Madu Pernikahan (Pelangi Untuk Zahra) – #Part_08/17

Claire memperkenalkan diri sebelum aku sempat menjawab pertanyaan suamiku. Dari kejauhan, Raihan sepertinya menyadari apa yang sedang berlangsung di sini. Lelaki itu bangkit dari duduk, lalu berjalan mendekati kami. Tubuh jangkungnya terlihat menonjol di antara aku, Mas Hamdi, dan juga Jannah yang kini juga sudah bergabung berdiri. Tepatnya, dia berdiri di samping Mas Hamdi.

“Tante, aku mau pipis….” Claire tiba-tiba berkata.
“Biar aku saja yang mengantarnya.” Raihan menyela ketika aku berdiri dari kursi, bermaksud mengantarkan Claire ke toilet.
“Aku mau sama Tante Zahra aja. Kami kan sama-sama perempuan.” Claire berkata sembari melempar lirikan tajam pada papanya.

Mau tak mau aku tersenyum geli melihat raut wajah keduanya. Yang satu memasang tampang galak, sedang satu lagi memasang tampang cengo.

“Ya sudah, ayo Tante antar.” Aku menarik lembut tangan bocah itu.
“Claire bisa sendiri di dalam?” Tanyaku ketika kami tiba di depan pintu toilet.

Anak cerdas itu mengangguk pasti.

“Kalau begitu, Tante tunggu di sini, ya? Pintunya nggak usah di kunci dari dalam,” ujarku kemudian.

Claire menurut, lalu masuk. Sementara aku berdiri sambil menyandarkan punggung pada dinding.

Mungkin seperti ini rasanya jika punya anak. Tiba-tiba hati terasa nyeri, kecewa pada diri sendiri. Apakah Tuhan belum berkenan karena dirasa aku belum mampu?

“Tante, sudah.” Claire muncul dari balik pintu toilet.
“Ayo, kita cuci tangan dulu, ya?” Kuarahkan Claire menuju wastafel yang terletak berhadapan dengan bilik toilet.

Setelah membasuh tangannya dengan sabun, kuambilkan beberapa lembar tissue untuk mengeringkan tangan Claire.

Setelahnya, kami pun keluar untuk kembali ke meja kami. Saat tinggal beberapa langkah lagi dari meja di mana Raihan sedang duduk menunggu kami, aku dikejutkan oleh dua orang yang baru saja memasuki restoran.

“Zahra?” Mas Hamdi menegurku dengan tatapan kaget. Di sebelahnya ada Jannah yang juga sepertinya tak menyangka akan bertemu denganku di sini. Mata Mas Hamdi beralih pada Claire yang menggandeng tanganku.

“Mas?” Hanya itu yang mampu keluar dari mulutku.
“Sama siapa kamu di sini? Ini anak siapa?” Mas Hamdi memberondong dengan pertanyaan seraya melangkah mendekat.
“Aku Claire.”

Claire memperkenalkan diri sebelum aku sempat menjawab pertanyaan suamiku.

Dari kejauhan, Raihan sepertinya menyadari apa yang sedang berlangsung di sini. Lelaki itu bangkit dari duduk, lalu berjalan mendekati kami. Tubuh jangkungnya terlihat menonjol di antara aku, Mas Hamdi, dan juga Jannah yang kini juga sudah bergabung berdiri. Tepatnya, dia berdiri di samping Mas Hamdi.

“Maaf?” ucap Raihan, sedikit agak kebingungan dengan situasi ini.
“Han, ini Mas Hamdi, suamiku.”

Sekilas ekspresi Raihan terlihat kaget, namun dia sepertinya cepat menguasai diri. Dengan ramah dia tersenyum, lalu mengulurkan tangan pada Mas Hamdi. Suamiku sendiri tampak kaku dan terlihat kurang senang menyadari aku berada di sini bersama Raihan dan anaknya.

“Raihan….” Raihan memperkenalkan diri setelah Mas Hamdi menyambut uluran tangannya, kendati dia tak tersenyum sama sekali.

Aku jadi tak enak pada Raihan karenanya. Namun wajar saja bila Mas Hamdi tak suka dengan apa yang sedang kulakukan di sini, saat ini.

“Kalian ada keperluan apa sampai bisa lunch bareng di sini?” Mas Hamdi melempar tanya, namun terasa seperti sebuah tuduhan.
“Hmm… maaf sebelumnya kalau Mas kurang berkenan. Tapi saya dan anak saya mengajak Zahra lunch bareng karena ingin mengucapkan terima kasih atas kebaikan Zahra yang memberikan kado kue ulang tahun untuk putri saya beberapa hari yang lalu.” Raihan menjelaskan.

Yang kukagumi, sikapnya tetap kalem dan tenang. Berbeda denganku yang rasanya seperti sedang tertangkap basah sedang berselingkuh oleh Mas Hamdi.

Mas Hamdi melirikku, seolah ingin memastikan kebenaran kata-kata Raihan barusan.

“Iya, Mas. Maaf kalau aku tidak sempat menjelaskannya tadi pagi,” ucapku kemudian.
“Sudahlah Mas, aku yakin Mbak Zahra memang sekedar makan siang aja di sini bersama temannya. Ayo kita pilih meja dulu, kita jangan ganggu mereka.” Jannah menimbrung sambil merangkul lengan Mas Hamdi mesra.

Melihat pemandangan itu, Raihan pun menyorotku dengan tatapan penuh tanya. Tentu saja dia belum tahu kalau kami sedang menjalani kehidupan berpoligami. Seketika kepercayaan diriku luntur di hadapannya. Aku merasa seperti pecundang yang kalah dan diam saja suamiku diambil orang.

“Kami sudah selesai, kok. Yuk Han, antar aku kembali ke toko.” Aku berkata. Raihan juga bukan pria bodoh, dia mengerti gesture-ku yang sudah memberi aba-aba rasa tak nyaman yang menderaku.

Setelah basa-basi, kami pun berlalu. Aku dan Claire langsung keluar menuju parkiran, sementara Raihan menyelesaikan pembayaran di kasir terlebih dahulu.

“Sudah siap?” Raihan bertanya pada aku dan Claire yang sudah duduk manis di dalam mobil.

Claire duduk di jok belakang, sementara aku duduk di samping kemudi.

“Siaapp …!” Claire menjawab lantang nan ceria.

Raihan melirikku sambil melempar senyum jenaka, seolah barusan di dalam sana tadi tak terjadi apa-apa.

Aku merasa malu pada Raihan. Dalam benakku dia pastilah menerka-nerka tentang siapa Jannah. Kekuranganku sebagai wanita pun pasti akan terkuak, dan itu sungguh meruntuhkan harga diriku yang sudah rapuh ini.

“Are you okay, Madam?” Raihan berkata.
“Hmmm,” gumamku.

Raihan tak lagi berkata-kata, melainkan langsung melajukan kendaraan mengantarku kembali ke toko.

Saat akhirnya kami sampai di pelataran parkir depan toko, dan aku berniat hendak langsung turun, Raihan mendadak mencekal tanganku.

Terkejut dengan apa yang dilakukannya, aku hanya menatapnya dengan mulut terkunci.

“Apa pun yang terjadi dalam kehidupan rumah tanggamu, aku percaya dan yakin kamu adalah wanita yang kuat. Jangan menebak-nebak isi hati orang lain, terlebih isi hatiku, Zahra.”

Seandainya bisa menangis, tentu sudah berderaian air mata ini. Tapi kehadiran Claire di tengah-tengah kami saat ini sanggup membuatku menahan diri, juga meredam kecamuk di hati. Rasanya tak pantas jika aku menangis dan dilihat olehnya. Tentu anak itu akan bertanya-tanya, dan aku tak mau Raihan akhirnya repot untuk memberi penjelasan pada Claire.

“Terima kasih,” ucapku akhirnya, sambil memaksakan senyum.
“Zahra …,” panggil Raihan.
“Ya?”
“Besok aku mendapat jadwal terbang lagi, dan akan berlanjut ke beberapa kota lain. Mungkin agak lama kita tak kan bersua, dan kuharap itu tak menjadikanmu berpikiran aneh serta menganggap aku sengaja menghindarimu setelah kejadian tadi.”
“Iya, terima kasih Han. Hati-hati selama perjalanan dinasmu, ya? Aku pasti akan sangat merindukan Claire,” jawabku sembari membelai tangan Claire yang sedang merangkul pundakku dari belakang.

“Aku permisi ya, Han. Terima kasih atas traktirannya, dan aku minta maaf atas kejadian tadi.”
“Iya, sama-sama. Jangan dipikirkan lagi yang tadi. We both will gonna miss you.” Raihan mengerling jahil, membuat wajah ini terasa memerah atas ucapannya.
“Bye, Claire. Sampai ketemu lagi ya, Sayang.” Aku mengecup pipi Claire gemas di samping wajahku.

Gadis itu tersenyum, lalu melambaikan tangan sebelum aku ke luar dari mobil.

**

“Siapa lelaki tadi, Dek?” Mas Hamdi bertanya kaku dengan wajah penuh penghakiman.
“Cuma teman, Mas. Teman masa sekolah di SMA dulu,” jelasku.

Namun sorot itu sepertinya masih sangsi dengan penjelasanku. Air mukanya terlihat keruh.

“Lain kali jangan sembarangan pergi dengan lelaki lain, apa pun urusannya tanpa ijinku. Kamu masih tetap istriku, jaga martabatmu dan martabatku.” Ucapannya terasa tajam menusuk jantung.

Yang kulakukan memang salah, ku akui itu. Karena itu aku tak mau membantahnya agar masalah ini cukup selesai sampai di sini saja.

“Iya, Mas. Maafkan aku.”
“Ya sudah, Mas mau ke tempat Jannah dulu. Malam ini Mas nggak nginep di sini.”

Setelah bicara begitu, Mas Hamdi berlalu begitu saja dariku. Tak ada sekedar kecupan di kening seperti kebiasaan yang selalu dia lakukan ketika hendak pergi.

Aku menghela nafas panjang setelah kepergiannya. Sepertinya, sejak habis berbulan madu kemarin, Mas Hamdi makin dekat dengan Jannah. Mungkin bibit-bibit cinta mulai hadir dihatinya untuk maduku itu. Dan aku mau tak mau harus siap menerima keadaan ini. Toh ini hanya masalah waktu saja Mas Hamdi akan mengacuhkanku pada akhirnya.

Jannah cantik dan dari keluarga terpandang. Geraknya lembut gemulai, tutur katanya juga halus. Dan yang paling penting, dia pandai mengambil hati Ibu mertua kami.

Jika kelak dia mengandung anak Mas Hamdi, mungkin aku tak hanya sekedar diacuhkan, namun disingkirkan. Apa gunanya memelihara istri yang mempunyai banyak kekurangan sepertiku, jika semua yang mereka inginkan ada pada Jannah.

Kegetiran ini begitu pahit kurasakan. Sudahlah tak punya saudara kandung, orangtua pun telah tiada. Kelak jika aku tua, apakah aku akan hidup sendirian berteman kesepian? Pemikiran ini sungguh menggelisahkan hati, hingga tanpa sadar air mata mengalir di kedua pipi.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…