#Into_You – #Part_07

*

Kamar tempat Nesya dirawat terhitung kelas murah. Dalam satu ruangan ada sekitar enam pasien yang berbaring berderet di ranjang kecil. Breana meratap sedih, tidak punya cukup uang untuk membiayai anaknya agar dirawat di rumah sakit yang lebih bagus. Air mata berlinang di pipinya disertai isakan pelan, tangan bergerak lembut untuk membelai wajah anaknya yang pias. Tubuh mungil dipenuhi balutan perban, rasa hati Breana bagai dirobek-robek.

Sesaat setelah ia mencapai rumah sakit, Tini datang memeluknya dan menjerit kencang. Wanita beranak dua itu merasa sedih dan bersalah.

“Kami sedang bergandengan pulang, Mbak Bre. Saya sudah mengarahkan anak-anak untuk berjalan menepi tapi motor datang dari arah belokan dengan kecepatan tinggi. Kebetulan Nesya melihat temannya dan sedang melambaikan tangan untuk menyapa temannya yang ada di seberang. Tabrakan nggak bisa kami hindari. Maafkan saya Mbak, sudah lalai.”

Breana hanya menangis sambil memeluk Tini yang kalut. Hatinya jauh lebih kalut saat melihat anaknya tergeletak di UGD. Setelah ditangani dokter, akhirnya pihak rumah sakit mengatakan kalau luka Nesya terlalu parah jadi harus dirawat.

Membutuhkan perjuangan untuk mendapatkan kamar rawat. Tanpa uang banyak dan hanya mengandalkan asuransi dari pemerintah, pihak rumah sakit seperti mempersulit. Breana hampir putus asa dan bantuan datang dalam bentuk Anton. Laki-laki itu terlihat sedih, dia bahkan mengeluarkan uang untuk jaminan kamar bagi anak Breana.

“Jangan berpikir untuk mengembalikan, Bre. Bagaimana pun Nesya anakku juga,” ucap Anton saat melihat Breana berkaca-kaca menahan haru karena bantuannya.

“Makasih Anton, sudah merepotkan kamu.”

“Urusanmu dan Nesya adalah urusanku juga, bagaimana pun kita satu keluarga.”

Semalaman Breana terjaga, menunggu anaknya yang tak jua bangun. Bisa jadi karena pengaruh obat bius atau apa, tapi semenjak dibawa ke kamar rawat, Nesya belum pernah sadar. Ia hanya berharap kalau anaknya sedang tidur, itu saja.

*

“Bagaimana, Bu? Sudah mendapatkan darah untuk anaknya?” Keesokan siang seorang suster yang memeriksa selang infus bertanya pada Breana.

Breana menggeleng lemah. “Belum, Sus. Saya sudah minta tolong untuk mencari di PMI sekitar tapi teman saya belum mengabari.”

Si suster mengangguk. “Semoga cepat dapat, ya? Operasi nggak bisa ditunda.”

Breana menatap kepergian suster dengan mata nanar. Meraih ponsel di dalam saku untuk mengirim pesan pada Anton yang membantunya mencari darah. Sejujurnya, ia enggan merepotkan laki-laki itu tapi keadaan sedang gawat. Mau tak mau, mengesampingkan rasa segan, ia memohon agar Anton membantunya.

Balasan yang ia terima dari Anton membuat kepalanya terkulai. Breana kembali menangis. Anton memberitahu jika jenis darah yang dibutuhkan Nesya sedang kosong. Ia mengetuk-ngetuk kening untuk berpikir. Jika tidak segera dioperasi, nyawa anaknya bisa terancam.

Dokter mengatakan, ada tulang retak di bahu anaknya dan butuh operasi. Sedangkan mereka belum bisa melakukan operasi jika belum mendapatkan donor darah. Setelah melakukan pengecekan, tidak ada stok darah di rumah sakit. Suster menyarankan agar mereka mencari ke PMI dengan membawa surat rujukan. Breana tidak tahu berapa lama waktu mereka untuk mendapatkan darah.

Mendadak, satu pemikiran melintas di kepalanya. Ia melirik jam di ponsel. Lalu mengetik pesan dengan cepat untuk Anton.

Tak lama Anton datang, masih dengan helm di kepala. Setelah mengelap keringat dia duduk di samping Breana. Mencopot helm dan meletakkannya di bawah ranjang.

“Ada apa? Katamu sudah dapat pendonor?” bisiknya pelan.

Breana mengangguk. “Ada satu orang yang aku tahu persis punya darah yang sama dengan Nesya. Kita nggak bisa nunggu lama lagi, biar aku ke tempatnya untuk meminta bantuan.”

“Siapa?” tanya Anton penasaran.

Terdengar suara rintihan kecil, dengan sigap Breana bangkit dari kursi. Mengelap keringat anaknya. “Ada apa, Sayang? Bagian mana yang sakit?” Tidak ada jawaban dari anaknya yang hanya merengek sebentar lalu kembali tertidur.

Suara gaduh di dalam kamar dengan banyak penghuni sedikit banyak mempengaruhi kondisi Neysa. Breana mendesah tak berdaya, ia tahu kalau anak perempuannya membutuhkan kamar rawat yang tidak terlalu ramai. Terkadang, suara berisik pengunjung dan obrolan antar pasien sangat menganggu. Seperti sekarang, saat jam besuk untuk pasien tiba. Gerombolan pengunjung membuat kamar yang sudah ramai menjadi gaduh.

“Ada apa dia? Kenapa?” Anton yang berdiri di sebelahnya bertanya kuatir.

“Nggak apa-apa, cuma ngigau kayaknya.” Breana menoleh ke arah Anton. “Aku harus pergi sekarang. Tolong jaga dia, ya?”

Dengan berat hati Anton mengangguk. “Hati-hati dan semoga berhasil.”

Breana mengusap pipi anaknya sekali lagi sebelum meninggalkan sisi ranjang dan menyambar tas di atas meja. Ia melangkah tergesa-gesa, melawan arus para pengunjung rumah sakit. Kebetulan ia keluar pada saat jam besuk sore sedang berlangsung.

Sampai di depan rumah sakit, sebuah ojek online sudah menunggu. Menyebutkan alamat, ia membiarkan dirinya dibawa melaju naik motor menembus kemacetan sore. Jam pulang kerja, arus kendaraan seakan tak terbendung, meluber memenuhi jalanan. Breana berharap ia tak terlambat sampai tempat tujuan.

Udara mulai menggelap saat ia sampai depan gedung. Lobi sudah sepi karena memang para karyawan banyak yang sudah pulang dari jam lima. Breana bersyukur lift karyawan masih beroperasi. Ia memencet tombol lift dan masuk ke dalam, menuju lantai tujuh.

“Saya ingin bertemu Pak Direktur.” Breana berucap pada seorang resepsionis laki-laki berpakaian security di meja depan.

“Mbak siapa dan ada perlu apa?” tanya security dengan curiga.

“Ada masalah pribadi, tolong sampaikan pada beliau, Breana ingin bertemu.”

“Maaf, Mbak. Ini sudah jam pulang kerja, tentu beliau tidak akan senang kalau diganggu.”

Breana menyandarkan tubuh pada meja dan menatap mata si security dengan tajam. “Ini menyangkut hidup dan mati anakku!”

“Tetap saja, ini peraturan.”

Saat Breana merasa frustasi dan berniat masuk dengan menerobos, dari dalam muncul sosok yang tidak disangka-sangka. Tessa, sang sekretaris menatapnya dengan heran.

“Ada apa ini?” tanyanya pada security.

“Ini Bu, pengunjung ini ngeyel ini ketemu boss,” jawab security.

Breana mendekati Tessa dan berucap pelan. “Tessa, tolonglah. Aku harus ketemu dia, ini menyangkut nyawa anakku.”

Sesaat mata Tessa membulat, menatap Breana dengan kemeja lusuh dan celana jin, bahkan hanya memakai sandal jepit.

“Tessa, please.” Sekali lagi Breana memohon. Ia merasa merasa lega saat sang sekretaris mengangguk.

“Ikut aku.”

Breana melangkah pelan mengikuti Tessa yang berjalan tiga langkah di depannya. Melewati satu lorong pendek dengan lantai tertutup karpet tebal warna coklat.

Mereka tiba di depan pintu besi tebal berwarna perak mengkilat, Tessa berbalik dan berkata padanya. “Kamu tunggu di sini sebentar, aku bicara dulu dengan Pak Direktur.

Breana mengangguk, menunggu di depan pintu saat Tessa masuk. Ia meremas tangan dengan gugup, menggigit bibir bawah untuk meredakan ketegangan. Berharap dalam hati semoga Ben mau menerima kedatangannya.

Matanya melirik suasana kantor yang mulai lengang. Di depan kantor Ben, menampakkan pemandangan kota yang yang terbias melalu kaca. Saat ia melangkah menuju kantor Ben, ia melewati ruangan luas tempat para pegawai bekerja. Tersisa dua atau tiga orang yang sibuk di balik kubikel mereka.

Pintu terbuka, Breana tersadar dari lamunannya. Tessa mengangguk dan membuka pintu lebar-lebar untuknya. “Pak Direktur menunggumu.”

“Terima kasih,” gumam Breana saat melangkah melewati sang sekretaris.

Begitu pintu menutup di belakangnya, Breana memandang Ben yang berdiri bersandar pada meja. Sesaat mata mereka terkunci dalam satu pandangan. Breana meraba dadanya yang berdebar, menahan napas dan mengembuskannya perlahan.

“Breana, ada yang bisa kubantu? Suatu kehormatan kamu menemuiku sore-sore begini.” Suara Ben terdengar nyaring di ruangan yang sunyi.

“Aku datang untuk meminta tolong,” ucap Breana pelan. Tidak ada tanggapan dari laki-laki yang bersandar di meja. Breana meneruskan langkah hingga jarak di antara mereka tersisa hanya beberapa jengkal. “Apakah tawaranmu masih berlaku? Untuk membantuku?”

Ben tersenyum kecil, meraih botol berisi air minum dan meneguknya. Menatap wanita yang berdiri dengan wajah pucat dan datang dengan penampilan sederhana.

“Kenapa, Bre? Apakah kamu segitu putus asa hingga berani menerima tawaranku? Atau kamu memang merasa bersalah?”

Breana berdiri dengan mata terpejam, berusaha menahan bulir-bulir yang terasa panas di kelopaknya. Pikirannya tertuju pada Nesya yang terbaring sekarat di atas ranjang. Dan laki-laki yang berdiri di depannya adalah orang yang bisa menyelamatkan anaknya.

“Aku nggak bicara soal uang, aku bicara soal hal lain.” Dengan bibir gemetar ia menyahut.

Ben beranjak dari tempatnya semula, berpindah ke depan meja. “Ada apa, Bre?”

Entah dari mana datangnya rasa sedih yang menyeruak, Breana merasa air mata menetes tak terbendung dan membahasi pipi

“Aku minta tolong padamu, aku akan membayar dengan cara apa pun. Apakah kamu ingin aku menjadi simpananmu? Baik, aku mau, aku bersedia tapi tolonglah anakku!”

Kebingungan terlihat di wajah Ben. “Anakmu? Ada apa dengan anakmu.”

Tangis Breana meledak, ia berusaha menguasai diri. Ia datang untuk meminta tolong bukan untuk mengadu dan menangis. “Anakku se-sekarat, kemarin dia kecelakaan dan kehilangan banyak darah. Aku mohon tolonglah anakku, Ben.” Dengan tangan saling meremas, Breana tergugu tak terkendali.

Tidak ada jawaban dari Ben. Laki-laki itu masih memandang Breana dengan tatapan tidak mengerti.

“Kenapa harus aku yang menolongnya?” tanya Ben lamat-lamat.

“Karena dia punya golongan darah yang sama denganmu. Dokter bilang dibutuhkan banyak darah untuk operasi. Aku sudah mencari ke mana-mana tapi stok darah sedang kosong. Apa kamu menginginkan imbalan?” Dengan tangan gemetar Breana melepas kancing kemejanya. “Aku bersedia jadi simpananmu, sebulan, dua bulan? Asal selamatkan anakku. Apakah kamu ingin uang muka? Aku bisa membayarnya sekarang.”

Breana berdiri gemetar dengan baju terbuka di bagian depan, menampakkan dada putih yang tertutup bra. Ia merasa sangat malu dan kehilangan harga diri tapi yang ia ingat hanya soal Nesya. Menyerah pada rasa sedih, ia ambruk dan terduduk di lantai. Menangis tersedu-sedu. Hingga tak menyadari Ben menghampirinya.

“Di mana, dia?” tanya Ben lembut.

Suara Ben yang begitu dekat membuat Breana mendongak, laki-laki yang ia harap akan menolongnya, duduk berjongkok di sampingnya.

“Di rumah sakit umum daerah. Dokter mengatakan, dia harus dioperasi segera.”

“Kenapa anakmu bisa sampai begitu?”

Breana menggeleng dan menundukkan wajah. “Dia main ke taman dan ketabrak motor.”

“Dari mana kamu tahu kalau darahku akan cocok untuk anakmu?”

Cercaan pertanyaan dari Ben membuat Breana mengangkat wajah dan menatap laki-laki itu dengan pandangan berkabut air mata. “Aku tahu, karena aku pernah dengar kamu menyebut golongan darahmu dan anakku punya golongan darah yang sama denganmu, AB, benarkan?”

Sesaat, mata Ben memancarkan ketidakpercayaan. Mereka berpandangan hingga akhirnya desah napas panjang terdengar dari mulut Ben. Tangannya terulur, meraih pundak Breana dan membantunya berdiri.

Mereka berdiri berhadapan, Breana membiarkan laki-laki di depannya mengulurkan tangan dan secara perlahan membantunya mengaitkan kancing kemeja hingga sepenuhnya menutup.

“Apa ini berarti kamu bersedia membantuku?” tanya Breana penuh harap.

“Aku akan meminta imbalan nanti, tapi sekarang kita selamatkan dulu anakmu.”

Ben berbalik menuju meja. Meraih jas-nya yang tersampir di kursi dan memakainya. Breana mengawasi dalam diam saat laki-laki itu meraih tas hitam di atas nakas samping meja. Memeriksa isinya, kemudian meraih dan menenteng dengan tangan kanan sebelum melangkah menghampirinya.

“Ayo, tunjukkan jalan. Kita ke sana sekarang.”

Dengan harapan baru yang membuncah di dada. Breana melangkah cepat di samping Ben. Mereka beriringan menuju lift dan turun ke tempat parkir. Laki-laki itu menyetir sendiri mobilnya tanpa sopir.

Sepanjang jalan mereka duduk berdampingan tanpa kata terucap. Masing-masing sibuk dengan jalan pikirannya. Di luar hujan turun rintik-rintik. Dingin udara merembes masuk ke dalam mobil dan membuat tulang sedikit menggigil.

Breana mengambil tisu dari kotak di atas dasboard mobil lalu mengelap mata dan wajah. Pandangannya tertuju pada lalu lintas lengang dan jalanan yang basah. Suara motor meraung-raung membelah jalan.

Ini kedua kalinya, ia berada dalam mobil Ben. Mobil mewah dan bagus. Hanya dimiliki oleh orang –orang tertentu yang beruang. Jujur saja, Breana masih tidak percaya jika Ben yang ia kenal enam tahun lalu ternyata orang kaya. Masih jelas dalam ingatannya, penampilan laki-laki itu saat pertama kali mereka bertemu. Santai, sederhana dan tidak mencolok. Breana tadinya berpikir dia hanya pegawai biasa. Ternyata, beberapa tahun berlalu dan Ben bukanlah pegawai biasa seperti dugaannya.

Mobil melaju pelan memasuki area parkir yang ramai. Hujan masih turun rintik-rintik. Setelah memarkir mobil, Breana membawa Ben menyusuri lorong yang panjang yang sepi. Tidak ada lift kecuali untuk pasien. Setelah menaiki tangga dengan lantai yang kusam, mereka berada di lantai dua. Bangsal khusus anak-anak.

Orang yang pertama kali kaget saat melihat kedatangan mereka adalah Anton. Mata laki-laki itu terbelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Breana datang dengan laki-laki berpenampilan perlente. Laki-laki berkharisma yang saat melangkah masuk seolah dia yang memiliki kuasa atas tempat ini.

“Bre, siapa dia?” tanya Anton bingung.

“Kenalkan, dia Ben. Orang yang mempunyai golongan darah sama dengan Nesya. Dan dia yang akan membantu kami.”

Ben mengangguk sekilas pada Anton, tatapannya tertuju pada anak perempuan yang tergolek di atas ranjang. Matanya menyorot tak percaya saat melihat Nesya. Dia terpaku, mematung di samping ranjang pasien.

“Ben,” sapa Breana pelan. “bisakah kita menemui dokter atau suster sekarang?” desak Breana membuyarkan lamunan Ben.

Sang direktur mengangguk. Dia tetap membisu saat Breana berbicara dengan Anton di sampingnya.

“Kami menemui dokter, mungkin akan ada tes-tes tertentu. Kalau kamu sibuk, biar Nesya ditungguin suster.”

Anton menggeleng. “Nggak, aku bisa nunggu dia di sini.”

“Tapi, ini sudah malam.”

“Bre, dia anakku juga. Jangan coba-coba mengusirku.”

Ben menoleh saat mendengar perkataan Anton. Diam-diam dia mengamati Anton yang berdebat keras kepala dengan Breana. Akhinya, ia menyadari satau hal jika laki-laki berpenampilan klimis di hadapannya adalah mantan suami Breana. Ingatanya tertuju pada peristiwa sore itu saat ia melihat Breana diantar pulang dengan dibonceng motor. Laki-laki inilah yang saat itu ia lihat.

Tak ingin berdebat lebih lama, Breana menenangkan Anton dan meninggalkan mantan suaminya untuk pergi membawa Ben ke ruang dokter.

Ternyata, setelah melihat situasi dan kondisi rumah sakit yang dianggap tak layak, Ben menginginkan Nesya pindah rumah sakit rujukannya. Awalnya Breana menolak keras tapi laki-laki itu dengan argumentasi yang tepat mengatakan jika Nesya butuh rumah sakit dengan peralatan lebih canggih.

Setelah berdebat hampir tiga puluh menit dan ancaman Ben yang tidak akan mendonorkan darahnya jika Nesya tidak dipindah ke rumah sakit lain, membungkam argumen Breana.

Malam itu juga, dia dan Anton berada di dalam ambulan yang membawa Nesya ke rumah sakit lain. Sementara Ben menyetir sendiri, mengiringi mereka.

Rumah sakit baru yang terletak tidak jauh dari rumah sakit lama. Hanya saja lebih besar dan lebih bagus. Pemeriksaan darah Ben dilakukan dengan cepat. Dan dugaan Breana benar, golongan darah Nesya dan Ben sama.

Setelah diambil darahnya, Ben pamit pulang. Breana hanya berucap terima kasih dengan mata berkaca-kaca.

“Besok aku datang lagi, saat operasi. Untuk berjaga-jaga.” Dengan kata-kata terakhir, Ben meninggalkan Breana yang tertunduk di depan pintu kamar Nesya.

Breana menatap nanar pada punggung Ben yang perlahan menjauh. Sejuta rasa berkecamuk di hatinya. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan semua ini, hanya saja, harapan baru tumbuh di hati jika anaknya akan selamat. Setelah mengusir Anton yang keras kepala tidak mau pulang, Breana terlelap di ranjang yang sama dengan anaknya. Keletihan menguasai cepat dan membuatnya terbuai dalam tidur yang dalam. [bersambung ke titiktemu berikutnya]

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…