakit!


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…