Madu Pernikahan (Pelangi Untuk Zahra) – #Part_01/17

"Mbak Zahra, terima kasih telah menerimaku sebagai adik madumu. Semoga hubungan kita tak hanya sebatas antar madu, tapi bisa menjadi saudari seutuhnya."

“Ibu rasa sudah tak ada lagi yang perlu didebat. Zahra, kau sadar kan, atas kekuranganmu?”

Aku menundukkan wajah, menyembunyikan air mata yang jatuh satu-satu dipangkuan, membasahi jilbab warna magenta yang kukenakan. Hanya bisa mengangguk tanpa suara, bisa apa aku pada keputusan sepihak yang mereka buat? Tangan Mas Hamdi meraih jemari ini, menggenggamnya erat seolah hendak memberi kekuatan. Percuma, perasaanku terlanjur hancur! Ditengah penantian menunggu buah hati yang tak kunjung datang, perintah untuk berpoligami itu datang dari Ibu mertua.

Memporak porandakan semua anganku akan indahnya mahligai rumah tangga yang kubangun bersama Mas Hamdi.

“Kalau begitu Ibu pulang dulu. Hamdi, bersiaplah. Besok malam kita akan temui keluarga calon istrimu.”

Nada bicara Ibu datar, tapi mampu mencabik-cabik hati yang telah rapuh ini.

“Iya, Bu.” Kudengar Mas Hamdi menjawab.

Aku masih menunduk, bahkan sampai suara kendaraan mertuaku terdengar menjauh.

“Maafkan Mas, Zahra.”

Mas Hamdi tahu-tahu berlutut di depanku, tangannya perlahan mengusap air mata yang menganak sungai di pipi. Aku makin sesenggukan. Perih makin menyayat, membayangkan tak lama lagi dia tak kan menjadi milikku seorang. Aku diam mematung di pinggiran ranjang. Mas Hamdi mematut dirinya di depan cermin yang terpasang pada lemari pakaian. Dia mengenakan baju koko putih, yang kubelikan sebagai kado ulang tahunnya tiga bulan yang lalu. Suamiku terlihat tampan! Kupandang lagi wajahnya, mencoba meneliti adakah rona bahagia disana? Malam ini dia akan menemui keluarga calon istrinya, calon maduku.

Mas Hamdi berputar arah menghadapku. Melihat aku yang tengah memperhatikannya, dia tersenyum tipis. Langkahnya mendekat, mengangkat wajahku dengan kedua tangan lalu mengecup keningku lembut. Ah, dada ini kembali sesak, perih seperti dipenuhi pecahan kaca di dalamnya. Mata itu menatapku dalam, tapi mulut kami saling diam, seperti sedang menyelami perasaan masing-masing.

“Mas mencintaimu Zahra, dan akan selalu begitu. Kamu percaya, kan?” Ucapnya.

Aku gamang, masih diombang-ambing perasaan. Sebagian hati ingin percaya, namun sebagian lagi mengingkari. Tak yakin apakah dia bisa konsisten dengan ucapannya barusan.

Tok … tok … tok
Ketukan di pintu membuat kami sama-sama menoleh. Mas Hamdi melepaskan tangannya dari wajahku, lalu berjalan ke arah pintu untuk membukanya.

“Pak, punten… Ibu sudah menunggu di depan.

Bi Odah, asisten rumah tangga kami berkata.

Ternyata Ibu mertua sudah tiba, bersiap membawa Mas Hamdi pada calon menantu baru yang dipilihnya untuk menjadi madu dalam pernikahan kami.

“Bilang Ibu sebentar lagi saya siap,”

Ucap Mas Hamdi, lalu kembali menutup pintu setelah Bi Odah pergi.

“Zahra ….”
“Pergilah, Mas. Jangan buat Ibu menunggu. Aku akan menunggu kamu pulang,” potongku.

Mas Hamdi terlihat gamang. Aku tahu ini juga tak mudah baginya, tapi aku juga tak bisa menjadi penghalang baginya untuk berbakti pada orangtua. Perempuan itu bernama Jannah, seorang gadis muda dengan paras rupawan. Dia juga anak seorang pemuka agama yang dikenal oleh Ibu Mas Hamdi yang rajin mengikuti tausiyah Ayahnya. Pernikahan Mas Hamdi dan Jannah dilangsungkan secara sederhana. Hanya berupa akad dan selamatan kecil-kecilan serta hanya mengundang kerabat terdekat saja.

Aku juga turut hadir disana, menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri ketika suamiku mengkhitbah wanita lain. Berusaha menegarkan hati, kutahan air mata agar tak sampai jatuh. Ketika berpasang-pasang mata di sekeliling menatap penasaran padaku, aku mencoba menegakkan kepala, seakan ingin menunjukkan pada mereka bahwa aku baik-baik saja. Bahwa aku tegar dan ridho atas pernikahan kedua suamiku, meski sebenarnya hati ini telah remuk redam hingga tak lagi punya rasa.

Jannah dan Mas Hamdi menghampiriku, perempuan yang telah sah menjadi istri Mas Hamdi itu meraih tanganku, lalu menciumnya
Sedikit terkejut dengan apa yang dilakukannya, tapi Mas Hamdi memberi isyarat agar aku patuh saja

“Mbak Zahra, terima kasih telah menerimaku sebagai adik madumu. Semoga hubungan kita tak hanya sebatas antar madu, tapi bisa menjadi saudari seutuhnya.”

Suara Jannah begitu lembut, begitu selaras dengan paras ayunya. Aku mengangguk dan mengukir seulas senyum. Jannah memelukku erat sesaat, lalu melepasnya lagi.

Mereka kemudian meninggalkanku untuk menyalami tamu lainnya, Aku merasa menjadi manusia paling munafik hari ini. Memasang senyum padahal hati terluka parah, mengangguk padahal batin meronta-ronta. Wanita mana yang sudi berbagi suami? Berbagi kasih sayang juga berbagi kehangatan. Menunggu di sini hingga acara usai sungguh menyiksa, menyaksikan wanita lain berbahagia bersama suamiku di sana, menerima ucapan selamat dari semua orang, sementara perasaan ini hancur hingga nyaris menjadi serpihan.

Andai bisa, ingin rasanya kutinggalkan tempat ini. Berlari entah kemana, membawa semua luka, tanpa sadar aku membelai perutku. Sebuah kesadaran timbul dalam pikiran. Semua mimpi buruk ini tak kan pernah terjadi andai aku bisa melahirkan seorang keturunan, penerus keluarga Mas Hamdi

“Zahra.”

Aku menoleh, Ibu Mas Hamdi melempar senyum hangat padaku, lalu berjalan mendekat

“Terima kasih, ya?” Dia meraih kedua tanganku, menggenggamnya erat

Aku tahu maksud ucapan terima kasih tadi untuk apa

“Ibu tahu ini sangat berat bagimu, Nak. Tapi Ibu bangga karena kau tak egois. Hamdi butuh seorang keturunan, terlebih dia anak kami satu-satunya.” Ibu Mas Hamdi berkata

“Kau tahu Zahra, surga adalah balasan untuk istri yang patuh sepertimu.” Mata itu menatapku dalam, dengan bibir melengkungkan senyuman.

“Aamiin. Insya Allah, Bu.” Hanya itu jawabku.

Dia tak tahu bagaimana aku melawan pergolakan batinku, menahan segenap kepedihan yang meluluh-lantakkan perasaan. Hingga tubuhku rasanya gemetar karena menahan itu semua

“Kau akan selalu menjadi menantu Ibu, Zahra. Pengorbananmu hari ini tak kan pernah Ibu lupakan.” Wanita setengah baya itu memelukku erat, membelai lembut punggungku, sekaligus menghujam jantungku

***

Dengan gontai aku berjalan menuju kamar. Acara telah usai dan aku harus pulang sendiri karena malam ini Mas Hamdi akan menginap di kediaman orangtua Jannah, istri barunya. Rumah terasa sunyi, mata ini menyapu setiap sudut kamar, mengenang kebersamaan bersama Mas Hamdi yang dulu kerap kami lewatkan. Aku duduk di sisi ranjang, menyentuh seprai, mengenang setiap kehangatan yang dulu sering kami reguk bersama. Tapi semua itu dulu. Hari-hari ke depan sudah dapat dibayangkan, dia tak lagi menjadi milikku seorang.

Bahkan malam ini pun tubuhnya akan terjamah oleh perempuan lain. Kupejamkan mata saat bayangan menyakitkan itu melintas. Air mata ini perlahan jatuh, aku terluka, sangat! Dari setetes, tangisku kian menjadi. Sesenggukan di dalam kamar yang sepi, kutumpahkan semua duka di sini sendiri. Puas menangis hingga mata dan hidung terasa bengkak, kuputuskan untuk mandi membersihkan diri. Baru saja hendak meraih handuk yang tergantung di belakang pintu kamar, terdengar ponselku berbunyi.

Aku terkesiap ketika melihat nama di layar ponsel yang berbunyi itu. Mas Hamdi? Kenapa dia justru menelepon di saat ia seharusnya menjalankan kewajibannya sebagai suami Jannah? Aku masih memandangi layar ponsel dengan mata tak berkedip, hingga layar itu mati sendiri. Belum sempat aku meletakkan kembali ponsel, kembali panggilan itu masuk. Dari nomer yang sama, nama Mas Hamdi kembali muncul di layar ponsel yang menyala

“Assalamualaikum, Mas,” sambutku menjawab teleponnya

Kuatur suara agar terdengar biasa, supaya isi hati yang sebenarnya tak kentara

“Waalaikumsalam. Sayang, kamu sudah sampai di rumah?”

Suara itu begitu merdu di telinga. Hati ini pun kembali bagai disayat

“Iya, Mas. Ini baru mau mandi.”

Aku menjawabnya, masih kubuat suara terdengar setenang mungkin.

“Sayang?” Panggilnya lagi

Aku hampir terisak mendengarnya. Apakah benar dia masih mencintaiku? Ataukah panggilan itu hanya untuk sekedar menghibur?

“Ya, Mas?” balasku
“Besok Mas akan pulang. Kamu nggak apa kan malam ini sendiri?”

Bukan cuma malam ini, Mas. Malam-malam lain pun akan kulalui dengan sama,’
Batinku sedih.

“Iya, Mas. Nggak apa-apa. Sudah ya, aku mau mandi dulu,”

Ucapku yang lagi-lagi dusta.

“I love you, Sayang.”
“I love you too, Mas,” Balasku lagi.

Lalu kututup telepon setelah kami saling mengucapkan salam,
Dan aku pun kembali menangis dalam kepiluan.

…Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…