Memilih Bidadari – #Part_03/11

Lelaki itu tersenyum. Arfan berjalan mendekati Rumi yang masih berdiri di belakang meja. Arfan meraih tangannya kemudian gantian pinggang Tentu saja Rumi terkaget-kaget bagai kena sengatan. Ada per?stiwa alam apakah sampai tiba-tiba Arfan bersikap seperti itu.

Jarum jam menunjuk pukul 17.30 sebentar lagi azan maghrib berkumandang. Rumi berencana shalat dulu di salon itu.

“Berapa semuanya mbak?” tanyanya ke kasir berjilbab manis.
“Semuanya 900 ribu Kak. Konsultasi dan pembelian skincare dari dokter 500 ribu. Gunting rambut, facial dan lulurnya 400 ribu. Oya, Kakak apa jadi mengambil paket body treatmentnya?”
“Apa saja isi paketnya?”
“Pokoknya lengkap kakak, mulai dari body mask, lulur plus mandi susu, facial eksklusif masing-masing dapat dua kali treatment. Ditambah bonus perawatan mata dan telinga serta 2 kali totok aura.” jawabnya lanyah.

Masya Allah istilah-istilahnya bikin Rumi tuing-tuing
Rumi mendengarkan dengan seksama uraiannya yang terdengar asing di telinga. Selama ini ia hanya ke salon kalau nggak gunting rambut ya creambath saja.
Facial kadang-kadang kalau ingat terakhir kali ketika ia mau wisuda biar terlihat beda ketika difoto.

Bukan apa-apa tapi lebih karena ke salon terlalu menyita waktu. Juga bukan pula karena tak ada uang.

Keuntungan sebulan dari hasil kerjanya sebagai trainer wirausaha di sebuah bisnis center MLM dan usaha onlinenya sangat cukup untuk biaya ke salon akan tetapi ia terlalu sayang menggunakan uang untuk kebutuhan itu karena dipandangnya tak terlalu primer dan hanya untuk kepuasan diri saja.

Ia lebih menggunakan sebagian besar dari pendapatannya untuk hal-hal pokok seperti membantu membiayai kuliah adiknya berdua Mas Dewo, wakaf masjid, wakaf rumah hafizh Quran hingga wakaf sumur di daerah gersang atas nama kedua orang tuanya. Lainnya yang selalu ia anggarkan khusus adalah tabungan haji dan infaq untuk Palestina.

Rumi sadar dia bukan dari keluarga berada. Dari kecil sudah biasa hidup prihatin. Betapa beratnya mengumpulkan lembar demi lembar rupiah. Dan bagaimana susahnya kehidupan orang tuanya yang sempat tinggal di rumah padat penghuni di Jakarta hingga terjadi kebakaran besar.

Semoga wakaf yang ia atas namakan orang tuanya akan menjadi tabungan surga buat mereka. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk mengingat dan mendoakan mereka karena keduanya meninggal saat Rumi masih kecil, kelas 5 SD.

“Bagaimana Kakak?” Rumi tersentak karena bengong
“Berapa harga paket itu?”
“Kami lagi promo dari 1.5 juta menjadi 1.1 juta.”

Wah, hanya untuk badannya saja bisa merogoh kocek 2 juta ternyata. Harga mahal menuju cantik. Ha…ha…Tapi tak apalah, anggap saja sedekah dan investasi.

Ia tersenyum sendiri dalam hati. Investasi apa Rumi? Investasi untuk menaklukan hati suami? Deuh… bayar sendiri pula! Ck…ck…ck…
Yah hitung-hitung menebus dosa. Sangat menusuk hati saat Arfan mengatakan dia telah melakukan kebohongan publik. Ampun dah. Serasa pelanggaran kelas berat saja.

“Saya ambil, tapi saya treatmentnya lusa saja karena sekarang sudah malam. Boleh DP dulu kan?”
“Bisa kakak. Minimal 25 persennya.”
“Boleh pakai kartu debit juga?”
“Siap Kakak.”

*****

Arfan sampai di rumah sore karena terjebak macet selama 2 jam. Terlihat Mak Sani tengah menyetrika sambil menonton TV.

“Ibu di atas Mak?” tanyanya karena ia tak melihat sosok Rumi.

Arfan sengaja menyebut Rumi dengan ‘Ibu’ jika di depan Mak Sani. Ia memang tak ingin Mak Sani tahu kondisi sebenarnya antara dia dan Rumi. Tidak. Dia tak boleh mengendus apalagi tahu.

“Ibu keluar dari siang, Pak.”
“Ke mana?”
“Saya kurang tahu, cuma bilang mau keluar ada keperluan sampai maghrib. Kemungkinan pulang malam.”

Arfan tak ambil pusing lagi. Ia bergegas ke atas.
Baru masuk terdengar handphonenya bunyi. Bunda menelpon.

“Ya Bun?” ujar Arfan setelah menjawab salam.
“Bunda telepon Rumi tapi gak nyambung, apa bisa ngomong sama dia?”
“Rumi belum pulang Bun.”
“Ke mana?”
“Arfan nggak tahu, soalnya Arfan juga baru nyampe rumah.”
“Kamu dari mana?”
Suara Bunda seolah menyelidik.
“Dari acara undangan nikahnya anak bos.”
“Lho kondangan kok nggak bareng Rumi?”

Arfan terdiam. Dasar pelupa. Ia menggerutu sendiri karena keceplosan. Dan akhirnya ia kejebak harus cari alasan untuk bohong.

“Iya… tadi Rumi ada acara sendiri…. Bunda ada keperluan apa? Nanti Arfan sampaikan.” ujarnya mengalihkan tema.
“Nanya obat yang dulu pernah Rumi sarankan waktu di Semarang. Bunda lupa namanya. Sudah nanti kalau dia pulang suruh nelpon saja ya?”

Arfan terdiam di kamar. Merenung. Kejadian semalam saat melihat Iqbal dan Arini berdua membuat moodnya langsung kocar-kacir.
Ia belum bisa membuang memori tentang Arini, buktinya ia masih merasa cemburu kepada Iqbal. Melihat betapa mesra dan serasinya mereka berjalan. Iqbal merengkuh pundak Arini sambil tertawa bercanda membuat hatinya panas menahan kesal.

Dan… Rasa perihnya mengaduk-aduk tatkala melihat Rumi bersalaman dengan Arini. Terlihat sekali bedanya. Posturnya belum lagi tampilannya. Sama-sama pakai gamis tapi keduanya menampakkan cita rasa yang berbeda.

Sebenarnya ia mengakui Harumi tak jelek-jelek amat. Posturnya juga sedang. Nggak gemuk nggak juga dibilang kurus. Bahkan kalau diperhatikan dengan lekat-lekat senyum istrinya itu cukup manis, dengan gigi gingsulnya yang menyembul. Ya..manis karena kulitnya sawo matang.

Tapi entahlah mungkin karena dia sudah terlalu berharap lama bahkan berbulan-bulan kepada Arini membuatnya sulit mengalihkan.
Ia sudah mencoba tapi belum bisa. Bagaimana mungkin ia memaksakan perasaan itu.
Dasar cinta tak kenal rumus logika.

Begitulah gegara bad mood, rencana mengajak Rumi kondangan pun jadi sirna. Entah kenapa. Padahal hati kecilnya sudah berucap untuk mencoba menerimanya.

Dan obrolan dengan salah satu rekannya di kantor yang beda bagian di acara resepsi tadi siang membuatnya agak menyesal. Agak!
Kenapa ia tak membawa Rumi ke acara bosnya?

Andre temannya itu juga datang sendiri ke acara hajatan.

“Istriku sudah seminggu sakit, dirawat. Kata dokter kena thalasemia.” Arfan terkaget. Bukankah Andre juga baru setahun dua tahun menikah kalau tak salah.
“Semoga cepat sembuh, Ndre.”
“Terima kasih. Oya bukannya kamu pengantin baru? Istri nggak ikut?”

Arfan langsung gelagapan.
Tatapan Andre bagai menikamnya seolah menghakimi
‘lu mustinya bersyukur punya istri sehat, lincah beraktivitas, tidak cengeng pula. Tapi disia-siakan. Mendingan tak usah dikawinin sekalian! Bikin pusing anak gadis orang!’

*****

Arfan setengah tertidur di kasur sepulang dari masjid. Ia melihat bayangan tubuh Rumi masuk kamar.
Ia pun pura-pura tertidur tak mengetahuinya.

Rumi melihat Arfan diam terlentang. Matanya mengatup. Sepertinya dia sudah lelap padahal jam 9 juga belum nyampai.

Ia pun meletakkan tasnya sembari melepas kerudungnya di depan meja rias.
Disisirnya rambut dengan potongan baru itu. Model bob layer bergaya shaggy membuat wajahnya yang sedikit cubby terlihat lebih segar.

Tanpa sadar karena gerah baru pulang, ia melepas begitu saja gamis luar nya hingga tinggal menyisakan kaos singlet dalamannya yang berwarna merah muda berenda.

Di bawah lampu yang masih benderang tentu saja Arfan melihat lekuk badan istrinya itu dengan jelas. Ia hanya terpaku menyaksikan pemandangan mengagetkan yang baru pertama dilihatnya.

Seperti ada yang bergejolak tapi ia segera mengusirnya lantaran malu. Malu mengakui kalau sesungguhnya istrinya itu cukup menggoda dan menggiurkan untuk didekati.
Bagaimana pun ia manusia normal.

“Kenapa pulang malam-malam?!” seru Arfan menetralkan degup jantungnya.

Hentakan suara Arfan benar-benar mengagetkan Rumi. Ia buru-buru meyambar piamanya, memakai dan segera mengancingnya gugup.

“Mas Arfan, kupikir sudah tidur pulas.” wajah kagetnya tertangkap Arfan.
“Dari mana saja?”
“Aku… aku.. habis potong rambut.”

Rumi berusaha tenang mengatur nafasnya.

“Potong rambut?” Arfan berubah fokus mengamati rambut Rumi yang ternyata memang berubah. Lumayan membuatnya lebih cerah.
“Sepertinya aku belum bisa adaptasi dengan cuaca panas di sini. Bawaannya gerah. Gak tahu, entah iklimnya yang panas atau aura penghuninya yang panas…” ujar Rumi sekenanya.
“Jangan sok nyindir!”
“Siapa yang tersindir? Penghuni rumah ini ada tiga?”

Arfan malas menjawabnya.

“Potong rambut saja sampai berjam-jam.”
“Aduh maaf Mas Arfan, tadi ada keperluan lain. Aku sama sekali nggak tahu dan nggak kepikiran kalau Mas Arfan ternyata menungguiku.” jawabnya santai.
“Aku nggak nungguin kamu.”
“Tapi suara kamu terkesan khawatir. Ohya bagaimana acara resepsi pernikahan anak Pak Dirut? Pasti mewah dan besar ya.”

Arfan terperangah. Dari mana dia tahu?

“Tadi nggak sengaja baca undangan yang terjatuh.” kata Rumi tanpa beban.
“Resepsinya lancar.” Arfan menjawab hambar. Entah buat apa ia bilang itu.
“Syukurlah, mudah-mudahan menunya enak. Aku suka pergi kondangan… Selain dapat gantungan kunci biasanya ada es krim gratis.” ledek Rumi membuat wajah Arfan merah padam.

“Rumi, Bunda berkali-kali nelepon ke kamu tapi nggak nyambung.” lanjut Arfan seperti biasa mengalihkan tema menyelamatkan diri.
“Bunda?”
“Ya.” Arfan menjawab pendek.
“Oke. Baik aku hubungi beliau dulu.”

Rumi segera berlalu dan menuju kamar kerjanya. Dadanya berdebar mengingat kalau ia tadi ganti baju seenaknya di dalam kamar dan jangan-jangan Arfan melihatnya?.

Arfan bangkit dari pembaringan. Menatap wajahnya sebentar di cermin. Suasana hatinya tidak kondusif. Mau tidur susah, pengen dekat-dekat Rumi juga jengah. Ia tak ingin terlihat memalukan di depannya. Seminggu ini sudah cuek lalu mendadak ingin mendekatinya?.
Nggak akan seburu-buru itu gara-gara mendapat pemandangan gratis.

Saat kakinya melangkah hendak turun ia melihat kamar di seberangnya terbuka. Rumi sudah asyik melototi laptopnya. Dengan model rambut barunya Rumi terlihat lebih remaja di pandangan kilas Arfan. Ya.. dia ternyata memang manis.

“Bunda nanyain apa?” Rumi terkaget lagi. Arfan sudah nongol tanpa permisi.
“Itu resep obat hipertensi alternatif. Apakah ibuku sekarang lagi sakit?”

Rumi menatapnya lekat dengan pandangan keheranan.

“Pertanyaan aneh. Sudah berapa tahun Mas Arfan jadi anaknya? Apa dengan ibu yang melahirkan juga harus basa-basi dan kurang peduli? Bersyukurlah masih punya orang tua yang kasih sayangnya tidak bisa kudapatkan lagi hingga hari ini.” Mata Rumi terlihat sedikit berkaca-kaca.

Ya ampun Arfan jadi merasa tak enak. Kenapa ngomongin Bunda dia malah yang sedih. Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Rumi kembali menekuri pekerjaanya seolah melupakan kalimatnya tadi.

“Rumi sudah malam, sebaiknya segera istirahat.” ujarnya menembus keheningan.
“Bentar Mas. Aku mesti siapin materi training besok pagi. Terima kasih banyak atas perhatiannya.” Rumi menatap wajah Arfan sekilas sambil tersenyum tipis.
“Itu bukan perhatian. Sekedar saran.”
“Baik, kuralat. Matur nuwun atas sarannya.”

Arfan menahan senyum. Dasar banyak alasan.

“Mas aku minta maaf tadi siang nggak ijin mau pergi.” ujarnya dengan jari masih mengetik di tombol keyboard laptop.
“Tak apa. Kamu bebas selama di sini. Tak harus nunggu ijin dari aku. Jangan karena aku membuat aktivitas kamu terganggu.”
“Wow… Sepertinya menyenangkan berteman denganmu…” Rumi tertawa dan sialnya malah membuat wajahnya terlihat manis.

Arfan segera beranjak pergi karena ia mendadak grogi.

*****

Malam itu Arfan pulang lebih awal. Tadi siang ia pura-pura mengirim WA ke ponsel Rumi menanyakan apa ia melihat agenda kerjanya di meja.

Padahal ia sekedar uji coba kirim pesan. Belum pernah ia mengirim pesan selama Rumi berstatus jadi istrinya. Tentu saja hal itu sukses membuat Rumi kaget sekaligus senang.
Ya setidaknya itu juga merupakan tahap kemajuan baginya.

Setelah menemani Arfan makan seperti biasa Rumi dan Mak Sani ngobrol berdua di ruang keluarga, nonton TV sambil tidur-tiduran di karpet.
Arfan bebersih di kamar mandi. Habis shalat dari masjid biasanya ia langsung tepar di atas kasur karena capai.
Namun sekarang mendadak ingin ke bawah. Mungkin makan buah bisa menambah segar badan. Ia berjalan pelan agar kehadirannya tak tertangkap kedua perempuan itu. Mereka menonton TV dengan posisi membelakanginya.

“Saya kalau dengar berita suka bingung Bu Rumi. Sekarang berita aneh-aneh. Dan suka tak masuk akal.”
“Namanya hidup Mak Sani makin berkembang, perubahan jaman namanya.” suara Rumi tertangkap telinga Arfan yang tengah membuka kulkas.
“Kayak itu tuh Bu, LGBT. LGBT itu apa ya?”
“Oh… LGBT itu kelainan pada manusia Mak. Suka sesama jenis.”
“Maksudnya?”
“Misal laki-laki sukanya sama laki-laki. Perempuan nikah sama perempuan.”Terdengar suara tawa Mak Sani.
“Kok bisa Bu Rumi, kalau sejenis begitu mana bisa punya anak dong…”
“Ya namanya juga kelainan Mak Sani… tapi mereka ogah dibilang nggak normal.”
“Trus kenapa dibilang kaumnya Nabi Luth itu ya Bu?”
“Iya karena kaum Nabi Luth waktu itu kebanyakan homo. Ditawari perempuan nggak mau. Maunya sama laki-laki. Waktu itu ada para malaikat menjelma jadi pemuda-pemuda tampan Mak Sani, malaikat sedang bertamu di rumah Nabi Luth. Kaumnya langsung mendekati Nabi Luth agar menyerahkan pemuda-pemuda itu tapi sama Nabi Luth ditegur dan dinasehati. Mereka marah. Lalu Allah menurunkan azab berupa hujan batu dan tanah yang diombang ambingkan kayak kena gempa kekuatan besar.”
“Serem ya Bu Rumi… Tapi saya pernah lihat gambar homo itu nggak mesti pakai baju perempuan,” celoteh Mak Sani.
“Ya Mak, nggak mesti. Nggak selalu kayak banci yang menyanyi di jalan. Sekarang banyak laki-laki yang kelihatannya gagah rapi juga ternyata homo.”
“Apa itu bisa terjadi sama orang yang sudah menikah?” tanya Mak Sani polos.
“Bisa saja….”

Krompyang!!!
Terdengar suara benda jatuh di belakang.

“Bapak? Nyari apa?” Mak Sani bangkit dari baring dan mendekati dapur.
“Maaf, Mak! Saya.. saya nyari mangkok buat potong buah.”
“Mas Arfan? Tumben belum tidur? Kenapa nggak ngasih tahu mau potong apel.” Rumi asli kaget melihat Arfan ternyata ada di dapur sedari tadi. Ia mendekat.
“Sudah.. sudah nggak papa.” jawab Arfan sedikit gugup.

Mak Sani mengambil apel dari tangan Arfan dan segera memotong-motongnya. Arfan beranjak ke atas kembali.

“Nanti di bawakan,” serunya.
Rumi mengangguk.

Di kamar pikiran Arfan berkecamuk. Obrolan Rumi dan Mak Sani merasuk pikirannya. Apalagi kata-kata Rumi terakhir. Ia tahu gadis itu tak tengah menyindirnya seperti yang sudah-sudah karena ia tak melihatnya. Namun kenapa Arfan tiba-tiba khawatir seandainya istrinya itu berpikiran kalau dia laki-laki tak normal?

Ya selama ini Rumi pasti menebak-nebak apa penyebab Arfan acuh tak acuh padanya bahkan kelihatan alergi untuk mendekat apalagi menyentuhnya? Menyeramkan kalau seandainya dia mengira Arfan penyuka sesama!

“Mas, ini apelnya.” Suara Rumi terdengar mendekatinya. Perempuan itu menaruh mangkok di meja kerjanya.
“Terima kasih, Rum.”

Rumi lalu berjalan balik keluar kamar. Arfan hanya memandangi potongan apel yang tak membuatnya berselera lagi. Ia pun keluar menyebrang menuju meja kerja Rumi. Istrinya tengah membuka laptop dan memasang kabel ke stop kontak.

“Rumi, kamu nggak nonton TV lagi?”

Ya ampun kenapa jadi kalimat itu yang keluar.
Rumi tak mengira Arfan menyusulnya ke kamar kerja.

“Nggak Mas. Ada kerjaan tambahan, ngecek email para reseller. Lagipula nggak semangat lagi gara-gara ada suara mangkok jatuh.” godanya sambil melirik Arfan.

Lelaki itu tersenyum. Wah… kemajuan mau memamerkannya.
Tiba-tiba Arfan berjalan mendekati Rumi yang masih berdiri di belakang meja.
Arfan meraih tangannya kemudian gantian pinggang Rumi. Tentu saja Rumi terkaget-kaget bagai kena sengatan.
Ada peristiwa alam apakah sampai tiba-tiba Arfan bersikap seperti itu.

“Mas… kamu mau apa?”

Arfan memegang wajah Rumi dan mendekatinya. Tanpa ragu ia mencium kedua pipi Rumi dan berakhir dengan pendaratan lembut di bibirnya. Sedetik saja. Tapi aksi itu membuat angan Rumi melayang seketika melanglang buana hingga tembus langit ketujuh.

“Aku hanya mau kasih tahu, kalau aku laki-laki normal. Tidak seperti yang kalian bicarakan tadi.” bisik Arfan menatap bola mata Rumi sebentar lalu tanpa permisi pergi meninggalkan kamar itu.

Tinggal Rumi masih linglung berdiri sambil meraba bibirnya. Setelah sadar seketika pecah tawa kecilnya. Tawa bahagia.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…