#Into_You – #Part_19

Ben tak tahu, entah sudah berapa batang rokok yang ia hisap. Putung-putung menumpuk di dalam asbak. Abu menyebar mengotori meja kaca. Matanya menerawang menatap bunga-bunga yang tertanam di terasnya. Sore yang sejuk dengan ruang berpendingin tapi otaknya serasa ingin meledak karena panas. Bisa jadi karena ia sengaja membuka kaca jendela agar asap rokok bisa mengepul keluar.

Terbayang kembali dalam ingatannya tentang tangis dan kemarahan Breana. Wanita itu, meneriakkan tuduhan bertubi-tubi dan entah kenapa, ia merasa berhak menerima semua umpatan.

Ben menatap arloji di tangan, mendekati pukul empat. Harusnya Amanda sudah datang. Wanita itu jarang sekali terlambat, mungkin jalanan macet atau apa yang membuatnya datang melewati batas waktu.

Kemarin malam, ia menelepon tunangannya dan berniat mengunjungi rumah Amanda tapi wanita itu menolak.

“Sudah lama aku nggak mau ke rumahmu, siapa tahu itu adalah waktu terbaik kita.” Itu adalah alasan yang mendasari Amanda ngotot ke rumahnya.

Pukul empat lewat sepuluh menit, deru mobil memasuki halaman. Terburu-buru Ben mematikan rokok di tangan dan menepis abu di kaosnya lalu bangkit berdiri. Ia tahu itu adalah mobil Amanda, ia hapal suara mesinnya dan dugaannya benar. Tak lama terdengar langkah kaki memasuki pintu dan sang tunangan datang dengan senyum terkembang dan lengan membuka lebar untuk memeluknya. Seketika harum semerbak, merasuk penciumannya.

“Sayaang, aku kangen,” ucap Amanda saat mengamburkan diri dalam pelukan Ben. Lalu mengernyitkan hidung. “Kamu ngrokok berapa banyak? Bau asap banget.”

Ben mengusap kepala Amanda dan mengecup keningnya. “Duduklah, mau minum apa?”

Amanda merenggangkan tubuh dan menatap calon suaminya dengan pandangan heran. “Formal amat, Ben. Kayak sama siapa aja.” Dengan posesif ia kembali melekatkan tubuh pada laki-laki di pelukannya dan berbisik mesra. “Apa kita nggak bisa mesra-mesraan dulu? Sudah lama kita nggak ciuman.”

Ben tersenyum, memegang wajah Amanda dengan dua tangan dan mendaratkan kecupan di bibir ranum merah delima. Tubuh yang hangat, aroma menggiurkan dan penyerahan diri sang wanita membuat Ben tersenyum tapi tak urung tetap menolak undangan terang-terangan untuk bermesraan. “Duduklah, aku ingin bicara denganmu.”

Mata Amanda menyipit. “Hal penting apakah sampai menolak ajakkan untuk bermesraan?”

Ben menuntun wanita itu ke sofa dan menghempaskan diri di atasnya. Tangannya meraih dan menggenggam tangan tunangannya dengan lembu. Ia terdiam tak bicara, sesaat membayangkan reaksi Amanda jika ia memberitahu yang sebenarnya. Akankah tunangannya mau menerima? Bagaimana jika tidak? Tanpa sadar, Ben menggenggam tangan Amanda lebih kuat dari yang dimaksudkan.

“Ben? Ada apakah?” tanya Amanda tak sabar, melihat tunangannya yang terdiam melamun. Nalurinya sebagai wanita mengatakan ada hal yang disembunyikan oleh kekasihnya.

Terdengar helaan napas panjang dari mulut Ben. Ada sepercik aroma rokok menguar dari pernapasannya. Ia menatap Amanda dalam-dalam sebelum bicara pelan.

“Amanda, sepertinya aku nggak bisa melanjutkan hubungan kita.”

Hening.

Amanda hanya menautkan alis. “Apa? Kamu becanda, Sayang?” kikiknya tak lama kemudian. Tangannya terulur mengelus pipi Ben. “Becandamu sungguh nggak lucu.”

Ben menggeleng lemah, meraih jemari Amanda yang bermain di wajahnya dan sekali lagi bicara, masih dengan nada pelan. “Aku serius, nggak ada niat becanda di sini.”

Sekonyong-konyong, mata Amanda membulat tak percaya. “Apa maksudnya, Ben. Aku nggak ngerti tiba-tiba kamu bicara seperti ini. Kenapa ingin putus? Salah apakah aku?”

“Tidak, Sayang. Kamu nggak salah, akulah yang salah.”

Amanda mengibaskan tangan tunangannya dan berdiri sambil berkacak pinggang. Aroma rokok yang pekat menyergap penciumannya dan seketika menyadarkannya. Jika tunangannya sedang banyak pikiran dan berusaha menghalau gundah dengan merokok. Ia menunduk dan bertanya pada Ben. “Katakan yang jelas, apa masalahnya dan kenapa mendadak kita harus putus?”

Ben terduduk. Memijat pelipisnya, ia tahu ini tidak akan mudah. Tanpa penjelasan yang masuk akal, Amanda tidak akan begitu saja menerima keputusannya. Ingatannya kembali melayang pada Brena, pada tangis dan kemarahan ibu beranak satu itu. Juga Nesya, darah dagingnya. Mengembuskan napas kasar, Ben mendongak.

“Aku pernah menjalani cinta di masa lalu dan anak hadir di antara cinta itu.”

“Apa?” Amanda melotot kaget.Suaranya tergetar tak percaya.

Ben bangkit dari sofa dan berdiri menghadap Amanda. Bisa ia lihat kekagetan di bola mata wanita itu.

“Ada anak di antara kami. Itulah kenapa, aku nggak melanjutkan hubungan kita.”

Sunyi

Tidak ada yang bicara di antara keduanya. Mereka hanya saling memandang. Jika Ben menatap dengan pandangan menunggu dan was-was, Amanda justru sebaliknya. Ada kilat tak percaya di matanya.

Mendadak, Amanda kembali menghenyakkan diri di sofa. Menutup ke dua mata dengan jemarinya. Perkataan Ben seperti menamparnya tiba-tiba dan membuat kakinya goyah. Cinta di masa lalu? Anak? Rasanya semua hal sulit dimengerti.

Tindakannya membuat Ben kalut. “Manda.”

Kali ini desah napas Amanda yang terdengar berat saat ia menjawab. “Aku berharap kamu sedang bercanda, Ben. Ayo katakan kalau kamu sengaja membuatku kalut?” ucapnya sambil menoleh ke arah tunangannya dan gelengan kepala dari laki-laki di sampingnya membuat dadanya sesak.

“Jadi, ini semua benar?” tegasnya lama-lamat.

Ben mengangguk dan itu bagaikan pukulan godam di hatinya. Dengan gemetar Amanda menutup mata dan memijat kelopaknya. “Siapa wanita itu? Dan kenapa kamu baru mengatakannya sekarang?” tanyanya tanpa menoleh. Ada secercah kepahitan tiap kata yang ia ucapkan.

“Kamu nggak perlu tahu siapa wanita itu, hanya saja itu benar. Perbuatanku di masa lalu kini bagai menamparku kembali.” Ben menyandarkan punggung ke sofa, merasakan dadanya sesak seketika. Semburat cahaya jingga dari matahari yang mulai terbenam di ufuk barat, bagaikan lukisan emas yang memantul di jendela dan kaca. Pemandangan indah yang tak mampu menggerakkan hatinya untuk mengamati.

“Sudah berapa lama wanita itu datang?” tanya Amanda.

Ben mendesah. “Tak lama sebelum kita bertunangan.”

“Jadi, selama ini kalian berhubungan?”

Ben mengangguk. “Setelah aku tahu dia mengandung darah dagingku karena sebelumnya dia tak pernah mengatakan apa-apa.”

Amanda bangkit dari sofa, melangkah menuju jendela kaca dan memandang sore yang kian meredup. Ruang tamu terasa lebih dingin sekarang. Sementara pekatnya aroma tembakau masih berputar kuat di setiap udara yang bergerak.

“Katakan padaku, siapa wanita itu? Bukankah aku berhak tahu?”

Ben mendongak. “Bisakah ini hanya jadi rahasiaku.”

Amanda menoleh, jawaban Ben seperti menampar hatinya. Dia merasakan kemarahan perlahan naik merayap ke otaknya. Jenis kemarahan bagaikan api yang membakar bangunan tua, ganas, panas, mematikan. “Aku berhak tahu, Ben. Bagaimana pun aku masih tunanganmu,” desisnya marah.

“Amanda, please?”

Permohonan Ben membuat Amanda murka. “KAMU NGGAK BISA GINIIN AKU, BEN. AKU BERHAK TAHU. SETELAH BEGITU SAJA KAMU MENGINJAK-INJAK HATIKU, MASIH SAJA MEMBELANYA. SIAPA WANITA ITU, KATAKAN!”

Teriakan Amanda bergaung di ruangan. Ben terdiam memandang tunangannya yang berdiri dengan wajah memerah. Dia mengembuskan napas kasar, melawan dorongan hati untuk menyambar rokok dan menghisapnya.

“Ben!”

Sekali lagi Amanda berteriak. Ben bangkit dan menghampiri wanita yang sedang marah yang berdiri di samping jendela.

“Aku akan katakan, tapi tenangkan dirimu.”

Amanda memandang sinis. “Bagaimana aku tenang kalau pertunanganku di ambang kehancuran karena kehadiran wanita yang nggak aku kenal. Selama kamu tidak mengatakan yang sesungguhnya, aku menolak berpisah.”

Geraman frustrasi keluar dari mulut Ben. Matanya menatap Amanda yang berdiri garang di depannya. Jika mengikuti kata hati ingin rasanya ia mendorong pergi wanita di depannya tapi rasa bersalah menyelusup masuk ke relung hati. Ia tahu, semua salahnya dan Amnada tidak layak menerima hukuman untuk sesuatu yang tidak dia lakukan.

“Apa aku mengenalnya?” desak Amanda.

Ben terdiam lalu mengangguk.

“Siapa?”

“Breana,” jawab Ben disertai embusan napas panjang.

Amanda tergagap mundur. Matanya membulat kaget. Tanpa sadar tangannya menuding sang tunangan.

“Breana? Si janda itu? Sekretarismu?” tanya Amanda tak percaya.

Ben mengangguk. “Dia.”

“Hah!” Amanda mendongak, memandang langit-langit. Terdengar tawa lirih tak percaya atas apa yang baru saja dia dengar. “Bagaimana mungkin kalian saling mengenal sebelumnya?”

Ben meraih bahu wanita yang ia tahu sedang sulit menerima kenyataan. Tapi Amanda menghindari sentuhannya. Sekali lagi, dihantam perasaan frustrasi, Ben berkata pelan. “Enam tahun lalu, kami sudah saling mengenal. Terlibat cinta semalam hingga akhirnya Breana menghilang. Saat bertemu, ternyata anaknya adalah anakku.”

“Bagaimana kamu tahu dia anakmu?”

“Aku sudah mengetes DNA.”

“Shit!” umpat Amanda tanpa sadar. “Jadi selama ini kalian bermain di belakangku Ben? Kamu dan dia berselingkuh?”

“Tidaak-tidak, kami tidak ada hubungan seperti itu.” Sangkal Ben. “hanya saja, perasaan enam tahun lalu belum benar-benar terkubur.”

Amanda bergerak perlahan. Tangannya menyusuri kisi jendela dari besi. Melihat debu yang menempel di ujung jari. Besi terasa dingin, sedingin perasaannya. Setelah sebelumnya dihantam amarah, kini rasa pilu menjalarinya perlahan.

“Bagaimana kalau aku menolak berpisah?” Pada akhirnya dia mengatakan penolakan dengan tenang.

“Aku yang tidak menginginkan kamu terjebak dalam hubungan rumit yang akan membuat kamu tidak bahagia.”

Amanda tertawa lirih, merasa ironi dengan semua perkataan tunangannya. Kata bahagia tak ubahnya hanya penghiburan untuknya. Siapa yang bisa bahagia jika laki-laki yang dalam waktu dekat akan menjadi suaminya, kini justru mengakui jatuh cinta dengan wanita lain.

“Apa kamu sudah mengatakan pada orang tuamu? Perihal mereka?”

Ben menggeleng. “Kamu yang pertama tahu.”

Aman mengembuskan napas, mengusap wajah dan menyentakkan tangan ke samping tubuh dengan kesal. “Nggak nyangka sama sekali, kamu dan dia ternyata … ada hubungan. Kenapa dia, Ben?”

“Kami saling menginginkan.”

“Apakah orang tuamu tahu, perihal dia?”

Ben menggeleng.

Amanda tertawa dan berkacang pinggang. “Kalau begitu, bicaralah dengan orang tuamu lebih dulu. Aku menunggu keputusan mereka, sementara itu aku menolak berpisah.”

“Amanda, tolonglah.” Tangan Ben terulur untuk meraihnya tapi ditepiskan kuat-kuat.

“Jangan menyentuhku!” geram Amanda dengan mata menyipit. Ada setitik air mata jatuh ke pipinya. “Aku menolak berpisah! Kamu urus masalah ini dengan keluargamu dan wanita sialan yang membuat kamu berubah!”

Menyambar tas yang semula ia letakkan di atas meja, Amanda berderap menuju garasi. Meninggalkan Ben yang berdiri gamang di tengah ruangan.

“Amanda, mau kemana? Kita belum selesai,” ucap Ben dengan langkah cepat menyusul Amanda.

Namun wanita itu tak mengindahkannya, dia membuka pintu mobil dan membanting pintu tepat di hadapan tunangannya. Tanpa memedulikan panggilan Ben, ia menghidupkan mesin dan membawa mobil melesat meninggalkan garasi.

Di dalam mobil Amanda menyetir dengan gemetar. Apa yang baru saja ia alami seperti pukulan yang keras dan mematikan ke jantungnya. Rasanya sungguh tak percaya jika laki-laki yang ia cintai ternyata menyembunyikan masa lalu yang gelap. Dengan perasaan kalut ia menyetir dengan kecepat tinggi. Hampir saja menabrak beberapa motor jika tidak sigap menghindar. Seketika pikirannya tertuju pada sosok yang akan membuatnya tenang. Sosok yang selama ini selalu menjadi orang yang menenangkannya. Ia mengarahkan mobil ke arah selatan Jakarta dan tak lama memasuki komplek perumahan mewah. Di depan sebuah rumah megah bercat putih, Amanda menghentikan mobil dan menghambur masuk setelah penjaga pintu yang mengenalinya, membuka pintu.

Sesosok laki-laki merentangkan tangan, menyambutnya di depan pintu.

“Ada apa, Sayang?”

Dengan air mata berderai, Amanda menghambur ke pelukan laki-laki itu. “Aku sedih, Ben memutuskanku. Usaha kita tak berhasil.”

Laki-laki itu memeluk Amanda dan mengecup kepalanya. “Ayo, masuk. Ceritakan padaku yang lebih jelas.”

Amanda menyarukkan kepalanya di pundak Dimas, setengah tergugu setengah bicara. “Kenapa Dimaaas, bukannya kamu berjanji untuk membantuku? Bukannya kamu bilang akan membantuku menjauhkan Breana dari Ben. Nyatanya, Ben melepaskanku demi dia.”

Dimas mengusap rambut wanita dalam pelukannya. Menarik napas panjang sebelum bicara.

“Sudah, aku berusaha. Mengajak Breana makan siang, mendekatinya perlahan tapi dia seperti membentengi dirinya sendiri. Apa kamu yakin kalau Ben menyukainya?”

Amanda mendongak dan mengangguk.“Mereka bahkan sudah punya anak.”

“Apa?” pekik Dimas tak percaya.

“Cinta dari masa lalu, itu yang dikatakan Ben. Mereka sudah mengenal bertahun-tahun lalu.”

Kembali, ledakan tangis keluar dari mulut Amanda. Dimas mengamati wanita cantik yang bersimbah air mata di depannya. Mencoba meredakan kesedihan yang bercokol di hati wanita itu dengan sentuhan, ia tahu tak banyak membantu. Setidaknya mencoba meredakan tangisan dan luka-luka kecewa.

Masih terbayang dalam ingatan Dimas, saat Amanda merasa cemburu dengan kehadiran Breana, secara khusus wanita itu datang dan memohon padanya untuk membantu. Membantunya untuk menyingkirkan Breana dari sisi Ben, apa pun caranya dan apa pun yang diminta Dimas sebagai imbalan.

“Tolonglah, aku. Wanita brengsek itu merebut tunangannku. Aku meminta dengan sangat pertolonganmu dan hanya kamu yang bisa membantuku.”

Dimas yang saat itu sedang banyak masalah dengan pekerjaannya, menatapa nanar pada Amanda yang datang dengan wajah memohon. Bergaun hitam yang menonjolkan lekuk tubuh, Amanda datang ke rumahnya.

Entah apa yang dipikiran Dimas, ia menyetujui tanpa banyak tanya.

“Baiklah, aku akan membantumu. Dengan satu syarat.”

Dimas merengkuh Amanda dalam pelukannya dan mengulum mesra bibir wanita itu. Untuk sejenak, Amanda seperti ingin menolak. Dengan perlahan Dimas menyusurkan tangan di tubuh wanita itu dan berbisik. “Satu malam bersamaku, kujanjian Breana akan pergi dari Ben.”

Malam itu, dia memiliki Amanda. Sesuatu yang menjadi idamannya sejak dulu. Betapa bahagia tak terkira, meski keesokan paginya, Amanda mengingatkannya kembali tentang perjanjian mereka.

Diam-diam Dimas menghela napas, merasa bersalah untuk wanita yang kini masih menangis karena patah hati. Dia pun merasakan hal yang sama. Patah hati karena mencintai wanita yang mencintai laki-laki lain. Cinta memang serumit itu.

“Ayo, masuk. Kita bicara di dalam.”

Perlahan dengan penuh kasih sayang, Dimas membimbing Amanda masuk ke dalam. Benaknya berputar, tentang cara yang akan ia gunakan untuk menghibur wanita malang dalam pelukannya. Otaknya mengutuk Ben keras, karena membuat dua wanita patah hati secara bersamaan. Brean dan Amanda.

*

“Mama, pusing, ya?” Nesya merangkak naik ke ranjang dan memeluk ibunya yang terbaring dengan mata terpejam.

“Iya, Sayang.” Breana menggeliat, merengkuh anaknya dalam dekapan dan membeli rambut halus yang sekarang tergerai hingga ke pundak.

Aroma sampo anak-anak tercium dari rambut Nesya yang terurai. Breana mengecup kepala anaknya dan mendekap erat tubuh kecil itu di dadanya. Dia membutuhkan kekuatan untuk hidup. Dia membutuhkan dukungan untuk bangkit berdiri menghadapi kenyataan dan anaknya adalah dukungan sekaligus kekuatan untuknya.

“Badan Mama panas,” ucap Nesya dengan suara teredam.

“Ehm, mungkin mama kecapean.”

Pukul delapan malam, sang pengasuh baru saja pamit pulang dan Breana yang merasa tidak enak badan, sepulang kerja langsung berbaring di ranjang sendirian sebelum anaknya menyusul.

Perasaannya terasa sangat tidak enak hari ini. Peristiwa dengan Ben kemarin malam seperti mengoyak pertahanan dirinya. Seharian di kantor, ia berusaha menghindari tugas-tugas untuk pergi ke ruangan Ben dan untungnya laki-laki itu tidak memaksanya bertemu.

Pukul dua siang, sang direktur meninggalkan kantor lebih cepat dan tidak kembali lagi.

Pikiran yang berkecamuk membuat Breana kehilangan fokus. Beberapa kali Tessa menegur karena mendapatinya melamun.

Breana memandang langit-langit kamar dengan pikiran suram. Melihat ada sarang laba-laba tipis tepat di atas kepalannya. Rusun yang mereka tinggali memang bukan banguna baru. Lift-nya bahkan sudah sering rusak karena kurang perawatan. Dari sarang laba-laba, mata Breana tertumbuk pada tumpukan baju di atas kursi di samping ranjang. Ada celana dan kaos Ben yang sudah dicuci dan disetrika rapi. Hatinya kembali tergetar mengingat laki-laki itu.

“Akan dibawa kemana sebenarnya hubungan kami,” gumam Breana pelan dan melihat anaknya mulai tertidur dalam pelukan. Merasakan tusukan perasaan bersalah dan sesak di dada. Breana memeluk anaknya erat-erat. Merasakan embusan napas Nesya seperti menenangkan dirinya.

Mengesampingkan rasa gundah yang menjalar masuk ke hati, Breana berusaha terlelap. Matanya melirik ke arah handphone yang bergetar di atas nakas samping ranjang. Sedikit menggeliat ia berusaha meraihnya dan mendapati nama Ben terpampang di layar.

“Aku sudah memberitahu Amanda, siap-siap saja jika sewaktu-waktu dia datang.”

Dengan gemetar ia meletakkan kembali handphone ke atad nakas, membaca tanpa membalasnnya. Jantungnya bagai ditusuk-tusuk. Ben, Amanda dan persoalan mereka membuatnya tanpa sadar menangis.

*

Sepeninggal Amanda, Ben membawa mobilnya menuju ke rumah orang tuanya. Tekadnya sudah bulat, tidak perlu berlama-lama untuk mengungkapkan yang sebenarnya. Jika Amanda sudah tahu maka orang tuanya juga berhak tahu.

Gemerlap lampu jalanan membias wajah tampan di balik kemudi. Berkali-kali terdengar embusan napas panjang disertai dengan dengkusan tak sabar tiap kali melewati kemacetan.

Dia tidak tahu bagaimana caranya untuk menyampaikan perihal Breana tanpa menyakiti hati orang tuanya. Terutama sang mama. Bisa saja ia mengatakan jika Breana adalah kesalahn dari masa lalu tapi hatinya menolak. Kesalahan atau apa pun itu, ia tak ingin kehilangan Breana dan anaknya.

Ben mengamati rumah-rumah besar di sepanjang jalan yang ia lewati. Komplek tempat orang tuanya tinggal memang tak semewah keluarga Amanda tapi terhitung bukan kawasan murah.

Setelah melalui deretan pepohonan rindang dengan beberapa penjaga komplek tengah berkumpul, Ben membelokkan mobilnya ke arah jalan yang lebih kecil dan berhenti tepat di depan rumah berpagar hitam dengan bentuk minimalis.

Dari dalam mobil ia melihat lampu menyala terang dari dalam rumah. Ia tahu, orang tuanya sudah menunggu di dalam. Malam ini, kakak perempuannya baru saja datang dari Malaysia beserta keluarganya. Harusnya, ini akan menjadi reuni yang menyenangkan jika bukan ia datang membawa besar.

Suara lengkingan anak kecil terdengar saat Ben memasuki pekarangan. Tak lama, sesosok anak laki-laki seumuran Nesya berlari sambil menjerit menyongsongnya.

“Om Beeen! Hore, Om Ben pulaaang!” Tak lama, anak laki-laki itu menubruk Ben kuat hingga nyaris membuatnya terjungkal.

“Huft, kamu bikin om hampir jatuh, Galen.”

“Galen kangen!” teriak anak laki-laki itu senang.

Belum sempat Ben bergerak, sesosok anak perempuan dengan wajah sama persis dengan Galen menubrukknya keras.

“Om Ben punya Livia, dia punya aku.”

Dan Ben hanya bisa pasrah saat tangannya ditarik oleh sepasang anak kembar yang memperebutkannya. Dia mengulum senyum. Tingkah para ponakannya adalah hiburan tersendiri untuknya.

“Livia, Galen. Om Ben baru datang dan kalian sudah membuat repot?” Seorang wanita akhir tiga puluhan, melangkah tergesa mendekati mereka.

Tangannya terulur untuk merengkuh Ben dalam pelukan dan mengecup pipi adik laki-lakinya.

“Mama dan Papa sudah menunggumu di ruang tengah, aku akan menyusul setelah membawa dua monster ini keluar,” ucaop Grace mengatasi pertengkaran anaknya.

“Di mana Kak Bagas?”

Bagas adalah suami Grace, laki-laki pendiam yang menjadi pendamping sang kakak selama hampir delapan tahun. Ben lumayan menyukai sang kakak ipar.

“Dia sudah di garasi dan akan mengangkut dua bocil ini ke fast food.”

Mengabikan dua anaknya yang kini nyaris baku hantam, Grace meraih tangan keduanya dan menyeretnya ke pintu. “Ayo, anak-anak. Papa kalian sudah menunggu di mobil. Katanya mau makan burger dan ice cream?”

Suara teriakan perlahan menghilang di balik pintu. Ben menatap kepergian kakak dan ponakannya. Dia mengamati tangan yang baru saja terbebas dari genggaman dua bocah kecil. Perasaan rindu mendadak menggayut dalam hati. Nesya, dia merindukan anaknya.

Ben mendesah, mengedarkan pandangan ke arah ruangan luas yang berisi furniture dari kayu jati. Selain satu set meja kayu juga ada banyak panel dinding dari kayu. Jati adalah kesukaan sang papa. Melangkah perlahan ia melintasi ruang tamu menuju ruang tengah yang juga berfungsi menjadi ruang keluarga. Ada sebuah sofa besar di samping dinding dengan kedua orang tuanya duduk menghadap ke layar televisi super besar yang berada di depan mereka.

Sang Mama tersenyum menyambut kedatangannya. Ben mengembuskan napas panjang sebelum menghenyakkan diri di samping mamanya.

“Ma, Pa. Ben mau bicara.”

Malam itu adalah malam terburuk dalam kehidupan Ben, saat ia bercerita dan melihat wajah orang tuanya memucat. Berbagai penyangkalan tak percaya keluar dari mulut mamanya tapi Ben tetap menerangkan dengan tenang.

Sementara sang papa hanya terdiam mendengarkan, sang mama

menangis histeris dan dari ujung matanya, Ben melihat Grace menatap pilu ke arah mereka tanpa kata-kata.

“Ada wanita lain yang aku cintai dan kami sudah punya anak.” Sebuah perkataan yang membuahkan tamparan dari sang mama [bersambung ke titiktemu berikutnya]

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…