Madu Pernikahan (Pelangi Untuk Zahra) – #Part_02/17

Pintu rumah memang sengaja tidak kututup agar udara bisa keluar masuk dan rumah tidak pengap. Mas Hamdi berdiri di sana, dengan senyum lebar di wajah. Bukannya menyambut, hati ini justru bertanya-tanya, begitu indah kah yang dilaluinya semalam bersama maduku? Kembali hatiku tercubit sakit.

“Assalamualaikum,”
Ucap suara di ambang pintu mengejutkanku yang sedang merapikan serta membersihkan beberapa perabot rumah di ruang tamu.

Pintu rumah memang sengaja tidak kututup agar udara bisa keluar masuk dan rumah tidak pengap. Mas Hamdi berdiri di sana, dengan senyum lebar di wajah. Bukannya menyambut, hati ini justru bertanya-tanya, begitu indah kah yang dilaluinya semalam bersama maduku? Kembali hatiku tercubit sakit.

“Sayang? Kok suami pulang nggak disambut? Salam Mas juga nggak dijawab.” Lelaki itu berkata dengan ekspresi merajuk.

Kuhela nafas, mencoba menepis segala pikiran yang hanya membuat diri ini semakin down.

“Waalaikumsalam, Mas. Maaf, aku cuma heran kenapa sepagi ini Mas pulang?” Jawabku menutupi perasaan sebenarnya.

Mas Hamdi melangkah masuk. Senyumnya kembali mengembang dengan kedua tangan terentang, dan ketika jarak kami hanya tinggal sejengkal, dia pun mendekapku erat. Aku menyurukkan wajah di dadanya. Dapat kurasakan dia mengecup pucuk kepalaku. Lembut dan cukup lama. Sungguhkah dia begitu merindukanku? Bukankah semalam pun dia tak sendiri menghabiskan malam?

Kedua tangan kekar itu menyentuh lenganku, lalu mendorong tubuh ini dengan jarak sekian senti agar dia dapat menatap wajahku.

“Mas kangen kamu, Sayang,” ucapnya.

Aku tersenyum kaku, antara bahagia sekaligus ragu. Senyum lelakiku memudar, berganti sorot heran mendapati sambutanku yang tak terlalu antusias.

“Zahra, kamu marah sama, Mas?” Dia bertanya dengan tatapan menyelidik.

Kugelengkan kepala sebagai jawaban, namun sepertinya ia tak puas.

“Kamu cemburu?” Pertanyaannya kali ini sanggup membuatku tercekat seketika.

Kutatap matanya dalam, lalu berkata,

“Apakah ada wanita di dunia ini yang tak cemburu ketika suaminya menikah lagi, Mas?”

Mas Hamdi langsung terlihat merasa bersalah. Dia kembali mendekapku erat.

“Maafkan Mas, Sayang… maafkan,” bisiknya.
“Kamu sudah sarapan?” Dia bertanya lagi setelah pelukan kami terlepas.
“Belum, Mas. Aku tadi cuma minum kopi,” jawabku.
“Bagaimana kalau kita sarapan sama-sama di luar?” Dia memberi usul.

Aku mengernyit heran, dan dia seakan paham maksudku.

“Mas nggak sempat sarapan di rumah orangtua Jannah, karena Mas ingin buru-buru bertemu dengan istri Mas tercinta yang satu ini.”

Dia menjawil hidungku. Jujur saja, aku sedikit merasa tersanjung hingga wajah inipun terasa menghangat.

“Nggak usah sarapan di luar, Mas. Biar aku bikinkan untuk kita,” ujarku.

Mas Hamdi mengangguk antusias. Kami pun menuju dapur bersama-sama. Menu sederhana berupa nasi goreng dan telur mata sapi kusajikan di hadapan Mas Hamdi yang sudah duduk manis di depan meja makan. Tak lupa kopi hitam tanpa gula sebagai pelengkap sarapannya.

“Terima kasih, Sayang,” ucapnya.

Seperti biasa, dia selalu makan dengan lahap apa saja yang kumasak untuknya.

“Pelan-pelan, Mas….” Aku mengingatkannya.

Mas Hamdi nyengir lebar ke arahku.

“Masakanmu yang terenak di dunia, istriku sayang,” pujinya.

Meskipun jika itu hanya gombal semata, aku tetap tersanjung dengan pujiannya. Tanpa dia sadari, aku terus memperhatikannya yang sedang asyik makan dengan lahapnya. Menikmati tiap ekspresi wajahnya, sebelum masa-masa indah ini berlalu. Bukannya aku hendak mendahului takdir Tuhan.

Tapi sungguh, tak ada seorang pun yang tahu bagaimana hidupnya sedetik ke depan, termasuk aku.

Rumah tangga yang kami bina selama tujuh tahun, yang tadinya tentram damai dan nyaris tanpa masalah, namun tiba-tiba kekuatan cinta kami harus diuji dengan keinginan Ibu mertua yang ingin segera menimang cucu.

Hari ini Mas Hamdi masih pulang ke sisiku, masih menyantap masakanku, masih memuji bahwa masakanku adalah yang paling lezat di dunia. Tapi bagaimana dengan esok? Bukan tak mungkin semua itu akan terenggut pula dariku.

Saat pesona Jannah perlahan menguasai hatinya kelak, akankah kebersamaan ini masih bisa kurasakan?
Anganku mungkin terlalu jauh, tapi tak ada salahnya aku menyiapkan hati untuk menghadapi yang terburuk, bukan?

“Sayang? Kok bengong?”
Lambaian tangan Mas Hamdi di depan wajah menyentakku tersadar dari lamunan. Mas Hamdi tersenyum menggoda.

“Lagi mikirin apa, hayo?”

Aku menggeleng.

“Bukan apa-apa, Mas,” jawabku.

Piring di hadapannya telah bersih, begitu pula kopi dalam cangkir yang tersisa setengah. Aku berdiri untuk membereskan meja makan. Saat sedang mencuci piring bekas sarapan suamiku, kudengar ponsel Mas Hamdi berbunyi.

“Halo, assalamualaikum, Bu?” ucap Mas Hamdi dengan ponsel di dekatkan di telinga.

Apakah Ibu mertuaku yang meneleponnya?
Selesai dengan cucian piring, aku kembali duduk di tempatku tadi. Berhadapan dengan Mas Hamdi. Mulanya dia tersenyum, namun sesaat kemudian raut wajahnya berubah sedikit keruh.

“Nggak akan ada masalah, Bu. Lagi pula sebelum pulang aku sudah ijin pada Jannah,” ucap Mas Hamdi di telepon.

Perasaan tak enak tiba-tiba datang menghampiri, namun aku coba untuk tetap rileks. Kuteguk teh hangat yang tadi kubuat untuk diri sendiri.

“Sudah dulu ya, Bu. Nanti kita bicara lagi. Assalamualaikum.” Mas Hamdi menutup telepon, lalu menghembuskan nafas seolah sedang dilanda frustasi.

“Ibu marah ya, sepagi ini Mas sudah pulang ke sini?” Tanyaku sambil menatapnya.

Dia mengalihkan pandangan lalu berkata,

“Bukannya marah, hanya saja mungkin Ibu takut aku menyinggung perasaan Jannah dan keluarganya.”

Kutarik nafas dalam, lalu menghembusnya perlahan.

“Yang dikhawatirkan Ibu itu wajar, Mas. Baru kemarin kalian menikah, tapi hari ini Mas sudah pulang kemari.” Kutenggak habis teh dalam cangkir.

“Zahra, kamu nggak senang Mas pulang?” Sepasang mata itu menatapku lekat, seolah sedang mencoba menelusuri kedalaman hati.

Aku mendesah pelan, pertanyaannya membuatku kesal. Haruskah dengan gamblang kukatakan bahwa aku ingin dia tetap di sini, dan tak pernah kembali lagi ke tempat Jannah?

“Mas tahu perasaanmu lah yang paling terluka saat ini. Dalam hal ini kamu bukan berkorban, namun dikorbankan.” Lelaki itu menarik nafas sesaat.

“Kamu dikorbankan demi memuaskan keinginan Ibu yang ingin menimang cucu,” lanjutnya.

“Dan apakah Mas tak menginginkan seorang anak?” Timpalku.

“Tentu saja Mas ingin. Tapi dari rahimmu lah Mas ingin para zurriyat itu terlahir.”

Mataku mendadak panas. Kaca-kaca air mata mulai mengaburkan pandangan. Aku juga sangat menginginkan hal itu, tapi entah kenapa Tuhan masih belum berkenan. Di awal pernikahan aku kerap mengeluh ketika garis dua yang kutunggu tak kunjung muncul, namun sekarang aku lebih memilih pasrah. Bukankah jika doa dan ikhtiar sudah dilakukan, maka jalan terakhir adalah pasrah pada-Nya?

“Jangan menangis, Sayang. Mas minta maaf karena telah menyakitimu. Kamu harus tahu, satu-satunya wanita yang Mas cintai di dunia ini adalah kamu.” Mas Hamdi mengulurkan tangan, mengusap air mata yang meleleh di pipiku.

“Bahkan jika aku tak bisa memberikan Mas seorang anak?” Tanyaku.

“Mas akan selalu mencintaimu sampai Mas menutup mata. Entah kelak kita akan punya anak atau tidak, Mas tak akan mempermasalahkan,” jawabnya berusaha meyakinkanku.

Aku berusaha meredam hati yang tengah berbunga-bunga. Aneh, padahal sudah tujuh tahun lebih kami menikah, dengan masa penjajakan sebelumnya tiga tahun. Total kami saling mengenal sudah sepuluh tahun. Tapi entah mengapa setiap ucapannya selalu berhasil membuat bunga di hati ini bermekaran.

Seharian kami menghabiskan waktu di rumah saja. Mas Hamdi seolah tanpa beban, namun aku justru berdebar tak karuan. Ada rasa was-was yang sulit untuk kujabarkan. Yang jelas, aku takut Jannah tersinggung dengan kelakuan Mas Hamdi yang meninggalkannya sendirian padahal baru kemarin mereka melangsungkan akad.

…Bersaambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…