Madu Pernikahan (Pelangi Untuk Zahra) – #Part_12/17

Masih terkagum-kagum bercampur bunga-bunga dalam hati, ponsel terasa bergetar dalam saku celanaku. Kubaca kalimat dari Raihan dengan mata berkaca-kaca. Perempuan mana coba, yang tak suka dikirimi buket bunga sebesar itu? Dasar Raihan...

Masih terkagum-kagum bercampur bunga-bunga dalam hati, ponsel terasa bergetar dalam saku celanaku.

Kurogoh saku untuk mengambil ponsel. Sebuah pesan masuk dari di aplikasi hijau.

[Maafkan kalau aku lancang, tapi aku harap kamu menyukainya.]

Kubaca kalimat dari Raihan dengan mata berkaca-kaca. Perempuan mana coba, yang tak suka dikirimi buket bunga sebesar itu? Dasar Raihan.

Dengan lincah jemari ini pun mengetik pesan balasan untuknya.

[Thank’s a lot. For sure, i love it, Han. Cincinnya juga. Dan sudah kupakai.]

Tak lama, pesan balasan masuk lagi ke ponselku.

[Maaf belum bisa memberimu berlian. Hanya sebuah aquamarine yang warnanya adalah warna favoritmu, Zahra.]

Aduh, makin klepek-klepek aku dibuat Raihan. Perasaan jaman sekolah dulu, di mana hati kami saling bertaut ala cinta monyet sepasang remaja, Raihan tak pernah membuatku terbang seperti ini.

Eh, tunggu dulu. Aku baru menyadari kalau perasaanku padanya bisa dibilang kembali seperti dulu. Apakah mungkin kalau sekarang hati ini kembali terpaut pada cinta lamaku itu?

Perasaan ini sungguh indah. Namun jika terus kupelihara tentu akan menjadi dosa. Dosa yang indah. Eh, gimana? Makin ngawur saja pikiranku.

Aku segera menyimpan ponsel di saku celana. Kuminta Inka dan Wita untuk mengatur tata letak buket bunga itu agar ruangan toko semakin cantik dan menarik. Sengaja aku tak membawanya ke dalam ruanganku, biar kecantikan buket bunga itu bisa dinikmati oleh setiap pelanggan toko kue yang berkunjung.

*****

Seperti biasa, tepat pukul lima sore aku menyudahi jam kerjaku di toko. Sesuai permintaan Ibu mertua, dari toko aku langsung melaju ke rumah beliau.

Entah apa yang hendak dibicarakan mertuaku itu, namun firasat mengatakan ini bukanlah pertanda baik. Tapi semoga saja bukan.

Menempuh hampir setengah jam perjalanan, aku pun sampai di rumah Ibu mertua. Dan sepertinya beliau memang sedang menunggu aku datang. Terbukti dari dia yang sudah duduk di sofa ruang tamu. Wajah Ibu terlihat kaku, seperti menyimpan rasa tak suka yang sedang ditahannya.

“Mau minum apa, Mbak Zahra?” Bi Inah, ART yang bekerja melayani mertuaku bertanya ramah.
“Nggak usah repot-repot, Bi. Air putih saja.” jawabku sambil tersenyum pada wanita usia empat puluhan itu.
“Njih..” balasnya, lalu masuk lagi ke dalam.

Perhatianku kembali fokus pada Ibu yang sedang memandangiku tajam.

“Maaf, Bu. Ada apa sebenarnya Ibu memanggilku kemari?” Kulontarkan pertanyaan yang to the point padanya.

Pun kupikir, tak ada gunanya berbasa-basi. Jika ada masalah, menurutku sebaiknya langsung saja dibicarakan.

“Ibu dengar sekarang tingkahmu makin liar, Zahra. Benar, kamu sering bepergian dengan lelaki lain di luar sepengetahuan suamimu?”

Kata-kata Ibu sontak membuatku kaget. Bagaimana bisa Ibu mengetahui soal Raihan? Apalagi dilebih-lebihkan begitu, padahal aku baru satu kali makan siang di luar bersama Raihan.

“Ibu tahu tentang itu dari Mas Hamdi?” tanyaku.

Kujaga intonasi suara agar terdengar tetap tenang.

“Tidak penting dari siapa Ibu tahu. Yang ingin Ibu tanyakan, apa benar begitu?”

Matanya lurus menatap mataku. Begitu penuh curiga serta penuh penghakiman. Seolah aku telah tertangkap basah telah berzinah dengan lelaki lain.

Kutarik nafas untuk mengontrol emosi. Aku tak boleh lepas kendali. Biar bagaimana wanita ini masih mertuaku dan aku wajib menghormatinya.

“Kalau keluar makan siang dengan teman laki-laki memang aku pernah, Bu. Tapi itu cuma sekali, tidak sering seperti yang Ibu tanyakan tadi.” kujawab dengan sehalus mungkin.

“Apa kamu tahu apa hukumnya seorang wanita yang ke luar bersama laki-laki bukan muhrim, berdua-duaan? Bagi yang masih single saja itu sudah berdosa, Zahra. Apalagi kamu yang jelas-jelas sudah bersuami? Tahu agama kan, kamu?” Suara ibu mulai meninggi.

Otot-otot wajahnya menegang dengan mata melotot lebar ke arahku.

“Ya, aku tahu, Bu. Lalu apa yang harus kulakukan agar kalian semua berhenti menghakimi dan menyudutkanku, Bu? Karena meski kujelaskan keadaan yang sesungguhnya pun, tetap saja tak akan diterima dan hanya akan dianggap sebagai alasan belaka.” Aku bertanya sarkas.

Ibu Mas Hamdi masih dengan gesture-nya seperti tadi, tak berubah sedikit pun.

“Harusnya kamu lihat bagaimana sikap Jannah pada suami. Masa kamu yang lebih dulu menjadi istri Hamdi kalah dengan Jannah yang baru beberapa bulan dinikahi? Bahkan Jannah sekarang sudah hamil, pula.”

“Kalau inti dari obrolan ini hanya untuk membanding-bandingkan aku dengan Jannah, lebih baik aku permisi, Bu.” Aku berucap, hendak berdiri dari sofa empuk yang kududuki.

“Tunggu! Kamu ini kalau dinasehati kok malah begitu? Jangan salahkan kami kalau kelak kami akan lebih menyayangi Jannah ketimbang kamu.”

Aku menoleh ke arah mertuaku. Kedua tangan ini mengepal hingga jari-jariku terasa kebas.

“Apa? Nasehat, Ibu bilang? Bu, dengan Ibu menikahkan suamiku dengan wanita lain saja itu sudah membuatku sakit setengah mati. Dengan Mas Hamdi yang mulai tak adil membagi waktu saja sudah membuatku merasa disisihkan. Sekarang kalian mulai membanding-bandingkan aku dengan maduku?”

“Ibu kan juga perempuan, kenapa tak ada secuil pun empati Ibu sebagai sesama wanita? Jika aku dianggap begitu tak layak untuk Mas Hamdi, mengapa tak sekalian Ibu suruh dia menceraikanku?”

Emosiku akhirnya keluar, lengkap dengan derai air mata yang tak sanggup lagi kutahan. Kukeluarkan semua uneg-unegku, meski dengan suara nyaris terbata-bata karena berlomba dengan air mata yang tumpah.

Melihat reaksiku yang bisa dibilang dramatis, Ibu justru hanya melengos kasar.

“Seandainya kamu bisa memberiku cucu secepat Jannah, tentu semua ini tak kan terjadi padamu. Tak mungkin aku mencarikan perempuan lain untuk Hamdi agar keturunan kami terus berlanjut” ujarnya sinis.

Masih saja berupaya memojokkanku.

“Apa Ibu pikir aku tidak ingin punya anak? Apa Ibu pikir aku tidak ingin punya penerus? Aku dan Mas Hamdi sama-sama anak tunggal, Bu. Segala upaya, doa dan ikhtiar telah aku coba, namun selalu gagal. Aku bisa apa kalau Allah belum berkehendak, Bu?”

“Mengenai Jannah yang baru kemarin menikah tapi bisa langsung hamil, berarti itu rejekinya, Bu. Tiap orang kan tak selalu sama.”

“Itu bukan cuma sekedar rejeki, Zahra. Jannah cepat hamil tentu karena dia punya akhlak yang baik. Dia nurut sama suami, baik sama mertua.” Sanggah Ibu tak mau kalah.

“Maksud Ibu aku berakhlak buruk sehingga tak kunjung hamil? Selama tujuh tahun aku jadi menantu Ibu apa aku pernah bersikap tak hormat atau jahat pada Ibu?”

Jelas saja aku tak mau mengalah kali ini. Sudah cukup bungkamku. Ternyata diam tak selamanya emas. Sesekali kita harus bersuara lantang untuk membuka mata orang lain.

“Jangan terus menyudutkan aku, Bu. Tiap orang punya batasan. Aku diam bukan untuk diinjak. Mengakui kesalahan dan tidak mengulanginya lagi harusnya sudah cukup bagi Mas Hamdi untuk mengetahui bahwa aku sungguh-sungguh dengan ucapanku. Bukannya malah ngadu-ngadu pada Ibu.”

“Maaf kalau hari ini aku bersikap sedikit kasar. Tepatnya, aku membela diri dari fitnah jika boleh dikatakan. Aku pulang, Bu. Assalamualaikum.”

Segera aku keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil. Kekesalan ini tak bisa lagi kubendung. Tega-teganya Mas Hamdi mengadu pada Ibunya soal Raihan. Apakah sekarang Ibunya harus tahu segala hal tentang permasalahan rumah tangga kami?

Mas Hamdi sungguh berubah sekarang. Dulu, kalau pun terjadi pertengkaran di antara kami, itu hanya sekedar bumbu-bumbu dalam rumah tangga.

Tak pernah orangtua kami masing-masing tahu, karena masalah akan segera terselesaikan dalam waktu cepat. Namun kini semua berubah. Tak lagi kurasakan damai dalam hati ini sejak pernikahan kedua suamiku itu. Apakah hanya karena aku belum bisa hamil jadi mereka seolah mencari-cari celah untuk bisa memojokkanku?


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…