Madu Pernikahan (Pelangi Untuk Zahra) – #Part_06/17

Setelah memarkir kendaraan di depan toko, aku bergegas masuk ke dalam. Nafas agak sedikit tersengal karena aku sedikit terburu-buru tadi, khawatir jika Raihan dan Claire lama menunggu. Sesampainya di dalam, kedua netra ini langsung menangkap sosok mungil berambut hitam lebat yang panjangnya menyentuh pinggang. Gadis kecil itu berdiri di depan Inka sambil berceloteh dengan karyawanku yang terkenal ramah itu.

Setelah memarkir kendaraan di depan toko, aku bergegas masuk ke dalam. Nafas agak sedikit tersengal karena aku sedikit terburu-buru tadi, khawatir jika Raihan dan Claire lama menunggu.

Sesampainya di dalam, kedua netra ini langsung menangkap sosok mungil berambut hitam lebat yang panjangnya menyentuh pinggang. Gadis kecil itu berdiri di depan Inka sambil berceloteh dengan karyawanku yang terkenal ramah itu.

Apakah itu Claire, anak Raihan? Aku masih belum yakin karena tidak melihat sosok Raihan disana.

Aku pun berjalan mendekati Inka, menanyakan keberadaan Raihan yang tadi menelepon dan katanya akan menunggu.

“Inka!” panggilku.

Inka buru-buru berdiri begitu melihat aku datang.

“Tadi teman saya menelepon dan katanya akan menunggu, kemana dia sekarang?” Tanyaku pada Inka.
“Oh, Pak Raihan ya, Bu? Anu… beliau barusan keluar sebentar untuk membeli ice cream buat Claire.” Saat menyebut nama Claire, mata Inka mengarah pada gadis kecil di depannya.

Oh, jadi benar ini anak Raihan. ‘Cantik sekali…,’ pujiku dalam hati. Gadis kecil itu mewarisi hidung mancung serta dagu belah ayahnya. Kulit seputih pualam serta mata bulat bening itu mungkin diwarisinya dari sang ibu. Aku menduga-duga.

Saat pandangan kami bertemu, gadis kecil itu melempar senyumnya ke arahku. Aku membalas senyumnya dengan ramah, lalu berjalan memutari meja untuk menghampiri Claire.

“Halo, cantik… kamu pasti Claire, ya?” Tanyaku mengakrabkan diri, sambil memposisikan diri setengah berlutut agar kami bisa saling berhadapan.
“Iya, Tante. Aku Claire,” jawabnya ramah.

Mata indahnya memandangiku, mungkin dalam hatinya bertanya-tanya, siapa aku ini.

“Nama Tante Zahra. Claire sudah lama menunggu di sini?” Mata itu langsung berbinar begitu aku menyebutkan nama.
“Tante ini Tante Zahra?” Ulangnya.

Aku mengangguk mengiyakan. Sekonyong-konyong Claire memelukku. Terkaget, namun tangan ini justru membalas pelukan gadis kecil ini.

Seperti caranya yang tiba-tiba memeluk, secara tiba-tiba pula dia melepaskanku.

“Aku minta anterin Papa ke sini karena ingin mengucapkan terima kasih, Tante,” ucap Claire.

Mendengarnya, membuatku mengerutkan kening.

“Terima kasih? Terima kasih untuk apa?” Tanyaku bingung.
“Terima kasih untuk kue ulang tahunku yang cantiiikkk sekali. Kata Papa, Tante Zahra yang memberikan kue itu sebagai kado ulang tahunku.” Jawabnya.

Mulutku membentuk huruf O.

Aku mengerti sekarang maksud mereka ingin menemuiku. Memang, waktu Raihan mengambil birthday cake untuk Claire, aku berpesan pada Inka untuk tidak menerima uang pembayaran dari Raihan. Kue itu kuanggap sebagai kado untuk hari spesial Claire, putrinya.

“Sekali lagi terima kasih ya, Tante ….”
“Terima kasih kembali, Cantik,” balasku sambil menyentil hidung bangir Claire.

Bocah berumur empat tahun ini begitu pintar dan menggemaskan. Andai saja aku mempunyai anak seperti Claire….

“Wah, sepertinya kalian sudah saling berkenalan, ya?”

Sebuah suara tiba-tiba menyela keakraban kami yang baru saja terjalin. Raihan berdiri menjulang di atasku dan Claire, dengan senyum menawan yang tak bisa kupungkiri pesonanya.

Aku lantas berdiri, kini posisi kami hampir sejajar. Raihan memang berpostur tinggi, namun untuk ukuran seorang perempuan, tubuhku juga lumayan dengan tinggi 175 senti meter.

Raihan menyerahkan sebuah bungkusan kepada Claire yang disambut gadis itu penuh suka cita.

“Maaf kalau kedatangan kami justru mengganggu waktumu, Ra,” ucap Raihan basa-basi.

Kutanggapi dengan senyum mengejek dalam konotasi bercanda.

“Sebenarnya tak perlu berterima kasih segala, tapi jujur aku senang bisa bertemu anak semanis Claire,” ucapku.
“Dia memang manis, seperti papanya.” Raihan melempar senyum jail ke arahku.
“Padahal kami ke sini tadinya bermaksud sekalian mentraktirmu makan siang. Tapi kamu keburu makan duluan.” Raihan berkata lagi.

Aku pura-pura manyun,

“Tahu gitu aku tahan aja lapernya tadi. Mayan, bisa minta traktir makan sepuasnya.” selorohku.

Raihan tergelak.

“Kalau besok, gimana?” Pertanyaan Raihan seketika membuat salah tingkah, padahal aku tak serius tadi waktu bilang minta traktir.
“Claire?” Raihan memanggil putrinya. Gadis kecil yang sedang asyik menikmati ice cream itu mendongak ke papanya.
“Tante Zahra sudah makan siang, kita kalah cepat. Gimana kalau besok saja kita ajak Tante Zahra keluar makan siang?”
“Iya, Pa. Nggak apa-apa,” jawab bocah itu, lalu sibuk kembali dengan ice cream-nya.
“Raihan, aku tadi cuma bercanda, loh…” Protesku.

Lelaki itu tersenyum, mendadak hati ini merasakan sesuatu yang aneh. Cepat aku menepisnya.

“Aku tahu, Zahra. But please, jangan buat fans barumu kecewa.” Mata Raihan mengerling ke arah Claire.

Aku spontan tertawa lepas. Raihan memainkan sebelah alis menunggu jawabanku.

“Oke. Dengan senang hati demi fans baru,” jawabku kemudian.

Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kutanyakan pada Raihan, namun rasa sungkan membuatku mengurungkan niat.

Setelah Claire menghabiskan ice creamnya, mereka berdua pun pamit pergi. Aku melepas mereka sampai di depan toko. Claire melambaikan tangan, kubalas pula dengan melakukan hal yang sama. Aku masuk kembali ke dalam toko setelah mobil yang dikendarai Raihan menjauh dari pandangan.

Tepat ketika aku memarkir kendaraan di halaman rumah, sinar dari lampu kendaraan lain muncul di belakang. Tak lama, sebuah kendaraan menyusul parkir tepat di sebelah mobilku. Kendaraan Mas Hamdi.

Aku membuka pintu mobil lalu keluar. Mas Hamdi pun menyusul ke luar dari mobilnya. Bibirnya mengurai senyuman kala dua pasang mata kami saling bertatapan.

“Baru pulang, Sayang?” sapanya, lalu mengulurkan tangan kanan untuk kucium.
“Iya, Mas. Mas kapan sampai di Jakarta?” Jawabku seraya mencium tangannya.
“Tadi siang,” jawabnya.

Terkesan santai, seolah dia habis pulang dari perjalanan dinas, dan bukan sehabis berbulan madu bersama maduku.

Aku langsung berjalan menuju teras, membuka pintu lalu masuk setelah melepas sepatu. Mas Hamdi menyusul.

Dia tiba-tiba melingkarkan kedua tangannya di perutku kala kami berdua sudah berada di dalam kamar. Aku yang sedang melepas jilbab yang kukenakan agak sedikit terkejut dengan apa yang dilakukannya.

“Mas kangen, Sayang …,” bisiknya dekat telingaku. Sebenarnya aku pun juga merasakan hal yang sama. Merindukannya setelah sekian lama dia menghabiskan waktu dengan Jannah.

Namun entah mengapa, bersama rindu itu muncul pula rasa sakit, seakan berlomba-lomba mana yang lebih banyak mengisi relung hati.

Mendapat sambutanku yang agak dingin, Mas Hamdi melepas pelukannya. Dia kemudian memutar tubuhku hingga posisi kami kini jadi saling berhadapan.

“Kamu kenapa, Sayang? Apakah kamu marah sama Mas?” Tanyanya sambil merapikan anak rambut di dahiku yang sedikit berantakan.
“Aku tidak marah, Mas. Hanya capek saja. Beberapa hari toko sedang ramai,” dustaku.
“Sungguh cuma karena itu?” Selidiknya sambil menatap dalam kedua mataku.
“Iya, Mas.” Dusta lagi yang keluar dari mulut ini.

Mas Hamdi tersenyum, diiringi ekspresi lega di wajahnya.

“Kamu sudah makan?” Tanyanya.
“Sudah tadi, sewaktu dalam perjalanan pulang.”
“Hmm… padahal Mas mau mengajak istri paling cantik sedunia ini buat dinner di luar.” ujar Mas Hamdi.

Dia tampak kecewa. Sebenarnya aku tak tega, tapi entahlah, aku benar-benar sedang malas kemana-mana. Inginnya di rumah saja mengistirahatkan badan.

“Kalau kita pesan makanan lewat online aja gimana, Mas? Toh kita bisa tetap makan bareng?” Tawarku memberi solusi.
“Ya, boleh juga. Kamu mau makan apa?” Dia bersiap membuka aplikasi pesan makan antar online pada ponselnya.
“Apa aja, Mas. Samain sama menu Mas juga boleh,” sahutku.


Sudah hampir jam sepuluh malam, namun tak ada tanda-tanda Mas Hamdi akan pergi. Apakah mungkin malam ini dia akan menginap di sini?

Dugaanku makin diperkuat saat suamiku itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Aku sendiri sudah selesai mandi sehabis sholat isya tadi.

Duduk dengan menyandarkan punggung pada jok tempat tidur membuatku merasa nyaman sambil berselancar di jejaring sosial.

Sebuah permintaan pertemanan masuk. Dari akun Siti Nurjannah. Aku beku sesaat. Untuk apa Jannah mengajukan permintaan pertemanan denganku di Facebook?


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…