#Into_You – #Part_11

Suara bel pintu mengusik Breana yang sedang sibuk membuat bubur. Ia menengok jam di dinding dan sedikit merasa heran. Sore jam lima, tidak biasanya ada orang bertamu jam segini. Matanya melongok ke dalam bubur yang belum sepenuhnya lembek, berdecak karena merasa menyesal harus mematikan kompor. Tangannya mengaduk sekali lagi sebelum mematikan api lalu mencuci tangan di westafel dan meraih selembar tisu untuk mengeringkan tangan.

‘Mudah-mudahan yang datang bukan, Anton,’ pikir Breana suram. Ia merasa sudah cukup banyak yang dilakukan laki-laki itu untuknya. Seharian ini ia menerima banyak sekali pesan dari Anton yang intinya menawarkan bantuan keuangan dan ia menolaknya.

Seorang wanita cantik berseragam guru warna coklat dengan rambut disanggul menatapnya di depan pintu. Si wanita dengan tahi lalat kecil di dagu dan kulit kuning langsat, tersenyum kecil saat melihatnya.

“Apa kabar, Bre?” Dia menyapa ramah, seakan sudah mengenal Breana dengan akrab.

Breana melongo, memandang tamu yang mengunjunginya. Sedikit tergagap saat terdengar sapaan untuknya.

“Mbak Sukma? Ada apa?” tanya sadar dia bertanya dan seketika merasa bodoh saat melihat Sukma terseyum.

“Boleh, aku masuk?”

Breana mengangguk, membuka pintu lebar-lebar. “Silakan masuk.”

Ia meraba dadanya yang seketika berdebar dan masuk ke dalam rumah mendahului sang tamu. Dalam hati berpikir jika tidak biasanya Sukma yang selalu jutek padanya kini datang dengan penuh keramahan. Pasti ada sesuatu yang terjadi. Firasat Breana mengatakan, kedatangan sang guru berhubungan dengan Anton yang merupakan tunangan Sukma.

Dengan sigap tangannya meraih boneka, kain panjang yang biasa digunakan anaknya untuk menggendong, dan beberapa jenis mainan yang terserak baik di atas sofa mau pun lantai. Setelah mengembuskan napas panjang untuk menenangkan diri, Breana menegakkan tubuh dan melihat tamunya duduk santai di sofa kecil.

“Maaf, rumahnya berantakan.”

Sukma tersenyum. “Santai saja, punya anak kecil memang begini.”

Breana mengangguk, meletakkan mainan ke dalam keranjang di pojok ruangan lalu bergegas menuju kulkas kecil di samping meja makan dan mengambil dua buah air mineral dalam gelas plastik beserta sedotannya dan meletakkannya di atas meja ruang tamu.

“Maaf, cuma bisa menjamu air.”

Sekali lagi Sukma tersenyum penuh pengertian. “Duduklah, Bre. Aku ingin bicara.”

Breana mengangguk dan duduk di seberang Sukma. Tangannya terulur untuk merapikan anak rambut yang menutupi wajahnya yang berkeringat. Ia sudah menguncir rambut tapi keadaan rumah memang panas apalagi saat memasak. Membuat titik-titik keringat jatuh ke wajah.

“Ada yang bisa aku bantu, Mbak?”

Sukma merogoh tas hitam berukuran agak besar yang sedari tadi dia pegang. Mengeluarkan sebuah amplop dan meletakkannya di atas meja.

“Apakah anakmu sudah sembuh?”

“Sedang masa pemulihan.”

“Bagaimana luka-lukanya?”

Breana tersenyum kecil. “Tidak ada sesuatu yang perlu dikuatirkan.”

“Syukur deh, kalau begitu aku bisa minta tolong dengan tenang.”

“Maksudnya, Mbak?” tanya Breana heran pada Sukma yang sedari tadi tidak berhenti tersenyum.

Wanita di depannya masih menyunggingkan senyum, dengan tangan memainkan rambutnya. Matanya tak berhenti melirik keadaan ruang tamu, seakan-akan dia berharap menemukan sesuatu.

Seakan sadar jika sudah mengamati terlalu lama, Sukma mengalihkan pandangannya ke arah Breana dan berkata pelan. “Kamu tahu kan, aku sama Mas Anton akan menikah nggak lama lagi?”

Breana mengangguk.

“Kami membutuhkan biaya yang tak sedikit, maklum aku adalah anak tertua dan sudah seharusnya diadakan pesta yang meskipun tidak besar tapi meriah.”

Sukma tertawa lirih, sepertinya bicara tentang pernikahan membuatnya bahagia. “Kami punya tabungan bersama untuk membiayai pernikahan, tabungan yang diambil dari gaji kami.” Kali ini mata Sukma benar-benar menatap tajam pada Breana. “Minggu lalu saat aku mengecek tabungan seperti biasa, ternyata berkurang dengan jumlah yang tak sedikit. Kamu tahu kenapa, Bre?”

Pertanyaan Sukma yang diucapkan dengan nada tajam membuat Breana kaget. Ia bisa mempunyai dugaan akan ke mana arah pembicaraan, ia mengira tuduhan wanita di depannya akan mengarah pada siapa dan ia tak mau mengungkapkan dugaannya. Untuk menghindari masalah, Breana hanya menggeleng.

“Jadi, kamu nggak tahu? Atau sengaja pura-pura nggak tahu?” sentak Sukma dengn suara meninggi. “Oke, aku kasih tahu. Uang dia ambil untuk diberikan ke kamu. Apa kamu percaya omonganku? Bagaimana seorang laki-laki yang ingin menikah, tega mengambil tabungan yang dia kumpulkan bersama sang tunangan hanya untuk mantan istri yang tak tahu diri!”

Breana tertegun, lalu sadar dan memalingkan wajah ke arah kamar yang tertutup. Untunglah anaknya sedang tidur jadi tidak perlu melihat keributan yang sekarang terjadi. Ia menghela napas panjang sebelum menjawab dengan tenang.

“Aku nggak pernah minta uang pada Anton.”

Suara tawa lirih terdengar dari mulut Sukma. “Tentu saja bukan buat kamu tapi untuk biaya berobat anakmu. Kamu pikir aku nggak ada bukti soal itu?” Dengan cekatan Sukma mengeluarkan kertas dari kantong kecil di bagian depan tas-nya dan meletakkannya ke atas meja. “Itu, bukti-bukti transfer yang ditujukan ke rumah sakit, ada kisaran angka tiga juta di sana. Dan kamu masih bilang nggak minta uang dari calon suamiku?”

Breana mengambil kertas di depannya dan mengamati jumlah serta nomor rekening yang tertera. Benar, itu adalah nomor rekening rumah sakit tempat Nesya dirawat. Sekarang ingatannya tertuju pada uang jaminan yang diberikan Anton untuk mereka, beserta uang untuk menebus obat dan biaya perawatan UGD. Bukankah seharusnya uang jaminan sebesar satu juta bisa diambil setelah Nesya dipindah ke rumah sakit yang lain. Breana yang tidak ingin menambah masalah, memilih untuk tidak bertanya.

“Maafkan kami jika sudah merepotkan, Mbak. Aku benar-benar nggak tahu kalau itu adalah uang untuk kalian menikah.” Breana menarik napas, menyugar rambut dan meletakkan rambutnya yang tidak tertali ke belakang telinga. “Aku akan mulai bekerja bulan depan, setelah mendapat gaji, aku akan cicil untuk mengembalikan uang itu.”

Suara dengkusan terdengar dari Sukma, wanita itu kini menyilangkan satu kaki dan melihat Breana dengan tatapan sinis. “Kamu pikir Anton akan membiarkan hal itu terjadi kalau dia tahu?”

“Dia nggak harus tahu!” sergah Breana.

“Dia tetap akan tahu karena nomor rekening milik kami adalah milik bersama.” Sukma menyodorkan amplop putih ke depan Breana. “Ini emang nggak seberapa tapi paling nggak bisa bantu uang berobat untuk Nesya, ambillah. Dengan satu syarat, jauhi Anton. Sudah waktunya kamu melepaskan dia untuk bahagia.”

Hati Breana bagai diiris sembilu, menatap amplop putih di atas meja. Mendadak ia merasa harga dirinya jatuh ke dasar bumi. Sungguh tidak menyangka ia akan dipandang hina sedemikian rupa. Perlu disogok pakai uang agar menjauhi laki-laki milik wanita lain.

Dengan perasaan perih, Breana berucap. “Simpan uangmu, Mbak. Aku nggak butuh.”

“Jangan sok kamu!” bentak Sukma, “kamu sekarang bilang nggak butuh tapi besok kamu akan menganggu Anton lagi. Ingat, ya, Bre. Dia hanya mantan suamimu dan Nesya itu bukan darah dagingnya!”

“Aku tahu Mbak, siapa dia!” Breana berkata keras. Ia bangkit dari sofa dan membuka pintu lebar-lebar. “Silakan pergi, Mbak. Dan bawa uangmu kembali, aku nggak butuh. Pegang janjiku kalau aku nggak akan meminta uang sepeser pun pada Anton.”

Sukma meraih amplop dan menjejalkannya ke dalam tas, bangkit dari sofa dengan mata menatap Breana penuh kebencian.

“Janda nggak tahu diri, sudah bagus aku mau menolongmu,” desisnya sengit saat melewati Breana yang berdiri di sisi pintu.

“Sekali lagi kamu menghinaku, aku akan membuat perhitungan denganmu,” jawab Breana dengan tajam. “Aku akan mencicil apa yang Anton berikan untuk kami. Tunggu saja.”

Belum sempat Sukma menjawab, percakapan mereka disela oleh dua orang laki-laki yang menggotong kardus dan peralatan dari lift. Keduanya menatap Breana dan Sukma yang berdiri bersisihan di depan pintu yang terbuka.

“Maaf, di mana kamar Breana?” tanya salah seorang yang lebih tua.

“Aku Breana, Bapak siapa?” tanya Breana heran.

Si laki-laki tersenyum dan mengangguk ramah. “Kami disuruh datang kemari untuk memasang AC. Semua peralatan sudah kami bawa, bolehkan kami masuk?”

Breana ternganga, teringat percakapannya dengan Ben tentang keinginan laki-laki itu memasang AC untuk rumahnya. Semula ia berharap jika Ben hanya bercanda, ternyata laki-laki itu membuktikan ucapannya.

“Siapa yang menyuruhmu?” bentak Sukma pada tukang AC yang lebih tua dan membuat mereka yang mendengar berjengit kaget.

“Ayo, katakan! Apa Anton yang melakukan ini semua?” Sekali lagi Sukma bertanya dengan berapi-api.

“Bukan,” jawab Breana lirih.

Namun Sukma seperti tidak mendengarnya, matanya melotot memandang tukang AC yang menatap bingung bergantian antara dirinya dan Breana.

“Yang menyuruh kami adalah Pak Direktur, kami nggak kenal siapa itu Anton,” jawab si tukang AC.

Sukma yang semula melotot garang, kini membuang muka untuk menutupi rasa malu. Dia melangkah dengan angkuh menuju lift tanpa berpamitan pada Breana.

Yang terakhir kali dilihat Breana sebelum lift menutup adalah mata Sukma menatapnya tajam. Mendadak ia merasakan kelelahan yang tak ada hubungannya dengan kerja fisik. Ia menatap bingung pada dua tukang AC di depannya lalu menyilakan mereka masuk.

*

“AC sudah terpasang,” ucap Breana di ponselnya. Ia menelepon Ben berniat untuk memberitahu laki-laki itu.

“Good, mudah-mudahan Nesya akan tidur nyenyak malam ini. Kapan jadwal kontrol dokter?”

Breana berpikir sejenak sebelum menjawab. “Besok pagi jam sepuluh.”

“Baiklah, aku akan mengantar kalian.”

“Nggak perlu, kami bisa sendiri.”

Hening, tidak ada suara. Breana menahan napas.

“Bre, aku nggak suka dibantah.”

“Aku nggak membantah, ini hanya demi kebaikan kita!” sentak Breana tanpa sadar. Kedatangan Sukma yang mengambuk tadi sore masih membekas tajam dalam ingatannya. Lalu, sekarang Ben menawarkan akan menolongnya. Bukankah laki-laki itu juga sudah bertunangan? Lalu, apa kata orang kalau dirinya selalu terlibat dalam laki-laki milik perempuan lain? Breana merasakan kepalanya berdenyut menyakitkan.

“Bre, buka pintu.”

“Apa?” tanya Brean bingung.

“Buka pintu, aku di sini.”

Breana terlonjak dan setengah berlari membuka pintu, mendapati Ben yang berdiri menjulang di depan pintunya.

“Kenapa kemari?” tanya Breana bingung.

“Karena aku ingin,” jawab Ben menyingkirkan tubuh Breana dari jalannya. “kebetulan besok libur jadi aku bisa mengantar Nesya ke dokter tepat waktu. Di mana dia?” tanya Ben celingak-celinguk di ruang tamu.

Breana tersadar dari keherannya, menatap penampilan Ben yang masih terlihat rapi dengan dasi dan jas. Rupanya laki-laki itu langsung dari kantor menuju ke rumahnya.

“Nesya ada di kamar.”

Tidak bertanya dua kali, Ben meletakkan tas di atas sofa dan menuju kamar kecil dan membuka pintunya.

Matanya tertuju pada sesosok gadis kecil yang terbaring di ranjang dengan perban di bahu. Terlihat serius menatap layar televisi berukuran kecil yang terpasang di tembok. Mata gadis itu berbinar saat melihatnya.

“Papa Ben,” sapa Nesya gembira.

Ben tersenyum dan melangkah menghampiri ranjang. “Hallo, gadis cantik. Apa kamu sudah sehat hari ini?”

Nesya mengangguk kuat-kuat. “Nesya sudah sembuh, nanti mau sekolah.”

Ben mengulurkan tangan untuk membelai rambut Nesya, merasakan kehangatan yang mengalir dari kulit mereka yang bersentuhan. Ia mengabaikan Breana yang berdiri di depan pintu kamar dengan pandangan sebal.

“Anak papa memang paling pintar, kamu nonton apa?” tanya Ben melirik sekilas tayangan di televisi.

“Unyil main ke dufan,” jawan Nesya pelan. Sebuah selimut lusuh yang dikenali Ben, teronggok di kakinya.

“Nesya pernah main ke dufan?” tanya Ben sambil merapikan bantal yang menyangga kepala anaknya.

Gadis kecil itu menggeleng. “Belum, kata Mama butuh duit banyaaak kalau mau ke sana,” jawab Nesya sambil merentangkan kedua tangannya.

Ben tersenyum. “Tunggu kamu sembuh, kita main ke sana.”

“Beneran?” Mata Nesya membulat gembira.

“Iya, beneran. Janji kamu harus sembuh dulu.”

Keduanya mengaitkan kelingking dan membuat janji.

Apa yang dilakukan Ben dengan anaknya tidak luput dari perhatian Breana. Meski merasa kesal dengan kedatangan laki-laki itu yang tiba-tiba tapi ia bersyukur, Ben mampu membuat anaknya tertawa.

“Kalau mau sembuh harus minum apa?” Breana bertanya sambil melangkah menghampiri ranjang.

“Minum obat,” jawab Nesya lemah.

“Sebelum minum obat harus apa?” tanya Brena dengan tangan mengusap dahi anaknya. Sementara Ben tetap duduk di pinggir ranjang.

“Makan bubur.” Jawab Nesya sekali lagi.

“Kalau begitu, kita sekarang makan bubur. Kalau mau sembuh.”

Nesya menghela napas dengan dramatis, seakan-akan ajakan makan bubur adalah sebuah penganiayaan untuknya. Bola matanya yang jernih dan bulat memandang Ben lekat-lekat.

“Apa Papa Ben mau makan bubur?”

Pertanyaannya dijawab dengan anggukan kepala oleh Ben. Laki-laki itu tersenyum simpul. “Tentu, mari kita makan bubur bersama. Sini, papa gendong. Kita makan di depan biar ranjangnya nggak kotor.”

Nesya mengalungkan lengannya yang kecil ke arah leher Ben dan membiarkan tubuhnya dibopong keluar. Sementara Breana bergerak lebih dulu ke arah dapur untuk menyiapkan makanan.

Jujur saja ia merasa malu, Ben akan makan bersama mereka dan yang ia punya hanya bubur putih, kecap dan telur mata sapi. Dengan gugup ia membuka kulkas, mencari sayuran untuk dimasak dan mendapati ada sayur kol setengah beserta dua batang daun bawang.

Sementara kompor menghangatkan bubur, ia mencuci sayur dan mengiris bawang. Setelah memindahkan bubur ke atas meja makan, Breana mulai menceplok telur dan menumis kol. Lalu membawanya ke meja makan mereka yang kecil.

“Maaf, hanya ada di kulkas hanya ini,” ucap Breana dengan wajah memerah karena malu. Tangannya sibuk menyiapkan makanan untuk anaknya.

Ben tidak menjawab, mengambil dua centong bubur dari dalam panci, sepotong telur ceplok dan beberapa sendok tumis kol ke atas piring. Lalu menyuapkan ke mulutnya.

“Begini sudah enak,” ucapnya perlahan.

Breana tersenyum. Membuka botol kecil berisi bawang goreng dan menaburkan ke atas bubur milik Ben. Lalu mengambil sambal dari kotak kecil di atas meja. “Ini sambal teri buatanku, enak. Makan bubur pakai sambail ini lebih enak.”

Ben tidak menolak saat Breana menambahkan sambal teri ke piringnya. Dia makan dengan lahap sementara Breana menyuapi Nesya.

“Buburnya enak, apa kamu beri santan?” tanya Ben.

Breana menggeleng. “Hanya kaldu ayam, bukan santan.”

“Lihat Papa, Nesya makan banyak,” ucap Nesya memamerkan bubur dalam mulutnya.

“Gadis pintar,” puji Ben.

Selesai makan, Nesya minum obat dan seketika terserang kantuk. Breana menggendong Nesya ke kamar dan meninabobokan anaknya. Setelah melihat anaknya tertidur pulas, ia meredupkan lampu dan berjingkat-jingkat keluar untuk menemui Ben. Ia tahu, laki-laki itu pasti bersiap-siap untuk pulang.

Namun, pemandangan yang dilihatnya di ruang tamu membuatnya kaget. Ia melihat Ben tertidur lelap di atas sofa. Sebelah tangannya menutup mata dan meringkuk di atas sofa yang tidak terlalu besar tentu membuat tidak nyaman, apalagi Ben tergolong tinggi. Breana yang merasa kasihan mengguncang bahunya perlahan.

“Ben, sudah malam. Kamu harus pulang,” bisiknya pelan.

Ben tidak bereaksi, laki-laki itu tetap pulas bahkan dengkur halus terdengar dari mulutnya. Brena berdiri kebingungan, menatap tas Ben yang tergeletak di atas meja. Lalu ia teringat jika besok adalah hari libur, tentu Ben tidak masalah jika harus menginap di sini.

“Aku yang akan kena masalah kalau membiarkan laki-laki ini di sini,” gumam Breana pelan. Menatap sosok Ben yang terbujur di depannya.

Ia menarik napas dan meniup anak rambut di dahi. Akhirnya memutuskan untuk membiarkan Ben beristirahat. Ia melangkah menuju meja makan. Membereskan peralatan dan mangkok-mangkok kotor, membawanya ke westafel. Setelah selesai membersihkan kompor dan dapur, ia kembali ke ruang tamu. Melihat posisi Ben kini berbaring miring dengan wajah menghadap ke meja.

Mengikuti dorongan hati, Breana berjongkok dengan wajah menghadap ke arah Ben. Ia terpaku, menatap bulu mata Ben yang lentik, alisnya yang hitam dan tebal juga wajahnya dengan rahang yang kokoh. Matanya turun ke arah bibir laki-laki itu, tanpa sadar mendesah. Jemarinya terulur untuk mengusap lembut dagu Ben yang memiliki lekukan di tengah.

Suara motor yang meraung-raung di jalanan menyadarkan lamunan Breana. Ia menatap jemarinya yang berada di rahang Ben dan buru-buru menariknya lalu berdiri. Belum sempat menegakkan tubuh, sebuah tangan yang kokoh menariknya. Dengan setengah membungkuk, kini wajahnya berada beberapa sentimeter dari wajah Ben.

“Kenapa mengamatiku? Apa kamu baru sadar kalau aku tampan?” ucap Ben dengan suara serak.

Breana meronta, merasa tidak nyaman dengan posisinya yang membungkuk dan memperlihatan belahan dada dari tubuhnya yang berbalut kaos.

“Aku berniat membangunkanmu, sudah waktunya kamu pulang,” ucap Breana untuk menghilangkan rasa groginya.

Ben mengernyitkan dahi. “Bukannya aku sudah bilang mau mengantarkan kalian ke rumah sakit besok?”

“Iya, tapi tetap kamu harus pulang.”

“Nggak, dari sini lebih dekat ke rumah sakit dari pada ke rumahku.”

“Jadi kamu mau menginap di sini?”

Ben mengangguk. “Iya, dan jangan ganggu aku.”

Ucapannya membuat Breana tersinggung. “Siapa yang mau ganggu kamu? Lepasin tanganku!” ucapnya sambil menyetakkan pegangan Ben di tangannya.

Laki-laki itu hanya menggeliat. “Sebelum tidur, aku ingin meminta satu hal.” Tanpa diduga, tangannya menarik Brena dan merangkul leher perempuan itu. Sebuah ciuman mendarat di bibir Breana.

Breana berusaha menolak tapi Ben memegang lehernya dengan kuat dan tidak membiarkan dirinya lepas.

Ben mengusap bibir Breana dengan bibirnya, lidahnya menyelusup masuk untuk membelai langit-langit mulut perempuan itu. Menghisap pelan bibir bagian bawah dan juga lidahnya. Erangan Breana membangkitkan gairahnya. Jika menuruti hasrat ingin rasanya membanting tubuh perempuan itu di atas sofa dan mencumbunya tapi ia ingat ini bukan waktu yang tepat.

Seperti datangnya tadi, ciuman ia lepas tiba-tiba dan membiarkan Breana menegakkan tubuh dengan wajah merah padam dan bibir lembab. “Tidurlah, jangan lupa matikan lampu,” ucapnya parau.

Breana melangkah dengan sedikit gamang, mematikan lampu dan melangkah tersaruk-saruk ke kamar. Di atas ranjang matanya nyalang menatap langit-langit kamar dengan gairah yang tak kunjung reda karena ciuman dari laki-laki yang kini berbaring di ruang tamu. [bersambung ke titiktemu berikutnya]

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…