Madu Pernikahan (Pelangi Untuk Zahra) – #Part_16/17

Kalimat Raihan terus terngiang-ngiang sepanjang aku berkendara menuju pulang. Ya, dia benar. Aku harus melepaskan hal-hal yang membuatku sakit selama ini. Sudah saatnya melangkah sendiri meski jalan di depan mungkin saja terjal.

“Lepaskan apa yang membuatmu sakit. Hidupmu terlalu berharga untuk disakiti orang lain. Jangan khawatirkan tentang rasa sepi yang selalu kau takuti, karena masih banyak orang di sekelilingmu yang mencintai.”

Kalimat Raihan terus terngiang-ngiang sepanjang aku berkendara menuju pulang. Ya, dia benar. Aku harus melepaskan hal-hal yang membuatku sakit selama ini. Sudah saatnya melangkah sendiri meski jalan di depan mungkin saja terjal.


Malam ini aku bangun di sepertiga malam untuk melaksanakan sholat sunnah tahajjud. Kulanjutkan dengan sholat istikharah agar hati tak terus di ombang-ambing oleh perasaan tak menentu. Berharap Allah memantapkan hatiku dalam menentukan keputusan besar yang akan kuambil dalam hidupku.

Hari-hari kembali kujalani dengan hati yang lebih ringan. Telah kusingkirkan beban berat yang selama ini menjadi ganjalan. Jiwaku terasa seringan kapas, seiring keputusan yang telah kupilih untuk masa depanku.

Raihan kembali bertugas. Sesekali Claire datang ke toko dan menemuiku dengan diantar oleh Ibunya Raihan. Wanita yang belum sempat kutemui ketika masih menjadi cinta monyet putranya di jaman SMA dulu.

Ibunya Raihan sangat ramah sehingga aku mudah mengakrabkan diri. Di wajahnya yang selalu menebar senyuman itu, masih menyisakan garis-garis kecantikan sisa masa mudanya. Di samping itu, dia juga banyak memiliki kemiripan wajah dengan Raihan.

“Nak Zahra, apa tidak merepotkan kamu nantinya?” Ibunya Raihan bertanya ketika Claire merengek ingin bermain ke rumahku di akhir pekan.
“Sama sekali enggak, Bu. Saya malah senang ada temannya.” jawabku sambil tersenyum.

Ibunya Raihan balas tersenyum, namun wajahnya menyiratkan kekhawatiran, persis seperti Raihan kemarin saat hendak menitipkan Claire di rumahku.

“Ibu jangan khawatir. Claire anak yang pintar dan juga penurut. Saya sama sekali tidak merasa berat atau repot menjaganya.” tambahku lagi.

Sekedar untuk meyakinkan Ibunya Raihan agar dia tak perlu merasa sungkan. Kedua mata ibu Raihan tiba-tiba menatap sendu.

“Kamu gadis yang baik, Nak. Andai saja Raihan mendapat pengganti jodoh sebaik kamu. Lagi pula, kasihan Claire, sering ditinggal papanya. Ia sebenarnya merasa kesepian, hanya berteman kami, nenek dan kakeknya di rumah.” keluhnya dengan pandangan menerawang.

Ada perasaan senang mendengar ucapan Ibunya Raihan. Tapi aku tak mau terlalu besar kepala. Takut kecewa jika rasa ini hanya bertepuk sebelah tangan.


Tepat dua pekan pasca pembicaraanku dengan Raihan tempo hari, aku pun memutuskan untuk menggugat cerai Mas Hamdi di Pengadilan Agama.

Lelaki itu sangat terkejut sekaligus murka begitu surat panggilan dari pengadilan sampai ke tangannya. Tak membuang waktu, dia langsung datang menemuiku di rumah.

“Apa ini, hah?!” teriaknya sambil melemparkan kertas surat dari pengadilan itu ke wajahku.

Bi Odah yang melihatnya menatapku dengan pandangan ngeri. Tapi kuberi dia isyarat untuk masuk ke dalam.

“Surat gugatan, Mas. Aku minta cerai.” Kujawab dengan tenang pertanyaannya, karena memang sudah memperkirakan hal ini akan terjadi.
“Kenapa kamu minta cerai? Kenapa? Pasti karena laki-laki itu, kan? Kau minta cerai supaya bisa bersama dia?!” Bentaknya kasar.

Wajahnya pun terlihat gusar.

“Keputusanku ini telah kupertimbangkan matang-matang, Mas. Setelah kupikir-pikir, apa yang kita jalani sekarang ini, aku sama sekali tak ikhlas, Mas. Jika awalnya aku setuju Mas menikah lagi, itu karena aku tak mampu melawan keinginan Ibumu.” Kucoba menjelaskan pada mas Hamdi.

“Jangan mengalihkan isu!” Hardiknya lantang. Matanya melebar marah dengan dada naik turun karena amarah.
“Mas, akuilah. Jika ini terus kita paksakan, bukan surga yang kita dapat, tapi neraka! Aku sebagai istri yang diduakan, terus saja makan hati dengan perlakuan Mas yang tak adil. Dan Mas sebagai suami yang beristri lebih dari satu juga tak dapat menjalankan amanah dengan baik.”

Aku menukas cepat. Entah bagaimana, sikap kasar mas Hamdi berhasil memantik emosiku. Cepat aku beristighfar dalam hati.

Aku hanya ingin bercerai darinya. Titik. Jangan sampai aku turut memanas hingga berujung merugikan diri sendiri.

“Berbahagialah dengan Jannah, Mas. Dia perempuan pilihan Ibumu. Kamu anak lelaki satu-satunya, padamu lah Ibu menggantungkan segala harapan. Dikakinya pula terletak surgamu, Mas. Ridhonya akan menjadi ridho Allah juga, niscaya kamu akan bahagia bersama Jannah.”

Aku coba melunak. Bertahun-tahun menjadi istrinya, aku paham watak suamiku ini. Keras tabiatnya hanya bisa diluluhkan dengan kata-kata lembut. Akan lebih mudah meresap dalam hatinya ketimbang kuimbangi dengan sama-sama keras.

Wajah Mas Hamdi yang tadinya mengeras, kini berubah sendu menatapku. Dia jatuh berlutut di bawah kaki ini. Spontan saja aku melangkah mundur.

“Tapi Mas hanya mencintaimu, Zahra. Maafkan Mas karena selama ini banyak menyakitimu.” Mas Hamdi berkata dengan suara bergetar.

Dia menekan kedua matanya dengan jari, menahan air mata yang hampir tumpah. Mau tak mau hati ini pun terenyuh dibuatnya.

“Tolong, Sayang… beri Mas kesempatan sekali lagi. Mas janji akan berubah dan bisa berlaku adil padamu dan Jannah.”

Lelaki itu memohon. Tapi keputusan ini sudah bulat. Aku tetap bergeming meski air matanya telah tumpah. Sesakit-sakitnya dia sekarang, masih belum sebanding dengan perih yang selama ini kutahan.

Aku memang kecewa, namun tak pernah membencinya. Bagaimana pun, kami pernah saling mengisi hati masing-masing, dan dalam waktu yang tak bisa dibilang sebentar. Tentu rasa sayang untuknya masih tersimpan dalam salah satu ruang, di sudut hati. Namun sekali lagi, keputusanku tak akan berubah.

Bahtera ini harus diakhiri. Sekedar rasa sayang tak cukup sebagai bekal kami untuk terus berlayar. Ada hal-hal lebih dari itu agar kapal tak oleng kanan-kiri lalu karam karena tak kuat diterjang ombak.

“Mas….” Aku menyentuh pundak Mas Hamdi.
“Jika kamu mencintaiku, lepaskanlah aku. Mari kita sama-sama meraih kebahagiaan meski jalan kita tak lagi sama. Ada Jannah dan calon anak kalian yang akan membersamaimu. Sedang untukku, aku hanya bisa menanti apa yang sedang Allah persiapkan untukku di depan nanti.”

“Aku ikhlas melepasmu untuk Jannah, Mas. Demi calon anak kalian, demi masa depan kita semua.” Aku mengakhiri kalimat.

Tanpa terasa mataku juga basah.

Tak dipungkiri, hati ini juga merasakan kesedihan yang mendalam ketika memutuskan mengakhiri mahligai rumah tangga bersamanya.

Mas Hamdi bangkit lalu memelukku erat. Dia menumpahkan air matanya dipundakku. Hal yang seumur hidup baru ini kusaksikan. Dia menangis seperti anak kecil.

‘Tangisanmu sudah terlambat, Mas.’ Aku membatin.

Kudorong tubuhnya perlahan untuk memisahkan diri. Kedua netra kami saling bertatapan dalam kebisuan. Hanya beradu mata tanpa aksara, namun sanggup mewakili semua rasa. Rasa kecewa sekaligus rasa bersalah tak dapat dia tutupi dariku. Terlambat. Hati ini sudah telanjur beku.

“Baiklah, Zahra. Mas akui tak mampu menjadi imam yang baik untukmu. Mas dan Ibu selalu menyakitimu. Dan kamu memang berhak bahagia.” urai Mas Hamdi dengan nada rendah.

“Aku sudah memaafkan semua, Mas. Pun aku yakin ada hikmah di balik ini semua. Terima kasih atas keridhaanmu melepaskanku.”

Akhirnya aku bisa bernafas lega. Mas Hamdi berkenan melepaskanku. Kembali dia memelukku, sembari bibirnya mengucap maaf berkali-kali.


“Mbak, terima kasih karena Mbak Zahra sudah mengabulkan keinginanku.” Suara Jannah terdengar begitu riang saat meneleponku.

Tentunya dia sudah tahu jika aku telah menggugat cerai Mas Hamdi di pengadilan.

“Aku melakukannya bukan untukmu, Jannah. Tapi untuk diriku sendiri. Aku tak mau terus terbelenggu oleh keadaan yang membuat sesak dan tak nyaman.” jawabku tenang.

“Ya, Mbak. Apa pun itu, pokoknya aku mau ucapkan terima kasih sama Mbak Zahra. Semoga kebahagiaan selalu menyertai Mbak Zahra dimana pun berada.”

Terlepas dari tulus tidaknya ungkapan Jannah barusan, aku tetap mengaminkannya. Toh doa yang baik wajib kita amini, bukan?

Setelah ketok palu putusan perceraian kami secara sah di mata hukum negara dan agama, aku merasa terlahir kembali menjadi manusia baru. Telah kulempar jauh semua kenangan pahit yang membuat jiwa ini terkurung dalam duka dan kesedihan.

Alih-alih merasa sedih karena menyandang status baru sebagai janda, aku justru merasa plong dan bahagia. Sesuatu yang sepertinya sudah lama tak kurasakan.


Hujan masih menyisakan gerimisnya di hari Minggu. Aku duduk di depan layar televisi sambil menikmati secangkir milo hangat buatan Bi Odah.

Tiba-tiba saja ponsel yang kuletakkan di atas meja berbunyi. Sebuah panggilan video masuk. Dari Raihan. Jantung ini mendadak berdegup lebih kencang. Tak biasanya orang ini melakukan panggilan video.

Duh, mana penampilan lagi amburadul gini setelah sepagian ini aku dan bi Odah beberes isi lemari untuk memisahkan sisa barang-barang Mas Hamdi yang masih tertinggal.

Blingsatan sendiri, akhirnya kusentuh juga tombol ‘answer’ di layar ponsel.

Alih-alih wajah Raihan yang muncul di layar, melainkan wajah Claire yang terpampang disana.

“Assalamualaikum, Tante …!” Serunya penuh semangat, seperti biasa.
“Waalaikumsalam, Claire.”
“Tante, aku udah di depan rumah Tante nih. Bukain pintunya, dong.”

‘What?’ batinku kaget campur senang.

Aku meneliti latar di belakang wajah Claire yang memang tampak familiar. Backgroundnya adalah taman depan rumahku sendiri

“Oke, tunggu sebentar, ya?” Ujarku, lalu segera bangkit dari posisi.
“Halo, Tante!” Claire berseru setelah aku membuka pintu rumah. Di belakangnya ada Raihan yang memasang tampang jail. Dasar.

“Kok ke sini nggak bilang-bilang dulu, sih?” rungutku.

Lebih keperasaan sebal karena aku dalam kondisi acak-acakan.

“Sengaja. Lagian, jones kayak kamu pastilah stay di rumah aja weekend gini.” Dia menjawab asal dengan tatapan yang seakan menggoda iman.

Raihan benar-benar tengil. Aku melotot padanya sambil melempar tatapan gemas. Claire terkikik geli, lalu langsung masuk ke dalam rumah. Anak itu sudah terbiasa di sini, jadi sudah tak canggung untuk bersikap seperti di rumah sendiri.

“Hehehe ….” Ekspresi wajah Raihan pringis-pringis nyebelin.
“Aku nggak di suruh masuk, nih?”

Dia berkata sambil menggaruk-garuk jenggotnya yang mulai tumbuh tipis-tipis.

“Jones di larang masuk!” ketusku.

Raihan tergelak.

“Balas dendam nih yeee..” ledeknya.

Aku menyingkir ke samping agar lelaki jangkung itu bisa masuk ke dalam, lalu kututup pintunya.

Bi Odah kuminta untuk membuat dua gelas milo hangat untuk Raihan dan Claire.

“Wah, enak juga ya santai-santai begini di hari libur. Kita udah kayak keluarga bahagia, lho!” Ujar Raihan yang membuat wajah serasa dialiri rasa panas yang tiba-tiba.

Bi Odah yang duduk sambil menemani Claire, ikut tersenyum sambil melirik ke arah kami penuh arti.

“Apa sih, Paaak….” selorohku.

Kudorong pundaknya pelan.

“Ya nggak ada salahnya kan, dari main keluarga-keluargaan sapa tahu entar jadi keluarga beneran.” Raihan berkata seolah tanpa dosa.
“Aamiinnn…” sambung Bi Odah.
“Rese deh, kamu hari ini, Rai.” Aku mencubit gemas lengannya yang kekar.
“Aku mau Tante Zahra jadi Mama aku.” Sekonyong-konyong Claire berkata, seolah mendukung sikap jahil papanya.
“Tuh, anak kecil aja ngerti maksud aku. Ini yang udah tua malah pura-pura polos.” Raihan berseloroh sambil menunjuk ke arahku.

Duh, aku jadi kebat-kebit tak karuan dibuat oleh mereka. Senang sih, sebenarnya… tapi aku terlalu rendah diri untuk menganggap serius ucapan mereka.

“Iya, kemarin aku ngobrol sama nenek. Katanya mau Tante Zahra jadi mama baru aku.”

Aku melotot tak percaya mendengar pengakuan bocah cilik itu. Nenek? Itu berarti Ibunya Raihan, dong. Iya, kan? Raihan sendiri memandangku dengan tatapan yang entah. Sulit kuartikan, di samping itu aku takut ke-GR an.

“Claire nggak bohong. Mama emang ada ngomong gitu semalam. Terus aku disuruh cepet-cepet ngelamar kamu sebelum keburu kamunya digondol sama Kolor Ijo!”
“Awh… sakit!”

Teriaknya sambil menggeliat ketika kudaratkan sebuah cubitan di pinggangnya.

“Jahil, sih! Kalau ngomong tuh yang serius. Biar aku gak salah nanggepinnya.” Aku pura-pura merajuk.
“Yang becanda siapa? Orang aku serius, kok. Yok kita nikah!” ujar Raihan.

Bi Odah makin lebar senyumnya, seakan dia yang barusan diajak nikah.

“Idih, nggak romantis banget!” rutukku.
“Nggak perlu romantis, yang penting tulus.” ucap Raihan lembut sambil intens menatap mataku.
“Ciyeee … pipinya merah.” Claire berseru lalu cekikikan sambil menunjuk ke arahku.

Aduh ini anak, ternyata jahil kayak bapaknya. Buah jatuh emang tak jauh dari pohonnya, kecuali buahñya digondol codot, kata orang. Ha ha ha.


Pernikahan kedua-ku bersama Raihan diselenggarakan secara sederhana. Hanya dihadiri keluarga terdekat saja, termasuk para karyawan yang bekerja di toko kue milikku.

Sederhana, namun aku merasa sungguh bahagia karena dihadiri oleh orang-orang yang ikhlas menerimaku apa adanya, dengan segala kekurangan dan kelebihanku.

“Rai, apa yang membuatmu mantap menikahiku? Kamu kan tahu, aku ini perempuan yang tak bisa memberikan keturunan.” Ucapku di kamar, saat tengah berduaan saja dengan Raihan yang kini telah bergelar suamiku.

“Sederhana saja. Karena aku mencintaimu. Cinta itulah yang akan menyempurnakan segala kekurangan pasangan kita, Sayang.” jawabnya yang membuat jiwa ini bagai disiram air yang menyejukkan jiwa.

“Tapi, Rai, apa kamu nggak akan menyesal nantinya?” Tanyaku lagi.
“Apa semua perempuan jadi banyak bicara untuk menutupi kegugupan di malam pertama bersama suami mereka?” Raihan berkata sambil memutar kedua bola matanya ke atas.

Dan itu langsung membuat tawaku meledak seketika.

“Ssh… jangan berisik!” bisik Raihan. Sebelah tangannya mematikan saklar lampu yang ada di sisi tempat tidur kami. Ruangan kamar menjadi redup, hanya terkena bias cahaya dari lampu dinding yang temaram.

Bunyi detak jantung ini seakan bertalu-talu. Hatiku berdebar luar biasa, tatkala Raihan merengkuh tubuh ini dalam pelukannya. Dan aku pun larut dalam kepasrahan, menikmati segala keindahan yang dipersembahkan oleh suami tercinta.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Gendhis Ayu – #Part_10/18

Bu Harjo menghambur ke pelukan Nawang, didekapnya Nawang dengan erat seolah dirinya telah lama tak bersua dengan gadis cantik ini. Sejenak suasana haru dan bahagia menyelimuti warga yang ada dipendopo itu…

Gendhis Ayu – #Part_09/18

Dari jauh terlihat seorang wanita tua tengah duduk dikursi rotan yang telah menghitam di teras sebuah rumah kecil.. Bibirnya mengepulkan asap, mata sipitnya yang cekung termakan usia memandangi Galih dan Ajeng bergantian..

Memilih Bidadari – #Part_11/11 (TAMAT)

Rumi membantu menyiapkan baju yang akan dibawa Arfan ke luar kota selama seminggu. Sebenarnya sudah biasa ia akan ditinggal selama itu. Namun karena tiga hari ini wajahnya mendung gegara kejadian terima kunci mobil dari Arini kemarin, Rumi agak tak enak melepasnya…