#Into_You – #Part_09

Setelah operasi berjalan lancar, kondisi Nesya pulih dengan cepat. Selama itu pula, Breana dan Anton selalu menemani. Breana merasa tidak enak hati sama mantan suaminya. Berkali-kali mencoba mengusir secara halus tapi Anton bergeming.

“Dia anakku juga, biarkan aku ikut merawatnya.”

Breana hanya menarik napas saat mendengar jawabannya. Ia takut kalau orang tua Anton atau tunangannya tahu perihal Nesya dan kepedulian laki-laki itu pada anaknya, maka akan timbul masalah besar.

Lain halnya dengan Ben, setelah pembicaraan dari hati ke hati sore itu, dia jarang kelihatan di rumah sakit. Hanya datang saat jam besuk, itu pun tak lama. Tidak pernah mengajak Breana mengobrol sama sekali. Hanya berdiri di samping ranjang dan mengamati dengan intens apa pun yang dilakukan Nesya. Sebuah selimut kuning usang bermotif boneka teronggok di sampingnya.

“Ini Om siapa, Mama?” tanya Nesya suatu sore saat Ben datang membawa boneka super besar untuknya.

Belum sempat Breana menjawab, Ben duduk di pinggir ranjang dan berucap pelan. “Panggil Papa Ben bukan Om.”

Ucapannya membuat Breana bingung dan Nesya heran. Gadis keci itu hanya mengangguk-angguk tanpa sadar. Memainkan boneka besar dalam pelukannya.

“Ben, apa-apaan kamu?” protes Breana pelan, takut terdengar anaknya.

Ben tidak menanggapi, hanya melirik ke arah wanita yang telah melahirkan anaknya. Tangannya terulur untuk membelai rambut Nesya. Bentuk mata dan dahi gadis kecil itu persis seperti dirinya. Rasanya bagai bercermin saat melihat gadis kecil yang terbaring di ranjang.

“Bukannya kalau Papa berarti harus nikah sama Mama?” tanya Nesya polos.

Ben tersenyum. “Ini panggilan sayang. Nesya manggil Ayah Anton jadi sekarang sama aku,” tunjuk Ben pada diri sendiri. “manggilnya Papa Ben. Oke, gadis pintar?”

Nesya mengangguk. “Oke.”

“Nah, kita toss dulu.” Ben memberikan tangannya. Lalu keduanya saling menepuk tangan dengan gembira.

“Waktunya minum obat,” sela Breana dengan sendok penuh obat dan air putih. Nesya terlihat bergidik tapi tidak membantah. Selesai minum obat, Nesya yang kelelahan akhirnya mengantuk dan tertidur.

Breana menyelimuti tubuh Nesya, mengelap dahinya dengan tisu dan merapikan letak boneka agar tidak menindih tangan kecil yang diinfus. Sementara Ben, berdiri di sampingnya dan memandang tanpa kata apa pun yang ia lakukan.

“Bisa kita bicara di luar?” tanya Breana pelan.

Ben mengangguk, melangkah ke pintu, membukanya dan membiarkan Breana melangkah lebih dulu. Mereka bicara di tangga darurat dekat rawat inap. Tidak ada orang lain di sana, hanya ada mereka berdua.

“Kenapa kamu minta dipanggil, Papa? Apa kamu tahu itu bisa menimbulkan banyak pertanyaan?”

Ben mengangkat sebelah alis. “Pertanyaan dari siapa?”

“Banyak orang tentu saja selain dalam diri Nesya sendiri. Tetangga, kerabat juga–,”

“—Anton!” sela Ben dengan nada dingin. “kamu takut dia banyak bertanya tentang hubungan kita? Bilang saja langsung sama dia, Nesya anakku.”

“Mudah buat kamu ngomong gitu, pikirin juga soal kami!”

Breana menghardik, wajahnya memerah. Ia berusaha memelankan suaranya tapi emosi menguasai hati begitu dalam.

“Kami siapa?”

“Aku dan Nesya tentu saja. Selama ini orang-orang hanya tahu, Nesya anakku dan ayahnya Anton, lalu sekarang kamu muncul dan … buum!” ucap Breana dengan tangan bergrak seakan ada bom meledak. “mengaku sebagai papanya.”

Breana memandang laki-laki di depannya yang terdiam. Di luar pintu yang merupakan lorong rumah sakit, suara langkah kaki terdengar nyaring juga bunyi benda yang didorong. Bisa jadi itu suster yang sedang mendorong troli peralatan medis. Belum waktunya jam besuk, Breana kadang heran Ben bisa datang di luar jam itu.

“Sudah selesai ngomongnya?” tanya Ben pelan.

Breana mendongak dari keasyikannya memandang anak tangga yang terlihat kusam. “Tentu saja, dan aku harap kamu mengerti.”

Ben menyipit, tangannya terulur untuk meraih dagu Breana dan memegangnya. “Bagaimana kalau aku nggak mau?”

“Nggak mau apa maksudmu?” Ia berusaha menyentakkan tangan Ben dari dagunya tapi sulit.

“Nggak mau menjauh dari kalian apalagi harus diatur-atur kamu. Terserah Nesya memanggilku apa, aku papanya.”

“Papa? Hanya karena kamu menanam benih di rahimku tdak bisa serta merta kamu menjadikan diri sebagai papanya!”

Ucapan Breana memukul perasaan Ben. Wajah laki-laki itu memucat. Tangannya gemetar menyugar rambut. Ia mengalihkan pandangan dari wanita yang sedang emosi di hadapannya ke arah pintu yang tertutup di samping mereka. Rasanya bagai dihantam batu saat ia mendengar ucapan Breana. Tapi, semua tidak sepenuhnya salahnya. Ia tidak pernah tahu jika punya anak. Selama ini ia berusaha mencari keberadaan Breana dan nihil. Lalu, wanita itu datang padanya. Awal mula sebagai pegawai dan mengguncang hati. Kini, sebagai wanita yang mana, di dalam rahimnya ia tanamkan benih. Yang kini tumbuh menjadi anak perempuan yang cantik.

“Nggak semua kesalahanku,” ucap Ben dengan nada berat. “Aku nggak pernah tahu kalau punya anak.”

Breana mengangguk. “Memang, kamu nggak salah dalam hal ini. Makanya, aku meminta dengan tulus, Ben. Setelah kamu tahu kenyataan ini, bisakah kamu bersikap seolah nggak ada yang berubah di antara kita?”

Ben menggeleng. “Nggak bisa, aku terlanjur tahu.”

Breana melotot. “Apa maksud kamu nggak bisa? Apa kamu akan bersiteru denganku demi anakku?”

Tangan Ben terulur sekali lagi untuk meraih wajah Breana. Kali ini belakang kepalanya dan menarik untuk menjadikan kepala mereka mendekat satu sama lain. Breana berusaha memberontak tapi Ben menahan dengan kuat. Kini bahkan menempelkan tubuh Breana ke dinding dan menahannya di sana.

“Apa-apaan ini?” sentak Breana marah.

“Kamu keras kepala, Bre. Aku hanya ingin dekat dengan anakku dan belum apa-apa kamu sudah menolaknya.”

“Aku hanya nggak mau anakku bingung.”

“Dia sudah bingung dan seiring berjalannya waktu, dia pasti mengerti kalau aku papanya,” bisik Ben di kuping Breana.

“Lalu? Apa niatmu kalau dia tahu? Ingin merebutnya dari tanganku?”

Ben tertawa kecil. “Masih belum kupikirkan, bisa jadi iya kalau seandainya kamu tetap keras kepala.”

Breana memberontak. “Dasar brengsek! Ini salah satu alasan aku nggak ngasih tahu soal Nesya. Karena kamu pasti akan mengambilnya dariku.” Suara Breana tersengal-sengal menahan marah dan tangis. “Aku yang merawat dia, bahkan saat seluruh keluargaku menentang aku tetap mempertahankannya dan kini kamu mau mengambilnya? Enak sajaa!”

Ben melihat air mata mulai menggenang di mata Breana. Dengan tenang ia mengusap menggunakan punggung jarinya. “Kalau begitu, kamu harus siap dengan apa yang aku mau. Nggak boleh menolakku untuk dekat dengan kalian dan kupastikan Nesya akan menjadi milikmu selamanya.”

Breana menangis sekarang. “Bukankah kamu mau menikah? Kenapa masih mengusik kami?”

Ben mengangkat bahu. “Karena aku nggak pernah berhenti menginginkanmu.”

Dengan satu sentakan kuat, Ben meraih tubuh Breana. Mendekap erat dalam pelukan dan mencium bibirnya. Satu ciuman kuat yang menghisap tidak hanya bibir tapi juga seluruh hasrat. Bibir Ben yang mengusai membuat wanita di dalam pelukannya luluh tak berdaya.

Breana sendiri merasa butuh pelampiasan, untuk hari-hari sulit yang ia jalani. Untuk segala air mata, kegundahan dan dia butuh orang untuk menjadi pelariannya. Dengan kesadaran kuat, Breana membalas ciuman laki-laki yang mendekapnya. Dengan satu ciuman terakhir, Ben melepaskan tubuhnya.

Napas keduanya tersengal-sengal. Tanpa sadar Breana melirik ke arah bagian bawah perut Ben dan melihat jika bukti hasratnya menonjol.

Ben mengusap bibir. “Jangan menentangku Bre, jangan membuatku menggunakan hak veto untuk memaksamu.”

“Apa maksudmu?” tanya Breana dengan napas masih tak beraturan.

“Ingat yang kamu katakan saat meminta tolong padaku? Kamu siap menjadi simpananku kalau aku menolong Nesya.”

Breana ternganga, Ben mengabaikannya. Laki-laki itu melangkah ke pintu darurat dan membukanya. “Jangan membuatku menagih janjimu, Bre. Ingat itu!”

Dengan sentakan kuat, Ben menutup pintu di belakangnya. Meninggalkan Breana terduduk di anak tangga.

Merasa lemah dan tak berdaya, Breana menutup wajah. Ia ingin menangis tapi air mata tidak keluar. Hati tersayat sedih. Ketakutannya akan klaim Ben pada anaknya menjadi kenyataan. Berbagai pikiran buruk berkelebat. Tentang Ben, Nesya dan dirinya sendiri. Ia bingung sekarang tak tahu harus bagaimana.

**

Sore, setelah selesai menjenguk Nesya, Ben kembali ke kantor. Pikirannya berkecamuk antara pekerjaan dan urusan pribadinya. Matanya menerawang menatap jalanan yang padat. Ibu kota memamg selalu ramai, tidak peduli jam berapa pun itu. Tanpa sadar, napas panjang terhela dari mulut Ben. Perdebatannya dengan Breana membuat hatinya sedikit kacau.

“Perempuan keras kepala,” gumam Ben samar.

Ia masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran Breana. Ia cuma minta dekat dengan anak perempuannya tapi Breana menentang. Seakan-akan takut ia akan merebut Nesya.

“Aku nggak sejahat itu,” gumam Ben sekali lagi dengan tangan mengetuk stir mobil, mengingat tentang Breana dan segala caci-makinya.

Handphone di atas dashboar bergetar, Ben melirik dan melihat nama tunangannya tertera di layar. Tangannya meraih untuk menekan tombol terima dan suara Amanda bergaung di dalam mobil. Sengaja saat menyetir, ia menyambungkan handphone dengan stereo dan bisa berbicara tanpa memegang benda itu.

“Sayang, kamu di mana?” Suara Amanda terdengar jernih.

“Di mobil, menuju ke kantor. Ada apa Amanda?”

“Nanti malam, Papa pulang dari Eropa dan kalau ada wakatu besok mau ketemu kamu. Tentu saja papa dan mamamu sekalian.”

“Ada apakah?” tanya Ben tanpa menyembunyikan keheranannya.

“Oh, hanya makan malam antar keluarga. Restoran yang mana nanti aku kasih tahu, ya?”

Ben menarik napas panjang sebelum menjawab. “Baiklah, aku tunggu.”

“Oke, see you. Love you, Honey.”Terdengar suara kecupan yang heboh sebelum Amanda memutuskan sambungan telepon dan meninggalkan Ben, tenggelam dalam pikirannya.

Makan malam keluarga, pasti pembahasan tidak akan jauh dari urusan pernikahan. Entah kenapa, Ben sudah bisa menduganya. Belum lagi orang tuanya harus ikut serta. Mendadak ia merasa napasnya sesak. Bukan hanya belum siap menikah secepat ini tapi memikirkan bagaimana untuk menolak rencana para orang tua, itu yang tersulit.

Mobil melambat saat memasuki area parkir. Ben Menghentikan depan di depan lobi dan menyerahkan kunci pada petugas valet. Dengan langkah tergesa ia menuju lobi dan berpapasan dengan Tessa di depan lift.

“Pak Direktur, saya sudah siapakan data yang Bapak minta.”

Ben mengangkat sebelas alis. “Kamu dari mana?”

“Departemen keuangan dan bertemu dengan Bu Hani.”

“Baiklah, satu jam lagi, panggil mereka berdua mengadapku,” ucap Ben sebelum masuk ke dalam lift dan menghilang di balik pintu yang tertutup.

Satu jam kemudian, ia berdiri tenang menghadapi Bu Hani dan Vigo. Ben menatap tajam pada laki-laki berambut kemerahan yang sekarang berdiri gemetar menunduk di hadapannya. Sementara Bu Hani duduk di sofa. Sementara, sekretarisnya sibuk dengan tumpukan dokumen di atas meja.

“Namamu Vigo Estanto, benar?” tanya Ben pelan.

Vigo mengangguk. “Iya, Pak.”

“Berapa lama bekerja di sini?”

“Hampir tiga tahun.”

Ben mengangguk. “Kudengar dari Bu Hani kamu karyawan yang rajin dan berdedikasi. Perusahaan bangga memiliki pegawai sepertimu.”

Bu Hani bangkit dari duduknya. “Dia memang salah satu pegawai yang rajin, Pak Direktur.”

Ben mengangguk, menatap Vigo yang kini berani mengangkat kepalanya. “Kalau aku ingin dia menjadi wakilmu, apa Bu Hani setuju?”

Pertanyaan Ben yang tak disangka-sangka membuat Bu Hani terperangah, termasuk Vigo. Laki-laki itu tidak dapat menyembunyikan kegembiaraan dari wajahnya.

“Tentu saja dia pantas, Pak,” ucap Bu Hani bersemangat.

Ben mengangguk. “Bagaiman sama kamu Vigo?”

Senyum malu-malu terkembang di mulut Vigo. Matanya melirik direkturnya yang berdiri di dekat meja besar yang menjadi tempat kerja. Lalu melirik Tessa yang tampil memukau dengan setelan warna salem, berdiri di samping meja direktur. Hati Vigo berdesir, entah kenapa dari dulu ia sangat kagum dengan Tessa. Kini kesempatan untuk mendekati sang sekretaris akan semakin besar jika ia menjadi wakil tim keuangan. Merasa puas dengan diri sendiri, cuping hidungnya mengembang, tak bisa menyembunyikan rasa bahagia.

“Vigo?”

Teguran Ben membuyarkan lamunannya. “Ya Pak Direktur, jika diberi amanat saya siap,” jawabnya tegas.

Ben mengangguk sambil bertepuk-tangan. “Hebat, aku suka semangatmu, Vigo.”

Bu Hani menatap Vigo dengan bangga. Sementara si laki-laki berambut merah tidak bisa menahan senyum lebar dari mulutnya. Tidak menyangka sang direktur sendiri yang akan memberikan jabatan untuknya.

“Tessa, mana dokumen yang aku minta?” tanya Ben pada sekretarisnya.

Tessa mengulurkan satu set dokumen dalam map merah. Ben membuka isinya dan membaca satu per satu. Lalu menatap Vigo tajam. “Masalahnya, Vigo. Perusahaan tidak akan memperkerjakan seorang maling,” ucapnya pelan dan dingin.

Baik Bu Hani mau pun Vigo terkaget, keduanya berpandangan tak mengerti.

“Maksud, Anda. Pak Direktur?” tanya Bu Hani bingung.

“Kamu yang menjebak Breana dan menjadikannya kambing hitam untuk perbuatanmu, bukan?”

Vigo gemetar. “Bukan, Pak Di-direktur. Sa-saya nggak mungkin melakukan itu.”

“Begitu?” ucap Ben pelan. “di sini tertulis cek untuk pengeluaran sebesar seratus juta. Ditujukan pada nomor rekening fiktif yang kita tidak tahu itu punya siapa.”

“Bukankah sudah jelas, Bre yang melakukannya?” Kali ini Bu Hani yang bicara.

“Bukankah kita butuh kamning hitam Bu Hani dan sial bagi Bre, tanda tangan dia yang ada tertera di cek.”

Ruangan senyap seketika, tidak ada suara apa pun seakan setiap orang takut berbicara. Vigo gemetar di tempatnya berdiri sementara Ben bersandar pada meja. Matanya menatap Vigo tajam dengan aroma kebencian terasa nyata.

“Sumpah Pak Direktur, bukan saya yang melakukan. It-itu Breana,” ucap Vigo dengan tangan menangkup di depan dada.

“Iya, secara kasat mata memang Breana karen ada tanda tangannya terbubuh di sana. Tapi, kamu yang melakukan itu.”

“Maksud Pak Direktur apa?” Bu Hani bertanya kebingungan. Wajahnya memandang bergantian pada Vigo yang gemetar dan Ben yang sibuk membolak-balikkan dokumen di tangannya. Sementara sang sekretaris memandang jalannya intrograsi dengan berdiri tegak di samping Ben.

“Aku membawa cek yang bertanda-tangan Breana ke peneliti ahli, orang yang bisa dipercaya. Hasilnya, ada orang yang memalsukan tanda tangannya dan membuat seolah-olah dia yang menyetujui pengeluaran sebesar seratus juta. Maling sesungguhnya kini berdiri di depan kita, dengan wajah pucat dan berharap menjadi wakil di departemen keuangan.”

Tak menunggu lama, tanpa diduga-duga, Vigo berlutut di karpet. Tangannya menutup wajah dan air mata mulai berlinang di pipi. Lalu ia berucap dengan terbata-bata.

“Maafkan saya Pak Direktur, saya mengaku salah dan khilaf. Ibu saya sedang sakit dan saya butuh uang untuk merawatnya. Maafkan sayaaa ….”

Ben membanting dokumen ke atas meja. Memandang pegawainya yang kini bersimpuh dengan wajah penuh air mata. Sementara dari ujung mata ia melihat Bu Hani yang shock jatuh terduduk di atas sofa sambil memegang dadanya.

“Apa kamu tahu siapa, Breana, Vigo?” tanya Ben dengan suara setajam silet.

Vigo menggelengkan kepala.

“Dia janda, ibu tunggal dari seorang anak perempuan. Karena perbuatanmu, mengakibatkan banyak hal buruk menimpanya, selain tercoreng nama baik juga tidak ada penghasilan untuk anaknya. Kenapa kamu sampai begitu tega?”

“Maafkan saya, Pak Direktur. Saya khilaf, saya berjanji tidak akan mengulangi lagi.” Vigo meraung di dalam ruangan.

Ben memberi tanda pada Tessa. Sang sekretaris mengangguk lalu memencet telepon di atas meja. “Tolong Pak Ahmad, datang bersama empat orang ke ruangan direktur. Penting!”

“Ampuni saya, Pak. Jangan ditahan, demi ibu saya yang sakit. Saya lakukan demi dia.” Vigo kembali meraung-raung, kini bahkan bersujud di atas lantai dan berteriak memanggil ibunya. “Ibu-ibu, maafkan anakmu! Aku anak tak berbakti.”

Ben bergeming, membiatkan Vigo menangis sejadi-jadinya. Tak lama pintu terbuka dan masuklah empat orang anggota security.

“Tahan dia, dan biarkan polisi yang menangani kasusnya,” perintah Max pada para security.

Ledakan tangis terdengar di sepanjang lorong saat Vigo diseret keluar oleh para security. Sepeninggalnya, Ben menghampiri Bu Hani yang terlihat shock.

“Ini untuk pelajaran Bu Hani, lain kali jangan terlalu percaya pada orang yang bersikap baik dan manis secara berlebihan.”

Bu Hani mengangguk. “Iya, Pak Direktur. Saya merasa sangat malu dan juga bersalah dalam hal ini.”

“Kalau begitu ada satu yang harus kamu lakukan.”

Bu Hani mendongak. “Apa, Pak?”

“Panggil Breana kembali bekerja dan pulihkan nama baiknya.”

Bu Hani mengangguk dan bangkit sari sofa dengan lunglai. Bahunya merosot dan rasa malu terlihat dari sikapnya yang berjalan keluar dengan wajah menunduk.

Ben menatap kepergian pegawai kesayangannya dengan prihatin. Masalah ini akhirnya selesai setelah ia turun tangan. Meski pada akhirnya menambah banyak masalah lain. Pikirannya tertuju pada Breana, ia sering memergoki wanita itu memandang kuatir saat membuka dompet. Pasti kehilangan pekerjaan otomatis membuatnya pemasukan.

“Tessa.”

“Iya, Pak.”

“Coba selidiki perihal ibu Vigo yang sedang dirawat. Aku ingin tahu kebenarannya. Kalau memang butuh pertolongan, kamu bantu.”

Tessa menagngguk hormat. “Baik, Pak. Segera saya cari informasi.”

Sepeninggal Tessa, Ben berdiri termangu memandang jendela dengan gorden sedikit terbuka. Menampakkan pemandangan kota dengan rumah yang berjejalan dan senja mulai nampak di ufuk barat. Entak kenapa dia merasa begitu merindukan Breana dan juga, kepolosan Nesya.

“Dia anakku, akan kulakukan apa pun untuk mendapatkan anakku.” [bersambung ke titiktemu berikutnya]

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…