Madu Pernikahan (Pelangi Untuk Zahra) – #Part_03/17

Kuusap air mata di wajah dengan kasar. Sebenarnya sakit sekali hati ini mendengar tiap patah ucapannya. Aku sudah mau mengalah dia mencarikan jodoh kedua untuk Mas Hamdi, kendati hati ini sangat sulit menerima. Tapi sekarang malah dia tuduh aku egois dengan sengaja menahan Mas Hamdi di sini. Tadi dia bilang dia juga wanita, tapi tega sekali dia mencederai perasaan sesama wanita.

“Mas, nggak hubungi Jannah? Aku nggak enak, Mas…” ucapku saat hari menjelang petang.

Tak ada tanda-tanda Mas Hamdi akan kembali ke rumah mertuanya. Dia malah sudah mandi dan kini mengenakan baju koko, bersiap untuk sholat maghrib di masjid yang tak jauh dari rumah kami.

“Sudah tadi, Mas bilang malam ini mau nginap di sini.” Dia menjawab datar, seolah tak ada apa-apa. Matanya sedang asyik berselanjar di medsos miliknya.

Aku hanya menatapnya dari ujung sofa yang kami duduki. Jujur saja aku sangat senang karena malam ini dia akan menginap di sini. Tapi memikirkan Jannah aku juga kasihan. Entah apa yang dipikirkannya tentang kami sekarang ini. Marahkah dia? Ah, tapi aku kan juga istri Mas Hamdi.

Azan Maghrib pun berkumandang. Mas Hamdi segera berangkat menuju musholla, sedang aku melaksanakan sholat di rumah.

Baru saja mengucapkan salam untuk mengakhiri sholat, tiba-tiba ponselku berdering. Aku terpaksa bangkit dari simpuhku untuk mengambil ponsel yang kuletakkan di dekat bantal.

Nama Ibu mertua tertera di layar. Perasaan tak enak itu kembali muncul, hingga membuat jantung berdetak tak karuan. Apakah ini ada hubungannya dengan Mas Hamdi yang seharian ini justru menghabiskan waktu bersamaku?

“Halo, assalamualaikum, Bu?” Aku menjawab dengan suara pelan.
“Waalaikumsalam Zahra, Hamdi masih sama kamu?” Tanya Ibu Mas Hamdi.
“Mas Hamdi sedang ke musholla, Bu,” jawabku.
“Apa dia akan menginap di rumahmu malam ini? Suruh dia pulang ke rumah orangtua Jannah dulu, Zahra. Mereka baru saja menikah, Nak. Ibu mohon, kamu jangan menjadi penghalang hubungan mereka.”

Ucapan Ibu mertua terasa begitu menusuk. Mata ini langsung berkaca-kaca seiring dengan perasaan yang kembali terluka. Mengapa aku yang dituduh jadi perusak hubungan Jannah dan Mas Hamdi? Siapa yang sebenarnya menjadi orang ketiga dalam hubungan ini?

“Ma-maaf, Bu. Maksud Ibu apa, ya?” Kuberanikan diri bertanya sambil menahan tangis.
“Zahra, Ibu paham perasaanmu, Nak. Ibu juga wanita, dan tak ada wanita yang mau diduakan. Tapi tolonglah, suruh Hamdi pulang ke rumah orangtua Jannah malam ini. Jagalah muka Ibu di depan keluarga mereka, Nak.”
“Jannah dan Hamdi adalah pengantin baru, tapi Hamdi malah meninggalkannya dan bermalam di rumah kalian. Ibu malu jika sampai keluarga Jannah bertanya, Nak.”
“Tolong, kesampingkan dulu egomu, Zahra. Biarkan Hamdi bersama Jannah dulu. Ibu sangat menginginkan cucu, Zahra.”

Tak bisa lagi kutahan air mata ini. Ia mengalir deras meski tanpa suara. ‘Ya Allah, lapangkanlah hatiku jika memang takdir yang Engkau tetapkan atas rumah tangga hamba seperti ini….’ Aku merintih dalam hati.

Kuusap air mata di wajah dengan kasar. Sebenarnya sakit sekali hati ini mendengar tiap patah ucapannya. Aku sudah mau mengalah dia mencarikan jodoh kedua untuk Mas Hamdi, kendati hati ini sangat sulit menerima. Tapi sekarang malah dia tuduh aku egois dengan sengaja menahan Mas Hamdi di sini. Tadi dia bilang dia juga wanita, tapi tega sekali dia mencederai perasaan sesama wanita.

Ah, Ibu mertua… ternyata engkau tak sebijak yang kukira.

“Baik, Bu. Tunggu Mas Hamdi pulang, nanti akan kusampaikan,” ucapku tenang, karena berhasil meredam bara api yang tadi sempat menyala-nyala di hati.
“Terima kasih, Nak.” Dia berkata.

Lalu segera kututup teleponnya.

“Habis bicara dengan siapa, Sayang?” Mas Hamdi tahu-tahu sudah di belakangku. Entah kapan dia kembali, aku tak mendengar suaranya.
“Dengan Ibumu, Mas. Dia minta kamu kembali ke rumah Jannah malam ini.” Aku berkata sambil memasang ekspresi kaku.

Mas Hamdi memandangku dengan kening berkerut.

“Kalau aku tak mau, kenapa?” Ucapnya.
“Aku mohon pulanglah ke sana, Mas. Aku tak mau orang-orang berpikir kamu di sini karena aku sengaja menahanmu,” cetusku sambil membalikkan badan.

Tak mau ia melihat air mata yang kembali siap tumpah.

“Zahra ….”
“Pergilah, Mas. Kalau kamu nggak pergi aku justru akan semakin disalahkan.”
“Siapa yang menyalahkanmu?” Dia bertanya.
“Ibumu, Mas.”

Mas Hamdi terdiam. Aku pun diam, sibuk membesarkan hatiku sendiri. Tak tahan dengan kebisuan yang tercipta di antara kami, aku pun pergi meninggalkan kamar, masih dengan mengenakan mukena. Masuk ke kamar yang sedianya kami siapkan untuk tamu, dan lantas menguncinya.

“Zahra… buka pintunya.” Terdengar suara Mas Hamdi di balik pintu. Aku tetap bergeming dan tak menjawab.

“Zahra, Sayang … buka pintunya. Mas mohon, Sayang.” Bujukannya justru membuat batin ini kian nelangsa. Ingin rasanya membuka pintu dan menghambur ke pelukannya. Tapi aku harus menahan diri, berpura-pura marah supaya dia menuruti keinginan Ibunya.

“Baiklah, Mas akan pulang ke sana. Besok Mas akan kembali lagi ke sini.”

Aku terdiam. Sungguh hati tak rela melepasnya pergi. Tapi kali ini aku dipaksa menikam jantung sendiri, demi kepuasan Ibu mertua tercinta yang berharap cucu dari mantu barunya. Tak lama, terdengar suara mesin mobil yang dinyalakan. Disusul suara mesin yang menderum perlahan dan suaranya pun makin jauh. Mas Hamdi akhirnya pulang ke rumah Jannah.

Aku membuang nafas dengan sedikit keras. Bukan karena lega, namun agar hati sedikit plong. Sepeninggal Mas Hamdi, rumah kembali sunyi. Aku pun berjalan keluar kamar menuju pintu utama. Setelah memastikan pintu terkunci, aku pun masuk kembali ke kamarku.

***

Pagi-pagi sekali aku sudah bangun, bahkan sebelum azan Subuh berkumandang. Spontan aku menoleh ke samping, tempat biasa suamiku berbaring, namun kosong.

Aku baru ingat bahwa keadaan tak lagi sama seperti dulu, dan aku masih belum terbiasa. Sedikit kantuk masih bersisa, kuhapus dengan siraman air dari kran yang mengalir. Kukerjakan sholat sunnah fajar dulu baru setelahnya mengerjakan sholat subuh.

Kukerjakan semua pekerjaan rumah seperti biasa, membuat sarapan seperti biasa. Meski tak nyaman dengan kondisi seperti ini, aku harus mulai membiasakan diri.

Selesai sarapan aku mandi, bersiap untuk berangkat ke toko kue yang sudah kurintis sejak tiga tahun yang lalu. Ya, sebelum menikah aku adalah seorang wanita yang bekerja. Meski dulu sekali Mas Hamdi pernah memintaku resign dan hanya fokus mengurus rumah tangga, tapi jiwa mandiri yang terlanjur melekat membuatku terpaksa menolak keinginannya tersebut.

Aku setuju untuk resign dari kantor tempat aku bekerja waktu itu, namun dengan syarat aku tetap dibolehkan berwirausaha. Setidaknya dengan begitu, aku masih punya kegiatan sekaligus penghasilan meski tak lagi terikat jam kerja seperti dulu.

Dengan keahlian dibidang cake dan pastry yang kumiliki, aku pun membuka toko kecil-kecilan bermodal dari hasil tabungan selama bekerja. Selain menjual kue hasil buatan sendiri, aku juga menerima titipan kue untuk dijual di toko milikku. Dan kini aku bersyukur karena memilih tetap bekerja meski kecil-kecilan, namun pendapatan yang kuraih cukup lumayan.

Di saat seperti ini tak dapat kubayangkan jika aku tak mempunyai kegiatan apa-apa dan hanya berdiam diri di rumah sambil meratapi nasib. Setidaknya dengan bekerja, aku jadi punya kegiatan dan tak terlalu larut dalam nelangsa karena suami menikah lagi.

Setelah masuk ke dalam ruangan khusus yang menjadi ruang kerjaku, aku mengecek ponsel. Ada tiga panggilan tak terjawab yang semuanya dari Mas Hamdi. Ada pesan masuk juga pada aplikasi hijau di ponsel. Dari Mas Hamdi juga.

“Sayang, kamu kemana? Rumah kok kosong?

Sebaris pesan terbaca. Aku menghela nafas setelahnya. Sungguh berat jika aku dipaksa mengabaikan lelaki yang kucintai ini, namun ucapan Ibu mertua kembali terngiang di telinga.

Tiba-tiba ponsel yang sedang kupegang itu berdering. Nama Mas Hamdi tertera di layar. Tanpa pikir panjang, segera kugeser tombol hijau pada layar.

“Assalamualaikum, Mas?”
“Kamu di mana? Kok rumah kosong?”

Dia langsung memberondong dengan pertanyaan, bahkan ia sampai lupa menjawab salam yang kuucap.

“Aku baru sampai toko, Mas. Maaf lupa ngabarin Mas semalam,” jawabku pelan.
“Kan Mas sudah bilang Mas pulang pagi ini …” protesnya.
“Maafkan aku, Mas. Tapi aku bosan di rumah. Lagi pula, toko ini kan harus tetap di pantau.” Aku mengemukakan alasan.
“Ya sudah, Mas ke sana saja, ya?” Aku terkesiap karena kaget mendengarnya.
“Mas, maaf…bukannya aku nggak mau ketemu sama Mas. Tapi aku minta tolong, setidaknya habiskanlah waktu dengan Jannah selama seminggu ini. Aku… aku ….”

Lidah ini terasa kelu hendak menjelaskan, padahal ingin sekali kukatakan jika aku tak mau disalahkan oleh Ibunya jika dia terus menghabiskan waktu denganku. Mas Hamdi tak bersuara, sedang aku menunggu dengan gelisah pada reaksi yang mungkin dia berikan.

“Zahra, Mas tidak mencintai Jannah. Berada di sana tapi hati Mas selalu padamu itu membuat batin Mas tersiksa.”

Ungkapan hati Mas Hamdi membuat hati seketika terenyuh. Tapi mau bagaimana lagi? Keadaan ini bukan aku yang meminta, di sini justru aku lah pihak yang paling terluka.

Bersambung.

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…