#Into_You – #Part_18

Dimas, laki-laki itu membuktikan perkataannya dengan datang ke kantor Breana setiap kali ada kesempatan. Banyak alasan yang dia ungkapkan tiap kali Ben bertanya apa maksud kedatangannya. Meminta ditemani makan siang oleh Breana adalah alasan utamanya datang dan tanpa malu-malu dia ucapkan itu.

Breana sendiri tidak ada masalah dengan sikap Dimas yang baik padanya. Justru dia merasa tidak enak hati pada laki-laki berkacamata yang kini suka sekali membawanya makan siang di luar. Ia juga mengabaikan godaan yang dilontarkan Tessa untuknya.

“Ciee … yang lagi PDKT.” Disertai senyum kecil, Tessa hanya mengangkat sebelah bahu saat Breana pamit keluar menemui Dimas.

Seperti siang ini, Dimas mengajaknya makan siang di restoran yang menyajikan masakan Jepang. Breana sudah menolak secara halus tapi laki-laki itu bersikukuh. Dia bahkan mengatakan dengan jelas, akan menunggu Breana di lobi. Mau tidak mau Breana turun menemuinya. Kini ia terpaku saat melihat harga makanan di daftar menu. Bergumam dalam hati, jika gajinya sebulan akan habis untuk makan lima kali di restoran ini.

“Kok bengong? Ayo, pilih mau makan apa?” Dimas membuka menu dengan antusias. Sesekali tangannya bergerak untuk membetulkan letak kacamata yang melorot di hidungnya yang mancung.

Breana diam-diam menghela napas, sudah tiga kali ia ditraktir makan Dimas yang kalau dihitung nilainya sama saja dengan sewa rumahnya sebulan. Bukan uang miliknya tapi ia merasa sayang jika buang-buang uang begitu saja hanya demi makanan.

“Pak, apa nggak takut bangkrut? Traktir saya terus?”

Dima terkekeh. “Nggak bakalan, aku sanggup traktir sebanyak yang kamu mau. Ayo, apa perlu aku pesankan? Jangan kaget kalau aku pesan dua menu buat kamu.”

Dengan berat hati Breana memesan menu ayam, jenis masakan yang menurutnya paling murah. Ternyata Dimas tidak membiarkannya makan tanpa menu pendamping. Yang dilihat Breana saat pelayan mengantarkan makanan adalah berbagai jenis makanan dari mulai hidangan berat sampai penutup tersedia di meja makan.

“Ayo, Bre. Makan.”

Mengambil sumpit dengan tangan gemetar, Breana mulai mengambil sayur dan ayam. Saat mengunyah pikirannya mengembara pada Ben. Laki-laki itu sering kali memberikan sindiran tersirat perihal Dimas. Meski membiarkan mereka pergi bersama, berbagai peringatan dilontarkan Ben padanya.

“Dimas itu berbeda, jangan sampai kamu jatuh dalam pesonanya,” ucap Ben suatu hari saat dia baru saja kembali dari makan siang bersama Dimas.

“Kenapa aku harus diberi peringatan soal itu?” tanya Breana heran. Meletakkan dokumen yang ia bawa ke atas meja sang direktur.

“Takutnya kamu lupa, Bre atau terlalu terlena dengan sikap baiknya.”

Breana tertawa lirih. “Kita anggap kamu sedang mengingatkanku kalau aku tidak sebanding dengannya. Begitu kan?”

“Hei, aku tidak mengatakan itu,” sanggah Ben.

“Iya, Pak Direktur. Kamu sedang memperjelas perbedaan strata antara aku dan Dimas. Tenang saja, aku nggak sebuta itu untuk panjat sosial.”

Mengentakkan kaki, Breana meninggalkan ruangan dengan cepat. Tidak peduli meski Ben memanggil namanya. Kini saat rasa ayam yang manis menyentuh lidahnya, peringatan Ben kembali bergaung di kepalanya. Dia harus lebih tahu diri, tidak berharap macam-macam karena dunianya dengan Dimas pun berbeda. Dia sudah sering kali disindir sebagai wanita tak tahu diri.

“Enak?”

Suara Dimas menyadarkan lamunannya. Breana mengangguk. “Enak sekali.”

Keramahan Dimas berhasil mencairkan suasana. Selanjutnya mereka menyantap hidangan sambil mengobrol banyak hal. Dari mulai soal pekerjaan hingga hiburan. Dimas suka sekali menceritakan tentang kliennya, orang-orang kaya yang jumlah kekayaannya membuat pusing kepala. Breana mendengarkan dengan antusias sambil sesekali menyela jika ia punya uang banyak akan membawa anaknya jalan-jalan ke luar negeri.

Selesai makan, Dimas mengantarkannya kembali ke kantor. Lobi ramai pengunjung, banyak pegawai yang belum naik ke kantor mereka karena mungkin ingin menikmati jam makan siang lebih lama dari seharusnya. Ada banyak juga pengunjung yang bukan pegawai kantor. Mereka berdiri di sudut atau duduk di sofa di tengah ruangan dengan kepala menunduk di atas ponsel.

Entah kenapa Breana merasa sepatunya sedikit tidak nyaman dipakai. Dia hanya berharap tidak ada yang salah dengan sepatu yang ia pakai.

“Aku senang kamu temani, kamu teman curhat yang baik,” ucap Dimas saat mereka melangkah sejajar melintasi lobi.

“Sama-sama, Pak dan saya juga kenyang,” ucap Breana balik. Detik itu juga dia memekik kaget saat kakinya tertekuk dan menyebabkan tubuhnya limbung, untunglah Dimas menyambar lengannya cepat. Ternyata, hak sepatunya copot.

“Kenapa, Bre?” tanya Dimas cemas. Matanya menatap sepatu Breana yang rusak dan kakinya yang menekuk aneh.

“Hak sepatu copot, Pak.” Dengan malu, Breana mencopot sepatunya. Merasakan ngilu di sekitar pergelangan kaki.

“Kakimu sakit?”

Ia mengangguk. “Terkilir sedikit sepertinya.”

“Ayo, kita cari kursi.”

Dengan tertatih dan tanpa alas kaki, Breana dibimbing Dimas menuju sofa bulat untuk pengunjung yang berada di tengah lobi.

Dimas berjongkok di depan Breana untuk memeriksa pergelangan kaki. “Sini, aku pijit.” Tanpa sungkan Dimas memegang kaki Breana dan bersiap untuk memijit.

Tindakannya membuat Breana menjerit kaget. “Pak, nggak perlu. Ini hanya terkilir biasa.”

“Tapi nanti jadi biru.”

“Nggak Pak, please? Nggak enak dilihat orang-orang.”

Belum sempat Dimas membantah, suara dehaman membuatnya mendongak. Keduanya tak menyadari jika Ben dan Tessa berdiri menjulang di depan mereka. Rupanya, karena berdebat mereka tidak menyadari kedatangan Ben dan sekretarisnya.

“Kalian sedang apa di sini?” Suara Ben terdengar heran. Dahinya mengernyit, memandang tangan Dimas yang berada di kaki Breana.

Dimas bangkit dari duduknya dan menunjuk ke arah kaki Breana yang tanpa memakai alas apa pun. “Breana terkilir, hak sepatunya copot,” terang Dimas.

Ben menatap Breana yang duduk di sofa. “Apakah parah? Sampai perlu dipijit di depan umum?”

Ucapan dingin dari Ben membuat Breana menunduk makin dalam. Dia tidak menyangka akan dilihat Ben dan Tessa dalam keadaan memalukan seperti ini.

“Jangan begitu, Ben. Dia beneran sakit,” bela Dimas. “Aku hanya ingin memijatnya untuk membantu meredakan rasa sakit.”

Ben membuka mulut untuk membantah saat Tessa menyela.

“Bre, apa kamu punya sepatu cadangan di atas?”

Ben bergantian memandang ke arah Breana dan Tessa. Segala argumen yang siap terlontar dia telan kembali.

Breana menggeleng pada Tessa. “Cuma ada sandal. Nggak apa-apa, aku bisa naik ke atas tanpa alas kaki.”

“Mana bisa begitu,” dengkus Tessa. Merogoh ponsel dan memencet tombol panggilan. Terdengar perintah-perintah dari mulutnya pada seseorang. Setelah mengakhiri panggilan, ia berkata pada Breana yang masih duduk di sofa. “Satpam akan membawa sandalmu turun. Apa kamu bisa jalan?”

“Tentu saja,” ucap Breana dengan lega. Buru-buru bangkit dari sofa dan detik itu juga meringis kesakitan.

“Kaan, kubilang apa? Kakinya kesakitan,” decak Dimas. “Apa aku perlu menggendongmu naik ke atas?” tanyanya pada Breana.

“Jangan berlebihan Dimas,” timpal Ben.

“Hei, kamu ini boss yang nggak perhatian, ya?”

Kembali, kedua laki-laki itu bersiteru. Breana saling tukar pandang dengan Tessa. Keduanya tidak mengatakan apa pun sampai datang seorang satpam mengantarkan sandal milik Breana.

“Ayo, pakai. Dan biar aku papah kamu,” ucap Tessa.

Dengan berpegangan pada Tessa, Breana bangkit dari sofa dan memakai sandal yang diberikan untunya. Dalam hati mengucap syukur ada Tessa yang membantunya.

“Pak Dimas, terima kasih atas traktirannya. Saya naik ke atas dulu,” pamitnya dengan sopan.

“Hah! Yakin bisa?”

Breana mengangguk, melirik sebentar ke arah Ben yang berdiri diam lalu melangkah tertatih menuju lift dipapah oleh Tessa. Bisa ia rasakan pandangan Ben dan Dimas dari balik punggungnya. Pergelangan kakinya terasa ngilu dan ia mencoba bertahan, berdiri di keramaian orang-orang yang hendak menuju ke lantai atas.

Sepanjang sore, Brean tak banyak bergerak dari kursi. Tessa memberikannya minyak oles dan efeknya ternyata besar. Meski masih ngilu tapi tidak terlalu sakit seperti sebelumnya.

Sore hari menjelang pulang kantor, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Breana melihat nama Ben tertera di layar.

“Aku tunggu di pertigaan, jam tujuh. Jangan membantah!”

Breana menghela napas, Ben ingin mengantarnya pulang. Itu sudah pasti dan tentu saja tidak mau ditolak. Diam-diam ia meringis dalam hati. Sifat Ben yang keras kepala kadang kala menurun ke darah daging mereka. Jika diamati, Nesya pu memilik sifat keras kepala yang sama seperti papanya. Anak itu, cenderung melakukan apa pun yang dia mau dan tak mudah menggoyahkan keinginannya jika tidak memakai argumen yang masuk akal.

Malam menggelap, masih dengan kaki yang terasa ngilu, Breana melangkah perlahan menyebrangi area parkiran, menuju pertigaan jalan tidak jauh dari kantor. Sebelumnya Tessa menawarkan diri untuk mengantarnya pulang tapi ia menolak dengan alasan akan ada yang menjemput.

Sebuah mobil hitam mengkilat menunggunya di bawah tiang listrik. Mengenali sebagai mobil Ben, Breana membuka pintu depan dan duduk di samping Ben. Mobil melaju mulus meninggalkan tiang listrik dengan Breana melirik ke arah laki-laki di belakang kemudi. Tak ada percakapan, pertanyaan atau apa pun. Keduanya terdiam hingga kendaraan yang membawa keduanya terjebak dalam kemacetan ibu kota.

Breana kebingungan saat sadar jika mobil mengarah ke jalan lain. Bukan ke arah rumahnya. Dengan heran dia bertanya pada Ben.

“Mau ke mana kita?”

Ben tidak menjawab, mengarahkan mobil masuk ke dalam jalanan yang tidak terlalu ramai. Ada banyak apartemen yang sedang dibangun di sisi kiri dan kanan jalan. Breana mengenali jalan ini karena beberapa kali melewatinya saat hendak pergi ke kantornya yang lama dan lumayan jauh dari rumahnya.

Mobil berhenti di bawah pohon yang berada di samping lapangan golf. Suasana cenderung sepi karena tidak ada perkampungan penduduk di sekitar mereka. Ada beberapa warung rokok kecil itu pun jauh dari mereka.

“Mana kakimu,” ucap Ben saat mobil sudah benar-benar berhenti.

“Apa?”

“Kaki, yang keseleo, mana?”

“Aku nggak mungkin angkat kakiku ke kursi, kan?” sentak Breana dengan bingung.

“Iya, kalau kamu nggak mau naikkan ke atas pahaku. Aku terpaksa mengangkat kakimu.” Ancam Ben dengan wajah menunjukkan kesungguhan untuk melakukan apa pun yang dia inginkan.

Dengan menggerutu, Breana menggeser posisi tubuh dan menyandarkan punggung ke pintu mobil. Dengan mengernyit mengangkat kaki, menopangkannya ke atas paha Ben.

“Mau kamu apakan?” tanya Breana.

Ben tidak menjawab, memegang kaki Breana, memeriksanya sekilas lalu mulai memijat pergelangan kaki. Sementara tangannya bergerak, matanya melirik ke arah wanita yang bersandar dan memandangnya dengan bola mata yang besar.

“Kenapa kamu lakukan ini?” tanya Breana pelan. “Apa selain jadi direktur kamu juga merangkap tukang pijat?”

Terdengar dengkusan dari mulut Ben. “Kakimu terkilir dan kamu masih bisa becanda?”

“Serius amat jadi orang Pak Direktur.”

Mereka berpandangan dalam keremangan. Breana merasa tubuhnya menggelenyar. Sentuhan ringan tangan Ben di kakinya seperti menimbulkan sensasi tertentu. Semenjak peristiwa di pesta Ben, ini pertama kalinya mereka berduaan cukup lama.

“Bagaimana kabar, Nesya?”

Breana mendesah. “Dia menanyakanmu terus menerus dan aku bilang kamu lagi ke luar negeri.”

“Apa dia sehat?”

“Iya, sehat dan ceria. Pengasuhnya juga baik, bisa merawat Nesya.”

“Syukurlah, kapan aku bisa main ke rumahmu? Menjenguknya?”

Breana terdiam, mengalihkan pandangan ke arah kaca mobil. Rasa tidak nyaman menggelitik sanubarinya. Ia tidak tahu harus berkata apa, tidak mengerti juga apa yang ia inginkan. Pertanyaan dari Ben seperti membentur pertahanan dirinya.

“Mau dibawa ke mana hubungan kita, Ben? Boss dan simpanannya?”

“Bre ….”

Breana tertawa lirih, merasakan kepahitan menggelegak pelan dari dasar hati. “Kita terjebak dalam nostalgia. Tentang rasa bercampur dalam tubuh kita. Kita merasakan seakan itu cinta tapi mungkin bukan itu sebenarnya.”

“Kalau begitu, itu apa? Katakan padaku?” Tekanan di kaki Breana sedikit meningkat seiring dengan pertanyaan yang diucapkan Ben. “Katakan padaku tentang perasaan yang selalu ingin menyentuhmu, ingin di dekatmu, tertawa bersama anak kita. Katakan apa itu?”

Breana memejamkan mata, berusaha meresapi perkataan Ben. Mencari celah untuk menjawab berbagai pertanyaan yang ia sendiri bingung menerimanya.

“Kisah yang tak pernah usai di masa lalu, seperti membelenggu jiwa kita, Ben. Seandainya kita teruskan hubungan kita yang gelap ini, bukan hanya menghancurkan aku dan kamu tapi juga tunanganmu. Apa kamu tega, menyakitinya?”

Mereka terdiam, terdengar deru motor lewat dengan bunyi yang memekakkan telinga. Brena menggeser tubuh agar lebih nyaman dan mengecilkan suhu AC. Rasanya di dalam mobil menjadi lebih dingin.

“Apa karena itu kamu berniat menggantikanku ke Dimas?”

“Hah!”

Ben menoleh, dengan satu sentakan kuat mengangkat tubuh Breana yang semua bersandar pada pintu ke arahnya. Dan membuat wanita itu meronta kaget.

“Ben, mau apa kamu?” tanya Breana kalut saat tangan Ben tidak hanya menyentak tubuhnya tapi juga setengah memaksa mengangkat dan saat dia berhenti meronta, tubuhnya menduduki tubuh Ben. Dengan kedua kaki berada di sisi paha laki-laki yang kini memegang bahunya erat.

“Ada apa ini Ben, malu kalau sampai ada yang lihat?” ucap Breana dengan cemas.

“Jangan kuatirkan itu, di sini sepi,” jawab Ben ringan. Tangannya menyusuri paha Brena dengan rok terangkat yang menekuk di atas pangkuannya. “Ayo, katakan padaku? Apa karena itu kamu berniat menggantikanku dengan Dimas.”

“Kamu gila!” sergah Breana kesal. “Dimas hanya menawarkan persahabatan. Dia hanya mencari orang untuk mendengarnya bicara. Lagi pula, kamu sudah mengingatkanku kalau strata kami berbeda!”

Ben tersenyum samar, tangannya bergerak masuk hingga mencapai ujung paha Breana dan mengelusnya perlahan. Bisa dia lihat napas wanita yang berada dalam dekapannya menjadi kuat dan tersengal.

Mendadak ia lepaskan tangan dari balik rok dan merayap ke arah kemeja Breana dan mulai membuka kancingnya satu per satu.

“Ben, apa-apaan ini?” tolak Breana.

Ben bersikukuh, tangannya bergulat dengan tangan Breana yang mencegahnya. Mereka saling dorong hingga membuat kemarahan dan sakit hati Breana menggelegak. Entah dari mana ia dapatkan tenaga, satu tamparan keras mendarat di pipi Ben dan membuat laki-laki itu tersentak.

“Apa yang kamu lakukan, hah? Mau memperkosaku di sini!” teriak Breana di antara air mata yang mengalir. “Atau kamu mau mendapatkan sex gratis Pak Direktur? Menganggap aku sekretaris juga pelacur?”

Ben mengangkat tangannya, melihat Breana menangis dengan kemeja terbuka. Ada satu kancing terlepas dan perasaan menyesal merayapi hatinya. Kesadarannya kembali. Dia telah berbuat terlalu jauh dan membuat Breana tidak hanya ketakutan tapi juga kesakitan.

“Bree, maafkan aku. Aku tidak ada maksud begitu,” ucap Ben dengan tangan berusaha meraih kepala Breana.

“Sialan, kamu Ben! Sialan kamu! Mati saja dan enyah dari hidupku!”

Teriakan Breana terdengar nyaring di dalam mobil. Tangannya meraih pintu dan berusaha membuka tapi Ben bertindak cepat mencegahanya.

“Bree, maafkan aku. Ak-aku salah.”

Setengah memaksa Ben meraih pundak Breana dan memeluknya. Membiarkan wanita itu menangis, memukul bahkan memberinya gigitan yang besar dan menyakitkan di pundak. Dia pasrah menerima itu semua demi menebus rasa egois yang menguasai hatinya.

“Kita sudahi ini, Ben. Aku lelah, aku capek terus menerus dianggap barang yang bisa kamu pakai kapanmu kamu mau,” ucap Breana di antara isakan tangisnya. Dia menyandarakan kepala pada bahu laki-laki yang terdiam dengan wajah memucat.

“Aku akan resign dari kantomu, segera!”

“Tidak!” sanggah Ben. “Kamu nggak boleh lakukan itu. Beri aku waktu, aku akan menyelesaikan semua ini.”

Breana segugukan. “Dengan apa? Kejujuran yang akan menyakiti banyak orang? Amanda dan orang tuamu? Kenapa nggak kamu biarkan kami pergi jauh, Ben?”

Ben merengkuh Breana lebih erat. Mengecup wajah wanita yang penuh air mata dan berkata parau. “Aku nggak akan biarkan kalian pergi. Setelah sekian lama aku mencarimu, aku nggak akan biarkan kalian lepas. Please, Bre. Beri aku waktu untuk menyelesaikan semua ini. Untuk membuat keputusan.”

Janji-janji yang diucapkan Ben hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh Breana. Suara isakan bercampur dengan deru kendaraan yang sesekali melewati mereka. Aroma tubuh mereka berbaur di dalam mobil yang bersuhu dingin. Bukan hanya tubuhnya yang dingin, hati Breana pun ikut mendingin seiring dengan belaian tangan Ben di rambutnya [bersambung ke titiktemu berikutnya]

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…