Madu Pernikahan (Pelangi Untuk Zahra) – #Part_07/17

Pagi-pagi sekali aku bangun, sholat subuh, beres-beres rumah karena Bi Odah masih ijin cuti pulang kampung. Mas Hamdi juga kulihat mengerjakan sholat meski agak sedikit kesiangan. Dia menghampiriku yang sudah duduk manis di meja makan. Roti bakar serta jus jeruk tersedia di meja makan menyambutnya.

Pagi-pagi sekali aku bangun, sholat subuh, beres-beres rumah karena Bi Odah masih ijin cuti pulang kampung. Mas Hamdi juga kulihat mengerjakan sholat meski agak sedikit kesiangan.

Dia menghampiriku yang sudah duduk manis di meja makan. Roti bakar serta jus jeruk tersedia di meja makan menyambutnya.

“Kamu bangun subuh kok nggak bangunin aku, Yang?” Tegurnya sambil meraih senderan kursi. Menariknya ke belakang, lalu duduk di atasnya.
“Maaf, Mas. Aku lihat Mas pulas banget tidurnya, kelihatan capeeek banget.” Sengaja kutekankan kata ‘capek’ tadi untuk menyindirnya halus.

Dia tersenyum ke arahku sekilas, lalu sibuk menyantap menu sarapan di hadapannya. Jujur saja memang aku agak kecewa. Sekian lama tak bersama, kupikir hasratnya akan menggelora ketika kami akhirnya berkesempatan seranjang bersama.

Tapi setelah mandi dia justru tertidur pulas, bahkan suara dengkurannya cukup keras. Pertanda dia sangat kelelahan. Pikiran jelek pun menari-nari di benakku, teringat bahwa dia baru saja pulang berbulan madu.

“Mas, aku pergi dulu, ya?” pamitku pada Mas Hamdi yang masih membaca berita online sambil menikmati secangkir kopi.
“Loh kok pagi banget?” Dia berujar.
“Kamu cantik banget hari ini? Ada acara di luar?” Dia bertanya sambil meneliti penampilanku.
“Nggak ada,” jawabku berbohong.

Rencana makan siang bersama Raihan dan Claire rasanya tak perlu kujelaskan pada Mas Hamdi. Toh bukan hal penting untuk diketahuinya.

“Ya sudah, hati-hati ya, nyetirnya?” Pesan Mas Hamdi.

Aku hanya mengiyakan, mencium tangan seperti biasa, lalu tancap gas menuju toko kue yang menjadi sumber penghasilanku.

Aku tak tahu apa yang terjadi dengan perasaanku. Memikirkan siang ini yang akan kulewatkan bersama Raihan dan Claire putrinya, membuat hati serasa berbunga.

Mungkin aku terlalu rindu akan hadirnya sosok buah hati, jadi itu sebabnya aku begitu bersemangat menyambut hari.

Waktu berjalan sangat lambat kurasa. Berkali-kali kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanan, menunggu jam makan siang tiba padahal waktu baru menunjukkan pukul sepuluh pagi.

Daripada terkungkung dalam perasaan yang tak jelas, aku pun memilih melihat-lihat ruang pantry, di mana beberapa karyawan yang kupekerjakan sedang membuat roti untuk di jual hari ini.

Semua terlihat lancar, bahan-bahan masih cukup, yang terpenting dan selalu kuingatkan adalah kebersihan harus selalu terjaga. Aku cukup puas dengan kinerja mereka selama ini. Tanpa mereka pun mungkin toko kue yang kurintis tidak akan maju seperti sekarang.

Awal mula keahlian membuat kue kudapatkan karena sering melihat almarhumah Ibu yang rajin membuat kue dari semenjak aku masih kanak-kanak.

Rasa ingin tahu membuatku sedikit demi sedikit mencoba resepnya, dan semakin berkembang melalui eksperimen yang kerap ku eksekusi sendiri. Namun kala itu membuat kue hanya menjadi sekedar hobi. Tak terpikir untuk menjadikannya sebuah mata pencaharian seperti sekarang ini.

Jam yang kutunggu dengan gelisah akhirnya tiba. Jantung ini berdetak tak karuan manakala jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas lewat lima menit. Entah kenapa aku ini, rasanya seperti ke masa-masa sebelas tahun silam. Masa di mana aku menunggu janji kencan bersama Raihan dengan hati berdebar untuk pertama kalinya.

Kenangan itu sungguh manis. Betapa aku sangat tersanjung dulu saat idola seantero sekolah itu mulai melakukan pendekatan padaku. Gayanya yang cuek tapi mau, mampu menarik-ulur perasaan. Hingga ketika aku memutuskan menyambut perasaannya, setiap langkah kakiku selalu diiringi tatapan iri gadis-gadis yang mengidolakan Raihan.

Namun cinta monyet itu harus berakhir seiring kelulusan kami di bangku SMA. Ayahku yang di mutasi ke luar Jakarta, membuatku terpaksa mengikutinya dan melanjutkan pendidikan di kota tempat dinas ayah yang baru.

Tok… tok… tok…

Sebuah ketukan di pintu sedikit mengagetkanku dari lamunan yang menghanyutkan pada kenangan masa lalu sesaat tadi.

“Masuk,” ucapku.

Tak lama, kepala Wika, salah satu karyawan yang bertugas bersama Inka untuk melayani pembeli, muncul dari balik pintu yang setengah terbuka.

“Permisi, Bu. Ada teman Ibu di luar.” Wika berkata.

Aku memberinya isyarat bahwa aku akan segera keluar. Wika mengangguk hormat, lalu kembali menutup pintu.

Teman yang dimaksud Wika tentunya adalah Raihan. Kurapikan bagian depan pakaian juga kerudung segi empat bermotif yang kukenakan. Aneh juga, kenapa aku mendadak begitu memperhatikan penampilan hanya untuk bertemu Raihan?

Aku lantas bangkit dan segera keluar ruangan. Tak lupa, tali tas kucangklongkan di bahu.
Benar saja, Raihan dan Claire sedang berdiri di dekat meja kasir. Claire, seperti biasa, terlihat akrab berbincang bersama Inka dan Wika. Kebetulan pembeli hanya satu-dua saja, jadi mereka bisa meladeni bocah menggemaskan itu berbincang akrab.

Raihan memasang senyum begitu mata kami bersirobok. Aku cepat mengalihkan pandangan pada Claire yang ternyata juga telah menyadari kehadiranku.

“Tante Zahra!”

Serunya dengan kegembiraan yang tidak dibuat-buat. Tentu saja, mana ada anak kecil yang bisa bersikap hiprokit layaknya manusia dewasa? Mereka adalah makhluk polos dan tulus karena belum terkontaminasi kerasnya hidup, juga kejamnya dunia.

Aku melangkah mendekat, disambut rentangan tangan Claire yang kemudian memeluk pinggangku erat saat kami sudah tak lagi berjarak.

“Sudah siap?” Raihan bertanya.

Penampilan maskulinnya, membuat gugup tiba-tiba menyerang. Sumpah, ini cuma makan siang biasa. Bersama Claire, anaknya juga. Ini bukan kencan, okey? Tapi kenapa sedari tadi jantung ini seakan melonjak-lonjak tak karuan?

“Sudah,” jawabku singkat, sambil membetulkan anak rambut Claire yang sedikit berantakan.
“Ayo, kalau begitu.” Raihan kembali melempar senyum, lalu berbalik dan berjalan ke luar toko.

Aku dan Claire menyusul di belakangnya.

Claire terlihat begitu gembira, senyum cerah tak pernah lepas dari bibirnya yang mungil. Gadis kecil ini juga seolah tak mau jauh dariku. Menempel terus seolah kami sudah kenal sangat lama dan akrab.

Sebuah restoran steak dipilih setelah kami berunding menentukan tempat makan. Saat memasuki restoran, seorang waitress tersenyum ramah menyambut kedatangan kami.

Suasana tak terlalu ramai, sebenarnya kurang cocok rasanya mengajak anak seusia Claire ke sini. Namun sepertinya anak itu tak rewel dan manut saja. Pergi makan siang bertiga seperti ini, mungkin orang akan berpikir bahwa kami adalah satu keluarga, melihat betapa manjanya Claire padaku.

Setelah memesan makanan, kami pun berbincang tentang hal-hal ringan seputar pekerjaan Raihan yang ternyata berprofesi sebagai pilot di sebuah perusahaan maskapai ternama di negeri ini.

“Perasaan kamu dulu nggak pernah bilang kalau punya cita-cita menjadi pilot?” Ujarku sambil melempar tatapan protes pada Raihan.
“Gimana mau cerita, wong kamu-nya menghilang.” Dia berseloroh.

Aku tersenyum, lalu menunduk menyembunyikan wajah.

“Aku sendiri nggak nyangka bakal ketemu kamu kemarin. Sebuah kebetulan yang menyenangkan,” ungkap Raihan.
“Sama, aku juga.” Aku membalas ucapannya.
“Kamu sudah menikah, Zah?” Tanya Raihan kemudian, yang membuat hati ini ngilu mengingat keadaan rumah tanggaku.
“Iya, sudah.” Hanya itu tanggapanku, berharap dia tak lagi melanjutkan bahasan seputar pernikahanku.
“Sudah berapa anak-anakmu? Pasti ada yang seumuran Claire, ya? Makanya kamu cepet akrab sama Claire,” tanya Raihan lagi.

Ini bagian paling kubenci jika seseorang membicarakan seputar rumah tanggaku. Ujung-ujungnya pasti bertanya soal anak, hal yang membuatku terpaksa rela dipoligami.

Aku tersenyum canggung, lalu menggeleng lemah. Semangatku yang tadinya membubung tinggi, kini tiba-tiba merosot tajam.

Untungnya, keadaan ini tidak berlangsung lama. Situasi teralihkan dengan kedatangan waitres yang membawakan pesanan kami. Aku membantu memotong kecil-kecil steak ayam untuk Claire. Anak ini ternyata selain cantik dan cerdas, dia juga mandiri. Dia memakan sendiri makanannya tanpa disuapi meski agak sedikit belepotan.

“Aku saja yang duduk di situ, Zah. Takut Claire merepotkanmu.” Raihan menawarkan untuk bertukar tempat denganku.

Aku menggeleng cepat.

“Nggak apa-apa, Han. Claire sama sekali nggak ngerepotin aku, kok. Ya kan, Sayang?” Aku berkata kepada Claire yang sedang menikmati makanannya.

Gadis cantik itu tersenyum, lalu mengangguk. Kami pun mulai makan.

Sesekali, secara tak sengaja aku menangkap Raihan mencuri pandang melalui ekor mataku.

“Kenapa kamu, Han?” Aku memberanikan diri bertanya.

Awalnya, kupikir Raihan akan gugup dan salah tingkah karena aku memergoki aksinya. Tapi aku salah. Lelaki itu justru tersenyum kalem sambil menatap ke kedalaman mataku.

“Aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu, Zah,” ucapnya.
“Apa?” Tanyaku.

Raihan meletakkan pisau dan garpunya di sisi piring steak-nya. Pandangannya benar-benar fokus ke arahku kini.

“Kamu pasti penasaran tentang mamanya Claire.”

Aku mengerjapkan mata, mendapati dia tahu apa yang sedari tadi ada dibenakku. Tanpa sadar aku mengangguk seperti orang bodoh.

“Istriku sudah meninggal dunia dua tahun lalu karena kecelakaan, Zah. Tepat di hari anniversary pernikahan kami yang ke lima.” Raihan menjelaskan dengan suara pelan.

Raut wajahnya juga tenang. Sepertinya duka karena kehilangan istri tercinta sudah mulai sembuh.

“Jujur aku merasa bersalah pada Claire. Pekerjaan membuatku tak bisa sering-sering menghabiskan waktu dengannya. Ditambah mamanya pun sudah tiada. Claire kutinggalkan bersama nenek dan baby sitter jika aku harus pergi bekerja.”

Saat membicarakan Claire, mata itu terlihat mengelam sambil menatap putrinya yang duduk di sebelahku. Aku paham perasaannya meski aku belum menjadi seorang ibu. Tentu tak mudah membesarkan anak sendirian. Meski Raihan bisa membahagiakan Claire lewat materi, tapi waktu tak kan pernah bisa dibeli.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…