Memilih Bidadari – #Part_05/11

Purnama benderang di balik rerimbunan. Cantik. Sayangnya tak menawan mata Arfan. Tak mampu mengusir kesunyian. Ya Allah baru sehari ditinggal pergi mengapa hidupnya terasa sepi? Lelaki itu duduk terdiam di atas balkon selepas Isya menerawang jalan di komplek perumahannya.

Purnama benderang di balik rerimbunan. Cantik. Sayangnya tak menawan mata Arfan. Tak mampu mengusir kesunyian. Ya Allah baru sehari ditinggal pergi mengapa hidupnya terasa sepi? Lelaki itu duduk terdiam di atas balkon selepas Isya menerawang jalan di komplek perumahannya.

“Serius Mas Arfan mulai cinta?. Sejak kapan … mulai kapan?”

Terngiang Arfan akan kalimat Rumi yang belum sempat dijawabnya.

Ia hanya berdalih karena tak mampu menjawabnya kemarin. Seperti biasa ia suka kehilangan ide jika diserbu Rumi. Entah pada nyangkut ke mana.

Tapi malam ini sepertinya ia sudah menemukan jawaban, walaupun agak segan mengungkapkannya. Terdengar memalukan ketika nalurinya mengatakan ia membutuhkan Rumi.

Ya cinta yang tumbuh sejak minggu siang kemarin, dan…semalam ketika ia pelan berbisik mengajak kembali untuk mengulangi keintiman itu.

“Kamu besok pergi…, pasti 5 hari akan terasa seperti 5 tahun.”
“5 tahun?…kayak nunggu pilpres saja,” goda Rumi.

Lalu mata mereka saling menatap dekat menyatukan kedua hasrat.

Merasakan semuanya tanpa penghalang satupun. Menikmati luapan perasaan yang meresmikan bahwa ia laki-laki sekaligus seorang suami yang menerima istri seutuhnya. Lahir dan batin. Kedamaian yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Terang saja, sedangkan Tuhan Sang Pencipta manusia saja menjadikan nikmat bahagia suami istri yang halal itu sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaranNya. Bagaimana manusia mau mengingkari?

Bukankah itu yang tertulis di undangan pernikahan kamu hampir sebulan yang lalu, Ar Ruum ayat 21, Arfan?.

Manusia bodoh saja yang menyia-nyiakan hal itu dan malah berharap akan sesuatu yang tak pasti.

Toh kata Rasulullah perempuan mah sama saja. Sarua keneh. Cuma beda penampakannya saja dan itu kadang dibumbui tipu daya setan jika dipandang oleh mata yang tak berhak biar manusia nambah dosa.

“Jika engkau melihat seorang wanita, lalu ia memikat hatimu, maka segeralah datangi istrimu. Sesungguhnya, istrimu memiliki seluruh hal seperti yang dimiliki oleh wanita itu.”
(HR. Tirmidzi)

Arfan terkesima saat mendengar khutbah Jumat yang disampaikan oleh khatib kemarin dengan tema Rumah Tangga Sakinah.

Seolah sang khatib sengaja dibisikin pihak marboth agar pilih tema yang akan menjawab masalahnya, padahal tema-tema sebelumnya kalau bukan tentang amar ma’ruf nahi munkar, memilih pemimpin Islam, ya biasanya soal riba atau tanda-tanda kedatangan Dajjal. Wih.

Tapi … bukan soal kepuasan semata yang menumbuhkan cinta. Yakinlah itu sekedar sudut pandang cinta dari seorang lelaki yang membutuhkan perempuan.

“Sedangkan malam ini aku harus jujur kalau aku merindukanmu, Rumi. Merindukan segala gerak-gerikmu dan tutur cerdikmu yang tak pernah habis ide untuk berkelit. Bakat terpendam yang sering membuatku terpojok.” gumam Arfan menerawang.

Ternyata rindu itu bukan hanya berat tapi gak enak.

Kenapa dari siang ponselnya tak bisa dihubungi sama sekali? Sebegitu sibukkah Harumi di Kuala Lumpur sana?.

Apa mungkin dia lelah karena baru sampai. Ia coba menghubunginya lagi. Masih sama. Hanya suara operator perempuan yang menjawabnya dengan suara sama pula.

Ia lalu membuka gawainya mengecek akun facebook Rumi, siapa tahu dia posting sesuatu. Arfan ingat kapan terakhir ia membuka akun itu hanya sekedar ingin tahu siapa dia. Siapa Harumi itu?

Tidak ada yang baru. Terakhir malah foto profilnya berubah, yang kini bergambar pinguin. Ada caption-nya.

“Aku suka pinguin. Ada warna hitam putih yang menyatu. Mereka nggak saling menyudutkan. Maaf ya fesbuker, saya ganti pic profilnya biar tak ada dusta antara kita, karena bisa jadi ada hati yang terluka karena kebohongan publik.”

Deg!!. Apa Rumi tengah menyindirnya?. Arfan melihat tanggal postingannya. Sehari sesudah mereka menikah. Ah pasti ia menuliskan karena kecewa saat malam pertama. Ya ampun kalimat itu kenapa pakai dia copas segala?.

Wah … cuma gambar pinguin saja yang meng-like sampai 500an orang. Yang komentar hampir 300.

Arfan membuka bagian komentar apa saja kira-kira isinya.
*****

“Waduh siapa yang terluka, Kakak?”
“Ada ya yang mérasa dibohongin?”
“Wah kena pasal perbuatan tak menyenangkan itu…”
“Pinguin jalannya lucu”
“Makhluk dingin. Sedingin hatiku.”
“Binatang kutub bukan?
“Hitam putih menyatu? Aku dan suamiku banget Kakak… Aku hitam suami putih. No problem.”

Di komentar ini Rumi membalas.

“Alhamdulillah semoga samawa ya. Perlu belajar sama Nelson Mandela dan Abraham Lincoln jika masih memikirkan kulit hitam, coklat dan putih. Sedangkan Rasul saja menyayangi Bilal r.a.”
*****

Gubrak!. Jelas, status itu satire alias sindiran untuknya. Ia memang membandingkan kulit coklat Rumi dengan Arini waktu itu, meski dalam hati.

Pasti dia tersinggung, cuma tak ditampakkan. Diakui Rumi pintar sekali mengemas kesedihannya.

Arfan tak melanjutkan, jiwanya panas dingin takut kalau ada komentar yang membuatnya perih. Tapi ia lanjut scroll ke bawah. Nyaris sudah tidak ada lagi foto-foto Rumi terpampang yang dulu ia lihat saat stalking. Sepertinya semua sudah didelete. Habis tak bersisa.

Ada sebuah status tertulis sebelum gambar pinguin tadi.

“Hallo rekan-rekan member mohon maaf foto-foto di sini sudah saya hapus, meski itu foto iklan untuk jualan. Jika teman-teman member butuh contoh redaksi iklan produk atau lainnya kirim saja ke nomor WA saya, nanti saya balas jangan lupa sebutkan nomor member ya?”

Arfan berkernyit jidatnya. Ooh jadi itu foto dalam rangka dia memasarkan produk-produk onlinenya? Pantesan pada putih bersinar.

Hal yang sangat wajar Arfan… teman kuliah kamu saja yang lagi ikut kampanye caleg pemilu wajahnya di spanduk jadi mirip Darius Sinathriya padahal aslinya item legam?

Yah namanya orang jualan emang begitu. Kalau nggak terlihat cakep kagak ada yang ngelirik. Kecuali iklan kavling tanah makam barangkali gak perlu cakep-cakepan.

Harusnya sebelum taaruf kamu tuh ya inspeksi dulu bener-bener apa pekerjaan si Rumi biar dianalisa lebih dalam.

Tapi memang sih ya orang kalau sudah antipati disodorin bagaimanapun sudah ogah duluan.

Ia teringat kembali malam pertama itu saat mencari-cari alasan untuk menghakimi Rumi agar gadis itu paham bahwa ia belum bisa menerima kehadirannya. Ia melihat wajah polos Rumi menatapnya tak mengerti.

Arfan, betapa menyesalnya engkau. Makanya kalau ngomong disaring dulu. Ambil ayakan dulu di dapur.

Ia membuka WA lagi untuk mengecek apakah pesan-pesannya yang ia tulis sejak jam 9 pagi sudah dibalas Rumi? Masih blank. Tak satupun. Ke mana dia?

Arfan bangkit dan menutup pintu kamar yang menghubungkan balkon. Mau menonton TV di ruang kecil dekat tempat tidur mereka nggak mood. Biasanya Rumi lah yang suka nonton sambil gegoleran di atas karpet kecil. Mungkin daripada nggak ada yang diajak ngobrol di kamar.

Kosong. Sekosong angannya.

Ia pun melangkah keluar hendak bikin minuman penghangat tenggorokan. Namun matanya terseret pada pintu kamar di seberangnya. Kamar kerja Rumi. Ia membukanya pelan dan menyalakan lampu.

Ia menuju meja itu, yang biasa Rumi gunakan untuk menekuri laptopnya.
Arfan duduk terdiam lalu membuka laci mejanya begitu saja.
Ada sebuah buku kecil dan map plastik.

Ia membuka buku yang terselip pulpen itu. Ada tulisan yang menjerat matanya. Ditulis pakai huruf kapital.

‘7 kesalahan menurut Ayang Mbeib’

Arfan tertawa. Ayang Mbeib apaan?

  1. Lupa menutup kran air
  2. Lupa mematikan lampu kamar mandi
  3. Lupa angkat jemuran karena ketiduran
  4. Memasak nasi goreng terlalu pedas, padahal doi tak suka pedas
  5. Masak air sampai gosong karena jawab WA reseller
  6. Goreng tempe gosong karena balas instagram calon pembeli
  7. Lupa mematikan TV sampai jam 2 pagi karena ketiduran saat nonton ILC-nya Karni Ilyas.

Masya Allah… dikira Arfan istrinya itu cuma akal-akalan mencatat kesalahan-kesalahan yang ia sebutkan waktu minggu pertama dia pindah ke rumah ini, rumah suaminya dan otomatis rumah Rumi juga. Ternyata betulan.

Arfan benar-benar nggak enak sudah menzhalimi Rumi meskipun nampaknya dia tegar-tegar saja nggak pernah mewek.

Sekarang ia membuka map plastik itu. Apa saja isinya? Wah macam-macam. Ada buku tabungan bank dan pernak pernik. Dasar perempuan, segala macam kertas struk bisa dikoleksi begini? Ada bukti transfer ATM ke beberapa lembaga sosial untuk bayar zakat, infaq, wakaf masjid dan lainnya semua atas nama Harumi.

Dan sebuah kwitansi agak lebar dengan logo bertulis Humairah, Salon Muslimah. Total sebesar 2 juta dengan rincian macam-macam.
Masya Allah, jadi Rumi pulang malam waktu itu karena melakukan treatment-treatment perawatan badan?

Wajah Arfan mendadak merah karena malu. Sebegitunya Rumi mencoba memperbaiki penampilannya selama hampir sebulan ini hanya untuk dipandang lebih baik di mata dia?

Tiba-tiba mata Arfan mengembun. Ia semakin merasa bersalah.
Apalagi Rumi mengeluarkan koceknya sendiri untuk meng-up grade penampilannya yang harusnya jadi tanggung jawab dia, suaminya. Bukankah itu ditujukan untuk kesenangannya?

Arfan segera mencatat nomor rekening Rumi di buku tabungan itu. Dan saat hendak merapikan buku catatan tadi ia terkesima dengan beberapa kalimat di lembar depan.

“Dear pangeranku, akhirnya engkau kutemukan walau kita belum kenal. Aku tak pernah merasa jadi anak saleh, tapi doa-doaku yang tak disengaja sering sekali dikabulkan Allah. Subhanallah. Mungkin pas berdoa para Malaikat lagi permisi lewat. Mungkin karena aku anak yatim. Mungkin juga karena aku sering teraniaya. Ya… ada beberapa pembeliku yang menganiaya… barang sudah dikirim tapi lupa bayar atau entar-entar.”

“Tadi siang secara tak sengaja aku bertabrakan sama pemuda pakai baju batik, dia jadi MC di acara forum silaturahim. Mata kami berpandangan sebentar saja. Dia diam sedangkan hatiku bicara. Melihatnya aku berbisik, “Oh ya Allah jika dia baik, aku mau jadi jodohnya. Tapi jika kurang baik aku mau juga mengingatkannya sebagai istrinya… eh sama saja ya…. Intinya aku jatuh cinta untuk pertama kali dalam hidup.”

“Dear pangeranku, saat berkenalan denganmu itu…. Allah benar-benar menjawab doaku yang tak disengaja. Ternyata kamu itu adalah anak Bu Rahmi, salah seorang klienku di Semarang. Saat pernah berkunjung ke rumahnya aku berbisik ‘Ya Allah…aku rindu ibuku yang telah pergi sejak kecil, kalau boleh ingin sekali Bu Rahmi ini bisa jadi pengganti ibu.”

….

Jadi … Rumi telah mengenalku sebelumnya? Arfan terbengong-bengong. Bertabrakan? Ia coba mengingat-ngingat peristiwa yang dimaksud tapi sampai otaknya berdenyut kencang ia tak juga menemukan.

*****

Rumi merebahkan tubuhnya di kasur hotel. Bu Tika tengah beberes di kamar mandi. Wah penat sekali hari itu. Acara hari pertama full dari zuhur sampai malam dan semua materi yang tersaji bagus-bagus. Handphonenya mati total karena lowbat. Ia segera mencharge sambil membayangkan Arfan di Indonesia.
Sedang apa dia?

Rumi tersipu mengingat kejadian semalam. Untuk pertama kalinya mereka tidur berpelukan menyingkirkan guling-guling mereka yang selama ini bagai jadi dinding pemisah. Setelah mereka melewati… melewati… ah Rumi malu sendiri mengenangnya.

Ia tak tahu apa seandainya tak ada acara di Kuala Lumpur Arfan akan berubah semanis itu. Ya semua kejadian ada hikmahnya. Mudah-mudahan benar yang dia katakan kalau dia sudah mulai mencintainya, meski belum mau jujur sejak kapan.

Setelah cukup terisi, Rumi membuka hapenya. Ternyata pesan dari Arfan seperti tentara berbaris. Setiap jam bermunculan.

“Rumi, apa kamu sudah sampai di KL. Bagaimana acaranya?”
“Kenapa hp mu susah dihubungi.”
“Rumi kamu baik-baik saja kan?”
“Kamu sibuk banget ya”
“Rum, rumah sepi tanpa kamu.”
“Kamu nggak marah kan sama aku?”
“Rumi,…”
“Ada bulan malam ini, tapi kalah cakep ternyata sama kamu…. Iya aku tak bohong.”
“Acara apa sih sampai malam tak kelar-kelar. Rumi… plis jawab dong”
“Rum, aku…aku…kangen.”

Hati Rumi berdebar-debar. Matanya sudahh basah tak tertahankan. Air mata haru.

Dia membalas.

“Alhamdulillah aku baik-baik saja Mas Arfan. Maaf hp lowbat sejak siang.”

Rumi tersenyum. Lucu sekali terdengar Arfan bilang kangen. Apa harus begitu dulu? Ia harus pergi dulu dari depannya baru ia merasa kehilangan dan tumbuh cinta?

Ah mirip hukum ekonomi saja, suatu barang atau jasa yang jarang dimiliki atau digunakan justru memberikan kepuasan atau margin utility yang tinggi?
Tapi semakin orang banyak mendapatkan dan menggunakannya tingkat kepuasannya menurun….

Hah….enggak! Memangnya aku barang? gumam Rumi. Kenapa ia jadi teringat materi tadi siang itu yang disampaikan oleh master trainer sekaliber Asia.

Buatlah produk yang ditunggu-tunggu dan dicari-cari kehadirannya karena unik dan berbeda, begitu.

*****

Ini hari ke-5. Rumi mengatakan akan pulang Jumat malam. Dan Arfan janji akan menjemput di rumah Bu Tika.
Benar 5 hari serasa 5 tahun baginya. menungguinya seperti membawa resah.

Pagi jam 9 itu pekerjaan di kantor sangat menyita waktunya gara-gara ada 2 anak buahnya terlambat masuk kerja dan nggak becus cara kerjanya padahal Arfan sudah mengarahkannya melalui job desk yang biasa ia buat.

Tanpa tedeng aling-aling Arfan memarahi keduanya di depan rekan kerja lainnya. Hal yang amat jarang ia lakukan selama menjabat sebagai SPV alias supervisor.

“Lu kenapa tumben marah-marah begitu. Nggak dapat jatah ya semalam.” ujar Ben rekannya tertawa saat di ruangan mereka. Ngomongnya asal njeplak. Arfan terperangah malu mendengarnya. Jatah? kayak makanan saja. Mungkin dia memergoki saat Arfan lagi memarahi stafnya tadi.

Arfan istighfar sesaat. Ia baru sadar mengapa beberapa hari ini terasa lebih stress padahal beban kerja nya sama saja.

“Pengantin baru sebulan itu biasanya happy. Di mana-mana begitu yang aku tahu.”
“Jangan sok tahu!” ujar Arfan.
“Ya jelas sok tahu, aku sudah 2 tahun menikah. Sudah lebih berpengalaman. Kalau suami lama nggak nengok istrinya itu gampang marah dan stress!”

Arfan meraba hari. Memang sudah 5 hari berlalu. Iya ya… mungkin ia tertekan karena merindukan Rumi, gumamnya. Tapi sebelumnya tak seperti itu.

Ya iyalah Arfan, dulu belum pernah membayangkan dan merasakan. Kalau sudah mengalami jadi kayak candu, begitu kah? Dia menghela nafas.

“Nih, gini ya kata istriku yang seorang psikolog. Dia bilang kalau suami istri berhubungan itu mengeluarkan hormon yang bikin dia nyaman, seneng dan happy, maka kayak gua nih gak gampang marah. selalu enjoy….” goda Ben lagi.

“Lagak kamu!” Arfan meninju lengannya dan langsung meninggalkan Ben menuju kamar mandi untuk berwudhu. Ia mau shalat dhuha sebentar di mushola.

Habis shalat tiba-tiba Arfan teringat kata-kata Rumi waktu itu waktu berdebat soal Mak Sani menginap. Jadi supervisor itu jangan hanya mengontrol anak buah pas di depannya saja tapi juga di belakang layar, katanya.

Ketika menengok ke belakang ia melihat salah satu staf yang tadi ia marahi. Dia hendak masuk dengan tetesan wudhu di wajahnya.

“Maafkan saya atas tindakan tadi,” ucap Arfan memegang bahunya.
“Nggak papa, Pak. Tiga hari ini saya telat karena anak saya dirawat di rumah sakit.”
“Ohya? Baiklah saya tunggu di ruangan. Kamu ceritakan nanti, sekarang shalat saja dulu.”

*****

Arfan ijin pulang lebih awal satu jam karena khawatir terjebak macet seperti yang sudah-sudah. Jam 8 malam ia harus sudah sampai di rumah Bu Tika.

Saat sampai rumah dia masih melihat Mak Sani di ruang makan.

“Kok belum pulang Mak?”

Selama Rumi pergi ia memang menyuruh Mak Sani pulang balik saja, toh ia bisa makan di luar.

“Bu Rumi sudah pulang Pak,” jawabnya. Arfan terkaget.
“Apa?. Jam berapa? Katanya nanti malam pulangnya?”
“Jam 2 an tadi. Nggak tahu Pak.”

Arfan bergegas setengah berlari ke atas. Mana dia? Terdengar suara air di kamar mandi.

Arfan melepas dasi dan kemejanya. Syukurlah. Ia rebahan sebentar di kasur.
Pintu kamar mandi terbuka. Rumi keluar dengan rambut basah. Wangi samponya menyeruak kamar.

“Mas Arfan sudah pulang?” Arfan terperanjat. Ia nyaris tertidur barusan.

Ia memandang istrinya yang mendekat. Rumi tersenyum dipandangi kayak orang linglung.

“Mas… kenapa? Kaget? Maaf aku pulangnya terlalu cepat ya?” ujar Rumi seraya mengambil telapak tangan Arfan untuk salim.

Arfan langsung memeluk tubuh Rumi dan menciuminya membuat Rumi kewalahan.

“Bukan terlalu cepat, tapi kelamaan! Harusnya 3 hari saja perginya! Kamu bikin aku kecanduan … kayak orang sakaw…!”

Senyum Arfan mengembang.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…