Madu Pernikahan (Pelangi Untuk Zahra) – #Part_17/17

Raihan meski bukan lelaki romantis, namun segala sikapnya yang manis membuat hati ini senantiasa berpelangi. Hariku kembali penuh warna. Ritme hidup pun terasa kembali berirama...

Ibarat pepatah bilang, sehabis hujan akan muncul pelangi. Begitulah yang kurasakan sedang terjadi padaku saat ini. Setelah semua rangkaian peristiwa yang menguras airmata dan menyakiti hati, kini kutemukan kebahagiaan dalam kebersamaanku dan Raihan. Dilengkapi dengan kehadiran Claire yang sudah kuanggap seperti anak kandung sendiri.

Raihan meski bukan lelaki romantis, namun segala sikapnya yang manis membuat hati ini senantiasa berpelangi. Hariku kembali penuh warna. Ritme hidup pun terasa kembali berirama.

Raihan menjalani pekerjaannya seperti biasa, terbang ke berbagai kota dan negara, dalam tugasnya sebagai pilot membawa para penumpang. Aku pun tetap mengelola bisnis toko kue milikku. Hanya saja, kegiatanku bertambah karena aku kini mempunyai tanggung jawab baru, yakni menjaga dan merawat Claire.


Pagi ini aku bangun dengan kepala yang terasa pusing. Rasa mual mendesak ingin muntah saat aku sedang menggosok gigi. Kupikir, mungkin sedang masuk angin saja atau maag-ku sedang kambuh.

Hingga menjelang siang, aku hanya bisa terbaring di atas kasur tanpa bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Beruntung, Raihan sedang libur. Jadi ada yang menjagaku di rumah. Memang sih ada Bi Odah, tapi rasanya jelas berbeda ketika berada dekat dengan suami tercinta.

“Kita ke dokter saja, ya?” Tawar Raihan sambil memandangiku cemas.
“Nggak perlu. Paling bentar lagi baikan, Rai.”
“Hmm … kumat deh, keras kepalanya.”

Dia mencebikkan bibir yang membuatku justru jadi gemas.

Aku tertawa lirih melihat suamiku mencebik begitu. Namun tiba-tiba rasa mual itu kembali menyerang tanpa ampun. Segera aku bangkit dan sedikit terhuyung menuju kamar mandi. Di atas wastafel, aku memuntahkan segala isi perutku. Raihan menyusul sambil membawa sebotol minyak kayu putih yang kami punya.

“Ayo, jangan bandel, deh! Kita ke dokter sekarang. Kamu tuh nggak lagi baik-baik saja, Zah.” Raihan mengultimatum, dan aku tak dapat lagi mengelak.

Sampai di rumah sakit, kami langsung menuju bagian pendaftaran untuk berobat ke poli umum karena aku merasa tak ada yang spesifik dalam sakitku kali ini. Hanya rasa mual dan pusing yang tak kunjung hilang sejak bangun tidur tadi.

“Maaf Ibu, terakhir kali haid kapan?” Dokter bertanya setelah mendengar keluhan penyakitku.

Aku mencoba mengingat-ingat sambil sesekali menatap Raihan. Dan baru kali ini aku menyadari bahwa aku seharusnya mendapat haid sekitar dua minggu lalu. Itu berarti sudah dua minggu aku telat.

Setelah kujelaskan, sang dokter pun tersenyum.

“Mungkin sebaiknya Ibu dan Bapak ke bagian ginekolog saja. Mual dan pusing bisa jadi banyak faktor penyebabnya, salah satunya mungkin kehamilan. Maka untuk lebih memastikannya, lebih baik periksa ke spesialis kandungan, ya?” Jelas sang dokter panjang lebar.

Aku melongo mendengarnya dengan pikiran yang berkecamuk tak tentu arah. Apa iya? Rasanya nggak mungkin, ah. Tapi aku juga berharap bahwa aku benar-benar hamil meski kemungkinan untuk kecewa pun ada jika ternyata aku hanya sekedar masuk angin.

Kurasakan tangan Raihan menggenggam tanganku.

“Terima kasih, Dokter. Kami akan ke dokter kandungan sesuai saran Dokter barusan.” ucapnya.

Sang dokter tersenyum ramah ketika kami akhirnya pamit sebelum ke luar dari ruangannya.


Baru kali ini aku merasa yang benar-benar gelisah sambil menunggu hasil test pack yang diberikan asisten dokter kandungan padaku. Menit berlalu terasa lambat dengan debaran yang tak kunjung mereda. Di samping memikirkan perasaanku sendiri, aku lebih takut mengecewakan Raihan. Bagaimana jika hasilnya ternyata negatif?

“Tenang dong, Sayang. Dari tadi mukanya tegang gitu….” Bisik Raihan.

Mungkin dia menyadari sikap serta gesture-ku yang tak tenang disertai gelisah.

“Gimana nggak tegang? Aku takut jika nanti hasilnya tak sesuai harapan kita.” jawabku lirih.
“Ssh… jangan gitu. Pasrahkan sama Allah saja.” Raihan merengkuh pundakku, menariknya, agar posisi kami lebih berdekatan.

Tak lama, sang perawat memanggil namaku untuk masuk kembali ke ruangan periksa. Aku melangkah seakan tak menginjak lantai, hanya tangan kokoh Raihan yang bisa kurasakan sedang menggenggam tanganku.

“Selamat ya, Bapak dan Ibu, hasilnya positif …” ujar dokter kandungan memberi kabar gembira itu. Shock, kaget, tak percaya, senang, dan haru, semua bercampur baur jadi satu.

Bahkan saking terharunya, aku sampai menangis karenanya. Sungguh, Allah seperti sedang memberi mukjizat-Nya padaku. Allahuakbar… Allahuakbar… ucapku dalam hati berkali-kali.

Tak kudengar lagi penjelasan dokter setelahnya saking bahagianya aku saat ini. Rasanya ingin kukabarkan pada seluruh tentang kehamilan ini saat ini juga.

Di rumah, Raihan memelukku erat, lalu memintaku beristirahat setelah meminum vitamin serta penguat janin dari dokter tadi.

Aku yang masih larut dalam euforia kebahagiaan, rasanya tak sanggup memejamkan mata sedikit pun. Tak henti kuucap puji syukur pada Ilahi.
Sungguh tak dinyana, penantian ini akhirnya terjawab setelah sembilan tahun lamanya. Alhamdulillah….

Buah kesabaran ini kupetik justru pada pernikahanku yang kedua.

Mendengar kabar bahagia tersebut, Ibu mertua pun datang untuk mengucapkan selamat. Beliau juga mengkhawatirkan aku jika nanti harus sendirian tanpa Raihan jika suamiku itu harus kembali bekerja.

Ibu bahkan menawarkan diri untuk membantu dan menginap di rumah jika Raihan tak di rumah. Bukannya aku keberatan Ibu menginap di sini, tapi aku sungguh segan jika harus merepotkan beliau.

Lagi pula, ada Bi Odah yang selalu standby di rumah untuk membantuku. Dan aku juga tak ingin terlalu manja dan hanya pasif saja tanpa melakukan aktivitas.

Trimester ke dua sudah aku lewati. Usia kandunganku sudah masuk tujuh bulan kini. Bahagianya karena setiap kali check up ke dokter, dinyatakan bayi dalam kandunganku dalam kondisi baik dan sehat.

Semua tak lepas dari peran suami dan juga Ibu mertua yang selalu perhatian dan peduli. Allah sungguh baik, tidak saja menganugerahi dengan suami baik, tapi juga mertua serta anak sambung yang penuh kasih sayang.


Alhamdulillah, proses persalinanku berjalan lancar melalui proses normal. Seorang bayi laki-laki hadir melengkapi kebahagiaan kami. Aku dan Raihan sepakat menamai putra kami itu dengan nama Ghaisan Rafasya Ghifari.

Sepasang putra dan putri telah kami menyempurnakan mahligai pernikahan kami. Kendati telah memiliki Raffa, panggilan untuk putra kami, aku sama sekali tak mengurangi kasih sayang untuk Claire. Bagiku, baik dulu, sekarang, dan selamanya, dia tetaplah putri pertamaku yang sangat berharga dan kucintai.

Meski tak terlahir dari rahim yang sama, jelas sekali Claire sangat menyayangi adik lelakinya. Sikapnya pun kian dewasa, menunjukkan dia telah siap untuk menjadi seorang kakak yang baik bagi adiknya kelak.


Aku baru saja selesai menyusui Raffa ketika ponselku berdering. Segera kuambil ponsel dan menjawabnya setelah kulihat nama Jannah sebagai peneleponnya. Di samping itu, aku tak mau jika Raffa sampai terbangun karena mendengar bunyi ponsel.

“Assalamualaikum, Jannah.” ucapku memberi salam setelah panggilan kujawab.
“Wa-waalaikum-sa-salam, Mbak ….”

Agak terkejut aku mendengar suara Jannah yang menjawab terbata-bata seperti orang yang sedang menangis.

Apa gerangan yang terjadi pada mantan maduku itu setelah lama aku tak mendengar kabar beritanya, juga Mas Hamdi, mantan suamiku?

“Apa kabar, Jannah? Tumben menelepon?”

Aku bertanya dengan nada biasa, pura-pura tak hirau dengan isak tangisnya yang tertangkap telinga. Namun Jannah justru makin menegaskan suasana hatinya yang sepertinya sedang bersedih itu dengan tak malu-malu lagi menyembunyikan tangisnya.

“Jannah, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?”

Tak urung, kuungkap juga rasa penasaran ini.

“Mbak Zahra, aku-aku mau minta maaf sama, Mbak. Se-sekarang, a-aku sudah merasakan apa y-yang Mbak rasakan dulu …” ucapnya di antara sedu sedan.
“Apa maksudmu, Jannah? Kamu baik-baik saja, kan?” Tanyaku khawatir.

Benar-benar khawatir pada perempuan yang pernah menjadi seteru-ku itu.

Tangis Jannah terdengar memilukan hati. Sepertinya dia tengah dilanda kepedihan yang tak main-main.

“Jannah, tenanglah dulu. Ceritakan padaku pelan-pelan …” bujukku lembut.
“M-Mas Hamdi, te-telah menikah lagi, Mbak … huhuhu …!”

Ucapan Jannah terdengar bagai petir di siang bolong di telinga. Bagaimana bisa? Apa yang telah terjadi pada mereka? Bukankah Jannah telah memberinya seorang anak? Apa lagi yang dicari Mas Hamdi?

“Mbak Zahra … bayiku meninggal dunia ke-ketika di-dilahirkan. Dan, kata dokter rahimku harus diangkat karena mengalami infeksi. I-ibu, Ibu Mas Hamdi sekarang melakukan hal yang sama padaku, seperti yang dilakukannya padamu dulu, Mbak. Dia … mencarikan istri untuk suamiku agar bisa memperoleh keturunan. Huhuhu …!”

Tangis Jannah kembali pecah. Sedang aku hanya bisa tertegun diam seribu bahasa. Aku bingung memilih kalimat, karena kabar ini sungguh membuatku ikutan shock.

Ya Allah… apa ini? Sungguh, aku tak pernah mengharap keburukan bagi mereka meski dulu aku dizholimi. Tapi apa yang terjadi sekarang sungguh menyadarkanku sebagai manusia biasa, bahwa roda kehidupan itu terus berputar.

Bumi juga tetap bergerak pada porosnya, menyebabkan ada siang dan ada juga malam. Dulu aku yang merasakan tekanan demi tekanan oleh sikap Ibu mertua dengan menghadirkan Jannah sebagai madu untuk suamiku. Dan kini, tanpa disangka-sangka, keadaan yang serupa tengah dialami oleh Jannah. Ibu Mas Hamdi, lagi, menghadirkan orang ketiga dalam pernikahan Jannah dengan Mas Hamdi.

Aku hanya bisa mendoakan supaya Jannah tetap kuat menjalaninya. Satu hal yang kusyukuri dalam hidup ini, Allah tak pernah melepaskanku sendirian. Allah bahkan seakan memberiku reward atas kesabaran dan ketabahanku dulu, melalui kehadiran Ghaisan Raffasya Ghifari, putra tercinta yang kini sedang lelap dalam peraduannya di sebelahku.

TAMAT

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…