#Into_You – #Part_15

Breana melirik ke arah laki-laki yang sedang berkonsentrasi di balik stir. Sementara anaknya tertidur dengan senyum tersungging di wajahnya yang mungil. Sesuai janji Ben untuk mengajak anaknya bermain, hari ini dilakukan dengan membawa Nesya ke mall dan memanjakannya.

Terlintas dalam pikiran Breana betapa bahagia wajah anaknya hari ini. Gadis kecil itu bermain gembira bersama sang papa. Mall memang bukan tujuan utama mereka karena Nesya selama ini selalu mengatakan ingin ke Dufan tapi mengingat kondisinya yang belum begitu pulih, Ben menggantinya ke tempat lain. Kebersamaan dan kebahagiaan mereka bagaikan satu keluarga utuh jika dilihat sekilas. Tanpa diketahui orang lain, jika mereka tidak ada ikatan apa pun. Breana mendesah dalam hati, mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak terlalu banyak berharap. Bagaimana pun, sang direktur sudah punya tunangan dan akan menikah dengan Amanda.

Ingatan tentang Amanda membuat rasa bersalah menyelubungi hati dan pikirannya.

‘Aku akan menjadi pelakor busuk jika menghancurkan hubungan mereka,’ desah Breana tanpa sadar. Sejujurnya ia ingin tahu apa yang dikatakan Ben terhadap tunangannya perihal hubungan mereka.

Sesampainya di rusun, mereka bertemu dengan seseorang yang tak terduga di tangga.

Anton, laki-laki itu berdiri termangu dan menatap heran pada Brena, terutama Nesya yang berada dalam gendongan Ben.

“Ayaah.” Nesya menggeliat turun dari pelukan Ben dan berlari menyongsong Anton. Gadis kecil itu terbangun saat mobil berhenti.

“Hai, anak ayah. Dari mana?” Anton berjongkok di depan anak perempuan dengan boneka kecil di tangan.

“Nesya tadi main sama Papa Ben dan Mama.” Seketika, rasa terkejut mewarnai wajah Anton saat mendengar kata Papa terucap dari mulut anak perempuannya. Memaksakan untuk tetap tersenyum, tangannya membelai rambut Nesya sementara matanya melirik ke arah Breana dan Ben yang berdiri bersisihan.

“Ayah mau bicara dulu sama Mama ya, nanti kita main lagi,” pamit Anton pada Nesya dan disambut anggukan dari anak itu.

Anton bangkit dari duduknya, memandang Breana yang berdiri di samping laki-laki tampan dengan tinggi menjulang. “Bre, aku mau ngomong.”

Ben mengangguk kecil ke arah Anton. “Kalian bicara, aku akan bawa Nesya ke atas,” ucap Ben pelan dengan tangan terulur ke arah Nesya dan membawa gadis kecil itu menaiki tangga menuju rumah mereka. Meninggalkan Breana dan Anton berdiri bersisihan.

“Kita bicara di sana.” Breana menunjuk bangku taman yang kosong, tidak jauh dari tempat mereka berada.

Untuk sesaat, keduanya terdiam tanpa ada kata terucap. Sesekali Anton melirik ke arah Breana yang duduk tenang. Dari dulu, ia selalu kagum dengan sikap tenang Breana. Wanita di sebelahnya jarang sekali merasa panik berlebihan jika bukan saat mendesak, seperti tatkala Nesya kecelakaan. Di luar itu, Breana selalu bersikap terkendali menghadapi masalah, tidak peduli meski orang mengecapnya jalang karena hamil di luar nikah atau juga dibuang oleh keluarga yang malu akan perbuatannya.

“Siapa laki-laki itu, Bre?” Anton bertanya sete;ah terdiam cukup lama. “Kalian terlihat dekat satu sama lain, bahkan aku dengar dari Bu Tini, laki-laki itu sering menginap.”

Breana menoleh heran.”Kamu memata-matai kami?”

Anton mengangguk. “Iya, tak lama setelah Nesya keluar dari rumah sakit.”

“Buat apa?” tanya Breana bingung.

Anton menaikkan sebelah kaki ke atas dengkul. Menepuk-nepuk lutut dengan tangan. “Untuk memastikan kalian sehat sebenarnya tapi siapa sangka ada laki-laki tak dikenal yang terus berada di samping kalian saat aku nggak bisa.”

Breana menarik napas panjang, merasakan kejengkelan terhadap apa yang baru saja diucapkan Anton. “Dengar Anton, sebaiknya hentikan segala perhatianmu terhadap kami. Fokuskan pikiranmu untuk pernikahan kalian. Aku nggak mau terus menerus membuatmu dalam masalah.”

Anton melirik dan senyum kecil tersungging di bibirnya. “Sudah nggak mau kenal aku lagi, Bre? Karena ada dia yang lebih tampan dan kaya?”

“Terus saja menyindirku dan kutinggalkan kamu sendiri.”

“Jangan!” Anton meraih lengan Breana yang hendak bangkit dari bangku. Dan membuat wanita yang pernah ia nikahi, mau tidak mau duduk kembali. “Maafkan aku Bre, aku merasa tersisih, kacau, cemburu karena kehadiranku di sisi kalian digantikan laki-laki itu.”

Breana mengamati Anton yang menunduk. Merasa tusukan rasa bersalah di hatinya pada laki-laki yang telah rela mengorbankan masa muda demi dirinya. Sudah saatnya Anton tahu perihal kebenaran agar kelak mereka tidak lagi saling menyakiti.

“Anton, aku akan bicara jujur padamu tapi janji satu hal padaku,” ucap Breana dengan mata memohon.

“Apa yang kamu minta Bree?” jawab Anton dengan nada takut . Kekuatiran terlihat jelas di matanya.

“Setelah kamu tahu kebenarannya, tolong biarkan kami sendiri dan menikahlah.”

“Tapi—,”

“Atau kamu mau kami menghilang begitu saja?”

Ancaman Breana membuat Anton menunduk kalah. “Bicaralah, aku akan dengarkan.”

Breana menarik napas, mengisi rongga paru-paru dengan udara dan berusaha menguatkan hati sebelum bicara. “Pertama, kukenalkan namanya Julian Benedict. Kedua, kami sudah pernah saling mengenal sebelumnya, enam tahun lalu.”

Anton menoleh cepat, “Enam tahun lalu? Apa itu berarti kalian pernah–.”

“—dia ayah Nesya,” tukas Breana lugas.

Anton terdiam, dia memandang taman yang panas dengan tumbuhan yang sedang berjuang melawan kegersangan. Hanya ada dua anak bermain ayunan. Belum cukup sore untuk para orang tua keluar membawa anak mereka bermain. Pikiran Anton mengembara, tentang waktu-waktu yang ia habiskan bersama Nesya di taman ini. Gadis kecil itu memang bukan anaknya tapi dia menyayangi sepenuh hati.

“Entah kenapa aku sudah menduganya,” gumam Anton lirih. “bentuk wajah mereka sama dan saat pertama kali kamu bilang hanya dia yang bisa bantu Nesya, aku sudah punya prasangka.”

Breana mengangguk. “Maaf, jika menyimpan masalah ini terlalu lama. Aku fokus pada penyembuhan anakku dulu.” Tangan Breana bergerak untuk menepuk pelan punggung laki-laki di sampingnya. “Terima kasih untuk kebaikanmu selama ini.”

“Bre, sudahlah,” elak Anton.

“Tapi saatnya kita mencari jalan hidup kita masing-masing.”

“Apa kamu mau kembali bersamanya?” tanya Anton.

Breana menggeleng. “Dia akan menikah dengan orang lain. Begitu juga kamu. Jadi, please Anton. Jangan membuatku terus-menerus dalam masalah. Terima kasih untuk semuanya, berbahagialah.”

Tanpa memberikan kesempatan pada Anton berbicara lebih banyak, Breana bangkit dan melangkah meninggalkan laki-laki itu duduk terpekur di tempatnya. Ada perasaan sedih menyusup masuk dalam hati, ia tahu jika kata-katanya menyakiti Anton tapi semua demi kebaikan mereka.

Saat membuka pintu, Breana tercengang dengan hal pertama yang ia lihat. Ben tengkurap di atas kasur lipat dengan Nesya menginjak-injak punggungnya. Anak perempuan itu tertawa saat melihatnya masuk.

“Mama … lihat, kan? Papa Ben badannya pegel, minta diinjak,” ucap Nesya sambil terkikik.

Breana mendatangi mereka, menatap sosok Ben yang terbujur dengan mata terpejam. “Bagus, Sayang. Injak yang kuat, kayak gini!” Ia mengentakkan kaki ke lantai dan ditirukan oleh anaknya.

“Hei, jangan mengajari anak macam-macam Bre. Kalian punya rencana bunuh aku?” gumaman Ben teredam oleh bantal yang menopang kepalanya, ia sedikit menoleh untuk menatap Breana dengan masam. “Nesya, Sayang. Jangan denger Mama yang jahat. Lanjut, injak-injak lagi yang benar, nanti papa kasih es krim.”

Breana tersenyum saat melihat anaknya berceloteh gembira di atas punggung Ben. Ia masuk ke kamar dan mengganti baju dengan daster. Memang, sekarang rumah mereka yang mungil sudah ber-AC tapi tetap rasanya panas kalau harus pakai blus dan jin di rumah.

“Bagaimana? Apa kamu menjelaskan semua padanya?” tanya Ben saat Breana keluar dari kamar dan mendapati laki-laki itu duduk bersandar pada tembok dengan Nesya asyik bermain boneka di sampingnya.

Breana bersimpuh di depan mereka, tangannya terulur untuk mengelus rambut anaknya. “Dia kaget, bingung tapi sudah menduga tentang kita. Dia sempat menolak tapi aku nggak memberinya kesempatan. Sebentar lagi dia akan menikah.”

Ben mengangguk. “Bagus, memang sudah seharusnya kalian menjauhinya.”

Breana mencebik. “Kamu sendiri gimana, bukannya mau menikah juga?” gerutunya. Ia menyampingkan tubuh saat Nesya berlari melewatinya menuju kamar mandi.

Ben tidak menjawab, kembali menelungkup di atas kasur. “Ayo, pijat punggungku,” perintahnya pada Breana.

“Hei, enak saja. Emang aku tukang pijit?”

“Kamu sekretarisku, dan sekarang aku memintamu untuk memijat.”

“Itu di kantor.”

“Sama saja, toh orangnya juga sama. Ayo, pijat. Kalau nggak mau nggak akan ada promosi kenaikan gaji.”

Meski dengan wajah cemberut, Breana tetap memijit bahu Ben yang kokoh dan keras. Sementara Nesya berlarian ke sekeliling rumah dan berceloteh gembira.

*

Senin, adalah hari tersibuk bagi pekerja kantor sepanjang minggu. Begitu duduk di kursinya, Breana tak beranjak sampai pukul sebelas siang. Ada banyak telepon untuk dijawab, pesan untuk dicatat dan juga pemeriksaan dokumen yang akan atau sudah ditandatangi direktur. Meski duduk bersebelahan tapi Breana jarang mengajak Tessa mengobrol. Masing-masing sibuk dengan pekerjaannya.

“Bre, Pak Direktur sedang pergi ke luar. Bisakah kamu letakkan ini di mejanya? Juga periksa minuman beliau?” ucap Tessa sambil mengacungkan map merah pada Breana yang mengangguk.

Breana bergegas menuju kantor direktur yang berada di sebelah ruangan mereka. Membuka pintu dan menatap heran pada sosok wanita yang duduk di kursi milik direktur. Wanita yang ia kenali sebagai Amanda.

Untuk sejenak mereka bertatapan sebelum akhirnya Breana pulih dari rasa kaget. Ia melangkah perlahan mendekati meja.

“Selamat siang Nona?” ucap Breana lembut memberi salam.

Amanda tidak menjawab, hanya mengawasi dalam diam saat Breana meletakkan map di atas meja.

“Jadi, kamu sekretaris Ben yang baru?” tanya Amanda.

Breana mengangguk. “Iya, baru sebulan ini.”

“Baru sebulan tapi sudah berani merepotkan calon suamiku untuk membantu mengurus anakmu?” Teguran Amanda yang sedingin es membuat Breana mengatupkan mulut.

Amanda bangkit dari kursi, melangkah gemulai mendekatinya. “Siapa namamu?”

“Breana.”

Amanda mengangguk. “Breana, wanita yang tak tahu diri menurutku. Apakah menurutmu apa yang kalian lakukan pada Ben itu dibenarkan?”

Breana menggeleng dengan mata menatap sudut meja. Ia tidak ingin menambah masalah dengan Amanda yang jelas-jelas tidak menyukainya.

“Aku tidak tahu kenapa Ben mengangkatmu jadi sekretarisnya sementara Tessa masih bisa diandalkan. Apa jangan-jangan kamu yang mempengaruhinya?”

Tuduhan yang dilontarkan Amanda membuat Breana mendongak. “Tidak, sama sekali bukan. Ini murni keinginan Pak Direktur,” sanggah Breana tegas.

Amanda mendengkus, melipat lengan di depan dada dan matanya menyorot tajam ke arah Breana. “Sepertinya tunanganku buta oleh rasa kasihan. Tapi sudahlah, mungkin ini salah satu cara menolong pegawainya.”

Breana mengembuskan napas lega saat melihat Amanda bergerak menuju meja. Ia tak sanggup lagi jika harus menerima tuduhan wanita itu padanya. Saat ia hendak pamitan untuk kembali ke ruangannya, Amanda menyodorkan uang lembaran padanya.

“Sebentar lagi waktu makan siang dan Ben aku rasa akan makan di luar. Bisakah kamu belikan aku nasi padang?” Breana mengangguk, menerima uang dari Amanda. “Ah ya, Breana. Aku nggak suka yang ada di kantin ini. Tolong carikan yang di samping gedung ya? Pakai rendang, perkedel dan jangan lupa peyek udang dan sambel ijo.”

Breana mengangguk sekali lagi, menggenggam uang di tangan dan berbalik menuju pintu. “Breana, nggak pakai lama. Aku nggak boleh telat makan, bisa maag.” Ucapan Amanda terdengar sebelum pintu menutup di belakangnya.

Tanpa kembali untuk berpamitan pada Tessa, Breana setengah berlari menuju lift. Memecencet tombol dan tercengang saat lift karyawan penuh orang. Ia meruntuk dalam hati. Waktu antara jam 11-13 memang lift akan sangat penuh pengunjung. Matanya melirik lift khusus diretur yang tertutup tapi tidak berani menggunakannya. Menunggu beberapa menit, lift satu lagi terbuka. Meski penuh ia tak peduli, memaksa masuk.

Breana menyipitkan mata, memandang warung-warung makan yang berjejer di sepanjang gang di samping gedung. Udara terasa panas menggantung. Setelah kebingungan, akhirnya ia masuk ke dalam warung paling besar dan membeli pesanan Amanda.

Dengan kantong di tangan, ia bergegas kembali ke kantor. Meminta piring dan sendok garpu pada OB lalu mengantarkan nasi ke kantor direktur.

“Ah ya, kamu tepat waktu,” ucap Amanda sambil melirik jam di ponsel-nya. Matanya memandang bungkusan yang tergeletak di atas nampan. “Mana jus strawberry yang aku mau?”

“Nona minta jus juga?” tanya Breana bingung.

“Loh, memangnya kamu nggak ingat apa yang aku katakan?”

“Saya ingat hanya nasi pakai sambel ijo, peyek udang, rendang dan–,”

“Ah, sudah!” tukas Amanda marah. “Kamu ini gimana? Baru disuruh beli makanan aja nggak becus. Sana, beliin lagi aku jus strawberry tanpa gula.”

Breana menabahkan hati, kembali meraih uang kembalian yang ia letakkan di atas meja dan melangkah tergesa menuju lift. Sekali lagi harus berjuang menembus padatnya pengunjung lift. Bahkan di tempat tukang jus, ia mengantri lama karena sang penjual sedang melayani banyak pesanan.

Aroma masakan yang tersebar dari warung-warung makanan di sekitar, membuat perut Breana berbunyi. Ia merasa kelaparan karena pagi tadi tidak sempat membuat sarapan. Di dalam tas di dalam laci meja kerja sudah ia siapkan nasi dan opor ayam untuk makan siang. Siapa sangka, kini ia berdiri kelaparan di samping gerobak penjual jus.

“Ini Nona, jus-nya.” Breana meletakkan jus di samping nasi padang yang masih teronggok di atas meja. Dalam hati berkata heran, bukankah Amanda mengatakan harus makan tepat waktu? Kenapa malah menyia-nyiakan nasi yang sudah tersedia.

“Jus strawberry, tanpa gula?” tanya Amanda.

“Iya, ini kembaliannya.”

Amanda tidak menjawab, membuka gelas jus dan menyesap isinya. Detik itu juga dia lepahkan isi jus.

“Gimana sih kamu, beli jus aja nggak becus! Mana ada jus sehambar ini? Penuh dengan air?”

Makian Amanda membuat Breana mendongak bingung. “Nona nggak bilang mau setengah saja es batu. Hanya bilang ingin gula setelah,” ucap Breana.

“Membantah saja kerjaanmu, dasar nggak becus kerja!” Amanda berdiri menggebrak meja dan membuat Breana mundur dua langkah karena kaget

.

Saat itu pintu terbuka dan muncul Ben diiringi Tessa yang memandang mereka dengan heran.

“Amanda, kenapa marah-marah?” tegur Ben bingung. Matanya menatap Breana yang menunduk.

“Ben, Honey. Pegawaimu ini nggak becus kerja,” ucap Amanda dengan nasa kesal. Melangkah menghampiri Ben dan bergelayut di pundaknya. “Aku menyuruhnya membeli makan siang dan semuanya salah!”

“Kamu menyuruhnya beli makan siang buat kamu?”

Amanda mengangguk.

“Itu bukan tugas dia Manda, kenapa nggak nyuruh OB?”

Bantahan dari Ben membuat Amanda mendengkus sebal. “Dia juga pegawaimu, aku bebas menyuruh siapa pun yang aku mau asalkan dia pegawaimu. Kalau nggak ada dia, aku akan nyuruh Tessa atau OB!” Dia menuding Breana dan melanjutkan perkataanya. “Kenapa kamu harus bela dia?”

“Aku nggak bela dia, hanya bingung saja sama sikap kamu, Manda.”

Perdebatan antara Ben dan tunangannya membuat Brean berdiri serba salah. Begitu juga Tessa yang bergeming di tempatnya.

“Aku datang kemari untuk menengokmu dan sekarang kamu marah-marah,” gumam Amanda dengan tangan terulur untuk meraih tas-nya.

“Mau ke mana kamu?” tanya Ben padanya.

“Pulang!”

“Ayolah, Manda. Ini hanya masalah kecil.”

Amanda melirik ke arah Breana kemudia ke wajah tunangannya. “Dia bukan pegawai biasa rupanya, sampai membuat kita bertengkar?”

Ben menarik napas panjang. “Tessa, Bre, tolong tinggalkan kami.”

Tanpa diperintah dua kali, Breana mengangguk dan melangkah beriringan keluar pintu bersama Tessa.

“Aku benci kamu bela dia, Ben.”

“Dia hanya pegawai biasa, Manda.”

Pertengkaran sepasang kejkasih itu masih terdengar sesaat setelah pintu menutup. Breana dan Tessa berjalan cepat tanpa kata. Tiba di ruangan mereka, Tessa memberi perintah pada Breana.

“Pergi ke dapur untuk makan siang, banyak kerjaan tertunda sewaktu kamu pergi.”

Breana mengangguk, merogoh laci dan mengeluarkan kotak bekal makan siang.

Di dapur hanya tinggal Breana sendiri. Entah kenapa ia merasa jika opor ayam yang ia makan terasa hambar. Sambelnya pun tidak seenak biasanya. Wajahnya terasa panas karena terbakar matahari tapi hatinya lebih panas lagi terutama saat mendegar Ben mengatakan jika dia hanya pegawai biasa.

‘Memang apa yang aku harapkan? Kenyataanya memang hubungan kami hanya sebatas boss dan pegawai,’ batin Breana dengan mulut mengunyah ayam yang terasa alot. ‘Lalu bagaimana dengan ciuman-ciuman kami selama ini? Apa arti segala sentuhan, perhatian yang dia curhakan untukku? Apakah semua dia lakukan hanya demi Nesya?’

Merasa tak sanggup makan lebih banyak, Breana memutuskan menyimpan kembali bekalnya. Perasaan hati yang gundah mempengaruhi nafsu makannnya [bersambung ke titiktemu berikutnya]

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…