Madu Pernikahan (Pelangi Untuk Zahra) – #Part_15/17

Sepanjang perjalanan pulang, pikiran ini terus mengembara. Raihan, Mas Hamdi, bahkan Jannah pun melintas bergantian dalam benak. Tiba di rumah, aku mendapati seseorang yang bahkan tak pernah kubayangkan akan bertandang ke sini, sendirian pula...

Sepanjang perjalanan pulang, pikiran ini terus mengembara. Raihan, Mas Hamdi, bahkan Jannah pun melintas bergantian dalam benak.

Aku sadar, yang kurasakan terhadap Raihan ini bukan sesuatu yang bisa dibenarkan. Bagaimana pun pahitnya pernikahan yang kujalani, tentu aku tak boleh melabuhkan hati pada lelaki lain karena aku masih berstatus istri sah dari suamiku, Mas Hamdi.

Sedihnya hidup sebatang kara seperti aku ini, ialah tak punya seseorang untuk berbagi kisah dan keluh kesah. Semua hanya mampu dipendam sendiri. Lama-lama menjadi penyakit yang menggerogoti perlahan sampai habis.

Tiba di rumah, aku mendapati seseorang yang bahkan tak pernah kubayangkan akan bertandang ke sini. Sendirian pula.

“Jannah?” ucapku saat melihat perempuan yang menjadi maduku itu. Dia sedang asyik menekuri ponselnya sambil duduk di ruang tamu. Mendengar suaraku, dia mendongak memandangku. Aku masuk setelah membuka sepatu.

“Sejak kapan kamu di sini? Tumben?” Tanyaku langsung, sambil mengambil tempat di seberang dia duduk.
“Belum lama, Mbak.” Jannah menjawab.

Senyumnya terkembang, sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit. Senyum itu, bukanlah senyum tulus persahabatan, melainkan senyum yang kuartikan dia sedang menghina secara tak langsung.

Seolah menunjukkan bahwa dia telah berhasil menyempurnakan statusnya sebagai istri, dengan mengandung buah cintanya bersama Mas Hamdi. Aku pura-pura acuh, menghindari menatap perutnya. Sengaja kulakukan agar dia tak makin jumawa memamerkan kehamilannya.

“Katakanlah, apa tujuanmu ke rumahku?” Ucapku tanpa tedeng aling-aling.

Lagi-lagi perempuan itu tersenyum, dan aku sungguh muak memandangnya.

“Sebelumnya aku minta maaf kalau kedatanganku mengganggu waktumu, Mbak.”
“Langsung saja, Jannah. Aku tak punya banyak waktu. Sore ini aku ada janji dengan seorang teman.”

Aku menyambar ucapan Jannah dengan tak sabar. Malas sekali mendengarnya bertele-tele seperti itu.

“Dengan pria kemarin, kah?”

Aku spontan mendelik mendengar ucapannya. Kuhadiahi dia dengan tatapan setajam belati. Lancang sekali dia. Bukan urusannya aku mau pergi dengan siapa pun.

“Apa perlunya kujelaskan padamu dengan siapa aku ada janji? Mau bikin cerita baru agar Ibu Mas Hamdi semakin tak menyukaiku?” Sinisku.
“Cerita baru apa maksud, Mbak?”

Aku mendengkus kasar sebelum berkata,

“Kau pikir aku tak tahu siapa yang mengumbar cerita pada Ibu tentang aku dan Raihan?”

Wajah Jannah sedikit memerah mendengar ucapanku yang menyiratkan tuduhan. Perempuan itu tak mengelak, justru dia bisa menguasai diri dengan cepat.

‘Tak tahu malu!’ Aku membatin jengkel.

“Maaf kalau soal itu. Aku tak bermaksud buruk terhadapmu.” Dia berkata kemudian.

Aku mengibas tangan ke udara.

“Sudahlah, cepat katakan tujuanmu kemari. Apa Mas Hamdi tahu kau ke sini? Atau dia yang menyuruhmu?” Kuberondong dia dengan pertanyaan.

Jannah menarik nafas sejenak, seolah dadanya sesak. Padahal aku lah yang dibuatnya sesak. Kedua netranya menatapku, dan aku hanya membalasnya dengan mulut terkunci.

“Seperti Mbak Zahra ketahui, aku sedang hamil saat ini.” Dia kembali mulai bicara.

“Jujur saja, Mbak, menjadi istri kedua itu juga berat tantangannya. Tudingan sebagai perusak rumah tangga orang terus diarahkan padaku. Dan yang terkena imbasnya bukan hanya aku, namun juga keluarga besar, terutama orangtua. Di awal pernikahan dengan Mas Hamdi, beban itu kian bertambah karena dia selalu menutup hatinya padaku.”

“Bukankah itu sudah menjadi resiko bagi setiap perempuan yang menjadi perusak rumah tangga orang?” potongku sinis.

“Aku tidak merusak, Mbak. Ibu Mas Hamdi sendiri yang memintaku menikah dengan anaknya. Dan bukankah Mbak Zahra sudah menyetujuinya?” Jannah menukas, kedua manik matanya menatapku lekat.

“Kalau pun Ibu mas Hamdi memintamu, harusnya kau pun bisa berpikir kenapa harus menikahi lelaki yang telah beristri? Diamku bukan berarti aku setuju, Jannah. Diamku adalah bentuk ketidakberdayaan atas tekanan yang terus menerus kuterima.”

Jannah terdiam, seakan sedang menelaah makna atas jawabanku. Perempuan itu menghela nafas berulang-ulang, seperti ingin mengatur perasaannya yang mulai sedikit kacau.

“Aku tahu awalnya dia menikahiku karena terpaksa. Dia berkali-kali bilang bahwa dia hanya mencintaimu, Mbak. Hingga akhirnya aku mengandung buah cinta kami, perlahan hati Mas Hamdi mulai mencair.” Jeda lagi sebelum dia melanjutkan.

“Aku sendiri tak yakin dia sudah mulai mencintaiku atau tidak. Bisa saja dia berubah demikian karena aku sedang mengandung anaknya. Anak yang tak bisa Mbak berikan selama tujuh tahun pernikahan kalian.” Jannah melanjutkan.

Aku tak bereaksi apa-apa, hanya ingin jadi pendengar saja, sekaligus menunggu dia menuju ke inti soal maksud kedatangannya.

“Mbak, jujur aku takut. Aku takut setelah anak ini lahir, Mas Hamdi akan meninggalkanku dan membawa anakku serta. Pernikahan kami selalu dibayangi olehmu. Dan itu membuatku takut….” lirihnya.

Kali ini dia menatap dengan sorot menghiba.

“Karena itu Mbak, aku kemari. Demi anak yang sedang ku kandung ini, tolong lepaskan Mas Hamdi, Mbak. Agar aku dan calon anak kami bisa berbahagia karena Mas Hamdi tidak lagi memikirkan Mbak Zahra.”

Sungguh aku tak pernah menyangka Jannah sedemikian tamak. Sudah dia masuk sebagai orang ketiga, dia pula ingin menguasai dan memintaku pergi.

“Kenapa kau begitu takut? Bukannya sekarang pun Mas Hamdi sudah melupakanku? Dia pulang kemari dalam sebulan bisa dihitung jari. Bahkan nafkah lahir pun dia sudah tak memberi. Sekarang pun hidupku ini sudah tak ubahnya seperti seorang janda.” Ucapanku terdengar getir bahkan ditelingaku sendiri.

Jannah memandang lurus kedua bola mataku. Seolah masih ada yang ingin diungkapkannya.

“Sebenarnya itu semua karena aku yang membuatnya begitu. Aku mengancam Mas Hamdi akan meminta cerai dan tak mengijinkannya bertemu dengan anaknya lagi setelah bayi ini lahir.”

Keningku langsung berkerut. Aneh sekali si Jannah ini. Dia bilang dia takut ditinggalkan Mas Hamdi, namun dia juga yang mengancam akan meminta cerai pada suami kami itu.

Seolah mengerti apa yang sedang kupikirkan, Jannah buru-buru menambahkan.

“Memang awalnya aku yang mengancam, Mbak. Tapi setelah kupikir-pikir rasanya aku tak kan sanggup kehilangan dia. Kumohon… mengalah lah, Mbak. Biarkan kami bahagia sebagai keluarga tanpa ada wanita lain yang dipikirkan suamiku.”

Suara Jannah tercekat. Kedua netranya mulai basah. Namun perasaan iba sama sekali tak kurasakan. Hanya heran saja, kok ada perempuan se-egois dia.

Jannah menatap penuh harap. Seolah aku mau melepas Mas Hamdi demi kebahagiaan untuk dirinya sendiri.

Mungkin orang seperti Jannah ini tak pernah berempati pada makhluk Tuhan lainnya, seakan hanya dirinya saja yang layak bahagia dan diutamakan tanpa peduli untuk mencapai tujuannya dia harus merampas milik orang lain.

“Aku tak bisa berkomentar atas permintaanmu yang luar biasa itu, Jannah. Jika kau memang mencintai Mas Hamdi, tunjukkan dengan sikap. Laki-laki akan luluh jika diberi kasih sayang yang tulus.”

“Tapi apakah Mbak tak sadar pada kelemahan sendiri? Harusnya Mbak Zahra ngerti, hanya aku yang bisa membahagiakan Mas Hamdi. Aku bisa memberinya anak.”

“Apakah ukuran sebuah kebahagiaan hanya soal keturunan? Apa kau tak tahu di luar sana banyak pasangan yang bercerai meski mereka punya selusin anak, Jannah?”

Ucapanku membuat Jannah bungkam seketika. Sungguh sakit rasanya saat dia mengungkit kelemahanku.

“Perempuan bukanlah hewan ternak, Jannah. Yang mana mereka dikawini hanya sekedar untuk beranak pinak. Setidaknya begitulah pandanganku, tapi aku nggak tahu bagaimana pandanganmu, dan kuakui aku tak bisa memaksakan agar kita satu pandangan” lanjutku.

“Kalau Mbak bukan wanita egois, Mbak pasti mengabulkan permintaanku.” Jannah ternyata perempuan berhati batu. Masih saja kekeuh dengan keinginannya.

“Andai kau sadar kalau Ibu mertua kita menikahkanmu dengan suamiku hanya supaya keturunan mereka berlanjut. Percayalah, jika aku bisa memberinya seorang cucu, dia tak kan pernah menikahkanmu dengan anaknya.” Aku menukas.

“Jangan jadikan dirimu sendiri seperti sapi ternak, Jannah. Sampai di sini semoga kau paham arti kata-kataku. Sekarang pergilah, waktu kita sudah habis.”

Aku berdiri, menunjukkan sikap mengusir secara tak langsung padanya. Wajah Jannah memerah, mungkin tersinggung pada kalimatku yang mengatakan dia seperti sapi ternak tadi.

Siapa suruh dia datang dan mengusik kelemahanku. Kalau sudah dibalas menohok begitu, rasanya pasti sungguh tak nyaman, bukan?

Seolah kehilangan kekuatannya, Jannah bangkit dari sofa. Perempuan berparas ayu itu melangkah gontai dengan bahu terkulai menuju pintu. Sesaat sebelum pergi, dia sempat menoleh namun aku segera buang muka.


“Maaf kalau aku harus membuatmu jauh-jauh ke sini, Zah.”

Aku tersenyum pada Raihan, kemudian mengedarkan pandang ke sekeliling yang menyegarkan mata. Belum pernah aku kesini sebelumnya, namun tak sulit untuk mencari lokasi yang menjadi titik temu yang telah aku dan Raihan sepakati melalui aplikasi Google Maps.

“Nggak apa, pemandangan di sini cukup worthed dengan jarak yang kutempuh.” jawabku santai, lalu menyeruput segelas fruit punch pesananku yang langsung melegakan tenggorokan.

“Pernah ke sini?” Raihan bertanya, menyesap secangkir latte ditangannya.

Aku menggeleng.

“Kamu baik-baik saja, kan?” Tanya Raihan tiba-tiba. Ekspresi wajahnya berubah serius sambil menatap penuh selidik.
“I’m just fine, Rai.”
“People can say lie, but eyes won’t, Zahra.” Ucapan Raihan membuatku diam.

Kupalingkan wajah ke arah pantai lepas di ujung sana. Hari sudah mendekati waktu sunset, ditandai dengan warna langit yang berubah jingga. Warna air laut bercahaya keemasan, tertimpa sinar mentari yang perlahan menuju peraduan.

Aku mendesah tertahan. Gundah. Itu yang kurasakan saat ini. Semilir angin sore yang cukup kencang karena kami kini berada tak jauh dari pantai, memainkan ujung jilbab segitiga bermotif floral yang kukenakan saat ini.

“Aku hanya bingung menentukan sikap, Rai.” ucapku akhirnya, sambil kembali menatap sepasang mata elang kecoklatan di hadapanku.
“Tentang pernikahanmu?” tebaknya.

Aku mengangguk. Rasanya pun sudah tak ada gunanya disembunyikan. Percuma pura-pura bahagia, karena jujur hatiku saat ini tak sedang baik-baik saja.

“Seperti kamu tahu, Rai. Suamiku menikah lagi. Awalnya karena desakan Ibunya yang sudah tak sabar menimang cucu, sedang rahim ini tak kunjung berbuah.” Dengan mengabaikan rasa perih, aku mulai bercerita.

“Tak ada perempuan mana pun yang rela dimadu, Rai. Butuh keikhlasan dan hati lapang luar biasa untuk menjalani hidup poligami. Dan sepertinya… aku tak punya kapasitas untuk itu.” Aku tersenyum getir lalu menunduk menatap gelas minumanku yang sudah sisa setengah.

Raihan menyimak, tak dipotongnya sedikit pun kalimatku, dan itu membuatku merasa nyaman untuk mencurahkan segala kisah.

“Siapa sih Rai, yang tak ingin punya anak? Salah satu tujuan menikah memang untuk melanjutkan keturunan, namun apakah itu harus jadi esensi utama dalam sebuah pernikahan? Lalu apakah itu salahku jika aku tak kunjung hamil sedang segala usaha telah kami coba?”

Setetes air mata jatuh di pipi, kuhapus cepat. Malu rasanya menangis di depan Raihan.

“Aku merasa mentalku dijatuhkan berkali-kali, tiap Ibu mertua mengungkit tentang anak, Rai. Aku dicap mandul, dianggap tak berguna sebagai menantu. Terlebih kini maduku telah hamil. Aku semakin terasing, Rai.” Lagi, air mata ini jatuh, saling bersusulan tanpa sempat kucegah.

“Apa nasibku demikian buruk karena tak bisa hamil? Apa di ujung hidupku kelak akan berakhir sepi berkepanjangan, Rai? Siapa yang akan mendoakan aku ketika berpulang kelak?”

Tak lagi bisa kulanjutkan kalimat. Isakan yang tertahan di kerongkongan telah menjadi sesenggukan. Untuk pengunjung cafe sedang sepi. Hanya ada beberapa pasang muda-mudi, dan kami duduk saling berjauhan, demi privacy masing-masing.

“Zahra, orang mandul yang sesungguhnya bukanlah orang yang tak memiliki keturunan. Melainkan orang yang dipercaya diberikan keturunan, tetapi mereka gagal dalam mendidik sehingga keturunan mereka itu tidak mendatangkan manfaat sama sekali untuk mereka. Begitulah orang mandul yang sesungguhnya, Zahra ….”

Ucapan Raihan bagai hujan di tengah kemarau hati yang berkepanjangan. Aku menatapnya kagum dengan mata basah. Lelaki itu tersenyum lembut, diulurkannya aku sehelai tisu. Ya Tuhan….


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…