Madu Pernikahan (Pelangi Untuk Zahra) – #Part_04/17

Ibu mertua sekonyong-konyong muncul. Wajahnya terlihat semringah ketika membicarakan Jannah. Aku mencium tangan Ibu seperti aku mencium tangan Mas Hamdi tadi. Tak lama, orang yang dibicarakan pun muncul. Jannah. Dia terlihat anggun malam ini dengan gamis ungu muda serta khimar dengan warna senada yang ia kenakan.

Setelah melalui sedikit perdebatan, akhirnya Mas Hamdi setuju dengan permintaanku untuk bersama Jannah setidaknya sepekan ini, dan pembicaraan pun kami akhiri.

***

“Zahra, malam ini bisa ke rumah Ibu?” Tanya Ibu Mas Hamdi melalui sambungan telepon ketika aku baru saja selesai makan siang.
“Insya Allah bisa, Bu. Tapi, ngomong-ngomong ada acara apa?” Jawabku.
“Nggak ada acara khusus. Hanya makan malam keluarga. Ibu juga mengundang Hamdi dan Jannah untuk datang. Sekali-sekali kita ngumpul kan nggak apa, toh?” Jawaban Ibu.

Hatiku gamang. Jika dia sudah mengundang Jannah dan Mas Hamdi, lalu untuk apa lagi dia mengundangku? Sebuah pikiran buruk pun melintas, terbesit jika Ibu sengaja melakukan ini hanya untuk membuatku iri dengan kebahagiaan sepasang pengantin baru tersebut.

“Halo? Zahra? Gimana? Bisa kan, kamu datang? Sebagai orangtua Ibu hanya ingin memastikan anak dan menantu-menantu Ibu bisa rukun. Karena itu Ibu ingin kalian datang agar bisa lebih akrab satu sama lain….”

Aku menelan ludah yang terasa pahit. Tidak kah Ibu menimbang bagaimana perasaanku sekarang ini? Sudahlah dipaksa menerima pernikahan kedua suamiku, kini aku diminta akrab dengan adik maduku itu. Namun apa yang bisa kulakukan selain mengiyakan permintaannya itu.

“Ya sudah, kalau begitu terima kasih ya, Zahra.” Ucap Ibu mertua.
“Eh… eh, tunggu Zahra!” Suara Ibu Mas Hamdi kembali terdengar ketika aku hendak menutup telepon.
“Ya, Bu?” Sahutku.
“Zahra, kalau bisa kamu datangnya setelah Maghrib aja, ya? Sekalian bantu-bantu mempersiapkan makan malam. Tahu sendiri Bi Tuti jam kerjanya cuma sampai jam 5 sore.” Ibu menyebut nama asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya.
“Baik, Bu. In Sya Allah,” jawabku meski cuma setengah hati.

Menepati janji pada Ibu mertua, ba’da Maghrib pun aku menuju ke rumahnya. Namun sebuah kejutan telah menantiku rupanya setibanya aku disana. Mobil yang kukenali sebagai milik Mas Hamdi telah terparkir di halaman rumah mertuaku yang cukup luas. Sepertinya mereka tiba lebih dulu dari aku.

“Assalamualaikum….” Kuucap salam dari depan pintu rumah yang terbuka.
“Waalaikumsalam…,” jawab sebuah suara.

Suara Mas Hamdi. Lelaki itu muncul dari dalam, mengenakan baju koko yang tak pernah kulihat sebelumnya. Mungkinkah dia membeli baju baru, atau Jannah yang membelikan untuknya? Rasa cemburu itu pun singgah tanpa bisa kucegah. Mas Hamdi menyongsong ke arahku dengan senyum menghias wajah. Kuraih tangannya lalu kucium takzim.

“Sudah lama kalian datang, Mas?” tanyaku berbasa basi.
“Lumayan. Sebelum Maghrib tadi kami sudah di sini, Sayang.” Mas Hamdi menjawab.
“Iya, padahal Ibu sudah minta agar mereka datang ba’da isya saja, tapi Jannah malah mengajak Hamdi datang lebih awal ke sini. Katanya, biar bisa bantu-bantu mempersiapkan makan malam kita.”

Ibu mertua sekonyong-konyong muncul. Wajahnya terlihat semringah ketika membicarakan Jannah. Aku mencium tangan Ibu seperti aku mencium tangan Mas Hamdi tadi. Tak lama, orang yang dibicarakan pun muncul. Jannah. Dia terlihat anggun malam ini dengan gamis ungu muda serta khimar dengan warna senada yang ia kenakan.

Perempuan itu berjalan mendekat sambil mengembangkan senyum padaku. Aku membalas senyumnya dengan kikuk. Dia memeluk, lalu mengajak cipika-cipiki.

“Apa kabar, Mbak Zahra?” Suaranya yang halus terdengar.
“Alhamdulillah, baik.” Aku menjawab sekenanya, masih janggal untuk berbasa basi dengan adik maduku itu.
“Yok kita langsung ke dapur saja,” ajak Ibu mertua, lalu berjalan mendahului kami. Kami semua pun menyusul mengikutinya.

Di dapur, tepatnya di atas meja makan panjang dengan design minimalis modern itu, telah tertata beberapa jenis menu masakan yang menggugah selera. Penataannya sungguh cantik, membuat siapa saja yang memandang pasti sayang untuk memakannya karena takut merusak tampilan yang tersaji itu.

“Ini semua Jannah yang menyusunnya. Cantik bukan, Zahra? Selain cantik, ternyata Jannah juga jago memasak.” Ibu mertua berkata lagi.

Entah kenapa, pujiannya terhadap Jannah terasa melukaiku. Aku hanya bisa tersenyum kecut menanggapi. Tiba-tiba tangan Mas Hamdi menggenggam tanganku.

“Apa Ibu lupa, kalau menantu Ibu yang satu ini juga jago memasak? Selain jago memasak, Zahra juga ahli membuat kue, bahkan Zahra punya toko kue yang laris manis.” Ucapan Mas Hamdi membuatku terperangah sesaat.

Dia mengatakan itu seakan untuk membelaku, atau kah hanya sekedar membesarkan hati ini. Entahlah. Ibu mertua melirik ke arah Jannah yang hanya tersenyum tanpa kata. Mungkin khawatir jika hati menantu barunya itu tersakiti oleh ucapan Mas Hamdi yang menyanjungku.

“Eh, sudah…sudah, ayo kita langsung saja. Nanti keburu dingin,” ucap Ibu Mas Hamdi mengalihkan suasana.
“Zahra, kamu duduk di sebelah Ibu, ya?” Ibu Mas Hamdi menarik sebuah kursi untukku, tepat di sebelah kursi yang akan didudukinya.

Sementara Jannah dan Mas Hamdi duduk bersisian di seberang kami. Jannah menundukkan wajah, seolah sungkan menghadapiku yang duduk persis di depannya. Aku pura-pura cuek agar dia tak merasa canggung. Makan malam dimulai setekah kami membaca doa dalam hati masing-masing. Disela-sela kegiatan makan, Ibu Mas Hamdi kembali berbicara.

“Besok kalian jadi, kan, berangkat bulan madunya?”

Sendok dan garpu ditangan hampir saja terlepas begitu mendengar ucapan Ibu mertuaku. Mas Hamdi menatapku dengan pandangan yang entah, ekspresinya menunjukkan rasa bersalah.

“Insya Allah jadi, Bu. Penerbangan kami dijadwalkan pukul satu siang besok.” Jannah yang menjawab.

Ibu Mas Hamdi tampak berseri-seri mendapat jawaban Jannah.

“Ibu doakan, sekembalinya dari bulan madu nanti kalian langsung mendapatkan momongan, bakal cucu Ibu!” Serunya riang dan gembira.

Makanan yang masuk ke dalam mulut terasa hambar. Aku mendadak kehilangan selera.

“Zahra, kok sedikit sekali makannya? Nggak enak ya, masakan Ibu?” Tegur Ibu Mas Hamdi sambil menatapku.
“Ah, enak kok, Bu. Hanya saja aku tak terlalu lapar,” dustaku.

Sengaja aku menghindari kontak mata dengan Mas Hamdi. Aku takut benteng pertahanan yang mulai rapuh ini tiba-tiba jebol.

Mendengar kabar rencana bulan madu mereka di tengah acara makan ini, hatiku bagai luka basah yang disiram cuka. Perih. Jelas saja aku cemburu. Tega sekali Ibu bicara seperti itu, terlebih dia menyinggung soal momongan di depanku. Seakan dia hendak mengungkapkan kekuranganku di hadapan Jannah.

Sekilas ekspresi wajah Jannah biasa saja. Dia memang terlihat bahagia ketika mereka membahas rencana bulan madunya dengan Mas Hamdi, namun tidak berlebihan. Berbeda dengan Jannah yang tampak bahagia, wajah Mas Hamdi justru terlihat muram. Setidaknya itulah yang kutangkap ketika secara tak sengaja pandangan kami bertemu.

“Kemana kalian akan berbulan madu?”

Entah dorongan dari mana, pertanyaan itu tiba-tiba saja meluncur dari bibirku. Dasar bodoh! Aku merutuki diri sendiri yang terkesan ingin tahu. Jangan sampai cemburu ini juga terbaca oleh mereka. Mau ditaruh di mana mukaku?

“Ke pulau Bali Mbak, rencananya.” Jannah menjawab.

Aku melempar senyum ke arahnya. Berusaha terkesan tak terpengaruh padahal gemuruh di dada ini sudah luar biasa.

“Apa kamu mau ikut, Sayang?” Ucapan Mas Hamdi sontak membuatku terperangah.

Tak hanya aku, Ibu Mas Hamdi juga. Bahkan Jannah pun kulihat langsung menelan ludah.

“Bicara apa kamu Hamdi? Ini kan acara bulan madumu sama Jannah. Kok malah mengajak Zahra?” Protes Ibu mertua.
“Nggak apa-apa kok, kalau Mbak Zahra mau ikut. Ya kan, Mas?” Jannah berkata.

Untuk apa? Supaya kau bisa pamer kemesraan dengan suamiku? – Aku membatin dalam hati.

“Jelas nggak bisa dong, Jannah. Kalian kan perlu privacy. Zahra juga tak mungkin mau ikut, dia pasti sibuk dengan toko kuenya. Iya kan, Zahra?” Ibu Mas Hamdi menatapku dengan pandangan yang mengintimidasi.

Huh! Dikiranya aku berminat kali ikut acara bulan madu mereka.

“Iya, Bu. Lagipula aku dan Mas Hamdi sudah tujuh tahun menikah, sudah cukup sering kami menghabiskan waktu bersama. Dan seperti Ibu bilang, aku sekarang sedang sibuk mengelola bisnis toko kue milikku,” ujarku sambil memandang ke arah Jannah.

Perempuan muda berwajah ayu itu sedikit berubah rona wajahnya ketika aku bicara tentang kehidupan pernikahanku dengan Mas Hamdi.

“Nikmatilah waktu kalian berdua, aku doakan semoga cepat mendapat momongan seperti harapan kita semua,” tutupku kemudian mengakhiri topik pembicaraan yang sama sekali tak menarik sekaligus membuat api cemburu dihati ini menyala-nyala.

Acara makan malam telah usai. Jannah dengan cekatan membereskan semua sisa piring kotor di meja, membawanya ke wastafel yang tak jauh dari meja makan, diiringi tatap kekaguman dari mertua.

Aku hanya bisa tersenyum kecut menyaksikan ini semua. Karena semua tugas sepertinya akan dilahap semua oleh Jannah, kuputuskan lebih baik pulang ke rumah dan beristirahat saja. Di sini pun tak ada yang bisa kulakukan selain mendengar pujian Ibu untuk Jannah yang tak putus-putus. Seakan semua baktiku selama tujuh tahun menjadi menantunya tak berarti apa-apa.

“Bu, kalau begitu aku pamit pulang duluan, ya?” Ucapku pada Ibu Mas Hamdi yang tengah berbincang dengan Jannah.

Perempuan itu sedang mencuci bekas peralatan makan yang kami pakai barusan.

“Loh kok cepat banget, Mbak?” Jannah menyahut.
“Iya, kok cepet banget? Baru juga jam setengah delapan….” Mas Hamdi menyahut di belakangku.
“Aku sedikit capek hari ini. Toko lumayan ramai tadi, Mas.” Aku memberi alasan, namun sepertinya Mas Hamdi tak menerima alasanku sepenuhnya.
“Mau kuantar?” Tawarnya.
“Aku kan bawa kendaraan sendiri, Mas.”

Dia tak dapat berkata-kata lagi, terlebih pandangan Jannah kini tertuju ke arahnya.

Bersambung..

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…