#Into_You – #Part_04

**

Breana absen dua hari semenjak sakit. Yang ia lakukan di rumah adalah beristirahat total sambil menjaga anaknya. Banyak hal terbengkalai semenjak ia kerja di tempat baru. Terlalu sibuk membuatnya melupakan banyak hal termasuk mengobrol dengan anaknya.

Sepanjang ia berbaring di ranjang, si anak perempuan tidak lepas dari sekitarnya. Bocah perempuan berusia lima tahun itu begitu aktif. Mengoceh tentang sekolah dan teman-temannya.

Tamu tak diundang datang menengok pada malam kedua ia istirahat di rumah. Anton datang membawa buket bunga dan bermacam-macam bingkisan dari mulai biskuit sampai buah.

Sementara Nesya bertepuk tangan gembira, Breana mengamati Anton yang duduk di sofa ruang tamunya yang kecil dengan wajah cemberut.

“Lain kali jangan begini, Anton. Simpan uangmu untuk hal lain,” tegur pelan.

Anton, laki-laki berusia hampir tiga puluh tahun dengan rambut pendek dan wajah klimis hanya meringis mendengar teguran Breana.

“Sesekali Bre, biar Nesya senang. Lagi pula, kamu memang sedang sakit dan menengok orang sakit itu pahalanya besar.”

Mereka menghentikan percakapan saat terdengar teriakan Nesya dari dalam kamar. Anton mengawasi anak perempuan yang sekarang sedang bermain boneka yang baru saja ia bawa, dengan gembira. Wajahnya melembut penuh cinta.

Breana menarik napas panjang dan menghenyakkan diri di samping Anton.

“Sudah saatnya kamu melupakan kami, Anton. Ingat tentang masa depanmu.”

Teguran dari Breana menghentikan lamunan Anton. Laki-laki itu menoleh dan mengamati wajah wanita yang duduk di sampingnya dengan kritis. Setengah mati ia berusaha menahan tangan yang seakan ingin terulur untuk mengelus wajah Breana. Melihat sikap dan perkataan sang wanita yang dingin, mau tidak mau dirinya harus lebih tahu diri.

“Bre … seandainya boleh memilih. Tentu aku lebih suka jika bersama kalian,” ucapnya dengan nada sangat pelan.

Breana melirik Anton, menyandarkan tubuh pada punggung sofa dan menyelonjorkan kakinya. Matanya mengawasi anak perempuannya yang sedang berceloteh dengan boneka di tangan.

“Rasanya sudah berkali-kali kubilang, itu nggak mungkin, Anton.”

Anton menoleh. “Kenapa, Bre? Aku bisa terima kalian apa adanya. Aku menyayangimu dan Nesya dengan tulus.”

Breana mengangguk. “Aku tahu tapi kamu berhak mendapatkan yang lebih baik. Aku nggak mau kamu bertengkar dengan keluargamu demi aku.”

“Aku nggak peduli sama keluargaku, mereka tahu dari dulu aku mencinta–.”

“Anton, stop! Sebaiknya kamu pulang, sudah malam. Nggak enak dilihat tetangga.”

Menyerah kalah dan pulang dengan wajah tertunduk lesu, itu yang dirasakan Anton saat berpamitan. Ia menatap wajah Breana yang cantik dengan rasa mendamba. Meski ditolak berulang kali ia tak menyerah. Malam ini sama seperti malam-malam yang lalu, ia ditolak, diusir tapi esok ia akan tetap kembali. Sampai Breana menyerah dan akhirnya, setuju untuk menyerahkan hatinya.

“Bre … aku selalu cemburu,” ucapnya parau saat berdiri di depan pintu.

“Sama siapa?”

Anton tersenyum pahit. “Sama laki-laki yang selalu ada dalam pikiran dan hatimu. Bahkan setelah bertahun-tahun dan kamu nggak pernah melupakan dia.”

Perkataan Anton membuat Breana syok. Ia menatap kepergian laki-laki yang pernah menjadi suaminya dengan pandangan memelas. Ia tahu selama ini banyak merepotkan laki-laki itu dan sekarang saatnya membuat Anton bahagia. Ia tahu apa yang diinginkan Anton, sayang sekali ia tidak dapat memberikannya.

Breana berbaring di ranjang dengan pikiran mengembara ke Anton yang baik hati lalu ke Ben yang begitu tampan dan arogan. Teringat olehnya pertemuan mereka terakhir kali. Rasa panas yang ditinggalkan Ben pada tubuh dan bibirnya masih sama seperti yang ia rasakan enam tahun lalu. Bagaimana ia yang masih begitu muda dan polos, menyerahkan kesucian pada laki-laki yang baru pertama ia kenal. Hanya karena merasa jatuh cinta pada pandangan pertama. Begitu naïf.

Breana memandang ponsel di tangan. Mengamati nomor baru yang terisi di sana. Saat ia terbangun sewaktu tidur di ruang kesehatan, ada nomor tercantum di secarik kertas berisi pesan singkat.

‘Hubungi aku saat kamu bangun.’

Breana tahu itu nomor siapa tapi sampai sekarang ia belum ada keberanian untuk mengirim pesan apa lagi menelepon. Mengingat besok ia akan masuk kerja dan demi membalas kebaikan sang direktur dengan grogi ia mengirim pesan.

‘Terima kasih sudah diijinkan tidur. Besok aku mulai kerja.’

Saat pesan sudah terkirim, Breana menekan rasa malu di hati. Ia menutup wajah dengan gamang. Menunggu dengan berdebar balasan pesan. Tidak sampai lima menit pesan baru masuk ke ponselnya.

‘Bagus, selamat istirahat.’

Singkat dan padat, balasan pesan dari Ben membuat Breana tersenyum. Ia menahan geli saat melihat foto profile di aplikasi kirim pesan milik Ben. Bukan foto Ben atau keluarganya melainkan tumpukan keramik.

Menekan rasa bahagia, Breana tertidur dengan tangan memeluk anaknya.

**

Pagi hari saat ia sedang antri untuk masuk lift, dari arah lobi ia lihat Ben melangkah lebar diikuti oleh beberapa orang. Antrian pegawai menyingkir untuk memberi jalan pada para pejabat tinggi yang ingin masuk ke lift khusus untuk mereka. Begitu pun Breana, ia mundur dan menatap rombongan sang direktur. Selain Ben juga ada sang sekretaris yang belakangan ia tahu bernama Tessa lalu beberapa orang yang ia tak kenal. Tanpa sengaja matanya berserobok dengan ujung mata Ben, sekilas tapi cukup untuk membuat dadanya berdebar.

Saat rombongan sang direktur masuk ke dalam lift, Breana menekan dada dan menarik napas panjang untuk menghilangkan gundah. Ben, jabatannya, kemewahan adalah hal di luar jangkauannya.

“Hai, Cantik. Syukurlah kamu sudah sembuh dan masuk hari ini.” Vigo menyapa ramah. Duduk di kursi depan Breana. “Banyak sekali pekerjaan dan rasanya kami sudah tak sanggup lagi menahan beban tanpamu.”

“Kamu kangen ama Breana atau sedang mengeluh karena banyak tugas?” Wina menyela percakapan dengan galak.

Vigo mengangkat bahu. “Hei, aku jujur. Iya, nggak, Bre?”

Breana yang sedang asyik menatap dokumen hanya tersenyum tanpa menimpali. Ia tahu jika Vigo suka bercanda.

Pekerjaan demi pekerjaan datang silih berganti sepanjang hari. Sesekali Breana menegakkan punggung. Duduk seharian membuat tulang punggung dan pinggangnya sakit. Menjelang pulang kerja, atasannya masuk ke ruangan mereka. Tersisa hanya dia dan Wina di dalam ruangan. Yang lain entah ke mana.

“Ah, bagus hanya ada kalian. Aku mau minta tolong.” Hani mengacungkan selembar kertas mengkilat di tangan dan menyerahkannya pada Wina yang memandang dengan tampang tidak mengerti.

“Itu adalah undangan pesta dari direktur. Hanya orang-orang tertentu yang diundang ke pesta itu. Kebetulan, malam minggu aku ada acara yang nggak bisa ditinggal. Apa kalian bisa datang menganggantikanku?”

Jika Breana menatap bingung, tidak dengan Wina yang melonjak gembira.

“Horeee! Saya mau, Bu. Kapan lagi datang ke pesta orang kaya. Uyeee!”

Hani tertawa lirih melihat kegembiraan Wina. Menoleh untuk memandang Breana yang sedari tadi terdiam.

“Bagaimana Bre, bisa nggak bantu aku kali ini saja?”

Breana terdiam, menggigit bibir bawah. Merasakan dilemma di hatinya. Di satu sisi, malam minggu adalah hari di mana ia harus menemani anaknya di rumah. Di sisi lain ia merasa tak enak jika menolak permintaan Hani.

Pesta sang direktur, berarti Ben yang mengadakan. Pastinya sebuah pesta yang mewah dan hanya orang penting yang diundang. Mengabaikan perasan terluka karena secara pribadi Ben tidak mengundangnya, Breana menarik napas panjang. Ia memang bukan siap-siap bagi Ben. Bagaimana mungkin berharap laki-laki itu memperlakukan dirinya istimewa.

“Bre? Kok melamun?”

Teguran dari atasannya membuat Breana tersentak. “Iya, Bu. Saya akan datang bersama Wina.”

Ucapan terima kasih dari Hani dan teriakan gembira dari rekan kerjanya hanya didengar sambil lalu oleh Breana. Sekarang yang ada di otaknya adalah, gaun apa yang harus ia kenakan saat pesta nanti. Selama ini ia jarang sekali membeli baju karena kebutuhan Nesya adalah yang terpenting untuknya.

Breana menutup mata dan meletakkan wajah di atas meja. Beban hidupnya bertambah hanya karena sebuah pesta.

*

Awalnya Breana berpikir jika pesta akan dilakukan di kediaman pribadi sang direktur. Namun ternyata dugaannya salah. Perhelatan digelar di sebuah hotel bintang lima yang berada persis di tengah kota. Acara dimulai pukul delapan dan sekarang baru pukul tujuh lewat lima belas menit tapi para tamu sudah banyak yang hadir.

Antrian masuk ke dalam ballroom mengular. Breana yang berdiri berdampingan dengan Wina dan menunggu pemeriksaan undangan, teringat akan anaknya. Nesya ngambek dan merengek minta ikut saat ia tinggalkan di rumah Bu Guru. Terus terang hatinya merasa tidak enak harus meninggalkan anaknya tapi ia sudah berjanji pada Hani.

“Gilaaa! Keren banget ini tempat. Emang beda kalau jadi horang kayaaah!” Wina berdecak kagum tiada henti saat mereka duduk di meja yang sudah disiapkan sesuai nomor undangan.

Berada di bagian belakang, mereka duduk mengelilingi meja bundar beralaskan kain putih. Ada delapan orang lainnya semeja dengan mereka. Breana tidak mengenal satu pun teman semejanya kecuali Wina.

Aroma parfum bercampur dengan wangi masakan dan bunga segar dari vas besar di setiap sudut ruangan. Ada lebih banyak bunga di atas meja, langit-langit ruang pesta yang dirangkai dengan lampu dan kain perca yang indah. Sebuah lampu kristal besar menggantung di tengah ruangan di sangga oleh rangkaian bunga yang menjulur panjang dari tengah ke pojok dan menjuntai di setiap sudut.

“Ah, aku bisa mati karena senang.” Wina berbisik dengan mulut mengecap makanan di atas piringnya.

Para pelayan hilir mudik menyajikan minuman. Sedangkan hidangan makanan tersedia di atas meja panjang yang melekat pada dinding. Makanan dari berbagai olehan daging, cake, sea food dan ada banyak lagi, tersedia di atas meja.

“Ini sebenarnya pesta apa, sih?” Breana berbisik tidak mengerti. Melihat tamu-tamu yang datang berpenampilan resmi. Para pria memakai jas lengkap dengan manset sedangkan tamu wanita mengenakan gaun indah. Mau tak mau ia menatap penampilannya sendiri. Malam ini ia memakai gaun sederhana warna hitam dengan rambut disanggul dan diberi hiasan bunga. Untuk wajah ia merias sendiri dengan make-up tipis. Berbanding terbalik dengan Wina yang memakai gaun keemasan dan riasan tebal yang dioles sempurna.

“Entah pesta apa, di undangan cuma tercantum pesta syukuran. Tapi bersyukur soal apa aku nggak tahu.”

Breana mengangguk. memandang para tamu undangan yang sibuk mengobrol di meja mereka. Sementara sekelompok pemain musik, mendendangkan lagu-lagu berirama gembira dari sudut depan. Rupanya para tamu penting berada di meja bundar bagian depan. Untuk staf biasa seperti mereka, ada di kelompok belakang.

Tidak lama seorang MC terkenal yang biasa memandu acara TV, naik ke panggung di sebelah tempat band. Dengan gayanya yang kocak dan santai, si MC yang berkelamin laki-laki membuka acara.

Breana celingak-celinguk, mencari sosok Ben tapi tidak ia temukan di mana pun. Tadinya ia berharap bisa bertatap muka atau pun bertegur sapa. Setelah berkirim pesan yang kaku di hari ia sakit, mereka belum pernah bertemu lagi. Ia sendiri menyimpan perasaan segan untuk mengirim pesan atau sekadar bertanya basa-basi.

“Para hadirin sekalian, marilah kita sambut sang tuan rumah acara malam ini, Pak Direktur yang terhormat Tuan Julian Benedict beserta tunangannya yang cantik, Nona Amanda dan keluarga besar mereka.”

Tepuk tangan bergemuruh di dalam ruangan sementara Breana terhenyak di kursinya. Apa yang baru saja ia dengar membuat jantungnya serasa copot. Ben sudah bertungan dan malam ini adalah acara syukuran untuk pertunangannya.

“Waaah, cantik sekali tunangan Pak Direktur.” Desahan Wina membuyarkan lamunan Breana. “musnah sudah harapan kita untuk memikat hatinya.”

Breana mendongak dan memandang ke arah depan. Para tuan rumah berjajar di panggung kecil berhiaskan bunga, dengan background air yang mengalir tenang di dinding di sela lampu temaram.

Meski dari jarak yang agak jauh, Breana bisa melihat betapa tampannya Ben dalam balutan pakaian resmi berwarna putih. Senada dengan gaun yang dipakai sang tunangan. Sementara kedua orang tua masing-masing berada di sisi kanan dan kiri mempelai.

Breana merasakan kesedihan menyelusup masuk dalam ruang hampa di dada. Dunia seakan berhenti berputar dan napasnya terasa sesak. Menguatkan hati ia menatap pada pasangan bahagia yang sedang diwawancarai MC.

“Berapa lama kalian menjalin hubungan sebelum akhirnya mengikatkan diri dalam tali pertunangan? Tentunya para undangan juga ingin tahu,” tanya sang MC dengan nada jahil.

Yang menjawab adalah calon mempelai wanita. “Kami sudah menjalin hubungan selama tiga tahun.”

“Tiga tahun? Wow ….” Tepuk tangan kembali bergemuruh.

“Kira-kira, rencana pernikahannya kapan?”

Amanda menatap malu-malu pada tunangannya yang berdiri tenang. Tangannya terulur untuk meraih lengan Ben dan mengapitnya.

“Jika tidak ada aral melintang, tahun ini acara pernikahan.”

“Wow-wow, selamat sekali lagi dan semoga menjadi pasangan yang langgeng. Jika boleh tahu, siapa yang pertama kali melamar atau mencetuskan ide pernikahan?”

Amanda tersipu-sipu sementara calon suaminya terlihat tenang.

“Ben tentu saja, dua minggu lalu dalam sebuah lamaran yang romantis. Dia bilang ingin menghabiskan seluruh hidupnya bersamaku.”

“Aih, manisnya. Nggak nyangka ternyata Pak Direktur sedemikian manis dan romantis. Baiklah, untuk acara selanjutnya akan ada salah satu penyanyi cantik yang akan menyanyikan lagu-lagu manis untuk pasangan yang berbahagia. Tapi sebelum itu, mari kita bersulang untuk pasangan yang berbahagia.”

Dua orang pelayan memberikan minuman dalam gelas pipih dan tinggi kepada pasangan yang sedang bertunangan. Berikut dengan orang tua mereka. Tak lama semua undangan diminta berdiri dan semua mengacungkan gelas untuk memberi ucapan selamat. Termasuk Breana yang mengangkat gelas dengan tangan gemetar.

Seorang penyanyi wanita terkenal hadir membawakan lagu-lagu cinta untuk kedua mempelai dan para tamu pesta. Terlihat oleh Breana, betapa bahagianya Ben dan sang tunangan malam ini. Terlihat serasi saat mereka berdiri berdampingan. Sama-sama rupawan dan datang dari keluarga berada. Breana menarik napas panjang dan menekan dadanya kuat-kuat. Hilang sudah selera makannya. Tangannya gemetar saat meraih gelas berisi air putih dan meneguknya perlahan.

“Ayo, Bree. Kita kesana.” Wina menariknya bangkit dari kursi.

“Ke mana?” tanyanya bingung.

“Ke depan tentu saja, kamu nggak lihat semua undangan mengucapkan selamat pada mempelai.”

“Kamu saja sana, aku mau ke toilet,” elak Breana.

“Nggak boleh, itu namanya nggak sopan.”

Dengan sekuat tenaga, Wina menarik tangannya ke arah panggung. Ikut mengantri bersama para undangan yang lain. Ia hanya bisa pasrah dan berharap kakinya yang gemetaran dan jantung yang bertalu-talu bisa diajak kompromi.

Mereka bertatapan melalui kepala orang-orang yang mengantri. Ben menemukannya, dari atas panggung tempatnya berdiri ke arah Breana yang berdiri mengantri.

Bisa terlihat oleh Breana, mata Ben yang membulat kaget saat melihatnya. Sang direktur tampan, orang yang tidak pernah bisa menjaga tangan saat melihatnya, kini bersanding dengan wanita lain. Tentu saja, sederajat dengannya.

“Selamat Nona dan Tuan.” Wina menyapa ramah dan menyalami kedua mempelai. Sementara Breana yang mengekor di belakangnya hanya tersenyum tanpa kata. Saat ia menjabat tangan Ben, bisa ia rasakan jika tangannya digenggam agak lama dari seharusnya. Tangan dingin bertemu dengan tangan dingin yang lain, keduanya saling melepaskan genggaman tanpa kata-kata.

“Terima kasih atas kedatangan kalian,” ucap Ben pelan.

“Ooh, sama-sama Pak Direktur. Semoga langgeng,” jawab Wina dengan suara ceria.

Breana turun dari panggung dengan wajah menunduk. Saat ia akan keluar dari ballroom, untuk terakhir kali menoleh ke arah Ben dan melihat laki-laki itu menatapnya. Menarik napas panjang, Breana memalingkan wajah dan melangkah gontai meninggalkan pesta.

Wina pulang lebih dulu menaiki ojek online, meninggalkan ia sendiri di pinggir jalan dekat hotel. Breana bersandar pada tiang listrik. Berusaha menahan air mata yang pada akhirnya tetap meluncur jatuh membasahi pipi. Ia menangis dan menangis, seperti hendak mengeluarkan semua beban kesedihan yang ia pendam bertahun-tahun lalu.

Terbayang Ben dan wajah sang tunangan yang jelita, hati Breana remuk redam.

“Sekarang, siapa yang sebenarnya berkhianat di antara kita Ben. Kamu atau aku?” Ditelan redup malam, Breana meraup kesunyian di dalam dada dan menyimpan rapat-rapat bersama hatinya yang patah. [bersambung ke titiktemu berikutnya]

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…