#Into_You – #Part_06

**

Seorang laki-laki tampan dengan gelas minuman di tangan dan pikiran menerawang sedang duduk termangu di teras rumahnya yang sunyi. Sudah nyaris satu jam ia duduk di sana tanpa melakukan apa pun selain melamun. Para pelayan yang ada di dalam rumah seperti takut untuk menganggu sang tuan. Mereka menyingkir jauh-jauh darinya tapi cukup dekat untuk dipanggil kapan saja saat dibutuhkan.

Samar-samar terdengar suara deru kendaraan di jalanan. Teriakan orang dari kejauhan mau pun tawa sang penjaga komplek yang berkumpul tidak jauh dari rumahnya.

Menarik napas panjang, ia menghabiskan minuman dalam satu tegukan besar.

“Kamu keterlaluan, kamu binatang, Ben!” umpatan yang diberikan Breana untuknya masih terbayang hingga sekarang.

Dengan air mata berlinang, wanita itu merapikan tiga kancing kemeja yang sebelumnya dibuka olehnya. Merapikan dengan sia-sia rambut yang berantakan dan rok yang terangkat hingga ke pertengahan paha. Terakhir kali mereka bertemu dan ia dengan segala nafsu binatangnya mencumbu Breana di atas meja.

‘Damn, dia terlihat kesakitan dan marah tapi entah kenapa terlihat sexy.’

Ben mengutuk dirinya sendiri dan amarah yang menguar setiap kali dia bertemu dengan Breana. Bertahun-tahun sudah berlalu, perasaan kehilangan masih menghantui hati dan pikiran. Terlebih saat ia melihat wanita itu dijemput seorang laki-laki, perasaan cemburu mencengkram hati. Hubungan mereka hanya sebatas pada kisah masa lalu. Dua tubuh bercinta dalam kereta dan berakhir di dalam hotel untuk hubungan cinta satu malam. Tapi kenapa gairahnya tidak pernah mereda, bahkan setelah enam tahun tak bersua. Kini, ia membuat wanita itu marah, karena menginginkan satu hal yang merobek harga diri. Menginginkannya menjadi simpanan. Sungguh sebuah permintaan tak terpuji. Pantas saja jika Breana mengamuk.

Ben memaki dirinya sendiri, tidak bisa menjaga tangan, hati, hasrat dan juga niat untuk memiliki Breana. Wanita itu sedang ada masalah dan ia memanfaatkannya. Tangannya bergetar memegang gelas dan menandaskan isinya dalam satu tegukan besar.

Ponsel di atas meja bergetar, ia melirik sang penelepon dan mendapati nama sang tunangan tertera di layar. Ia meraih ponsel dan meletakkan di kuping.

“Amanda, ada apa?”

Terdengar hiruk pikuk kegembiraan di seberang telepon dan tak lama suara feminim menyapa ceria.

“Ben, teman-teman datang ke kantorku tadi dan sekarang kami sedang ada di club. Mereka ingin bertemu kamu, bisakah kamu datang sekarang, dear?”

Ben menjauhkan ponsel dari kuping dan mengecek waktu.

“Nggak bisa, Amanda. Sekarang saja aku belum pulang. Banyak kerjaan.”

“Yaah, bagaimana kalau pulang kerja kamu mampir kemari? Sekedar untuk menyapa mereka? Ayolah.” Amanda membujuk dengan manja. Mau tidak mau Ben merasa heran. Ia tahu betul sifat tunangannya dan manja bukanlah salah satunya.

“Sorry, Manda. Aku beneran sibuk malam ini. Bisa jadi nggak pulang karena ada meeting pagi-pagi. Salam saja buat mereka.”

Ben memutuskan sambungan diiringi desahan kecewa dari tunangannya. Ia tahu sudah berbohong dan merasa bersalah karena itu. Tapi, malam ini ia enggan ke mana pun, hanya ingin menghabiskan malam dengan minum dan tidur.

**

Keesokan pagi, saat ia baru menginjak lobi kantor. Sang sekretaris menghampiri dengan senyum cemerlang dan dokumen di tangan. Tessa, selalu terlihat cantik dan enerjik. Meski begitu Ben tidak pernah tertipu dengan penampilan sekretarisnya. Di balik penampilannya yang feminim, Tessa adalah seorang pekerja keras.

“Selamat pagi, Pak Direktur.”

“Pagi, Tessa. Ada apa menjemputku di lobi?”

Mereka melangkah beriringan menuju lift. Dengan cekatan Tessa memencet tombol hingga pintu lift membuka. Setelah Ben masuk, dia mengekor dan memencet angka tujuh.

“Saya sudah mendapatkan titik terang tentang penyelidikan di departemen keuangan.”

“Begitu, apakah pelakunya masih bekerja sampai saat ini?”

Tessa mengangguk. “Masih dan di posisi yang sama.”

“Jika dugaanku tidak meleset, dia teman sekantor Breana. Benar?”

Tessa mengangguk. “Intuisi Bapak memang benar. Mereka teman sekantor.”

“Kalau gitu lanjutkan, kita tangkap saat bukti-bukti sudah cukup.”

“Baik, Pak.”

Ben mengatupkan mulut. Memandang pintu lift yang terbuka saat mencapai lantai tujuh. Ia melangkah tegap dengan Tessa di belakangnya.

“Ada jadwal apa hari ini?”

“Rapat dengan para pimpinan kantor cabang di pukul sembilan. Mengecek gudang baru di pukul tiga sore. Lalu berlanjut rapat dengan para staf pemasaran di pukul enam tiga puluh malam.”

“Mereka tidak keberatan kita rapat saat malam?”

Tessa menggeleng. “Justru senang karena hasil penjualan bagus dan bisa jadi mengharapkan bonus akhir tahun.”

“Baiklah, ingatkan aku lagi. Tolong secangkir kopi panas.”

Setelah Ben duduk di belakang meja kerjanya, Tessa meningglakan ruangan direktur dan kembali dengan secangkir kopi hitam panas. Rutinitas yang sama, pemeriksaan dokumen, rapat, melakukan dela-deal dagang yang seakan tidak ada habisnya. Ben merasa bangga pada dirinya. Setidaknya, ia bisa membuktikan jika sebuah warisan bisa berkembang karena kerja keras.

**

“Mama, Nesya nanti mau main ke taman sama Bu Tini, boleh?” Suara anaknya yang merayu menyadarkan lamunan Breana yang sedang menyiangi sayur di meja dapur.

“Memangnya Bu Tini mau bawa kamu?”

Nesya mengangguk cepat. “Mau, tadi sudah ngomong.”

Tini adalah tetangga mereka yang mempunya anak dua. Si bungsu sepantaran dengan Nesya. Adakalanya saat bermain keluar, mereka sering mengajak anak perempuan Breana ikut serta.

“Iya, Mama. Sebentaaar saja.”

Breana tersenyum. “Baiklah, jangan lama-lama dan hati-hati. Nggak boleh bicara sama orang asing dan nggak boleh jauh-jauh dari Bu Tini.”

Wajah Nesya berubah cerah, dengan mata berbinar memandang sang mama.

Sepanjang sore, sepeninggal anaknya, Breana sibuk merenung di sofa ruang tamunya yang kecil. Sebuah televisi menyala di hadapannya tapi ia tidak memperhatikan. Suara desahan keluar dari mulutnya. Matanya menatap dompet yang tergeletak di sampingnya.

“Tinggal beberapa ratus ribu. Bagaimana kami bisa hidup?” Breana mengguman cukup keras.

Ingatannya tertuju pada Ben dan permintaannya yang gila. Sungguh ia tak menyangka jika laki-laki itu akan memperlakukannya sungguh hina. Selama ini, meski berada dalam gedung yang sama, ia tak pernah ingin mengusik Ben.

“Kuselesaikan masalahmu, dan jadilah simpananku.” Kata-kata gila dari Ben kembali terngiang di telinganya.

Breana menggigit bibir bawah. Merasa pusing dan bingung dengan keadaan yang melilitnya. Ia punya anak yang harus diurus, apa yang terjadi jika dia tak bekerja?

Suara bel pintu berbunyi. Breana tersadar dari lamunan dan bangkit dari sofa. Pasti yang datang adalah anaknya. Dengan senyum terkembang ia membuka pintu.

Matanya membulat saat melihat satpam rusun berada di depan pintunya, bukan Nesya.

“Ada apa, Pak?” tanya Breana pelan.

“Maaf, Mbak. Itu ada masalah dengan anak Mbak.”

Breana tersentak. “Masalah apa, Pak?” tanyanya panik.

“Anu, anak Mbak kecelakaan dan sekarang dibawa ke rumah sakit.”

Rasanya bagaikan dunia runtuh. Breana tersentak mundur, air mata menetes tanpa ia sadari. Menarik napas panjang ia mundur ke sofa dan meraih tas beserta dompet. Tanpa mengganti baju, ia pergi bersama satpam menuju rumah sakit tempat anaknya dirawat.

*

“Pak, mau saya buatkan kopi? Atau mungkin makan cemilan sebelum berangkat rapat?”

Ben mendongak dari atas dokumennya. Menatap Tessa yang berdiri di depan meja. Untuk sejenak ia terlihat berpikir dengan tawaran sang sekretaris.

“Nggak usah, aku masih cukup kenyang.” Matanya melirik jam tangan di pergelangan tangan. Sudah hampir pukul lima. Satu jam lagi akan ada rapat. “Apa semua dokumen sudah siap?”

Tessa mengangguk. “Sudah, Pak.”

Ben mengangguk. Dalam hati merasa puas dengan kinerja sekretarisnya. Sudah hampir tiga tahun ini Tessa mendampinginya dan tidak pernah mengecewakan. Bermula ia menerima serah jabatan dari sang papa maka ia memerlukan sekretaris baru karena sekretaris sang papa juga resign saat papanya pensiun.

Sepeninggal Tessa, Ben meraih ponsel di atas meja. Membuka layar dan mencari satu nama di sana. Sudah berhari-hari pesan yang ia nantikan tidak kunjung datang. Pikiran Ben mengembara liar, bisa jadi Breana memang menolak permintaannya dan lebih memilih masuk penjara. Memikirkan kalau Wanita itu, lebih suka dihukum dari pada bersamanya membuat Ben marah. Tangannya menggebrak meja dan tanpa sengaja menyenggol botol kaca berisi air minum dan membuatnya meluncur ke lantai. Tidak ada yang pecah melainkan hanya karpet yang basah.

*

Pukul sembilan malam, setelah memimpin rapat hampir tiga jam penuh, Ben melonggarkan simpul dasi dan mengenyakkan diri di kursi. Mengembuskan napas panjang dan meraih botol kaca tempat air minum. Meneguk perlahan untuk menyegarkan tenggorokan dan meredakam urat syaraf.

Hari yang melelahkan tapi ada satu yang menahan keinginannya untuk pulang. Beberapa pekerjaan ada yang belum diselesaikan. Ia sudah menyuruh Tessa untuk pulang lebih dulu tapi tidak tahu pasti apakah sang sekretaris memenuhi permintaannya atau tidak. Gadis itu, sama keras kepalanya dengan Ben untuk soal pekerjaan.

Suara ketukan di pintu membuat Ben mendongak dari atas tumpukan dokumen. Ia mengira itu pasti Tessa. Ben menatap jam di dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Memang sudah mulai larut. Matanya terbelalak saat sesosok wanita muncul dari balik pintu. Melangkah gemulai dengan senyum tersungging, Amanda mendekatinya.

“Hallo, Dear. Masih lembur?”

“Amanda, ada apa? Malam-malam begini datang ke kantor?”

Mengabaikan pertanyaan Ben, Amanda mendekati kursi setelah sebelumnya melepaskan jubah yang membungkus tubuh. Lalu menghampiri Ben yang berada di balik meja dan duduk di pangkuan laki-laki itu. Pakaian yang ia kenakan berupa terusan tanpa lengan dengan panjang rok di atas lutut berwarna hitam. Sungguh penampilan yang provokatif.

“Aku kangen kamu, Ben. Akhir-akhir ini kamu susah dihubungi,” desah Amanda dengan mulut mengusap ringan bibir Ben dan tangan memijat tengkuk tunangannya.

“Maaf, aku sibuk sekali. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan,” jawab Ben dengan napas berat saat merasakan tangan Amanda meraba-raba tubuhnya.

“Sibuk dan sibuk, seorang Julian Benedict memang pekerja keras. Bagaimana kalau aku menghiburmu malam ini?” bisik Amanda mesra.

Ben tertawa kecil, merasakan dada Amanda yang tanpa memakai bra menempel pada tubuhnya. Entah kenapa ia yakin seratus persen jika wanita yang sekarang sedang mengigiti kupingnya pasti tidak memakai celana dalam.

“Tahan diri, Amanda. Ini di kantor,” ucap Ben di sela desah napas.

Amanda merenggangkan tubuh, menangkup wajah Ben dan mengulum bibirnya dengan mesra. Untuk sesaat mereka saling menghisap dengan mesra sampai akhirnya Ben mengangkat wajah.

“Kamu tahu nggak, aku pakai apa di dalam sana?” rayu Amanda dengan wajah memerah penuh gairah. Tangan dengan kuku-kuku panjang berkutek pink lembut membuka satu per satu kancing kemeja tunangannya.

“Nggak pakai apa-apa pastinya,” tebak Ben dengan mata bersinar nakal.

Amanda terkikik, bangkit dari pangkuan Ben dan kini berdiri dengan senyum terkembang. Tangannya terulur ke rambut tunangannya dan mengelus pelan.

“Aku punya satu hal nakal dalam pikiran. Apa kamu mau dengar?”

Ben mendongak, memandang Amanda yang terlihat sangat rupawan dan sexy. “Apa itu?”

Amanda menunduk dan berbisik di kuping Ben. “Bercinta di ruangan ini denganmu, sekarang, saat ini. Kita bisa mulai dari meja, kursi atau bahkan sofa di sana. Bagaimana?”

Ben terkesiap, untuk sesaat ia merasa tergoda. Bayangan tentang menenggelamkan diri dalam tubuh Amanda dan melupakan perasaan lelah adalah sesuatu hal yang membuatnya bahagai. Tapi saat ini, entah kenapa ia sama sekali tidak berminat. Ada beban berat yang menggelayut dalam hatinya.

“Sungguh tawaran yang bagus, sayang sekali malam ini aku merasa sangat lelah.”

“Nggak masalah untukku, satu sesi saja sudah cukup.”

Ben tertawa lirih, mengangkat tangan Amanda yang bergerilya di tubuhnya dan mengecup kedua telapaknya.

“Jangan malam ini, please. Aku sungguh sudah lelah. Lagipula kita belum sah.”

Amanda mendengkus sebal, menegakkan tubuh dan duduk bersandar pada meja. Matanya menyipit dan memandang sang tunangan penuh kecurigaan.

“Ada apa ini, Ben. Meski kita belum sah sebagai suami istri tapi kita sudah bertunangan. Aku pikir kamu mencintaiku.”

“I do,” jawab Ben tenang. “tapi aku tidak ingin terlibat hubungan fisik sebelum sah.”

“Hahaha … sungguh suci sekali dirimu.” Amanda tertawa keras dengan bibir tipis mengejek. “Aku yakin ada banyak yang kamu pikirkan selain fakta kalau kita belum menikah.”

Ben mengangguk. “Memang, dan beri aku waktu.”

Amanda mendorong kursi Ben ke belakanng. Mengulurkan tangan untuk membuka resleting gaun dan membukanya hingga ke bawah pinggang.

“Apakah kamu nggak tergoda, dengan ini?”

Gaun yang terbuka, menampakkan gundukan buah dada yang putih menggoda. Terlihat pucak dada yang mengeras dan seperti menantang untuk dikulum. Untuk sesaat mata Ben tertuju ke sana tapi pikirannya melayang ke orang lain. Dibandingkan Amanda yang tinggi, Breana memang terlihat pendek tapi dia sintal. Dada dan pinggulnya menggiurkan untuk disentuh. Diam-diam Ben mengutuk pikirannya. Ada seorang wanita amat sexy di hadapannya yang siap menyerahkan diri tapi ia malah memikirkan wanita lain. Jika dilihat, memang ia sudah gila. Gila karena Breana.

Tangan Ben terulur ke arah pundak Amanda dan menaikkan gaunnya yang melorot. Membalikkan tubuh sang tunangan dan menaikkan resletingnya.

“Jangan mempermalukan dirimu demi aku, Amanda. Tubuh sexy-mu tidak untuk diserahkan begitu saja.”

Terdengar desahan napas dari wanita yang kini berdiri membelakanginya. “Tapi, aku hanya ingin mengungkapkan cinta padamu, Ben. Dan seperti inilah caraku.”

Ben bangkit dari kursi dan meraih pundak Amanda lalu mengecup pipinya.

“Aku tahu dan sangat berterima kasih. Kita akan lakukan itu pada saat yang tepat.” Dengan punggung tangan mengelus pelan pipi Amanda yang mulus, Ben tersenyum manis.

Amanda tidak menyerah. Meraih tangan Ben dan membawa ke bagian intimnya. Lalu berbisik pelan. “Rasakan, aku basah bukan? Ayolah, Sayang?”

Ben menarik tangannya, mengecup telapak Amanda sekali lagi dan tertawa lirih. “Beri aku kesempatan untuk mengumpulkan tenaga, aku ingin saat kita melakukannya dalam keadaan siap dan bergairah. Membuatmu puas adalah kebanggaan tapi sekarang, aku benar-benar lelah.”

Amanda merengut, menekuk wajah dan merapikan gaunnya.

“Bagaimana kalau kamu temani aku makan? Aku belum makan dari tadi siang.”

Mata Amanda yang semula redup karena kecewa kini membulat tak percaya.

“Masa jam segini belum makan?”

Ben mengangkat bahu. “Terlalu sibuk.”

“Sekretarismu emang nggak ngurus kamu?” tanya Amanda dengan sikap tidak suka.

“Oh nggak, dia menawari berkali-kali. Hanya saja, aku belum berminat.”

Ben melangkah untuk mengambil jubah Amanda yang tergeletak di atas karpet dan membantu sang tunangan untuk memakainya. Ia sendiri merapikan kemeja, menyimpan dasi dalam tas dan menyambar jas-nya.

“Mau makan di mana malam begini?” tanya Ben saat mereka berjalan beriringan keluar ruangan.

“Ini belum terlalu malam, masih banyak restoran buka. Mau hidangan lokal apa asing?”

“Yang mana saja yang menurutmu enak, aku nurut.”

Amanda tersenyum manis, mengapit lengan Ben dan menyandarkan kepala di bahu kokoh laki-laki itu saat mereka berdiri bersisihan di dalam lift. Memang tidak ada tanda-tanda tersirat tapi penolakan sang tunangan atas apa yang ia tawarkan, sedikit banyak melukai harga dirinya.

Tadinya, ia merencanakan untuk menghabiskan malam yang panas bersama kekasihnya. Mengejutkan sang tunangan dengan kedatangan yang tiba-tiba dengan tubuh merona. Siapa sangka, justru Ben menolaknya.

Amanda menyimpan pikiran dan kecurigaannya rapat-rapat. Berharap jika Ben hanya lelah dan bukan karena hal lain. Ia tersenyum saat sang tunangan membuka pintu mobil dan mereka duduk bersisihan menembus malam menuju restoran.

“Ben,” panggil Amanda lirih saat mobil berhenti di perempatan.

“Yah?”

“I love you.”

Tidak ada jawaban dari laki-laki di belakang kemudi. Ia hanya tertawa, meraih tangan Amanda dan mengecupnya.

Hening di dalam mobil, hanya terdengar deru bunyi kendaraan yang bersliweran di luar. Malam belum begitu larut, jalanan masih ramai pengendara. Sementara Amanda sibuk dengan ponselnya, pikiran Ben menerawang saat memandang tenda-tenda makanan yang berjajar di trotoar.

Sedang apakah Breana malam ini? Pasti sudah tidur dengan mendekap anak perempuannya.

‘Sial!’ Kecemburuan mendadak menyeruak saat mengingat Breana sudah menikah dengan orang lain dan anak di antara mereka. Ia belum menyelidiki kenapa Breana bercerai dengan suaminya. Tapi, suatu saat ia akan tahu. Suatu saat nanti

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…