Madu Pernikahan (Pelangi Untuk Zahra) – #Part_09/17

Sudah dua minggu berselang sejak pertemuanku dan Raihan serta anaknya, Claire. Hingga saat ini Raihan belum juga memberi kabar. Mungkin dia benar-benar sedang sibuk dengan pekerjaannya yang mengharuskan terbang ke berbagai belahan tempat membawa para penumpang. Doa pun tak luput kusemat untuk keselamatannya. Mas Hamdi pun kini kian jarang mengunjungi. Dalam seminggu dia hanya meluangkan waktu di rumahku paling banyak tiga hari. Lambat laun, kehidupan poligami yang kujalani ini rasanya mulai tak adil.

Sudah dua minggu berselang sejak pertemuanku dan Raihan serta anaknya, Claire. Hingga saat ini Raihan belum juga memberi kabar. Mungkin dia benar-benar sedang sibuk dengan pekerjaannya yang mengharuskan terbang ke berbagai belahan tempat membawa para penumpang. Doa pun tak luput kusemat untuk keselamatannya.

Mas Hamdi pun kini kian jarang mengunjungi. Dalam seminggu dia hanya meluangkan waktu di rumahku paling banyak tiga hari. Lambat laun, kehidupan poligami yang kujalani ini rasanya mulai tak adil.

Ah, aku lupa. Bukankah manusia memang tempatnya salah dan khilaf? Mana ada laki-laki di dunia ini yang benar-benar bisa adil seperti baginda Rasulullah dalam memperlakukan istri-istrinya? Jika pun ada, bisa dihitung satu banding seribu.

Untung saja aku ditemani Bi Odah, asisten rumah tangga yang telah bekerja semenjak aku dan Mas Hamdi mulai merajut bahtera rumah tangga. Bi Odah lah yang menjadi kawan berbincang kala malam atau ketika toko sedang libur dan aku tidak pergi kemana-mana.

Saat aku sedang mengerjakan catatan keuangan toko, tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Dari nada yang terdengar, menandakan ada sebuah pesan masuk.

[Alhamdulillah, Jannah hamil, Zah. Minggu besok akan diadakan syukuran kecil-kecilan untuk merayakan kabar bahagia ini di kediaman orangtua Jannah. Kamu bisa datang?]

Sebaris pesan yang ternyata dari Mas Hamdi terbaca. Sesak tiba-tiba memenuhi dada. Semudah itu Allah menitipkan benih keturunan di rahim Jannah. Dalam usia pernikahan mereka yang amat baru. Sedang aku, yang menanti selama tujuh tahun terakhir ini, hanya bisa gigit jari mendengar kabar yang membahagiakan bagi mereka tersebut.

Pandangan mataku mengabur karena bening air mata mulai menggenangi kedua pelupuk mata. Adilkah ini ya Allah? Apa salahku hingga aku harus mengalami ini semua?

Pikiranku buyar, tak sanggup lagi menatap angka-angka di layar laptop. Begitu nyeri rasanya ketika semua terasa tak berpihak pada kita.

Apa yang harus kubalas kepada Mas Hamdi? Ucapan selamat kah meski hati tak benar-benar tulus ketika mulut melafazkannya?

Kutarik nafas dalam-dalam untuk mengisi udara pada setiap sudut hati yang tercabik parah ini. Setelahnya, kumatikan ponsel tanpa membalas pesan dari suamiku tadi. Terserah apa yang dipikirkannya nanti, aku terlalu sakit untuk berpura-pura turut bahagia.


Pukul lima sore, aku memutuskan pulang ke rumah. Kepalaku terasa sakit, mungkin karena tak henti-hentinya memikirkan apa yang sedang terjadi saat ini dalam kehidupanku.

Sebelum ke luar toko, aku berpesan pada Inka dan Wika untuk memastikan semua pintu telah terkunci rapat saat tutup toko jam sembilan malam nanti.

Berjalan ke arah mobil yang terparkir dengan semangat yang sudah terjun bebas sejak tadi siang, aku dikejutkan oleh pemandangan di depan mata. Langkah ini sontak terhenti demi melihat siapa yang tengah berdiri di dekat mobilku.

“Tante …!” Claire berseru girang ke arahku. Sementara Raihan yang berdiri di sebelahnya menyunggingkan senyum yang aku sendiri tak berani berlama-lama menatapnya.

Tersadar dari keterpakuan sesaat tadi, aku segera berjalan mendekati mereka dengan langkah-langkah lebar.
Claire memeluk tubuhku erat ketika aku berjongkok di depannya.

“Kalian sejak kapan berdiri di sini? Kenapa nggak masuk saja?” ujarku sambil mendongak menatap Raihan yang berdiri menjulang di atasku.

Lelaki itu terkekeh pelan, lalu dengan santai menjawab,

“Sengaja mau bikin kejutan buat kamu.”

Aku memberungutkan wajah. Antara kesal sekaligus bahagia. Entah bagaimana, mood yang tadinya anjlok seketika langsung naik dengan kehadiran mereka yang tak disangka-sangka.

“Aku kangen banget sama Tante Zahra.” Claire berkata.

Ekspresi wajahnya yang manis tampak sungguh-sungguh. Kubelai rambutnya yang tergerai panjang berwarna kecoklatan penuh sayang.

“Tante juga kangen banget sama Claire,” balasku seraya tersenyum.
“Ini.” Raihan menyodorkan sesuatu padaku. Sebuah benda kecil berbentuk persegi yang dibalut kertas kado polos warna biru. Warna favoritku.
“Apa ini?” Aku berdiri dan bertanya pada Raihan.
“Sekedar oleh-oleh buatmu,” jawabnya.
“Kenapa harus repot-repot, sih?” ujarku, meski dalam hati aku senang juga dia mengingatku.
“Nggak repot, kok. Oh ya, kamu mau langsung pulang setelah ini?”
“Hmm … sebenarnya tadi rencananya begitu. Kenapa memangnya?” Aku balik tanya.
“Aku mau makan bareng Tante Zahra lagi kayak waktu kemaren!” Claire menyela.

Kutatap gadis kecil itu, wajahnya menyiratkan harapan. Namun aku justru teringat janji pada Mas Hamdi tempo hari untuk tidak pergi keluar dengan lelaki lain tanpa seijinnya. Aku dilema, antara janji pada suami namun tak ingin membuat anak ini kecewa.

Menyadari kegundahanku, Raihan pun berkata,

“Kalau nggak bisa nggak apa-apa, Zah. Mungkin bisa lain kali.”

Wajah imut Claire berubah murung dengan mulut meruncing. Aku makin didera perasaan bersalah.

“Maafkan Tante ya, Claire.” Hanya itu yang bisa kukatakan.

Raihan tersenyum maklum, meski semburat kecewa itu selintas terpancar dari kedua matanya.

“It’s okay, Dear. Tante Zahra sudah ada acara lain. Salah kita juga yang mendadak datang kemari tanpa memberitahunya terlebih dahulu. There is still have tomorrow, Honey.” Raihan berusaha membujuk Claire yang cemberut.

Sungguh, ingin sekali rasanya aku mengiyakan ajakan mereka malam ini. Toh, di rumah pun aku hanya berteman sepi seperti biasanya. Tapi saat ini statusku masih istri Mas Hamdi. Dan aku wajib mematuhinya.

“Claire Sayang… gimana kalau nanti hari Minggu Claire main ke rumah Tante saja. Kita bisa menghabiskan waktu sama-sama seharian di rumah Tante.”

Mendengar ucapanku, wajah Claire seketika berubah cerah. Matanya melebar berbinar-binar.

“Beneran aku boleh main ke rumah Tante Zahra?” Tanyanya antusias.

Aku mengangguk mengiyakan.

“Berarti lusa dong, ya? Ini kan sudah hari Jumat.” Claire berkata.

Lagi-lagi aku mengangguk.

“Papa ikut?” Claire bertanya pada Raihan.

Ah, ini dia… dilema lagi. Bagaimana kalau Mas Hamdi tau Raihan main ke rumah? Kalau Claire saja mungkin tak kan jadi masalah. Tapi Raihan?

“Papa hari Minggu ada meeting di kantor. Nanti sebelum ke kantor, Papa anterin kamu dulu ke rumah Tante Zahra.”

Lagi-lagi Raihan sepertinya bisa menebak isi hatiku. Aku menatapnya gamang, namun senyum yang terkembang diwajahnya seolah menyiratkan bahwa dia memaklumi.

Setelahnya, kami pun berpisah. Dalam perjalanan pulang, pikiranku dipenuhi tentang Raihan dan Claire. Entah mengapa, rasa yang tak biasa sepertinya muncul tanpa bisa kucegah.

Atau apakah perasaan ini timbul lantaran aku merasa kesepian, lalu Raihan serta Claire hadir dan membunuh rasa sepi itu. Aku merasa nyaman di tengah kondisi pernikahan yang mulai hampa semenjak kehadiran Jannah dalam rumah tanggaku dan Mas Hamdi.

Tak dapat kunafikkan, aku hanya wanita biasa yang terkadang mengedepankan rasa. Tapi ikatan pernikahan yang masih membelenggu membuatku tak leluasa.

Berbagai pikiran berkecamuk, namun yang jelas aku merasa hariku berwarna tiap kali Raihan bersama anaknya menemuiku.


“Dek, jam berapa kamu datang ke rumah orangtua Jannah? Ini acaranya sudah mau dimulai, lho.”

Suara Mas Hamdi terdengar melalui sambungan telepon. Di rumah Jannah sedang mengadakan syukuran atas kehamilan maduku itu. Jelas aku enggan menghadirinya. Bukan karena aku iri melihat kebahagiaan Mas Hamdi dan istri barunya, namun aku tak siap menerima tatapan kasihan sekaligus cemoohan dari orang-orang di sana.

Aku tak mau semakin dikuliti oleh mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatku merasa dipojokkan. Mengapa Jannah yang baru dua bulan menjadi istri Mas Hamdi sudah ‘berisi’, sedangkan aku yang sudah tujuh tahun mendampingi masih saja ‘kosong’.

Pun, aku rasanya tak kan kuat jika harus menyaksikan kemesraan Mas Hamdi dan Jannah, terlebih banyak pula mata lain yang melihat. Hal itu membuatku merasa sebagai pecundang yang kalah telak. Rasa insecure-lah yang membuatku terpaksa memutuskan absen dari menghadiri acara itu. Lagi pula, aku sudah ada janji hari ini bersama Claire yang akan menghabiskan weekend bersama di rumahku.

Celoteh gadis kecil itu tentu lebih menghibur dari pada terasing di tengah kebahagiaan Mas Hamdi dan Jannah yang akan segera menjadi orangtua.

“Halo, Dek? Kok nggak dijawab? Kamu denger Mas, kan?” ulang Mas Hamdi.
“Iya, Mas, aku dengar. Tapi maaf sepertinya aku tak bisa hadir,” ucapku.
“Lho, kenapa? Ada Ibu juga lho di sini? Kamu nggak seneng Mas bakal dapat calon anak?”

Aku memejamkan mata demi mendengar perkataan suamiku barusan. Wanita mana memangnya yang bisa merasa senang suaminya akan mendapatkan anak dari wanita lain?

“Bukan begitu, Mas. Aku hanya kurang enak badan.” Aku terpaksa berdusta pada Mas Hamdi agar dia tak terus mendesakku untuk datang ke sana.
“Kamu sakit? Sudah ke dokter? Jaga dong kesehatanmu, Dek. Untuk ke depannya, Mas mungkin akan lebih banyak menghabiskan waktu di sini. Mas harus menjaga Jannah dan calon anak kami. Jadi kamu harus pinter-pinter jaga dirimu.”

Hal seperti ini sudah kuduga akan terjadi jauh sebelum hari ini tiba. Dan apa yang kupikirkan dulu memang terbukti. Saat Jannah bisa memberikan anak untuk Mas Hamdi, sekaligus cucu untuk Ibu mertua, otomatis aku akan tersingkir perlahan-lahan.

“Ya, Mas. Sudah dulu, ya. Aku mau istirahat, salam buat Jannah dan yang lainnya. Assalamualaikum.” Aku pun segera menutup pembicaraan tanpa menunggu jawaban salam dari Mas Hamdi.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…