Madu Pernikahan (Pelangi Untuk Zahra) – #Part_14/17

Aku tetap tak gentar. Siapa suruh dia menelantarkan aku. Giliran orang lain kasih perhatian ke aku, dia kebakaran jenggot. Mencak-mencak seperti anak kecil yang takut mainannya diambil orang.

“Pokoknya aku nggak suka kalau dia kirim-kirim begituan lagi!” Seru Mas Hamdi dengan wajah gusar.

Aku tetap tak gentar. Siapa suruh dia menelantarkan aku. Giliran orang lain kasih perhatian ke aku, dia kebakaran jenggot. Mencak-mencak seperti anak kecil yang takut mainannya diambil orang.

Sekonyong-konyong, Mas Hamdi menarik tangan kiriku. Diamatinya jari manis ini yang mana kusematkan cincin pemberian Raihan tempo hari.

“Ini juga dari dia?” tanyanya kaku.

Matanya nyalang seolah siap menerkam kapan saja.

“Iya.” sahutku.

Mas Hamdi berusaha melepaskan cincin itu dari jariku, aku pun dengan cepat menarik kembali tanganku untuk menggagalkan aksinya itu.

“Sini, kemarikan!” teriaknya.
“Nggak!” sahutku keras kepala.

Tak peduli seluruh karyawan bisa mendengarkan kami, aku bersikukuh mempertahankan cincin itu.

“Kamu bisa aku laporkan atas pasal KDRT loh, Mas.”

Aku terpaksa mengancam Mas Hamdi karena jelas aku kalah tenaga. Kutunjukkan bagian punggung tangan yang memerah dan ada sedikit luka cakaran karena kami tadi saling tarik menarik.

“Dan akan kulaporkan kamu atas kasus perselingkuhan!” Sergahnya.

“Buktinya apa? Cincin ini? Atau buket bunga di depan itu? Laporkan saja, Mas!” Tantangku.
“Aarrgghh!” Mas Hamdi berteriak frustasi.

Wajahnya masih merah padam, dan sisa kemarahan itu masih ada.

“Jangan sampai kulihat dia mendekatimu lagi, Zahra. Akan kupatahkan semua tulang ditubuhnya kalau kudapati kalian bertemu lagi.”

Dia mengancam sambil menudingkan jari telunjuknya tepat ke wajahku.

“Jangan tunjuk-tunjuk aku seperti itu!” Kataku sembari menepis tangannya dari wajah.

Mas Hamdi mendengkus kasar lalu pergi meninggalkan ruanganku. Tak lupa dia membanting pintu dengan keras. Aku menghembus nafas kasar sambil menghempas tubuh di atas kursi.


Kian hari hubunganku dengan Mas Hamdi kian merenggang, begitu juga hubunganku dengan mertua. Terlebih setelah aku tak datang memenuhi pintanya kemarin.

Aku yang sudah mulai terbiasa dengan keadaan, tak begitu terpengaruh. Kujalani hari dengan beraktifitas seperti biasa. Hanya satu yang menjadi kerisauan di hatiku. Raihan. Entah apa kabarnya sekarang. Sebegitu sibuk kah dia hingga tak sempat meski hanya untuk berkirim pesan?

Memikirkan laki-laki lain padahal telah bersuami, jelas ini salah dan dosa. Tapi untuk membohongi perasaan, jelas aku tak bisa. Separuh hati ini sudah miliknya, meski belum jelas bagaimana perasaannya sendiri terhadapku.

Andai pun perasaanku hanya bertepuk sebelah tangan, aku tak kan terlalu kecewa. Karena rasa ini tulus, tanpa menuntut balasan.

Untuk mengusir suntuk dan rasa jenuh, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di mall sekaligus berbelanja.

Suasana mall tak terlalu ramai hari ini, maklum saja menjelang akhir bulan. Rata-rata dompet kering. Aku berjalan-jalan dulu untuk cuci mata, lalu berhenti di depan sebuah toko yang menjual aneka aksesories, khususnya rambut.

Kaki ini seakan melangkah dengan sendirinya. Melihat aneka rupa pita rambut yang lucu-lucu, aku teringat pada Claire. Kuputuskan memilah beberapa, hendak kubeli untuk anak itu. Padahal entah kapan bisa memberikannya pun aku sendiri tak tahu. Yang penting beli saja dulu.

Kupilih beberapa ikat rambut dengan model sama namun beda-beda warna, juga sebuah bando lucu berwarna biru muda. Aku juga memilih beberapa jenis jepit rambut dengan hiasan lucu. Ada perasaan bahagia saat aku melakukan semua ini, seakan aku membeli untuk anak sendiri.

Seorang pramuniaga toko menghampiri dan menyerahkan sebuah plastik bag untuk menaruh barang-barang yang kupilih.
Setelah berkeliling melihat-lihat sudut lain toko dan tak menemukan hal lain yang menurutku unik dan lucu, aku pun melangkah menuju kasir.

“Tante Zahra!”

Sebuah suara yang begitu familiar mengagetkanku. Sontak aku menoleh ke arah suara yang memanggil namaku barusan. Dan aku pun terperangah kaget saat melihat sosok Claire berdiri sambil meringis dari jarak beberapa meter dariku. Di sampingnya pula berdiri Raihan, menatapku sambil tersenyum meski tak selebar senyum Claire.

Claire terlebih dahulu mengambil langkah mendekatiku, dan Raihan mengikuti di belakangnya. Tatapan Raihan sendiri tetap fokus ke arahku. Membuat kikuk sekaligus tersipu malu.

“Tante apa kabar?” sapa Claire begitu jarak kami sudah dekat. Aku menatap gadis kecil itu penuh kerinduan.
“Alhamdulillah Tante baik, Sayang. Claire sendiri bagaimana?”
“Aku juga baik. Papa juga baik.” Dia menyebut papanya meski aku tak menanyakan itu.

Aku beralih menatap Raihan dengan perasaan canggung.

“Apa kabar, Rai?” Sapaku pada lelaki yang belakangan menyita pikiranku ini.
“Kabar baik, Zah.” Raihan menjawab singkat.

Tiba-tiba perasaan tak nyaman menyelimutiku. Aku merasa Raihan seakan merenggangkan jarak di antara kami meski tak terlalu kentara.

Rasa sedih pun tak dapat kunafikkan. Ah… mungkin anganku yang terlalu tinggi selama ini. Sejatinya Raihan mungkin hanya menganggap aku teman meski kami pernah saling menautkan hati di masa lalu.

“Tante, aku mau main ke rumah Tante lagi.” Claire berkata.

Tentu saja aku merasa senang, tapi semua tetap tergantung bagaimana Raihan. Aku melirik pria itu ragu, namun dia justru melebarkan senyuman. Membuatku bingung menebak isi hatinya yang sungguh sulit diterka.

“Tentu saja boleh, Sayang. Kapan pun Claire mau datang, pintu rumah Tante selalu terbuka.” ujarku.

Mata gadis kecil nan cantik itu berbinar bahagia. Begitu pun aku, berharap sikap Raihan tak berubah.

“Gimana kalau kita ngobrol sambil makan ice cream?” Raihan mengusulkan.
“Horeee …!” Claire berseru gembira.

Anak itu langsung menggandeng tanganku, tanpa menanyakan persetujuan terlebih dulu. Apa anak kecil memang selalu ekspresif seperti Claire?

Kami tiba di foodcourt di lantai tiga gedung mall. Pelayan datang membawa menu ke meja kami begitu aku, Raihan, dan Claire duduk mengelilingi salah satu meja yang tersedia.

Sambil menunggu pesanan datang, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sebenarnya lebih untuk menghindari kontak mata dengan Raihan yang kerap membuatku terserang beku.

“Kamu memakainya, Zah?” ucap Raihan tiba-tiba.
“Heh? Apa?” tanyaku pilon.

Saat aku melihat ke arah mana tatapan mata Raihan, baru aku ‘ngeuh’ yang dimaksudnya adalah cincin pemberiannya yang tersemat di jari manisku.

“Eh… ini, ya?” Aku berkata.

Raihan mengangguk sekilas, sebelum meladeni Claire yang berbicara sesuatu.

“Kamu kemana saja? Lama gak kasih kabar?” ujarku akhirnya, memberanikan diri mengutarakan ganjalan di hati tentangnya.
“Sengaja.” jawab Raihan sambil nyengir.

Aku mengerutkan kening. Tak mengerti maksudnya.

“Sengaja?” ulangku.
“Udah, jangan kebanyakan nebak. Entar kamu bisa stress, loh.” Raihan berujar.
“Aku sebenarnya takut kejadian tempo hari mempengaruhimu sehingga kamu menjauhiku …” ujarku lirih.

Diri ini kembali merasa bersalah mengingat kejadian yang sungguh tak mengenakkan itu.

“Nggak, Zah. Aku sama sekali nggak terpengaruh karena itu. Tapi jujur aku merasa apa yang diomongkan suamimu waktu itu ada benarnya.”
“Maksudnya?” Tanyaku bingung.

Raihan menarik nafas sejenak, matanya mengawasi Claire yang saat itu sedang asyik memainkan game di ponselnya.

“Mungkin kita bisa bicara lebih privat tanpa kehadiran anak di bawah umur di tengah-tengah kita.” ujar Raihan.

Matanya berkedip nakal, membuat debaran di dada kembali datang. Aku tersenyum, paham pada maksudnya. Kami pun segera menyantap pesanan setelah pelayan mengantarnya ke meja kami.

“Kamu keberatan kalau sore ini kuajak keluar?” Pertanyaan Raihan hampir membuatku tersedak oleh es buah yang baru saja masuk ke dalam mulut.
“Slow lah… nggak usah nervous gitu.” ledek Raihan.

Aku melotot padanya, tapi dia justru terkekeh. Diambilnya sehelai tissu lalu diberikannya padaku.

“Sebenarnya aku pengen ngelapin langsung itu tumpahan es di sekitar dagu dan bibirmu pakai tissu. Tapi sayang, kamu masih istri orang.” ujarnya sambil memandangku.

“Apaan sih!” elakku, mengesat sekitar bibir dan dagu menggunakan tisu yang dia berikan.
“Zah.” panggilnya.
“Apa?” jawabku.
“Kok belum dijawab?”
“Yang mana?”
“Mau nggak kuajak keluar?”
“Kemana?” tanyaku lagi.
“Pengennya ngajak kamu langsung ke penghulu.”
“Gila!” Aku mencebik.
“Gila tapi kamu kangenin terus.” Dia tak mau kalah.

Mau tak mau aku tertawa oleh sikap konyolnya.

“Kamu cantik banget kalau ketawa gitu. Kek anak gadis umur 16 yang pernah kupacari dulu.”

Seketika wajah ini terasa bersemu. Warna kulit mukaku saat ini pastilah memerah.

“Tuh kan, tersipu dia. Pasti dalam hati nostalgia, ya?”
“Nggak malu kamu ngegoda aku di depan Claire?”

Raihan mendecak lalu memandang Claire yang sedari tadi masih asyik dengan gadgetnya.

“Malahan dia pengen kamu jadi mamanya, kok.” Raihan berkata kemudian.

Membuatku menatapnya dengan lidah yang terasa kelu, namun hati terasa syahdu.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Gendhis Ayu – #Part_10/18

Bu Harjo menghambur ke pelukan Nawang, didekapnya Nawang dengan erat seolah dirinya telah lama tak bersua dengan gadis cantik ini. Sejenak suasana haru dan bahagia menyelimuti warga yang ada dipendopo itu…

Gendhis Ayu – #Part_09/18

Dari jauh terlihat seorang wanita tua tengah duduk dikursi rotan yang telah menghitam di teras sebuah rumah kecil.. Bibirnya mengepulkan asap, mata sipitnya yang cekung termakan usia memandangi Galih dan Ajeng bergantian..

Memilih Bidadari – #Part_11/11 (TAMAT)

Rumi membantu menyiapkan baju yang akan dibawa Arfan ke luar kota selama seminggu. Sebenarnya sudah biasa ia akan ditinggal selama itu. Namun karena tiga hari ini wajahnya mendung gegara kejadian terima kunci mobil dari Arini kemarin, Rumi agak tak enak melepasnya…