#Into_You – #Part_01

Suatu hari di stasiun Malang

Jatuh cinta pada pandangan pertama, itulah yang dirasakan Breana saat memandang laki-laki yang duduk sebangku dengannya. Tampan memikat dengan tubuh tegap dan rambut sedikit lebih panjang melewati telinga. Kursi yang mereka tempati dalam kereta api berada persis di ujung kereta dan di samping toilet, satu baris hanya mereka berdua tidak ada penumpang lain. Kursi tepat menghadap ke dinding sebelah pintu geser yang menghubungkan dengan gerbong sebelah.

Breana tersenyum malu-malu, berusaha mengangkat koper kecilnya ke atas bagasi.

“Sini aku bantu.”

Laki-laki yang ia tak tahu siapa namanya, berdiri sigap dari kursi dan membantunya mengangkat koper.

“Terima kasih.”

Mereka duduk bersisihan. Breana berusaha meredam detak jantungnya. Saat laki-laki di sampingnya membantu mengangkat koper, tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan. Bagi Breana yang berumur dua puluh dua tahun, ini pertama kalinya ia bersentuhan dengan laki-laki.

Kereta kembali melaju saat Breana sudah duduk nyaman dengan air mineral botolan ia letakkan di atas meja kecil yang menempel pada jendela. Ia melirik laki-laki di sampingnya yang memejamkan mata, seakan tak ingin mengganggu Breana hanya memperhatikan diam-diam. Badan kekar dan otot bisep yang menyembul di balik kaos yang dia pakai, berkulit bersih dan penampilannya seperti orang terpelajar. Tanpa sadar ia menghela napas panjang, tangannya meraih handphone dan berbalas pesan.

“Makan siang, Mas, Mbak.” Dua orang wanita berseragam mendorong troli makanan dan menawarkan pada mereka. Lelaki di sampingnya ikut terjaga dan duduk tegak.

Breana memeriksa isi troli dan mendapati ada nasi ayam, nasi goreng, pop mie dan berbagai cemilan serta minuman dalam kemasan.

“Ada paket untuk berdua kalau mau, biar lebih murah.” Seorang wanita menawarkan dua paket pada Breana. “Ini untuk Mas sama istrinya.”

Breana melongo, menunjuk dirinya sebelum bicara. “Eih, itu Mbak, saya–,”

“—boleh, paket saja buat kami.” Lelaki di sebelahnya menyela dan sebelum Breana sempat berkata-kata, dia mengeluarkan dompet dan uang seratus ribu berpindah tangan ke petugas restorasi. Dua paket nasi dan dua air mineral diserahkan oleh mereka.

“Ini, buat kamu.” Laki-laki itu menyorongkan nasi dan air pada Breana.

“Makasih, berapa ini Kak?” Breana menyodorkan uang tapi ditolak.

“Anggap saja ini traktiran, kita teman sebangku bukan?”

Breana menerima dengan malu-malu. Saat tangan mereka bersentuhan, seperti ada aliran listrik menyengat jemarinya. Cepat-cepat ia tarik tangan dan membuka kotak makan.

“Ternyata tak seeanak yang kubayangkan,” gumam lelaki itu cukup keras untuk didengar Breana.

“Nasinya keras dan ayamnya alot,” ucap Breana menanggapi.

Mereka berpandangan dan saling melempar senyum dalam persetujuan. Makan dalam diam lalu entah bagaimana mulanya mereka mulai saling bicara tentang tempat tujuan. Ternyata mereka sama-sama menuju Jakarta.

Dari situ awalnya Breana tahu nama laki-laki tampan di sebelahnya adalah Ben, hanya itu. Dia ingin dipanggil seperti itu.

“Jadi, kamu ngapain ke Malang, Bre?” tanya Ben dengan tangan sibuk membuka soda dalam kaleng yang baru saja dia beli.

“Rumah Nenek. Kalau kamu?”

“Ada tugas dari kantor. Perusahaanku mengambil keramik dari pabrik di Malang.”

Ada seseorang wanita lewat dari belakang dan saat guncangan kereta lebih keras dari biasanya, tanpa sengaja setengah tubuhnya menimpa tangan Ben yang memegang soda yang saat itu baru saja terbuka. Busa menyemprot ke mana-mana dan membasahi celana Ben juga baju Breana.

“Aduh maaf, ya.” Secara otomatis Ben mencabut dua tisu yang terletak di meja kecil dekat jendela dan membersihkan tubuh Breana. Terlalu sibuk mengelap hingga dia lupa jika itu adalah area yang harusnya tidak boleh dia sentuh.

Breana menegang dalam diam. Merasakan sentuhan tangan Ben di pundak dan dada bagian atas. Bukan jenis sentuhan erotis tapi entah kenapa, ia merasa tubuhnya menegang.

“Uhm, aku bisa sendiri.” Breana menegur pelan. Seketika tangan maskulin yang mengelapnya terhenti. Ia mendongak dan memandang sepasang mata hitam milik Ben.

“Maaf, lancang sepertinya.”

Breana menggeleng malu. Rambutnya yang tergerai hingga bahu mengayun pelan di pundak. Berusaha menyembunyikan rona merah yang menjalari wajah.

Mereka kembali mengobrol. Meski berbeda umur tujuh tahun tapi Ben orang yang asyik diajak bicara. Breana suka caranya bertutur kata dan mereka berbicara seakan-akan telah saling mengenal bertahun-tahun.

“Apa kamu punya pacar?” tanya Ben padanya.

Breana teringat akan Anton, cowok yang selama dua tahun ini sibuk mengejarnya. Satu jurusan dan kebetulan tetangga rumah. Sebelum ia ke Malang, Anton sempat mengungkapkan perasaannya dan Breana mengangguk begitu saja. Bukan karena ia mencintai Anton tapi merasa lelah terus dikejar.

“Punya,” jawab Breana pelan.

Ben mengangguk sambil tersenyum.

Menjelang malam saat lampu-lampu mulai dinyalakan dan keadaan di luar sudah gelap Breana mulai menguap. ia mencoba menejamkan mata dengan kepala bersandar pada dinding kereta tapi terasa tidak nyaman. Berkali-kali kepalanya terjatuh. Tanpa disangka Ben menawarkan bahunya.

“Tidurlah bersandar pada bahuku. Kalau di dinding kereta kurang nyaman.”

“Nggak enak ah.”

“Nggak apa-apa, ayo, sini.”

Dengan sedikit memaksa, Ben menggeser tubuhnya dan membiarkan Breana menyandarkan kepala di bahunya yang kokoh.

Breana mencoba memejamkan mata tapi aroma parfum yang samar-samar tercium dari tubuh laki-laki di sampingnya membuat syaraf-syarafnya terjaga. Satu guncangan besar mereka alami dan membuat kepala Breana bergeser. Sepasang tangan yang besar membuka dan merengkuhnya dalam pelukan.

“Tidur begini lebih enak, biar kamu nggak jatuh,” bisik Ben mengatasi deru kereta.

Meringkuk di dalam pelukan laki-laki yang tidak dikenal, entah kenapa Breana merasa senang. Bisa jadi ia gila atau apa tapi ia benar-benar suka berdekatan dan bersentuhan dengan Ben.

Karena posisi yang kurang nyaman, tangannya ia tumpukan pada lengan laki-laki yang memeluknya. Tangan Ben membuka dan menggenggam tangannya.

“Tanganmu dingin.”

“Mungkin karena AC kereta.”

“Mau sewa selimut?”

“Iya, kalau ada petugas yang lewat.”

Mereka saling menggenggam. Breana mendongak dan tanpa sadar membasahi bibirnya.

“Jangan menatapku seperti itu,” bisik Ben di atas kepalanya.

Breana menelan ludah dengan gugup. Jantungnya berdetak tak karuan. Mata mereka bertatapan dengan intens. Entah kenapa ia berharap jika Ben mengecupnya. Bisa ia rasakan, tangan laki-laki itu menelusuri kulitnya. Dari ujung tangan hingga ke lengan. Tanpa sadar, ia menggeliat dan mendesah kecil. Gerakannya tak luput dari pandangan Ben.

Breana tersenyum, tangannya terulur untuk mengelus wajah Ben yang bersih tanpa kumis maupun cambang. “Sedang sepi sekarang, maksudku–.”

Terlihat laki-laki tampan yang baru ia kenal beberapa jam lalu menarik napas panjang lalu menunduk dan mengecupnya. Setelah beberapa saat merapikan selimut yang menutupi tubuh Breana.

Dia terdiam saat beberapa orang lewat hendak ke toilet. Beruntung, malam hari tidak banyak penumpang mondar-mandir ke kamar kecil atau ingin berjalan ke gerbong lain.

Breana memejamkan mata. Menunggu dengan sabar sampai penumpang yang ke toilet kembali ke tempat duduk mereka.

Pukul sepuluh malam, beberapa lampu di dalam gerbong dimatikan. Cahaya menjadi remang-remang. Ben menoleh ke belakang kursi dan mendapati keadaan gerbong mulai senyap.

Bisa jadi karena keadaan atau juga gairah yang membumbung tinggi, keduanya mulai bermesraan tiada henti. Dari bangku penumpang sampai ke toilet. Malam penuh kehangatan yang membuat jiwa Breana bagai direnggut setan. Kelogisan dalam pikirannya tidak sejalan dengan hati.

Setelah gairah mereda, Breana kembali merebahkan tubuh di pangkuan Ben.

“Tidurlah, istirahat.” Bisikan Ben mengiringi matanya yang terpejam setelah kelelahan yang melandanya.

Keesokan hari, saat mereka sampai di stasiun Gambir, Ben mengajaknya pergi ke suatu tempat.

“Jangan pulang dulu, aku masih ingin bersamamu sehari saja.”

Setelah mengirim pesan pada keluarganya, Breana mengangguk dan membiarkan dirinya dibawa ke sebuah penginapan bintang tiga yang tak jauh dari stasiun.

Mereka kembali bergelut dengan gairah yang seakan tak kunjung reda. Nyaris dua puluh empat jam mereka bersama di dalam kamar.

Breana tidak hanya mengabaikan panggilan masuk dari teman-temannya tapi juga dari Anton. Begitu pula Ben, yang mematikan handphonenya. Mereka menikmati waktu berdua seakan esok tak ada lagi waktu untuk melakukannya.

“Apa kamu sudah mencatat nomor handphone?” tanya Ben saat mereka sudah bersiap-siap untuk chek-out.

“Sudah aman di sini, “ jawab Breana menunjuk tas berisi handphone.

Ben melangkah mendekati dan mengusap wajahnya. “Jangan lupa mengubungiku. Aku tidak ingin hubungan kita hanya berakhir di sini.”

Breana mengangguk. “Pasti, aku akan menerormu.”

“Kalau nomorku tidak bisa dihubungi, datang saja ke kantorku di daerah Mampang.”

“Baiklah, aku akan berdandan yang sexy saat menemuimu.”

Keduanya berpelukan sebelum membuka pintu penginapan. Saat Breana masuk ke dalam taxi dengan Ben menatapnya sambil melambaikan tangan, ia merasa sangat kehilangan. Perasaan ingin memutar kembali roda taxi demi bisa kembali bersama laki-laki pemilik sentuhan yang paling ia inginkan. Melalu kaca spion, Breana mengamati sosok Ben yang perlahan hilang dari pandangan.

Ia telah kehilangan tidak hanya hati tapi juga harga diri demi cinta satu malam dengan laki-laki paling tampan. Breana bertekad tidak akan menyesalinya karena berharap esok masih bisa berjumpa kembali.

Kemacetan yang tak terhingga ke arah rumahnya, membuat Breana memutuskan untuk keluar dari dalam taxi dan berniat mencari ojek.

Saat ia bergegas menyebrangi jalanan yang padat kendaraan, sebuah tangan menyabet tas-nya dan membawa lari secepat kilat.

Pulih dari kekagetan yang ia alami, Breana mulai berteriak. “Copeeet! Copeeet!”

Teriakannya sia-sia karena sang pencopet sudah melarikan diri. Orang-orang hanya berkumpul dan memberikan simpati. Breana terduduk di trotoar yang panas dengan air mata tergenang. Perasaan menyesal menghinggapinya, bukan karena ktp atau uang yang ada di dalam dompet tapi karean ia kehilangan kontak pada Ben. Pupus sudah harapannya untuk berjumpa kembali dengannya [bersambung di titiktemu berikutnya]

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Gendhis Ayu – #Part_10/18

Bu Harjo menghambur ke pelukan Nawang, didekapnya Nawang dengan erat seolah dirinya telah lama tak bersua dengan gadis cantik ini. Sejenak suasana haru dan bahagia menyelimuti warga yang ada dipendopo itu…

Gendhis Ayu – #Part_09/18

Dari jauh terlihat seorang wanita tua tengah duduk dikursi rotan yang telah menghitam di teras sebuah rumah kecil.. Bibirnya mengepulkan asap, mata sipitnya yang cekung termakan usia memandangi Galih dan Ajeng bergantian..

Memilih Bidadari – #Part_11/11 (TAMAT)

Rumi membantu menyiapkan baju yang akan dibawa Arfan ke luar kota selama seminggu. Sebenarnya sudah biasa ia akan ditinggal selama itu. Namun karena tiga hari ini wajahnya mendung gegara kejadian terima kunci mobil dari Arini kemarin, Rumi agak tak enak melepasnya…