Memilih Bidadari – #Part_02/11

Rumi menata hatinya yang berdebar. Baru saat itu ia menyaksikan betapa indahnya wajah Arfan ketika tertawa. Sayang sekali lelaki itu terlalu pelit memamerkannya. Rumi terperangah sesaat. Arfan sangat terlihat tampan. Ia jadi teringat kembali peristiwa tabrakan tak sengaja di aula. Saat itu Arfan juga memakai batik.

Rumah bertingkat dengan tiga kamar itu menurut Rumi sangat sepi. Dan ia tak biasa dengan kondisi itu. Ia suka keramaian. Tanpa seijin Arfan ia meminta Mak Sani, asisten rumah tangga yang biasa pulang balik untuk menginap saja mulai hari itu dan seterusnya, menemani Rumi ngobrol. Ia janji akan menambah uang gajinya. Satu kali gaji yang diberikan Arfan.

Mak Sani senang, karena di rumah pun ia tinggal dengan anaknya yang sudah berumah tangga dengan 3 anak.

“Mak masih boleh pulang hari Sabtu atau Minggu kalau kangen sama cucu. Terserah pilih salah satu.”
“Baik, Bu. Semoga ibu cepat punya anak jadi nggak kesepian ya.”

Rumi tersenyum ganjil.
Punya anak? Sebuah anugerah teramat sangat mahal sepertinya.

“Amiiin, Mak. Doakan ya.” jawabnya sekedar menumbuhkan rasa optimis.

Sudah seminggu pernikahan mereka, Arfan masih bersikap biasa-biasa saja. Irit ngomong. Kalau tak perlu banget ia akan memilih diam. Pulang kerja selalu malam di atas jam 8. Habis shalat, makan, nonton TV langsung tidur.

Rumi sengaja tak ijin menyuruh Mak Sani tinggal, biar malam ini Arfan melihatnya dan langsung menegurnya. Biar sajalah dia marah. Baginya masih mending dia marah daripada diam-diam saja.

Percuma kalau Rumi yang memulainya bicara, pasti jawabannya hanya sepotong-potong, kayak orang diinterogasi atau Arfan akan menjawab seperti kemarin.

“Rumi, sudahlah kamu tak usah pakai basa-basi. tanya-tanya yang tak penting.”
“Bukannya Mas Arfan menyetujui kita jadi sepasang teman? Masak teman tak boleh nanya-nanya juga?”
“Apa mau kamu? teman tapi mesra?”

Rumi menjengit.

“Ya kita ngobrolin apa kek.”
“Kamu nggak betah di sini?”
“Enggak….betahlah tentu saja. Kebetulan Mak Sani cukup humoris, sangat perhatian kepadaku, dia juga menyenangkan, tidak introvert, penuh kasih sayang….”
“Lebay!” Arfan pengen tertawa tapi tengsin, ia tahu Rumi menyindirnya.

Malam ini terlihat Rumi sedang duduk di muka laptop di kamar satunya seberang kamar mereka yang ia gunakan untuk ruang kerja. Arfan yang menyuruhnya menggunakan kamar itu.

“Rumi!” Tiba-tiba wajah Arfan nongol.

“Eh Mas Arfan sudah pulang,” Rumi bangkit lalu mencium tangan suaminya.
Syukurlah sudah tiga hari ini Arfan nggak nolak untuk salim. Akan sangat kebangetan seorang suami sampai nolak salim istrinya.

“Mak Sani nggak pulang?. Kamu yang nyuruh tinggal?”
“Iya Mas. Aku butuh teman ngobrol. Tadi kami baru selesai berbincang bada sholat Isya. Memangnya dia belum tidur?” ujar Rumi sengaja dibanyakin ngomongnya biar Arfan juga lama berdiri di sana dan dia bisa lama-lama menatapnya.

Ya Allah seandainya suaminya tahu kalau dia menyukainya pada pandangan pertama saat tabrakan di aula. Hadeuh..

“Dia sedang nonton TV. Kenapa nggak ijin sama saya dulu?”
“Ya kan Mas Arfan belum pulang. Ini aku baru mau ijin. Bolehkan Mak Sani nginap di sini?”

Arfan mendengus lagi. Lama-lama pengen banget ia jitakin kepala Rumi.

“Sepertinya mubazir Rumi, dia pasti minta tambah gaji.”

Ya tentu lah, gak usah disebut.

“Jangan kuatir, Mas. Rumi usahakan untuk nambah gajinya.”
“Oh jadi begitu, karena kamu merasa punya duit lalu seenaknya nyuruh pembantu tinggal dan membayar lebih. Bagus sekali!” Suara Arfan meninggi.

Rumi terdiam dan menatap Arfan lamat-lamat. Ya Allah. Suamiku itu, sebenarnya dia ngerti etika rumah tangga enggak sih? Dia pernah baca bagaimana Rasulullah memperlakukan istrinya nggak sih?

Sebenarnya dia kenapa? Katanya dia tahu agama. Segitu dongkolkah dengan pernikahan ini sampai harus mengedepankan egonya. Semakin misterius saja makhluk ini, gumam Rumi. Harus dengan kekuatan besar untuk menaklukannya.

Ia mirip Bundanya. Dulu awal Rumi memperkenalkan produk itu, Bu Rahmi acuh tak acuh dan memandang sebelah mata. Tapi ia tak putus asa, mendekatinya terus. Bukan apa-apa karena ia melihat produk kesehatan itu sangat cocok dibutuhkan wanita yang menderita hipertensi tahunan sepertinya. Dan akhirnya berhasil juga pada pendekatan kesekian.

Bahkan mereka jadi dekat satu sama lain. Ia kerap datang ke rumahnya. Rumi memberikan bonus ekstra berupa terapi totok kesehatan. Tapi tak sedikitpun Bu Rahmi bercerita tentang anak-anaknya. Hubungan mereka sebatas penjual dan pembeli yang akrab saja. Bu Rahmi semakin simpati ketika tahu Rumi bekerja untuk membiayai kuliahnya sendiri karena ortunya sudah meninggal dan kakaknya di Jakarta bekerja sebagai guru SMP.

“Mas Arfan, menurutku Mak Sani sebenarnya pengen kerja menginap. Selain butuh uang untuk membantu ekonomi anaknya yang kerjanya masih serabutan, dia juga gunakan uang gajinya untuk bayar sekolah cucunya. Itu yang pertama.
Yang kedua, di rumahnya yang kecil seukuran tipe 21 itu dia tidak punya kamar. Tiap hari dia tidur di lantai pakai tikar bareng cucunya paling besar. Tak pakai kasur.
Sebagai seorang muslim menurut Mas apa salah, kita memberinya sedikit…ya sedikiit saja kesenangan bisa merasakan punya kamar, bisa merasakan tidur di kasur.
Bagaimanapun juga dia kan anak buah kita, pegawai kita yang harus diayomi kesehatannya karena kita sudah memanfaatkan tenaganya…”

“Darimana kamu tahu tentang rumah Mak Sani?. Jangan sok tahu. Kamu kan baru seminggu di sini.” Arfan berkata datar.

Rumi tersenyum tipis. Kena kamu Arfan, jadi kepo kan?. Makanya ngomong napa. Apa sih susahnya ngobrol sama bini?

“Jelek-jelek begini aku pernah jadi supervisor gadungan Mas, yang tugasnya mengontrol pegawai dan anak buah. Mengenal anak buah itu tak hanya saat di depan kita, kalau bisa kita mengenalnya juga di belakang layar. Apa masalahnya. Kemarin aku antar Mak Sani pulang naik motor. Sekalian lihat-lihat kondisi kampung di sini.”

Telak. Arfan merasa dikuliti. Sebagai pribadi dan sebagai seorang supervisor perusahaan telekomunikasi tentunya.

“Lalu…?” gumamnya.
“Apanya yang lalu…?”
“Alasan utama kamu minta dia menginap di rumah ini tanpa persetujuanku?”
“Tadi…aku ngobrol banyak sama dia sambil makan rujak. Mas pasti nggak tahu ya pohon mangga di depan rumah berbuah lebat?” Rumi sengaja semakin ngelantur. Ngomong ngalor ngidul. Arfan masih berdiri saja di muka pintu.

“Aku selalu pulang malam.”
“Ya aku tahu, Mas Arfan sangat sibuk bekerja sampai-sampai pulangnya sangat larut. Mana sempat nengok pohon ya…Mas Mau rujak? Ada di kulkas aku simpenin untukmu,” tawarnya.

“Tidak…tidak…”

Apa sih maunya si Rumi ini, separo nyindir separo ngajak makan rujak. Pasti pengen sok dekat, benak Arfan.

“Alasan ketiga. Ini yang penting. Mohon maaf ya Mas jangan tersinggung…, aku biasa shalat berjamaah di rumah bareng kakakku Mas Dewo dan mbak Laras kakak iparku juga keponakan. Di tempat kost dulu apalagi. Ya mumpung ada Mak Sani kan lumayan bisa shalat berjamaah. 27 derajat itu susah lho Mas nyarinya. Kecuali Mas Arfan mau ngajak shalat berjamaah. Tapi karena Mas ogah, ya mau gimana lagi….”

Nyindir lagi. Tapi ia tak bisa marah apa yang dikatakan Rumi benar semua. Sudah seminggu menikah tak pernah satu kali pun mengajak dia sholat berjamaah. Ya Allah, masalahnya… bukan pernikahan seperti ini yang ia inginkan. Ini seperti kecelakaan, ungkap Arfan dalam hati.

“Keempat…”
“Stop!. Kali ini aku maafkan. Mak Sani boleh tinggal menginap di rumah ini.”
“Alhamdulillah, terima kasih ya Mas…” Rumi lupa hendak mendekat. Namun Ia segera duduk kembali ketika Arfan pasang gelagat mundur.
“Eit, tapi seminggu ini aku mengingat 5 kesalahan yang sudah kamu lakukan” ujarnya.
“Oh begitu ya? sebentar… “

Rumi mengambil sebuah buku kecil di laci meja kerjanya.

“Aku malah mencatat ada 7 kesalahan…!” teriak Rumi tersenyum menantang. Biar dia dongkol sekalian.

Arfan terkesiap. Kenapa Rumi ini kagak ada takut-takutnya. Ia belum pernah lihat dia mewek meski dikasarin.

“Tapi tenang, insya Allah aku akan berusaha memperbaikinya… aku juga sudah mencatat perbaikannya,” katanya masih sambil melihat buku kecil itu.
“Maksudnya?”
“Misal kesalahan pertama, lupa mematikan lampu kamar mandi jika selesai mandi. Kan waktu itu Mas Arfan marah, aku sudah setting alarm kalau mau masuk kamar mandi biar berbunyi mengingatkan”

Arfan menggelengkan kepalanya. ‘Lebay!’ bisiknya dalan hati.

“Kamu juga nggak fokus kalau lagi masak air karena lebih mengurusi dagangan online kamu sampai air dan tempe goreng gosong. Kamu mesti memperbaiki kecerobohanmu.” Arfan berkata sinis.

My God, dia ingat. Benar-benar goresan sembilu.

“Oke, sudah kucatat juga di point ketujuh. Sama berarti antara catatanmu dan catatanku…padahal aku tak nyontek..” seru Rumi.

Sumpah, Arfan geregetan.

*****

Kelopak mata Rumi terbuka pelan, seperti ada yang menepuk-nepuk lengannya.

“Rum,… bangun. Shalat malam.”
“Mas Arfan?” Rumi terkaget. Arfan sudi membangunkannya? Untuk shalat malam pula. Apa dia lagi insyaf? Oh semoga insyafnya sampai satu dasawarsa, harapnya.

Rumi terduduk dan menutup mulutnya yang menguap. Mereka memang tidur seranjang tapi kayak tentara gencatan senjata, saling menepi dan berlindung di balik guling. Rumi lantas mengambil karet rambutnya di atas nakas dan mengikat rambut sekenanya.

“Shalat tahajud, katanya kamu pengen merasakan shalat berjamaah sama temanmu ini?”

Rumi mengucek matanya. Tak salah dengar? Ia pun mengangguk sambil tersenyum. ‘Temanmu ini?’ Ha…ha…lucu sekali. Sulitnya dia menyebut kata suami. Ya sutralah.

“Siap.”

Suara Arfan cukup merdu memimpin shalat. Membuat selesai shalat Rumi ketimpuk pertanyaan besar lagi, ada apa sebenarnya Arfan. Alim gitu tapi sama istri galak dan cuek? padahal istri baru, gimana kalau istri lama?

Tapi tidak, ia tak mau mengusik kebahagiaan malam ini. Sabar dulu saja. Bisa shalat berjamaah saja sudah syukur. Sebuah kemajuan hebat bukan? Paginya di hari Sabtu itu, Arfan lanjut memperlihatkan sesuatu yang mengejutkan.

“Ayo kita jalan-jalan pagi ke kampung.”

Lelaki itu tiba-tiba sudah berdiri di belakang Rumi dengan kostum kaos dan training olahraga.

“Se…sekarang?” Rumi seolah tak percaya mendengarnya. Ia menghentikan aktivitasnya di dapur.
“Bukan, liburan tahun depan….”

Apa? Rumi tak percaya Arfan mau sedikit kasih bumbu humor di kalimatnya. Sepertinya bubur ayam yang dimakannya tadi membantu mewaraskan jasmani ruhaninya.

“Okelah, sebagai teman sejati aku harus menghormati. Apalagi di sini kan aku cuma nebeng. Sebentar ya, ambil jilbab dulu.” Rumi meninggalkan Arfan yang terpaku sambil menahan senyum tipis.

Sungguh kalimat ‘cuma nebeng’ membuat hati Arfan bergejolak.

Mereka lalu keluar komplek menuju perkampungan penduduk asli melewati sungai dan kebun singkong.

Arfan hanya menangkap dan menyentuh tangan Rumi pas istrinya itu meloncati sungai kecil karena tak ada jembatan. Sesudahnya melenggang masing-masing.

Tapi bagi Rumi genggaman tangan Arfan meski sebentar bagai sentuhan yang mematikan. Jantungnya serasa main lompat tali.

“Di mana rumah Mak Sani?” tanya Arfan tiba-tiba.

Oh… mengertilah Rumi, jadi ternyata suaminya pengen membuktikan kebenaran kata-katanya kalau Mak Sani itu tinggal di rumah kecil dengan penghuni padat?.

“Beneran mau ke sana?” tanya Rumi.
“Kenapa memangnya?”
“Nggak masalah jika Mak Sani memperkenalkan kita sebagai suami istri di depan anaknya? bukan sebagai teman?”

Ya ampun, si Rumi kenapa berpikirnya sampai ke sana. Sedangkan Arfan hanya fokus ke kondisi rumah Mak Sani yang katanya cuma ada satu kamar.

Arfan agak gelagapan. Benar juga.

“Never mind.”

Arfan merasa kalah tanggap.

*****

Agaknya doa Rumi manjur. Arfan insyafnya bertahan sampai malam. Dia mengajak dinner alias makan malam di luar.

Bagaimana Rumi tak berbunga-bunga, tak peduli wajah Arfan masih kotak datar sekalipun. Baginya itu tetap sebuah kemajuan yang harus disyukuri.

“Kamu jangan gede rasa dulu hanya karena diajak makan, aku nggak tega saja meninggalkan kamu sendirian di rumah. Kebetulan lidahku belum terlalu cocok sama makanan yang kamu masak. Maaf ya jangan tersinggung kalau aku jujur…kan kata KPK jujur itu hebat,” ujar Arfan saat mobilnya sudah keluar jalan raya.

Rumi pura-pura tak dengar, karena candaan itu kalau ditelan sangat menyakitkan mending dikunyah saja dan langsung dilepehkan. Pueeh!!

“Tadinya juga aku malas ikut Mas Arfan, kerjaanku banyak kalau malam minggu. Maklumlah pedagang online, rejekinya kalau lagi akhir pekan banyaknya.”
“Tapi aku kan tamu yang baik, jadi menghormati tuan rumah. Sami’na wa atho’na, saya dengar dan saya patuh.”

“Soal masakan, sebenarnya bukan lidah kamu yang nggak cocok tapi bumbunya mungkin yang alergi sama lidah yang tajam…”

Arfan tertawa tak disangka. Ya Allah Ya Rabbi… Rumi menata hatinya yang berdebar. Baru saat itu ia menyaksikan betapa indahnya wajah Arfan ketika tertawa. Sayang sekali lelaki itu terlalu pelit memamerkannya.

Mereka pun makan di sebuah foodcourt sebuah supermarket terkenal di Jakarta. Rumi memesan zuppa soup, Arfan memilih steak bumbu saus lada hitam kesukaannya.

Rumi mencatatnya dalam hati. Berarti memang benar apa yang dikatakan Bundanya. Tadi pagi ia menanyakan via WA apa masakan kesukaan Arfan. Yah mungkin next time dia bisa uji coba.

Saat selesai makan itu lah mendadak seseorang datang menghampiri Arfan. Rumi tak kenal siapa dia.

“Assalamualaikum, wah Bro….lama tak kelihatan. Apa kabar?”

Arfan terkaget-kaget. Iqbal yang sudah berbulan tak dilihatnya tiba-tiba muncul.

Arfan memang tak menghadiri undangan pernikahannya waktu itu. Dia bilang lagi ke luar kota. Walaupun benar tapi alasan utamanya karena dia tak mau melihatnya bersanding dengan Arini di pelaminan.

“Oh alhamdulillah baik…baik. Lagi makan juga?” sapanya basa-basi.
“Iya ngantar istri. Oya…maaf katanya kamu sudah nikah juga ya. Ini istrinya?” tanya Iqbal.

Arfan terpaksa mengangguk.

“Maaf hanya ngundang keluarga dekat, kenalin ini Rumi.” Rumi tersenyum ke arah Iqbal dengan menangkupkan tangannya.

Arfan, kenapa nggak bilang ‘ini istriku’, gumam Rumi. Iqbal saja begitu bangga menyebut ‘ngantar istri’.

“Wah selamat ya…berarti pengantin baru nih.” Lagi-lagi Rumi dan Arfan tersenyum.

“Mas Iqbal!”
Suara perempuan memanggilnya dan datang dari arah pintu masuk. Kedua tangannya menenteng aneka tas jinjing. Penuh. Rumi jadi ingat sama buku berjudul Miss Jinjing.

Namun ketika ia menatap sosoknya mulutnya pun bertasbih. Cantik sekali istri Iqbal, temannya Arfan itu. Tinggi semampai, putih dengan gamis syar’i yang sangat elegan menempel di tubuhnya dan terlihat dari bahan material yang mahal.

Dan… tak sengaja ia melirik Arfan. Suaminya menatap sesaat dan nampak berubah wajahnya.

“Arini, ini istrinya Arfan teman kost ku dulu, Mbak Rumi namanya.” Rumi dan Arini saling bersalaman.

Ada sedikit minder menyeruak di hati Rumi. Arini bagaikan barbie yang tak pernah menyetuh benda kasar. Kulitnya bening, halus dan memukau.

Tapi seperti biasa ia segera menguasai kondisinya. Ngapain minder? Toh perempuan sebenarnya cantik semua, tinggal dari sudut mana orang melihatnya. ha..ha…Rumi menghibur diri.

“Apa kabar Kak Arfan?” sapa perempuan itu ke suami Rumi.
“Baik..alhamdulilah” Rumi menangkap kegugupan di suara Arfan. Ya ampun jangan-jangan dia grogi disapa perempuan cakep. Tapi dia kan istri orang, kenapa sampai gugup begitu.

Iqbal dan Arini lalu pamit duluan. Setelahnya… asli Arfan dan Rumi berubah jadi patung berjalan sampai rumah. Diam tanpa suara.

*****

Minggu siang Rumi dan Mak Sani lagi sibuk di dapur. Mak Sani membawa ikan lele yang katanya ditangkap dari empang dekat rumahnya di kampung. Panen lele.

“Dipindang enak nih Bu….”
“Boleh Mak, saya diajarin ya bikin bumbunya.”

Terdengar langkah kaki turun dari atas. Arfan tampak begitu rapi dengan batik motif sidomukti.

Rumi terperangah sesaat. Arfan sangat terlihat tampan. Ia jadi teringat kembali peristiwa tabrakan tak sengaja di aula. Saat itu Arfan juga memakai batik.

“Rumi, saya mau keluar dulu. Ada acara di aula kantor.”
“Acara apa Mas pakai batik?”

Arfan terdiam sesaat.

“Mm…acara keluarga Dirut.” Ia buru-buru keluar seolah takut ditanya-tanya lagi oleh Rumi.

Rumi cuma angkat bahu.

Ia lalu ke atas untuk mengambil handphonenya di nakas. Saat melewati meja kerja Arfan ia melihat sebuah kertas berplastik terjatuh di bawah meja. Undangan pernikahan.

Di sampul depan tertulis ‘Kepada yth. Bapak Arfan Hadi Putra dan Istri’ di tempat.

Rumi melirik tanggalnya. Undangan hari ini, Minggu jam 11-13 WIB. Ia terdiam di bibir kasur. Memandang undangan di tangannya.

Tes…!
Tiba-tiba setetes air jatuh di plastik undangan itu. Untuk pertama kalinya di rumah itu Rumi meneteskan air mata.

Ia segera menggosoknya keras. Cukup satu tetes saja. Jangan banyak-banyak setengah tetes lagi pun ia tak rela hanya untuk menangisi perkara sepele.

Sepele?
Rumi menata gejolak dadanya yang perih.

Bahkan untuk mengajak istrinya kondangan saja Arfan malu? Ia jadi teringat ledekan orang-orang yang terdengar klasik. ‘punya istri itu yang penting nggak malu-maluin kalau diajak kondangan.’

Ya ampun apa ia benar-benar tak sepadan jika berdiri dan berjalan di samping Arfan? Mungkin… standar istri baginya seperti… seperti Arini itu?

Hatinya menghibur, aih… sudahlah Rumi timbang cuma diajak kondangan. Palingan di sana juga cuma salaman sama pengantin sebentar terus makan prasmanan. Enakan juga di rumah adem, nggak macet.

Handphone Rumi mendadak menyalak. Tertulis dari Salon Humairah.

“Dengan Mbak Rumi?”
“Ya benar.”
“Kami dari Salon Muslimah Humairah, mau memberitahu kalau kebetulan hari ini ada jadwal dokter kecantikan yang sedang praktek, kemarin Mbak menanyakan bukan?”
“Oh iya, hari Minggu sampai jam berapa?”
“Kami tunggu, dokternya mulai praktek dari jam 13 sampai 17 sore ya mbak.”
“Baik…baik..”
“Untuk perawatannya Mbak Rumi mau paket apa? Kebetulan kami sedang promo untuk paket body treatmentnya….”
“Nanti saya lihat dulu setelah di salon saja ya Mbak, saya mau konsul dulu dengan dokternya.”
“Baiklah Mbak Rumi, kami tunggu kedatangannya.”

Rumi menatap kaca di meja riasnya.
Menangis itu malah bikin jelek, Rumi. Ayolah tersenyum. Rumi pun teringat pesan cantik dari Ibunda mukminin, Aisyah r.a

“Jika kau memiliki suami, lalu kau mampu mencongkel kedua bola matamu, lantas meletakkannya di tempat yang lebih baik daripada sebelumnya, maka lakukanlah, agar kau bisa lebih dekat dan lebih dicintai suamimu.”

Sebuah kalimat kiasan yang dalam, bahwa seorang istri disarankan punya banyak cara untuk mempercantik diri agar suaminya tertarik dan mencintainya.

“Mungkin sudah saatnya aku bersedekah untuk suamiku sendiri, menghapus kesalahanku gara-gara photoshop…” gumam Rumi seraya lanjut berkemas.


Bersambung

Ket: Kisah diriwayatkan oleh Bakran binti ‘Uqbah.

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…