#Into_You – #Part_12

*

“Syukurlah, Nesya pulih dengan cepat.” Breana mengusap kepala anaknya yang lembab.

“Dia gadis yang pintar.” Ben tersenyum menyetujui.

Mereka duduk di deretan kursi plastik yang disediakan di apotek. Sementara menunggu obat selesai disiapkan. Breana menyuapi anaknya makan cemilan dengan Ben duduk di sampingnya memperhatikan. Sabtu siang, banyak pengunjung yang datang ke rumah sakit. Membuat mereka sempat mengantre cukup lama untuk bertemu dokter.

Sepanjang waktu menunggu, Ben mengajak anak perempuannya bercakap dan bermain. Dan, membuat gadis itu cukup sibuk hingga tidak ada keinginan untuk rewel meski sedang mengantre. Ben bahkan tidak memedulikan tatapan bingung yang diarahkan Breana padanya. Juga perasaan sayang yang ia tujukkan untuk anaknya, meski baru saling mengenal tapi keakraban timbul di antara mereka. Begitu pula saat di ruang dokter, lebih banyak dirinya yang bicara tentang kondisi Nesya dari pada Breana. Wanita itu hanya mendengarkan apa yang ia bicarakan dengan sang dokter, terkadang hanya memandang dengan matanya yang besar.

“Kamu bisa pulang ke rumah, kalau mau. Kami bisa pulang sendiri,” saran Breana.

Ben tidak menjawab, meluruskan kakinya dan menyandarkan punggung pada kursi. Berusaha untuk membuat nyaman dirinya sendiri dan bersikap seolah-olah tidak mendengar gerutuan wanita di sampingnya. Tangannya terulur untuk menyolek dagu Nesya dan membuat gadis kecil itu terkikik.

“Ben,” tegur Breana sekali lagi.

Ben menggeliat di kursinya. “Aku akan pulang kalau ingin pulang, nggak usah sok sibuk mengusirku.”

Jawabannya membungkam mulut Breana. Wanita itu mendesah pasrah dan kembali menyuapkan cemilan ke mulut anaknya. Tidak lama, seorang apoteker memanggil nama Nesya. Belum sempat ia bereaksi, Ben sudah bangkit lebih dulu dari kursi dan menghampiri loket. Sepuluh menit kemudian, dengan obat di tangan Ben mengajak mereka pulang.

“Sini, biar aku saja yang menggendong Nesya. Kamu bawa obat dan tas.” Ben meraih anaknya dari pangkuan Breana, bersamaan dengan tangan Nesya yang terkembang penuh harap.

Mereka berjalan beriringan menuju pintu keluar, berpapasan dengan banyak pengunjung. Saat di lobi rumah sakit yang ramai, sebuah suara yang feminim memanggil-manggil nama Ben. Baik Ben mau pun Breana yang mendengar, celingak-celinguk mencari sumber suara dan mata mereka menatap pada sosok Amanda yang melangkah gemulai mendekati mereka.

Seketika, Breana merasa gugup. Tangannya saling meremas, matanya melirik Ben yang berdiri tenang dengan Nesya di dalam gendongannya.

Sesaat, Amanda terpaku, menatap bergantian antara Ben, Breana dan ke Nesya yang menggelayut manja ke pundak calon suaminya. Matanya menyorotkan kebingungan tentang apa yang ia lihat. Dari wajahnya jelas terpeta tentang dugaan perihal hubungan orang-orang yang berdiri di depannya.

“Ben, kenapa kamu di sini? Siapa mereka?” tanya Amanda bingung. Dia menatap Breana yang berdiri menunduk dengan tangan saling meremas.

Ben tersenyum kecil. “Hai, Sayang. Kok ada di sini?” Dia bertanya balik.

Amanda menunjuk belakang punggungnya dengan jempol. “Ada teman yang sakit, aku bersama yang lain datang ingin menjenguk. Jadi, siapa mereka?” cecarnya tidak mau dialihkan.

Ben melirik Breana dan mengusap kepala Nesya yang bersandar di bahunya. “Dia Breana, anak buah di kantorku dan ini Nesya, anaknya.”

“Oh, lalu? Kenapa kalian di sini?” tanya Amanda sekali lagi.

“Nesya kecelakaan dan sudah kewajiban untukku menolong. Kebetulan hari ini ada chek-up dokter.”

Amanda mengernyit. “Dan kamu seorang direktur mengantar sendiri anak pegawaimu yang sakit? Hebat sekali mereka?” sindir Amanda pedas.

Breana merasa kuatir sekarang, ia tak mau ada perang mulut di rumah sakit. Ia sadar posisinya tidak menguntungkan sekarang.

“Maaf, Nona,” ucap Breana pelan. “ini karena kesalahan saya. Dan Pak Direktut hanya ingin menolong kami para pegawainya.” Tangannya meraih Nesya dan menggendongnya kembali. Untunglah gadis kecil itu sedang mengantuk dan mudah saja bagi Breana menutupi wajah anaknya dengan rambut si anak yang terurai. Ia tidak ingin Amanda menyimpan dugaan dan kecurigaan saat melihat wajah Nesya.

Sepertinya Ben tidak ada pilihan lain, dia membiarkan Breana mengambil alih Nesya dari gendongannya. Sekarang ia berdiri menatap tunangannya yang berdiri anggun dan melirik Breana yang terlihat gugup.

“Silahkan, dilanjutkan pembicaraannya. Saya pulang dulu, maaf,” pamit Breana pelan. Ia membalikkan tubuh dan berniat pergi dari lobi secepat mungkin.

“Bre.” Suara Ben menghentikan langkahnya. “Tunggu aku di parkiran, ada resep yang harus ditebus di tempat lain.” Breana menarik napas dan mengangguk lalu tanpa menoleh lagi meninggalkan lobi.

Sementara Amanda dengan tangan bersendekap memandang tunangannya. Pakaian yang dikenakan Ben kali ini tidak seperti biasanya yang selalu rapi dengan berkemeja. Hari ini, laki-laki tampan yang ia cintai hanya memakai kaos oblong hitam yang menonjolkan tubuhnya yang kekar dan celana jin. Mau tidak mau, dalam hati Amanda mengakui kalau Ben terlihat lebih gagah, lebih tampah dan lebih hidup.

“Ben, apa hubunganmu dengan ibu si anak?” tanya Amanda pelan. “dan, bisakah kita mengobrol di kafe atau tempat yang lebih layak untuk mengobrol?”

Ben tersenyum, tangannya terulur untuk mengelus pundak Amanda. “Aku nggak bisa sekarang, harus mengurus mereka dulu. Kalau kamu mau, kita bicara di rumahku besok malam.”

Amanda mengembuskan napas kesal, memandang Ben dengan tatapan marah. “Kamu lebih memilih mereka dari pada aku?”

“Manda, Please? Jangan melebih-lebihkan,” ucap Ben pelan. “Kita bicara besok malam, penting. Dan jangan di sini.” Tangan Ben mengelus pipi Amanda yang mulus tak tercela. “Aku harus pergi, sampai ketemu besok malam.” Ben membalikkan tubuh dan meninggalkan tunangannya yang berdiri geram.

Amanda menatap punggung Ben di antara orang-orang yang berlalu lalang di pintu masuk. Ia tak percaya jika dirinya ditinggalkan demi seorang wanita dan anaknya. Ia tka kenal siapa mereka dan kedekatan sang tunangan dengan mereka membuat rasa penasarannya bangkit.

“Aku akan mencari tahu tentang mereka, pasti. Tega sekali kamu, Ben,” gumam Amanda di sela rasa marah karena diabaikan. Matanya menyorot penuh dendam sebelum salah seorang temannya yang sedati tadi menunggu, menepuk punggungnya dan menyadarkannya dari amarah yang meluap.

Ben yang berjalan dengan langkah lebar di antara keramaian tak kalah bingung. Pertemuan tak sengaja dengan Amanda sedikit banyak mengguncang hatinya. Tadinya, ia akan menceritakan secara baik-baik perihal Nesya sebelum mereka menikah. Agar kelak tak timbul perselisihan di kemudian hari. Kini, situasi berubah. Ia tak bisa menyimpan rahasia tentang masa lalunya lebih lama.

Matanya menemukan Breana yang berteduh di bawah pohon tak jauh dari tempat mobil Ben terparkir. Panas yang menyengat sepertinya membuat Nesya tidak nyaman. Bisa didengar rengekan gadis kecil itu saat ia melangkah menghampiri mereka.

“Ayo, masuk mobil. Panas di luar,” perintah Ben pada mereka.

Breana tergesa masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Ben yang sudah menghidupkan mesin dan menyalakan AC untuk mendinginkan mobil.

Nesya masih merengek, entah apa yang dia minta. Dengan sabar, Breana menimangnya. Mengusap keringat, memberikan minum dari dalam botol. Saat mobil meluncur meninggalkan rumah sakit, Nesya mulai tertidur di lengan sang mama.

Hening, tak ada percakapan. Breana menatap jalanan dengan nanar dan tak sekali pun berniat untuk membuka percakapan dengan Ben. Ia membiarkan laki-laki itu mengembara dengan pikirannya sendiri. Entah bagaimana ia tahu, kalau Ben sedang tidak ingin diganggu. Sepertinya ia mengerti, jika pertemuan tak sengaja mereka dengan Amanda, sedikit banyak mempengaruhi perasaan laki-laki di belakang kemudi.

Saat mencapai rumah, Breana membaringkan Nesya di ranjang dan menyalakan televisi untuknya. Ia berniat membantu Ben membereskan barang-barang laki-laki itu sebelum pulang. Nyatanya, bukan melihat Ben merapikan pakaian justru melihatnya rebahan di atas sofa.

“Bukannya mau pulang?” tegur Breana bingung.

Ben memandangnya sekilas sebelum menutup mata dengan lengan. “Siapa bilang aku mau pulang, malam ini mau nginap lagi.”

Breana terbelalak. “Hei, mau nginap sampai kapan?” tanyanya tanpa mengabaikan sopan-santun.

“Besok malam pulang, toh ini malam Minggu.”

Percuma berdebat dengan Ben, nyatanya meski Breana mengomel laki-laki itu tidak beranjak dari sofa. Justru sekarang terlihat rileks sampai akhirnya tertidur.

Dengan terpaksa, Breana pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan yang akan dimasak untuk makan malam. Saat mendapati kulkasnya kosong melompong.

Ini pertama kalinya, dia kedatangan tamu yang menginap hingga dua malam. Sebelumnya tidak pernah ada orang yang pernah menginap di rumah mereka. Breana terpaku di lorong sayuran supermarket, bingung harus memasak apa untuk Ben. Jika hari-hari lalu hanya berdua dengan anaknya, dia terbiasa masakan rumahan yang sederhana. Kali ini ada ketakutan jika masakannya tidak akan cocok untuk lidah Ben.

“Ehm … bukannya semalam dia makan bubur pakai telur ceplok juga jadi?” gumam Breana sambil menimang daging di tangan. Uangnya tersisa tidak banyak, kalau dipakai untuk membeli daging demi Ben maka tidak ada uang tersisa untuk hal lain.

Setelah menimbang banyak hal, akhirnya Breana memutuskan untuk membeli telur sekilo, dua buah tuna kalengan dan sayur buncis. Ia mendesah pasrah seandainya mendengar kata bosan dari mulut Ben karena harus makan telur lagi. Setidaknya, ia sudah berusaha menjadi tuan rumah yang baik meski terpaksa.

“Apa kamu memerlukan uang?” tanya Ben saat mereka selesai makan malam. Ia bersandar pada wastafel dan mengamati Breana yang sibuk membersihkan dapur.

“Buat apa?” tanya Breana sambil menegakkan tubuh. Tangannya sibuk mengelap kompor dengan kanebo kuning.

Ben mengangkat sebelah alis. “Untuk biaya hidup tentu saja, sudah satu bulan ini kamu nggak kerja.”

Breana tidak menjawab tawaran Ben. Memang selama satu bulan tidak bekerja membuat uang tabungannya menipis, terlebih harus saat anaknya kecelakaan. Tapi ia merasa belum separah itu sampai harus mengandalkan bantuan keuangan dari orang lain.

“Aku belum perlu, toh bentar lagi kerja,” ucap Breana. Ia melangkah menuju westafel dan mendorong minggir tubuh Ben yang menutupi kran air.

“Lalu, dari mana kamu akan mendapatkan ongkos dan biaya hidup selama sebulan ke depan?”

Suara air mengucur dari kran ditimpa dengan suara televisi yang diputar kencang oleh Nesya di ruang tamu, membuat percapakan keduanya terputus. Ben mengamati penampilan Breana yang terlihat sederhana dengan daster yang warnanya sudah mulai memudar. Matanya mengamati bagaimana kain tipis itu tidak dapat menyembunyikan tubuh Breana yang berlekuk. Dadanya masih tetap terlihat menonjol dengan bokong yang sexy. Tangannya hanya perlu terulur untuk melihat apakah di balik daster, wanita itu memakai celana dalam atau tidak.

“Aku masih punya simpanan emas, mungkin nanti aku jual.” Jawaban Breana mengacaukan pikiran erotis Ben.

“Begitu? Kupikir kamu akan meminta bantuan pada mantan suamimu.”

Breana tidak menjawab, mendadak sesuatu terlintas di pikirannya. “Kamu belum mengatakan padaku, siapa yang mencuri uang perusahaan?”

Ben mendengkus, wajahnya terlihat kesal. Tangannya menyugar rambut asal-asalan.” Teman satu departemen denganmu tentu saja.”

Mata Breana membulat. “Oh ya, siapa?”

“Vigo.”

Breana terbelalak, tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ben. Vigo yang baik hati dan ramah ternyata adalah orang yang ingin mencelakannya.

“Lalu, bagaimana dia sekarang? Untuk apa uang itu?”

“Untuk berobat sang ibu dan Vigo, di dalam penjara menunggu keputusan pengadilan.”

“Ibunya?”

“Ada perusahaan yang membantu, bagaimana pun kami tidak sekejam itu.”

Breana mengangguk kecil, entah kenapa meski marah pada Vigo tapi ia merasa kasihan. Bagaimana pun ia merasakan juga penderitaan saat salah seorang keluarga kita sakit. Ia merasakan hal yang sama saat anaknya terbaring di rumah sakit.

“Kasihan,” gumam Breana tanpa sadar.

“Jangan bilang kamu kasihan pada Vigo karena dia pernah naksir kamu!” ketus Ben.

Perkataan Ben membuat tangan Breana yang sedang membasuh kanebo terhenti sejenak. Ia berpikir langkah bijaksana untuk tidak mengungkit perihal perasaan simpatinya pada Vigo di depan Ben yang sudah susah payah membersihkan namanya.

“Apa kamu yakin nggak mau pulang malam ini?” tanya Breana mengalihkan pembicaraan. Matanya memandang Ben yang berdiri mematung di dekat kulkas.

“Kenapa kamu terlihat nggak sabar buat ngusir aku, apa aku bikin kamu nggak nyaman?” tanya Ben balik.

Breana mengangkat bahu. “Bukan aku yang nggak nyaman tapi. Lihat, kan, di sini kami serba kekurangan. Beda dengan rumah kalian yang pasti lengkap dengan fasilitas.” Selesai mengucapkan itu, Brean menunduk di atas wasteafel. Menuang sedikit cairan pembersih di dalam bak cuci piring dan mulai menggosok bagian dalamnya untuk menghilangkan lemak. Ia berjengit saat sebuah lengan yang kokoh melingkari pinggangnya.

Untuk sesaat tubuhnya menegang. Ben berdiri persis di belakangnya dengan mulut berada di bahunya. Ia bahkan bisa merasakan napas laki-laki itu yang panas di lehernya.

“Lepaskan aku, ada Nesya,” bisik Breana berusaha berkelit.

“Dia tertidur sepertinya,” jawab Ben pelan. “lanjutkan pekerjaanmu, aku nggak akan ganggu.”

“Bagiamana mungkin kamu nggak menganggu kalau tanganmu ada di sana?” protes Breana lemah.

“Di mana?” bisik Ben sensual. “Di sini maksudmu?” Dan Ben membuktikan pertanyaannya saat tangannya menyentuh bagian depan tubuh Breana. Mula-mula perut lalu naik ke atas hingga mencapai dada. Bukan sebuah rabaan yang panas hanya berupa sentuhan ringan yang sensual. Sementara panas tubuhnya melingkupi Breana dan membuat wanita itu tercekat.

“Ayo, teruskan pekerjaanmu?” bisik Ben di sela tangan-tangannya yang bergerak lihai, kini bahkan merayap hingga ke leher Breana yang jenjang.

Breana menarik napas panjang, kembali menggosok bak cuci piring dan berusaha mengabaikan laki-laki di belakang tubuhnya. Ia berusaha tak peduli saat laki-laki itu menyentuh lembut dadanya atau meniup lehernya. Ia juga bergeming saat merasakan jari jemari lentik bergerak liar di lengannya yang telanjang.

Saat bak cuci piring selesai dibersihkan dengan kucuran air dari kran, Ben melepaskan pelukannya. Breana berbalik dan mendapai laki-laki itu tersenyum mesum ke arahnya.

“Tadi aku hanya ingin mengecek, apakah kamu memakai sesuatu di balik dastermu. Ternyata memang kamu pakai bra dan celana dalam.”

“Dasar mesum,” desis Breana dan melemparkan spon cuci piring ke arah muka laki-laki di deapnnya.

“Hei, jangan salahkan aku. Dastermu yang tipis membuat orang bertanya-tanya. Apalagi sekarang saat bagian depan basah.” Dalam tiga langkah, Ben kembali berdiri di depan Breana. Tangannya menyusuri bagian depan daster dan terhenti saat si pemilik tubuh menepiskan tangannya. “Sepertinya, puncak dadamu menegang. Entah karena sentuhanku atau karena air?”

Breana mengentakkan kaki ke lantai dan memandang dengan seba,l saat Ben melangkah meninggalkannya menuju sofa ruang tamu. Kini, laki-laki itu duduk bersebelahan dengan Nesya yang sepertinya sedang tertidur.

Malam kedua Ben menginap di rumahnya, tidak ada lagi insiden ciuman karena Breana memperingatkan dirinya untuk tidak mendekati sofa. Saat terbaring di ranjang, ia memutar kembali kejadian erotis di depan westafel. Masih bisa ia rasakan tangan-tangan Ben yang bergerak lincah di tubuhnya. Seringkali, Breana mengutuk dirinya sendiri karena tidak kuasa menolak pesona laki-laki itu. Enam tahun sudah berlalu dan ia masih sering merasa jatuh cinta seperti saat mereka bertemu di kereta dulu. Akhirnya, ia tertidur dengan pikiran mengembara pada masa lalu.

“Kamu mau kemana Bre, malam-malam begini mana ada kereta api ke Jawa?” ucap Anton sesaat setelah mereka mencapai stasiun. Malam itu, saat Breana memutuskan kabur dari rumah, Antonlah yang menjemput dan mengantarnya ke stasiun.

“Terpaksa aku nunggu sampai besok pagi,” jawab Breana, memandang stasiun yang sepi denga kuatir. Ia merasakan bahunya pegal karena menggendong ransel berusi baju. Sedangkan di dompet tidak banyak uang tersisa. Harapan satu-satunya hanya sang nenek yang akan menyelamatkannya.

“Kamu pikir aku tega gitu ninggalin kamu sendirian di sini?” Kali ini Anton yang mengamati keadaan di stasiun yang sepi.

Mereka berdua berdiri di pinggir jalan, tepat di depan stasiun yang sepi. Tidak banyak orang yang berlalu lalang kecuali beberapa tukang ojek yang sepertinya sedang menunggu penumpang yang turun dari kereta malam.

“Sebenarnya ada apa, sih? Beberapa waktu kamu nggak ngasih kabar lalu mendadak SMS minta dijemput? Dan, kamu sudah punya handphone baru?”

Breana mengangguk. “Handphone bekas, beli dari tetangga.”

Lelah berdiri, Breana duduk di pagar pembatas jalan. Anton memarkirkan motor dan ikut duduk di sampingnya. Mereka terdiam, memandang jalanan yang tidak pernah sepi dari kendaraan. Pantas saja jika ada yang bilang kalau Jakarta tidak pernah tidur. Jam dua dini hari dan masih saja banyak kendaraan bersliweran.

“Bre? Kok malah bengong?”

Breana tersentak, mengembuskan napas panjang dan mulai bicara dengan wajah menunduk menatap aspal. “Aku hamil.”

Sepi, tidak ada jawaban dari Anton.

“Apa tadi kamu bilang?” tanya Anton perlahan, tidak yakin dengan apa yang didengarnya.

“Aku hamil, Anton,” tegas Breana. “Jangan tanya siapa ayah dari anak ini dan inilah alasan kenapa aku mengajak putus. Karena aku nggak mau kamu kena aib dari apa yang sudah kulakukan.”

Sekali lagi keduanya terdiam. Dua anak muda duduk berdampingan di pagar pembatas jalan. Dengan wajah Breana menekuk di antara lutut sementara wajah anak laki-laki di sampingnya pucat pasai bagai dihantam tinju.

“Kamu serius, Bre?”

Brena tidak menjawab. Membiarkan Anton mengartikan sendiri sikap diamnya. Ia merasa sangat lelah menghadapi pertanyaan demi pertanyaan dari keluarganya dan kini tak mau lagi menghadapi tuduhan dari Anton.

“Apa kamu diperkosa?” tanya Anton takut-takut.

Kali ini Breana menegakkan wajah dan menggeleng kuat. “Tidak, kami lakukan atas dasar suka sama suka.”

“Lalu, kenapa kamu nggak minta dia tanggung jawab? Siapa bajingan itu? Tega ninggalin kamu sendirian!” ucap Anton penuh emosi.

Brena menoleh, memandang Anton yang wajahnya terlihat memerah karena marah. Terselip perasaan iba dan bersalah di hati Breana, karena memanggil Anto hanya saat diperlukan.

Dari dulu Breana berusaha selalu mencari tahu apa yang salah dengan dirinya, hingga tidak mampu mencintai laki-laki sebaik Anton. Sering kali ia mengutuk keras hatinya yang tidak bisa diajak kompromi. Bukankah dicintai itu menyenangkan? Apalagi oleh orang yang penyayang seperti Anton, tapi entah kenapa hatinya tak pernah tergetar sedikit pun oleh kebaikan yang diberikan pemuda di sampingnya.

Breana menarik napas, berpikir bahwa setidaknya ia pernah mencoba untuk mencintai Anton dengan setuju untuk menjadi pacar Anton. Pertemuan dengan Ben mengacaukan segalanya.

“Bre, di mana laki-laki itu?” Pertanyaan dari Anton menggedor pikiran Breana.

“Nggak ada, dia menghilang!” ucap Breana pelan, ditelan gelap malam dan semilir angin saat akhirnya ia memutuskan untuk membatalkan niatnya pergi ke rumah sang nenek dan mengikuti Anton.

Laki-laki yang sebaya dengannya, rela mengorbankan masa muda demi menikahinya. Setelah menikah, Breana mencari kerja di kantor ekpedisi sebagai staf dengan gaji minim. Ia menabung demi kelahiran sang bayi. Ia tahu Anton sudah banyak berkorban demi dia. Bahkan rela menentang keluarganya sendiri. Karena itulah, Breana selalu menyimpan perasan berhutang budi pada laki-laki itu.

Keesokan paginya, saat Breana bangun dari tidurnya yang tak nyenyak, ia mendapati Ben sudah tidak ada di tempat. Laki-laki itu meninggalkan rumahnya tanpa berpamitan. Dengan lega ia berbalik menuju kamar mandi dan tertegun menatap meja makan. Ada setumpuk uang di sana beserta sebuah catatan dengan tulisan tangan yang ia kenal sebagai tulisan Ben.

“Pakai uang ini untuk keperluanmu, akan kupotong dari gajimu nanti.”

Breana berdiri termangu dengan uang yang jumlahnya tak sedikit di tangannya.

*

Para pelayan menyambut kepulangannya dengan gembira. Setelah dua malam tidak pulang ke rumah tanpa kabar, Ben mendapati jika pekerja di rumahnya sangat kuatir. Seorang koki yang juga merupakan pelayan paling lama yang bekerja di rumahnya mengatakan akan menelepon papa dan mamanya jika Ben tidak juga pulang di hari ketiga. Dan koki yang merupakan laki-laki setengah baya dengan rambut gondrong dikuncir ekor kuda menyatakan, dia senang tidak harus melaporkan kepergian sang tuan tanpa pamit pada keluarga atau polisi.

Setelah berbicara pada para pelayan, Ben berbaring di atas ranjang dengan kasur yang empuk. Berbeda dengan sofa di ruang tamu milik Breana yang sempit dan keras, memang jauh lebih nyaman berbaring di atas ranjangnya sendiri. Namun, entah kenapa ia merindukan suasana rumah di rusun kecil itu.

Handphone yang ia letakkan di atas ranjang bergetar. Dengan malas ia mengangkatnya dan mendapati nama Amanda tertera di layar. Sebuah pesan singkat ia terima dari sang tunangan.

“Aku akan datang pukul tujuh.”

Tanpa antusiasme yang memadai, ia menjawab ‘oke’ dan kembali meletakkan handphone ke atas ranjang.

Ben menggeliat dan memiringkan tubuh. Menatap jendela kamarnya dengan gorden terbuka dan menunjukkan pemandangan taman yang sejuk. Pikirannya tertuju pada Amanda dan pertemuan mereka nanti malam.

Tanpa sadar ia mendesah, jika memang sudah waktunya berterus-terang pada wanita itu. Dia tidak dapat menyembunyikan lama-lama perihal hubungannya dengan Breana dan Nesya. Ia tidak tahu apa dan bagaimana reaksi Amanda, bisa jadi wanita itu akan memutuskan hubungan dengannya atau mungkin bersedia menerimanya dengan segudang masa lalunya. Ben tidak tahu dan tidak dapat menduga.

Pukul enam sore, saat ia baru saja selesai mandi, sebuah panggilan masuk ke handphonenya. Suara Amanda yang histeris terdengar dari ujung telepon.

“Ben, cepatlah datang. Papa terkena serangan jantung. Bagaimana ini? Been, aku takut!”

Ben terperangah kaget. “Jangan panik, Manda. Panggil ambulan dan bawa papamu ke rumah sakit, aku menyusul sekarang.”

Setelah berganti baju dengan celana dan kaos, Ben memacu mobilnya menuju rumah sakit yang menjadi tempat rujukan Pak Adiyaksa dirawat.

Di ruang UGD, Ben mencari sosok Amanda dan mendapati wanita itu terlihat pucat memandang sang papa yang terbaring di ranjang.

“Manda, bagaiman kabar papamu?” Ben menyapa pelan sambil menyentuh bahu tunangannya.

Amanda menoleh, memandang Ben dan mengambur ke dalam pelukan laki-laki itu. “Papaku harus dirawat, Ben.”

Untuk sesaat, Ben membiarkan Amanda menumpahkan tangisan di bahunya. Hatinya terketuk saat melihat sang calon mertua didampingi oleh istrinya, terbaring lemah di ranjang. Dalam hati Ben berkata, jika pemberitahuan rahasia perihal Breana dan Nesya harus diundur lebih dulu. Sangat tidak bijaksana jika harus menambah beban Amanda dengan pembicaraan tentang Breana dan anaknya. [bersambung ke titiktemu berikutnya]

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Gendhis Ayu – #Part_10/18

Bu Harjo menghambur ke pelukan Nawang, didekapnya Nawang dengan erat seolah dirinya telah lama tak bersua dengan gadis cantik ini. Sejenak suasana haru dan bahagia menyelimuti warga yang ada dipendopo itu…

Gendhis Ayu – #Part_09/18

Dari jauh terlihat seorang wanita tua tengah duduk dikursi rotan yang telah menghitam di teras sebuah rumah kecil.. Bibirnya mengepulkan asap, mata sipitnya yang cekung termakan usia memandangi Galih dan Ajeng bergantian..

Memilih Bidadari – #Part_11/11 (TAMAT)

Rumi membantu menyiapkan baju yang akan dibawa Arfan ke luar kota selama seminggu. Sebenarnya sudah biasa ia akan ditinggal selama itu. Namun karena tiga hari ini wajahnya mendung gegara kejadian terima kunci mobil dari Arini kemarin, Rumi agak tak enak melepasnya…