Madu Pernikahan (Pelangi Untuk Zahra) – #Part_13/17

Yang kuinginkan sekarang hanya menumpahkan segala amarah dan uneg-uneg yang membelenggu jiwa. Hal-hal beracun yang mampu mengikis kebahagiaanku dari hari ke hari. Rasanya lebih baik aku yang mundur....

“Tega sekali Mas mengadu pada Ibu soal Raihan.” Ketusku ketika Mas Hamdi mengangkat panggilan teleponku.
“Sepenting itukah Raihan hingga kau lupa adab bicara pada suamimu ini, Zahra?” Terdengar dingin sambutan Mas Hamdi, tapi aku tak peduli.

Yang kuinginkan sekarang hanya menumpahkan segala amarah dan uneg-uneg yang membelenggu jiwa. Hal-hal beracun yang mampu mengikis kebahagiaanku dari hari ke hari.

“Jangan mengalihkan topik pada hal-hal lain, Mas. Aku tak terima kalian memperlakukan aku seolah aku ini perempuan murahan yang menerima sembarang lelaki masuk ke dalam rumah.”

“Apa maksudmu?” Mas Hamdi bertanya.

Aku tertawa mencemooh atas sikapnya yang sok tak tau apa-apa.

“Tadi aku ke rumah Ibumu. Dan dia menuduhku yang bukan-bukan. Pasti kamu kan Mas yang mengadu soal Raihan? Kenapa, Mas? Apa kamu ingin membuat Ibumu semakin benci padaku?” Aku benar-benar kesal pada Mas Hamdi kali ini.

“Jika kau tak lagi menginginkanku, ceraikan saja aku, Mas. Tak perlu lah Mas sibuk mencari-cari celah hingga tega memfitnah hanya agar bisa lepas dariku.”

Kali ini dadaku sesak. Sungguh, sebenarnya perceraian tak pernah kumasukkan dalam list kehidupanku.

Namun kini, rasanya lebih baik aku yang mundur. Toh pengorbananku pun tak pernah dihargai. Hanya makan hati karena selalu dibenci.

“Demi Allah Mas tidak pernah bilang apa-apa pada Ibu, Dek!” Ucapan Mas Hamdi yang tegas barusan membuatku tercengang.

Aku tahu watak Mas Hamdi, dia bukan seorang yang dengan mudah berucap sumpah, apalagi sampai membawa-bawa nama Allah.

Tapi jika bukan Mas Hamdi, lalu siapa yang mengadu pada Ibu?

“Kamu ditanya apa memangnya sama Ibu? Kenapa kesana gak bilang sama Mas dulu?” suara Mas Hamdi terdengar lagi.

‘Apa kamu masih ada waktu untuk mendengarku, Mas? Bukannya kamu selalu sibuk menjaga dan menemani istri mudamu yang sedang berbadan dua itu?’ Aku membatin.

“Kalau bukan Mas yang cerita sama Ibu, lalu siapa? Apa jangan-jangan istri mudamu yang melakukannya, Mas?”

Tuduhan ini kuarahkan pada Jannah bukan tanpa alasan. Ya karena pada dua kali kesempatan aku dan Raihan sedang bersama, hanya Mas Hamdi serta Jannah lah yang mengetahuinya.

“Kamu jangan nuduh Jannah sembarangan, Dek.”

Huh, Mas Hamdi masih saja membela istri kesayangannya itu.

“Lantas kalau bukan Jannah siapa lagi, Mas? Setan atau demit, kah? Yang tahu soal Raihan cuma Mas dan dia!” Semburku emosi.
“Sudah, kamu tenang dulu. Nanti Mas coba tanyakan pada Jannah.” Mas Hamdi berujar.

Tapi itu sama sekali tak perlu bagiku. Sudah jelas siapa pelakunya Jannah, buat apa diklarifikasi lagi?

“Sampaikan pada Jannah, Mas. Terima kasih, berkat dia kini Ibumu makin rendah menilaiku. Selain di cap sebagai menantu yang tak berguna karena dianggap mandul, kini aku juga dapat label buruk yang baru dari Ibumu.”

Langsung saja kumatikan ponsel setelahnya. Bukan main Jannah. Sebenarnya tanpa perlu menjatuhkanku di depan Ibu pun, dia sudah mendapat tempat istimewa di hati Ibu. Dia bahkan sudah menguasai Mas Hamdi hingga tak ingat pulang ke rumah ini. Lalu untuk apa dia melakukan hal itu?

Selanjutnya hari-hari kulalui dengan sepi yang menyiksa. Raihan mungkin sedang sibuk dengan pekerjaannya. Sesekali kuintip WA-nya juga sedang offline.

Mas Hamdi sendiri jangan ditanya. Makin hari jatah kunjungan untukku makin berkurang. Yang tadinya dua kali seminggu, kini jadi sekali seminggu. Aku sudah tak terlalu peduli, dan sudah belajar membiasakan diri. Pun ketika nafkah lahir batin untukku mulai dia abaikan, aku tak hendak protes.

Aku masih berpenghasilan kalau berbicara mengenai materi. Sedang untuk urusan ranjang, aku pun sudah hambar melayaninya. Biarlah, biar dia makin betah dalam pelukan Jannah sana.

Jujur saja, Mas Hamdi tak lagi menjadi prioritas dalam hidupku. Cinta yang dulu kupersembahkan tulus untuknya, makin terkikis hari demi hari.

Aku seperti berjalan sendiri, sebatang kara. Dan dalam keadaan seperti ini, entah mengapa yang kupikirkan justru Raihan!

Berminggu dia tiada kabar, berminggu pula hati ini disekap kerinduan. Aku juga merindukan Claire. Harapanku, semoga anak itu selalu dalam keadaan baik-baik saja.


“Zahra, bisa kah malam ini kau ke rumah Ibu?” Ucap Mas Hamdi suatu hari di telepon.

Ingin aku mengerang mendengar pintanya. Apalagi ini?

“Ada apa memangnya, Mas?” Tanyaku malas.
“Ibu menyuruh kita ke sana. Ada hal yang ingin dibicarakannya.” Jawaban Mas Hamdi bagai de javu, kalimatnya kurang lebih sama dengan ucapan Ibunya tempo hari.

“Soal?” Aku kembali bertanya.
“Aku juga nggak tahu, Dek. Tapi Ibu meminta hanya kita berdua saja yang ke sana.” jawab Mas Hamdi.

Mau tak mau aku jadi mencibir dalam hati. Tumben si menantu kesayangan tak dimintanya datang juga.

“Insya Allah Mas, aku nggak janji.”

Hanya itu yang terlontar dari mulutku. Memang aku sebenarnya juga malas bertemu Ibunya. Paling ujung-ujungnya nanti kami jadi adu debat karena perbedaan pendapat.

“Zahra, tolonglah….” Mas Hamdi berkata.

Nadanya terdengar memelas.

“Ck… mengingat ending pertemuan dengan Ibumu untuk terakhir kalinya, jangan salahkan aku Mas kalau aku enggan bertemu lagi. Aku juga punya perasaan, punya harga diri, jangan mentang-mentang aku selalu mengalah jadi dipikir semua orang bisa memperlakukan aku seenaknya.”

Tanpa sadar aku nyerocos panjang lebar, sekedar mengeluarkan duri-duri yang menghimpit dada.

“Kamu sekarang berubah. Sikap santunmu kini menguap entah kemana?” keluh Mas Hamdi.

Halah !

“Pasti laki-laki itu yang membuatmu seperti ini. Itu makanya aku nggak suka kamu berteman apalagi dekat-dekat dengannya. Dia hanya menggunakan anaknya sebagai umpan untuk mendekati kamu. Karena dia tahu kalau kamu tidak bisa.”

“Tidak bisa punya anak?” Potongku tajam.

Mas Hamdi seketika bungkam.

“Bukan Raihan yang membuatku seperti ini. Tapi aku sendiri yang terbangun dari tidur panjang selama ini. Kamu pikir, mudah bagi seorang wanita menerima pernikahannya ternoda oleh kehadiran orang ketiga, Mas?”

Hening sesaat. Aku menghela nafas agar dada ini tak terlalu sesak.

“Sikapmu yang mulai tak adil juga menjadi salah satu pemicunya. Apakah kalian saja yang boleh bahagia, sementara aku diharuskan patuh dan nerimo saja atas apa yang kalian tetapkan untukku? Aku juga manusia, aku berhak bahagia, dan dengan cara apa aku ingin bahagia, itu mutlak hak ku untuk menentukan.”

“Zahra, Mas minta maaf…” Ucapnya lirih.

Tanpa sadar mata ini telah basah dengan nafas yang tercekat menahan tangis.

“Maaf saja yang bisa kamu ucap, Mas. Aku butuh lebih dari sekedar itu. Sadarkah kamu bahwa beberapa bulan terakhir ini aku merasa sudah seperti menjadi janda?”
“Zahra!” bentak Mas Hamdi.

Mungkin dia tersinggung dengan kalimat terakhirku tadi. Tapi terserahlah, memangnya dia mikirin gimana perasaanku yang menderita tekanan batin selama ini?

“Sudah ya Mas, aku mau berangkat ke toko dulu.” ucapku lalu menutup telepon begitu saja.

Tanpa salam, tanpa basa-basi.


Hari ini aku malas kemana-mana. Perdebatan dengan Mas Hamdi pagi tadi masih menyisakan kejengkelan yang mempengaruhi mood hari ini. Menjelang jam makan siang pun aku cuma memesan makanan lewat aplikasi online.

Baru saja menyelesaikan transaksi pesanan makanan, aku dikejutkan dengan pintu yang dibuka tiba-tiba.

“Siapa yang mengirimu buket bunga di depan itu?” Mas Hamdi bertanya dengan nafas yang memburu. Ekspresi wajahnya seperti orang yang habis melihat setan di siang bolong.

“Kenapa memangnya, Mas?” sahutku acuh.

Lelaki itu tampak tak sabar, dia berjalan memutari meja hingga kami kini jadi saling berhadapan tanpa sekat.

“Raihan kan yang mengirimnya? Jawab!” Kedua netranya melotot lebar.

Seumur-umur pernikahan kami, tak pernah aku melihat Mas Hamdi seperti ini. Apa dia cemburu?

“Iya, memang dia. Kenapa, Mas? Kamu cemburu?” Aku menatap lurus di kedua matanya tanpa takut sedikit pun.

Kutentang sorot mata itu tak kalah garang.

“Kamu itu masih istriku, Zahra! Jangan coba-coba bermain api di belakangku!”

Dia mencengkeram kedua lenganku dengan amat keras. Hampir aku menjerit karena rasa sakit yang mendera, tapi kutahan agar dia tahu aku bukan perempuan lemah.

“Jadi Mas masih ingat kalau aku ini istri Mas? Kupikir Mas sudah lupa.” sinisku.
“Kamu jangan seperti anak kecil. Kamu cemburu pada Jannah karena sekarang aku lebih banyak menghabiskan waktu dengannya?”

Aku menyentak kasar kedua bahu hingga cengkeraman tangannya mengendor.

“Anak kecil kamu bilang? Kujamin tak ada perempuan mana pun di luar sana yang mampu bersikap sepertiku menerima kelakuanmu dan Ibumu, Mas!”

“Jika perempuan lain yang kalian perlakukan seperti kalian memperlakukanku, niscaya dia akan berontak sejak dulu. Tidak hanya diam dan mengalah seperti kebodohan yang kutunjukkan selama ini di depan hidung kalian!”

“Sadar, Mas. Kamu abai pada nafkah lahir batinku, aku diam. Ibu sering menyudutkan seolah aku perempuan tak berguna pun aku mengalah. Tapi aku tak bisa mencegah orang lain untuk menyukaiku. Kamu yang lebih dulu mengabaikan aku, jadi jangan marah kalau ada orang lain yang memberi perhatian padaku!”

Mas Hamdi seolah terpaku di tempat. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Hanya gambaran shock yang terpancar di wajah yang pias itu. Sedangkan aku, tentunya merasa puas bisa menamparnya begitu rupa melalui lisan tajam yang terlontar dari bibirku.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…