#Into_You – #Part_03

Ben menatap nanar pada formulir data pekerja yang diletakkan di atas meja. Daftar riwayat hidup Breana tertulis di sana. Ia masih tidak percaya saat pertama kali membacanya, ternyata wanita yang ia kenal bertahun lalu sudah menikah dan kini berstatus janda.

Pak Doni, kepala HRD yang duduk tegak di depan meja Ben, tidak berani bersuara saat direkturnya berdiam diri. Dia hanya disuruh mengantarkan surat lamaran pegawai baru, tidak mengerti hal lainnya. Bahkan penyebab wajah sang direktur menjadi murung pun ia tak tahu .

“Bagaimana pekerjaan pegawai baru itu?” tanya Ben dengan dagu terangkat dan menunjuk data Breana di atas meja.

“Oh, dia bagus Pak. Sangat cepat beradaptasi dengan anggota tim yang lain,” jawab Pak Doni.

“Apa dia meminta gaji khusus waktu diwawancara?”

Pak Doni menggeleng. “Tidak ada, Pak. Sesuai dengan kebijakan perusahaan katanya.”

Ben mengangguk. Setelah menyuruh bagian HRD-nya keluar ruangan, ia duduk termenung di atas kursinya.

Saat pertama kali melihat Breana ada di hadapannya, perasaan bahagia membuncah dalam dirinya. Jika tidak ingat kalau sedang berada di ruang rapat, bisa jadi ia akan menubruk Breana dan menenggalamkan mereka dalam dekapan penuh rindu.

Ternyata, informasi yang ia terima dari Bu Hani, atasan Breana, selepas rapat berlalu yang memberitahu kalau Breana sudah menikah, membuat perasaannya getir seketika.

‘Apa aku harus sebodoh ini? Mengharap wanita yang jelas-jelas pernah menjadi milik orang lain.’

Ciuman mereka yang panas dan brutal di dekat tangga darurat waktu itu, tidak memadamkan kerinduan tubuhnya akan Breana tapi justru semakin mendamba. Ia sadar sudah berlaku kasar pada wanita itu, hanya saja ia selalu tidak dapat mengontrol emosi saat bersama Breana.

“Sial!”

Ia berdiri dengan tangan memukul meja. Banyak hal yang harus ia lakukan tapi pikirannya justru terpusat pada wanita yang datang dari masa lalu dan membawa tidak hanya luka tapi juga setumpuk kenangan.

*

Breana mendesah di atas kertas-kertas laporan yang terbentang di hadapannya. Malam ini lagi-lagi ia harus lembur. Untunglah tadi ia menelepon Bu Evi, guru TK anaknya. Ia memohon dengan sangat untuk menitipkan anaknya melebihi dari jam yang ditentukan. Menjelang waktu laporan pajak, pekerjaannya ikut membludak.

Ada empat orang dalam satu ruangan yang ikut lembur bersamanya. Mereka tenggelam dalam pekerjaan masing-masing. Bahkan sampai tidak berani membuka handphone karena takut mengganggu. Pukul delapan malam, akhirnya semua pekerjaan selesai.

“Sebelum pulang, ayo, aku traktir makan malam.” Bu Hani atasan mereka berkata nyaring sambil bertepuk tangan.

“Saya tidak bisa ikut, Bu. Harus jemput bocah.” Breana yang teringat Nesya, memutuskan untuk tidak ikut makan bersama.

“Sekedar makan, Bree. Yakin nggak bisa?” Wina bertanya dengan nada kecewa.

“Yakin sekali, kapan-kapan saja.” Breana menjawab dengan senyum terkembang sementara tangannya sibuk merapikan mejanya.

“Yah, Bre. Tanpa kamu, sepi hati Abang.” Vigo, satu-satunya pegawai laki-laki di ruangan itu berkata dengan nada sedih yang dibuat-buat.

“Yeee, nggak usah ngrayu Brea. Noh, pacar kamu si Yuni dari bagian administrasi ngamuk-ngamuk mlulu karena kamu cuekin,” Wina menyela dengan sengit.

Vigo mengibaskan tangannya tak peduli. “Ah, dia aja yang GR. Siapa juga mau pacaran ama dia tapi kalau Bre mau, aku sanggup jadi bapak yang baik untuk anaknya,” ucapnya sambil mengedipkan mata ke arah Breana.

Seketika, rayuannya disambut tawa dari teman-temannya.

“Huuh! Ngrayu!”

“Timpukin, Vigo!”

Breana tertawa lirih, baginya rayuan Vigo hanya sekedar becanda. Keisengan belaka. Ia tidak akan terlalu ambil pusing masalah itu.

Ia cukup senang bekerja di sini dengan teman-teman satu tim yang kesemuanya baik dan menyenangkan. Meski mereka bekerja di bawah tekanan, asalkan saling bekerja sama maka tidak ada kata sulit.

Mereka berjalan beriringan keluar dari ruangan. Lift untuk karyawan sudah dimatikan. Kini hanya lift khusus eksekutif.

“Ah, lift sedang turun. Aku berharap ada Pak Julian di dalamnya,” gumam Wina penuh harap.

“Mudah-mudahan beneran dia,” bisik Dita, staf keuangan yang lain.

Sementara Breana justru berharap sebaliknya, tidak ingin bertemu Ben malam ini. Peristiwa terakhir kali mereka bertemu cukup memukul perasaannya. Rasanya ia tak sanggup jika di hadapkan pada tuduhan-tuduhan Ben yang tak berdasar.

Mereka sudah bertahun-tahun tidak berjumpa. Bukankah tidak seharusnya Ben bersikap kasar padanya? Toh, ia tidak merasa berhutang apa pun pada pria itu.

Lift berdentang terbuka dan Breana mengeluh dalam hati saat melihat sosok Ben berdiri gagah di dalam.

“Malam, Pak Julian.”

“Apa kabar, Pak?”

Mereka masuk sambil menyapa satu per satu. Breana menutup mulut dan mencari posisi paling pojok agar tidak bersinggunga dengan Ben. Dari ujung matanya, terlihat Wina sibuk merapikan rambut, terlihat betul wanita itu senang bisa berdiri bersisihan dengan sang direktur tampan.

“Kalian semua lembur, ya?” Pertanyaan yang diajukan Ben membuat mereka serempak mengangguk.

“Pak Direktur sendiri, juga sering lembur,” ucap Wina dengan nada malu-malu.

Tak lama dia mendapat sikutan di bahu dari Dita. Sementara Breana menutup mulut, tidak ingin larut dalam percakapan mereka.

“Bree, ayolah, ikut makan malam. Jangan pulang dulu,” bisikan Vigo terdengar jelas di dalam lift.

“Lain kali aja,” jawab Breana dengan suara amat pelan.

“Diih, Vigo. Mepet terus, nih. Udah tahu Bre nggak mau,” celetuk Wina dengan pandangan sebal ke arah laki-laki berambut merah di belakangnya.

“Berisik, nih. Aku ngajak dia bukan kamu!” sergah Vigo agak keras dari seharusnya.

Breana meletakkan telunjuk di depan mulut untuk memperingatkan teman-temannya. Saling sikut terjadi saat melihat tanda darinya lalu masing-masing menutup mulut.

Lift berhenti di lantai dasar. Ben mengangguk kecil lalu keluar lebih dulu diikuti para staf keuangan. Breana keluar paling belakang. Ia tertinggal sendiri di teras lobi yang sepi saat semua teman-temannya pergi ke restoran yang tidak jauh dari kantor.

Breana sedang sibuk memencet tombol handphone untuk mengorder ojek saat sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Ia tertegun melihat pintu kaca mobil yang terbuka dan menampakkan wajah Ben.

“Masuk!”

Breana masih tidak mengerti dengan perintah sang direktur. Ia celingak-celinguk mencari orang di sampingnya tapi hanya tersisa dia sendiri berserta dua petugas keamanan yang berdiri agak jauh dari mereka.

“Masih berdiri di situ. Masuk!” Ben berteriak sekali lagi kali ini sambil membuka pintu.

Meski bingung, Breana mau tidak mau masuk ke mobil dan duduk di sebelah laki-laki yang dulu pernah dekat dengannya. Bukan sekedar dekat tapi lebih dari itu.

Mobil melaju cukup kencang di jalanan ibu kota yang tidak terlalu ramai. Mereka terdiam sepanjang jalan meski Breana menyimpan keheranan dalam hatinya. Ia tidak pernah mengatakan pada Ben di mana dia tinggal, bagaimana laki-laki itu tahu arah jalan pulang ke rumahnya. Ini yang membuat Breana bingung. Tangannya gemetar saat memasang sabuk pengaman.

“Apa kamu tidak akan memberitahuku, di mana alamatmu?”

Teguran dari laki-laki di sampingnya membuat Breana tersentak.

“Maaf, kupikir sudah tahu karena–.”

“Arahnya sama?”

Breana mengangguk.

“Kita memang searah karena satu wilayah di Jakarta Pusat. Bukan berarti aku tahu alamatmu?”

Breana menyebut pelan alamat rumahnya. Setelah itu kembali diam dan membuang wajah ke arah jendela. Rasanya ia ingin mobil melaju dengan cepat. Laki-laki tampan di sebelahnya bukan lagi orang yang sama seperti enam tahun lalu.

Mereka berhenti di lampu merah. Breana menatap warung tenda pinggir jalan yang ramai pengunjung. Seketika ingat jika dia belum makan malam. Mengikuti kata hatinya, perutnya mengeluarkan bunyi ‘kriuk’ yang memalukan.

“Kamu lapar? Kenapa tadi tidak ikut makan bersama teman-temanmu?” tanya Ben memecah kesunyian.

Breana melirik sejenak sebelum menjawab. “Nanti makan di rumah saja.”

Keduanya kembali terdiam hingga mobil menepi di depan rumah susun.

“Kamu tinggal di rumah susun?” tanya Ben heran.

Breana mengangguk, melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil.

“Terima kasih tumpangannya, Pak.”

Sebelum Breana menutup pintu, Ben menatap matanya dan berlata pelan. “Bre, kenapa kamu menghianatiku?”

Pintu ditutup dari dalam, bahkan sebelum Breana sempat bertanya apa maksud dari pertanyaan Ben. Dia berkhianat? Kapan? Dengan siapa? Pertanyaan demi pertanyaan bergumul di otak Breana. Dengan kebingungan bersarang di pikiran, ia melangkah lunglai menuju rumah guru tempat ia menitipkan anaknya.

*

Semalaman tidak bisa tidur karena memikirkan perkataan Ben membuat kepala Breana pusing saat pagi. Bukan hanya itu, badannya pun demam. Dengan sedikit menggigil ia bangun untuk mengurus keperluan anaknya sebelum sekolah. Selain mempersiapkan makanan juga baju ganti.

“Mama, apa nanti kita bisa main ke taman?”

“Taman mana, Sayang?” Breana menatap anaknya yang sedang memakai sepatu.

“Taman yang baru buka, kata Dido teman aku, tamannya baguuus.” Nesya membentangkan tangannya lebar-lebar.

Dengan gemas, sang ibu menjewer pipi anaknya. Membuat sang anak meringis gembira. Mereka berdua bergandengan menuju pintu. Setelah menutup dan mengunci, Breana menggandeng anaknya menuruni tangga.

“Baiklah, kita main nanti ke sana.”

“Mama janji?”

“Janji.” Mereka saling mengaitkan kelingking.

Saat tiba di kantor, kepala Breana rasanya seperti mau pecah. Sebelum membuka laporan, ia menelan sebutir aspirin. Berharap dapat meredakan sakit kepalanya. Anehnya ia merasa kedinginan padahal biasanya baik-baik saja di ruangan ber-AC.

“Bre, kamu sakit?” tanya Wina saat melihatnya bersin-bersin tiada henti.

“Iya, pilek dan sakit kepala.”

“Sudah minum obat?”

“Sudah baru saja.”

“Kalau tidak kuat, ijin saja. Rebahan di ruang kesehatan.”

Breana terheran menatap Wina. “Memang ada ruang kesehatan di sini?”

Wina mengangguk. “Ada di lantai tujuh di samping kantor direktur. Sengaja di taruh di sana biar yang sakit beneran bisa istirahat. Ada suster atau dokter kayaknya, entahlah.”

Breana merasa takjub, ternyata perusahaan sebesar ini menyediakan ruang kesehatan untuk karyawannya. Jujur dalam hati ia tidak ingin kesana jika bisa. Membayangkan harus naik ke lantai tujuh dan kemungkinan besar bertemu Ben, membuat kepalanya makin pusing.

Ternyata, kondisi tubuhnya benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Menjelang makan siang, setelah menyelesaikan satu laporan Bu Hani menyuruhnya naik ke atas dan istirahat selama dua jam. Awalnya ia menolak tapi perintah atasannya tidak dapat dibantah. Dengan enggan Breana tersaruk menuju lift dan naik ke lantai tujuh.

Beruntung, ia tidak bertemu Ben di sepanjang lorong lantai tujuh. Ruang kesehatan berada di deretan yang sama dengan ruang direktur. Sebuah ruangan kecil tanpa AC dan hanya mengandalkan kipas besar untuk mendinginkan ruangan. Seorang perawat yang berjaga memberinya obat flu dan menyuruhnya tidur. Setengah melayang, Breana berbaring di ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut tipis. Ranjangnya sendiri berada persis di samping jendela kaca.

“Mbak, saya tinggal untuk makan,ya?” Sang perawat berpamitan sebelum menutup pintu di belakangnya.

Breana menutup mata dan merasakan dirinya seperti di awan-awan. Bisa jadi kantuk yang luar biasa atau obat yang baru saja ia minum sedikit membiusnya. Tidak berapa lama kesadaran hilang dari pikirannya dan ia jatuh dalam tidur.

Pintu menceklek terbuka, secara otomatis ia terbangun dan sadar tidar tidak lebih dari sepuluh menit. Bisa jadi yang datang adalah suster yang baru kembali dari makan siang.

“Suster, saya sudah baikan.” Breana berusaha bangun, merapikan baju dan rambutnya dan mendongak mencari sosok suster tapi siapa sangka justru menatap mata tajam milik Ben.

“Pak Direktur?” ucapnya tergagap.

Ben melangkah pelan mendekati ranjang. “Kamu sakit?”

Breana mengangguk. “Hany flu biasa.”

Tangan Ben terulur untuk meraba dahinya.

“Panas sekali, tidurlah kembali.” Breana melihat sesuatu pada tangan Ben.

“Tangan Anda terluka?”

Ben mengangguk. “Aku datang untuk mencari obat merah dan kamu, tidurlah kembali.?”

“Nggak, Pak. Ada kerjaan.” Breana menurunkan kakinya. “Ada sekretaris, kenapa nggak minta dia mengambilkan obat merah?”

Ben mengernyitkan kening. “Suaramu sengau dan masih bisa komplain?”

Entah bagaimana sebelum Breana sempat bertindak, ia menatap heran saat sang direktur melangkah cepat menuju pintu dan menguncinya. Lalu memasukkan anak kunci ke dalam saku.

“Pak ….”

“Aku menyuruhmu istirahat dan aku tidak suka jika bawahan suka membantah.”

Tercabik antara keinginan untuk berteriak marah tapi di saat bersamaan juga merasa kepalanya berdentum-dentum menyakitkan. Dengan pasrah, ia akhirnya kembali berbaring.

“Menyingkirlah sedikit, aku juga ingin berbaring.” Ben berdiri menjulang di samping ranjang.

Breana melotot bingung. “Kenapa?”

“Karena aku juga pusing.”

“Itu hanya jari teriris!”

Mengabaikan Breana yang keberatan, sang direktur mendorong tubuh wanita yang sedang berbaring di ranjang yang tidak terlalu besar dan ikut berbaring di sampingnya.

Lengan mereka bersentuhan, tubuh Breana kaku seketika. Ia bisa merasakan hangat tubuh laki-laki yang kini berbaring menghadapanya. Tidak ingin mencari masalah, Breana berbalik dan memunggunginya.

“Tidurlah, aku di sini.” Ucapan Ben terdengar sangat dekat di kuping Breana. Ia tidak berani bergerak.

Tangan yang besar merangkulnya dan hangat napas terdengar dari belakang lehernya. Breana menggeliat tapi justru membuat tangan Ben jatuh di bawah dadanya.

“Kamu lembut dan wangi, parfum yang kamu pakai masih sama seperti dulu.”

Breana menahan napas. Merasakan bisikan Ben terlalu dekat dengan tengkuknya.

“Rambutmu juga harum, sampo apa yang kamu pakai?”

“Itu, Pak.”

“Sttt … jangan bicara. Pejamkan matamu.”

Breana mendesah kesal. Bagaimana bisa ia tidur jika sekarang ada sosok yang panas melingkupi tubuhnya. Meski ia pilek tapi samar-samar mencium aroma maskulin dari tubuh Ben. Seperti betina yang membaui sang jantan.

Desahannya terdengar oleh Ben. Laki-laki itu kini semakin mendekat. Tangannya mendekat erat tubuh Breana dan sebuah kecupan melayang di belakang leher Breana. Membuat napas wanita yang sedang sakit itu tercekat.

“Pak, please?”

“Kenapa, Bre? Tidak suka aku mendekapmu begini? Bisa kurasakan tubuhmu panas, bisa jadi karena sakit atau memang karena kedekatan kita.”

“Aku rasa, ini bukan saat yang tepat, Pak.”

Terdengar dengkus kasar dari Ben. “Lalu, kapan saat yang tepat? Apa kamu akan memberiku kesempatan? Seperti laki-laki yang pernah mengisi hidupmu?”

Breana menoleh heran. “Maksudnya, siapa?”

Ben menatapnya tajam dalam keremangan. “Mantan suamimu tentu saja.”

Breana tertegun lalu membuang muka. Ia tidak ingin berdebat masalah itu sekarang, saat kepalanya berdentum menyakitkan.

“Kamu hangat, dari dulu selalu hangat.”

“Ben, tolonglah?”

“Sttt … tidurlah?”

“Bagimana aku bisa ti-tidur, aah. Jika kamu menggangguku!” Breana terengah.

Breana menatap bayangan laki-laki di depannya dengan sayu. Mengulurkan tangan untuk membelai wajah tampan tak tercela. Tanpa sadar ia tersenyum dengan air mata entah menetes dari mana.

“Aku nggak pernah mengkhiatimu, Ben?”

Menggeliat pelan untuk melepaskan diri, Breana merasa kantuk menyerangnya teramat sangat dan ia tertidur dalam pelukan sang direktur yang menatapnya nanar.

Ben tertegun, menyapu anak rambut dari wajah Breana dengan gerakan ringan seakan takut akan membangunkannya. Setelah memastikan kalau Breana benar-benar tertidur, ia bangkit dari ranjang. Membenahi pakaian wanita yang baru saja ia cumbu dan menyelubunginya dengan selimut.

Tangannya meraih handphone saat melangkah menuju pintu.

“Bu Hani, ini ada salah satu stafmu yang sakit lumayan parah. Kata suster, dia harus istirahat total hari ini. Biarkan dia tidur.”

Pintu menutup di belakangnya. Meninggalkan kesunyian di ruang kesehatan di mana Breana tergolek di atas ranjang dan terlelap dalam tidurnya [bersambung ke titiktemu berikutnya]

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Gendhis Ayu – #Part_10/18

Bu Harjo menghambur ke pelukan Nawang, didekapnya Nawang dengan erat seolah dirinya telah lama tak bersua dengan gadis cantik ini. Sejenak suasana haru dan bahagia menyelimuti warga yang ada dipendopo itu…

Gendhis Ayu – #Part_09/18

Dari jauh terlihat seorang wanita tua tengah duduk dikursi rotan yang telah menghitam di teras sebuah rumah kecil.. Bibirnya mengepulkan asap, mata sipitnya yang cekung termakan usia memandangi Galih dan Ajeng bergantian..

Memilih Bidadari – #Part_11/11 (TAMAT)

Rumi membantu menyiapkan baju yang akan dibawa Arfan ke luar kota selama seminggu. Sebenarnya sudah biasa ia akan ditinggal selama itu. Namun karena tiga hari ini wajahnya mendung gegara kejadian terima kunci mobil dari Arini kemarin, Rumi agak tak enak melepasnya…