#Into_You – #Part_20

Sudah beberapa hari berselang dan tidak ada kabar dari Ben perihal Amanda mau pun orang tuanya. Breana menebak-nebak dalam kecemasan. Apakah semua keadaan baik-baik saja atau memang terjadi sesuatu. Setelah satu pesan yang singkat, Ben tidak mengatakan apa pun. Segala yang terjadi membuat Breana gundah gulana.

Ben sendiri sibuk dengan pekerjaannya, bahkan harus pergi ke luar negeri untuk seminggu ke depan. Meninggalkan kantor di bawah pengawasan manager dan dua sekretarisnya. Breana tahu, jadwal ke luar negeri memang sudah disusun dari sebulan lalu.

Selama Ben tidak ada, tanpa sadar Breana selalu memikirkan kemungkinan untuk pergi dari kehidupan laki-laki itu, resign dan menghilang. Sayangnya, banyak hal harus dipikir ulang termasuk dia yang tidak punya banyak tabungan dan keadaan ekonominya yang stabil. Bagaimana dengan Nesya? Kehidupan apa yang akan didapatkan anak kecil itu jika ego orang tuanya terlalu berkuasa.

Mungkin lebih baik jika Ben tidak pernah tahu perihal Nesya, hal itu sering terpikir dalam benak Breana dan menjadikan kecemasannya makin meningkat.

Hari kedua sang direktur tidak ada di tempat, Breana menerima telepon mencurigakan. Dari seorang laki-laki yang berteriak sambil mengancam.

“Akan kubunuh kamu, Julian Benedict. Kamu membuat hidupku hancur!”

Breana yang ketakutan, menutup begitu saja telepon di tangan. Saat ia membicarakan masalah ancaman dengan Tessa, ternyata temannya satu kantor itu juga pernah menerima telepon yang sama.

“Diamkan saja, banyak pesaing bisnis yang gila gara-gara perusahaan kita maju.” Perkataan Tessa membuat Breana sedikit tenang meski masih ketakutan. Terkadang dia memikirkan dengan serius, siapakah yang punya dendam pada Ben. Dan apa yang diperbuat laki-laki itu sampai sedemikian dibenci.

Hari ketiga Ben pergi, seseorang yang Breana kenal secara mengejutkan datang menemuinya. Nena, sang adik tiri datang berkunjung di jam makan siang dan mau tidak mau Breana menemuinya.

Mereka berdua bicara di dalam kafetaria yang ramai. Sengaja memilih tempat di sudut untuk bicara tapi sepertinya susah untuk mengajak Nena serius karena mata gadis itu terus menerus melirik ke arah laki-laki yang lewat di depan mereka.

“Kenapa kamu datang?” tanya Breana tanpa basa-basi. Meletakkan nampan berisi jus, soto ayam dan nasi di atas meja.

“Kenapa katamu? Tentu saja untuk mengunjungimu, kakakku. Uhm, kuah sotonya enak,” decak Nena sambil mencicipi soto yang disorongkan ke hadapannya. “Juga untuk menagih janjimu.” Dengan lahap dia makan soto beserta nasi putih dan kerupuk.

Breana memandang adiknya dengan heran. “Janjiku? Yang mana?”

Nena menghentikan sendoknya di udara, menatap Breana seaka-akan kakaknya mengatakan sesuatu yang lucu.

“Yang mana? Tentu saja tentang masalah uang. Bukannya kamu janji mau ngasih uang buat Ayah?”

Suara riuh terdengar saat seseorang menunpahkan sesuatu dan bunyi peralatan makan pecah terdengar nyaring di antara keriuhan. Kafetaria berdinding kaca dengan aroma rempah menguar di sekeliling mereka. Breana merasa terjebak di tengahnya.

“Kapan aku mengatakan itu?”

“Saat di pameran,” jawab Nena lugas. Gaya bicaranya seolah-olah menegaskan sesuatu yang sengaja dilupakan kakaknya. “Bukannya kubilang untuk mengirim uang buat Ayah dan kamu setuju.”

Breana meletakkan sendok, merasakan mulutnya perih dan soto yang semula menggugah selera kini jadi hambar tanpa rasa. Menarik napas ia memandang sekeliling yang ramai. Semenjak jadi pegawai di sini, dia terhitung jarang makan di kafetaria. Baginya, seporsi soto dengan nasi dihargai 30.000 itu mahal dan ia lebih suka membawa bekal dari rumah. Akan banyak uang yang bisa ditabung.

“Apakah Ayah baik-baik saja?” tanya Breana pelan.

Nena mengangkat bahu. “Tidak terlalu, semenjak kamu minggat dan hamil dia makin sering sakit.”

Kembali, tusukan rasa bersalah menghujam jantung Breana. Ayahnya adalah orang yang paling ia rindukan. Karena keadaanlah yang memaksanya tidak menemui orang yang paling dia sayangi setelah Nesya. Kuatir akan terjadi masalah dan makin membuat malu sang Ayah.

“Ah, selesai. Enak sotonya.” Mengabaikan nasi dan soto yang tak tersentuh milik kakaknya, Nena mengelap mulut dan mengambil bedak dari dalam tas. Setelah memoles bedak dan lipstik tangannya terulur ke arah Breana.

“Mana uangnya, aku nggak bisa lama-lama.”

Mengerjap kaget, Breana tersadar dari lamunan. Mengembuskan napas berat, ia merogoh dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang lalu menyerahkannya pada Nena.

“Hah, hanya segini?” Nena menatap uang di tangannya dengan pandangan tak percaya. “Kamu seorang sekretaris dari perusahaan besar dan cuma segini yang kamu bisa kasih orang tuamu?”

Breana merengut kesal. “Aku belum gajian dan ini tanggal tua. Lagi pula ada anak yang harus aku urus. Kamu lupa?”

“Memangnya mantan suamimu nggak ngasih kamu tunjangan?” sungut Nena nggak mau kalah.

“Anton mau menikah, aku nggak mau merepotkannya.” Tanpa sadar Breana menyeletuk kesal dan perkataanya mendapat sambutan tawa sinis dari sang adik.

“Ah ya, mana mau dia jadi Ayah dari anak yang bukan darah dagingnya?” Nena memasukkan uang ke dalam dompet, mengibaskan rambut ke belakang dan bangkit dari kursi. “Aku akan datang lagi awal bulan saat kamu gajian, ingat janjimu!”

Tubuh lemas tak bertenaga dengan pikiran suram, Breana tenggelam dalam pikirannya sendiri. Saat menatap kepergian adik satu-satunya. Orang berbicara dengan tawa menggelegar, seakan tidak ada masalah di antara mereka. Sementara dia? Terjebak dalam kesulitan yang ia ciptakan sendiri.

Dengan langkah gontai Breana kembali ke kantor. Tessa belum kembali dari makan siang. Untuk menghilangkan rasa lapar karena tidak makan siang, ia menyeduh teh panas dan membawanya ke atas meja. Menyalakan komputer dan siap-siap mengerjakan laporan. Ia menoleh saat ponselnya bergetar, melihat nama Ben tertera di sana.

“Sudah makan siang? Kenapa kamu nggak membalas pesanku? Apa yang terjadi? Kamu baik-baik saja?” Rentetan pertanyaan dari Ben membuat Breana mengangkat sebelah alis.

“Aku baik-baik saja dan baru saja makan siang. Bagaimana di Thailand?”

Tak lama, balasan dari Ben kembali datang.

“Thailand baik-baik saja, masih banyak gajah di sini. Apakah Nesya sehat? Katakan padanya aku akan pulang dalam tiga hari ke depan.”

Mau tidak mau Breana tersenyum membaca pesan-pesan yang dikirim Ben untuknya. Bukankah cinta memang aneh? Seharusnya dia menangis dan menyesal karena membuat hidup Ben berantakan. Nyatanya, ia malah bahagia hanya karena berbalas pesan. Breana merasa kesal dengan dirinya sendiri.

Sepulang kerja, Breana mampir ke supermarket untuk membeli sayur. Kulkas sudah kosong dan Nesya perlu banyak asupan gizi. Malam ini Nesya pergi ke rumah gurunya dan akan pulang setelah jam delapan malam. Memanfaatkan waktu selama anaknya tidak ada, ia sibuk memilih sayuran dan buah.

Dengan menenteng banyak kantong plastik di tangan, Breana sedikit kesulitan menaiki tangga menuju ke kamarnya. Tiba di lantai dua, matanya membulat tak percaya saat melihat sesosok wanita berdiri anggun di depan pintu rumahnya.

Amanda, terlihat menawan dalam balutan gaun kuning gading. Saat Breana muncul dari tangga, mata mereka bersirobok. Tanpa senyum, tanpa sapa. Keduanya tahu jika memang waktunya untuk bertemu.

Breana menarik napas dan melangkah perlahan menuju rumahnya.

“Nona,” sapa Breana ramah, dengan senyum kecil tersungging.

“Buka pintu, aku ingin bicara. Sudah hampir setengah jam aku menunggumu.”

Ketus, memerintah dan bossy, itu adalah kesan Amanda di mata Breana dan kesan itu tidak berubah sampai sekarang.

Menguatkan hati, untuk menerima yang terburuk. Breana membuka pintu dan menyilakan tamunya masuk.

“Maaf, berantakan,” ucapnya pelan.

Masuk lebih dulu untuk menyimpan belanjaannya ke dalam kulkas, Breana kembali ke ruang tamunya yang kecil dan mendapati Amanda berdiri mematung di depan lemari kecil berisi boneka milik Nesya.

Breana meletakkan air minum di meja dan duduk di sofa menunggu. Bisa jadi ledakan kemarahan atau pun hinaan, dia sudah siap menerimanya.

“Bagaimana ceritanya kamu bisa mengenal calon suamiku?” tanya Amanda tanpa menoleh.

Breana terdiam sejenak, menenangkan debar jantungnya yang menggila. “Enam tahun lalu dalam sebuah perjalanan.”

“Kalian terlibat cinta satu malam?”

Sepertinya, tanpa menoleh pun Amanda bisa melihat jawaban Breana yang hanya berupa anggukan kecil. Terbukti, wanita itu kemudian tertawa lirih. Entah apa yang lucu.

“Lalu, kamu sengaja membiarkan dirimu hamil? Karena tahu Ben orang kaya?”

Breana menggeleng. “Tidak ada kesengajaan aku akan hamil anak Ben. Waktu itu kami bahkan belum begitu saling mengenal.”

“Tepat sekali.” Amanda berbalik dan menatap Breana tajam. “Kalian belum saling mengenal dan kamu menyerahkan dirimu begitu saja pada laki-laki asing? Murahan sekali!”

Brena memejamkan mata sejenak sebelum menjawan pelan. “Memang, tapi kami melakukannya atas dasar suka sama suka.” Mau tak mau ia mengakui kebenaran yang terucap dari mulut Amanda.

“Halah, bullshit!” teriak Amanda bergaung di dalam rumah yang kecil. “Kamu tahu dia calon suamiku? Kini setelah sekian lama kamu datang dan berusaha mengklaim dirinya atas dirimu? Yang benar saja! Apa hakmu berbuat begitu!”

“Tidaak! Bukan seperti itu.” Breana menggeleng kuat-kuat. “Tidak ada yang ingin mengklaim apa pun di sini. Kami adalah korban kesalahan masa lalu.” Dia menggigit bibir bawah, demi membantunya meredam emosi yang keluar menyeruak.

“Munafik!” desis Amanda. Matanya yang besar menatap nanar ke sekeliling rumah lalu ke arah Breana yang terdiam.

Keduanya berpandangan. Mengabaikan suara meraung-raung dari kendaraan yang melaju cepat di jalanan. Mengabaikan hawa panas karena Breana lupa menyalakan AC. Dua wanita, mencintai satu laki-laki yang sama dan saling berhadapan dengan pendapat masing-masing.

“Maaf.” Hanya itu yang mampu diucapkan Breana dan menunduk lebih dalam.

Amanda menunjuk dengan garang. “Maaf katamu? Kamu pikir maafmu akan mengembalikan pertunangan kami yang hancur? Kamu pikir maafmu akan mengembalikan hubungan kami yang porak poranda? Dasar pelacur!”

Breana mendongak heran. “Apa?”

Amanda berkacak pinggang, mengamati Breana yang duduk di depannya. Menatap sinis dengan pandangan menilai. Dia merasa rasa kaget Breana mendengar perkataannya adalah kepura-puraan biasa.

“Ben memutuskan pertunangan kami, demi hubungan kalian. Puas kamu?”

Perkataannya membuat Breana terbeliak ngeri. “Ti-tidak, itu nggak boleh terjadi.” Dia menekuk tangan dalam genggaman. Merasa sangat kalut.

“Nyatanya itu yang terjadi wanita bodoh! Semua gara-gara kamu dan anakmu! Kalian membawa sial.”

Breana bangkit dari sofa, mengamati sosok Amanda yang terlihat cantik dengan wajah penuh amarah terlihat jelas dari wajahnya yang memerah. Ia tahu ada banyak luka dan kecewa di sana. Ia memahami itu tapi tidak perkataan tentang Nesya.

“Silakan mengatakan apa pun tentang aku tapi tolong jangan bawa-bawa anakku. Dia tidak berdosa dan hanya korban dari kami.”

“Anak haram,” desis Amanda tak peduli.

Entah keberanian dari mana, Breana menepuk pundak Amanda dan membuat wanita di depannya melotot kaget.

“Sudah kukatakan, jangan mengata-ngatai anakku.”

Amanda menepis tangan Breana. “Jangan coba-coba menyentuhku! Wanita sialan!”

Breana menarik napas panjang. Jauh-jauh hari ia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi Amanda, saat ia mulai menerima Ben sebagai ayah anaknya. Ia sudah siap dihina dan dilecehkan tapi tepat saja, ia tidak terima jika anaknya harus disangkutpautkan dengan kesalahan dan dosanya sebagai orang tua.

Breana mengakui kalau dia merasa bersalah dan berdosa pada Amanda tapi bukan berarti ia membiarkan wanita itu menghina anaknya.

“Silakan marah, mengamuk atau memukulku tapi jangan bawa-bawa anakku,” ucap Breana lemah.

Amanda menatapnya dari atas ke bawah dengan pandangan geram. “Apa yang kamu inginkan, katakan! Apa kamu ingin aku membayarmu seperti dalam film-film agar kamu menjahui Ben?”

Breana menggeleng. “Tidak perlu, aku nggak butuh apa pun dari kamu.”

Amanda menghenyakkan diri di atas sofa. Mengedarkan pandangan ke ruangan kecil yang penuh perabot rusak. Sudut matanya menangkap sesuatu yang mencurigakan. Dia kembali bangkit dan melangkah menuju ruang makan yang hanya di beri sekat dan menyambar dasi yang tersampir di sandaran kursi.

Tindakannya membuat Breana panik. Ia pun mengikuti langkah Amanda dan tertegun saat tamunya menjerit histeris.

“Ini dasi Ben. Kenapa ada di sini? Apakah dia sering menginap di sini?”

Breana menggeleng panik. “Tidak, hanya sesekali,” jawabnya tanpa sadar.

Amanda menggeram marah, menghampiri Breana dan melayangkan pukulan di wajah.

“Dasar, jalang! Wanita murahan!”

Besarnya tenaga yang dikeluarkan Amanda saat memukul membuat Breana terdorong ke belakang dan menabrak sekat pembatas rotan. Air mata meluncur jatuh di pipi seiring dengan rasa sakit yang berdenyut-denyut di wajah.

“Katamu, kalian tidak ingin kembali bersama. Katamu, kamu tidak lagi menginginkan Ben tapi kenapa membiarkannya menginap di sini?” tanya Amanda dengan suara yang bercampur aduk antara marah dan menghiba. Ada banyak tekanan emosi yang menguar dari setiap pertanyaannya.

Breana menutup mata, merasakan tusukan kesedihan di dalam dada bercampur dengan rasa bersalah. Amanda memang kasar dan galak, ia memaklumi karena wanita itu sedang marah karena laki-laki yang dicintainya direbut wanita lain. Wanita manapun akan melakukan hal yang sama.

“In-ini tidak seperti yang kamu duga, dia da-datang untuk Nesya,” jawab Breana di antara isak tangis.

“Aaah!”

Entah bagaimana, Amanda pun kini ikut menangis. Terduduk di kursi ruang makan dan memukul-mukul permukaan meja.

Dua wanita, sama-sama terluka atas nama cinta. Berurai air mata tanpa satu pun di antara mereka mengerti, kenapa semua ini bisa terjadi.

Breana mengutuk dirinya sendiri, memandang nanar dengan berurai air mata ke arah Amanda yang tergugu di atas kursi. Setelah kemarahan sedikit mereda, tersisa kecewa dan rasa terhina teramat-sangat. Ia merasa jijik dengan dirinya sendiri.

“No-nona, aku nggak akan merebut Ben dari tanganmu. Jangan menangis,” ucap Breana pilu. Mengucapkan sesuatu yang terasa pahit di mulutnya.

Amanda menoleh, mengusap air mata dengan dasi Ben yang berada dalam genggamannya. “Nggak ingin merebut katamu? Tapi kehadiran kalian sudah cukup mengguncang kehidupan kami yang semula baik-baik saja.”

Breana terpaku di tempatnya berdiri. Tidak hanya wajahnya bersimbah air mata tapi tubuhnya juga bersimbah peluh karena hawa panas yang menguar di dalam ruangan. Amanda pun sama, riasan sempurna di wajahnya kini mulai memudar dengan eye liner dan maskara yang luntur karena air mata dan bintik-bintik keringat bermunculan di dahinya.

“Katakan, Breana. Kalau kamu jadi aku? Apa yang harus kamu lakukan? Mendapati calon suamimu lebih memilih wanita dari masa lalunya?”

Pertanyaan Amanda yang diucapkan dengan nada penuh kesedihan terasa mengiris hati Breana. Ia menarik napas panjang, berusaha melonggarkan dadanya yang terasa sesak bagaikan terhimpit batu. Dia tak punya jawaban untuk pertanyaan Amanda. Otaknya kosong.

“Maafkan aku.” Hanya itu yang mampu diucapkan Breana.

“Seandainya semua bisa diselesaikan dengan kata maaf? Tolong katakan, berapa yang kamu butuhkan agar kamu menghilang dari hadapan calon suamiku?”

Breana tertegun, tidak mampu bicara. Suara dering bel pintu membuat Breana terlonjak. Buru-buru ia seka air mata dan melangkah menuju pintu. Sebelum membukanya ia berucap lantang ke arah Amanda.

“Jika kamu masih marah, tolong jangan lampiaskan ke anakku. Dia tidak tahu apa-apa.”

Membuka pintu, Breana mendapati Nesya tersenyum, berdiri riang di antar oleh seorang wanita muda yang ia kenali sebagai guru sang anak. Setelah berbasa-basi dan mengucapkan terima kasih pada sang guru yang sudah menjaga anaknya, Breana membawa Nesya masuk. Setelah menutup pintu, ia menggandeng tangan anak perempuannya dan menbawanya ke hadapan Amanda yang masih duduk di kursi makan.

“Nesya, ucapkan salam pada Tante.”

Amanda memandang terbelalak pada anak perempuan yang bergayut pada pinggang sang mama. Pikirannya melayang pada kejadian di rumah sakit saat ia memergoki Ben menggendong anak perempuan dengan Breana bersamanya. Jadi, anak perempuan ini adalah anak kandung calon suaminya.

“Benar-benar bagai pinang dibelah dua dengan Ben,” ucap Amanda dengan mata menatap lekat ke arah Nesya [bersambung ke titiktemu berikutnya]

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…