#Into_You – #Part_17

Semenjak peristiwa cumbuan mereka sore itu yang berakhir dengan Breana yang pergi dari pesta tanpa pamit, keduanya mulai jarang berkomunikasi. Ben yang semula sibuk jadi jarang ke rumah menjenguk Nesya, kali ini justru Breana yang melarangnya datang.

“Demi kebaikan kita berdua, lebih baik jika mulai sekarang kita menjaga jarak. Jangan lagi datang ke rumah, aku nggak mau anakku ikut terluka karena sikap kita.”

Pesan yang dikirim Breana untuk Ben hanya dibalas dengan jawaban ‘ya’ tanpa banyak penjelasan. Bagi Breana itu adalah kesepakatan yang bagus, untuk tidak lagi saling menyakiti. Masih terbayang dalam ingatannya, cumbuan laki-laki itu dan perrnyataan cinta yang diucapkan setelahnya. Terasa bagai film lawas yang diputar berulang-ulang, bagai memori hitam putih dengan suara yang sember. Entah bagaimana, Breana tak lagi mengenali Ben seperti pertama kali mereka bertemu dulu.

Di kantor keduanya bersikap sangat sopan satu sama lain. Bicara seperlunya tentang pekerjaan. Tidak ada lagi usilan atau pun candaan ringan yang biasanya dilontarkan Ben untuk Breana. Kini, sikap keduanya benar-benar mencerminkan seorang boss dan bawahan. Perubahan sikap Ben tidak luput dari perhatian Tessa, sekretaris si mata tajam.

“Sepertinya si boss lagi banyak masalah,” ucap Tessa suatu siang.

Breana yang mendengar perkataannya menoleh pada rekan kerjanya dengan heran. Tidak biasanya ia mendengar Tessa menggosip. Timbul tanya di hatinya, jangan-jangan Tessa tahu perihal masalahnya dengan Ben.

Tessa mengerling dan mengulum senyum saat melihat Breana mengernyitkan dahi karena heran. “Maksudku, biasanya emang dia itu diam tapi akhir-akhir ini jauh lebih diam.”

“Buatku sama saja,” ucap Breana sambil mengedikkan bahu. Berusaha terlihat tak peduli.

“Hahaha … iya sih, soalnya kalian nggak dekat.” Tessa memamerkan tawanya yang jarang terdengar.

Breana mendesah, semakin sedikit yang tahu hubungannya dengan Ben, semakin bagus bagi mereka. Tessa memang baik, tapi dia belum siap menceritakan rahasia paling pribadi. Apalagi menyangkut sang direktur.

*

Sore harinya, Breana dan Tessa berkumpul di kantor Ben untuk mengadakan pembahasan terakhir perihal pameran yang akan dilakukan di Jakarta Hilton Convention Center akhir minggu ini. Banyak persiapan yang harus dilakukan, menyangkut sarana dan prasarana. Ini adalah pengalaman pertama Breana mengikuti pameran dan ia akan berusaha sebaik-baiknya. Ada beberapa orang pejabat yang mengikuti rapat di ruang direktur selain dia dan Tessa.

“Di sana memang lebih banyak ditampilkan kerajinan keramik tapi bukan tidak mungkin produk keramik lantai tidak banyak peminat? Justru dari pengalaman tahun-tahun lalu, banyak para kontraktor akan datang ke pameran untuk melihat keramik bagi proyek mereka. Itulah tujuan kita,” ucap Ben di depan para pejabat pemasaran.

Brena bangkit dari kursi yang berada di belakang sang direktur dan membagikan dokumen pada peserta rapat. “Aku akan datang ke acara di hari ke dua, sementara hari pertama akan dipantau oleh para sekretarisku.” Tunjuk Ben pada Breana dan Tessa.

Rapat berakhir setelah tiga jam lamanya. Ada beberapa kesepakatan yang berhasil diambil dari rapat sore itu. Semua pihak optimis, akan meraih keberhasilan dari pameran nanti.

Beruntunglah, sekarang Nesya punya pengasuh. Mengingat kesibukan Breana yang makin bertambah di kantor. Tidak hanya urusan kantor, kini ia pun mengurus masalah pameran. Waktunya habis tersita untuk pekerjaan. Seperti hari ini, hari pertama pameran ia datang menengok stand dan berkenalan dengan para SPG yang membantu mereka menjaga stand. Nyaris semua SPG adalah wanita muda dengan paras menawan dan berpostur proposional.

Breana sedang asyik memperhatikan miniatur sebuah rumah berkeramik yang menjadi pajangan di stand mereka saat sebuah teguran mengejutkannya.

“Bre?” Breana menoleh dan mendapati dirinya terkejut bukan kepalang.

“Ah, benar kamu Breana.” Jeritan melengking terdengar tak lama kemudian dan Breana masih terpaku di tempatnya, saat melihat sesosok wanita dalam balutan seragam SPG menjeritkan namanya.

“Aduh, sombong ya kamu. Mentang-mentang sudah punya kedudukan.” Gadis berseragan itu memukul bahu Breana pelan.

Breana menatap Nena, adik tirinya yang terlihat cantik berseragam SPG warna jingga dengan make-up terpoles rapi dan rambut yang disanggul sempurna. Kekagetan mewarnai hatinya melihat kemunculan sang adik yang tiba-tiba di hadapannya. Setelah putus komunikasi selama enam tahun lamanya, pertemuan ini sungguh suatu kebetulan tak terduga.

“Nena? Kamu di sini?” tanyanya bingung.

Nena tertawa, memamerkan giginya yang putih berkilau. “Tentu saja, aku SPG di pameran ini. Apakah keramik ini punya perusahaanmu?”

Breana mengangguk lemah, membiarkan lengannya dipukul-pukul sang adik.

“Kamu hebaaat sekarang, nggak nyangka setelah minggat dari rumah jadi begini, kerja di kantor besar.” Nena mendekatkan wajahnya ke kuping Breana dan berbisik. “Yang aku dengar Anton menceraikanmu, kamu janda sekarang?”

“Apa masalahnya buatmu?” ucap Breana dingin. Menyingkirkan wajah sang adik dari kupingnya. Bertahun-tahun tak bertemu tidak membuat perangai sang adik berubah.

Nena nyengir sambil mengedikkan bahu. “Nggak ada, sudah sepantasnya kalau Anton menceraikanmu. Kamu dari dulu memang tak layak dibantu.”

Breana menggertakan gigi, menahan kemarahan yang menggelegak. Rasa hina keluar seiring dengan ucapan adik yang sudah berberapa tahun tidak ia jumpai.

“Oh ya, sesekali kirimlah uang buat Ayah. Jadi anak jangan durhaka. Kamu toh sudah hidup enak, nggak ada salahnya balas budi dikit sama orang tua, Bre.”

Dengan menyunggingkan senyum terakhir, Nena melenggang pergi. Meninggalkan Breana yang terpaku di tempatnya berdiri. Bayangan masa lalu menyergapnya tiba-tiba, tentang orang tua yang memaksa untuk menikahkannya dengan bandot tua. Tentang rasa malu yang ia berikan pada sang ayah tercinta. Juga tentang kebencian yang dirasakan oleh ibu tiri dan sang adik padanya. Dari dulu mereka memang tidak pernah akur, Nena selalu iri dengan semua hal yang dimilikinya. Terlebih orang-orang banyak mengatakan jika Breana jauh lebih cantik dan menarik dibandingkan Nena. Semakin banyak yang memujinya, semakin besar kebencian yang dirasakan adiknya.

Melangkah dengan sedikit gemetar, Breana berjalan keluar pintu, mencari udara untuk mengisi dadanya yang tiba-tiba sesak. Dihindari seperti apa pun, pertemuannya dengan Nena adalah sebuah takdir. Siapa sangka setelah sekian lama, mereka justru bertemu di pameran. Tempat yang tak terduga untuk sebuah pertemuan.

Breana bertanya-tanya dalam hati, entah hal apa lagi yang kelak akan menimpanya.

**

Hari kedua, Ben datang meninjau jalannya pameran diiringi beberapa pejabat kantor. Sang Direktur memantau jalannya pameran dan memperhatikan banyak detil dan laporan dari para staff dengan dua sekretaris siap mencatat di belakangnya.

Manager lapangan, orang yang mengurus pameran mengenalkan satu per satu para SPG dan juga pekerja pameran yang lain kepada sang direktur. Dari sudut matanya, bisa dilihat oleh Breana, jika sang adik yang berdiri di barisan paling depan, memandang Ben penuh pemujaan. Tak aneh memang, melihat sosok Ben yang tampan dan tinggi menjulang, siapa pun akan terpesona.

“Pak, kenalkan saya Nena. Adik Breana,” ucap Nena dengan wajah berseri-seri menjabat tangan Ben.

“Oh ya, kamu adik Breana?” tanya Ben dengan mata bergantian memandang Breana yang berdiri selangkah di belakangnya dan ke arah Nena.

“Iya, kami saudara,” sahut Nena antusias. “Meski lama sudah nggak ketemu.”

Ucapan Nena hanya ditanggapi dengan anggukan kecil oleh Ben. Laki-laki itu menjawab pelan. “Bagus, kerja yang rajin ya?”

Nena mengangguk bersemangat. Matanya tak berhenti berbinar-binar menatap sang direktur. Dia tetap tak peduli meski teman-teman sesama SPG mencoleknya.

Sementara Breana hanya memandang lurus tanpa kata. Bersikap seakan dia tak tahu jika ada Nena di sana. Dia mendengarkan dalam diam, percakapan antara Ben dan adiknya.

Setelah Nena pergi bersama SPG yang lain. Breana merapat ke sisi dinding dekat pajangan. Membiarkan para pengunjung berlalu-lalang di balik punggungnya. Dia masih berdiri diam saat Ben melangkah menghampirinya.

“Aku nggak tahu adik kamu ternyata bekerja di sini, Bre?” ucap Ben pelan saat mereka berdiri bersisihan menatap marmer merah yang sedang dipamerkan.

“Kami lama nggak berhubungan,” jawab Bre pelan tanpa menoleh. “Kaget juga lihat dia di sini.”

Ben mengangguk tanpa kata. Dia masih ingat perkataan Breana perihal masa lalunya dan bagaimana hubungan antar keluarga mereka. Mendesah pelan, ia yakin jika renggangnya hubungan antara Breana dan keluarganya karena kehamilan Nesya. Perasaan bersalah menggayut pelan di lubuk hati. Ben menggenggam tangan di belakang punggung. Mencoba meredakan hasrat untuk tidak memeluk wanita di sampingnya.

Diam-diam Breana melirik laki-laki di sampingnya, tangannya terulur untuk meraba dadanya yang sedikit bergemuruh. Ia sudah membuat janji pada diri sendiri untuk tidak lagi jatuh pada pesona Ben tapi berdiri berdekatan seperti ini tak urung membuat perasaannya tercampur-aduk.

Mereka terdiam dan berdiri bersisihan entah untuk berapa lama sampai akhirnya Tessa memberi tanda pada Ben untuk melihat hal lain.

Breana menoleh dan tersadar area pameran mulai banyak pengunjung. Ia mendesah dan merasa sudah lama sekali tidak berbicara berdua dengan Ben.

Insiden kecil terjadi saat Ben menjamu makan siang para jajaran pegawai tinggi yang datang ke pameran bersamanya. Tanpa sengaja Breana terkena tumpahan air karena pelayan kurang stabil saat membawa air di atas nampan. Sesaat ia merasa kebingungan karena tunik yang basah memperlihatkan lekuk tubuhnya.

“Pakai ini, biar nggak dingin.” Dengan sigap Ben melepas jas yang ia pakai dan memberikannya pada Breana.

“Nggak apa-apa, Pak. Ini nggak terlalu basah kok,” tolak Breana dengan tangan sibuk mengelap tunik yang basah dengan tisu. Ia menunduk dan merasa semua mata yang mengelilingi meja sedang menatap ke arahnya.

“Pakai Bre.” Sekali lagi terdengar perintah Ben.

Mau nggak mau Breana menerima uluran jas untuknya setelah merasakan pandangan mata Ben yang menusuk. Akhirnya ia sadar, tuniknya setengah basah karena tumpahan air yang cukup banyak.

Setelah sesi makan siang yang cukup membuat kikuk, Breana bernapa lega saat mereka keluar dari kafe. Makan tidak akan kenyang jika banyak mata mengawasi. Di bawah tatapan mata para pejabat dan juga Tessa, Breana lega akhirnya dari terbebas di ruangan itu.

Setelah para pejabat perusahaan mengundurkan diri dan menuju mobil masing-masing. Tertinggal hanya Ben, Breana dan Tessa. Mereka berdiri bersisihan di lobi gedung saat Ben menerima sebuah panggilan dan terdengar percakapan cukup singkat. Tak lama seorang laki-laki berkacamata datang menghampiri mereka. Datang tergopoh-gopoh menaiki tangga dengan wajah sumringah.

“Hai, aku sedang ada kerjaan di sekitar sini. Tadi mampir untuk lihat pameran tapi kalian sedang makan siang.” Dimas datang dengan senyum tersungging. Kulitnya yang putih tertimpa matahari. Ada keringat di sela rambut di dahinya. Kemeja putih dan celana warna krem yang dipakai makin mempertegas warna kulitnya.

“Kenapa tadi nggak bergabung sama kami?” ucap Ben dengan senyum tersungging, mengulurkan tangan ke arah Dimas.

“Ah, nggak enaklah. Lagian aku juga sudah makan.” Dimas menyambut uluran tangan Ben. Mengangguk ramah pada Tessa dan menoleh ke Breana. Apa kabar, Bre?” sapa Dimas pada Breana yang berdiri diam.

“Kabar baik, Pak Dimas,” jawab Breana ramah sambil mengangguk.

“Aduh, jangan panggil aku Pak. Panggil Kakak, Bang, Uda atau apa pun asal jangan Pak. Aku ini masih muda loh,” kelakar Dimas dengan tangan menjabat jemari Breana.

Tak lama, Ben mengajaknya duduk di kafe yang menyediakan kopi dan makanan ringan. Sementara dua pria itu mengobrol, Breana dan Tessa masuk ke dalam gedung menuju tempat pameran mereka. Pengunjung banyak ramai berlalu-lalang dan para SPG menyapa mereka dengan senyum manis terkembang.

Breana merasa pundaknya pegal. Jas hitam terasa berat di bahu dan membutanya sedikit merasa kesulitan bergerak. Aroma Ben yang maskulin menguar dari serat-serat kain. Membuat ia merasa seperti sedang memeluk laki-laki itu. Aroma istimewa yang terasa harum tapi juga menyegarkan.

“Itu bukannya jas Pak Direktur?”

Suara teguran menghentikan Breana yang sedang melamun di sudut ruangan. Ia melirik ke arah Nena yang menatapnya ingin tahu.

“Lakukan saja pekerjaanmu, jangan banyak ikut campur urusan orang!” ketusnya tanpa sadar.

Terdengar dengkusan tidak sopan dari mulut Nena. Gadis itu menjentik-jentikkan kukunya yang dicat merah muda. Mengerling ke arah kakaknya.

“Jangan sombong, Bre. Kamu cuma sekretaris di sini. Bayangin gimana reaksi Pak Julian kalau sampai dia tahu, sekretarisnya adalah seorang wanita yang pernah hamil di luar nikah.”

Ancaman Nena membuat Breana tersenyum, ia menegakkan tubuh dan menatap adiknya dalam-dalam. “Tahu nggak Nena, tadinya aku berpikir untuk pulang. Menengok Ayah dan Ibu yang selama beberapa tahun ini tak kulihat. Ada perasaan kangen di sini,” ucap Breana sambil menepuk dadanya. “Tapi sikap kamu bikin aku ilfil. Ingat ya, kamu cuma SPG di sini, berani kamu macam-macam, aku akan meminta manager untuk menendangmu!”

“Apaaa?!” pekik Nena dengan tangan siap mencakar.

Breana mengabaikannya, hanya melirik sebelum meninggalkan Nena yang mengentakkan kaki ke lantai. Perasaannya bagai tersayat bersamaan dengan setiap ketukan kakinya di lantai. Ia kini harus menghadapi kenyataan jika adiknya tidak pernah berubah sikap. Pupus sudah harapannya untuk rekonsiliasi dengan keluarganya. Dengan terpaksa, ia menekan kembali rasa rindu yang menguar. Berharap sekali, jika waktu sekali lagi akan membantunya. Memulihkan luka dan trauma.

Tessa datang menghampiri, mengatakan jika Ben memanggil mereka. Keduanya melangkah beriringan menuju kafe tempat Ben bicara dengan Dimas. Saat mencapai pintu kafe, kedua laki-laki itu terlihat siap untuk pergi.

“Breana, Tessa, kalian bisa pulang ikut aku. Nanti aku antar,” ucap Ben pada kedua sekretarisnya.

“Kita berlawanan arah, Pak. Biar saya naik busway,” tolak Breana.

“Rumahmu di mana, Bre?” tanya Dimas ingin tahu.

“Daerah pusat.”

“Wah, biar ikut aku saja. Kita searah. Aku akan ke daerah pusat juga.” Perkataan Dimas yang diucapkan dengan enteng membuat Breana tak enak hati. Ia melirik Ben yang terdiam dengan wajah kaku.

“Nggak usah, Pak. Saya nggak mau merepotkan,” tolak Breana malu-malu.

Dimas melambaikan tangan, menolak argumennya. “Nggak ada yang direpotkan, aku malah senang kamu ikut mobilku.” Tanpa disangka, Dimas menggapai lengan Breana dan mengapitnya. “Dah, Tessa. Aku jalan duluan ya, Ben.” Tidak memberikan kesempatan pada Breana untuk menolak, Dimas menyeret wanita itu bersamanya di bawah pandangan membara yang tanpa ia sadari ditujukan Ben padanya.

Breana duduk di samping Dimas dengan tercengang. Ia masih tidak percaya dirinya bisa begitu mudah dipaksa untuk ikut. Dari sudut matanya ia melihat Ben dan Tessa melangkah berdampingan menuju mobil sang direktur. Ada perasaan iri saat melihat kebersamaan mereka. Dan dia duduk di mobil orang asing dengan sikap kaku.

“Bre, kamu daerah pusat di sekitar mana?” tanya Dimas membuyarkan lamunannya.

“Di sekitar PRJ, Pak.”

“Oh No! Berkali-kali kubilang jangan panggil Pak,” ucap Dimas dari balik kemudi. Melirik Breana yang menunduk.

Mobil meluncur mulus meninggalkan parkiran. Keduanya mulai berbincang. Bagi Breana, Dimas adalah sosok lelaki yang menyenangkan dan mudah sekali untuk akrab dengannya. Kesan yang ditampilkan Dimas adalah laki-laki kaya dengan karir cemerlang tapi berkepribadian baik.

Dimas melirik Breana sekejap, mengamati wanita yang duduk diam di sampingnya. Ia tahu Breana merasa tak nyaman, salah tingkah.

“Sepertinya, hubunganmu dengan Ben lumayan dekat.”

Breana mendongak heran mendengar perkataan Dimas. “Eih, nggak. Hanya Boss dan pegawai biasa.”

“Benarkah? Tidak biasanya Ben memberikan jas untuk dipakai oleh seseorang pegawai biasa.”

Breana membisu, terperangkap dalam kebingungannya sendiri. Dia tak tahu harus bereaksi bagaimana. Tanpa sadar, tangannya mengelus jas berat yang menyampir di pundaknya. Benaknya bertanya-tanya, apa hubungan antara dirinya dan Ben. Bahkan sampai sekarang pun ia tak mengerti. Kecuali ketertarikan fisik yang amat kuat antara keduanya. Sepertinya, tidak ada hal lain yang lebih dari itu.

“Sesekali, makan malam denganku, Bre,” ucap Dimas saat mobil mulai memasuki jalanan kecil menuju rusun.

Breana menggeleng buru-buru. “Sepertinya nggak bisa, Pak. Ada anak saya.”

Dimas mengangguk. “Kalau begitu makan siang. Jangan kaget kalau nanti tiba-tiba aku datang mengajakmu makan siang saat di kantor.”

“Saya jadi merasa tersanjung,” ucap Breana malu-malu. “Tapi, tidak boleh terlalu sering. Harus ijin kalau mau pergi agak lama.”

“Itu bisa diatur, aku yang akan meminta ijin sama Ben.”

Ucapan Dimas membuat Breana kehabisan kata-kata untuk menolak.

“Aku suka sama kamu, Breana.” Dimas tertawa lirih saat melihat Breana tercengang. “Jangan salah sangka, aku hanya suka melihatmu sebagai wanita mandiri yang cerdas. Jadilah temanku.”

Ucapan Dimas masih terngiang di telinga Breana saat ia sudah keluar dari mobil laki-laki itu. Ia tahu, Dimas hanya berusaha ramah karena memang mengenalnya sebagai sekretaris Ben.

Saat mengusap pundak, ia menyadari jas Ben masih membungkus tubuhnya. Mendesah pelan, ia mendongak dan menatap langit tak berbintang. Semilir angin menerpa rambut dan tubuhnya. Jas Ben yang tersampir di pundak bagai memeluk erat, Breana merasakan tusukan kerinduan untuk laki-laki yang telah menjadi milik wanita lain  [bersambung ke titiktemu berikutnya]

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…