#Into_You – #Part_16

Kecemburuan Amanda pada Breana terjadi tidak hanya kali itu saja. Wanita itu sekarang rajin datang ke kantor Ben dari waktu ke waktu hanya sekadar untuk memberikan peringatan kecil pada Breana yang dia anggap sebagai saingan.

“Kamu tahu kan, posisimu. Jadi, jangan nglunjak.” Itu yang Amanda ucapkan saat Breana menemuinya di ruangan Ben. Suatu sore, hanya ada mereka berdua sementara Ben sedang ke lantai atas bersama Tessa.

“Ben baik padamu hanya sebagai pegawai dan atasan, aku sudah memberinya peringatan untuk tidak terlalu mengistimewakan dirimu. Ingat, jangan sampai kamu berbuat salah dan membuatmu dipecat!” Ancam Amanda dengan nada tinggi.

Amanda meminta dilayani oleh Breana, dari mulai diambilkan minum, makan atau hal lain. Sepertinya ia tak peduli meski Ben pernah menegurnya soal ini. Seakan-akan dia sedang mempertegas posisinya sebagai calon nyonya di perusahaan ini.

Sering kali, Breana hanya mengalah tanpa menjawab. Baginya, sungguh tidak ada untung jika harus bersiteru dengan Amanda. Ia tahu bagaimana pun wanita itu adalah tunangan Ben. Mereka akan menikah segera, tidak ada yang bisa mengubah itu. Maka mengalah adalah taktik yang tepat.

Breana juga nggak terpikir untuk mengadu pada Ben, selama dia bisa atasi sendiri, dia akan bertahan. Toh, tidak setiap hari bertemu dengan Amanda.

Suatu siang, Ben memanggil Breana dan Tessa ke kantor. Ada setumpuk album bersampul tebal yang di dalamnya merupakan contoh keramik.

“Minggu siang nanti ada pesta kebun di rumahku untuk menyambut kedatangan Pak Djoko Priyatno, partner kita dari Malang. Beliau sedang ada keperluan di sini dan akan stay selama beberapa waktu.” Ben meraih tumpukan album dan memberikannya pada Breana. “Ini produk dari pabrik Pak Djoko, bisa kamu tolong pilah bentuk dan bahan, lalu beri notulen yang kamu anggap jika ada kesamaan dengan produk kita.”

“Baik Pak,” jawab Breana menyambut tumpukan album dari Ben.

Kali ini Ben beralih ke Tessa. “Tessa, bisa kamu undang patner dan teman dekat kita. Undang mereka ke rumahku sekitar jam sebelas siang.” Dan melihat Tessa mengangguk tegas.

Setelah itu, pekerjaan para sekretaris menjadi lebih berat. Hampir setiap hari Breana pulang malam karena lembur dan mendapati Nesya sudah tidur. Karena kesibukan yang makin bertambah pula yang membuat Ben jarang ke rumah mereka. Sudah dua minggu laki-laki itu tidak datang menengok Nesya.

“Papa Ben mana, Mama? Sibuk, ya?” tanya Nesya suatu pagi.

Breana hanya tersenyum. “Telepon saja kalau kangen.”

“Malu ah.” Nesya menjawab sambil menunduk.

Breana menepuk pundak anaknya untuk memberi dukungan. “Papa Ben akan datang lagi nanti kalau sudah nggak sibuk, ya?”

Nesya mengangguk tanpa antusiasme dan membuat Breana merasakan tusukan kesedihan. Kedekatan Ben dan anaknya sedikit banyak mempengaruhi hati Nesya. Ada sesuatu yang kosong karena ketidakhadiran laki-laki itu di antara mereka.

Setelah persiapan yang memakan waktu seminggu penuh, pesta diadakan di halaman rumah Ben yang terhitung luas.

Dengan gaun pas badan berwarna biru berhias bunga di ujung lengan yang mencapai siku dan ujung rok yang berada tepat di dengkul, Breana datang satu jam lebih cepat dari waktu di undangan. Dibantu oleh Tessa dan para pelayan yang disewa Ben, ia menyambut tamu, memastikan jika minuman, makanan, tempat duduk dan keperluan lain tersedia. Kesibukan pula yang membuat Breana lupa mengagumi megahnya rumah Ben.

Pukul sebelas kurang sepuluh menit, Amanda datang dengan gaun hijau yang cantik dan melekat indah di tubuhnya. Ben yang hari ini memakai kemeja biru menyambutnya dengan senyum. Mereka berdua berjalan berdampingan untuk menyapa para tamu undangan. Breana hanya melihat dengan senyum tipis tersungging. Dia merasakan kecemburan tak beralasan saat melihat kemesraan mereka dan ditepiskan jauh-jauh karena sadar diri dia bukan siapa-siapa.

Banyak di antara para tamu yang Breana kenali sebagai para investor, para pengrajin keramik dari daerah dan juga para distributor produk mereka. Pesta berlangsung penuh kekeluargaan. Entah di mana orang tua Ben, ia tidak menjumpai mereka di mana pun.

“Bre, ambilkan minuman lima dan bawa ke ruang tengah, sekarang!” Amanda memerintah Breana saat tanpa sengaja mereka berpapasan di teras. Tanpa mendengar apa jawaban Breana, wanita itu bergegas masuk.

Brena hanya menghela napas, jelas-jelas ada pelayan sedang mondar-mandir dan wanita itu sengaja menyuruhnya.

Dengan nampan di tangan, Breana masuk ke ruang tengah. Di dalam ada Ben dan dua laki-laki lain lalu Amanda dan seorang wanita bertubuh kurus. Kesemuanya menoleh saat melihatnya datang dengan minuman di nampan.

“Kenapa kamu yang anterin minuman? Bukannya ada pelayan?” tanya Ben bingung.

“Aduh, Sayang. Dia kan sekretarismu, wajah juga kali melayani kita.” Tanpa malu Amnda berdiri dan duduk di pangkuan Ben lalu mengecup pipi laki-laki itu.

“Sekretaris yang cantik, siapa namamu?” Seorang laki-laki berkacamata memandang Breana dengan senyum tersungging.

“Namanya Breana, Dimas,” jawab Amanda. “dan dia sekretaris kesayangan calon suamiku.”

“Wow, ada namanya sekretaris kesayangan? Tapi aku juga bakal sayang kamu sih, kalau kamu jadi istriku,” ucap Dimas dengan menyorongkan wajah dekat Breana lalu mengedipkan sebelah mata.

Tindakannya membuat tawa pecah di ruangan. Ben terduduk kaku masih dengan Amanda di pangkuannya.

“Jangan menggodanya Dimas.” Suara Amanda menimpali tawa yang menggelegar. “Oh ya, dia janda anak satu ya?”

Penyebutan status membuat Breana berjengit kecil.

“Manda,” tegur Ben pelan.

“Iih, biar saja. Memang bener gitu kan?” Sekali lagi Amanda mengecup pipi Ben.

Breana hanya ingin keluar cepat-cepat dari ruangan ini. Ia harusnya tahu jika dijadikan bahan olekan oleh Amanda. Setelah semua minuman berada di meja ia pamit keluar.

“Breana tunggu.” Suara Dimas memanggilnya. Laki-laki itu mengeluarkan kartu nama dari dalam dompet dan memberikannya pada Breana. “Hubungi aku kalau Ben memecatmu, aku siapa menampung. Ah ya, aku nggak peduli dengan statusmu.”

Breana menerima kartu nama yang diulurkan untuknya dan berucap terima kasih sebelum menghilang di balik pintu.

Meletakkan nampan di atas meja kosong, Breana meraih gelas berisi air putih dan menegukknya cepat. Ia melangkah gontai menuju teras belakang dan terdiam sendirian di pojokan rumah.

Matanya terpejam, mengingat betapa posesifnya Amanda terhadap Ben. Dalam hati ia mengutuk Ben karena membuatnya terjebak dalam situasi seperti ini. Merasa gundah, ia berniat pulang lebih cepat saat seseorang menatapnya dengan senyum ramah tersungging.

“Hai, apa kamu kelelahan?” tanyanya ramah. Wajah bersih dan tampan terhiasa sepasang kacamata putih.

Breana menggeleng. “Nggak, cuma mau istirahat. Anda memerlukan sesuatu?” tanyanya pada laki-laki yang ia kenali bernama Dimas.

Laki-laki berkacamata di depannya menggeleng, melangkah pelan dan berdiri sejajar dengan Breana. “Aku bisa mengambil semuanya sendiri, jangan terlalu sungkan denganku dan jangan panggil aku ‘Anda’ kesannya resmi sekali. Kamu tahu namaku kan?”

Breana mengangguk, “Dimas.”

“Nah iya, bagus kalau kamu ingat. Apa kamu betah kerja di tempat Ben? Setahuku dia orang yang sangat disiplin.”

“Sejauh ini lumayan,” jawab Breana sambil mengangkat bahu. “Lagipula aku bukan sekretaris utama, ada satu lagi yang lebih penting, Tessa.”

“Ah ya, aku kenal Tessa. Seorang wanita yang kompeten. Kalian bisa jadi tim hebat saat berdua.” Dima celingak-celinguk dan melihat sekelilingnya yang tertutup pagar. “Bagaimana kalau kita bicara di depan. Bicara di sini seperti menyimpan rahasia.”

Sebetulnya Breana enggan beranjak tapi merasa tidak enak hati menolak ajakan Dimas. Keduanya berjalan beriringan menuju taman depan di mana ada tenda megah berdiri menaungi para tamu pesta dari teriknya matahari.

Seorang penyanyi wanita menghibur dengan suaranya yang merdu. Kipas angin salju dalam ukuran besar diletakkan di banyak tempat untuk memberikan kesejukan. Breana berbicang akrab dengan Dimas di salah satu pojokan tenda tanpa menyadari sepasang mata menatap mereka dengan intens.

Sekelompok tamu mulai berkerumun di depan panggung saat sang penyanyi mulai melantunkan lagu berirama melayu. Breana melihat Tessa ikut menari dengan seorang wanita setengah baya yang ia kenali sebagai istri Pak Djoko.

“Yuuk, kita goyang.”

Ajakan Dimas dijawab dengan gelengan kepala oleh Breana.

“Ayolah, sesekali berjoget. Hitung-hitung olahraga.”

Mau tidak mau, Breana bangkit dari kursi karena Dimas mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Keduanya melangkah beriringan ke depan panggung kecil dan mulai bergoyang bersama para tamu yang lain.

Tanpa disadari, Breana menikmati setiap gerakan dan lagu yang ia dengar dari penyanyi wanita. Tessa pun terlihat sama rileksnya. Keduanya bertukar senyum sebelum berputar di tempat masing-masing. Dimas pun tak kalah seru. Meskipun gerakannya kaku tapi laki-laki itu bergerak dengan gesit dan membuat Breana tak mampu menahan tawa. Keduanya tak menyadari, sepasang mata menatap dengan intens.

“Aku haus, mau ambil minum,” pamit Breana pada Dimas yang masih asyik bergoyang.

“Hah, apa?” Dimas berteriak karena nyaringnya suara musik.

“Aku mau ambil minum!”

“Oh, okee.”

Meninggalkan Dimas yang kini berpasangan dengan Tessa, Breana melangkah ke arah meja prasmana untuk mengambil air minum. Keringat bercucuran di tengkuk dan dahi. Untuk menyegarkan badan, ia melangkah menuju kipas angin paling pojok.

“Bre.”

Ia mendongak dan melihat Ben melangkah mendekatinya.

“Ayo, bantu aku di dalam. Ada urusan penting,” perintah Ben padanya.

Breana mengangguk, membuang gelas plastik bekas ia minum dan setengah berlari mengikuti Ben masuk ke dalam rumah.

Ben melangkah lurus menuju ruang belakang. Saat tiba di dapur yang sepi, mendadak Ben menarik tangannnya ke arah tangga.

“Ben, ada apa? Mau kemana kita?” tanyanya bingung.

Tidak ada jawaban dari laki-laki itu, mereka menaiki tangga besi kecil dan menuju langsung ke lantai dua. Breana berusaha memberontak dengan pikiran bertanya-tanya saat mereka menyusuri lorong tapi pegangan tangan Ben terlalu kuat.

Tiba di depan sebuah kamar, Ben membuka pintu. Sebelum Breana berkelit, tangannya meraup Breana dalam dekapan, memepet wanita itu ke tembok dan menciumnya kuat-kuat tepat setelah pintu menutup.

Breana menggeliat tapi Ben menyerbu dengan ciuman tanpa henti. Lidahnya memaksa masuk untuk membelai lidah Breana dan bibirnya menghisap kuat.

Breana berusaha mengelak dan Ben mengalihkan ciuman ke arah leher wanita itu.

“Apa-apaan sih, lepaskan aku,” bisik Breana di sela ciuman panas di lehernya. “Banyak orang di luar.”

“Biar saja, peduli setan dengan mereka,” ucap Ben dengan mulut menyusuri leher, bibir dan juga bahu Breana. Napasnya memburu.

“Aku peduli, lepaskan aku.” Breana mendorong tubuh laki-laki yang mendekapnya.

Wajahnya terasa panas membara dan reseleting gaunnya terbuka.

Ben tak mau mengalah, dia menjauh sebentar hanya untuk menarik tangan Breana ke arah ranjang dan dengan memaksa membaringkan wanita itu di bawah tubuhnya.

“Ben, kamu gila!” maki Breana saat Ben menindih tubuhnya dengan posesif.

“Iya, aku gila karenamu,” ucap Ben dengan suara yang serak. Bibirnya menggigit pelan bibir Breana dan tangannya bergerak untuk menyingkap rok yang dipakai wanita di bawah tubuhnya.

“Kamu punya tunangan tapi memperlalukan aku seperti ini,” ucap Breana saat merasakan lidah Ben menjilat lehernya sementara tangan besar mengelus bagian dalam pahanya. Merasa gemas karena tidak diindahkan, Breana mengubah posisinya dan dengan sekuat tenaga Breana menggunakan dengkul untuk menyodok kemaluan Ben. Saat laki-laki itu meringis kesakitan, dia bangkit dari ranjang dan bersiap keluar tapi kurang cepat karena Ben kembali mengurungnya.

“Ternyata kamu lebih suka dikasari Bre, baiklah. Kita lakukan dengan caraku,” ancam Ben dengan mengaitkan kedua lengan Breana dan menaruhnya di atas kepala.

Dengan penuh hasrat Ben menunduk dan kembali mencium Breana. Lidah bertemu lidah dan yang dia inginkan hanya membuat wanita dalam pelukannya tak berdaya. Satu tangannya bergerak cepat membuka yang dipakai Breana dan dalam satu sentakan membuat gaun terbuka hingga ke pinggang.

Breana merintih dan Ben tak peduli, mata laki-laki itu menikmati lekuk tubuh yang terpampang di hadapannya. Dengan posesif tanganya menyelusup masuk ke dalam bra yang dipakai Breana dan meraba pelan buah dada yang ranum. Sementara kakinya mengunci bagian bawah tubuh Breana. Mata mereka bertatapan dengan intens.

“Aku akan mencumbu dan membuatmu berteriak puas, sekarang!”

“Ben,” rantap Brean dengan napas tercekat. “ada banyak orang di-di luar.”

Ben kembali mengecup bibir wanita di bawahnya dan perlahan melepaskan tangan Breana.

Sebuah sentakan kuat membuat gaun meluncur jatuh dan menyisakan tubuh Breana hanya berbalut celana dalam putih dan bra yang telah tersingkap. Tidak memberikan kesempatan untuk Breana menolak, Ben merenggut celana dalam yang dipakai wanita itu dan merobeknya.

“Ben, kamu gila,” ucap Breana syok.

Ben tersenyum, menatap mata wanita di bawahnya yang terbelalak.

“Kamu boleh menolak tapi kamu basah Bre. Jadi, kenapa nggak kamu nikmati saja.”

Rasanya seluruh dunia berputar tanpa henti dengan pijar api berpendar saat Breana bernapas pendek-pendek, dengan syaraf di tubuhnya yang terasa tegang. Kepalanya menyentak ke belakang saat ia merasakan sensasi luar biasa melingkupi tubuhnya. Rasa panas mengalir cepat melalui pori-pori kulit dari bagian tubuh yang paling intim.

Breana berteriak saat merasakan dirinya mencapai puncak, sekali, dua kali lalu terkulai dengan napas tersengal.

Ben bangkit dan mengusap mulut. Matanya menatap Breana yang tergolek dengan pandangan membara. Secara pelahan ia mulai membuka kancing-kancing kemeja.

“Ben, aku mohon. Jangan lakukan ini,” rintih Breana pelan. “Sadarlah, ada banyak orang di luar, ada Amanda.”

“Bagiamana kalau aku nggak peduli,” bisik Ben dengan lengan meraup tubuh Breana yang telanjang.

“Aku peduli,” jawab Breana masih dengan suara yang serak. “Bagaimana kalau mereka tahu aku bermain cinta denganmu saat ada banyak orang di bawah sana. Seketika, mereka akan mengecapku melacurkan diri.”

“Jaga omonganmu!” geram Ben marah.

“Kalau begitu, kamu yang harus menjaga kelakukanmu. Kenapa kamu mendadak bersikap seperti ini? Apa arti aku buat kamu, Ben?”

Pertanyaan bertubi-tubi yang diajukan Breana dengan mata memerah menahan sedih membuat Ben tercenung. Mendadak dia menyadari sudah bersikap sangat kasar pada Breana. Dan semua didasari satu hal.

“Aku cemburu, melihatmu mesra bersama Dimas. Hanya aku yang boleh menyentuhmu,” ucap Ben pelan. Tangannya mengusap lembut punggung Breana yang telanjang.

“Kamu cemburu karena aku bersama laki-laki lain lalu pernahkah kamu pikirkan bagaimana perasaanku saat kamu bermesraan dengan Amanda?”

“Itu lain,” sangkal Ben.

Dengan sekuat tenaga, Breana mendorong tubuh Ben menjauh. Sedikit kaku ia bangkit dari ranjang dan mulai mengumpulkan pakaiannya yang tercecer di lantai.

“Yang membuat itu beda Ben, karena dia tunanganmu dan aku bukan?”

“Bukan itu Bre.”

“Apa kalau begitu, jelaskan?”

Secara perlahan, Brean mulai memakai kembali pakaiannya. Sementara Ben masih berbaring di ranjang dengan kedua tangan berada di balik kepala. Di dalam ruangan terasa hening tapi hiruk-pikik pesta di luar terdengar riuh oleh mereka.

Tidak ada lagi ciuman dan gairah membara, kini keduanya duduk di ranjang dalam diam.

“Aku mencintaimu, Bre,” ucap Ben pelan setelah jeda kesunyian yang panjang.

Breana menegang. Tangannya terhenti di udara. Untuk sesaat melupakan apa yang ingin ia lakukan. Setelah menarik napas panjang, ia menarik resleting gaun hingga ke atas dan berucap pelan tanpa menoleh.

“Cintamu terlalu menakutkan untukku. Terlalu tinggi untuk menjadi kenyataan.” Setelah itu Brean memakai kembali sepatunya dan secara perlahan membalikkan tubuh menghadap Ben yang masih terbaring di ranjang dan sedang menatapnya.

“Satu tangan memegang apel yang ingin kamu makan sedangkan satu tangan memegang api yang bisa dalam sekejap menghanguskan. Kamu bingung Ben, menyantap apel untuk meredakan rasa laparmu atau mematikan api lebih dulu. Dan aku nggak mau berada dalam dua pilihanmu karena apa pun yang kamu lakukan itu menyakitiku.”

Ben meremas rambut dan memaki pelan. “Saat ini nggak bisa memilih antara kamu dan Amanda.”

Breana tersenyum tipis. “Jangan memilih kalau begitu,” jawabnya datar.

“Bre,” panggil Ben lemah pada Breana yang melangkah menuju pintu.

Namun wanita itu terus berjalan seakan tidak mendengar panggilannya.

“Bre, aku mencintaimu. Apa kamu dengar!”

Breana menghentikan langkah dan memejamkan mata di depan pintu. Berusaha mengatur emosinya yang seakan ingin meledak keluar. “Aku juga mencintaimu,” gumamnya pelan, lebih untuk dirinya sendiri. Tangannya memutar gagang pintu dan menyentakkan pintu terbuka lalu keluar, meninggalkan laki-laki yang dia cintai terbaring sendirian di dalam kamar [bersambung ke titiktemu berikutnya]

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Gendhis Ayu – #Part_10/18

Bu Harjo menghambur ke pelukan Nawang, didekapnya Nawang dengan erat seolah dirinya telah lama tak bersua dengan gadis cantik ini. Sejenak suasana haru dan bahagia menyelimuti warga yang ada dipendopo itu…

Gendhis Ayu – #Part_09/18

Dari jauh terlihat seorang wanita tua tengah duduk dikursi rotan yang telah menghitam di teras sebuah rumah kecil.. Bibirnya mengepulkan asap, mata sipitnya yang cekung termakan usia memandangi Galih dan Ajeng bergantian..

Memilih Bidadari – #Part_11/11 (TAMAT)

Rumi membantu menyiapkan baju yang akan dibawa Arfan ke luar kota selama seminggu. Sebenarnya sudah biasa ia akan ditinggal selama itu. Namun karena tiga hari ini wajahnya mendung gegara kejadian terima kunci mobil dari Arini kemarin, Rumi agak tak enak melepasnya…