Memilih Bidadari – #Part_01/11

Kerongkongan Arfan mendadak kering. Rasanya memalukan sekali jika ia mengaku di depan Bunda kalau ia kalah set. Tidak. Ia tak mau Bunda tahu kemalangannya ia juga tak mau wanita itu memandangnya sebagai anak yang culun dan tak bisa berstrategi. Strategi mendapatkan jodoh idaman.

“Bolehkah aku bertanya?” Arfan melirik Rumi di ujung ranjang pengantin.
Akad nikah tadi siang mempersatukan mereka. Tapi tatapan mata itu seperti menciptakan jurang. Meski bukan paranormal, Rumi menangkap itu. Jelas.

Gadis itu mengangguk lalu menunduk lagi. Ia malu tapi sejujurnya bahagia. Malu karena di kamar sunyi itu mereka cuma berdua. Bahagia karena akhirnya pemuda yang diidamkannya itu kini menjadi suaminya.

Selama ini ia hanya berani memandangnya dari jauh, dan tentu saja diam-diam mengagumi sosoknya di balik akun facebook. Hampir tiga bulan ini.

“Mengapa kamu berbeda?”

Pertanyaan aneh.

“Berbeda?” Rumi mencoba menatap Arfan sekilas.
“Kamu tak secantik di foto-foto medsosmu!?” Arfan bertanya dengan wajah tanpa ekspresi. Datar. Tiada senyum. Ya Gusti Allah, semoga ini sekedar perploncoan saja, gumam gadis itu.

Rumi agak terperangah. Apa maksudnya? Begitukah sosok Arfan suaminya? Pertanyaannya seperti dipaksakan. Rumi tadinya husnuzhon dia akan ditanya,

“Hafalan Al Quranmu sudah berapa juz , Harumi?”

Tapi ternyata soal fisik! Di luar prediksi.

“Begitukah menurutmu?” tanya Rumi. Meski kaget, ia memberanikan diri bersuara.
“Kamu sudah melakukan kebohongan publik….!” ujar Arfan pelan tapi terasa sinis.

Belum apa-apa Rumi merasa dihakimi. Malam pertama malah jadi pesakitan? Tapi ia ingin mencoba tenang. Begitulah dunia marketing mengajarkan. Dunia yang digelutinya. Jika ada klien protes kamu harus tenang, jangan menantang dulu. Apakah Arfan akan menjadi kliennya? Memangnya malam ini kamu tengah memasarkan apa? Cinta? Cinta kamu kepada Arfan suamimu, orang yang tak kaukenal sama sekali, hardiknya.

Ia jatuh cinta kepada Arfan hanya bermodalkan pandangan pertama saat bertabrakan di depan aula masjid saat itu. Itu pun gegara buru-buru sehabis nelpon seorang dropshipper. Dan Arfan waktu itu? Hanya tersenyum tipis, lalu sukses melengos. Rumi yakin seribu persen kalau pemuda itu pasti melupakannya. Siapa dia? Ya siapa Rumi? Gadis receh yang hanya berkhayal menjadi cinderella barangkali kalau orang bilang.

“Maaf jika kamu tak berkenan, Mas. Tapi….”
“Tapi…sudah terlanjur,” ujar Arfan diam lagi.

Tak lama Arfan terlihat menjatuhkan badannya yang masih berbalut jas ke pembaringan. Tidur. Apakah Rumi telah berdosa membuat kecewa Arfan di malam pertama? Sungguh ia tak mengira kebiasaannya memoles dan mempercantik foto-foto di FB maupun IG dengan photosop berbuntut panjang dan dipermasalahkan oleh Arfan.

Tadinya ia berpikir itu bagian dari marketing saja. Bagian dari pekerjaannya sebagai pedagang online produk kesehatan yang kadang menuntutnya tampil dengan badan dan wajah dibuat sefresh mungkin. Dipikirnya toh teman-teman medsosnya lebih banyakan para gadis dan ibu-ibu ketimbang lelaki.

Akan berpikir panjang baginya untuk menerima pertemanan laki-laki kecuali benar-benar ia kenal.

****

Dua bulan lalu.

Arfan berkata pelan kepada Bang Qosim yang kadang-kadang dipanggilnya ‘ustadz’. Ia harus mengatakannya meski hatinya berucap sebaiknya jangan. Jangan begitu. Tak baik menampik biodata seorang muslimah.

“Saya punya pilihan sendiri Bang, bisakah membantu menghubungkan?” tanyanya lirih.
“Siapa gadis itu? Kalau saya kenal, pasti akan saya bantu.”
“Arini. Arini Wijayanti,” tukas Arfan.

Ia sedikit enakan melepas nama itu. Serasa batu yang mengganjal dadanya bergeser sedikit.

“Arini?” Bang Qosim berkernyit.
Ia tak enak, baru tiga minggu lalu ia menjodohkan Iqbal, teman seangkatan Arfan dengan Arini, bahkan mereka sudah menetapkan hari pernikahan. Apa Iqbal tidak cerita?

“Maaf Arfan, Arini sudah dipinang Iqbal. Mereka akan menikah bulan depan.”

Suara Bang Qosim terdengar hati-hati sekali. Arfan terbelalak kaget! Sangat….sangat kaget. Karena ia tak siap mendengarnya. Ia tak siap kalau gadis yang sudah lama diimpikannya bisa jatuh ke pemuda lain apalagi Iqbal teman dekat, teman kostnya sendiri.

Bagaimana Iqbal tega tak bicara apa pun padanya dan ia “merebut” Arini dari genggaman harapannya? Iqbal yang menurutnya bukan sia-siapa ternyata mengalahkannya. Ia berhasil memetik bidadari itu. Bidadari manis pujaan para pemuda di kampus. Arfan merasa kecewa sangat. Hatinya bagai tersayat.

*****

Tiga bulan yang lalu.

“Kak Hanum kenal pembawa acara di forum silaturahmi kemarin?” tanya Rumi. Ia baru dua minggu balik lagi ke Jakarta setelah wisuda S1 di Semarang. Hanum dan suaminya Bang Qosim mengajaknya datang ke pengajian itu. Pengajian di sebuah aula masjid.

“Oh … Arfan? Hanya kenal sekilas. Yang tahu Bang Qosim, dia adik kelasnya di fakultas teknik. Kenapa?”
“Nggak. Nggak papa, kemarin Rumi bertabrakan dengan dia….”
“Yaela…jangan bilang buku-buku kamu jatuh ke lantai lalu dibantuin dia membereskan terus kalian saling pandang….,” ledek Hanum kakak sepupu Rumi. Sebenarnya sepupu jauh. Kakeknya Rumi adalah adik dari kakek Hanum. Tak usah dibayangin. Pabelieut.

“Ha…ha…Kak Hanum kebanyakan nonton sinetron. Yang benar, dia bawa minuman terus airnya jatuh numpahin kerudung Rumi.”
“Beneran?…Trus….trus….”
“Kalau itu, FTV Kak.” Hanum mencibir.
“Izz….kamu, kirain.”
“Apakah dia masih sendiri?. Jomblo maksudnya.”
“Sepertinya. Kenapa Rum?”
“Gak papa, cuma nanya aja.”

Rumi pun berlalu membuat Hanum bertanya-tanya. Padahal hati Rumi berseri mengetahui Arfan masih sendiri. Dan suatu hari saat mereka bertemu kembali.

“Kak Hanum, saya nitip biodata saya. Siapa tahu Kak Hanum berkenan mencarikan jodoh buat saya.”
“Oh itu maksudnya kemarin nanya-nanya Arfan?” Hanum tertawa menepuk pundak Rumi.
“Nggak harus dia kok Kak Hanum, tapi kalau terpaksa sama dia juga Rumi tak menolak….” gelaknya. Terasa sangat percaya diri. Begitulah seorang seller. Bibit pedenya nggak boleh habis.

“Ih kamu!”

*****

Ada deretan berkas biodata di depannya. Lima! Salah satu diantaranya dari Bang Qosim sendiri. Biodata seorang muslimah yang katanya masih saudara jauh istrinya. Sisanya beragam. Ada yang dari kawan di kantor, teman ngaji, dan teman ngobrol. Tak main-main bukan?

Siapa satu bidadari yang akan dipilih Arfan? Sebenarnya ia bisa saja membanding-bandingkan satu dengan yang lain, tapi ia merasa bersalah kesannya pilah-pilih. Ia yakin kalau kelima perempuan itu tahu sedang didemikiankan, pasti mereka protes. Sayangnya bukan itu yang menjadi fokus Arfan. Ia belum bisa mengalihkan hati dari bayang-bayang Arini!

“Kamu sudah punya calon?” tanya Bunda ketika serius menanyakannya saat lebaran kemarin di kampungnya, Semarang.
“Insya Allah ada satu gadis yang kukejar, Bun. Nanti Arfan segera kasih kabar kalau kembali ke Jakarta. Mudah-mudahan dia memang jodoh Arfan.”

Bunda tersenyum senang. Ia memang berharap Arfan segera menikah. Ia tak sabar ingin dipanggil ‘eyang putri’ jika kelak Arfan punya anak. Arfan nekad berjanji akan mengenalkannya dengan Bunda bulan depan pas Bunda akan menengoknya ke Jakarta sekaligus ada keperluan. Entahlah ia begitu yakin Arini akan dapat dipinangnya dan gadis itu pasti mau.

Dan ikhtiar Arfan pun nggak main-main. Bukan dalam bentuk pedekate atau tebar pesona ke Arini. Ia tahu Arini bukan tipe perempuan yang senang didekati secara fisik apakah lagi digombali. Arini adalah bidadari yang terjaga pergaulannya. Ya selain pintar, tentu saja Arini mempesona. Itu versi Arfan.

Dan Ikhtiar serius Arfan adalah mengumpulkan bekal untuk meminang. Arfan sudah dapat pekerjaan lumayan di sebuah perusahaan telekomunikasi. Gajinya selama setahun bekerja sudah lebih dari cukup. Bahkan ia pun sudah ancang-ancang ambil rumah di sebuah komplek taraf menengah.

Ia mengenal Arini, adik kelasnya lewat kegiatan mahasiswa di kampus. Saat itu mereka kerap berinteraksi. Arfan begitu yakin 90 persen jika Arini akan menerimanya. Meskipun mereka tak pernah membicarakan cinta.

Bukankah Arfan adalah sosok lelaki yang cukup dikenal di kampus?. Wajahnya pun di atas rata-rata. Siapa sih gadis yang menolak seandainya ia meminta?. Itu kata rumor yang beredar. Tapi tak dinyana, Arfan merasa kalah sebelum bertanding!

“Arfan, Minggu depan Bunda jadi ke Jakarta. Jangan lupa kenalin Bunda dengan gadis incaran kamu ya. Pokoknya Bunda harus kenal dulu. Kalo cocok, dan sreg pasti bunda restui dan lanjut….”

Arfan terdiam. Ultimatum itu bagai mengiris dadanya perih. Siapa gadis yang mau ia kenalkan?. Haruskah salah satu dari kelima biodata itu yang tak satupun nyangkut di hatinya.

“Arfan … kamu dengerin Bunda kan?”
“Tapi Bun….” Gadis itu sudah diambil orang, gumam Arfan perih tapi hanya dalam hati.
“Nggak ada tapi-tapian ya.”

Kerongkongan Arfan mendadak kering. Rasanya memalukan sekali jika ia mengaku di depan Bunda kalau ia kalah set. Tidak. Ia tak mau Bunda tahu kemalangannya ia juga tak mau wanita itu memandangnya sebagai anak yang culun dan tak bisa berstrategi. Strategi mendapatkan jodoh idaman.

*****

“Bagaimana Arfan, apakah kamu sudah memutuskan biodata yang waktu itu saya tawarkan?. Ini sudah sebulan lebih, lho. Saya sudah ditanyakan istri saya.
Kapan ada jawaban?. Masak saya harus bilang on processing terus?”
Bang Qosim tertawa.

Arfan tahu lelaki usia 30 tahunan itu sedang berusaha menetralkan suasana. Arfan juga menghormatinya sebagai seorang kakak di Jakarta. Bisa dibilang Bang Qosim sudah cukup mengenalnya dengan baik sejak ia jadi mahasiswa baru di Jakarta.

Arfan terdiam sesaat. Sebenarnya hatinya gamang, shalat istikharahnya belum maksimal. Tapi ia merasa pasrah. Selain tak ingin mengecewakan Bang Qosim dan Mbak Hanum tentunya.

Ia juga memikirkan rencana Bunda yang akan datang ke Jakarta lima hari lagi. Ia tak mau Bundanya datang lalu seperti pepesan kosong karena Arfan tak punya calon definitif. Di satu sisi Ia juga berfikir logis, mau memilih ‘bidadari’ yang bagaimana lagi? Tak ada ‘bidadari’ yang sempurna di dunia ini.

Bidadari idamannya pun sudah pergi. Tak mungkin ia masih mengharapkan Arini yang sudah jadi milik laki-laki lain. Saking kesalnya, Arfan meremas-remas undangan dari Iqbal sebulan lalu. Undangan yang memproklamirkan secara jelas bahwa Arini bukan jodohnya.

“Saya siap Bang!” tukasnya lemah.

Akhirnya.

“Maksudnya kamu mau menerima Harumi dan mencoba berkenalan dengannya?”

Arfan mengangguk. Yup, sepertinya gadis yang dipanggil dengan sebutan Rumi meski tak ia kenal dekat namun cukup menarik. Arfan juga menyempatkan diri mengenal gadis itu lewat akun medsos untuk mendapatkan gambaran jelas bagaimana kepribadiannya maupun cara pandang dan berpikirnya. So far so good.

Dari foto-foto yang ada di medsos tampak Rumi adalah gadis yang menarik, wajahnya bersih bersinar dan gadis enerjik karena aktivitasnya banyak. Dari tukang olshop, majlis ta’lim sampai relawan wakaf.

Pekan depannya mereka pun dipertemukan di rumah Bang Qosim. Sore yang sejuk ketika mereka saling mengenal satu sama lain. Arfan datang bersama Bundanya yang baru tiba dua hari lalu.

Di situlah Arfan agak kaget karena Rumi tidak secantik di foto maupun tampilan-tampilannya di sosial media, karena kulitnya sedikit coklat meski tak bisa disebut hitam. Padahal dia menginginkan gadis berkulit putih seperti…seperti Arini!.

Wajahnya kalau diperhatikan secara seksama juga kusam, tak sesegar di close up IG nya.

Mungkin bagi sebagian orang ia akan dianggap terlalu main fisik. Tapi…sebagai calon suami wajar dia akan memilih sosok yang akan jadi bidadarinya,…paling tidak tak jauh berbeda dengan sosok Arini, harapannya. Standarnya.

Tapi … meski tak sreg Arfan mencoba menyamankan diri. Terpaksa. Rumi gadis yang yang baik, shalihah, mandiri dan aktivis sosial masyarakat. Dan lebih dari itu. Ternyata oh ternyata Bunda sudah mengenalnya waktu di Semarang.

Ya wanita itu sudah mengenalnya secara online dan offline.

Ternyata selama ini Bunda sering membeli produk-produk kesehatan berkenaan dengan sakit jantung dan hipertensinya dari Rumi. Dan parahnya lagi mereka pernah bertemu di Semarang. Ya, Rumi ternyata lulusan UNDIP! Ia baru balik ke Jakarta tiga bulan berselang.

Bunda terlihat sumringah sekali mengetahui kalau gadis yang diperkenalkan Arfan adalah Rumi. Arfan melihat mereka berdua tak sekedar reuni seller dan buyer tapi lebih dari itu… kayak ibu dan anak!

“Ya Allah, namanya jodoh ya Rumi. akhirnya kita ketemu lagi. Sejak Rumi pindah ke Jakarta, Ibu nggak beli produk itu lagi. Habis… kalau sama Rumi kan ada bonus terapinya…” ujar Bunda.

Arfan hanya terbengong-bengong. Sejujurnya ya jujur ia ingin menghentikan taaruf itu tapi Bunda sudah terlanjur setuju dan penuh semangat agar pernikahan segera dilangsungkan. Bagaimana?

*****

“Mas Arfan, sarapan sudah siap….” Rumi yang sudah berpakaian rapi mengajaknya sopan pagi ini.

Tadinya ia mau membantu membawakan tasnya dari atas, tapi khawatir insiden kemarin terulang dan bikin mood Arfan acak adul mau ke kantor. Sungguh lima hari menikah dengan makhluk itu, Rumi sudah berkorban perasaan. Lebih tepatnya ia memprioritaskan perasaan dan kemauan Arfan ketimbang dirinya sendiri.

Yup Rumi, toh kamu sudah biasa menderita sejak SD, sejak ditinggal pergi kedua orang tua karena peristiwa kebakaran. Ia sudah resisten alias kebal terhadap hal yang sedih-sedih. Termasuk penolakan. Sudah berapa puluh orang yang pernah menolak jualan kamu dengan berbagai alasan?

Tapi Rumi belajar dari peristiwa kemarin. Sebenarnya Arfan bisa diajak bicara asal lawannya mau mempengaruhi. Tak apa cuek dan dingin, yang penting masih mau ngomong. Komunikasi.

“Tak perlu manis-manis begitu. Dan aku juga gak butuh sikap sok mesra. Kita bersikap biasa saja,” tukas Arfan hendak mencegah tangan Rumi yang mau memegang dasinya. Kemarin.
“Oke, baiklah Mas. Maaf… aku sih nggak sok mesra cuma mau bilang dasi kamu mencong, sedikit berantakan. Menurutku itu mempengaruhi penampilan seseorang di kantor.”

Rumi cari alasan yang menurutnya bisa menyelamatkan rasa malunya karena ditolak.

“Kayak kamu peduli penampilan saja. Tukang jualan apalagi yang online seperti kamu kan kebanyakan omong di medsos dan teori, yang penting orang pada beli. Cari untung tujuannya.”

Busyet! Pedes banget mulutnya. Rumi yakin laki-laki seperti Arfan belum pernah mengikuti kursus persiapan pernikahan dengan judul materi komunikasi suami istri. Ah jangankan ikut kursus,… mungkin sebenarnya ia tak menginginkan pernikahan ini. Rumi menebak kalau Arfan hanya terpaksa. Mungkin lebih tepatnya pelarian.

“Mas Arfan kerja di bagian apa?”
“Supervisor.”
“Punya anak buah?”
“Tentu saja.”
“Apa kontribusi anak buah itu terhadap kerja Mas Arfan?” Arfan menatap mata Rumi penuh selidik. Sesaat saja.
“Banyak lah, aku harus mengontrol kerja mereka. Jika pekerjaannya bagus, akan mempengaruhi kerjaku juga. Lebih mudah dan cepat.”
“Apakah itu ikut berefek pada penjualan perusahaan?”
“Secara tak langsung.”
“Tujuannya cari untung juga? Sama dong kita!” tukas Rumi.

Arfan menarik nafas lalu membuangnya pelan. Selanjutnya tak bicara karena sibuk dengan gadgetnya. Rumi yakin Arfan merasa terpojok. Wajahnya sedikit memerah karena menyimpan kesal.

Arfan terlihat mengangguk menuju meja makan. Ini pagi kelima mereka nikmati sebagai suami istri. Dan status Rumi masih seorang gadis. Arfan tak sedikitpun mau menyentuhnya.

Boro-boro. Arfan seperti antipati mendekatinya. Jangankan mendekat, untuk sekedar menatap lama-lama saja sepertinya ogah. Matanya hanya menatap sekilas-sekilas ke arah istrinya itu. Sebenarnya Rumi benar-benar terluka dan terhina. Salah dia apa? Ia menatap di cermin. Sebenarnya tak jelek-jelek amat tapi kenapa Arfan sangat underestimate.

Seakan-akan lelaki itu pernah mimpi nginjek kodok. Dan Rumi lah kodoknya? Menyedihkan.

Ia menghela nafas. Please…Rumi, ini bukan akhir kehidupan tapi awal perjuangan. Anggap saja Arfan adalah calon atau sasaran klien kamu yang butuh diperlakukan dengan pendekatan berbeda. Berarti ia harus mencari strategi, ujarnya dalam hati.

‘Bukankah Arfan sendiri yang bilang sudah terlanjur?’ Mau nggak mau harus lanjut dan diteruskan meski terseok-seok.

“Maaf Rumi, aku belum bisa bersama kamu dengan baik. Aku menerima kamu… karena tak enak sama Bunda. Maaf jika aku harus jujur.” Setidaknya alasan itu lebih manusiawi ketimbang bilang ia belum move on dari mimpi mendapatkan Arini.

Terngiang kalimat itu esok paginya setelah Arfan dan Rumi melewati malam pertama dengan tidur berseberangan. Arfan di kasur pengantin, Rumi gelar karpet di depan TV. Persis kebiasannya saat di tempat kost dulu.

Bagaimana rasanya mendengar kalimat itu? Rumi seperti terlempar dari balkon ketinggian sepuluh lantai. Tapi ia harus bisa menguasai keadaan. Tak mungkin baru 2 hari menikah ia langsung memikirkan cerai dan nasib menjadi janda. Gelar janda muda sungguh tak elegan rasanya. Apalagi jika karena cerai.

“Apa Mas Arfan bisa jelaskan alasan membenciku?. Bukankah kita tak saling mengenal sebelumnya?”
“Aku tak membencimu, tapi aku belum bisa menerimamu. Entah sampai kapan tahu. Tapi setidaknya aku tak mengecewakan Bunda. Kamu pernah kenal dengan Bunda. Ibuku punya riwayat penyakit jantung sejak remaja.”
“Ooh…jadi kamu menerimaku karena Bunda?. Baiklah…” sela Rumi.
“Baiklah apa?” tanya Arfan.
“Kita bersikap seperti teman saja kalau begitu. Atau….sepasang sahabat.”

Arfan menyipit. Tapi bolehlah. Belajar dulu sebagai sepasang teman.

“Aku tak marah jika kamu membenci sikapku, Rumi. Bencilah saja sesukamu….”
“Sayangnya aku tak biasa membenci orang tanpa alasan kuat, setidaknya harus ada sepuluh alasan.” Rumi beretorika.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Gendhis Ayu – #Part_10/18

Bu Harjo menghambur ke pelukan Nawang, didekapnya Nawang dengan erat seolah dirinya telah lama tak bersua dengan gadis cantik ini. Sejenak suasana haru dan bahagia menyelimuti warga yang ada dipendopo itu…

Gendhis Ayu – #Part_09/18

Dari jauh terlihat seorang wanita tua tengah duduk dikursi rotan yang telah menghitam di teras sebuah rumah kecil.. Bibirnya mengepulkan asap, mata sipitnya yang cekung termakan usia memandangi Galih dan Ajeng bergantian..

Memilih Bidadari – #Part_11/11 (TAMAT)

Rumi membantu menyiapkan baju yang akan dibawa Arfan ke luar kota selama seminggu. Sebenarnya sudah biasa ia akan ditinggal selama itu. Namun karena tiga hari ini wajahnya mendung gegara kejadian terima kunci mobil dari Arini kemarin, Rumi agak tak enak melepasnya…