#Into_You – #Part_05

*

Semenjak malam pesta pertunangan, Breana tidak pernah lagi mencoba untuk menghubungi Ben. Perasaan patah hati dan keinginan untuk bersikap lebih tahu diri merongrong hati. Ia mengabaikan panggilan dan pesan yang dikirim untuknya.

Seandainya saja ia tidak datang ke pesta malam itu, tentu ia tidak akan tahu jika Ben sudah punya kekasih. Kalau begitu, kenapa harus mendekatinya? Kenapa bersikap seolah sedang memberi harapan.

‘Apa aku salah sangka selama ini, atas perhatian dan sikapnya?’ Mengigiti bibir dan membuang napas panjang. Ia berusaha mengenyahkan pikiran tentang Ben dari benaknya.

Pekerjaan menumpuk. Banyak permintaan untuk mengeluarkan anggaran dari berbagai departemen. Apalagi atasannya sedang cuti. Breana membuka satu per satu dokumen di atas meja. Begitu sibuk hingga tidak menyadari semua temannya duduk tegang di atas kursi mereka saat sesosok tubuh memasuki ruangan.

“Selamat sore, Pak Direktur. Ada yang bisa saya bantu?” Vigo bangkit dari kursi dan menyambut kedatangan Ben.

Wina terperangah sementara Breana yang kebingungan mendongak. Bertatapan dengan mata elang milik direkturnya.

“Selamat sore, Pak.” Breana berdiri dan menyambut kaku kedatangan laki-laki tampan ke ruangannya yang kecil.

Ben tidak mengatakan apa pun, mengangguk kecil lalu melangkah ke arah jendela. Membuka kerai yang menutup hingga matahari menyelusup masuk. Mengedarkan pandangan berkeliling ruangan yang penuh tumpukan dokumen dan juga lemari penuh binder.

“Kalian berempat dalam satu ruangan kecil begini, apa nggak salah?” tanyanya pelan.

Wina berpandangan dengan Breana, mereka saling mengerling.

“Oh, nggak apa-apa, Pak. Kami biasa kok bekerja di tempat seperti ini,” jawab Vigo dengan nada menjilat. “yang penting adalah kerja sama tim, Pak.”

“Begitu, tapi aku yang nggak suka kalian bekerja di tempat seperti ini.” Ucapan Ben yang tenang membuat seluruh ruangan terdiam.

Mereka tidak berkutik saat Ben melangkah ke sana kemari dan memeriksa setiap sudut. Dari ujung matanya, Breana melihat Wina memucat. Sedangkan Vigo seperti orang yang menahan napas. Sedangkan salah seorang teman mereka pun tidak kalah tegang. Empat orang seperti sedang menunggu eksekusi mati.

Breana yang merasa tidak melakukan kesalahan apa pun, mencoba bersikap tenang. Tangannya sibuk merapikan dokumen di atas meja dan menolak untuk menatap mata sang direktur. Ia sudah berjanji dalam hati untuk menjauhi Ben dan akan ia lakukan.

“Hani hari ini  absen bukan?” tanya Ben pada Vigo.

“Iya, Pak. Selama seminggu katanya.”

Ben mengangguk samar, pandangannya tertuju pada Breana yang menunduk. Hari ini wanita itu memakai setelan putih yang menonjolkan kulitnya yang putih. Sadar karena memandang Breana terlalu lama, ia mengalihkan pandangan.

“Saya ada sesuatu yang ingin saya tanyakan. Berhubung Hani sedang tidak ada, bisakah kamu yang memberikan klarifikasi?” tanyanya sambal menunjuk Breana.

Wanita berbaju putih itu melongo. “Saya, Pak?” tanyanya sambal menunjuk diri sendiri.

“Iya, Kamu. Sini, ikut saya ke ruangan Hani.”

Breana berpandangan dengan Wina. Matanya mengikuti Ben yang melangkah lebih dulu ke ruangan Hani. Sementara dia masih bergeming di tempatnya berdiri.

“Ayo, sana. Pak Direktur pasti ingin menanyakan sesuatu yang penting,” bisik Wina padanya.

“Kenapa aku? Kenapa bukan kamu?” tanya Breana tak ingin kalah.

“Direktui itu yang punya perusahaan di sini, Suka-suka dia mau ngomong sama siapa. Buruan!” Wina menarik tangan Breana dan mendorong tubuh wanita itu ke arah pintu.

Mau tidak mau Breana terpaksa mengikutinya. Ia berdiri di depan pintu ruangan Hani, di mana sekarang ada Ben menunggunya. Menarik napas panjang, ia mengetuk pelan dan mulai memutar daun pintu.

Matanya menyesuaikan dengan lampu temaram dari ruangan. Rupanya Ben menutup kerai jendela dan hanya menyalakan satu lampu. Breana melihat laki-laki itu duduk bersandar pada meja. Mereka bertatapan dalam diam.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”

“Kenapa kamu menghindariku?” tanya Ben pelan.

Breana tersenyum. “Semua berkas dan dokumen keuangan ada di ruang sebelah. Bisa saya ambilkan mana yang ingin Bapak periksa.”

“Kenapa kamu tidak membalas pesanku,” ucap Ben seakan tidak mendengar perkataan Breana.

“Ah, Pak Direktur ingin minum apa? Biar saya panggilkan OB, Pak.”

“Bree ….”

Seakan tidak terusik oleh teguran sang direktur, Breana mengangguk sambil tersenyum tipis. Dalam biasa cahaya yang menyiram ruangan, ia melihat Ben mengerut tidak suka.

“Jika tidak ada lagi yang diperlukan, saya undur diri.”

Ia berbalik, beranjak ke arah pintu. Langkahnya terhenti saat lengannya disambar oleh Ben dan belum sempat ia mengelak, tubuhnya dibalikkan dan di dorong ke arah dinding. Dalam keterkejutan, Breana menatap mata Ben yang menyipit.

“Kamu sengaja menghindariku? Kenapa, Bre,” bisik Ben pelan. Menghimpit tubuh wanita berbaju putih ke dinding ruangan. Memegang dua tangan dan tidak membiarkan Brean mengelak untuk kabur.

Breana tersenyum kecil. “Kamu jelas tahu, apa maksudku. Semua nggak perlu aku perjelas lagi, kan?”

“Tidak, aku tidak mengerti. Coba katakan padaku, apa masalah di antara kita sampai-sampai sikapmu harus begini kaku dan dingin.”

Breana menyentakkan tangan dan mendorong tubuh sang direktur tapi susah. Ben tetap bergeming di tempatnya. Bahkan kini menghimpit Breana lebih dekat dengan mulutnya berada di dekat telinga si wanita.

“Kamu cemburu? Kamu marah karena aku bertunangan? Ayo, katakan saja,” bisik Ben sensual.

Merasakan kemarahan menggelegak dalam dada, Breana menepiskan kepala Ben dari kepalanya. Untuk sejenak mereka adu kekuatan. Breana menolak, Ben mendesak. Membuat Breana merasa frustasi hingga satu pikiran gila melintas di otaknya.

Tidak lagi memberontak, ia justru meraih kepala Ben dan dengan satu kekuatan mencium Ben kuat-kuat. Awalnya ia merasa jika bibir laki-laki di mulutnya menegang. Ia tidak menyerah, menjulurkan lidah untuk membelai bagian dalam mulut Ben dan mendengar laki-laki itu melenguh dan mendekatkan pinggulnya ke pinggul Breana.

Tanpa diduga, Breana melepaskan ciuman mereka dan sekuat tenaga menginjak kaki Ben hingga laki-laki itu berteriak kesakitan dari tempatnya berdiri. Ia menarik napas panjang, membenahi baju dan rambutnya yang berantakan lalu berkata sambil menuding sang direktur yang masih meringis kesakitan.

“Jangan serakah jadi orang, Ben. Jangan berpikir karena kamu direktur, orang yang berkuasa terus merasa punya kuasa juga sama tubuh dan jiwaku.” Mengibaskan rambut ke belakang, Breana melangkah menuju pintu. “Urus saja tunanganmu, jangan lagi mengangguku, Tuan Julian Benedict!”

Ben menatap nanar pintu yang menutup di belakang Breana. Kakinya masih terasa nyeri dan berdenyut-denyut. Sakit di kakinya tidak seberapa dibandingkan sakit hati karena ditolak. Ia bukannya tidak menduga sebelumnya jika Breana akan bersikap keras. Nyatanya, ketakutannya kini menjadi nyata. Mengembuskan napas panjang, ia berbalik menuju jendela dan bergumam pelan.

‘Aku akan menemukan cara untuk membawamu kembali, Bre.’

Sementara itu, Breana yang baru keluar dari ruangan Hani merasakan api kemarahan tak kunjung reda dari dadanya. Sikap Ben yang secara terang-terangan menginginkannya sedangkan laki-laki itu sudah punya tunangan, membuatnya kesal. Untunglah, teman-temannya tidak ada yang melihat perubahan wajahnya. Menarik napas panjang ia kembali fokus pada pekerjaan. Tidak menoleh saat Ben berpamitan untuk kembali ke kantornya.

Saat jam pulang kerja tiba, Breana menerima satu pesan yang membuatnya heran. Anton mengatakan dia sedang ada urusan di dekat kantor Breana dan berharap bisa pulang bersama. Awalnya ia menolak tapi laki-laki yang pernah menjadi suaminya itu bersikukuh akan menunggu. Mengabaikan perasaan tidak enak, Breana mengemasi barang-barangnya dan turun ke lobi.

Matanya menemukan Anton yang duduk di atas motor di halaman parkir. Senyum terkembang saat melihat Breana melangkah mendekatinya.

“Bre, yuuk. Kita pulang.” Dia menyerahkan helm pada Breana yang menyambutnya dengan satu alis terangkat.

“Anton, sudah kubilang jangan begini. Nggak perlu lagi jemput-jemput aku.”

Seakan tidak mendengar protes keberatan dari Breana, dia menstarter motor. “Ayo, naik. Sesekali nggak apa-apa. Hitung-hitung kamu irit ongkos juga.”

Menahan perasaan kesal, Breana naik ke atas motor dan membiarkan dirinya dibonceng oleh Anton. Mereka melintas melewati deretan mobil yang terparkir di tempat khusus valet. Tidak menyadari sepasang mata menyorot tajam dari balik kaca mobil mewah warna silver. Sebuah tangan tergenggam dan memukul stir dengan kuat. Ekor matanya mengawasi motor yang membonceng Breana, menghilang di jalan raya yang ramai.

*

Terjadi peristiwa yang menbuat heboh saat Hani kembali dari cutinya. Tidak pernah mereka melihat wanita yang menjadi atasan mereka, semarah itu. Dia melemparkan beberapa berkas ke arah meja Breana yang melongo. Para staff lain menatap dengan keheranan.

“Bre, apa yang kamu lakukan dengan anggaran renovasi bagian sisi timur gedung?”

Breana melotot tidak mengerti dengan apa yang dikatakan atasannya. “Ada apa, Bu? Bukannya itu anggaran yang Ibu setujui?”

“Memang, dan setahuku otoritas untuk mengeluarkan anggaran adalah milikku bukan milikmu.”

Kebingungan melanda Breana sekarang. Ia menoleh ke arah Wina untuk membantunya mencari jawaban tapi Wina mengangkat sebelah bahu. Begitu juga Vigo yang menunduk di atas keyboard-nya. Mereka sama-sama tidak mengerti dengan perkataan sang atasan.

“Maaf, Bu. Tapi saya benar-benar tidak mengerti dengan apa yang ibu katakan.”

Hani melangkah cepat ke arah meja Breana dan membeberkan beberapa lembar kertas di meja Breana.

“Lihat ini, anggaran disetujui dan sudah ditransfer. Setelah aku chek ternyata itu rekening fiktif atau tidak dikenal. Bukan rekening kontraktor.”

Breana mengerutkan kening. Memeriksa kembali formulir permintaan anggaran dan matanya melotot saat mendapati tanda tangannya dibubuhkan di tempat otorisasi.

“Lihat, kan? Siapa yang menyetujui, Bre?” teguran dingin dari Hani membuat Breana bingung. Matanya menatap kertas di tangannya dengan pandangan tak percaya.

“Saya tidak pernah ingat menandatangani ini, Bu.”

“Tapi nyatanya ada tanda tangan kamu di situ, Bre. Kamu mau mengelak seperti apa?” Hani berteriak keras, tangannya nyaris menggebrak meja. “Kamu karyawan baru, belum tiga bulan bekerja di sini dan sudah berani melangkahi otoritasku!”

Seluruh penghuni ruangan merasa gugup sekarang. Mereka saling curi pandang satu sama lain lalu bersama-sama menoleh ke arah Breana yang sekarang berdiri gemetar di atas kursinya.

Ruangan sunyi, hanya terdengar dengung pelan dari pendingin ruangan. Semua seakan menunggu dengan antisipasi tinggi, apa yang akan terjadi selanjutnya. Ini baru pertama kali terjadi sepanjang mereka bekerja untuk Mulia Ceramic, ada korupsi anggaran.

“Bu, semua bisa saya jelaskan. Ini bukan tanda–,”

Ucapan Breana disela dengan lambaian tangan oleh Hani. Wanita setengah baya yang sehari-harinya memakai kacamata itu kini mondar-mandir di dalam ruangan yang sempit. Keningnya berkerut. Dengkusan napas terdengar keras dari mulutnya.

“Bre, kamu menghadap pada komite kedispilinan. Mereka akan menyidangmu soal ini.” Meninggalkan kalimat terakhir, Hani melangkah tergesa menuju kantornya dan menutup pintu dengan suara lebih keras dari yang seharusnya.

Breana terhenyak di atas kursi. Menelungkupkan kepala di atas mejanya yang penuh dengan dokumen. Masih tidak percaya dengan kejadian yang menimpanya jika ia dituduh menggelapkan dana.

“Bre, sepertinya kamu mulai mengumpulkan bukti-bukti yang mendukung kalau kamu nggak salah.” Ucapan Wina terdengar jauh di atas kepalanya.

Bagaimana ia bisa mengumpulkan bukti jika dia sendiri tak tahu salahnya di mana. Siapa pemilik rekening, kapan ia menandatangani itu, sama sekali tidak ada ingatan itu. Dadanya terasa sesak, air mata seperti ingin meluncur turun tapi ia tahan. Baru saja ia merasa senang bekerja di kantor bagus dengan gaji memadai, kini masalah demi masalah menimpanya. Setelah sikap agresif Ben, ia juga terkena tuduhan penggelapan dana.

Akhirnya, keputusan berat diambil perusahaan. Demi kenyamanan bersama Breana di rumahkan. Dia tidak diijinkan bekerja sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Hani memberi wanti-wanti agar dia menggali ingatan tentang kapan tandatangan itu dibubuhkan dan di mana, serta uang digunakan untuk apa.

“Mengaku akan membuat hukuman yang diberikan padamu lebih ringan dari pada harus mengingkari.” Ucapan Hani terngiang dalam kepala Breana.

Ia menangis sedih. Terduduk di dekat westafel. Setelah mengantar anaknya pergi ke sekolah, ia yang biasanya pergi ke kantor kini berkeliaran di dalam rumah seperti tahanan. Wina sesekali menelepon dan mengirim pesan untuk memberi dukungan. Ia tahu sekarang namanya pasti rusak. Dianggap sebagai penggelap dana. Mengingat akan menjalani hukuman untuk hal yang tak pernah ia lakukan, membuatnya menangis tersedu-sedu.

‘Bagaimana nasib Nesya kalau seandainya benar aku dihukum?’

Ketakutan akan nasib anak perempuannya mencengkeram kuat. Itulah sebabnya ia tidak menolak saat sang direktur memanggilnya, ia sudah pasrah akan dihukum. Otaknya berputar bagaimana agar anaknya tetap hidup sementara ia menjalani hukuman. Ada harapan dalam hatinya, setidaknya Ben akan mendengarkan penjelasannya.

Tiba di gedung, Breana langsung naik ke lantai tujuh. Tessa, si sekretaris mengantarnya ke ruangan Ben. Perasaan takjub menguasainya saat melihat betapa luas dan elegan kantor sang direktur. Ada satu set sofa kulit hitam di dekat pintu masuk, lantai ditutup oleh karpet merah. Di dekat jendela ada sebuah kursi beserta meja yang kokoh dari kayu jati asli. Si pemilik ruangan berdiri menyandarkan tubuh di meja saat ia masuk.

“Selamat pagi, Pak.” Breana menyapa gugup. Kedua tangannya bertaut dan saling meremas di depan tubuhnya.

Ben tidak menjawab. Mengamati penampilan wanita beranak satu yang masih terlihat cantik dalam balutan rok sedengkul warna hitam dengan atasan senada. Ruangan sunyi, tidak ada bunyi apa pun yang terdengar.

“Kamu tahu, kan? Kenapa aku panggil kemari?” Suara Ben terasa nyaring di dalam ruangan.

Breana mengangguk lemah. Matanya menunduk memandang lantai.

“Lalu, apa pembelaanmu?”

Breana menggeleng pelan. “Nggak ada, Pak. Terus terang bukan saya yang menandatangani itu.”

Ben mengangkat sebelah alis. “Begitu? Tapi kenapa bukti-bukti mengarah padamu?”

Breana sekali lagi menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Saya juga nggak tahu, saya bahkan tidak ingat kapan menandatangani itu.”

“Jadi, pembelaanmu adalah?”

“Saya dijebak,” tutur Breana pelan. “ada orang yang meniru tandatangan saya dan berusaha mendapatkan keuntungan dari sana. Masalahnya saya nggak tahu siapa si pelaku.”

Ben beranjak dari tempatnya bersandar dan melangkah mendekati Breana yang berdiri gemetar di tengah ruangan. Mereka bertatapan. Tangan Ben terulur untuk menyentuh anak rambut wanita yang menatapnya dengan mata sendu.

“Kamu tahu, kan? Apa hukuman bagi koruptor?”

Breana mengangguk, air mata turun perlahan di sudut matanya. “Mengembalikan uang dan dipecat atau dihukum penjara.”

“Kamu punya anak bukan?”

Breana mengangguk.

“Lalu, bagaimana nasibnya jika tahu ibunya di penjara?”

“Saya nggak tahu, Pak. Sudah berusaha untuk mengingat dan bahkan mencari bukti. Tapi perusahaan merumahkan saya, membuat saya makin sulit untuk–,”

“Mencari bukti?”

Breana mengangguk. Wajahnya menunduk menatap karpet. Ia tidak berani menatap mata Ben yang seakan sedang menghakiminya. Ia sudah pasrah jika harus dihukum tapi setidaknya sang direktur mendengarkan penjelasannya.

Breana merasa menggigil sekarang, bukan hanya karena AC yang terlalu kencang tapi juga perasaan tidak enak karena ini terakhir kalinya ia datang ke kantor tempatnya bekerja. Entah bagaimana ia berpikir jika Ben sengaja memanggilnya datang untuk memecat dan mengirimnya ke penjara.

Ingat tentang penjara membuat pikiranya melayang pada Nesya. Air mata mengucur deras tanpa bisa dibendung.

“Bre, apa kamu mau aku menyelamatkanmu? Membantu mencari pelaku yang sesungguhnya?” bisikan dari Ben membuatnya mendongak.

“Bisakah, Pak?” tanyanya penuh harap.

Ben tersenyum, tangannya kembali terulur untuk membelai kepala Breana.

“Bisa, sudah kupastikan aku akan mendapatkan kebenarannya tapi ada konsekuensi. Ada harga yang kamu harus bayar.”

Breana menelan ludah. Tenggorokannya terasa tercekat. Perasaan tercabik antar harapan yang timbul dengan ketidakpercayaan jika Ben akan menolongnya.

“Tolong beritahu saya, konsekuensi apa yang harus saya ambil.”

Ben tersenyum. “Bukan konsekuensi tapi aku meminta imbalan untuk pertolongan yang kuberikan.”

Breana ternganga. Menatap laki-laki tampan yang berdiri persis di depannya. Jantungnya berdetak tak karuan. Aroma parfum yang maskulin tercium olehnya.

“Ji-jika boleh tahu, apa imbalan yang Anda minta?” tanyanya pelan.

Secara tiba-tiba Ben meraih tangannya dan menyeret menuju meja. Tanpa aba-aba menaikkan tubuhnya ke atas meja dengan dia berdiri persis di antara kaki Breana yang terbuka.

“Apa maksudnya ini, Pak?” tanya Breana bingung.

Jari jemari kokoh tapi lentik meraba lembut bagian depan baju Breana. Berhenti tepat di atas titik yang merupakan puncak dadanya. Breana memberontak tapi Ben mengunci tubuhnya.

“Imbalannya mudah, jadilah simpananku,” bisik Ben di kuping Breana.

“Apaaa?”

Ben meraih wajah Breana dan mengecup bibir wanita yang sekarang duduk di atas meja.

“Aku menginginkanmu menjadi simpananku, nggak usah lama-lama hanya tiga bulan sebagai imbalan seratus juta uang perusahaan yang hilang.”

Dengkusan kasar terdengar dari mulut Breana. Entah kenapa ia merasa jijik pada dirinya sendiri saat mendengar penawaran Ben.

“Bukankah Anda punya tunangan? Bagaimana kalau dia tahu, ternyata calon suaminya punya simpanan wanita lain?” tegurnya kasar.

Ben mengedikkan sebelah bahu, menatap tangannya yang terus merayap di atas tubuh Breana. “Dia nggak akan tahu jika kamu nggak bicara. Ini hanya rahasia di antara kita. Jadilah simpananku dan kupastikan jika dirimu dibebaskan dari tuduhan itu. Aku pasti menemukan pelaku yang sesungguhnya.”

Breana menoleh ke arah dinding. Sementara bibir Ben merayap turun dari kuping ke lehernya.

“Ada begitu banyak wanita, kenapa harus aku?” tanya Breana lamat-lamat dengan suara tercekat.

Lama tidak ada jawaban, Ben asyik dengan bibirnya yang mencumbu leher jenjang milik Breana. Bahkan dua kancing teratas dari blus si wanita sudah terlepas.

“Karena aku menginginkanmu, bukan wanita lain.” Setelahnya dengusan napas kasar terdengar seiringan dengan ciuman Ben yang turun ke sela kancing baju yang terbuka. [bersambung ke titiktemu berikutnya]

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…