#Into_You – #Part_13

Serangan jantung yang dialami Pak Adiyaksa sedikit banyak mempengaruhi rencana hidup yang sudah disusun oleh Ben. Awalnya, ia sempat terpikir untuk membelikan rumah bagi Breana agar wanita itu dan anaknya tinggal di tempat yang lebih layak. Dia bukan beranggapan rumah susun adalah tempat tinggal yang buruk, hanya saja ia inginkan Breana dan Nesya bisa tinggal di rumah sendiri. Tadinya, hal itu akan ia lakukan saat ia selesai bicara dengan Amanda mengenai hubungannya dengan Breana. Tapi kini semua berubah, melihat Amanda yang terus menerus menangis karena kuatir membuat Ben kembali menyimpan niatnya rapat-rapat.

Kerabat dan kolega datang menjenguk tak berkesudahan. Pak Adiyaksa yang dirawat di ruang VVIP terpaksa banyak menolak kunjungan karena kondisinya yang kurang stabil.

Orang tua Ben, adalah salah satu pengunjung yang rajin datang menjenguk. Dua keluarga yang sebentar lagi akan mengikat diri dalam kekerabatan terlihat akrab dan saling mendukung satu sama lain.

“Kamu lihat, kan? Bagaimana kondisi Pak Adiyaksa?” ucap Pak Hadrian pada anak laki-lakinya saat mereka duduk berdua di kafetaria rumah sakit yang ramai.

Ben tidak menjawab pertanyaan sang papa, pikirannya berkecamuk antara iba dan takut saat melihat kondisi calon mertuanya. Tanpa sadar, tangannya mengaduk es kopi susu di depannya tanpa henti menggunakan sedotan.

Top stories by Nev Nov

Ucapan papanya membuat Ben mendongak, tangannya terhenti seketika. “Maksud Papa, apa?”

Pak Hadrian menarik napas panjang, matanya menatap lekat-lekat pada anak laki-lakinya yang terlihat kebingungan.

“Masa, hal begini papa juga yang harus tegasin ke kamu? Harusnya sebagai lelaki dewasa, kamu bisa menebak kemana arah pembicaraan papa?”

Ben mengangguk samar. Memandang gelasnya yang masih penuh dengan sedotan yang sekarang tak bergerak di pinggir gelas. Dia bukan orang bodoh yang tidak bisa mengambil kesimpulan atas apa yang dikatakan papanya. Mereka memintanya mempercepat rencana pernikahan dengan Amanda, itu pasti. Tanpa sadar, ia menarik napas dan menyandarkan tubuh ke punggung kursi. Ujung matanya melirik ke arah taman rumah sakit yang panas dengan tumbuhan perdu yang terlihat hijau. Sementara orang-orang berlalu-lalng di lorong-lorong rumah sakit. Meski jam besuk sudah berakhir tapi rumah sakit masih ramai, begitu pula kafetaria tempat Ben dan papanya mengobrol.

“Ben, kamu dengar omongan papa?” Pak Hadrian mengetuk meja dengan buku jarinya.

Ben menoleh, menatap sang papa yang berkacamata. “Iya, Pa. Aku tahu maksud omongan Papa apa. Tapi, bisakan kalau kita fokus dulu pada penyembuhan Pak Adiyaksa?”

Pak Hadrian mengangguk, mau tidak mau ia setuju dengan perkataan anaknya. Memang sekarang, penyembuhan calon besannya adalah yang utama.

“Mereka keluarga pengusaha yang kaya raya, Ben. Dan Amanda adalah pewaris tunggal. Tentunya kamu tahu jika mereka berharap banyak padamu, kan?”

Ben terdiam, merasa tidak enak hati. Selalu terjadi seperti ini jika menyangkut hubungannya dengan Amanda. Orang-orang hanya melihat jika keluarga Pak Adiyaksa yang notabene adalah pengusaha batu bara dan timah merupakan keluarga berlimpah harta. Disandingkan dengan keluarganya yang tidak terhitung kekurangan meski tidak sekaya keluarga tunangannya, orang-orang hanya melihat harta dikawinkan dengan harta. Padahal, bukan hal itu yang terbersit dalam pikiran Ben saat pertama kali ia memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Amanda.

Selama mendampingi Amanda, Ben menahan niatnya untuk tidak mengunjungi Breana. Meski begitu, ia tahu kalau Nesya sudah membaik. Melalui telepon, Ben memerintahkan Breana untuk mencari pengasuh profesional untuk menjaga anaknya.

Saat Breana memprotes keputusannya, Ben hanya menjawab ringan. “Aku yang akan membayar gaji pengasuh, bukan kamu. Lagi pula kamu harus mulai kerja lagi, kan?”

Mau tidak mau, Breana menuruti sarannya. Minggu depan wanita itu mulai bekerja dengan Nesya diasuh oleh seorang pengasuh berumur tiga puluhan yang dipekerjakan Ben dari yayasan sosial.

Setelah bicara panjang lebar dengan sang papa yang berujung dengan permintaan Pak Hadrian agar anaknya memikirkan untuk menikah lebih cepat, Ben merasa beban di dadanya bertambah.

Sekarang ia tak tahu bagaimana caranya memberitahu masalah Breana dan Nesya ke orang tuanya. Tentu saja papa dan mamanya berhak tahu kalau dia punya anak perempuan. Mengingat situasi yang tidak memungkinkan, Ben menyimpan rahasianya rapat-rapat.

Kejutan menanti Breana saat ia kembali bekerja. Bu Hani, Wina dan seorang staf baru menyambutnya dengan suka cita tapi juga perasaan bersalah. Wina bahkan tergugu saat berkata dengan terbata-bata perihal bencana yang menimpa Breana.

“Aku nggak nyangka, Vigo akan sekejam itu. Kami tahu dia melakukan itu karena mamanya sakit tapi menjadikan kamu kambing hitam, itu kejam.”

Breana menggangguk, menyimpan semua simpati yang diberikan sahabat dan rekan kerjanya dalam diam. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana terlebih saat Bu Hani mengatakan posisinya diganti.

“Maksud Ibu, saya dipindah?” tanya Breana bingung. “menjadi asisten sekretaris?”

“Iya, Tessa yang meminta kamu langsung untuk menjadi asistennya. Tentu saja, Pak Direktur langsung menyetujui. Bagaiman pun beliau tahu, pekerjaanmu lebih dibutuhkan du sana dari pada bersama kami.”

Breana mengembuskan napas, menggeleng-gelengkan kepala dan berusaha menjernihkan pikirannya. Sementara tangannya sibuk mengemasi barang-barangnya dari dalam laci, pikirannya mengembara kemana-mana. Dalam hati ia bertanya-tanya, kenapa Ben tidak pernah memberitahukannya soal ini. Bukankah minggu lalu mereka bersama? Memang dalam minggu ini Ben sama sekali belum pernah ke rumahnya, setidaknya mereka berhubungan lewat telepon. Bisa jadi, sang direktur punya pertimbangan lain, ia hanya berharap apa pun itu, tidak merugikan hubungan mereka berdua.

‘Emang hubungan apa yang ada di antara kami? Selain atasan dan bawaham? Tidak ada lagi. Ah, ya, teman tapi mesra,’ ucap Breana dalam hari dan merasa geli dengan pemikirannya sendiri.

Tessa menyambutnya dengan senyum kecil tersungging saat melihat dia datang menggotong kardus. Saat ia melewati ruangan besar tempat para staf bekerja, semua mata memandang dari balik kubikel mereka. Sebagian tak peduli, meski beberapa di antaranya melongok ingin tahu.

“Ini mejamu,” tunjuk sang sekretaris pada meja besar dan kokoh yang berada tidak jauh dari meja Tessa.

Mereka punya ruangan sendiri yang berada persis di depan ruang direktur. Sebuah meja dengan permukaan dilapisi kaca dan empat kaki dari kayu hitam. Satu set komputer tersedia di sana. Breana duduk di atas kursi hitam yang bisa berputar dengan gugup. Mejanya mempunya laci yang bisa ditarik untuk meletakkan keyboard.

Dengan gemetar, ia meletakkan barang-barang di dalam laci. Terdengar suara Tessa yang sibuk menerima telepon. Tanpa sadar ia mengamati bagaimana sang sekretaris yang kini menjadi rekan kerjanya bergerak lincah, dari telepon ke notes dan mengetik sesuatu di komputer.

“Bre, aku sudah mencetak jadwal untukmu. Sebagai pelatihan, kamu hanya perlu menyiapkan keperluan pribadi Pak Direktur. Dari mulai mengecek air minum, cemilan, menyetel suhu ruang kerja dan menyiapkan semua peralatan yang dia butuhkan di kantor.” Tessa bangkit dari kursi dan menyerahkan selembar kertas pada Breana. “Ini daftar pekerjaan untuk seminggu. Setelah kamu bisa melewati training ini selama sebulan, aku akan

 menambah pekerjaanmu.”

Breana menerima selembar kertas dan membacanya, di sana tertulis makanan apa saja yang disukai Ben, di mana harus mendapatkannya. Termasuk juga merek dan jenis cemilan, permen dan air minum kemasan untuk direktur. Breana akan menempelkan jadwal ini di meja untuk mengingatnya.

“Apakah selama ini kamu bekerja sendiri ?” Tanya Breana. Wanita jangkung yang duduk di sebelahnya hanya tersenyum tipis. “Aku pernah punya asisten, sering malah tapi kebanyakan nggak tahan dengan temperamen Pak Direktur yang keras dan sistem kerja kami yang efesien. Mereka selalu berpikir, sekretaris itu pekerjaan mudah, dandan cantik dan senyum sana-sini.” Senyum merekah dari bibir Tessa yang dipoles sempurna dengan lipstik warna ping lembut. “Mereka lupa, bahwa ujung tombak dari segala kegiatan direktu atau pimpinan perusahaan ini adalah kita. Sekali kita salah melangkah atau melakukan sesuatu tanpa kordinasi, maka jadwal akan berantakan yang berarti berimbas ke perusahaan.”

Breana mengangguk.

“Ah ya, sekretaris yang terakhir aku yang pecat,” ucap Tessa dengan nada bangga.”

“Kok bisa?” tanya Breana bingung. “memecat bukannya hak pimpinan dalam hal ini Pak Direktur?”

Tessa menepuk dadanya. “Kali ini Pak Direktur pun setuju, bagaimana nggak kesal aku? Saat kami sibuk untuk mempersiapkan meeting dia sibuk melukis wajah iar syantik.” Kekesalan terlintas jelas di wajah Tessa. “dan terakhir yang paling fatal adalah, aku memergoki dia melepas celana dalam dan meletakkannya di dalam laci. Dan kebetulan hari itu dia tidak memakai bra.”

“Lalu?” tanya Breana ingin tahu.

“Dia bermaksud menggoda Pak Direktur, mengatakan dengan terus-terang padaku hanya karena malam sebelumnya, Pak Julian mengantarnya pulang. Brengsek!”

Breana tercengang, sungguh intrik antar pegawai di perusahaan membuatnya kaget. Matanya melirik ke arah Tessa dengan takut-takut, berharap tidak akan melakukan hal bodoh yang membuat wanita di sampingnya marah dan memberi alasan untuk memecatnya.

“Bre.” Tepukan di punggung membuat Breana terlonjak.

“Iya?”

“Aku harap kamu nggak bersikap kayak gitu, karena yang merekomendasikan kamu adalah Pak Julian.”

Breana mengangguk cepat, sekarang ia tahu kalau kepindahannya karena inisiatif Ben. Tentu saja ia berharap bisa melewati masa kerja di sini dengan tenang. Ia akan menjaga sikap untuk tidak menggoda Ben atau apa pun yang membuatnya terganggu, asal sang direktur juga menjaga tangannya.

Hari pertama kerja, Breana sudah sibuk dengan membantu Tessa mengatur jadwal, menyortir dokumen yang sudah dan belum ditandatangi direktur. Berbicara dengan beberapa pekerjaan saat makan siang dan ia tidak bertemu dengan Ben sekali pun. Laki-laki itu sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan sampai jam kerja berakhir, ia tidak melihat sang direktur.

Tessa adalah teman bekerja yang menyenangkan, bagi Breana yang terbiasa kerja dengan target, punya patner seseorang seperti Tessa adalah keberutungan. Tessa wanita yang handal, cekatan dan satu yang pasti, tidak genit seperti pekerja lain saat menghadapi Ben. Mungkin itulah yang membuat hubungan keduanya baik dan kompak.

Sepulang kerja, Breana mendapati anaknya sedang membuat PR ditemani oleh pengasuhnya. Seorang gadis berumur awal dua puluhan yang bersifat ceria bernama Yuni. Gadis pengasuh itu selain menjaga dan menemasi Nesya juga membantunya membersihkan rumah. Hanya satu yang tidak ia kerjakan adalah memasak.

Pukul sembilan malam, Yuni pamit pulang. Rupanya ia tetap tinggal di yayasan karena memang Ben menginginkan seperti itu. Selepas kepergian Yuni, Breana membasuh diri dan keramas. Ia sedang mengeringkan rambut dengan handuk saat bel pintu berbunyi.

Saat membuka pintu, ia kaget bukan kepalang mendapati Ben berdiri di depan pintu.

“Ben, mau ngapain malam-malam begini?”

Tidak menghiraukan pertanyaannya, Ben melangkah masuk dan duduk di sofa.

“Nesya ….” panggil Ben nyaring. Masih dengan sikap tidak mengindahkan Breana yang berdiri sambil berkacak pinggang di dekat pintu.

Tak lama Nesya muncul dari dalam kamar dan menghambur dalam pelukannya.

“Papa Ben. Ada bawa burger buat Nesya, nggak?”

Pertanyaan gadis kecil dalam pelukannya membuat Ben mengernyitkan dahi. “Memangnya kamu mau makan burger?”

Nesya mengangguk kencang. “Mau.”

“Baiklah, nanti Papa beliin. Besok, ya?”

“Janji?”

“Janji.” Keduanya saling mengaitkan kelingking.

Breana menatap bingung pada keduanya, matanya mengawasi sang anak yang terlihat manja dan pada Ben dengan penampilannya yang rapi. Laki-laki itu sepertinya pulang kerja langsung kemari. Ia ingat jika sang direktu memang seharian rapat di luar hari ini.

“Apa kamu mau makan atau minum sesuatu?” tanya Breana dengan nada lembut. Hatinya tergerak melihat gurat kelelahan di wajah Ben.

“Aku belum belanja, bagaimana kalau kubeliin nasi goreng di luar? Ada satu yang enak masakannya.

“Aku memang belum makan. Tadi sempat terpikir beli sesuatu tapi lupa.” Perkataan yang diucapkan Ben membuat Breana menarik napas. Sepertinya lebih dari seminggu mereka tak bertemu dan entah kenapa, jauh di lubuk hatinya ia senang dengan kedatangan Ben.

Ben mendongak dari kesibukannya menggelitik pinggang Nesya. Mengamati Breana dengan celana pendek ketat dan kaos oblong dan rambut basah. Terlihat menggiurkan untuk disergap. Merasa mengutuk diri karena merasa bodoh dengan pemikirannya sendiri.

“Bisakah sekalian beliin aku kaos, celana pendek dan celana dalam?”

“Buat apa?” tanya Breana heran.

“Buat aku pakai, aku mau nginap tapi lupa bawa baju ganti.”

“Hei,” teriak Breana sambil berkacak pinggang. “Memangnya boleh apa kamu sering-sering nginap di sini? Apa kata tetangga?”

Ben tersenyum kecil. “Nggak ada tetanggamu yang lihat aku datang. Percaya Bre, para penguni rusun ini terlalu cuek untuk mengurusi orang lain.”

Mau tidak mau Breana membenarkan perkataan laki-laki yang kini sibuk mencopot sepatu dan kaos kaki dengan anak perempuan berceloteh riang di sampingnya. Breana melihat jika penampilannya tidak cocok untuk dipakai turun. Ia memutuskan mengganti celana pendek dengan rok yang panjangnya di bawah lutut.

“Berapa ukuran celanamu?” tanyanya dengan tangan sibuk merapikan dompet.

Tidak ada jawaban, Breana mendongak dan melihat Ben memandanganya sambil mengangkat sebelah alis. “Bukannya kamu tahu ukuran celanaku?”

Breana melongo. “Dari mana aku tahu?” tanyanya bingung.

Ben melirik ke arah Nesya yang berlari masuk ke dalam kamar. Lalu berdiri untuk menghampiri Breana yang tertegun di depan pintu.

“Bre, bukannya kamu pernah lihat isi celanaku?” ucap Ben pelan di kuping Breana dan membuat wanita di depanya menarik napas panjang.

“Jangan ungkit-ungkit masa lalu,” tangkis Breana sengit.

“Masa lalu dan masa sekarang yang membedakan hanya Nesya. Bagaimana kalau kita masuk ke kamar mandi berdua jadi kamu bisa ukur celanaku.”

Breana mendengkus dan Ben hanya tersenyum. Keduanya berdiri berdekatan di dekat pintu. Dari tempatnya berdiri, Ben bisa mencium aroma sampo dan sabun mandi dari tubuh wanita di depannya. Tanpa sadar tangannya terulur untuk mengelus wajah Breana.

“Ukuran L, ” ucap Ben pelan dan tanpa disangka mendaratkan kecupan di bibir Breana. “Sana, pergilah! Lama-lama di sini aku jadi kuatir nggak bisa jaga diri.”

Sedikit memaksa, Ben membuka pintu dan mendorong tubuh Breana keluar dan menutuop pintu. Saat membalikkan tubuh ia melihat Nesya berdiri di depan pintu. Mata gadis kecil itu melotot bingung.

“Hai, mana buku gambarmu?”

“Ini,” ucap Nesya mengacungkan buku gambar dan krayon di tangannya. Berlari mengampirinya lalu mereka duduk berdampingan di ruang tamu dengan Ben mengawasi anaknya memberi warna pada gambar-gambar binatang.

Rumah sunyi, tidak ada TV yang menyala. Sesekali terdengar suara tawa atau derum kendaraan yang melintas dari bawah. Entah bagaimana, Ben merasakan dirinya bahagia saat mendengarkan celoteh Nesya. Lebih bahagia dari pada saat pertama kali tendernya berhasil. Beginikah rasanya jadi orang tua? Merasa senang saat anaknya senang dan merasa pilu saat anaknya sedang kesusahan? Pikiran Ben tanpa sadar mengembara pada Breana dan pengorbanan wanita itu saat tahu anaknya sekarat. Tanpa sadar Ben mendesah, merasa tolol dan tak berguna.

Handphonenya di atas meja bergetar, sebuah pesan dari Amanda masuk.

“Jangan lupa, malam Minggu kita ada undangan makan malam dengan Dimas. Kutunggu jemputanmu jam tujuh malam.”

Ben terdiam dengan handphone di tangan. Tercabik perasaan antara Amanda sang tunangan dengan Breana, wanita yang mempunyai separuh hatinya. [bersambung ke titiktemu berikutnya]

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…