Madu Pernikahan (Pelangi Untuk Zahra) – #Part_05/17

Dadaku kembali terasa seperti dihimpit batu. Sesak. Sampai berapa lamakah aku mampu bertahan dalam situasi seperti ini? Tak pernah terbayangkan sekali pun jika aku akhirnya dimadu. Sesakit inilah rupanya perasaan wanita-wanita di luar sana yang pernikahannya ternoda oleh hadirnya orang ketiga.

Sepulangnya dari rumah mertua, aku langsung mandi dan mengerjakan sholat Isya. Tak dipungkiri hati ini rasanya begitu sakit dan nelangsa. Membayangkan besok suamiku akan pergi berbulan madu bersama istri barunya, membuat perasaan ini jadi luluh lantak.

Ingin aku protes kepada-Nya, andai saja Dia bermurah hati menitipkan janin di rahim ini, pernikahan kedua itu tak mungkin terjadi. Andai aku mengandung buah cinta kami, pasti aku tetap menjadi satu-satunya. Tapi kini aku benar-benar hempas. Rasa cemburu yang mati-matian kuredam di depan mereka, kini kutumpahkan dalam bentuk tangis di atas sajadah.

Terus menangis hingga aku pun akhirnya tertidur, masih di atas sajadah yang tadi kupakai untuk sholat. Tak sadar entah sudah berapa lama aku tertidur dalam keadaan begini, aku pun terbangun. Kulirik weker yang berdiri di atas nakas samping tempat tidur, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.

Segera aku beristighfar berkali-kali, memohon ampunan-Nya, sekaligus menyesali semua protes yang tadi kukeluhkan.

Kesedihan yang terlalu berlebihan membuatku khilaf dan lupa bahwa masih hal baik lainnya yang Tuhan anugerahkan kepadaku.


“Sayang, Mas berangkat, ya? Jaga diri baik-baik di sana.”
Pesan dari Mas Hamdi kubaca dengan hati nyeri. Rasa cemburu kembali menyusup, membuat enggan membalas pesan tersebut bahkan untuk sekedar mengatakan ‘safe flight’ padanya.

Ku matikan ponsel. Agar tak larut dalam pikiran, aku memutuskan keluar dari ruang kerja. Menghampiri karyawanku yang sedang menjaga kasir toko. Beberapa pelanggan tampak sedang memilah milih aneka kue basah yang dipajang di etalase kaca. Waktu masih menunjukkan pukul sembilan pagi.

Inka, pegawai yang kutugaskan sebagai kasir mempersilakan aku untuk menempati kursi yang didudukinya, tapi kutolak. Aku berjalan mengelilingi ruangan, mempromosikan kue pada para pelanggan yang sedang memilah-milih.

Pintu toko tiba-tiba terbuka, seorang pria dengan pakaian rapi serta kacamata hitam memasuki toko. Kulihat dia sepintas lalu, kemudian mengabaikannya karena salah satu pelanggan bertanya mengenai jenis kue lapis yang best seller di toko kami.

“Bu Zahra!”
Panggil Inka, membuatku menoleh. Pria yang barusan masuk tampaknya menanyakan sesuatu pada Inka, dan sepertinya Inka butuh bantuanku.

“Ada apa, Ka?” Tanyaku setelah mendekat.
“Ini Bu, Mas nya ini mau pesan birthday cake, tapi mau di ambil jam dua siang ini. Saya ragu apakah bisa keburu waktunya,” jelas Inka.

Aku menatap pria di depanku yang masih belum melepas kaca mata hitam yang bertengger di atas hidungnya yang mancung. Hanya sebagian wajahnya yang dapat terlihat olehku. Namun tiba-tiba, pria tersebut melepas kaca mata hitamnya seraya menyebut namaku.

“Zahra?”

Wajah tampan di depanku itu seakan terkejut menatapku, begitu pula aku yang setelah sekian detik baru dapat mengenali siapa pemilik wajah itu.

“Raihan?”
Balasku, namun dengan suara yang lebih pelan. Raihan tersenyum lebar seraya mengulurkan tangan.

“Apa kabar, Zahra? Sudah lama sekali kita tidak bertemu.”

Kusambut uluran tangan Raihan,

“Alhamdulillah aku baik,” jawabku.
“Kamu kerja di sini?” Tanya Raihan sambil menelitiku.

Aku tersenyum jengah diperhatikan seperti itu.

“Iya, aku_”
“Bu Zahra adalah pemilik toko ini, Pak.” sela Inka.
“Wow… hebat sekali kamu Zahra. Sudah sukses sekarang.” puji Raihan.
“Ah, belum lah… cuma toko kecil begini” ucapku merendah.
“Kamu tadi mau pesan birthday cake, ya?” ujarku mengembalikan pembicaraan ke topik awal.

Raihan masih memandang lekat ke arahku, membuat salah tingkah. Dari dulu dia memang tak berubah, tatapan matanya mampu membuat hampir semua lawan jenis jadi salah tingkah sekaligus gede rasa alias GR.

“Raihan!” kulempar dia dengan isyarat mata agar berhenti menatapku seperti itu.

Inka sendiri terlihat senyam-senyum dengan kelakuan Raihan.

“Iya, aku mau pesan birthday cake, tapi harus bisa di ambil jam dua siang. Bisa?” Ujar Raihan akhirnya.
“Insya Allah bisa. Tolong tulis nama orang yang berulang tahun, serta kalimat ucapan yang diinginkan.”

Kusodorkan sebuah kertas notes kecil berbentuk segi empat dan sebuah bolpoin kepadanya.

Tangan Raihan menulis dengan cepat pada kertas notes itu lalu menyerahkannya kembali padaku.

‘Happy Birthday Claire yang ke-5.’

Oh, mungkin kue ini untuk anaknya yang berulang tahun.

“Baiklah, datanglah nanti jam dua siang, ya?” Ucapku pada Raihan.
“Terima kasih, Zahra. Maaf kalau harus membuat kalian repot mendadak. Ini memang kesalahanku, karena lupa pada ulang tahun anak sendiri.”

Sesuai dugaanku, Claire adalah anak Raihan.

“Tidak apa-apa. Tidak merepotkan sama sekali, kok.” Balasku.

Raihan tersenyum, tangannya kemudian kulihat merogoh saku belakang celananya yang kuasumsikan dia hendak mengambil dompet untuk membayar pesanan kuenya.

“Bayar nanti saja pas kuenya diambil, Han.” Cegahku buru-buru.

Raihan pun urung mengeluarkan dompetnya.

“Terima kasih, Ra. Kalau begitu, aku permisi dulu, ya? Sampai ketemu nanti, Zahra.”

Raihan pamit, mengangguk sekilas pada Inka yang langsung tersenyum lebar. Kutebak gadis muda karyawanku ini pasti kesengsem pada Raihan. Lelaki itu pun keluar setelah dia melambaikan tangannya ke arah kami di ambang pintu.

“Cakep banget Bu, temennya!” Seru Inka tertahan sambil memandangku.
“Pak Raihan tadi pasti mantan Ibu, ya?” Tebakan Inka yang terkesan asal tapi benar itu sedikit mengagetkanku.
“Ngarang aja, kamu. Sudah, ayo kembali kerja.” Aku berjalan meninggalkan Inka, kembali ke ruanganku.

Untuk mengusir kejenuhan, aku pun menyalakan ponsel untuk berselancar di dunia maya.

Tak sengaja mataku menangkap postingan Mas Hamdi yang memperbarui statusnya. Di situ dia menandai akunnya dan juga akun bernama Siti Nurjannah. Mereka telah mendarat di bandar udara Ngurah Rai, Bali.

Dadaku kembali terasa seperti dihimpit batu. Sesak. Sampai berapa lamakah aku mampu bertahan dalam situasi seperti ini? Tak pernah terbayangkan sekali pun jika aku akhirnya dimadu. Sesakit inilah rupanya perasaan wanita-wanita di luar sana yang pernikahannya ternoda oleh hadirnya orang ketiga.

Aku mencintai Mas Hamdi. Sangat. Mungkin inilah yang membuat Allah cemburu, hingga menghadirkan Jannah dalam pernikahan kami untuk menyadarkan aku bahwa manusia tidak boleh mencintai seseorang atau sesuatu secara berlebihan karena Allah akan merasa cemburu.

Lirih kulafazkan istighfar untuk menenangkan hati. Ini adalah cobaan dalam hidupku, dan aku yakin Allah tak kan memberi cobaan melebihi batas kemampuan umat-Nya.


Seminggu telah berlalu, tentunya Mas Hamdi dan Jannah sudah kembali ke Jakarta hari ini selepas berbulan madu. Selama seminggu itu Mas Hamdi beberapa kali memberi kabar melalui pesan singkat, kadang juga melalui telepon.

Aku mencoba berbesar hati dan tak mau larut dalam perasaan yang berpotensi menghilangkan kewarasan. Setiap kali dia menelepon, aku akan meresponnya dengan suara riang agar ia tak terbebani memikirkan keadaanku di sini.

Jam 12.30 siang, aku hendak keluar untuk makan siang. Inka dan beberapa karyawan lain kupesankan agar menghubungi nomorku saja jika ada yang datang mencari. Kulajukan kendaraan menuju restoran sunda tempat langgananku makan. Suasana resto ini sejuk dengan aneka tanaman yang menghiasi sekelilingnya.

Makan sendirian di sini sudah menjadi hal biasa bagiku. Pegawai restoran yang sudah hafal menu kesukaanku tersebut tersenyum saat kembali mencatat menu yang sama. Gurame bakar dengan lalapan dan sambal terasi.

Saat sedang menikmati makanan yang terhidang, ponselku terdengar berdering dari dalam tas yang kuletakkan di sisi paha kanan karena aku sedang duduk lesehan.

Terpaksa aku hentikan kegiatan makan untuk melihat siapa yang menelepon. Sebuah nomer tak dikenal tertera di layar. Aku mengerutkan kening, bertanya siapa kira-kira pemilik nomer ini, perlu kah kujawab atau abaikan saja?

Akhirnya kuputuskan untuk menjawab saja, siapa tahu itu penting.

“Halo, Assalamualaikum,” ucapku ragu.
“Waalaikum salam, Zahra. Maaf aku meneleponmu mendadak begini.” Sebuah suara menjawab di seberang sana, aku mencoba mengingat-ingat siapa pemiliknya.
“Ini aku, Raihan. Sekarang aku dan Claire sedang berada di toko kue-mu. Ada yang ingin disampaikan oleh Claire padamu,” Ujarnya lagi.

Ya ampun, ternyata Raihan! Pasti dia mendapatkan nomer ponselku dari Inka.

“Oh … hai, Han. Maaf, aku sekarang sedang makan siang di luar. Bisakah kalian menunggu, aku akan segera kembali.”
“Never mind, Ra. Santai saja. Aku dan Claire akan setia menunggumu. Ha ha ha, just kidding.” Dasar, sifat ngebanyol itu ternyata masih belum hilang.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Gendhis Ayu – #Part_10/18

Bu Harjo menghambur ke pelukan Nawang, didekapnya Nawang dengan erat seolah dirinya telah lama tak bersua dengan gadis cantik ini. Sejenak suasana haru dan bahagia menyelimuti warga yang ada dipendopo itu…

Gendhis Ayu – #Part_09/18

Dari jauh terlihat seorang wanita tua tengah duduk dikursi rotan yang telah menghitam di teras sebuah rumah kecil.. Bibirnya mengepulkan asap, mata sipitnya yang cekung termakan usia memandangi Galih dan Ajeng bergantian..

Memilih Bidadari – #Part_11/11 (TAMAT)

Rumi membantu menyiapkan baju yang akan dibawa Arfan ke luar kota selama seminggu. Sebenarnya sudah biasa ia akan ditinggal selama itu. Namun karena tiga hari ini wajahnya mendung gegara kejadian terima kunci mobil dari Arini kemarin, Rumi agak tak enak melepasnya…