#Into_You – #Part_02

Jakarta, enam tahun kemudian.

Ruangan tempat mereka menunggu tidak terlalu besar. Berada di depan kantor HRD, dengan kursi besi hitam yang ditata rapi bersandar tembok dengan posisi berhadapan. Seorang sekretaris wanita berambut pendek dengan wajah bulat dan tahi lalat di dagu terlihat sibuk dengan komputernya. Sesekali terdengar telepon di atas mejanya berdering.

Breana duduk tegak di kursinya, meski jantungnya berdebar karena menunggu giliran wawancara tapi dia mencoba tenang. Ia bahkan mencoba untuk mengobrol pelan dengan calon pekerja di sampingnya, seorang wanita berbadan subur dengan rambut sebahu. Sayangnya, keramahannya hanya ditanggapi oleh lirikan sebal. Diam-diam Breana mengedikkan bahu, mengamati sekitar enam orang menunggu wawancara dengan tegang dan tanpa saling menyapa.

“Breana? Betul begitu? Silahkan duduk.” Seorang laki-laki berusia empat puluhan dengan dasi biru menggantung di leher dan memakai kemeja putih kebiruan menyapa ramah dan menjabat tangannya.

“Iya, Pak. Saya Breana.”

“Saya Doni, kepala HRD. Bisa kita mulai wawancara ini?”

Breana mengangguk, menarik napas panjang untuk meredakan kegugupan dan duduk tegak di kursinya.

“Kamu tahu akan menempati posisi apa jika diterima?”

“Staf keuangan, Pak.”

“Apa punya pengalaman di bidang yang sama sebelumnya?”

Wawancara berlangsung tidak lebih dari tiga puluh menit. Sore harinya, sebuah telepon tak terduga ia terima yang mengabarkan bahwa mulai keesokan harinya dia bisa langsung bekerja. Ia bersyukur, bisa mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar.

Breana mulai bekerja dengan penyesuain hanya di hari pertama mulai. Selanjutnya ia dituntuntut untuk langsung menguasai keadaan. Atasnya seorang wanita bernama Bu Hani yang terkenal tegas dan disiplin. Rekan kerjanya ada empat orang dan salah satu di antaranya adalah laki-laki dengan rambut pendek sedikit kemerahan bernama Vigo.

“Bre, apa kamu tahu direktur kita setampan bintang film?” bisik Wina, yang juga satu tim kerja dengannya.

“Aku belum pernah melihatnya,” jawab Breana dengan mulut sibuk mengunyah gado-gado. Jam makan siang dan mereka berdua sepakat untuk mengisi perut dengan paket gado-gado lontong dengan kerupuk.

“Beliau sedang ada di Thailand. Harusnya hari ini dia kembali.”

Breana mengangguk kecil. Mengambil secuil kerupuk dan memasukkannya ke mulut.

“Dia belum menikah, masih single.”

“Oh ya? Umur berapa?” tanya Breana ingin tahu.

Wina mengangkat sebelah bahu. “Pertengahan tiga puluhan.”

“Wow, muda, kaya, dan tampan. Kombinasi mematikan.”

“Iyaaa, dong. Pak Julian memang tiada duanya.” Wina berucap dengan wajah merona dan mata bersinar.

Breana memandangnya geli. Dalam hati bertanya-tanya setampan apa direktur Julian, karena selama dua minggu dia bekerja di sini, belum pernah satu kali pun bertemu dengannya. Meskipun ia sering mendengar para wanita satu ruangan dengannya berkata dengan nada memuja setiap kali nama direktur Julian disebut.

Sore hari hari mendekati waktu pulang kerja, sesuatu yang besar terjadi. Para staf keuangan termasuk Bu Tuti dipanggil menghadap direktur yang baru saja pulang dari luar negeri.

Mereka duduk di ruang rapat mengelilingi meja panjang dengan ujung bulat. Masing-masing dengan catatan terbuka di atas meja. Breana melirik Bu Tuti yang tampak tenang sedangkan Wina, Vigo dan dua wanita lain terlihat tegang.

Pintu menjeplak terbuka. Sesosok laki-laki dengan jas hitam memasuki ruangan dan menyapa mereka.

“Selamat sore, semuanya.”

Serempak mereka berdiri dan menjawab bersamaan. “Selamat sore, Pak.”

Breana terkesiap kaku di tempatnya berdiri. Memandang dengan mulut ternganga pada laki-laki tampan yang menyapa mereka. Rasanya seperti melihat hantu. Jantungnya berlompatan keluar seketika. Sementara laki-laki yang menjadi obyek pandangannya, sibuk mengatur catatan di atas mejanya dibantu oleh seorang sekretaris.

Rasanya baru kemarin ia melihatnya, mengelus wajah tampan tak tercela dengan dada bidang dan postur sempurna. Rasanya baru kemarin mereka bergulat dengan gairah tapi kini nasib seolah mempermainkan mereka.

Breana tersadar saat Wina menarik ujung bajunya. Dengan gugup ia kembali duduk, mengatur napas dan bersiap-siap mendengarkan direkturnya bicara.

“Saya mengumpulkan kalian untuk membahas masalah laporan bulan lalu.” Julian becara sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Kekagetan melintas di wajahnya saat memandang Breana. Hanya sedetik lalu kembali normal seakan tidak terjadi apa-apa.

“Saya mendapati ada beberapa perhitungan yang perlu diperbaiki.” Julian terus berbicara. Sesekali mengajukan pertanyaan pada Bu Tuti dan terlibat diskusi berdua. Sementara Breana hanya menunduk di atas catatannya. Dari sudut mata ia melihat sang sekretaris bergerak sigap untuk membantu Julian dari mulai mengambil minum hingga menyiapkan alat tulis yang diperlukan.

Rapat berakhir menjelang Magrib. Breana bahkan tidak tahu apa keputusan yang diambil oleh mereka karena pikirannya sibuk dengan hal lain. Lagi pula dia pegawai baru, belum banyak dilibatkan dalam obrolan dan pendapat.

“Bre, kamu pulang naik ojek?” tanya Wina saat mereka beriringan meninggalkan kantor.

Breana mengangguk. “Wina, siapa nama direktur kita? Nama lengkapnya maksudku.”

“Julian Benedict, kenapa tanya?”

“Hanya ingin tahu,” jawabnya sambil tersenyum.

“Jangan bilang kamu naksir. Ganteng kan dia?”

Breana tidak menanggapi omongan Wina. Tiba di lobi kantor, matanya celingak-celinguk mencari ojek online yang sudah ia pesan. Mendadak serombongan orang keluar dari pintu utama dan melewatinya.

Seperti ada aliran listrik yang menyetrum saat sebuah lengan tanpa sengaja bersentuhan dengannya. Ia melirik kaku pada sesosok tubuh yang melangkah cepat menuju mobil mewah hitam di parkiran. Saat mobil melintas di hadapannya dengan kaca terbuka dan Julian meliriknya, Breana kembali teringat masa lalu mereka. Di kereta enam tahun lalu, saat dia masih begitu naïf. Menarik napas panjang, ia melangkah lurus menuju pintu parkiran dan menunggu ojek di sana.

**

“Mama, Nesya mau makan ayam goreng, boleh?”

Anak perempuannya yang berumur lima tahun bertanya penuh harap. Breana yang sedang mengupas kentang di dapur untuk memasak sop memandang anaknya sejenak sebelum menjawab. “Nanti mama masakin, ya? Nesya tunggu di ruang tamu sambil nonton TV.”

“No-no.” Nesya menggoyangkan telunjuk dengan kepala menggeleng, rambut ikalnya berayun di sekeliling wajahnya yang mungil. “Nesya mau makan ayam goreng kentaki Mama.”

“Ooh, nggak boleh kalau itu. Kemarin udah makan masa sekarang mau makan lagi?”

“Nggak boleh, ya?”

“Iyaa, nggak boleh. Malam ini kita makan sayur sop dan perkedel kornet.”

“Horeee! Nesya suka kornet.” Setelah bertepuk tangan dengan heboh, Nesya berlari ke ruang tamu dan mulai menyalakan TV.

Breana menatap anaknya dengan tersenyum. Kembali sibuk dengan kegiatannya mengupas kentang. Setelah melewati masa-masa dengan pekerjaan tanpa gaji memadai untuk menghidupi anaknya, Breana berharap dengan gajinya sekarang akan sangat membantunya. Namun siapa sangka, ia akan bertemu lagi dengan sosok dari masa lalu.

Tanpa sadar Breana mendesah. Membayangkan sosok Julian Benedict yang selama ini yang dia tahu bernama Ben. Masih tampan memikit bahkan sekarang karena usia terlihat makin berkarisma. Dia pernah mencumbu dan memeluk tubuh kekarnya. Mencium bibirnya yang beraroma mint dan menarik rambutnya saat dia mencapai puncak gairah.

Bunyi air mendidih dari di atas kompor menyadarkan Breana dari lamunannya.

*

“Ayah, Nesya punya sepatu baru.” Seorang pria dengan seragam coklat berjongkok di depan Nesya.

“Wah, warnanya merah. Nesya makin gede makin cantik, ya? Mau ayah anterin?”

“Mau ….” Nesya bertepuk tangan gembira. Mendongak untuk menatap mamanya yang berdiri sambil tersenyum dan meminta persetujuan.

Si laki-laki berdiri dan memandang Breana yang terlihat cantik dalam balutan kemeja kerja warna hijau daun dan rok putih selutut.

“Bre, kamu pindah kerja?”

“Iya, sudah mulai dari dua Minggu lalu.”

“Kenapa nggak bilang sama aku?”

Breana mengernyit, memandang laki-laki seusianya yang berdiri dengan wajah tidak suka.

“Apa urusannya denganmu, Anton? Kamu pikirin saja masalahmu sendiri, bukannya dua bulan lagi mau menikah?”

Anton meremas rambutnya yang tersisir rapi. Menatap wanita cantik yang menggandeng anak perempuan menggemaskan di hadapannya. Mereka berdiri tepat di ujung tangga. Sementara orang-orang berlalu-lalang di sekitar mereka. Banyak toko dan warung makanan sudah dibuka saat pagi untuk melayani para penghuni rusun.

“Aku masih belum yakin untuk menikah dengannya,” gumam Anton cukup keras untuk didengar Breana. “aku masih memikirkan kemungkinan untuk kembali padamu.”

Breana tersenyum, mengulurkan tangan untuk menepuk lengan laki-laki berseragam guru di depannya.

“Kita teman, Anton. Selamanya kamu adalah temanku.”

Anton mengembuskan napas panjang. Menatap Breana dan anaknya bergantian. “Aku menyesal bercerai denganmu, Bre. Sampai sekarang masih kurasakan penyesalan itu.”

Breana tidak menjawab, menggandeng anaknya ke pinggir tembok saat seorang laki-laki mendorong gerobak berisi galon air melewati mereka. Setelah sosok pendorong gerobak menghilang di balik tembok, Breana mengalihkan pandangannya pada Anton.

“Itu bagian dari masa lalu kita, Anton. Aku berterima kasih tak terhingga atas pertolonganmu tapi hidup harus tetap berjalan. Begitu pula kamu dan aku.”

“Tapi aku ingin berjalan melewati hidup bersamamu Bre.”

Breana menggeleng. “Itu tidak mungkin, kisah kita sudah lama berlalu. Sekarang ada Sukma di sampingmu, wanita yang akan mendampingi hidupmu.”

Anton mendengkus kesal. Memandang ke arah Nesya yang sibuk bermain-main dengan tasnya sementara sang mama berdiri anggun tak tergoyahkan.

Memberanikan diri, Anton mengulurkan tangan untuk memegang lengan Breana.

“Bisakah kamu memberiku kesempatan satu kali lagi? Untuk membuktikan jika aku layak jadi ayah yang baik untuk Nesya?”

Breana melirik tangan Anton di lengannya. Belum sempat mulutnya terbuka untuk memberi jawaban, terdengar teriakan seorang wanita.

“Mas Anton, ngapain di situ?”

Secara reflek, Anton menurunkan tangannya dan memandang gugup pada seorang wanita berseragam sama dengannya yang melangkah tergopoh menghampiri. Mengenakan sepatu pantofel dan rambut yang digelung rapi. Wajahnya menyiratkan ketidaksukaan saat melihat Breana.

“Sukma, kamu ada apa kemari?” tanya Anton pada wanita yang baru datang dan sekarang merangkul lengannya.

“Aku mencarimu, Mas. Harusnya jam enam seperempat kamu menjemputku dan sekarang sudah jam enam tiga puluh menit kamu belum datang. Ternyata ada sama dia.” Sukma melirik sengit ke arah Breana.

“Hah, sudah jam setengah tujuh?” Breana merogoh handphone di dalam tas dan melihat dengan kuatir. “Kami jalan dulu, Nesya nanti telat.”

Tidak memedulikan sikap permusuhan yang diterimanya, Breana mengangguk pada Anton dan menggandeng tangan Nesya. “Salim sama Ayah, Sayang.”

Nesya mengangguk dan meraih tangan Anton untuk mencium punggung tangannya.

“Bre, biar aku antar Nesya,” ucap Anton.

“Mas, gimana, sih? Kamu ada janji sama aku pagi ini.”

Anton menoleh pada Sukma. “Aku antar Nesya dulu baru ke tempatmu.”

“Nggak boleh!” bentak Sukma.

Tidak ingin terlibat dalam pertengkaran sepasang kekasih, Breana berpamitan lirih pada Anton dan Sukma lalu menggiring anaknya pergi. Masih terdengar di kupingnya, ucapan Sukma yang menyindir dan penyangkalan dari Anton. Tanpa sadar Breana mendesah, merasa bersalah pada mantan suaminya.

Setelah mengantar anaknya ke sekolah, Breana naik ojek online menuju kantornya. Pukul delapan kurang sepuluh menit, ia sampai di lobi kantor. Harusnya ia tidak terlambat datang jika bukan karena Anton dan Sukma. Akan buruk penilaian absensinya jika terlambat datang saat masih berstatus karyawan baru.

Antrian pegawai yang ingin masuk lift menyemut di depan pintu. Breana menatap dengan kuatir pada kerumunan orang di depannya. Berpikir sejenak lalu memutuskan untuk menaiki tangga. Harusnya tidak begitu capek menaiki tangga ke lanti lima, tempatnya mengantor. Nyatanya baru sampai lantai dua ia merasa ngos-ngosan karena melangkah terlalu cepat. Di ujung tangga ia melihat beberapa orang keluar dari lift. Memanfaatkan keadaan, ia masuk sebelum lift benar-benar tertutup.

Sosok yang ia temui di dalam lift yang kosong membuatnya tersentak.

“Selamat pagi, Pak.” Ia menyapa gugup pada sang direktur yang sepertinya juga kaget atas kehadirannya.

Tidak ada jawaban, mata Ben menyorot tajam.

Diam-diam Breana beringsut menuju pojokan saat merasakan lift mulai naik.

“Apa kamu tahu jika lift ini hanya untuk para eksekutif?” Suara dingin Ben terdengar di dalam lift yang sepi.

Breana tertegun di tempatnya berdiri. Berucap ‘maaf’ dengan suara pelan lalu kembali menunduk. Dia tetap terdiam saat Ben menghentikan lift di lantai empat. Sedangkan yang ia tahu, ruangan direktur berada di lantai tujuh.

Pintu lift berdentang terbuka. Breana tersentak saat sepasang tangan menariknya kasar keluar dari lift dan membawanya melewati lorong yang sepi. Melangkah cepat menuju tangga darurat.

“Pak, ada apa ini?” tanya Breana bingung.

Kebingungan hilang dari wajahnya saat sang direktur memepetnya di dinding dan tanpa aba-aba menciumnya dalam satu ciuman kasar. Breana berusaha mengelak tapi tangan laki-laki di depannya memegang rahangnya dengan kuat. Ciuman yang brutal, kejam dan seakan sedang memberikan hukuman padanya.

Setelah beberapa saat bibir mereka bertaut, Ben mengangkat wajah dan memandang Breana yang memerah dengan napas tersengal.

“Ap-apa ini, Pak?” tanya Breana gugup. Menjilat bibir bawahnya yang terasa perih.

Seperti tidak bisa menahan diri, Ben kembali menciumnya. Membuka paksa mulut Breana.

“Pak, tolonglah,” rintih Breana di sela ciuman yang memabukkan. Serbuan ingatan masa lalu menyeruak dalam pikirannya. Tentang ciuman, panas tubuh dan aroma keringat Ben yang menempel padanya.

“Kenapa, Bre? Bukankah dulu kamu menyukai ciumanku?” bisik Ben mesra.

“Aku-aku ….”

Breana tersengal dan berusaha menghindar tapi lengan yang kokoh mendekap erat tubuhnya.

“Meski kamu menolak, tapi tubuhmu berkata yang sebaliknya,” bisik Ben di antara ciuman.

Tanpa sadar Breana mendesah, menyandarkan kepalanya pada bahu Ben.

Seperti hal-nya saat memulai tadi, tiba-tiba saja Ben melepaskan pelukannya. Breana merasakan tubuhnya lemas, bersandar pada tembok untuk menarik napas. Wajahnya merah, bibir memar dan kemejanya terbuka berantakan.

Ben sendiri tak kalah berantakan darinya. Rambutnya awut-awutan bisa jadi tanpa sadar Breana yang mengacaknya. Setelah menyugar rambut dengan tangan dan mengusap bibir dengan ujung jari, Ben menatap wanita yang bersandar pada tembok.

“Sepertinya kamu sudah lebih berpengalaman dari pada enam tahun lalu. Berapa banyak laki-laki yang kamu cumbu lalu kamu tinggalkan, Bre?”

Breana membuka mata, menatap Ben dengan pandangan bingung.

“Pak, aku tidak–.”

“Cukup!” Sang direktur menyela dengan tegas. “Aku tidak butuh penjelasan.”

Tanpa memedulikan Breana yang kebingungan, Ben melangkah pergi dan masuk kembali ke dalam lift.

Sementara Breana yang merasa kakinya lemas, ambruk ke lantai dan menangis. Peristiwa yang baru saja ia alami dengan Ben membuat harga dirinya hancur. Ia menutup wajah untuk meredam isak tangis. [bersambung ke titiktemu berikutnya]

“Ben, aku nggak pernah lupa sama kamu,” gumam Breana di antara air mata yang berlinang

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Gendhis Ayu – #Part_10/18

Bu Harjo menghambur ke pelukan Nawang, didekapnya Nawang dengan erat seolah dirinya telah lama tak bersua dengan gadis cantik ini. Sejenak suasana haru dan bahagia menyelimuti warga yang ada dipendopo itu…

Gendhis Ayu – #Part_09/18

Dari jauh terlihat seorang wanita tua tengah duduk dikursi rotan yang telah menghitam di teras sebuah rumah kecil.. Bibirnya mengepulkan asap, mata sipitnya yang cekung termakan usia memandangi Galih dan Ajeng bergantian..

Memilih Bidadari – #Part_11/11 (TAMAT)

Rumi membantu menyiapkan baju yang akan dibawa Arfan ke luar kota selama seminggu. Sebenarnya sudah biasa ia akan ditinggal selama itu. Namun karena tiga hari ini wajahnya mendung gegara kejadian terima kunci mobil dari Arini kemarin, Rumi agak tak enak melepasnya…