Madu Pernikahan (Pelangi Untuk Zahra) – #Part_10/17

Acara rapat yang dikatakannya pada Claire tempo hari pasti hanya sekedar alasan saja. Raihan tersenyum sambil menaikkan sebelah alis. Begitu saja pun cukup membuat darah ini berdesir. Aneh, tapi indah. Aku sengaja menghindari kontak mata dengannya, tak ingin dia menyadari perasaan yang diam-diam datang tanpa diundang ini.

“Assalamualaikum …!” Suara Claire terdengar begitu riang saat aku membuka pintu utama setelah bel rumah berbunyi.
“Waalaikumsalam, Cantik….” Sambutku tak kalah antusias melihat gadis kecil yang mulai menjadi kesayanganku itu. Di belakangnya, berdiri papanya yang berpenampilan casual.

Hmm … acara rapat yang dikatakannya pada Claire tempo hari pasti hanya sekedar alasan saja. Raihan tersenyum sambil menaikkan sebelah alis. Begitu saja pun cukup membuat darah ini berdesir. Aneh, tapi indah. Aku sengaja menghindari kontak mata dengannya, tak ingin dia menyadari perasaan yang diam-diam datang tanpa diundang ini.

“Aku titip Claire, ya? Telpon saja kalau kalian sudah selesai.” Raihan berujar.
“Nggak masuk dulu?” Tawarku berbasa-basi.

Tapi jujur sebagian hati menginginkan dia masuk menemani kami di dalam.

“Aku nggak mau kamu mendapat masalah hanya karena aku, Zah.” Jawaban Raihan seakan menohok ulu hati. Antara malu dan tak enak berbaur jadi satu dalam dada.
“Sudah, nggak apa. Bukan salahmu, akulah yang harus tahu diri.”

Mataku tiba-tiba terasa panas. Andai bisa, ingin sekali kulabuhkan tangisan ini di dadanya. Membagi beban rasa yang kupunya bersamanya, tapi itu jelas tak mungkin bisa kulakukan. Status Raihan memang free, tapi aku jelas masih istri orang, meski orang itu pun telah membagi hati dengan wanita lain.

“Zahra, aku pamit, ya. Claire, jangan nakal ya, Nak? Jangan bikin Tante Zahra repot.” Raihan beralih pada Claire yang mengangguk cepat.

Setelah sosok Raihan masuk ke dalam mobilnya, aku pun segera mengajak Claire masuk ke dalam dan menutup pintu.

Di dapur, sudah kusiapkan peralatan serta bahan-bahan untuk mengadon kue. Ya, aku berencana untuk mengajak Claire membuat cupcakes hari ini. Anak itu pasti senang diajak membuat kue, sekaligus mengajarinya berkreasi untuk membuat topping-topping cupcakes nantinya.

Claire memang anak yang supel dan cerdas. Tak hanya denganku, dia juga cepat akrab dengan Bi Odah.

“Anak siapa ini, Bu? Cantik sekali, mirip-mirip wong londho (bule), ya?” Bi Oda bertanya.
“Anak teman saya, Bi.” Aku menjawab Bi Odah yang masih menatap kagum pada Claire. Wajar saja, Claire memang sangat cantik. Seperti boneka hidup, dia begitu mirip Raihan yang parasnya juga nyaris sempurna.

Mengenai perkataan Bi Odah yang mengatakan Claire mirip bule, aku pun membenarkannya. Claire memang seperti blasteran. Apa mungkin almarhum mamanya seorang WNA, ya? Aku menduga-duga, namun untuk menanyakannya pada Raihan aku sungkan.

Selesai dengan kegiatan membuat cupcakes, aku mengajak Claire untuk memberi makan ikan-ikan di kolam samping rumah. Bocah itu begitu antusias dan berseru kegirangan ketika makanan ikan yang dia taburkan ke dalam kolam diserbu dan dihabiskan dalam sekejap oleh ikan-ikan yang ada di dalamnya.

Melihat kegembiraan yang ditunjukkan oleh Claire, aku pun turut merasakan kegembiraan itu. Claire sungguh manis dan tidak rewel meski usianya baru lima tahun. Dia bahkan bersikap lebih dewasa dibanding usianya.

Bi Odah mendatangi kami dan mengabarkan bahwa dia telah selesai memasak makan siang untuk kami. Segera saja kuajak Claire untuk makan siang.

Sempat protes karena dia kurang suka makan sayur, namun akhirnya dia menurut dan mau memakannya setelah kubujuk dengan lembut.

“Kalau mamaku masih ada, kurasa mama akan sebaik Tante Zahra.” Ucapan itu terlontar dari bibir Claire tepat setelah dia menghabiskan makanan di piringnya.

Hati ini terasa mencelos. Rasa iba pun seketika muncul. Kasihan sekali anak ini, ditinggal sang mama pergi untuk selamanya di usia yang terlalu kecil. Anak seusia Claire tentu sangat butuh perhatian dan kasih sayang seorang Ibu. Apalagi Raihan juga kerap bepergian karena tuntutan pekerjaannya.

“Mama Claire pasti akan bersikap lebih baik dari Tante Zahra, Sayang. Claire rajin-rajin berdoa ya untuk mama yang sudah di surga,” ucapku sambil menyisipkan rambut Claire ke balik telinganya.

“Iya, Tante. Setiap malam kok sebelum tidur. Papa sama Nenek yang ajarin.” Claire menjawab, kubalas dengan senyuman.
“Alhamdulillah… anak soleha,” pujiku, dan lucunya wajah Claire langsung merona merah karena malu.

Ah, aku makin jatuh hati rasanya dengan anak ini. Andai saja aku punya anak secantik dan secerdas Claire.

Setelah makan, kami lanjutkan dengan menonton televisi. Sengaja kubuka channel yang memutar tayangan kartun untuk Claire.

Beberapa kali Raihan mengirim pesan menanyakan Claire. Dia sungguh khawatir Claire akan membuatku repot, padahal tidak sama sekali. Kurasa Raihan tak terlalu mengenal putrinya karena dia sibuk bekerja, makanya ia jarang menghabiskan waktu bersama Claire.

Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore lewat. Ketika azan berkumandang, aku pamit pada Claire untuk mengerjakan sholat ashar di dalam kamàr. Ketika aku selesai sholat dan keluar untuk menemani Claire, ternyata anak itu sudah tertidur pulas di atas karpet, di depan televisi yang masih menyala.

Segera dia kupindahkan ke dalam kamar dengan hati-hati supaya dia tak terbangun. Baru saja aku meletakkan Claire di atas kasur, kudengar bel rumah berbunyi. Aku tak terlalu mempedulikan, karena Bi Odah pasti membuka pintunya.

Setelah beres dengan Claire, aku pun keluar kamar untuk mengetahui siapa yang datang.
Hampir aku bertabrakan dengan Bi Odah ketika berbalik setelah menutup pintu.

“Astaghfirullahaladziim …,” ucap kami berbarengan.
“Siapa yang datang, Bi?” tanyaku kemudian.
“Nggak kenal, Bu. Tapi orangnya ganteng banget, kayak artis!” Bi Odah menjawab dengan mata wajah berseri-seri, membuatku geli hati sekaligus penasaran siapa yang dikatakannya mirip artis barusan.

“Emangnya nggak bilang siapa namanya?” Tanyaku lagi.
“Bilang sih, Bu. Namanya Raihan.” Bi Odah menjawab, masih dengan wajah berseri.
“Oh … itu Papanya Claire, Bi.”
“Oalah … pantesan anaknya cantik gitu. Wong Papanya ganteng maksimal gitu, eh!” seloroh Bi Odah yang membuatku nyaris kelepasan tawa. Ada-ada saja Bi Odah ini.

Kutinggalkan Bi Odah setelah kuminta dia membuat minuman untuk Raihan.

“Hai, Han …,” sapaku pada Raihan yang sedang duduk di sofa tamu. Lelaki itu nyengir, lalu menanyakan anaknya.
“Claire sedang tidur di kamar,” jawabku.
“Waduh, sampai ketiduran segala dia. Maaf ya kalau seharian ini dia merepotkanmu, Zah.” ucap Raihan.
“Kamu dari tadi yang dibahas itu mulu, deh. Kan sudah kubilang kalau Claire sama sekali nggak merepotkan. Malahan aku senang dia ada di sini. Sepertinya kami sama-sama kesepian.”

Aduh, bicara apa sih aku ini? Kenapa jadi bahas ke situ? Aku jadi salah tingkah karena ucapanku sendiri, sementara Raihan justru tampak kalem saja.

“Biar kubawa saja Claire pulang, Zah. Kamu pasti capek seharian ini dan butuh istirahat.”
“Eh … jangan. Kalau kamu ada keperluan di luar, gak apa biar aku yang jaga Claire di sini. Setelah urusanmu selesai, baru jemput Claire,” ujarku.

Sungguh aku kasihan jika Claire yang sedang lelap harus terbangun karena Raihan akan membawanya pulang.

“Aku nggak ada urusan di luar. Hanya saja aku kasihan sama kamu karena waktu istirahatmu jadi terganggu.”

Obrolan kami terhenti sejenak karena Bi Odah datang membawa segelas minuman untuk Raihan. Saat meletakkan gelas minuman di depan Raihan, Bi Odah tersenyum malu-malu pada lelaki itu sambil mencuri pandang. Dasar Bi Odah.

“Makasih, Bi….” ucap Raihan sopan.

Namun ditanggapi berlebihan oleh Bi Odah dengan menarik nafas dalam-dalam, persis orang kena gejala asma.

Bi Odah segera berlalu masuk kembali ke dalam, menyisakan tawaku dan Raihan atas polahnya barusan.

“Gimana pekerjaanmu, lancar?” Tanyaku berbasa-basi.
“Alhamdulillah. Sudah kamu buka, oleh-oleh yang kemarin kuberikan?”

Oh iya, aku baru ingat tadi malam Raihan memberiku oleh-oleh, namun belum kubuka isinya karena benda itu masih tersimpan dalam tasku. Aku sama sekali tak ingat soal itu.

“Belum, Han. Aku lupa, masih ada di dalam tas.” Aku menjawab apa adanya.

Semoga Raihan tidak berpikir bahwa aku kurang menghargai pemberiannya.

“Oh, nggak apa-apa, Zah. Nanti saja kalau kamu senggang. Aku bertanya hanya ingin memastikan kamu menyukainya.” Raihan berkata, membuatku merasa lega.
“Oh … jadi ini alasan kamu nggak mau datang ke acara syukuran di rumah Jannah?”

Sebuah suara sontak mengejutkan aku dan Raihan. Di ambang pintu, berdiri Mas Hamdi bersama Jannah. Di tangan perempuan itu, tergantung sebuah rantang susun yang entah isinya apa. Aku refleks berdiri, begitu pula Raihan.

“Begini kelakuanmu rupanya. Dilarang keluar bersama laki-laki lain tanpa ijin suami, sekarang kamu bawa laki-laki ke dalam rumah?” Suara Mas Hamdi lantang terdengar. Wajahnya memerah, menyiratkan amarah yang siap ditumpahkan.

“Mas, tolong hormati tamuku. Dia ini temanku, dan dia datang baik-baik ke sini karena hendak menjemput anaknya.” Aku mencoba memberi penjelasan pada Mas Hamdi yang tampak gusar.

“Apa pun alasannya, aku tidak suka ada lelaki yang tak kukenal datang bertamu. Kamu ini sebagai istri harusnya tahu apa hukumnya menerima laki-laki yang bukan mahram masuk ke dalam rumah, Zahra!” Mas Hamdi membentakku.

Dia benar-benar dikuasai emosi. Jannah sendiri terlihat bingung bagaimana harus bersikap melihat kemarahan Mas Hamdi padaku.

“Mas, maaf sebelumnya kalau kehadiran saya jadi membuat Mas dan Zahra ribut. Ini murni kesalahan saya, jadi tolong jangan salahkan Zahra.” Raihan menyela, mencoba membelaku. Namun Mas Hamdi justru mendengkus kasar.

“Kalau Anda tahu diri, silahkan segera keluar dari rumah ini!”

Ucapan Mas Hamdi membuatku terbelalak tak percaya. Tak menyangka sikapnya akan sejauh ini.

“Mas! Anaknya Raihan masih tidur di kamar. Tolong jangan begini, Mas. Hargai aku, hargai tamuku.” Aku mulai panas dengan sikap suamiku ini.
“Zahra, sudah. Biar Claire kubawa pulang. Tolong bangunkan dia, please.”

Aku menatap Raihan dengan selaksa perasaan bersalah.

“Tolong, Zahra. Bangunkan Claire.” Raihan mengulangi pintanya ketika aku masih mematung sambil menatapnya tak nyaman.

Aku pun terpaksa masuk ke dalam kamar. Melihat Claire yang masih lelap, hatiku sungguh nelangsa, tak tega sama sekali untuk membangunkannya. Tapi demi menghindari konflik yang berpotensi makin besar, mau tak mau aku harus menggugah Claire dari tidurnya. Beribu maaf kuucap dalam hati untuk Claire. Bocah itu pun terbangun, menatapku heran dengan kedua mata indahnya yang membulat.

“Papa sudah datang, Sayang. Tante diminta untuk bangunin, Claire,” ucapku pelan.

Alhamdulillah, anak ini tak menangis atau mengamuk karena tidurnya terganggu. Dia justru mengangguk, dan manut saja ketika kugandeng keluar kamar.

Raihan langsung meraih Claire yang sepertinya masih setengah mengantuk ke dalam gendongannya. Setelah mengucapkan terima kasih padaku, dia pun membawa Claire keluar dari rumah. Kutatap Mas Hamdi dengan sorot penuh kekecewaan setelah mobil Raihan berlalu menjauh.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Gendhis Ayu – #Part_10/18

Bu Harjo menghambur ke pelukan Nawang, didekapnya Nawang dengan erat seolah dirinya telah lama tak bersua dengan gadis cantik ini. Sejenak suasana haru dan bahagia menyelimuti warga yang ada dipendopo itu…

Gendhis Ayu – #Part_09/18

Dari jauh terlihat seorang wanita tua tengah duduk dikursi rotan yang telah menghitam di teras sebuah rumah kecil.. Bibirnya mengepulkan asap, mata sipitnya yang cekung termakan usia memandangi Galih dan Ajeng bergantian..

Memilih Bidadari – #Part_11/11 (TAMAT)

Rumi membantu menyiapkan baju yang akan dibawa Arfan ke luar kota selama seminggu. Sebenarnya sudah biasa ia akan ditinggal selama itu. Namun karena tiga hari ini wajahnya mendung gegara kejadian terima kunci mobil dari Arini kemarin, Rumi agak tak enak melepasnya…