#Into_You – #Part_14

**

“Bintang kamu apa?” tanya Breana dengan tubuh berbalut selimut. Memandang jenaka pada pria tampan yang rebah di sampingnya. “Bintangku? Virgo sepertinya. Kalau kamu?”

“Aku Aries.”

“Lalu, apa kita nggak berjodoh karena beda bintang?” tanya Ben bingung.

Breana terkikik, menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi tubuhnya yang polos. Mereka berdua bicara dari hati ke hati setelah sesi bercinta yang tiada henti. Entah apa yang merasuki mereka, begitu keluar dari kereta api dan masuk ke hotel, keduanya seperti punya tenaga extra untuk terus-menerus bercinta.

“Nggaklah, dari bintang orang bisa meramal nasib dan juga perihal percintaan. Golongan darahmu?”

“Kamu lagi sensus, ya?” Ben mencolek hidung Breana dan membuat gadis itu kembali terkikik.

“Ayo, aku A kamu?”

“Aku AB.”

“Kamu berapa bersaudara?”

Ben tersenyum. “Hanya dua, aku dan kakakku yang tinggal di Malaysia bersama suaminya. Namanya Grace.”

Breana mencebik. “Enak punya kakak, aku punya adik perempuan tiri dan galak minta ampun.”

Ben meraih bibir gadis di sampingnya dan memberikan kecupan ringan. “Hayo, tanya apa lagi?”

“Apa kamu punya media sosial semacam facebook?”

Ben menggeleng. “Aku terlalu sibuk untuk bermain di media sosial.”

Breana mengangguk. “Baiklah, aku akan catat di otakku segala informasi tentangmu. Buat berjaga-jaga kalau sewaktu-waktu aku butuh cari kamu.”

“Cari aku buat apa?” Mata Ben melirik gadis yang terlihat tersipu dengan wajah merona.

“Kali saja aku hamil dan kamu nggak mau tanggung jawab.”

Ben memiringkan tubuh, tangannya menelusup masuk ke dalam selimut dan meremas lembut buah dada gadis di sampingnya. Saat Breana terbeliak, Ben menindihnya dan berkata sensual. ”Aku senang kalau kamu hamil, jadi punya alasan untuk menikahimu.”

“Tapi, aku ma-masih muda?” desah Breana saat merasakan tangan Ben bergerak di tubuhnya saat selimut yang ia pakai tersingkap.

“Dan aku akan membuat masa mudamu bahagia bersamaku.”

Klang!

Suara benda jatuh membangunkan Ben dari tidurnya. Ia sedikit kaget saat mendapati dirinya sedang tidur di atas sofa kecil. Mengerjap ia sadar ada di rumah Breana. Tubuhnya terasa kaku dan pegal karena kurang nyaman saat berbaring. Dalam pikirannya terlintas untuk membeli kasur lipat jadi dia tidak perlu tidur di atas sofa lagi.

Sambil meregangkan tubuh, Ben bangun dari sofa. Duduk menatap ruang tamu kecil dengan perabot hanya berupa satu set sofa sederhana dengan meja kaca. Sebuah meja kayu diletakkan dekat dinding dan ada TV tabung di sana. Sinar matahari menyelusup dari jendela kecil di samping. Ia menolah dan dari tempatnya duduk dan menatap punggung Breana yang sepertinya sedang sibuk membuat sarapan.

Tak lama pintu kamar tidur menjeplak terbuka, Nesya dengan seragam TK warna pink berlari mendekati sang mama.

“Mama, Nesya mau bawa bekal.”

Terdengar suara minyak goreng beradu dengan telur di atas penggorengan. “Iya, mama buatin nasi goreng kecap,” jawab Breana tanpa mengalihkan pandangannya dari penggorengan.

“Asyik.” Nesya terlonjak, dan saat melihat Ben sudah bangun, gadis kecil itu berlari menghampirinya.

“Papa sudah bangun?” tanyanya dengan ekpresi yang menggemaskan. Wajag putih bulat dengan rambut ikal yang diikat dua.

Ben meraih tubuh Nesya dan memegang pundaknya. Setengah mengantuk matanya menatap penampilan anak perempuan di depannya.

“Nesya cantik, bajunya juga bagus,” ucapnya dengan suara parau.

Nesya terkikik. “Iya, kata Mama warnanya ping.”

Ben mencolek dagu anaknya. “Mau papa anterin pakai mobil?”

Nesya terlonjak dan bertepuk tangan. “Mauuu!”

“Papa mandi dulu kalau gitu.”

Membiarkan Nesya kembali ke kemarnya, Ben bangkit dari sofa menuju kamar mandi. Rupanya, Breana belum sadar jika ia sudah bangun. Tak ingin menganggu kesibukan wanita itu dalam memasak, Ben menutup pintu kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Lima belas menit mengguyur badan dan gosok gigi, ia membuka pintu kamar mandi dan mendapati Breana berdiri di depannya.

“Ada apa? Apa aku kelamaan di dalam?” tanyanya bingung.

Breana menggeleng sambil tersenyum. “Cuma mau tanya, apa kamu mau sarapan nasi goreng kecap?”

Ben mengamati penampilan wanita di depannya dengan daster sederhan dan celemek yang belum dia lepaskan. Pikiran liar mengalir dalam otaknya tentang Breana hanya memakai celemek tanpa apa pun. Entah bagaimana, gairahnya mendadak bangkit. Matanya menatap pintu kamar yang tertutup, dengan sekuat tenaga menarik Breana ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya.

“Apa-apaan, ini?” pekik Breana kaget.

Tanpa banyak kata, Ben menutup mulut Breana dengan mulutnya. Mencium bibir merekah dari wanita dengan aroma masakan di tubuhnya. Tangannya bergerak untuk melepaskan celemek. Breana berusaha menolak tapi tangan Ben memegang dagunya dan serbuan ciuman mendarat di bibir Breana tanpa ampun.

Keduanya bercumbu dan berciuman. Pelukan hangat Ben ditubuhnya dan ciuman laki-laki itu di bibir dan lehernya tanpa sadar membangkitkan gairah Breana. Ia melenguh, mendesah dan mendamba. Ia hanya menolak lemah saat celemek jatuh di lantai kamar mandi dan sebuah tangan yang besar menyingkapkan daster yang ia pakai.

“Bagaimana rasanya, Bre?”

Bre merasa tercekat, tidak bisa bicara. Sementara tubuhnya menegang. Napas laki-laki di depannya terasa panas di leher.

“Ayo, katakan!” Kembali, laki-laki itu menuntut.

Ia merasa terdesak, tubuh kekar dan panas melingkupinya. Tidak hanya terasa kokoh dan kuat tapi juga menggairahkan secara bersamaan. Mimpi yang ia alami tadi pagi perihal masa lalu mereka seperti membangkitkan gairah lama yang terpendam.

‘Aah, kenapa jadi gini?’ Breana melenguh dalam hati sementara jemari laki-laki itu membelai lembut kulitnya.

Ia mendongak dan memandang mata hitam pekat, di antara napas yang terengah mereka bertatapan.

“Bree ….”

“Ah, aku-aku,” desah Breana.

“Yah, ayo.”

Tatkala napas makin tercekat, Breana menegang saat merasakan telapak tangan besar bergerak kasar di kulitnya. Membuat rasa mendambanya membumbung tinggi. Hampir saja ia menyerah untuk berteriak dan meminta lebih lalu terdengar gedoran di pintu kamar mandi tempat mereka bercumbu.

“Mamaaaa! Kaos kaki Nesya hilang satuu!”

Bagikan diguyur air dingin, gairah lenyap dari tubuh Breana. Menarik napas panjang ia mendorong tubuh laki-laki di depannya agar menjauh. Ia membenahi pakaian dan menyisir rambut yang berantakan. Mengusap wajah lalu menyingkirkan tubuh kekar dari hadapannya. Bisa ia lihat, betapa frustasinya laki-laki itu. Setelah tenang, ia membuka pintu kamar mandi.

“Iya, Sayang. Kan tadi naruhnya di atas ranjang?” Breana menggandeng Nesya, putri kecilnya semata wayang yang memandangnya dengan bola mata membesar. Tak memedulikan sosok yang tertinggal di dalam kamar mandi, ia melangkah meninggalkan laki-laki dengan tangan-tangan lihai yang menggoreskan kehangatan di tubuh. Di tengah jalan Breana menoleh, dari ujung mata ia melihat laki-laki itu sedang menatapnya dengan intens. Desir gairah menghantui mereka bagai menyesatkan jiwa yang berkelana mencari raga.

Setelah menyelesaikan urusan anaknya, dengan sisa gairah yang masih menggantung di dalam diri, Breana menyiapkan sarapan untuk Ben dan Nesya. Lalu meninggalkan mereka berdua di meja makan untuk mandi.

Sebenarnya ia ingin membawa anaknya ke sekolah naik ojek online, tapi Nesya merengek agar Ben mengantarkan mereka. Mau tidak mau Breana menuruti permintaan anaknya.

Ia merasa terharu dan bahagia bersamaan saat melihat Nesya duduk di bangku tengah, berceloteh gembira tentang sekolah, guru, teman-temannya dan bahkan merajuk pada Ben untuk membawa mereka main ke dufan.

Breana mendengarkan dalam diam, bagaimana Ben terlihat sabar menjawab seluruh pertanyaan Nesya. Laki-laki itu bahkan tanpa beban mengatakan akan membawa mereka ke dufan dan membuat anak perempuan yang duduk di kursi tengah melonjak-lonjak tak berhenti.

Saat mobil mencapai gerbang sekolah, Breana juga ikut turun. “Dari sini, aku naik ojek saja. Nggak enak kalau dilihat pegawai lain kita datang bersamaan ke kantor.”

Ben mengangguk. “Iya, lagi pula aku harus mampir ke rumah dulu untuk mengambil sesuatu.”

Breana menutup pintu, menggandengan tangan anaknya dan melihat mobil Ben melaju pergi. Dalam hatinya mau tak mau merasa sedih. Seharusnya, mereka memang menjadi sebuah keluarga. Seperti yang mereka rencanakan enam tahun lalu. Kini, kenyataan berkata lain. Meski hati menginginkan jika bukan takdir, mau dikata apa? Mengabaikan perasaan sedih yang menyelusup masuk di antara bahagia, Breana menggandeng anaknya untuk menyeberang.

**

Selama di kantor baik Breana mau pun Ben bersikap sopan satu sama lain. Meski Breana memprotes keras tapi Ben bersikukuh membeli kasur lipat untuk diletakkan di rumah susun. Dengan alasan jarak ke kantor antara rumah wanita itu lebih dekat dibanding ke rumahnya. Terkadang, saat kemalan karena harus menghadiri rapat berkepajangan Ben memilih untuk menginap di rumah Breana. Sudah menjadi rahasia umum, jika menyangkut urusan rapat dan hal yang penting, maka Tessa yang akan mendampingi Ben bukan dirinya.

Breana sendiri merasa kesal, ia sudah menolak, marah dan mengatakan dengan tegas agar Ben menjauh tapi setiap hari ada saja barang berdatangan ke rumahnya. Dari mulai kasur lipat, sepeda mini untuk Nesya, hingga LED TV yang menggantikan TV tabungnya di ruang tamu. Bisa jadi, Ben akan mengganti seluruh isi rumah jika ia tak bersikukuh untuk menolak.

“Aku bisa membelikan kalian rumah jika mau,” ucap Ben suatu pagi saat ia mengamati Breana yang merapikan meja kerjanya.

Tanpa menjawab Breana hanya mendengkus kecil.

“Rumah seperti apa yang kalian inginkan? Type minimalis atau mau apartemen.”

Breana menoleh heran pada laki-laki yang menjadi boss-nya. “Kami bahagia tinggal di rusun kecil itu, kenapa harus pindah?” Lalu melangkah menuju lemari besi di dekat dinding.

Ben menyandarkan punggung ke kursi kerja, mengamati Breana yang terlihat cantik dalam setelan kerja berwarna pastel. Entah kenapa ia merasa tidak pernah bosan memandang wanita di depannya. Meski sang wanita kini memunggunginya dan sibuk merapikan dokumen di dalam lemari arsip. Mereka menjadi lebih dekat satu sama lain selama sebulan belakangan tapi entah kenapa ia merasa jika kedekatan tak lebih dari fisik. Ada jiwa terdalam dari wanita -yang kini sibuk membuka dan menutup map- yang tidak tersentuh olehnya. Ben tetap merasa, Breana menutup dirinya dan melindungi hati dengan cangkang yang kuat dan kokoh. Tidak ada lagi sisa, gadis imut, lucu dan manja seperti enam tahun lalu.

‘Sepertinya, keras kehidupan tanpa sadar mendewasakannya dan membuat sifatnya serta pembawaannya menjadi keras secara bersamaan,’ desah Ben dalam pikirannya.

“Rumah akan membuat pertumbuhan Nesya menjadi lebih baik.”

“Bukannya kamu sudah berjanji untuk nggak ikut campur perihal anakku?” tangkis Breana tanpa menoleh. “dan ini di kantor, akan lebih bagus jika kita nggak membahas masalah pribadi.”

Hening

Lamat-lamat terdengar suara gesekan kertas beradu dengan besi, itu pun pelan sekali. Diam-diam Breana merasa lega karena Ben tidak mendebat perkataannya. Selesai merapikan dokumen, ia melangkah menuju meja direktur untuk meletakkan beberapa bundel map berisi arsip penting yang diminta Ben dan mendapati laki-laki itu memandangnya tak berkedip.

“Apa?” tanya Breana heran.

Terdengar helaan napas berat dari Ben. “Sepertinya kamu lupa kalau Nesya juga anakku?”

Breana meliriknya sekilas, tangannya sibuk menulis sesuatu di atas kertas. Sebuah catatan yang diminta Tessa. “Tidak, tapi aku bukan istrimu. Jadi kita nggak perlu berdiskusi masalah Nesya. Bagaimana pun dia adalah tanggung jawabku.”

“Aku belum menggunakan hak veto,” ucap Ben perlahan. Menyorongkan wajah ke depan Breana yang sedang menunduk di atas mejanya. “Ingat, kamu masih punya satu janji denganku.”

“Bukannya selama ini kamu ke rumahku? Bisa dikatakan hubungan kita sudah mendekati isi perjanjian itu bukan?” sanggah Breana dengan nada kesal.

Ben tertawa lirih, tangannya terulur untuk mengelus dahu Breana. “Aku bahkan belum memulainya, Bre. Belum sama sekali.”

Terdengar ketukan di pintu, Ben melepaskan tangannya dari dagu Breana. Tak lama muncul Tessa.

“Pak, kita bersiap-siap untuk ke departemen produksi.”

Ben mengangguk. “Baiklah, temui aku di parkiran lima belas menit lagi.” Lalu menoleh ke arah Breana. “Sebaiknya kamu ikut ke pabrik ini, biar kamu tahu apa saja yang kamu hadapi.”

“Aku?” Breana menunjuk dirinya sendiri.

Ben mengangguk. “Iya, kamu. Bersiap-siaplah, aku menunggu kalian berdua.”

Pertama kalinya, Breana mendapatkan kesempatan untuk menemani sang direktur melakukan kunjungan. Pabrik berada di luar Jakarta. Membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk mereka mencapai lokasi.

Breana ternganga memandang pabrik yang luas. Beberapa mandor dan pegawai pabrik menyambut kedatangan mereka. Dalam diam ia mengikuti langkah Ben dari belakang. Matanya tak lepas memandang berbagai macam keramik yang keluar dari cetakan. Beberapa di antaranya bahkan terlihat indah dengan bentuk segi empat yang cukup lebar.

Ia mendengarkan dengan seksama, penjelasan mandor pabrik mengenai produksi, bahan dan juga alat-alat yang diperlukan. Kunjungan mereka berakhir di bagian packing dan melihat pekerja mengangkat keramik dengan forklip.

Mereka makan siang di dalam kantor yang berada di bagian depan pabrik. Selesai makan siang dilanjutkan dengan rapat peninjauan. Breana mempelajari dengan serius, bagaimana Tessa bergerak cekatan untuk mempersiapkan dokumen yang diperlukan, membantu mencari data untuk Ben dari internet. Atau sesekali menjawab pertanyaan jika Ben lupa mengingat sesuatu.

‘Sungguh wanita yang hebat,’ puji Breana serius pada Tessa.

Rapat berkepanjangan ditambah dengan lokasi yang jauh membuat mereka kembali ke kantor dalam keadaan gelap. Diam-diam Ben mengirim pesan akan mengantar Breana pulang tapi wanita itu menolak karena sudah terlanjur memesan ojek.

Dari balik kemudi, Ben menatap punggung Breana yang menghilang dibonceng motor orang tak dikenal dan merasa kesal karena wanita itu menolak ajakannya.

*

Sabtu pukul tujuh malam, Ben menggandeng tangan Amanda memasuki restoran yang sudah dipesan sebelumnya. Sebuah restoran yang menyajikan hidangan khas Italy. Berada di lantai lima belas sebuah hotel bintang lima, dengan desain interor yang luar biasa indah. Memberikan pemandangan kota karena dinding restoran terbuat dari kaca. Ada banyak lampu dalam bentuk yang indah dan unik, ada yang lonjong mau pun bulat, berpendar warna warni di seluruh ruangan. Di ujung ruangan ada beberapa orang pemain musik sedang mengiringi seorang wanita bernyanyi. Ada ruang tersisa yang sepertinya digunakan untuk pengunjung yang ingin berdansa.

Beberapa hari lalu, Amanda mengajaknya bertemu dengan seorang teman lama. Dan kini, Ben tersenyum saat seorang laki-laki tampan menyambut kedatangan mereka.

“Teman-teman terbaikku, Julian Benedict dan Amanda, apa kabar kalian?” Laki-laki itu memeluk Ben hangat dan memberikan ciuman pipi untuk Amanda.

Ketiganya duduk di dekat dinding kaca dan menatap langsung pendar lampu-lampu kota.

“Sungguh pasangan yang serasi kalian, nggak nyangka sih, setelah sekian lama bersahabat akhirnya kalian memutuskan untuk menikah. Apa ini yang dinamakan sahabat jadi cinta?” ucap Dimas dengan senyum tersungging di mulut.

Ben mengangkat sebelah bahu, melirik Amanda yang terlihat menawan dalam balutan gaun putih dan sedang asyik melihat-lihat menu.

“Kami hanya sepakat, itu saja,” jawab Ben diplomatis.

“Hahaha … dan aku senang dengan kesepakatan kalian. Ngomong-ngomong, kapan pernikahan akan dilakukan?”

“Masih dalam tahap perencanaan tapi yang pasti tahun ini.” Kali ini Amanda yang menjawab.

Mereka bertiga menerima sampanye dari pelayan dan saling membenturkan gelas untuk merayakan pertemuan.

Pembicaraan berlangsung akrab, karena bagaimana pun mereka teman lama. Ben mengenal Dimas bersamaan dengan ia mengenal Amanda di sebuah perguruan tinggi ternama. Saat itu ketiganya ingin mengejar gelar master. Jika Amanda sibuk membantu perusahaan orang tuanya, begitu pula dirinya maka Dimas berbeda. Laki-laki itu menyukai pekerjaan yang tak terikat, maka ia memilih untuk menjadi seorang konsultan freelance di bidang property dan penanaman modal, sesuai keahliannya.

Berbeda dengan Ben dan Amanda lebih banyak tinggal di Indonesia, maka Dimas selama beberapa tahun ini lebih banyak berada di luar negeri.

Sebuah penyataan tak terduga keluar dari mulut Dimas saat Amanda pamit ke toilet. Laki-laki dengan tubuh kurus dan sekepala lebih pendek dari Ben tapi berwajah rupawan, campuran antara timur tengah dan Indonesia. Dia menatap sosok Amanda dengan pandangan memuja yang tak disembunyikan lalu beralih ke arah Ben yang sedang mengunyah makanan.

“Kamu tahu Ben, dari dulu aku naksir Amanda.”

Pengakuan yang terus terang itu membuat Ben mendongak dari piringnya. Ia menatap Dimas tak percaya.

“Lalu? Kenapa tidak mengejarnya?”

Dimas tertawa lirih. “Karena Amanda selalu terobesi dengamu. Hati-hati Ben, jika tidak baik-baik menjaganya, aku akan mencurinya darimu.”

Ben tertegun, sebagian hatinya merasa jika Dimas sedang bercanda. Tapi, sebagian dari hatinya yang lain mengatakan jika laki-laki berkacamata di depannya sedang serius bicara. Bisa jadi sebuah ancaman terselubung untuk mencuri sang tunangan dari tangannya. Ia mendesah dalam hati, tidak tahu harus bahagia atau sedih mendengar penuturan Dimas. Bukankah akan menyelesaikan masalah jika Amanda bersama Dimas dan dia dengan bebas akan kembali pada Breana. Lalu, apa bedanya dia dengan bajingan jika punya pemikiran buruk seperti itu. Tangannya terulur untuk mengambil irisan buah dari atas piring kecil saat matanya menangkap bayangan Amanda.

“Hai, Manda. Mau berdansa denganku?” ajak Dimas riang. Dia berdiri dari kursinya. “Bolehkan jika aku mengajak wanita cantik ini, Ben?” tanya Dimas dengan mata mengerling ke arah Ben.

Satu anggukan dari Ben menjadi penanda Dimas untuk mengulurkan tangan dan menggenggam Amanda menuju tempat berdansa. Ben mengawasi pasangan yang berdansa dengan pikiran bercabang. Dalam hati ia mengakui jika Dimas memang tidak main-main saat mengatakan kalau dia menyukai Amanda. Dari caranya menatap wanita yang menjadi tunangannya, Ben tahu ada binar cinta di sana. Ia menatap nanar dengan pikiran mengembara pada Breana dan Nesya.

‘Bagaimana denganku? Apakah aku sepengecut itu untuk melepaskan Amanda demi Breana atau justru sebaliknya?’ [bersambung ke titiktemu berikutnya]

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…