#Into_You – #Part_10

Setelah dirawat hampir dua minggu, Nesya diijinkan pulang. Semua biaya rumah sakit ditanggung oleh Ben. Untuk hal ini Breana tidak mendebat karena dia tahu sia-sia menentang masalah uang saat dirinya tidak punya uang sama sekali. Jauh di lubuk hati ia merasa bersyukur, ada laki-laki itu membantu saat ia butuh.

Di sisi lain ada satu orang yang tidak senang dengan keadaan yang ada yaitu, Anton. Merasa sebagai ayah Nesya, ia tertekan karena merasa tak berguna. Berkali-kali mengatakan pada Breana ia akan membantu masalah biaya tapi ditolak.

“Simpan uangmu untuk pernikahanmu, cukup sama satu orang saja aku berhutang,” tolak Breana saat Anton mengajukan diri akan membayar biaya rumah sakit.

“Kenapa harus laki-laki itu, Bre? Apa hubunganmu sama dia?” cecar Anton.

Breana yang sedang merapikan baju-baju Nesya untuk dimasukkan ke dalam koper hanya melirik sekilas padanya. Ruang rawat sunyi, hanya ada mereka bertiga dengan Nesya asyik sama bonekanya. Selang infus sudah dilepas dari tangan mungilnya.

Breana selalu menghindari untuk berdebat dengan Anton, karena bagaimana pun, ia sangat berhutang budi pada laki-laki yang berprofesi sebagai guru. Breana sangat menghormati Anton dan tidak igin merepotkan apa lagi menimbulkan masalah baginya.

“Ben adalah direktur tempatku bekerja, kamu itu itu.” Breana merogoh laci nakas samping ranjang, memeriksa apakah ada barang tertinggal. “Dan juga teman lamaku.”

“Teman lama macam apa? Sampai rela keluar uang puluhan juta demi Nesya?”

Breana menarik napas panjang mendengar pertanyaan Anton. Lama-lama ia merasa tak sabaran menghadapi mantan suaminya. Permintaan dan rengekan Anton perihal hubungan mereka makin lama makin menjengkelkan. Apalagi semenjak kehadiran Ben, ia merasa laki-laki itu makin posesif.

“Aku bekerja padanya, dia bisa memotong gajiku pelan-pelan untuk melunasi hutang. Paham?”

“Oke, aku paham. Ada banyak cara lain, Bre.”

Brean menegakkan tubuh, berdiri menghadap Anton dengan dahi mengernyit heran. “Kenapa kita harus berdebat masalah ini, sih?”

Ketukan pelan di pintu memotong perdebatan mereka. Ben muncul dari balik pintu yang terbuka. Mata elangnya mengawasi tajam bergantian dari Anton dan Breana yang berdiri bertentangan ke arah Nesya yang asyik dengan bonekanya. Gadus kecil itu terlonjak gembira saat melihatnya.

“Papa Ben,” sapa Nesya riang.

Mengabaikan pandangan Anton yang terperangah karena Nesya memanggilnya papa, Ben melangkah perlahan, mengitari ranjang dan duduk di samping Nesya. Matanya melirik ke arah Breana yang berdiri di samping nakas.

“Apa kamu sudah sembuh?”

Nesya mengangguk. “Nesya mau pulang.”

Ben mengulurkan tangan untuk mengelus rambut di dahi anaknya. “Iya, kita pulang sekarang, ya?”

“Nesya mau makan burger.”

Ben mengangguk. “Nanti kita beli, ya?”

Nesya terlonjak gembira, Ben menatap anaknya penuh keharuan. Berdiri dari ranjang dan menatap Breana. “Apa kamu sudah selesai dengan barang-barang? Kita keluar sekarang.”

Breana mengangguk. “Sudah, kita bisa pulang sekarang.”

“Aku bawa motor, kalian ikut aku,” sela Anton.

Ben menatap laki-laki itu, meski bertemu beberapa kali mereka tidak pernah bertegur sapa. Baru kali ini ia ingin memukul Anton karena mengajak Nesya yang baru sembuh naik motor.

“Biar mereka aku yang antarkan, Nesya masih lemah, belum bisa naik motor.”

Anton menoleh, menatapnya lekat-lekat. “Siapa kamu? Punya hak apa mengatur-atur kami?”

Ben tersenyum tipis sementara Breana menatap dua laki-laki di depannya dengan kuatir. “Ayolah, kalian jangan bertengkar. Aku akan naik taxi, oke?”

“Nggak bisa,” tukas Ben. “Aku yang membawa Nesya kemarin, aku juga yang akan mengantarnya pulang!”

Ben berbalik dan kembali duduk di depan Nesya. “Mau ikut mobil papa buat anterin Nesya pulang?”

“Iyaa, mau,” jawab Nesya malu-malu.

Wajah Anton memerah, terlihat jelas dia tidak suka dengan Ben tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Sedangkan Breana hanya terdiam, perdebatan dua laki-laki di depannya membuat pusing. Setelah selesai berkemas, ia memencet tombol dan meminta kursi roda untuk Nesya. Administrasi rumah sakit sudah diurus oleh Ben, ia tidak tahu jumlahnya berapa, yang pasti tidak sedikit.

Meninggalkan Anton yang termangu di lobi rumah sakit, Breana masuk ke dalam mobil Ben dan memangku anaknya di kursi belakang. Sejenak, ia merasa bersalah dan kasihan pada Anton. Seorang laki-laki yang baik, hanya saja terjebak dalam perasaan yang salah padanya.

“Kalau kamu merasa kasihan, ikut saja dengannya. Biar Nesya aku yang mengantar.” Suara sindiran dari Ben membuat Breana tersadar. Ia mengalihkan pandangan ke depan, berpura-pura tidak mendengar teguran Ben padanya.

Selama dalam perjalanan, hanya terdengar celoteh Nesya yang bertanya soal ini dan itu pada sang mama juga pada Ben. Terkadang pertanyaan lucu tapi membuat bingung untuk menjawabnya. Jalanan lancar, tidak ada hambatan. Tidak sampai satu jam, mobil Ben memasuki pelataran parkir rumah susun.

“Kalian ada di lantai berapa?” tanya Ben dengan mata memandang rumah susun yang terlihat penuh penghuni. Di bagian bawah banyak buka warung makanan dan toko kelontong. Tak ketinggalan jasa laundry mau pun salon kecantikan.

“Lantai dua,” jawab Breana dengan Nesya berada dalam gendongannya.

“Biar aku yang menggendong Nesya, kamu bawa tas saja.” Ben memutari mobil dan tangannya terulur untuk menggendong anak perempuannya.

“Aku bisa sendiri,” tolak Breana.

“Kita nggak harus berdebat masalah ini, Bre. Kasihan Nesya.”

Dengan berat hati, Breana menyerahkan Nesya dalam pelukan Ben. Sedangkan dia membawa tas yang pelengkapan anaknya. Mereka berjalan beriringan, karena siang hari tidak sibuk maka lift dimatikan. Terpaksa mereka naik tangga. Mau tidak mau Breana mengakui Ben benar, berada dalam gendongan sang papa, anaknya merasa senang.

“Silahkan masuk, maaf berantakan.”

Ruang tamu kecil di mana ada banyak boneka terpajang di lemari kaca. Sebuah televisi tabung berada di atas meja kecil di dinding. Di belakang ruang tamu dipisahkan oleh sekat dari anyaman kayu yang bisa digeser membuka dan menutup, ada meja kecil dengan dua kursi yang sepertinya berfungsi untuk meja makan. Dari tempatnya berdiri, Ben bisa melihat keseluruh bagian rumah. Termasuk dapur, toilet dan kamar tidur.

“Rumah kami kecil,” ucap Breana malu-malu. “Apa kamu ingin minum sesuatu?”

Ben menggeleng. “Aku harus kembali ke kantor. Ada urusan penting.” Dia meletakkan Nesya di atas sofa kecil ruang tamu dan membiarkan gadis itu sibuk dengan mainann peralatan memasak yang rupanya tertinggal di atas sofa.

“Baiklah, terima kasih atas segala bantuannya. Entah kapan aku bisa mengembalikan semua uang yang kamu keluarkan. Aku harus cari kerja dulu.”

Ben mengalihkan pandangannya dari kegiatannya mengamati rumah Breana yang kecil. Memandang wanita di depannya yang terlihat malu. Mendadak, ia merasa tangannya gatal ingin menyentuh rambut Breana yang menjuntai menutupi dahi.

“Kamu kembali ke kantor setelah Nesya sembuh.”

Breana mendongak. “Hah, aku? Bukankah aku sudah dikeluarkan?”

“Benarkah, aku nggak merasa memecatmu.”

“Kalau begitu, bagaimana dengan kasusku?”

Ben mengangkat sebelah bahu. “Kami sudah menangka pelaku sesungguhnya.”

Mata Breana membulat tak percaya saat mendengar perkataan yang keluar dari mulut Ben. Mereka sudah menemukan pelakunya, berarti sekarang semua tahu kalau bukan dia yang melakukannya. Perasaan kaget dan bahagia membuncah dari dalam dirinya.

“Benarkah, kalau begitu aku terbukti tak bersalah?” ucap Breana penuh haru.

Ben mengangguk. “Iya, terbukti tak bersalah. Karena dari awal aku memang sudah tahu jika bukan kamu yang melakukannya.”

Breana melongo. Mereka bercakap sampai tak menyadari, Nesya yang melangkah perlahan dan masuk ke dalam kamar. Meninggalkan hanya mereka berdua di ruang tamu. Berdiri berhadapan hanya berjarak sepelukan tangan.

“Kalau memang dari awal kamu tahu? Ke-kenapa masih menyiksaku dengan menawarkan perjanjian itu?”

Ben tersenyum, mengulurkan tangan untuk membelai rambut Breana. Wanita itu berkelit, Ben menyambar bahunya dan tidak memberikan kesempatan pada Breana untuk kabur.

“Karena dari awal aku menginginkanmu,” bisik Ben parau. “aku akan melakukan apa pun untuk mendapatkan keinginanku termasuk menyelesaikan masalah itu dengan kamu sebagai jaminannya.”

“Menjadi simpananmu,” desah Breana dengan perasaan tertusuk dalam jantungnya.

“Iya, dan perjanjian itu otomatis berlaku saat darahku keluar untuk Nesya.”

Belum sempat Breana menjawab, sebuah gigitan kecil mendarat di lehernya. Lalu remasan pelan di pinggul dan terakhir, Ben mengecup bibirnya pelan sebelum pergi meninggalkan rumahnya.

“Perjanjian laknat!” sembur Breana kesal saat pintu menutup di depannya.

*

Restoran yang mereka booking berada di tengah kota. Sebuah restoran Perancis yang menawarkan berbagai varian menu dengan pemandangan kota sebagai pemanis. Design restoran minimalis tapi elegan. Didominasi warna pastel dan lampu-lampu kristal yang terpasang langit-langit restoran berlantai dua.

Ben duduk di samping tunangannya yang malam ini terlihat anggun dalam balutan gaun kuning gading. Sementara kedua orang tua mereka duduk berhadapan. Mereka bersantap sambil sesekali mengobrol.

Amanda menggenggam tangan Ben, dan sesekali saling mencicipi makanan masing-masing. Suasana berlangsung akrab dan menyenangkan. Mereka mengobrol diiringi gesekan biola dari seorang musisi bertuksedo di pojok restoran.

“Saya akan sangat berbahagia menjadi besan Anda, Pak Hadrian. Saya berharap, Ben segera menikahi Amanda dan kita akan menjadi satu keluarga seutuhnya.”Adiyaksa, papa Amanda berbicara serius dengan tangan memegang gelas berisi minuman. Laki-laki berkacamata dengan kisaran usia lima puluhan memandang lawan bicaranya dengan hormat.

Sementara Hadrian, papa dari Ben mengangguk sambil tersenyum. “Saya juga berharap demikian, Pak. Anak saya terlalu sibuk bekerja, kalau ada istri akan ada yang menghiburnya.”

“Nah, itu yang saya maksud,” tegas Adiyaksa dan disambut tawa di sekeliling meja makan.

Ben hanya tersenyum tipis saat dirinya menjadi pusat pembicaraan. Dari semula ia sudah tahu apa maksud dari acara makan bersama ini tapi ia tidak dapat menolak keingin orang tua. Tebakannya benar, hal yang menjadi dasar pertemuan adalah membahas perihal pernikahannya dengan Amanda.

“Duuh, Papa bikin aku malu. Tahu nggak sih, Ben itu maunya menikah dua tahun lagi. Kalian para orang tua malah ingin buru-buru,” ucap Amanda dengan mata melirik manja pada tunangannya yang sedari tadi terdiam.

“Loh, kami sebagai orang tua menginginkan yang terbaik buat kalian?” Kali ini yang bicara adalah Jihan, mamanya Amanda. Tangannya yang lentik memegang pisau kecil dan garpu. Berusaha mengiris daging di atas piringnya menjadi potongan-potongan kecil sebelum memakannya.

“Iya, Ma tapi nggak enak, masa Manda yang ngejar terus.” Amanda mengulum senyum.

“Sudah-sudah, kami tahu kalau anak kami yang salah.” Friska menepuk punggung anak laki-lakinya dengan sayang. “Dia tipe orang pasif yang segala sesuatunya membutuhkan dorongan. Harap dimaklumi tapi, kami yakinkan kalau dia akan menikah secepatnya.”

Ben bertukar senyum dengan mamanya. Ia menahan diri agar tak salah bicara selama obrolan basa-basi tentang pernikahan masih berlangsung. Tangannya meraih gelas dan memperhatikan minumannya yang berbuih. Soda dicampur dengan buah dan menciptakan coctail yang enak diminum. Warna merah strawberi mengingatkannya pada selimut Nesya yang bercorak sama. Ia teringat bagaimana gadis kecil itu tidak bisa tidur tanpa selimut strawberrinya. Mendadak, perasaan rindu ingin bertemu dan memeluk anaknya, menguar kuat dari dalam diri. Ia menarik napas, mencoba menenangkan diri sekaligus mengingatkan dirinya jika sedang bersama keluarga.

“Ben, kamu nglamun apaan?” Bisikan Amanda menyadarkan Ben dari lamunannya tentang Nesya.

Ben menoleh, meraih tangan Amanda dan mengecupnya. “Bagaimana kalau kita berdansa?”

Ajakan Ben disambut oleh anggukan Amanda. Keduanya bangkit dari kursi mereka dan melangkah bergandengan menuju lantai dansa.

Musik berganti, menjadi nuasan pop yang manis. Duet antara biola dan piano. Ben mendekat Amanda dan membawanya berputar seirama musik.

“Apa kamu marah?” tanya Amanda di sela suara musik.

Ben menatapnya bingung. “Marah kenapa?”

Amanda tersenyum simpul, meletakkan kepalanya di bahu kekasihnya. “Karena para orang tua mendesakmu untuk segera menikahiku sedangkan kita baru saja bertunangan.”

“Mereka nggak paham,” sahut Ben pelan. “Aku nggak mau terjebak dalam pernikahan sesaat. Pernikahan itu komitmen seumur hidup, bukan sekedar soal status.”

Amanda mendesah samar, merasakan kekecewaan dalam hatinya. Tadinya ia berharap, dengan desakan dari orang tua mereka, Ben akan mempertimbangkan untuk menikah lebih cepat. Nyatanya, tidak semudah itu. Meski sekarang saling berpelukan, Ia merasa hati sang kekasih terlalu jauh untuk digenggam.

“Manda, kenapa diam aja?”

Amanda menggeleng pelan, menangkup wajah Ben dengan dua tangan. “Aku takut, Ben.”

Ben menaikkan sebelah alis. “Takut apa?”

Amanda mendesah, menggigit bibir dan berkata pelan. “Takut jika kamu berpaling, takut kehilangan kamu dan takut hubungan kita gagal.”

Suara tawa kecil keluar dari mulut Ben. Laki-laki dengan postur tinggi nyaris 180 cm itu merasa jika apa yang diucapkan tunangannya sangat lucu.

“Bagaimana mungkin kamu kehilangan aku, jika aku ada di pelukanmu.”

“Hanya ragamu Ben, bukan hati.”

Ben meraih kepala Amanda dan merebahkannya ke pundak. “Jangan ngaco.” Meski bicara begitu, dalam kepalanya terbayang wajah Breana.

Mereka berdansa hingga dua lagu dan kembali ke tempat duduk. Setelah makan malam selesai, Amanda pulang bersama orang tuanya dan Ben, menyetir sendiri ke rumah. Semenjak ia memegang jabatan sebagai direktur, ia memutuskan untuk mandiri. Tinggal terpisah dari orang tuanya.

Waktu menunjukkan hampir pukul dua belas. Saat Ben memarkir mobilnya di garasi. Seorang petugas keamanan membantunya membuka dan menutup gerbang. Lampu teras menyala otomatis saat ia menginjakkan kaki di sana. Setelah membuka sepatu, Ben mengenyakkan diri di atas sofa ruang tamu.

Tangannya merogoh ponsel dalam tas kulit yang ia bawa dan mulai memencet nomor yang sekarang menjadi prioritas utama. Panggilan diangkat dalam dering ke lima.

“Apakah kamu sudah tidur? Bagaiman Nesya?” Tanpa basa-basi, ia memulai percakapan.

“Nesya baik, barusan bangun dan merintih.” Ben duduk tegak saat mendengar jawaban Breana.

“Kenapa dia? Apa ada yang sakit atau kambuh?”

Terdengar helaan napas panjang, disertai bunyi gemericik air. Tak lama suara Breana kembali terdengar. “Nggak ada yang sakit, sepertinya kegerahan. Ini aku lagi basuh wajahnya dengan air biar segar.”

“Kalian nggak ada AC?” tanya Ben heran.

“Tuan Benedict, nggak semua mampu beli AC, apalagi kalau listriknya mahal.”

Ben terdiam sejenak, memijat pelipisnya yang mendadak pusing memikirkan Breana dan Nesya hidup tanpa pendingin ruangan. Bagaimana mungkin?

“Besok akan ada tukang ke sana, pasang AC untuk kalian.”

“Jangan ngaco! Listrik mahal!” sergah Breana di ujung telepon.

“Akan ada subsudi dari kantor, awas kalau kamu berani menolak!”

“Terserahlah, itu uangmu!”

Mereka terdiam, Ben memandangi meja kaca yang mengkilat dan menaikkan kakinya di sana. Sementara bunyi gemericik air masih terdengar di telepon.

“Kalau nggak ada yang mau diomongin, aku matiin.”

Suara Breana menyadarkan lamunan Ben, ia menarik napas panjang sebelum akhirnya berucap pelan.

“Bre, apakah kamu pernah melupakanku? Selama enam tahun kita berpisah?” Entah apa yang mendasarinya bertanya hal itu pada Breana, tapi ia hanya ingin memastikan sesuatu.

Breana terdiam cukup lama sebelum menjawab pelan. “Bagaimana aku lupa jika ada darahmu dalam rahimku.”

Sori keloncat

#Into_You

#Part_11

Oleh Nev Nov

Suara bel pintu mengusik Breana yang sedang sibuk membuat bubur. Ia menengok jam di dinding dan sedikit merasa heran. Sore jam lima, tidak biasanya ada orang bertamu jam segini. Matanya melongok ke dalam bubur yang belum sepenuhnya lembek, berdecak karena merasa menyesal harus mematikan kompor. Tangannya mengaduk sekali lagi sebelum mematikan api lalu mencuci tangan di westafel dan meraih selembar tisu untuk mengeringkan tangan.

‘Mudah-mudahan yang datang bukan, Anton,’ pikir Breana suram. Ia merasa sudah cukup banyak yang dilakukan laki-laki itu untuknya. Seharian ini ia menerima banyak sekali pesan dari Anton yang intinya menawarkan bantuan keuangan dan ia menolaknya.

Seorang wanita cantik berseragam guru warna coklat dengan rambut disanggul menatapnya di depan pintu. Si wanita dengan tahi lalat kecil di dagu dan kulit kuning langsat, tersenyum kecil saat melihatnya.

“Apa kabar, Bre?” Dia menyapa ramah, seakan sudah mengenal Breana dengan akrab.

Breana melongo, memandang tamu yang mengunjunginya. Sedikit tergagap saat terdengar sapaan untuknya.

“Mbak Sukma? Ada apa?” tanya sadar dia bertanya dan seketika merasa bodoh saat melihat Sukma terseyum.

“Boleh, aku masuk?”

Breana mengangguk, membuka pintu lebar-lebar. “Silakan masuk.”

Ia meraba dadanya yang seketika berdebar dan masuk ke dalam rumah mendahului sang tamu. Dalam hati berpikir jika tidak biasanya Sukma yang selalu jutek padanya kini datang dengan penuh keramahan. Pasti ada sesuatu yang terjadi. Firasat Breana mengatakan, kedatangan sang guru berhubungan dengan Anton yang merupakan tunangan Sukma.

Dengan sigap tangannya meraih boneka, kain panjang yang biasa digunakan anaknya untuk menggendong, dan beberapa jenis mainan yang terserak baik di atas sofa mau pun lantai. Setelah mengembuskan napas panjang untuk menenangkan diri, Breana menegakkan tubuh dan melihat tamunya duduk santai di sofa kecil.

“Maaf, rumahnya berantakan.”

Sukma tersenyum. “Santai saja, punya anak kecil memang begini.”

Breana mengangguk, meletakkan mainan ke dalam keranjang di pojok ruangan lalu bergegas menuju kulkas kecil di samping meja makan dan mengambil dua buah air mineral dalam gelas plastik beserta sedotannya dan meletakkannya di atas meja ruang tamu.

“Maaf, cuma bisa menjamu air.”

Sekali lagi Sukma tersenyum penuh pengertian. “Duduklah, Bre. Aku ingin bicara.”

Breana mengangguk dan duduk di seberang Sukma. Tangannya terulur untuk merapikan anak rambut yang menutupi wajahnya yang berkeringat. Ia sudah menguncir rambut tapi keadaan rumah memang panas apalagi saat memasak. Membuat titik-titik keringat jatuh ke wajah.

“Ada yang bisa aku bantu, Mbak?”

Sukma merogoh tas hitam berukuran agak besar yang sedari tadi dia pegang. Mengeluarkan sebuah amplop dan meletakkannya di atas meja.

“Apakah anakmu sudah sembuh?”

“Sedang masa pemulihan.”

“Bagaimana luka-lukanya?”

Breana tersenyum kecil. “Tidak ada sesuatu yang perlu dikuatirkan.”

“Syukur deh, kalau begitu aku bisa minta tolong dengan tenang.”

“Maksudnya, Mbak?” tanya Breana heran pada Sukma yang sedari tadi tidak berhenti tersenyum.

Wanita di depannya masih menyunggingkan senyum, dengan tangan memainkan rambutnya. Matanya tak berhenti melirik keadaan ruang tamu, seakan-akan dia berharap menemukan sesuatu.

Seakan sadar jika sudah mengamati terlalu lama, Sukma mengalihkan pandangannya ke arah Breana dan berkata pelan. “Kamu tahu kan, aku sama Mas Anton akan menikah nggak lama lagi?”

Breana mengangguk.

“Kami membutuhkan biaya yang tak sedikit, maklum aku adalah anak tertua dan sudah seharusnya diadakan pesta yang meskipun tidak besar tapi meriah.”

Sukma tertawa lirih, sepertinya bicara tentang pernikahan membuatnya bahagia. “Kami punya tabungan bersama untuk membiayai pernikahan, tabungan yang diambil dari gaji kami.” Kali ini mata Sukma benar-benar menatap tajam pada Breana. “Minggu lalu saat aku mengecek tabungan seperti biasa, ternyata berkurang dengan jumlah yang tak sedikit. Kamu tahu kenapa, Bre?”

Pertanyaan Sukma yang diucapkan dengan nada tajam membuat Breana kaget. Ia bisa mempunyai dugaan akan ke mana arah pembicaraan, ia mengira tuduhan wanita di depannya akan mengarah pada siapa dan ia tak mau mengungkapkan dugaannya. Untuk menghindari masalah, Breana hanya menggeleng.

“Jadi, kamu nggak tahu? Atau sengaja pura-pura nggak tahu?” sentak Sukma dengn suara meninggi. “Oke, aku kasih tahu. Uang dia ambil untuk diberikan ke kamu. Apa kamu percaya omonganku? Bagaimana seorang laki-laki yang ingin menikah, tega mengambil tabungan yang dia kumpulkan bersama sang tunangan hanya untuk mantan istri yang tak tahu diri!”

Breana tertegun, lalu sadar dan memalingkan wajah ke arah kamar yang tertutup. Untunglah anaknya sedang tidur jadi tidak perlu melihat keributan yang sekarang terjadi. Ia menghela napas panjang sebelum menjawab dengan tenang.

“Aku nggak pernah minta uang pada Anton.”

Suara tawa lirih terdengar dari mulut Sukma. “Tentu saja bukan buat kamu tapi untuk biaya berobat anakmu. Kamu pikir aku nggak ada bukti soal itu?” Dengan cekatan Sukma mengeluarkan kertas dari kantong kecil di bagian depan tas-nya dan meletakkannya ke atas meja. “Itu, bukti-bukti transfer yang ditujukan ke rumah sakit, ada kisaran angka tiga juta di sana. Dan kamu masih bilang nggak minta uang dari calon suamiku?”

Breana mengambil kertas di depannya dan mengamati jumlah serta nomor rekening yang tertera. Benar, itu adalah nomor rekening rumah sakit tempat Nesya dirawat. Sekarang ingatannya tertuju pada uang jaminan yang diberikan Anton untuk mereka, beserta uang untuk menebus obat dan biaya perawatan UGD. Bukankah seharusnya uang jaminan sebesar satu juta bisa diambil setelah Nesya dipindah ke rumah sakit yang lain. Breana yang tidak ingin menambah masalah, memilih untuk tidak bertanya.

“Maafkan kami jika sudah merepotkan, Mbak. Aku benar-benar nggak tahu kalau itu adalah uang untuk kalian menikah.” Breana menarik napas, menyugar rambut dan meletakkan rambutnya yang tidak tertali ke belakang telinga. “Aku akan mulai bekerja bulan depan, setelah mendapat gaji, aku akan cicil untuk mengembalikan uang itu.”

Suara dengkusan terdengar dari Sukma, wanita itu kini menyilangkan satu kaki dan melihat Breana dengan tatapan sinis. “Kamu pikir Anton akan membiarkan hal itu terjadi kalau dia tahu?”

“Dia nggak harus tahu!” sergah Breana.

“Dia tetap akan tahu karena nomor rekening milik kami adalah milik bersama.” Sukma menyodorkan amplop putih ke depan Breana. “Ini emang nggak seberapa tapi paling nggak bisa bantu uang berobat untuk Nesya, ambillah. Dengan satu syarat, jauhi Anton. Sudah waktunya kamu melepaskan dia untuk bahagia.”

Hati Breana bagai diiris sembilu, menatap amplop putih di atas meja. Mendadak ia merasa harga dirinya jatuh ke dasar bumi. Sungguh tidak menyangka ia akan dipandang hina sedemikian rupa. Perlu disogok pakai uang agar menjauhi laki-laki milik wanita lain.

Dengan perasaan perih, Breana berucap. “Simpan uangmu, Mbak. Aku nggak butuh.”

“Jangan sok kamu!” bentak Sukma, “kamu sekarang bilang nggak butuh tapi besok kamu akan menganggu Anton lagi. Ingat, ya, Bre. Dia hanya mantan suamimu dan Nesya itu bukan darah dagingnya!”

“Aku tahu Mbak, siapa dia!” Breana berkata keras. Ia bangkit dari sofa dan membuka pintu lebar-lebar. “Silakan pergi, Mbak. Dan bawa uangmu kembali, aku nggak butuh. Pegang janjiku kalau aku nggak akan meminta uang sepeser pun pada Anton.”

Sukma meraih amplop dan menjejalkannya ke dalam tas, bangkit dari sofa dengan mata menatap Breana penuh kebencian.

“Janda nggak tahu diri, sudah bagus aku mau menolongmu,” desisnya sengit saat melewati Breana yang berdiri di sisi pintu.

“Sekali lagi kamu menghinaku, aku akan membuat perhitungan denganmu,” jawab Breana dengan tajam. “Aku akan mencicil apa yang Anton berikan untuk kami. Tunggu saja.”

Belum sempat Sukma menjawab, percakapan mereka disela oleh dua orang laki-laki yang menggotong kardus dan peralatan dari lift. Keduanya menatap Breana dan Sukma yang berdiri bersisihan di depan pintu yang terbuka.

“Maaf, di mana kamar Breana?” tanya salah seorang yang lebih tua.

“Aku Breana, Bapak siapa?” tanya Breana heran.

Si laki-laki tersenyum dan mengangguk ramah. “Kami disuruh datang kemari untuk memasang AC. Semua peralatan sudah kami bawa, bolehkan kami masuk?”

Breana ternganga, teringat percakapannya dengan Ben tentang keinginan laki-laki itu memasang AC untuk rumahnya. Semula ia berharap jika Ben hanya bercanda, ternyata laki-laki itu membuktikan ucapannya.

“Siapa yang menyuruhmu?” bentak Sukma pada tukang AC yang lebih tua dan membuat mereka yang mendengar berjengit kaget.

“Ayo, katakan! Apa Anton yang melakukan ini semua?” Sekali lagi Sukma bertanya dengan berapi-api.

“Bukan,” jawab Breana lirih.

Namun Sukma seperti tidak mendengarnya, matanya melotot memandang tukang AC yang menatap bingung bergantian antara dirinya dan Breana.

“Yang menyuruh kami adalah Pak Direktur, kami nggak kenal siapa itu Anton,” jawab si tukang AC.

Sukma yang semula melotot garang, kini membuang muka untuk menutupi rasa malu. Dia melangkah dengan angkuh menuju lift tanpa berpamitan pada Breana.

Yang terakhir kali dilihat Breana sebelum lift menutup adalah mata Sukma menatapnya tajam. Mendadak ia merasakan kelelahan yang tak ada hubungannya dengan kerja fisik. Ia menatap bingung pada dua tukang AC di depannya lalu menyilakan mereka masuk.

*

“AC sudah terpasang,” ucap Breana di ponselnya. Ia menelepon Ben berniat untuk memberitahu laki-laki itu.

“Good, mudah-mudahan Nesya akan tidur nyenyak malam ini. Kapan jadwal kontrol dokter?”

Breana berpikir sejenak sebelum menjawab. “Besok pagi jam sepuluh.”

“Baiklah, aku akan mengantar kalian.”

“Nggak perlu, kami bisa sendiri.”

Hening, tidak ada suara. Breana menahan napas.

“Bre, aku nggak suka dibantah.”

“Aku nggak membantah, ini hanya demi kebaikan kita!” sentak Breana tanpa sadar. Kedatangan Sukma yang mengambuk tadi sore masih membekas tajam dalam ingatannya. Lalu, sekarang Ben menawarkan akan menolongnya. Bukankah laki-laki itu juga sudah bertunangan? Lalu, apa kata orang kalau dirinya selalu terlibat dalam laki-laki milik perempuan lain? Breana merasakan kepalanya berdenyut menyakitkan.

“Bre, buka pintu.”

“Apa?” tanya Brean bingung.

“Buka pintu, aku di sini.”

Breana terlonjak dan setengah berlari membuka pintu, mendapati Ben yang berdiri menjulang di depan pintunya.

“Kenapa kemari?” tanya Breana bingung.

“Karena aku ingin,” jawab Ben menyingkirkan tubuh Breana dari jalannya. “kebetulan besok libur jadi aku bisa mengantar Nesya ke dokter tepat waktu. Di mana dia?” tanya Ben celingak-celinguk di ruang tamu.

Breana tersadar dari keherannya, menatap penampilan Ben yang masih terlihat rapi dengan dasi dan jas. Rupanya laki-laki itu langsung dari kantor menuju ke rumahnya.

“Nesya ada di kamar.”

Tidak bertanya dua kali, Ben meletakkan tas di atas sofa dan menuju kamar kecil dan membuka pintunya.

Matanya tertuju pada sesosok gadis kecil yang terbaring di ranjang dengan perban di bahu. Terlihat serius menatap layar televisi berukuran kecil yang terpasang di tembok. Mata gadis itu berbinar saat melihatnya.

“Papa Ben,” sapa Nesya gembira.

Ben tersenyum dan melangkah menghampiri ranjang. “Hallo, gadis cantik. Apa kamu sudah sehat hari ini?”

Nesya mengangguk kuat-kuat. “Nesya sudah sembuh, nanti mau sekolah.”

Ben mengulurkan tangan untuk membelai rambut Nesya, merasakan kehangatan yang mengalir dari kulit mereka yang bersentuhan. Ia mengabaikan Breana yang berdiri di depan pintu kamar dengan pandangan sebal.

“Anak papa memang paling pintar, kamu nonton apa?” tanya Ben melirik sekilas tayangan di televisi.

“Unyil main ke dufan,” jawan Nesya pelan. Sebuah selimut lusuh yang dikenali Ben, teronggok di kakinya.

“Nesya pernah main ke dufan?” tanya Ben sambil merapikan bantal yang menyangga kepala anaknya.

Gadis kecil itu menggeleng. “Belum, kata Mama butuh duit banyaaak kalau mau ke sana,” jawab Nesya sambil merentangkan kedua tangannya.

Ben tersenyum. “Tunggu kamu sembuh, kita main ke sana.”

“Beneran?” Mata Nesya membulat gembira.

“Iya, beneran. Janji kamu harus sembuh dulu.”

Keduanya mengaitkan kelingking dan membuat janji.

Apa yang dilakukan Ben dengan anaknya tidak luput dari perhatian Breana. Meski merasa kesal dengan kedatangan laki-laki itu yang tiba-tiba tapi ia bersyukur, Ben mampu membuat anaknya tertawa.

“Kalau mau sembuh harus minum apa?” Breana bertanya sambil melangkah menghampiri ranjang.

“Minum obat,” jawab Nesya lemah.

“Sebelum minum obat harus apa?” tanya Brena dengan tangan mengusap dahi anaknya. Sementara Ben tetap duduk di pinggir ranjang.

“Makan bubur.” Jawab Nesya sekali lagi.

“Kalau begitu, kita sekarang makan bubur. Kalau mau sembuh.”

Nesya menghela napas dengan dramatis, seakan-akan ajakan makan bubur adalah sebuah penganiayaan untuknya. Bola matanya yang jernih dan bulat memandang Ben lekat-lekat.

“Apa Papa Ben mau makan bubur?”

Pertanyaannya dijawab dengan anggukan kepala oleh Ben. Laki-laki itu tersenyum simpul. “Tentu, mari kita makan bubur bersama. Sini, papa gendong. Kita makan di depan biar ranjangnya nggak kotor.”

Nesya mengalungkan lengannya yang kecil ke arah leher Ben dan membiarkan tubuhnya dibopong keluar. Sementara Breana bergerak lebih dulu ke arah dapur untuk menyiapkan makanan.

Jujur saja ia merasa malu, Ben akan makan bersama mereka dan yang ia punya hanya bubur putih, kecap dan telur mata sapi. Dengan gugup ia membuka kulkas, mencari sayuran untuk dimasak dan mendapati ada sayur kol setengah beserta dua batang daun bawang.

Sementara kompor menghangatkan bubur, ia mencuci sayur dan mengiris bawang. Setelah memindahkan bubur ke atas meja makan, Breana mulai menceplok telur dan menumis kol. Lalu membawanya ke meja makan mereka yang kecil.

“Maaf, hanya ada di kulkas hanya ini,” ucap Breana dengan wajah memerah karena malu. Tangannya sibuk menyiapkan makanan untuk anaknya.

Ben tidak menjawab, mengambil dua centong bubur dari dalam panci, sepotong telur ceplok dan beberapa sendok tumis kol ke atas piring. Lalu menyuapkan ke mulutnya.

“Begini sudah enak,” ucapnya perlahan.

Breana tersenyum. Membuka botol kecil berisi bawang goreng dan menaburkan ke atas bubur milik Ben. Lalu mengambil sambal dari kotak kecil di atas meja. “Ini sambal teri buatanku, enak. Makan bubur pakai sambail ini lebih enak.”

Ben tidak menolak saat Breana menambahkan sambal teri ke piringnya. Dia makan dengan lahap sementara Breana menyuapi Nesya.

“Buburnya enak, apa kamu beri santan?” tanya Ben.

Breana menggeleng. “Hanya kaldu ayam, bukan santan.”

“Lihat Papa, Nesya makan banyak,” ucap Nesya memamerkan bubur dalam mulutnya.

“Gadis pintar,” puji Ben.

Selesai makan, Nesya minum obat dan seketika terserang kantuk. Breana menggendong Nesya ke kamar dan meninabobokan anaknya. Setelah melihat anaknya tertidur pulas, ia meredupkan lampu dan berjingkat-jingkat keluar untuk menemui Ben. Ia tahu, laki-laki itu pasti bersiap-siap untuk pulang.

Namun, pemandangan yang dilihatnya di ruang tamu membuatnya kaget. Ia melihat Ben tertidur lelap di atas sofa. Sebelah tangannya menutup mata dan meringkuk di atas sofa yang tidak terlalu besar tentu membuat tidak nyaman, apalagi Ben tergolong tinggi. Breana yang merasa kasihan mengguncang bahunya perlahan.

“Ben, sudah malam. Kamu harus pulang,” bisiknya pelan.

Ben tidak bereaksi, laki-laki itu tetap pulas bahkan dengkur halus terdengar dari mulutnya. Brena berdiri kebingungan, menatap tas Ben yang tergeletak di atas meja. Lalu ia teringat jika besok adalah hari libur, tentu Ben tidak masalah jika harus menginap di sini.

“Aku yang akan kena masalah kalau membiarkan laki-laki ini di sini,” gumam Breana pelan. Menatap sosok Ben yang terbujur di depannya.

Ia menarik napas dan meniup anak rambut di dahi. Akhirnya memutuskan untuk membiarkan Ben beristirahat. Ia melangkah menuju meja makan. Membereskan peralatan dan mangkok-mangkok kotor, membawanya ke westafel. Setelah selesai membersihkan kompor dan dapur, ia kembali ke ruang tamu. Melihat posisi Ben kini berbaring miring dengan wajah menghadap ke meja.

Mengikuti dorongan hati, Breana berjongkok dengan wajah menghadap ke arah Ben. Ia terpaku, menatap bulu mata Ben yang lentik, alisnya yang hitam dan tebal juga wajahnya dengan rahang yang kokoh. Matanya turun ke arah bibir laki-laki itu, tanpa sadar mendesah. Jemarinya terulur untuk mengusap lembut dagu Ben yang memiliki lekukan di tengah.

Suara motor yang meraung-raung di jalanan menyadarkan lamunan Breana. Ia menatap jemarinya yang berada di rahang Ben dan buru-buru menariknya lalu berdiri. Belum sempat menegakkan tubuh, sebuah tangan yang kokoh menariknya. Dengan setengah membungkuk, kini wajahnya berada beberapa sentimeter dari wajah Ben.

“Kenapa mengamatiku? Apa kamu baru sadar kalau aku tampan?” ucap Ben dengan suara serak.

Breana meronta, merasa tidak nyaman dengan posisinya yang membungkuk dan memperlihatan belahan dada dari tubuhnya yang berbalut kaos.

“Aku berniat membangunkanmu, sudah waktunya kamu pulang,” ucap Breana untuk menghilangkan rasa groginya.

Ben mengernyitkan dahi. “Bukannya aku sudah bilang mau mengantarkan kalian ke rumah sakit besok?”

“Iya, tapi tetap kamu harus pulang.”

“Nggak, dari sini lebih dekat ke rumah sakit dari pada ke rumahku.”

“Jadi kamu mau menginap di sini?”

Ben mengangguk. “Iya, dan jangan ganggu aku.”

Ucapannya membuat Breana tersinggung. “Siapa yang mau ganggu kamu? Lepasin tanganku!” ucapnya sambil menyetakkan pegangan Ben di tangannya.

Laki-laki itu hanya menggeliat. “Sebelum tidur, aku ingin meminta satu hal.” Tanpa diduga, tangannya menarik Brena dan merangkul leher perempuan itu. Sebuah ciuman mendarat di bibir Breana.

Breana berusaha menolak tapi Ben memegang lehernya dengan kuat dan tidak membiarkan dirinya lepas.

Ben mengusap bibir Breana dengan bibirnya, lidahnya menyelusup masuk untuk membelai langit-langit mulut perempuan itu. Menghisap pelan bibir bagian bawah dan juga lidahnya. Erangan Breana membangkitkan gairahnya. Jika menuruti hasrat ingin rasanya membanting tubuh perempuan itu di atas sofa dan mencumbunya tapi ia ingat ini bukan waktu yang tepat.

Seperti datangnya tadi, ciuman ia lepas tiba-tiba dan membiarkan Breana menegakkan tubuh dengan wajah merah padam dan bibir lembab. “Tidurlah, jangan lupa matikan lampu,” ucapnya parau.

Breana melangkah dengan sedikit gamang, mematikan lampu dan melangkah tersaruk-saruk ke kamar. Di atas ranjang matanya nyalang menatap langit-langit kamar dengan gairah yang tak kunjung reda karena ciuman dari laki-laki yang kini berbaring di ruang tamu. [bersambung ke titiktemu berikutnya]

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…