Madu Pernikahan (Pelangi Untuk Zahra) – #Part_11/17

Aku mencecar Mas Hamdi di depan hidungnya. Tak peduli ada Jannah, kuabaikan adab yang seharusnya kujaga di depan suami. Kedua matanya menatapku nyalang, namun lidahnya seperti kelu. Jelas ucapanku barusan cukup menampar Mas Hamdi juga Jannah.

“Kamu keterlaluan, Mas. Haruskah mengusir tamuku seperti itu? Tidak kah Mas lihat ada anak kecil yang sedang tidur dan terpaksa kubangunkan hanya karena sikapmu yang kekanakan?” Aku mencecar Mas Hamdi di depan hidungnya. Tak peduli ada Jannah, kuabaikan adab yang seharusnya kujaga di depan suami.

“Kekanakan? Kamu sadar nggak sama ucapanmu? Dosa besar hukumnya menerima tamu lelaki tanpa ada suamimu di rumah!” Mas Hamdi tak mau kalah.

“Kenyataannya suamiku memang tak pernah di rumah!” Sahutku tajam.

Kedua matanya menatapku nyalang, namun lidahnya seperti kelu. Jelas ucapanku barusan cukup menampar Mas Hamdi juga Jannah.

“Jadi itu kau jadikan alasan untuk berbuat sesukamu di belakangku?” Mas Hamdi berkata.

Egonya membuatku muak kali ini.

“Pergilah kalian, Mas! Tinggalkan aku sendiri!” Aku berlalu begitu saja meninggalkan keduanya dan masuk ke kamar.

Duduk di tepi ranjang, perasaan ini bagai diaduk-aduk. Hati ini lebih menimbang berat perasaan Raihan saat ini. Mungkin saja setelah ini dia akan menjauhiku, dan Claire yang tak tahu apa-apa tentu hanya bisa mengikuti papanya.

Ceklek….

Pintu terbuka. Sosok Mas Hamdi masuk. Aku tetap bergeming di tempat. Bahkan ketika lelaki itu duduk di samping, bibir kukunci rapat. Tak ingin mengeluarkan sepatah kata pun padanya.

“Zahra…” panggilnya lembut, tapi hati ini tak tersentuh sama sekali.
“Maafkan Mas. Mas hanya merasa cemburu. Mas takut kehilangan kamu.”

Huh! Cemburu dia bilang? Kemana saja dia selama dua bulan terakhir ini? Selama ini aku diam dan tak banyak protes ketika dia mengabaikanku. Aku tak pernah mengeluhkan sikapnya yang mulai tak adil membagi waktu, perasaan, juga perhatian. Semua kutelan sendiri, karena sadar akan kekurangan yang kumiliki.

“Zahra, tolong mengertilah. Mas bukannya bermaksud mengabaikanmu. Jannah sedang mengandung sekarang, dan Mas harus ekstra menjaganya. Tak mungkin sering-sering meninggalkannya.”
“Terlebih, anak dalam kandungannya merupakan cucu pertama bagi kedua keluarga. Baik keluarga Mas, maupun keluarga Jannah.” Ucapan Mas Hamdi bagai nyanyian tanpa suara di telinga.

Melihatku hanya diam, Mas Hamdi meraih pundakku. Dia hendak merangkul, tapi aku segera mengelak dengan cara bangkit berdiri.

“Kuminta pergilah Mas. Bawa Jannah, dan jangan pernah ajak dia ke rumah ini lagi.”

Terdengar Mas Hamdi menghela nafas dalam, lalu menyusul berdiri.

“Baiklah, Mas akan pergi. Tapi ingat pesan Mas, jaga kelakuanmu di belakang Mas. Contoh Jannah yang selalu menurut pada suami.”

Ah ya, dia mulai membandingkanku dengan perempuan yang baru dua bulan dinikahinya itu sekarang. Tambah muak saja aku.

“Jangan terlalu membatasiku, Mas. Aku tahu apa yang pantas dan tidak pantas untuk dilakukan. Tenang saja, aku tak kan membuatmu malu. Jika suatu saat aku akhirnya melabuhkan hati pada yang lain, aku akan mengatakannya terus terang dan meminta cerai darimu.” Tegasku sambil lurus menatap kedua bola matanya.

Wajah Mas Hamdi tercengang sesaat. Pasti dia kaget karena tak menyangka aku akan berucap demikian.

“Apa maksudmu?”
“Kuijinkan kau menikah lagi, tapi jujur saja tak pernah kurelakan berbagi raga dan hatimu dengan perempuan lain. Jangan egois, Mas. Bukan hanya kau dan Ibumu yang punya rasa dan berhak bahagia. Aku juga.”

Mas Hamdi meraih sebelah tanganku, tapi aku menepisnya cepat.

“Jangan batasi dengan siapa aku boleh berteman. Aku berhak menentukan bergaul dengan siapa saja yang membuatku merasa nyaman. Dan dari Raihan serta anaknya aku mendapatkan itu semua semenjak kau mulai melupakan aku di sini.”

Mas Hamdi tak bisa berkata-kata lagi. Dia tampak kesal, namun seolah bingung memilah kata untuk membantah ucapanku.


Malam harinya, seusai sholat isya, aku teringat akan barang pemberian Raihan yang masih tersimpan di dalam tas.

Segera aku mengambil tas tersebut lalu mencari-cari benda berbentuk kotak persegi tersebut. Ketika tangan ini menyentuh barang yang sedang kucari, segera aku menariknya keluar.

Kuamati benda mungil ditanganku itu. Apa kira-kira isi di dalamnya, ya? Sempat-sempatnya Raihan membungkusnya segala.

Perlahan aku merobek kertas berwarna biru pembungkus benda persegi tersebut. Setelah itu, kubuka kotak tersebut. Kedua bola mata ini membelalak takjub saat melihat isi di dalamnya.

Sebuah cincin berhias batu kristal berwarna biru muda. Tak ayal, hati ini pun meleleh jadinya. Entah apa maksud Raihan dengan pemberiannya ini, aku tak mau menebak-nebak. Takut aku hanya gede rasa alias GR. Bisa saja ini cuma sekedar oleh-oleh, yang jelas aku sangat menyukainya.

Kuambil cincin dari kotaknya dengan tangan bergetar, lalu memasangnya di jari manisku sebelah kiri. Ajaib, ukurannya pun pas. Kupandangi cincin yang tersemat di jari itu sambil senyum-senyum sendiri.

Tapi di balik bahagia oleh pemberian Raihan tersebut, ada pula kepedihan yang tak terungkap di sudut hati. Kenapa bukan suamiku yang bersikap manis seperti ini? Kenapa harus orang lain yang mengisi kekosongan di hatiku akibat Mas Hamdi kini telah mendua hati?

Tanpa sadar aku menangis. Aku sadar telah berdosa hanya dengan memikirkan laki-laki lain sementara aku telah bersuami. Tapi apakah semua ini murni kesalahanku? Siapa yang lebih dulu menghadirkan orang ketiga hingga suamiku kini perlahan menjauh?

Tak adil rasanya jika hanya mereka yang boleh bahagia, sedangkan aku terus disiksa rasa sepi dan kesendirian di sini. Mas Hamdi ingin aku patuh dan menjaga marwah sebagai istrinya, namun dia sendiri tak memperhatikan hak-hak ku.

“Zahra, maaf kalau Ibu mengganggumu pagi-pagi begini.” Suara Ibu Mas Hamdi terdengar dingin begitu aku menjawab teleponnya.
“Ya, Bu. Ada apa?” tanyaku.

Sebenarnya malas tadi aku menjawab teleponnya, tapi aku merasa akan jadi masalah jika aku mengabaikan panggilannya.

“Nanti sore setelah kamu selesai bekerja datanglah ke rumah. Ada yang ingin Ibu bicarakan.”
“Mengenai apa, Bu?” Aku bertanya lagi.

Terdengar Ibu menghela nafas, sepertinya jengkel mendengar pertanyaanku.

“Pokoknya datang saja. Kita bicarakan langsung nanti. Nggak enak kalau lewat telepon begini.” Jawabnya. Masih dengan nada dingin yang tak biasanya.
“Baiklah, Bu. In Sya Allah aku akan datang.”

Pembicaraan kami akhiri, dan aku pun lantas berangkat ke toko seperti biasanya.

Sepanjang hari aku terus menerus mengecek ponsel. Berharap ada telepon atau sekedar pesan singkat dari Raihan. Namun sepertinya aku harus kembali membiasakan diri karena mungkin saja Raihan kini sudah tak sudi berurusan lagi denganku.

Semangatku merosot bersamaan rasa kehilangan yang menguat. Claire, aku juga rindu anak itu. Segala tingkah polahnya telah berhasil mencuri hatiku. Namun aku juga tak bisa memaksa mereka untuk tetap dekat denganku pasca kejadian tempo hari. Raihan pasti tersinggung dengan sikap Mas Hamdi.

Aku mendesah, meluapkan rasa gelisah yang menyesaki dada.

Tok… tok… tok

Sontak aku menoleh kaget ke arah pintu.

“Masuk!” Seruku.
“Permisi, Bu. Ada kiriman untuk Ibu.” Wita karyawanku muncul setelah pintu terbuka.
“Kiriman apa?” Aku bertanya heran.

Dan makin kebingungan saat Wita justru mesem-mesem seolah ada sesuatu yang lucu.

“Ibu keluar deh sebentar, barangnya gede banget, Bu.” Wita berujar, menambah rasa penasaran.

Tapi tak urung aku berdiri juga, lalu berjalan keluar. Disana, di dekat kasir, Inka juga terlihat mesem-mesem sambil memandangiku. Dan di sebelah Inka. Astaga… mataku hampir melompat keluar dibuatnya.

Sebuah buket bunga mawar putih berukuran besar sekali, dan tingginya nyaris sepinggul Inka yang berdiri bersebelahan dengan buket bunga tersebut. Aku melangkah buru-buru untuk mendekat.

“Dari siapa ini, Inka?” Tanyaku sambil tak lepas memandangi buket mawar yang sangat indah tersebut.
“Dari pengagum Ibu sepertinya.” Inka berkata, tangannya mengangsurkan sehelai kartu ucapan kepadaku.

Don’t let sadness bothering your day. Keep smiling as you should do.

Raihan.

Kubaca tulisan di dalam kartu ucapan itu berulang-ulang. Meski bukan kalimat puitis nan romantis, namun mampu membuat hati meleleh tak karuan.

Ya ampun, Raihan! Kelakuannya sungguh di luar dugaan. Yang tadinya hatiku sempat yakin dia tak kan sudi berurusan denganku lagi, namun ternyata dia justru memberi kejutan yang bahkan tak pernah terpikirkan olehku. Salahkah aku jika pelangi bermunculan dihatiku oleh sikapnya ini?


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…